Kristen sering disebut secara bersamaan dengan Yahudi sebagai ahlul-kitab karena memang pada faktanya mereka menyepakati satu kitab yang sama, yakni lembaran-lembaran kitab yang diyakini sebagai Taurah atau Hebrew Bible atau Perjanjian Lama. Bedanya dengan Yahudi, Kristen kemudian meyakini adanya Perjanjian Baru yang diberikan Tuhan mereka kepada Yesus (mencakup Injil Markus, Matius, Lukas, Yohanes, dan surat-surat Paulus, Yakobus, Petrus, Yohanes, dan Yudas yang diyakini diilhami oleh Yesus), sementara Yahudi tidak.

Penamaan Kristen itu sendiri dinisbatkan kepada Kristus, terjemahan Yunani dari “Almasih” yang berarti orang yang dipilih oleh Tuhan sebagai penyelamat sekaligus kemudian menjadi Tuhan. Sementara Nashrani (jamak: Nashara), menurut Imam Ibn Katsir, berasal dari kata nashara; menolong. Nama itu disematkan kepada mereka dikarenakan budaya saling tolong menolong di antara mereka, atau kesiapan mereka untuk menjadi penolong (anshar) Nabi ‘Isa as. Ada juga yang berpendapat bahwa Nashrani berasal dari kata Nashirah (Nazaret), tempat Nabi ‘Isa as dan para pengikutnya tinggal menetap dan menyebarkan ajarannya (Tafsir Ibn Katsir QS. Al-Baqarah [2] : 62).

Untuk mengetahui lebih lengkap bagaimana doktrin dan ajaran Kristen hari ini—yang disebut oleh al-Qur`an sudah ikhtilaf dari Islam atau kufur—berikut ini penulis sajikan dialog penulis dengan seorang pendeta berinisial “H” bergelar magister teologi dari Princeton, USA (M.Th., serupa dengan M.Ag dari UIN). Dialog ini berlangsung tahun 2008 silam melaui email, pertanyaan dicetak tebal dari penulis, sementara jawaban tidak dicetak tebal dari pendeta “H”.


Siapa sebenarnya Allah dalam ajaran Kristen. Bagaimana hubungannya dengan Yesus dan Roh Kudus?

Bersumber Alkitab; Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, Allah adalah pencipta langit dan bumi serta segala isinya termasuk manusia. Yesus adalah penyataan Allah dalam diri manusia (Yohanes 1:18). Roh Kudus adalah penyataan Allah dalam Roh. Segala jabatan yang diberikan kepada Allah Bapa, juga diberikan kepada Putra (Yesus) dan Roh Kudus.

Konsep Trinitas dinilai bermasalah. Menjelaskan 3 dalam 1 dan 1 dalam 3 dinilai terlalu membingungkan. Sebagian pihak menyitirnya sebagai saduran dari agama-agama pagan. Dan di internal Kristen sendiri hal tersebut bukannya tanpa kontroversi dan penolakan substansial?

Dalam Alkitab banyak sekali ayat-ayat yang menunjukkan hal itu, bahwa ke’tritunggal’an itu ada sejak awal penciptaan (Kejadian 1:1-2; Yohanes 1:1). Ketiganya esa dan ada dari kekal sampai kekal (Alfa & Omega dan Awal & Akhir, Wahyu 1:8,17;2:8;21:622:13). Bila ada yang menganggap hal itu adalah saduran dari agama pagan, dapatkah kita memikirkan adanya ke’tritunggalan’ dalam pribadi Allah sejak penciptaan lalu dalam perkembangan agama-agama dalam Yudaisme dan Kristen wahyu itu terjaga namun dalam agama-agama pagan gambaran itu kabur menjadi ‘trimurti’? Mayoritas kalangan Kristen menerima ke’tritunggal’an Allah sekalipun ada sekte-sekte seperti Saksi-Saksi Yehuwa dan Kristen Tauhid yang menolaknya.

