Fatwa Dam Lepas Pakaian Ihram

Advertisement
H. Abdul Gani, Jl. Karangpaci RT. 3 No. 27 Buntok Kalimantan Tengah

Pertanyaan : Orang yang memakai pakaian ihram untuk berhaji menuju ke Arafah pada tanggal 8 Dzulhijjah, menurut ketentuan kloter, para jamaah akan diberangkatkan pada jam 10 waktu setempat. Karena lama menunggu tidak berangkat pada jam tersebut, maka pakaian ihram yang dipakai tadi dilepasnya, sedang dia telah berniat. Yang kami tanyakan, apakah orang tersebut dikenakan dam ?

Fatwa Dam Lepas Pakaian Ihram

Jawaban :

Karena Saudara tidak menjelaskan pakaian yang mana yang dilepas, apakah semuanya ataukah hanya pakaian bagian atas saja, maka kami perkirakan yang dilepas mungkin hanya bagian atas saja, sebab tidak mungkin melepas semuanya.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut kami kutipkan lebih dahulu, larangan-larangan bagi orang yang berihram. Adapun larangan-larangan bagi orang yang berihram yang mengakibatkan wajib membayar dam ialah;

1. Memakai pakaian yang berjahit menyarung bagi laki-laki, sebagaimana diungkapkan dalam suatu hadits;

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ رَضِي اللهُ عَنْهُ قَالَ يَا رَسُولَ اللهِ مَا يَلْبَسُ اْلمُحْرِمُ مِنَ الثِّيَابِ؟ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لاَ يَلْبَسُ الْقُمُصَ وَلاَ الْعَمَائِمَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ  وَلاَ الْبَرَانِسَ وَلاَ اْلخِفَافَ إِلاَّ أَحَدٌ لاَ يَجِدُ نَعْلَيْنِ فَيَلْبَسُ خُفَّيْنِ وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ الْكَعْبَيْنِ وَلاَ تَلْبَسُوا مِنَ الثِّيَابِ شَيْئًا مَسَّهُ زَعْفَرَانٌ أَوْ وَرْسٌ ( رواه البخاري، كتاب الحج : 1542 )

            Artinya: “Dari Abdullah bin ‘Abbas r.a.: Bahwa ada seorang laki-laki bertanya; ‘Hai Rasulullah, pakaian apasaja yang boleh dipakai oleh orang yang berihram?’ Rasulullah SAW menjawab: ‘Tidak boleh memakai qamis (hem, baju kurung, kaus), serban (kerudung, kupiyah, dan tutup kepala lainnya), celana, topi, dan sepatu, kecuali apabila tidak menemukan sepasang sandal, maka boleh memakai sepasang sepatu dan hendaklah memotong bagian bawah mata kaki kedua sepatu tersebut, dan janganlah memakai baju yang terkena za’faran dan waras (parfum)’.” (HR. Al-Bukhariy, Kitab al-Hajji, No. 1542).

2. Menutup kepala bagi laki-laki, menutup wajah dan tapak tangan bagi perempuan.
Larangan menutup kepala telah tercakup dalam hadits di atas, yaitu tentang larangan memakai ‘imamah (serban). Adapun larangan menutup muka dan tapak tangan bagi perempuan, disebutkan dalam hadits Nabi sebagai berikut;

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ
( رواه البخاري، كتاب الحج : 1542 )

Artinya: “Rasulullah SAW bersabda: ‘Janganlah menutup muka perempuan yang berihram, dan janganlah memakai kaus tangan’.” (HR. Al-Bukhariy)

3. Memakai parfum, baik bagi laki-laki maupun perempuan, sebagaimana disebutkan dalam hadits tesebut di atas.

4. Mencukur rambut dan memotong kuku, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya;

وَلاَ تَحْلِقُوْا رُءُوْسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ ( البقرة {2}:196 )

Artinya: “Janganlah kamu mencukur rambut kepalamu sebelum hadyu (kurban) sampai ke tempat penyembelihan.” (Al-Baqarah {2}:196).

5. Membunuh binatang buruan, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya;

يَاأَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوْا لاَ تَقْتُلُوْا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ( المائدة {5}:95 )

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu membunuh binatang buruan ketika kamu sedang berihram …” (Al-Maidah {5}:95)

6. Menikah / menikahkan, sebagaimana disebutkan dalam suatu hadits;

عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أن النبي صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لاَ يَنْكِحُ الْمَرْأَةُ وَلاَ يُنْكِحُ وَلاَ يَخْطُبُ ( رواه مسلم )

Artinya: “Dari ‘Usman r.a., bahwa Rasulullah SAW bersabda: ‘Orang yang sedang berihram tidak boleh menikah dan tidak boleh pula menikahkan, dan tidak boleh melamar’.” (Ditakhrijkan oleh Muslim, dari ‘Usman; as-San’aniy, II: 102).

7. Hubungan persebadanan dengan istri dan bercumbu rayu sebelumnya, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya;

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوْقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya: “Musim hajji adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan hajji, maka tidak boleh melakukan rafas (bersetubuh dan bercumbu rayu), berbuat fasiq, dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan hajji.” (al-Baqarah {2}:197).

Para ulama sependapat bahwa hubungan persebadanan membatalkan haji, dan di samping wajib membayar dam, juga wajib mengulangi haji di tahun berikutnya, sedang bercumbu rayu hanya wajib membayar dam.

Demikianlah larangan-larangan bagi orang yang berihram, maka jika hanya melepas pakaian sebelah atas saja, selama tidak melanggar larangan-larangan tersebut, tidaklah wajib membayar dam.

Adapun waktu pembayaran dam adalah pada hari Nahar (tanggal 10 Dzulhijjah), sebelum tahullul, atau pada hari-hari tasyriq. Apabila tidak mampu menyembelih kambing, di ganti dengan puasa 10 hari; tiga hari di tanah suci pada waktu haji, dan 7 hari di tempat asal (Tuntunan Manasik Haji Tim Majelis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam PP Muhammadiyah, hal. 99).