Resensi Buku Kaifa Nata'ammal Ma'a Sunah An-Nawabiyyah

Advertisement
Dr. Yusuf al-Qarȃdhawȋ dalam bukunya kaifa nata’ammal ma’a as-sunnah an-nabawiyyah memulai pembahasannya dengan menyabutkan kedudukan as-sunnah dalam islam yang dirinci sebagai berikut:

Metode yang Komprehensif

Metode komprehensif artinya mencakup semua kehidupan manusia, baik aspek vertikal, horizontal maupun kedalamannya. Aspek vertikal meliputi dimensi zaman yang meliputi kehidupan manusia, sejak lahir sampai meninggal, bahkan sejak janin sampai pasca kematiannya. Aspek horizontal meliputi semua dimensi kehidupan manusia, dimana sunnah mengatur semuanya, baik di rumah, pasar, masjid, jalan, dan tempat kerja; mengatur hubungan dengan Alloh swt, hubungan dengan diri sendiri, hubungan dengan keluarga, dan hubungan dengan orang lain, baik Muslim maupun non-Muslim, bahkan dengan sesama manusia, hewan dan benda mati. Adapun yang dimaksud dengan aspek kedalamannya menyangkut dimensi “dalam” kehidupan manusia, yang mencakup jasad, akal dan roh; meliputi sisi lahir dan batin, serta ucapan, perbuatan dan niat.

Metode yang Seimbang

Maksud dari metode ini adalah keseimbangan antara rohani dan jasmani, akal dan hati, dunia dan akhirat, idealitas dan realitas, cita-cita dan realita, teori dan aplikasi, yang gaib dan yang tampak, kebebesan dan tanggung jawab, individu dan kelompok, sikap ittiba’ dan ibtida’ kepada Nabi. Dengan kata lain, sunnah Nabi adalah metode moderat bagi umat yang moderat. Oleh karena itu, ketika melihat ada kecenderungan dari sahabatnya ke arah sikap berlebihan atau sembrono, Nabi segera mengembalikan mereka kepada sikap moderat, sambil mengingatkan akan bahaya sikap ekstremitas atau sembrono. Itulah sebabnya, Nabi menyatakan ketidak senangannya kepada tiga orang sahabat yang menanyakan ibadah beliau dan mereka menganggap kecil ibadah mereka sendiri dan belum puas dengan hasratnya yang kuat dalam beribadah. Salah seorang di antara mereka bermaksud berpuasa selama setahun penuh tanpa terbuka. Yang lainnya hendak shalat malam tanpa tidur. Yang ketiga akan menjauhi wanita dan tidak akan menikah.

Metode yang Memudahkan

Sunnah Nabi adalah metode terperinci bagi kehidupan Muslim, baik sebagai individu atau sebagai anggota masyarakat. Rasulullah adalah yang menjelaskan al-Qur’an dan yang merealisasikan Islam, dengan ucapan, perbuatan, dan seluruh kehidupannya: pada saat sendirian maupun saat bersosialisasi, ketika sedang menetap maupun berpergian, ketika bangun maupun tidur, kehidupan pribadi maupun umum, hubungan dengan Alloh dan manusia, bersama kerabat denkat maupun jauh, dengan teman atau musuh, dalam keadaan damai maupun perang, ketika sehat maupun sakit. Di antara kewajiban kaum Muslimin adalah mengetahui metode Nabawi yang terperinci dengan karakteristiknya yang komprehensif, sempurna, seimbang dan mudah, serta kandungannya yang terdiri dari dimensi ketuhanan, kemanusiaan dan moralitas.

Hal ini mengharuskan mereka untuk mengetahui bagimana mereka memahami sunnah yang mulia ini dengan baik dan bagaimana berinteraksi dengannya, baik secara teoritis maupun praktis, sebagaimana yang telah dipahami generasi yang terbaik umat ini.

