Contoh Makalah Hadits Dhaif, Macam-Macam Hadits Lemah Serta Bagaimana Hukum Kehujjahannya?

Advertisement
Definisi Dhaif menurut bahasa adalah Dha’if pada arti lughat, ialah ‘ajiz - yang lemah, dhiddul qawiy – lawan yang kuat. Jama’nya dhu’afaa, dhi’af, dha’afah dan dha’faa. Menurut Nuruddin hadits dha’if (lemah) adalah hadits yang kehilangan salah satu syaratnya sebagai hadits maqbul (yang dapat diterima.)[1]

Menurut Abdul Majid hadits dha’if adalah hadits yang tidak menghimpun sifat hadits hasan sebab satu dari beberapa syarat yang tidak terpenuhi.[2] Dhaif ada dua macam yaitu lahiriyah dam maknawiyah. Sedangkan yang dimaksud disini adalah dhaif maknawiyah.

Hadits dhaif menurut istilah adalah hadits yang di dalamnya tidak didapati syarat hadits dan tidak pula didapati syarah hadits hasan. Karena syarat diterimanya suatu hadits sangat banyak sekali, sedangkan lemahnya hadits terletak pada hilngnya salah satu syarat tersebut atau bahkan lebih, maka atas dasar ini hadits dhaif terbagi menjadi beberapa macam, seperti Syadz, Mudhtlharib, Mu’allal, Munqathi’Mu’dhal, dll.

Tegasnya, hadits dha’if ialah hadits yang didapati padanya sesuatu yang menyebabkan ditolaknya. Yang menyebabkan ditolaknya itulah yang menyebabkan lemah. Alasan memberikan predikat dha’if kepada hadits yang tidak memenuhi salah satu syarat diterimanya sebuah hadits adalah apabila pada suatu hadits telah terpenuhi syarat-syarat hadits shahih maupun hasan.

Hadits dha’if berbeda dengan hadits maudhu’ (palsu). Diantara hadits dha’if yang terdapat kecacatan perawinya yang tidak terlalu parah, seperti daya hapalan yang tidak terlalu kuat tetapi adil dan jujur. Sedangkan hadits maudhu’ perawinya pendusta. Maka para ulama membolehkan meriwayatkan hadits dha’if sekalipun tanpa menjelaskan ke-dha’if-annya dengan syarat:

1) Tidak berkaitan dengan aqidah seperti sifat-sifat Allah.
2) Tidak menjelaskan hukum syara’ yang berkaitan dengan halal dan haram, tetapi berkaitan masalah mau’izhah, targhib wa tarhib (hadits-hadits tentang ancaman dan janji), dan kisah-kisah.

Dengan demikian, jelaslah bagaimana kehati-hatian muhadditsin dalam menerima hadits sehingga mereka menjadikan tidak adanya petunjuk keaslian hadits itu sebagai alasan yang cukup untuk menolak hadits dan menghukuminya sebagai hadits dha’if. Padahal tidak adanya petunjuk atas keaslian hadits itu bukan suatu bukti yang pasti atas ke-dha’if-an hadits yang disebabkan rendahnya daya hapal atau kesalahan yang hanya pernah dilakukannya dalam meriwayatkan suatu hadits, padahal sebetulnya ia jujur dan dapat dipercaya. 
Hukum Mengamlkan Hadits Dhaif
Haidts Dhaif (foto: muslimfiqih.blogspot.co.id)

Hal ini tidak memastikan bahwa rawi itu salah dalam meriwayatkan hadits yang dimaksud, bahkan mungkin sekali ia benar. Akan tetapi karena kekhawatiran yang cukup kuat terhadap kemungkinan terjadinya kesalahan dalam periwayatan hadits yang dimaksud, maka mereka menetapkan untuk menolak.[3]

Demikian pula ke-dha’if-an suatu hadits karena tidak bersambungnya sanad. Hadits yang demikian dihukumi dha’if karena identitas rawi yang tidak tercantum itu tidak diketahui sehingga boleh jadi ia adalah rawi yang tsiqah dan boleh jadi ia adalah rawi yang dha’if. Seandainya ia adalah rawi yang dha’if, maka boleh jadi ia melakukan kesalahan dalam meriwayatkannya. Oleh karena itu para muhadditsin menjadikan kemungkinan yang timbul sebagai suatu pertimbangan dan menganggapnya sebagai penghalang dapat diterimanya suatu hadits. Hal ini merupakan puncak kehati-hatian yang sistematis, kritis dan ilmiah.

