Pengantar Kisah Para Rasul

Advertisement
Pengantar Kisah Para Rasul - Allah SWT telah menceritakan kepada kita kisah-kisah yang baik berupa kabar mengenai para Nabi-Nya di dalam kitab-Nya (Al-Qur’an al Karim). Allah SWT menyebutkan sebagai ahsan al qashash “kisah-kisah terbaik”,. Sebutan Allah SWT yang mulia ini menunjukkan bahwa kisah-kisah ini merupakan kisah yang paling benar, paling mengena dan paling bermanfaat bagi para hamba.

Banyak yang akan kita temukan dalam kisah para Nabi dan Rasul. Diantara manfaat penting dari kisah para Nabi dan Rasul ini adalah:

1. Merupakan penyempurna dan pelengkap iman kepada para nabi dan rasul –semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada mereka-. Hal itu karena meskipun kita telah beriman kepada seluruh nabi secara umum dan global, namun iman yang terperinci -yang di ambil dari kisah-kisah mereka, penggambaran Allah tentang mereka berupa kejujuran yang sempurna dan sifat-sifat kesempurnaan (lain) yang merupakan sifat tertinggi; keutamaan, kebaikan, serta perbuatan ihsan mereka kepada setiap manusia, bahkan kepada semua hewan sebagaimana mereka melakukannya kepada makhluk yang berakal dalam hal memperhatikan hewan tersebut dan memenuhi haknya- iman yang yang terperinci kepada para nabi dan rasul ini akan menyampaikan hamba kepada iman yang sempurna, dan ini merupakanmodal penting bertambahnya iman.

2. Menambah kuatnya keimanan kepada Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa, pengesaan-Nya, ikhlas beramal hanya untuk-Nya, keimanan kepada hari akhir, penjelasan tentang keutamaan tauhid dan wajibnya tauhid tersebut, serta kejahatan syirik yang merupakan sebab kebinasaan di dunia dan akhirat.

Pengantar Kisah Para Rasul

3. Di dalam kisah-kisah ini juga terdapat pelajaran bagi kaum mukminin, agar mereka meneladani para nabi dalam semua kemuliaan agama:

• Dalam masalah tauhid serta menegakkan peribadahan.
• Dalam perkara dakwah, sabar dan tegar pada setiap musibah yang menggoncangkan, dan menghadapinya dengan tenang, tentram serta keteguhan yang sempurna.
• Dalam perkara kejujuran dan keikhlasan untuk Allah pada seluruh gerak didalamnya, berharap ganjaran dan pahala dari Allah Ta’ala, tidak mencari ganjaran, upah, ataupun ucapan terima kasih dari makhluk, kecuali pada perkara yang bermanfaat bagi manusia.

Kisah tersebut juga mengandung pelajaran tentang bersepakatnya mereka di atas satu agama dan satu pokok (prinsip) yang sama: berdakwah kepada seluruh akhlak yang mulia, amal shalih serta memperbaiki keadaan dan memperingatkan dari kebalikan dari hal-hal tersebut.

4. Di dalamnya terkandung pula pelajaran-pelajaran dalam bidang fikih dan hukum-hukum syar’i serta hikmah yang tersembunyi dari berbagai hukum syariat dimana seorang penuntut ilmu tidak bisa lepas darinya.

5. Di dalam kisah-kisah tersebut, terkandung mau’izhah (nasehat) serta pengingat, motivasi serta ancaman, jalan keluar setelah datangnya kesempitan, mudahnya suatu urusan setelah sulitnya, akhir yang baik yang dirasakan di dunia ini, pujian dan kecintaan pada kalbu-kalbu para makhluk (terhadap mereka), yang kesemuanya ini menjadi bekal bagi orang-orang yang bertakwa, kebahagiaan bagi orang yang beribadah, hiburan bagi mereka yang sedih, serta mau’izhah bagi orang bagi orang yang beriman.

Jadi bukan maksud dari kisah mereka ini sebagai obrolan malam semata. Namun, tujuan teragung dari diceritakannya mereka adalah menjadi peringatan dan pelajaran.