Rasulullah pernah menyampaikan bahwa setidaknya ada 3 kampak penghancur, yang masing-masing sangat membahayakan bagi warisan keNabian, antara lain:

Penyimpangan Kaum Ekstrim

Penyimpangan yang dilakukan melalui pintu ektrimitas dan sikap berlebih-lebihan adalah menghindari prinsip moderat yang menjadi ciri khas agama ini, prinsip toleran yang menjadi sifat agama yang lurus ini, dan prinsip kemudahan yang menjadi ciri pembebanan dalam syariat ini. Sikap ekstrimitas inilah yang telah menghancurkan Ahli kitab sebelum kita, yakni mereka yang bersikap ekstrim dalam masalah keyakinan, ibadah dan perilaku.

Manipulasi Orang-orang Batil

Ada lagi manipulasi yang dilakukan orang-orang batil untuk menyisipkan sesuatu yang asing ke dalam sunnah Nabi, menyisipkan ke dalamnya hal-hal baru dan bid’ah yang bertentangan dengan watak sunnah, yang ditolak oleh akidah dan syariat, dan ditentang oleh pokok da cabang-cabang syariat. Ketika tidak mampu menyisipkan sesuatu ke dalam al-Qur’an yang terpelihara dalam hapalan, tercatat dalam mushaf, dan dibaca dengan lisan, mereka mengira bahwa upaya penyisipan melalui sunnah adalah memungkinkan. Mereka dengan mudah berkata: “Rasulullah saw bersabda....”, walaupun tanpa bukti yang jelas. Namun, orang-orang cerdas dan para penghapal sunnah di kalangan umat ini berusaha semaksimal mungkin untuk menutup setiap celah penyisipan yang tak berdasar.

Penakwilan Orang-orang Bodoh

Terdapat penakwilan keliru yang membuat cacat hakikat Islam, mengubah kalimat-kalimat Alloh, mengurangi keutuhan Islam, sehingga menjadikan hukum-hukum dan ajarannya bertentangan dengan sumbernya. Ini seperti yang diupayakan orang-orang batil untuk menyisipkan sesuatu yang asing ke dalam Islam, mengakhirkan sesuatu yang mestinya didahulukan, atau mendahulukan sesuatu yang semestinya diakhirkan. Penakwilan yang keliru dan pemahaman yang salah ini adalah ciri orang-orang yang tidak mengetahui Islam, yang tidak mampu menangkap esensi Islam. Pendangan mereka tidak mampu  menembus hakikatnya karena mereka tidak memiliki kedalaman pengetahuan atau kegigihan dalam mencari kebenaran. Padahal, hal itu dapat menghalangi mereka dari pemahaman yang menyimpang dan keliru, atau dapat menghalangi meninggalkan ayat-ayat yang muhkamat (jelas) dan mengikuti ayat-ayat mutasyabihat (samar).

Agar terhindar dari manipulasi orang-orang batil, penyimpangan orang-orang ekstrim, dan penakwilan orang-orang bodoh, siapa pun orang yang berinteraksi dengan sunnah Nabi, menurut Dr. Yusuf al-Qarȃdhawȋ seharusnya memahami terlebih dahulu beberapa hal yang merupakan prinsip-prinsip dasar mengenai masalah ini, prinsip tersebut antara lain:

Pertama, meneliti dengan seksama tentang ke-shahih-an hadis yang dimaksud sesuai dengan acuan ilmiah yang telah ditetapkan oleh pakar hadis yang dipercaya. Yakni ke-shahih-an sanad dan matanya baik yang berupa ucapan Nabi saw., perbuatan, ataupun persutujuannya.

Kedua, memahami dengan benar nas-nas yang berasal dari Nabi saw. Sesuai dengan kaidah bahasa arab yang benar dan juga mengetahui dan memahami asbȃb al-wurȗd (diucapkan) oleh beliau dalam kerangka prinsif-prinsif umum serta tujuan-tujuan universal Islam.

