Perihal Hukum Bersetubuh saat Puasa Ramadhan, Beberapa Pertanyaan yang Wajib diketahui Pasangan Suami Istri

Advertisement
Bagaimanakah Status Hubungan Intim Suami Istri Siang Saat Puasa Ramadhan. Inilah Beberapa Permasalahan yang Sering Muncul

Hari Abu Syuja’ rahimahullah berkata, “Barangsiapa yang melakukan hubungan jima’ di siang hari Ramadhan secara sengaja di kemaluan, maka ia punya kewajiban menunaikan qadha’ dan kafarah. Bentuk kafarah-nya adalah memerdekakan 1 orang budak beriman. Jika tidak didapati, maka berpuasa dua bulan berturut-turut. Jika tidak mampu, maka memberi makan kepada 60 orang miskin yaitu sebesar 1 mud.” 

Penulis kitab Fathul Qarib berkata, “Orang yang terkena hukuman di sini adalah mukallaf (baligh dan berakal) yang berniat berpuasa sejak malam hari. Ia terkena dosa karena melakukan hubungan jima’ di saat puasa.” 

Muhammad Al Hishni dalam Kifayatul Akhyar berkata, “Siapa yang merusak puasa Ramadhannya dengan jima’ (hubungan jima’), maka dicatat baginya dosa.” 

Sedangkan bagi orang yang melakukan hubungan jima’ tersebut dalam keadaan lupa, puasanya tidaklah batal. Inilah pendapat yang dianut dalam madzhab Syafi’i. 

Adapun orang yang melakukan hubungan intim tersebut di siang hari Ramadhan, maka ia punya kewajiban menunaikan kafarah. Berbeda halnya dengan seseorang yang makan dan minum di siang hari Ramadhan, tidak ada kafaroh dalam hal itu. 

Bagi orang yang ada keringanan tidak puasa, seperti seorang musafir, maka ia tidak mendapatkan dosa ketika ia niatkan untuk mengambil keringanan (rukhsah) dengan melakukan hubungan intim di siang hari. Demikian keterangan dalam Kifayatul Akhyar.

Baca Juga: Fidyah bagi yang meninggalkan Puasa Ramadhan

Adapun dalil tentang hukuman bagi orang yang melakukan hubungan jima’ di siang hari bulan Ramadhan saat puasa disebutkan dalam hadits Abu Hurairah berikut, 

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوسٌ عِنْدَ النَّبِىِّ – صلى الله عليه وسلم – إِذْ جَاءَهُ رَجُلٌ ، فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَلَكْتُ . قَالَ « مَا لَكَ » . قَالَ وَقَعْتُ عَلَى امْرَأَتِى وَأَنَا صَائِمٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – « هَلْ تَجِدُ رَقَبَةً تُعْتِقُهَا » . قَالَ لاَ . قَالَ « فَهَلْ تَسْتَطِيعُ أَنْ تَصُومَ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ » . قَالَ لاَ . فَقَالَ « فَهَلْ تَجِدُ إِطْعَامَ سِتِّينَ مِسْكِينًا » . قَالَ لاَ . قَالَ فَمَكَثَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – ، فَبَيْنَا نَحْنُ عَلَى ذَلِكَ أُتِىَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – بِعَرَقٍ فِيهَا تَمْرٌ – وَالْعَرَقُ الْمِكْتَلُ – قَالَ « أَيْنَ السَّائِلُ » . فَقَالَ أَنَا . قَالَ « خُذْهَا فَتَصَدَّقْ بِهِ » . فَقَالَ الرَّجُلُ أَعَلَى أَفْقَرَ مِنِّى يَا رَسُولَ اللَّهِ فَوَاللَّهِ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا – يُرِيدُ الْحَرَّتَيْنِ – أَهْلُ بَيْتٍ أَفْقَرُ مِنْ أَهْلِ بَيْتِى ، فَضَحِكَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – حَتَّى بَدَتْ أَنْيَابُهُ ثُمَّ قَالَ « أَطْعِمْهُ أَهْلَكَ » 

“Suatu hari kami pernah duduk-duduk di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian datanglah seorang pria menghadap beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu pria tersebut mengatakan, “Wahai Rasulullah, celaka aku.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Apa yang terjadi padamu?” Pria tadi lantas menjawab, “Aku telah menyetubuhi istri, padahal aku sedang puasa.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya, “Apakah engkau memiliki seorang budak yang dapat engkau merdekakan?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau mampu berpuasa dua bulan berturut-turut?” Pria tadi menjawab, “Tidak”. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya lagi, “Apakah engkau dapat memberi makan kepada 60 orang miskin?” Pria tadi juga menjawab, “Tidak”. Abu Hurairah berkata, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas diam. Tatkala kami dalam kondisi demikian, ada yang memberi hadiah satu wadah kurma kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata,“Di mana orang yang bertanya tadi?” Pria tersebut lantas menjawab, “Ya, aku.” Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Ambillah dan bersedakahlah dengannya.” Kemudian pria tadi mengatakan, “Apakah akan aku berikan kepada orang yang lebih miskin dariku, wahai Rasulullah? Demi Allah, tidak ada yang lebih miskin di ujung timur hingga ujung barat kota Madinah dari keluargaku. ” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tertawa sampai terlihat gigi taringnya. Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Berilah makanan tersebut pada keluargamu.” (HR. Bukhari no. 1936 dan Muslim no. 1111). 