Bagian-Bagian Hadits Dha’if 
Mengingat Sebab Ke-dha’if-annya

Hadits dha’if apabila ditinjau dari sebab-sebab ke-dha’if-anya, maka dapat dibagi kepada dua bagian. Pertama: yang menyebabkan ke-dha’if-an, adalah karena terdapat keguguran perawi dalam sanadnya. Kedua: yang menyebabkan ke-dha’if-annya, adalah karena terdapat sesuatu yang menyebabkan cacat perawinya. Gugur perawi itu adakalanya dipermulaan sanad dari jurusan perawi hadits, adakalanya di akhirnya, sesudah tabi’in, adakalanya selain dari itu.


Hadits yang tertolak karena gugurnya sanad.

Keguguran dalam sanad ada dua macam yaitu pertama, gugur secara zhahir dan dapat diketahui oleh ulama hadits karena faktor perawi yang tidak pernah bertemu dengan guru (syaikhnya) atau tidak hidup di zamannya, yang biasa disebut dengan istilah: mu’allaq, mursal, mu’dlal dan munqathi’. Kedua, gugur yang tidak jelas dan tersembunyi. Ini tidak diketahui kecuali para ulama yang ahli dan mendalami jalan hadits dan illat-illat sanadnya, yaitu ada dua: mudallas dan mursal. Dan berikut ini penjelasannya.[4]

Hadits Mu’allaq (yang digantungkan)

Yaitu hadits yang gugur perawinya, baik seorang, dua orang, atau semuanya pada awal sanad secara berurutan. Misalnya: Bukhari meriwayatkan dari Al-Majisyun dari Abdullah bin Fadl dari Abu Salamah dari Abu Hurairah r.a, dari Nabi saw bersabda:

لاَ تُفَاضِلُوْابَيْنَ الأَنْبِيَاءِ.

Artinya: “Janganlah kalian melebih-lebihkan diantara para Nabi.”

Pada hadits ini Bukhari tidak pernah bertemu dengan Al- Majisyun. Diriwayatkan juga oleh Bukhari pada mukaddimah, Abu Musa al-Asy’ari berkata, “Rasulullah saw. menutup kedua pahanya ketika Usman masuk.” Hadits ini adalah mu’allaq karena Bukhari menghilangkan semua sanadnya kecuali seorang sahabat yaitu Abu Musa al-Asy’ari.

Hadits mu’allaq adalah hadits yang mardud (ditolak) karena gugur dan hilang salah satu syarat diterimanya suatu hadits yang bersambungnya sanad, dengan cara menggugurkan seorang atau lebih dari sanadnya tanpa dapat kita ketahui keadaannya.

Hadits Mursal (mutlak atau yang terlepas)

Yaitu hadits yang gugur perawi dari sanadnya setelah tabi’in, seperti bila seorang tabi’in mengatakan, “Rasulullah saw. bersabda begini atau berbuat seperti ini. Misalnya, diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam berkata: telah bercerita kepadaku Muhammad bin Rafi’, (ia mengatakan) telah bercerita kepada kami Hujain, (ia mengatakan) telah bercerita kepada kami Laits dari Aqil dari Ibnu Syihab dari Said bin al-Musyayyib, “bahwa Rasulullah saw. telah melarang muzabanah (jual beli dengan cara borongan hingga tidak diketahui kadar timbangannya).”

Said bin al-Musyayyib adalah seorang tabi’in senior, meriwayatkan hadits ini dari Nabi saw. tanpa menyebutkan perantara antara dia dan Nabi, maka sanad hadits ini telah gugur pada akhirnya, yaitu setelah tabi’in. setidaknya telah gugur dari sanad ini sahabat yang meriwayatkannya. Dan sangat mungkin telah gugur pula bersamanya perawi lain yang selevel dengannya dari kalangan tabi’in.

Jumhur (mayoritas) ahli hadits dan ahli fiqih berpendapat bahwa hadits mursal adalah dha’if dan menganggapnya sebagai bagian dari hadits yang mardud (ditolak), karena tidak diketahui kondisi perawinya.

Baca Juga: Hadits-hadits Lemah dan Palsu yang Bertebaran di Bulan Ramadhan

Hadits Mu’dlal (tempat memberatkan)

Yaitu hadits yang gugur pada sanadnya dua atau lebih secara berurutan. Terputusnya rawi di dalam hadits mu’dhal dapat terjadi diawal sanad, di pertengahan sanad, atau di akhir sanad (yakni tabi’in dan sahabat yang digunakan).[5]

Misalnya, diriwayatkan dari al-Hakim dalam kitab “ma’rifat ‘ulum al-hadits” dengan sanadnya kepada al-Qa’naby dari Malik bahwasannya dia menyampaikan, kepada Abu Hurairah r.a,  “Rasulullah saw bersabda: “Seorang hamba sahaya berhak mendapatkan makanan dan pakaian sesuai kadar baik, dan tidak dibebani pekerjaan melainkan apa yang dia mampu mengerjakannya.” 