Ketiga, memastikan bahwa nas tersebut tidak bertentangan dengan nas lainya yang lebih kuat kedudukannya, baik yang berasal dari Al-Qur’an, atau hadis yang lebih banyak jumlahnya, atau lebih sahih darinya. Dan juga dianggap tidak berlawanan dengan nas yang lebih layak dengan tujuan penetapan hukum, atau berbagai tujuan umum syariat yang dinilai lebih qath’i karena disimpulkan dari berbagai nas tidak hanya sebatas satu nas.

Di  samping ketiga hal di atas Dr. Yusuf al-Qarȃdhawȋ juga mengomentari sebagian orang memhami sunnah secara keliru di antaranya:

Menolak hadis sahih sama dengan menerima hadis palsu

Apabila dinyatakan bahwa menerima hadis-hadis palsu serta menisbatkanya kepada Rasulullah saw. merupakan perbuatan yang salah, bodoh dan berbahaya, maka dimikian itulah kesalahan akibat menolak hadis-hadis yang telah disahihkan semata-mata karena terdorong hawa nafsu, keangkuhan diri ataupun perasaaan “lebih pintar” dari Allah dan Rasulnya. Atau akibat persangkaan buruk terhadap umat, ulama dan para imam mereka.

Menerima hadis-hadis yang dipalsukan menurut Dr. Yusuf al-Qarȃdhawȋ merupakan perbuatan “memasukkan sesuatu yang bukan dari agama ke dalam agama” sedangkan menolak hadis-hadis sahih adalah perbuatan “mengeluarkan dari agama sesuatu yang merupakan bagian dari agama” itu sendiri. Tidak salah lagi bahwa keduanya adalah perbuatan tercela dan tak dapat diterima; baik berupa menerima sesuatu yang bathil atau menolak sesuatu yang haqq.

Menolak hadis akibat pemahaman yang keliru

Diantara berbagai “penyakit” dan bencana yang dihadapi oleh as-Sunnah ialah terdapat sebagian orang yang mebaca sebuah hadis secara tergesa-geasa, lalu menafsirkan hadis tersebut dengan makna yang sesuai dengan khayalaanya tampa didasari dengan ilmu. Yang apabila makna hadis tersebut tidak dapat diterima oleh akalnya, maka ia segera menolak hadis tersbut semata-mata karena mengandung makna yang tidak dapat diterima oleh akalnya.

Dantara hadis yang mereka tolak disebabkan oleh pemahaman yang keliru adalah hadis yang diriwayakan oleh Imam Muslim mengenai islam dibangun atas 5 dasar. Adapaun argumentasi yang dikemukakan oleh si penyanggah tersebut ialah bahwa hadis tersebut tidak menyebutkan jihad sebagai salah satu dasar utama agama Islam, maka hal itu cukup menunjukkan kepalsuan hadis tersebut. Orang seperti ini tidak tahu bahwa jihad hanya diwajibkan atas sebagian orang, bukan dwajibkan keseluruh orang. Ia tidak menjadi fardhu ‘ain sebagaimana lima dasar tersebut.

Sunnah yang dijadikan patokan dibidang penetapan hukum dan dakwah

As-Sunnah adalah sumber kedua dalam Islam dibidang penetapan hukum dan dakwah. Para ahli fiqih merujuk kepadanya untuk menyimpulkan hukum-hukum, sebagaimana para ahli dakwah merujuk kepadanya untuk menggali makna-makna yang yang tercantum di dalamnya agar dapat menjadi petunjuk bagi manusia. Akan tetapi agar as-Sunnah dapat memenuhi fungsinya seperti yang disebutkan diatas, haruslah diyakini bahwa sunnah tersebut benar-benar berasal dari Nabi saw. Untuk itu ada ketentuannya dalam ilmu hadis. Yaitu bahwa hadis yang hendak kita jadikan dasar (bagi kesimpulan hukum atau untuk dakwah) haruslah berpredikat shahih atau hasan.