Dalam beberapa naskah bible klasik ditemukan ayat yang menegaskan bahwa Tuhan Kristen itu Tunggal. Termasuk di dalam Ulangan 6 : 4 yang berbunyi, “Dengarlah hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu Esa.”?

Ayat Ulangan 6:4 biasa disebut Shema (bhs. Ibrani, yang artinya Aqidah) tentang ke’Esa’an Allah (bhs Ibrani: Echad). Sekalipun ada yang mengartikan ‘Echad’ sebagai ‘tunggal,’ Echad juga merupakan kesatuan yang terpadu berbagai pihak. ‘Echad’ memiliki beberapa arti, bisa menyebut tunggal (sendirian) tetapi juga ‘kesatuan, semua bersama.” Dalam ‘Penciptaan’  Echad digunakan untuk menunjukkan keaslian atau kesatuan masa datang yang terpecah. Arti kata ‘echad’ juga berarti ‘kesatuan daging’ antara suami isteri (one flesh, Kejadian 2:24), dan juga ‘kesatuan umat’ antara dua suku yang bergabung (one people, Kejadian 11:6;34:16,22). Kedua penggunaan ‘echad’ ini mengandung pengertian kesatuan yang jamak. Dalam Perjanjian Lama, Echad belum digunakan sebagai istilah teologis, karena itu tidak bisa digunakan dalam hubungan dengan monotheisme.

Mengenai kedudukan Yesus sebagai “putra” dan “sabda Allah”, bagaimana mengompromikan hal ini?

Baik label ‘putra’ maupun ‘sabda,’ keduanya merupakan perlambangan. Putra menunjukkan semacam hubungan Bapa-Anak sedangkan Firman menunjukkan kalam yang keluar dari Allah. Keduanya saling melengkapi: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” (Yohanes 1:1).

“Kisah penyaliban” Yesus sendiri dinilai bermasalah dan sangat mengganggu dalam bangunan Iman Kristen?

Mungkin bagi kekristenan liberal kisah penyaliban Yesus dinilai bermasalah dan sangat mengganggu dalam bangunan Iman Kristen, namun bagi kekristenan konservatif penyaliban adalah fakta sejarah yang memiliki makna penebusan yang luar biasa sebagai ganti dosa manusia. Data-data sejarah termasuk karya Josephus menyebut mengenai peristiwa penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus, dan berdasarkan kebangkitan itulah terjadi kesaksian umat Kristen kemana-mana. Misi Kristen bertumpu pada penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus (1Korntus 15). Kotbah pertama Petrus di hari Pentakosta justru memberitakan kabar baik penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus (Kisah 2:29-33). Tidak ada penyaliban, kematian dan kebangkitan Yesus, tidak akan ada misi Kristen ke seluruh dunia.

Beberapa naskah bible menyatakan bahwa Yesus adalah nabi, seperti halnya Muhammad, dan bukan Tuhan? 

Dalam pengertian Alkitab Perjanjian Lama dan Baru, Yesus sebagai penyataan Allah telah menjalankan tiga tugas yang ada dalam Perjanjian Lama, yaitu sebagai Nabi, Imam dan Raja. Namun disamping Yesus juga Allah (Yohanes 1:1), Yesus juga mengaku dirinya sebagai Tuhan: “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi, jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu.” (Yoh.13:13-14).

Dalam Perjanjian Baru dengan mudah dan banyak sekali bisa dijumpai pernyataan bahwa ‘Yesus Adalah Tuhan’ (Yohanes 20:28), jadi dalam Perjanjian Baru yang umumnya ditulis pada abad pertama, Yesus sudah dipercaya sebagai ‘Tuhan’ karena itu anggapan bahwa ‘Yesus diangkat sebagai Tuhan dalam Konsili Nicea (325)’ menunjukkan bahwa Alkitab Perjanjian Baru belum dibaca dengan benar.