Al-Hakim berkata: “hadits ini mu’dhal dari Malik dalam kitab al-Muwaththa’.”

Hadits ini kita dapatkan bersambung sanadnya pada kitab selain al-Muwaththa’, diriwayatkan dari Malik bin Anas dari Muhammad bin ‘Ajlan, dari bapaknya, dari Abu Hurairah. Letak ke-mu’dhal-annya karena gugurnya dua perawi secara berurutan dari sanadnya yaitu Muhammad bin Ajlan dan bapaknya. 

Para ulama sepakat bahwa hadits mu’dhal adalah dha’if, lebih buruk setatusnya dari pada mursal dan munqathi’ karena sanadnya banyak yang terbuang. 

Hadits Munqathi’ (memutuskan)

Yaitu sanadnya yang tidak bersambung dari semua sisi. Ini berarti bahwa sanad hadits yang tidak terputus, baik dari awal sanad, atau tengah, atau akhirnya, maka menjadi hadits yang munqhathi’ meliputi mursal, muallaq dan mu’dhal. Ada ulama yang mendefinisikan hadits munqathi’ adalah hadits yang ditengah sanadnya gugur seorang perawi atau beberapa perawi tetapi tidak berturut-turut. Jadi yang satu saja di tengah sanadnya atau dua tetapi tidak berturut-turut.

Misalnya: “Diriwayatkan Abu Dawud dari Yunus bin Yazid dari Ibnu Syihab bahwasannya Umar bin al-Khattab r.a. berkata sedang dia berada di atas mimbar, “wahai manusia, sesungguhnya ra’yu (pendapat rasio) itu jika berasal dari Rasulullah saw. maka ia akan benar, karena Allah swt. yang menunjukinya, sedangkan ra’yu yang berasal dari kita adalah zhan (prasangka) dan berlebih-lebihan..”

Hadits ini jatuh di tengah sanadnya satu perawi, karena Ibnu Syihab tidak bertemu dengan Umar bin al-Khattab. Para ulama sepakat bahwasannya hadits munqathi’ itu dha’if, karena tidak diketahui keadaan perawi yang di hapus.

Hadits Mudallas (yang disembunyikan)

Yaitu penyembunyian aib dalam hadits dan menampakkan kebaikan pada zhahirnya. Tadlis ada dua macam: tadlis al-isnad dan tadlis asy-syuyuh.

- Tadlis isnad adalah bila seorang perawi meriwayatkan hadits dari orang yang dia temui apa yang dia tidak dengarkan darinya, atau dari orang yang hidup semasa dengan perawi namun dia tidak menjumpainya, dengan menyamarkan bahwa dia mendengarnya darinya, seperti dengan mengatakan, “dari fulan…”atau yang semisal dengan itu dan dia tidak menjelaskan bahwa ia telah mendengarkan langsung dari orang tersebut. Adapun bila perawi menyatakan telah mendengar atau telah bercerita, padahal dia tidak mendengar dari gurunya dan tidak membacakan kepada syaikhnya, maka dia bukanlah seorang mudallis, tetapi seorang pendusta yang pasif.

Baca Juga: Hadis Lemah di Bulan Muharram

- Tadlis asy-syuyuh yaitu satu hadits yang dalam sanadnya, perawi menyebut syaikh yang ia dengar daripadanya dengan sebutan yang tidak terkenal dan masyhur tentangnya. Sebutan di sini maksudnya: nama, gelar, pekerjaan atau kabilah dari negeri yang disifatkan untuk seorang syaikh, dengan tujuan supaya keadaan syaikh itu sebenarnya tidak diketahui orang.

Macam-macam hadits dhaif berdasarkaan kecacatan rawinya
  1. Hadits maudhu’ 
  2. Hadits matruk 
  3. Hadits munkar dan ma’ruf 
  4. Hadits mu’allal 
  5. Hadits mudraj 
  6. Hadits maqlub 
  7. Hadits mudltharrib 
  8. Hadits muharraf 
  9. Hadits mushahhaf 
  10. Haditsmubham 
  11. Hadits majhul 
  12. Haditssyadz dan mahfudh (silahkan di klik untuk penjelasanya) 
  13. Haditsmukhtalith (silahkan di klik untuk penjelasanya) 

Macam-macam hadits dhaif berdasarkan sifat matannya
  1. Haditd mauquf 
  2. Hadits maqthu’ 