Dalam buku ini juga Dr. Yusuf al-Qarȃdhawȋ memaparkan bebera petunjuk dan ketentuan umum untuk memahami  as-sunnah an-nabawiyyah dengan baik. antara lain:

1.Memahami as-sunnah sesuai petunjuk al-Qur’an
As-sunnah merupakan penjelas bagi al-Qur’an, sehingga dapat dipahami bahwa tidak mungkin ada satu hadis sahih yang kandungannya berlwanan dengan ayat-ayat al-Qur’an yang Muhkamat (yang berisi keterangan-keterangan yang jelas dan pasti). Kalaupun ada sebagaian dari kita yag memperkirakan adanya pertentangan seperti itu, maka hal itu disebabkan tidak sahihnya hadis yang bersankutan, atau pemahaman kita yang tidak tepat, ataupun apa yang diperkirakan sebagai “pertentangan” hanyalah bersifat semu dan bukan pertentangan yang bersifat hakki.

2. Perlunya penelitian secara mendalam mengenai adanya kemungkinan berlawanan antara suatu hadis dengan al-Qur’an
Jika mendapati hadis yang berlwanan dengan al-Qur’an maka langkah yang pertama yang harus dilakukan adalah meneliti kembali derajat hadis tersebut dan perlu juga memperhatikan kentkes (asbȃb al-wurȗd)  terjadinya hadis tersebut. apakah sesuai dengan konteks ataukah pemahaman kita yang keliru.

3. Menghimpun hadis-hadis dalam tema yang sama
Untuk berhasil memahami as-sunnah secara benar, kita harus menghimpun semua hadis sahih yang berkaitan dengan tema tersebut. Kemudian mengembalikan kandungannya yang mutasyabih kepada yang muhkam, mengaitkan yang mutlaq dengan yang muqoyyad, dan menafsirkan yang ‘am dengan yang khȃs. Dengan cara tersebut, akan lebih mudah untuk mengetahui maksud hadis tersebut dengan jelas dan bahkan mengetahui antara hadis yang satu dengan lainya tidak bertentangan.

4. menggabungkan atau mentarjih antara hadis-hadis yang (Tampaknya beretentangan)
Pada dasarya nas-nas syariat tidak mungkin saling bertentangan. Sebab, kebenaran tidak akan beretentangan dengan kebenaran. Karena itu, apabila diandaikan adanya peretentangan, maka pertentangan tersebut hanya terlihat dari luarnya saja, bukan dalam kenyataanya yang bersifat hakiki. Atas dasar inilah, kita wajib menghilangkan pertentangan tersebut dengan cara sebagai berikut:
Apabila pertentangan itu dapat dihapus dengan cara menggabungkan atau menyesuaikan antara kedua nas, tampa harus memaksakan atau mengada-ngada, sehingga keduanya dapat diamalkan, maka yang demikian itu lebih utama daripada harus mentarjihkan antara keduanya. Sebab pentarjihan berarti mengabaikan salah satu dari keduanya.

5. Soal naskh dalam hadis
Diantara yang permasalahan dalam as-sunnah yang kandunganya dianggap saling bertentangan adalah persoalan naskh (penghapusan) atau adanya hadis yang nȃsikh (yang menghapus suatu ketentuan) dan yang mansȗkh (yang terhapus berlakunya).

Banyak diantara hadis yang diasumsikan sebagai mansȗkh apabila diteliti lebih lanjut, ternyata tidaklah demikian. Hal ini mengingat diantara hadis yang dianggap nȃsikh dan mansȗkh, ada yamg dimaksudkan dengan azȋmah (anjuran melakukan sesuatu walaupun terasa berat), dan adapula yag dimaksudkan untuk rukhshah (peluang untuk memilih yang lebih ringan pada suatu ketentuan). Adakalanya juga hadis tersebut berlaku pada situasi tertentu, sementara sebagian yang lain berlaku pada situasi yang lain pula. Hal ini tidak berarti adanya pengahapusan atau naskh. Sebagai contoh, hadis mengenai pelarangan menyimpan daging kurban (udhhiyyah) lebih dari tiga hari, kemudian dibolehkan kembali penyimpanan tersebut. Hal itu tidaklah dapat dikatakan naskh, tetapi hanya sebatas larangan dalam situasi tertentu, dan kebolehan dalam situasi yang lain.