Paulus adalah seseorang yang tidak sezaman dan tidak pernah bertemu Yesus, dan ajaran-ajarannya banyak bertentangan dengan para pengikut Yesus awal di Yerussalem. Tapi kemudian ia menjadi semacam Rasul bagi Kristen. Apakah ada teks khusus dalam kitab suci tentang penunjukan Paulus tersebut, yang berasal dari sabda Yesus atau Tuhan sendiri—bukan dari Paulus—? Dan bagaimana bapak menjelaskan tentang Kristen Pauline/Paulus yang saat ini berkembang?

Rasul Paulus pernah bertemu dengan Yesus dan mendapat tugas khusus sebagai rasul, dan ini dicatat dalam Kisah Para Rasul yang bukan ditulis oleh Paulus: “Dalam perjalanan ke Damsyik, ketika ia sudah dekat kota itu, tiba-tiba cahaya memancar dari langit mengelilingi dia. Ia rebah ke tanah dan kedengaranlah olehnya suatu suara yang berkata kepadanya: “Saulus, Saulus, mengapakah engkau menganiaya Aku?” Jawab Saulus: “Siapakah Engkau, Tuhan?” Kata-Nya: “Akulah Yesus yang kau aniaya itu. Tetapi firman Tuhan kepadanya (Ananias): “Pergilah, sebab orang ini adalah alat pilihan bagi-Ku untuk memberitakan nama-Ku kepada bangsa-bangsa lain serta raja-raja dan orang-orang Israel.” … “Saulus saudaraku, Tuhan Yesus, yang telah menampakkan diri kepadamu di jalan yang engkau lalui, telah menyuruh aku kepadamu, supaya engkau dapat melihat lagi dan penuh dengan Roh Kudus.” (Kisah Para Rasul 9:3-17).

Dalam teologia liberal memang surat-surat rasul Paulus dilepaskan dari konteks Injil seakan-akan berdiri sendiri, namun bagi umat Kristen yang tulus dan membaca Alkitab Perjanjian Baru secara utuh, tidak dibedakan antara teologi Injil dan teologi Paulus, karena keduanya tumpang-tindih dan saling melengkapi.

Ajaran-ajaran Paulus ini kemudian dikukuhkan oleh Konsili-konsili. Dan hal ini bukan berarti kosong dari pertentangan. Beberapa pengkritik menilai bahwa hal tersebut tidak terlepas dari geopolitik yang mendominasi pada saat itu. Jelasnya doktrin-doktrin agama Kristen lebih kental politiknya, daripada murni agamanya. Penjelasan bapak?

Perlu disadari bahwa umat Kristen sudah memiliki Alkitab yang keseluruhannya ditulis pada abad pertama, dan pada saat itu kitab-kitab Perjanjian Baru sudah ditulis lengkap dan sudah beredar luas di kalangan Kristen pada masa dimana banyak saksi-mata (yang menyaksikan pelayanan Yesus) masih hidup. Konsili pertama diadakan di Nicea (tahun 325) berurusan dengan pengajaran Arius yang menolak berita Alkitab bahwa ‘Yesus itu Tuhan,’ jadi konsili bukan mengukuhkan ajaran Paulus, tetapi mengukuhkan pengajaran Alkitab. Teori politik memang didengungkan oleh para pengikut ‘Jesus Seminar’ namun perlu disadari bahwa kekristenan dan ajaran-ajarannya justru lahir dari suasana yang sebaliknya yaitu mereka dikejar-kejar, dianiaya, bahkan dimakankan singa di Colleseum (lihat gambaran dalam film Quo Vadis), namun iman Kristen terus bangkit sejalan dengan Tuhan Yesus yang bangkit yang mereka yakini dan beritakan.

Bibel dinilai tidak ada yang otentik. Alasannya, tidak kurang dari 5000 naskah Bibel klasik yang ada di Vatikan satu sama lainnya berbeda bahkan bertentangan. Bahkan Hebrew Bibel lebih parah lagi, riwayat penulisannya tidak diketahui. Bagaimana warga Kristen mengimani kitab tersebut sebagai benar-benar sabda Tuhan?