Perlu diketahui sebelum kita memasuki kisah mereka, bahwa banyak dari kisah-kisah ini –semoga shalawat dan salam tercurah kepada mereka- Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mengulang-ulang dalam kitab-Nya sesuai dengan pembahasan. Sering kali suatu kisah pada suatu tempat memiliki tambahan dan pelajaran yang tidak didapati pada tempat-tempat yang lain. Atau datang dengan ungkapan yang berbeda dengan kisah yang lain namun maknanya sama atau serupa. Karena tulisan ini hanya merupakan ringkasan, maka hanya akan menyebutkan kisah-kisah ini dengan mengumpulkannya pada satu tempat. Juga hanya menitikberatkan pada pemahaman makna ungkapan Al-Qur’an dari konteksnya, dari awal hingga akhir lafadz.

Kemudian pada setiap kisah disertakan beberapapa faidah (manfaat-manfaat) ushuliyyah (pokok), furu’iyyah (cabang), akhlak, adab, dan cabang ilmu yang lain yang Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa mudahkan. Semoga Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa memberikan taufik untuk (merealisasikan)nya, taufik pada benarnya ucapan, keikhlasan batin dan sesuai dengan ridha-Nya, serta menjadikannya manfaat yang luas. Dialah Yang Maha Dermawan lagi Maha Mulia.

Ibrah Dalam Kisah Para Rasul

Para Nabi dan Rasul ‘alaihimus salaam adalah makhluk-makluk pilihan, para pemimpin kebenaran dan tonggak-tonggak ketakwaan. Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa telah memilih mereka diantara seluruh makhluk-Nya sebagai contoh sempurna bagi kemanusiaan. Mereka juga merupakan teladan bagi orang yang berpegang teguh sehingga kehidupan mereka menggambarkan bentuk-bentuk keimanan yang sebenar-benarnya dalam bentuk kesabaran, keberanian, pengorbanan dan kerelaan.

Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa berfirman,

لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لأُولِي الأَلْبَابِ

"Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS. Yusuf [12]: 111).

Dunia kita yang luas dan menakjubkan ini, tempat kita hidup, tempat berlindung dibawah naungannya dan segala rahasia misterius yang meliputinya, mendorong kita untuk mencermati dan memikirkan tentang penciptaannya yang luar biasa sehingga pada akhirnya kita sampai merasakan kekuasaan dan keagungan Allah Subhaanahu Wa Ta’aalaa.

Ibnu Qoyyim al Jauziyah –rahimahullaah ta’aalaa– menyebutkan kebutuhan manusia yang mendesak kepada mereka, orang-orang yang luhur dan pilihan ini, yaitu para Nabi dan Rasul alaihissalam. Beliau menegaskan:

ومن هاهنا تعلم اضطرار العباد فوقَ كل ضرورة إلى معرفة الرسول، وما جاء به، وتصديقه فيما أخبر به، وطاعته فيما أمر، فإنه لا سبيل إلى السعادة والفلاح لا في الدنيا، ولا في الآخرة إلا على أيدي الرسل، ولا سبيلَ إلى معرفة الطيب والخبيث على التفصيل إلا مِن جهتهم، ولا يُنال رضى الله البتة إلا على أيديهم.

“Dari sini bisa diketahui betapa mendesaknya kebutuhan seorang hamba –yang melebihi kebutuhan apapun- untuk mengenal rasul, apa yang dibawa, membenarkan apa yang diberitakan, mematuhi perintahnya. Karena tidak ada jalan menuju kebahagiaan dan kesuksesan baik di dunia ini maupun di akhirat, kecuali lewat para Rasul. Tidak ada cara untuk mengetahui yang baik dan buruk secara detail kecuali hanya lewat para Rasul. Tidak mungkin mendapatkan keridloan Allah sama sekali, kecuali lewat mereka.” (Zaadul Ma’ad 1/69).

Sementara itu, penyebutan para Nabi dan Rasul yang lain di dalam Al-Qur’an terdapat pada ayat-ayat yang terpisah-pisah. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa jalla menguatkan kita semua untuk mengikuti jalan para Rasul dalam menghambakan diri kepada-Nya.

* Materi ini disampaikan oleh ustadz Ridwan Hamidi, Lc pada kajian rutin di masjid Darul Ulum. (Kajian ini diselenggarakan oleh Wahdah Islamiyah Yogyakarta).


0 Response to "Pengantar Kisah Para Rasul"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!