6. Memahami hadis dengan mempertimbangkan latar belakang, situasi dan kondisi ketika diucapkan serta tujuan hadis tersebut.Diantara cara-cara yang baik untuk memahami hadis Nabi saw. Adalah dengan memperhatikan sebab-sebab khusus yang melatarbelakangi hadis tersebut diucapkan, atau mengetahui ‘illah (sebab) yang terkandung dalam hadis tersebut atau bahkan memahami kejadian yang menyertainya.

Hal Ini berarti bahwa suatu hukum yang terkandung dalam suatu hadis, adakalanya bersifat umum untuk waktu yang tak terabatas, namun jika diperhatikan lebih lanjut, akan diketahui bahwa hukum tersebut berkaitan dengan ‘illah (sebab) tertentu, sehingga ia akan hilang dengan sendirinya jika ‘illahnya hilang, dan tetap berlaku jika ‘illahnya masih berlaku.

Hal ini memerlukan pemahaman yang mendalam, pandangan yang teliti, pengkajian yang mencakup semua nas, serta wawasan yang luas untuk mengetahui tujuan-tujuan penetapan hukum tersebut. Untuk memahami hadis dengan pemahaman yang benar dan tepat, haruslah diketahui situasi dan kondisi serta untuk tujuan apa ia di ucapkan. 

7.Metodologi para sahabat dan tabi’in dalam mempertimbangkan semua ‘illah di balik nas-nas serta mempertimbangkan situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya.

Mempertimbangkan semua ‘illah di balik nas-nas serta mempertimbangkan situasi dan kondisi yang melatarbelakanginya, telah dipraktikkan oleh para sahabat dan tabi’in. Terkadang mereka tidak mengamalkan makna harfiah hadis tertentu, manakala mengetahui bahwa hadis tersebut hanya berlaku di zaman Nabi saw. Sedangkan keadaan sekarang telah berubah sepeninggal Beliau.

Diantara hadis yang tidak diamalkan oleh mereka adalah bahwa Nabi saw. pernah membagi tanah rampasan perang Khaibar untuk para pejuang, namun umar tidak mau membagi-bagi tanah rampasan perang di daerah Irak. Umar berpendapat sebaiknya tanah-tanah tersebut tetap dimilki oleh pemiliknya, lalu ditetapkan pajak tertentu (kharaj) atas mereka. Agar hal itu menjadi penghasilan tetap bagi generasi-generasi muslim selanjutnya. Mengenai hal ini, Ibnu Qudȃmah menjelaskan: “Nabi saw. Membagi tanah rampasan perang Khaibar pada masa-masa awal terbentuknya masyarakat islam dikarenakan adanya keperluan yang sangat mendesak. Maka cara tersebut merupakan cara yang paling sesauai dengan kemaslahatan umum. Sedangkan masa setelah itu diperlukan pewakafan tanah yang ditaklukkan demi kemaslahatan waktu itu juga.

8.Memahami as-sunnah antara redaksi dan kandungan as-sunnah.

Terkadang seorang berpegang pada redaksi suatu sunnah (hadis), namun tidak mengamalkan kandungan dari hadis tersebut. Bahkan mungkin saja ia melakukan sesuatu yang berlawanan denganya, meskipun secara lahiriah terlihat berpegang terhadapanya.

Sebagai contoh hadis tentang kewajiban zakat terhadap jenis-jenis makan tertentu yakni kurma, kismis, gandum dan syair. Mereka yang berpandangan sempit (pada redaksinya) saja mengatakan bahwa makanan yang tidak disebutkan oleh Nabi tidak wajib zakat. Begitu pula mereka tidak mewajibkan zakat fitrah. seandainya mereka mau merenungkan permasalahan tersebut, niscaya mereka akan mengetahui bahwa mereka menyimpan dari sunnah walaupun tampak secara lahiriah mereka berpegang pada sunnah tersebut, atau dengan kata lain mereka hanya menaruh perhatian pada tubuh as-sunnah sementara mengabaikan ruhnya.