Semua kitab suci (tidak terkecuali Al-Quran) hadir dalam tradisi oral sebelum dituliskan, dan dalam hal kitab suci Kristen, tradisi oral itu kemudian dituliskan dengan disaksikan oleh banyak saksi mata yang masih hidup yang dapat mengimani dan mengkoreksi tulisan itu. Pernyataan yang menyebut bahwa di Vatikan ada 5000 naskah Bible yang satu sama lain berbeda bahkan bertentangan adalah tuduhan yang dilebih-lebihkan oleh mereka yang tidak mempercayai Alkitab sebagai firman Allah. Mereka yang percaya mengerti Alkitab dan menyadari kelemahan manusia dalam proses salin-menyalin, dan perbedaan penafsiran tertentu tidak mengurangi kebenaran Alkitab sebagai firman Allah. Bagaimana umat Kristen mengimani Alkitab sebagai sabda Tuhan? Dengan Iman dan kesaksian Roh Kudus!

Efek yang kemudian timbul adalah hermeneutika. Apakah bapak menyetujui metodologi penafsiran tersebut? Kalau tidak, metode penafsiran seperti apa yang bapak gunakan?

Hermeneutika adalah keniscayaan, artinya semua naskah sastra harus dimengerti secara hermeneutis, sebab tulisan manusia itu harus dimengerti dari latar belakang bahasa, budaya, sejarah, maupun tujuan menulis dan dalam konteks apa tulisan itu berada. Umat Kristen mempercayai Alkitab sebagai firman Allah bukan dalam pengertian semua ayatnya diturunkan dari sorga, tetapi firman yang ditulis dengan ilham Roh Kudus (2Timotius 3:15-16), untuk inilah diperlukan hermeneutika untuk mengerti apa sebenarnya berita benar dibalik keterbatasan manusia dengan sastranya itu. Namun bagi umat Kristen, hermeneutika harus didasarkan hukmat yang berasal dari Allah bukan hikmat yang berasal dari akal manusia, sebab hasilnya akan berbeda sekali.

Kritikan al-Qur`an

Di zaman al-Qur`an turun, agama Kristen sudah menjadi Kristen Pauline, yang mendasarkan banyak ajarannya pada surat-surat Paulus, dengan doktrin-doktrin ajaran sebagaimana diuraikan dalam dialog di atas. Maka dari itu, tidak heran kalau kemudian al-Qur`an banyak memvonis “kufur” kepada Kristen di zaman turunnya al-Qur`an tersebut, dan itu terus berlaku sampai sekarang. Dalam hal ini kita tidak perlu terjebak pada dikotomi kebenaran “subjektif-objektif”. Dalam artian, kita dipandang tidak ilmiah jika menilai Kristen kufur dari kacamata Islam/al-Qur`an, sebab itu subjektif. Kebenaran yang objektif itu adalah menilai Kristen dari kacamata orang Kristen itu sendiri. Jika ini yang diyakini, maka kita termasuk orang-orang yang tidak mengerti konsep haq dan bathil. Haq itu dari Allah swt, sudah diturunkan-Nya melalui al-Qur`an dan hadits, bukan dari “subjektif-objektif”.

Dalam dialog di atas, terdapat dua tema pokok yang menjadi dasar dari ajaran Kristen, yaitu:

Pertama, ketuhanan Yesus putra Allah sekaligus firman Allah. Yesus [Yunani]/Jesus [Inggris]/Joshua [Ibrani]/‘Isa [Arab], oleh al-Qur`an dengan tegas dinyatakan ibn Maryam; putra Maryam, bukan putra Allah swt, sebab Allah swt ahad, as-shamad, lam yalid wa lam yulad. 