Bagaimanakah Hukum Berhujjah dengan Hadits Dhaif

Para ulama sepakat melarang meriwayatkan hadits dhaif yang maudhu’ tanpa menyebutkan kemaudhu’annya. Adapun kalau hadits dhaif itu bukan hadits maudhu’ maka diperselisihkan tentang boleh atau tidaknya diriwayatkan untuk berhujjah.dalam hal ini ada 2 pendapat:

Pertama: Melarang secara mutlak, meriwayatkan segala macam hadits dhaif baik untuk menetapkan hukum maupun untuk member sugesti amalan utama. Pendapatini dipertahankan oleh Abu Bakar Ibnu Al-‘Araby.

Kedua: Membolehkan, kendatipun dengan melepaskan sanadnya dan tanpa menerangkan sebab-sebab kelemahannya, untuk member sugesti, menerangkan keutamaan amal dan cerita-cerita bukan untuk menetapkan hukum-hukum syari’at,dan bukan untuk menetapkan aqidah-aqidah.

Ibnu Hajar Al-‘Asqalany termasuk ulama ahli hadits yang membolehkan berhujjah dengan hadits dhaif, untuk fadla’ilul-‘amal, dengan memberikan 3 syarat:

1. Hadits dhaif itu tidak keterlaluan.
2. Dasar ‘amal yang ditunjukkan hadits dhaif itu, masih dibawah dasar yang dibenarkan oleh hadits yang dapat diamalkan (shahih dan hasan).
3. Dalam mengamalkan itu tidak mengiktikadkan bahwa hadits tersebut benar-benar bersumber kepada Nabi. Tetapi tujuan mengamalkannya hanya semata-mata untuk ikhtiyat(hati-hati)
4. Meriwayatkan hadits dhaif tanpa menyebutkan sanadnya. Para ulama melarang menyampaikan hadits dhaif tanpa menjelaskan sanadnya. Adapun kalau menyertakan sanadnya mereka tidak mengingkarinya.

Imam An-Nawawy berpendapat:”apabila kita hendak menukilkan hadits dhaif tanpa menyebutkan snadnya, hendaknya jangan memakai shighat jazm, seperti qala, fa’ala, dan amara Rasulullahi kadza-wakadza. Akan tetapi hendaklah memakai shighat tamrid, seperti: ruwiya ‘an, hukiya ‘an Rasulillah annahu qala, annahu dzakara dan lain sebagainya.”

Apabila mengemukaan hadits dhaif hendaknya mengatakan “ini adalah hadits dhaif sanadnya”,karena ada kemungkinan bahwa hadits yang dhaif sanadnya itu mempunyai sanad lain yany lebih shahih. Kecuali jika dalam menetapkan kedhaifan matan suatu hadits itu karena ikut pendapat para hafidz yang telah menelitinya dengan seksama.

Adapun jika penelitian itu tidak berhasil menemukan sanad lain yang lebih shahih, tiadalah berhalangan menetapkan kedhaifan suatu hadits secara mutlak.

Beberapa Contoh Kitab-kitab hadits dha’if 
yang Banyak Di Masyarakat

Di antara kitab-kitab yang tersusun secara khusus tentang hadits dha’if adalah:

1) Kitab al-Marâsîl, karya Abu Dawud
2) Kitab al-‘Ilal dan  Kitab Al-Afrad, karya Ad-Daruquthni
3) Kitab-kitab yang banyak mengemukakan perawi yang dha’if adalah seperti Ad-Dhu’afâ karya Ibnu Hibban, Mîzân Al-I’tidâl karya Adz-Dzahabi.
4) Ketiga Mu’jam At –thabarani – Al-kabir, Al-Awsath, As-Shaghir.
5) Kumpulan karya Al-Khatib Al-Baghdadi
6) Kitab Hilyatul Auliya’ wa Thabaqatul Ashfiya’ karya Abu Nu’aim Al-Ashbahani.

Catatan Kaki
[1]Dr. Nuruddin ‘Itr, ‘Ulum Al-Hadits 2 (Cet. II; Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 1997), h. 51 

[2]Dr. H. Abdul Majid Khon, M.Ag, Ulumul Hadits (Cet. I; Jakarta: PT. AMZAH Dicetak Oleh Sinar Grafika Offset, 2008), h. 164 

[3] Nuruddin, Ulum Al-Hadits..., h. 52 

[4] Ibid, h. 132 

[5]Abdul Hakim bin Amir Abdat, Pengantar Ilmu Mushtalahul Hadits (Cet. I; Jakarta: Pustaka Darul Qolam, 2006), h. 241