9. Membedakan antara sarana yang berubah-ubah dan Tujuan yang tetap

Diantara penyebab kekeliruan dalam memahami as-sunnah, ialah bahwa ada sebagian orang mencampuradukkan antara tujuan atau sasaran yang hendak dicapai oleh as-sunnah dengan prasarana yang kadangkala menunjang pencapaian sasaran yang dituju. Mereka memusatkan diri pada berbagai prasarana ini, solah-olah hal itu merupakan tujuan yang sebenarnya. padahal siapa saja yang benar-benar berusaha untuk memahami as-sunnah serta rahasia-rahasia yang dikandungnya, akan tampak baginya bahwa yang penting adalah apa yang menjadi tujuan yang sebenarnya. Sedangkan yang berupa prasarana, terkadang berubah dengan adanya perubahan lingkungan, zaman, adat kebiasaan dan sebagainya.

Setiap sarana dan prasarana, mungkin saja berubah dari suatu masa kemasa lainya, dari suatu lingkungan ke lingkungan laiinya, bahkan semua itu pasti mengalami perubahan. oLeh sebab itu, apabila suatu hadis menunjuk kepada sesuatu yang menyangkut sarana atau prasaran tertentu, maka itu hanyalah untuk menjelasakan tentang suatu fakta, namun sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengikat kita denganya.

Bahkan, sekiranya al-Qur’an  sendiri menegaskan tentang suatu sarana atau prasaran yang cocok untuk suatu tempat atau masa tertentu, hal itu tidak berarti bahwa kita harus berhenti padanya saja, dan tidak memikirkan tentang prasarana lainya yang selalu berubah dengan perubahan waktu dan tempat.

10.  Membedakan antara ungkapan yang bermakna sebenarnya dan yang bersifat majaz dalam memahami hadis.

Ungkapan dalam bentuk majaz (kiasan, metafora) banyak sekali digunakan dalam bahasa arab. Dalam ilmu-ilmu balaghah dinyatakan bahwa ungkapan dalam bentuk majaz, lebih berkesan daripada ungkapan dalam bentuk biasa. Sedangkan Rasulullah yang paling menguasai balaghah. Maka tak mengherankan apabila dalam hadis-hadisnya banyak menggunakan majaz.

Yang dimaksud dengan majaz disini, adalah meliputi majaz lughȃwȋ, ‘aqlȋ, isti‘ȃrah, kinȃyah dan berbagai macam ungkapan lainnya yang tidak menunjukkan makna sebenarnya secara langsung, tetap hanya dapat dipahami dengan berbagai indikasi yang menyertainya, baik yang bersifat tekstual dan kontekstual.

Tidak mengetahui perbedaan antara ungkapan yang sebenarnya dengan yang majaz dalam hadis, dapat menjerumuskan seseorang ke dalam banyak kesalahan. Sebagaimana banyak kita dapati orang yang mengharamkan dan mewajibkan, membid’ahkan dan memfasikkan, bahkan terkadang mengkafirkan orang lain, dengan berdalilkan nas-nas masih diragukan.

 Buku ini secara umum sangat baik bagi para penuntut ilmu yang berkecimpung di dunia hadis, dengan adanya buku ini dapat diketahui bagaimana sikap yang harus dimiliki dalam berinteraksi dengan sunnah-sunnah Nabi saw dengan metode-metode dan prinsip-prinsip dasar dalam memahami sunnah Nabi saw.  Besar harapan buku ini dapat digunakan oleh orang yang belum mengetahui bagaiman cara yang seharusnya dalam menyikapi suatu hadis Nabi agar tidak keliru dalam memahami dan menyampaikan maksud dari hadis Nabi.

Diajukan guna memenuhi tugas mata kuliah penelitian hadis di PUTM


0 Response to "Resensi Buku Kaifa Nata'ammal Ma'a Sunah An-Nawabiyyah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!