Para pendeta Kristen Najran memang pernah mempersoalkan ayat-ayat tentang ‘Isa ibn Maryam yang disebutkan al-Qur`an sebagai kalimah-Nya dan ruh-Nya yang langsung ditiupkan pada Maryam (QS. An-Nisa` [4] : 171). Menurut mereka ini menjadi dalil yang kuat bahwa antara ‘Isa (Yesus) dengan Allah satu zat; ‘Isa bagian dari Allah dan Allah bagian dari ‘Isa. Meskipun tidak pernah ditemukan tafsir langsung dari Nabi saw tentang maksud ‘Isa ibn Maryam kalimah Allah dan ruh-Nya, dan itu menurut Ibn Katsir menjadi indikator bahwa ayat tersebut mutasyabihat, tetapi sudah menjadi prinsip ajaran Islam bahwa yang jadi standar ajaran itu ayat muhkam, bukan mutasyabihat. Dalam hal ini, sudah muhkam bahwa Allah swt Esa/Ahad, tidak melahirkan dan tidak dilahirkan. Jelas sebuah kekufuran yang menilai Allah berputra dan kemudian putranya tersebut jadi Tuhan (QS. An-Nisa` [4] : 171, QS. Al-Ma`idah [5] : 17, 72-77). Tentang ‘Isa, QS. Az-Zukhruf [43] : 59 dengan jelas menyebutnya sebagai hamba Allah swt bukan anak Allah swt, dan tentang penciptaannya tidak jauh beda dengan penciptaan Adam, diciptakan dari tanah lalu diputuskan “kun” maka jadi (QS. Ali ‘Imran [3] 59. Rujuk penjelasan Ibn Katsir dalam Tafsir Ibn Katsir QS. Ali ‘Imran [3] : 7).

Tentang penyaliban Yesus yang menjadi dasar ajaran Kristen juga dibantah oleh al-Qur`an pernah terjadi. Yang benar Yesus/’Isa as diangkat oleh Allah swt ke langit, dan kelak sebelum kiamat akan turun ke bumi untuk meluruskan penyimpangan Kristen dan membunuh al-Masih Dajjal (QS. An-Nisa` [4] : 157-159 dan penafsirannya dalam Tafsir Ibn Katsir). Secara bukti ilmiah kesejarahan, sebagaimana diakui pendeta “H” di atas hanya ditemukan pada karya Josephus yang tidak sezaman dengan Yesus. Maka dari itu pas kalau kemudian al-Qur`an menyebutnya hanya berdasar zhann; praduga.

Kedua, kedudukan Bibel/Alkitab. Dari dialog di atas, bisa terlihat bahwa pendeta “H” menyadari betul bahwa Alkitab ditulis oleh manusia dan tidak jauh beda dengan karya sastra lainnya, sehingga perlu menggunakan hermeneutika (sebuah metode penafsiran yang mempertimbangkan latar belakang psikologis, biologis, dan sosiologis penulis juga penerima tulisan). Meskipun pendeta “H” berdalih bahwa Alkitab ditulis atas ilham roh kudus, tetap saja tidak bisa disembunyikan bahwa perbedaan antara satu sama lainnya adalah sebuah fakta yang tidak mungkin untuk dikompromikan mana Alkitab yang asli langsung dari Tuhan. Terlebih pada faktanya baik Injil yang ditulis Markus, Matius, Lukas, ataupun Yohanes, semuanya berbahasa Yunani, padahal Yesus/’Isa bukan orang Yunani dan tidak berbahasa Yunani. Pengakuan bahwa Injil tersebut ditulis di masa Yesus dan murid-muridnya masih hidup, terbantahkan dengan fakta bahwa Injil itu pada kenyataannya berbeda-beda isi dan kandungan ajarannya. Kalau memang ditulis di masa Yesus semestinya hanya satu versi seperti al-Qur`an. Apalagi jika yang dimaksud Alkitab itu juga adalah surat-surat Paulus dan koleganya yang tentu semakin memperjelas campur tangan manusia dalam pemalsuan agama Nabi ‘Isa as, meski diklaim bahwa itu berdasarkan titah Nabi ‘Isa as/Yesus.
Al-Qur`an jelas saja mengkritisi habis kesesatan mereka dalam hal ini melalui berbagai ayatnya. Menurut al-Qur`an mereka sengaja melakukan tahrif; pengubahan ayat-ayat kitab Allah (QS. Al-Baqarah [2] : 75, an-Nisa` [4] : 46, al-Ma`idah [5] : 13 dan 41). Dengan tegas al-Qur`an juga menyinggung bahwa kitab mereka tidak lebih dari sebuah karya sastra yang ditulis oleh mereka sendiri, bukan betul-betul merupakan wahyu Allah swt (QS. Al-Baqarah [2] : 79).

Ini menjadi sebuah dasar argumentasi yang kuat bahwa apa yang dikemukakan oleh Kristen tentang doktrin agama dan itu mereka rujukkan pada Alkitab mereka (baik Perjanjian Lama [yang juga dipakai Yahudi] atau Perjanjian Baru), tidak bisa dipandang sebagai sebuah kebenaran, sebab Alkitabnya sendiri sudah jauh dari kebenaran.

Al-Qur`an memang menyinggung tidak semuanya dari penganut Kristen ini yang kemudian enjoy dalam kekufuran mereka. Ada beberapa di antara mereka yang ketika mendengar ajaran Islam, kemudian beriman kepada Nabi Muhammad saw sebab meyakini bahwa itu adalah di antara yang diajarkan kitab mereka (QS. Ali ‘Imran [3] : 113-115, 199, al-Ma`idah [5] : 82-85). Artinya, meskipun Alkitab mereka sudah diubah, tetap saja masih ada celah-celah dari Alkitab tersebut yang memungkinkan orang-orang Kristen mendapatkan kejelasan kebenaran terkait agama Allah swt. Di antara mereka adalah Kaisar Heraklius dari Bizantium (tetapi ia kemudian tetap memilih kufur), Negus/Najasyi dari Habsyi/Ethiopia, Pendeta Waraqah dari Makkah yang wafat beberapa saat sesudah Nabi pulang dari gua Hira, Buhairah dari Syam, dan beberapa pendeta Kristen lainnya.

Hal ini juga yang kemudian diserukan al-Qur`an kepada penganut Kristen sebagai kalimah sawa`; kesamaan dasar ajaran antara Islam, Kristen, dan Yahudi, meski dua agama terakhir lebih banyak yang tidak mengakuinya. Kalimah sawa’ itu sendiri sebagaimana dijelaskan QS. Ali ‘Imran [3] : 64 adalah pengakuan akan kemahatunggalan Allah swt, menjauhi syirik dan tidak kultus individu sampai tingkat menuhankan. Kalimat sawa` lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam ayat sebelumnya (QS. Ali ‘Imran [3] : 81) adalah keimanan terhadap semua rasul dan kitab yang dikirimkan oleh Allah swt, termasuk di antaranya Muhammad saw yang disebutkan al-Qur`an terlalu jelas untuk ditolak keberadaannya [al-bayyinah] (Lihat juga QS. Al-Baqarah [2] : 146-147, al-A’raf [7] : 157 dan al-Bayyinah [98] : 1-8). Artinya, bagi pengaut Kristen yang mau membuka mata dan hatinya, dasar-dasar ajaran agama itu sebenarnya masih ada dalam Alkitab mereka, meski sudah sangat samar, dan itu sebenarnya cukup untuk menjadi bekal segera beralih agama pada Islam.

Jika semua fakta kebenaran yang diajukan al-Qur`an ini masih diragukan atau dibantah, al-Qur`an mengajarkan kepada umat Islam untuk langsung menantang mereka yang meragukan tersebut mubahalah; saling mendo’akan laknat kepada siapa yang berbohong terhadap Allah swt, untuk membuktikan siapa yang benar dan siapa yang salah. Jika itu harus ditempuh oleh umat Islam, jangan selangkah pun mundur ke belakang, sebab Islam jelas ada dalam kebenaran: “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 61).  

Nashruddin Syarief http://pemikiranislam.net/2011/12/al-quran-membongkar-kesesatan-kristen/