Menurut mayoritas ulama, jima’ bagi orang yang berpuasa di siang hari bulan Ramadhan (di waktu berpuasa) dengan sengaja dan atas kehendak sendiri (bukan paksaan), mengakibatkan puasanya batal, wajib menunaikan qadha’, ditambah dengan menunaikan kafaroh. Terserah ketika itu keluar mani ataukah tidak. Wanita yang diajak hubungan jima’ oleh pasangannya (tanpa dipaksa), puasanya pun batal, tanpa ada perselisihan di antara para ulama mengenai hal ini. Namun yang nanti jadi perbedaan antara laki-laki dan perempuan apakah keduanya sama-sama dikenai kafaroh.

Baca Juga: Pahala Puasa Bagi Orang Yang meninggalkan Sholat

Pendapat yang tepat adalah pendapat yang dipilih oleh ulama Syafi’iyah dan Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, bahwa wanita yang diajak bersetubuh di bulan Ramadhan tidak punya kewajiban kafarah, yang menanggung kafaroh adalah suami. Alasannya, dalam hadits di atas, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memerintah wanita yang bersetubuh di siang hari untuk membayar kafaroh sebagaimana suaminya. Hal ini menunjukkan bahwa seandainya wanita memiliki kewajiban kafaroh, maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentu akan mewajibkannya dan tidak mendiamkannya. Selain itu, kafaroh adalah hak harta. Oleh karena itu, kafaroh dibebankan pada laki-laki sebagaimana mahar.[1] 

Kafaroh yang harus dikeluarkan adalah dengan urutan sebagai berikut. 

Membebaskan seorang budak mukmin yang bebas dari cacat 
Jika tidak mampu, berpuasa dua bulan berturut-turut. 
Jika tidak mampu, memberi makan kepada 60 orang miskin. Setiap orang miskin mendapatkan satu mud[2] makanan.[3] 

Jika orang yang melakukan jima’ di siang hari bulan Ramadhan tidak mampu melaksanakan kafaroh di atas, kafaroh tersebut tidaklah gugur, namun tetap wajib baginya sampai dia mampu. Hal ini diqiyaskan (dianalogikan) dengan bentuk utang-piutang dan hak-hak yang lain. Demikian keterangan dari Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 7: 224.

Bolehkah bercumbu pasangan suami istri saat puasa ramadhan

Bagiamanakah Hukum Bercumbu bagi Pasangan Suami Istri di Bulan Ramadhan? Bagaimanakah Pahala Puasa, Berkurang atau Batal? 

Lebih jauh pertanyaan ini bisa dikatakan seperti ini, apa hukumnya jika mengeluarkan mani dengan tangan istri atau suami tanpa berjima pada saat bulan ramadhan?dan Bagaimana hukumnya jika salah satu dari pasangan mengidap Hyper jima’ hingga tidak kuat menahan syahwatnya pada saat bulan ramadhan, sebab jika ditahan dia akan merasa pusing dan kehilangan kendali atas dirinya. 

Perbuatan diatas termasuk onani (masturbasi) karena pengertian onani didalam fiqih islam adalah mengeluarkan mani dengan menggunakan tangan baik tangan istrinya atau tangan budak perempuannya. 

Didalam kitab “al Mausu’ah dl Fiqhiyah” disebutkan bahwa onani dengan menggunakan tangan membatalkan puasa sebagaimana dikatakan para ulama Maliki, Syafi’i, Hambali serta pada umumnya para ulama Hanafi karena persetubuhan yang tidak menumpahkan mani membatalkan puasa terlebih jika ia menumpahkan mani dengan syahwat. 

Abu bakar bin al Iskaf dan Abu al Qasim dari kalangan Hanafi mengatakan,”Hal demikian (Onani) tidaklah membatalkan puasa karena tidak adanya jima’ baik dari sisi bentuk maupun maknanya.” 

Namun tidaklah diwajibkan atasnya kafarat meskipun ia membatalkan puasa, demikian menurut Syafi’i dan Maliki—Hal ini bertentangan dengan pendapat yang dipegang oleh Maliki dan salah satu pendapat Hambali—karena perbuatan itu menjadikannya berbuka tanpa terjadi jima’ dan juga karena tidak ada nash maupun ijma’ dalam permasalahan ini yang mewajibkan kafarat. 

Sedangkan pendapat yang dipegang oleh Maliki adalah diwajibkan atasnya kafarat dan qadha, ini juga riwayat dari Ahmad serta pada umumnya riwayat ar Rafi’i dari kalangan Syafi’iyah serta apa yang diceritakan dari Abi Khalaf ath Thabari dimana perbuatan itu menuntut diwajibkannya kafarat terhadap setiap yang berbuka karena perbuatan tersebut (onani). Dalil diwajibkannya kafarat adalah karena perbuatan itu menyebabkan tumpahnya mani yang menyerupai jima’ (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz I hal 1159) 

Pada dasarnya tidak mengapa melakukan onani dengan tangan istrinya jika hal itu dilakukan di luar bulan Ramadhan atau pada malam hari Ramadhan atau mereka berdua termasuk orang yang mendapatkan rukhshah (keringanan) untuk tidak berpuasa dikarenakan sakit atau safar.

Akan tetapi apabila onani dilakukan pada siang hari Ramadhan padahal mereka berdua tidak termasuk orang yang mendapatkan rukhsah tidak berpuasa maka perbuatan itu membatalkan puasa, diwajibkan atas keduanya qadha serta bertaubat kepada Allah swt namun tidak diwajibkan atas keduanya kafarat karena kafarat tidaklah dikenakan kecuali terhadap orang yang melakukan jima’. 

Jika seorang mengidap hiperjima’ maka tetap diharuskan baginya untuk berusaha berpuasa ramadhan dan menyibukkan dirinya dengan amal-amal bermanfaat agar mengurangi hasrat atau libido jima’ualnya terutama di siang hari. Akan tetapi jika hal demikian pun tidak bisa mengurangi libido jima’ualnya dan dirinya khawatir terjatuh kedalam kemudharatan yang lebih besar maka diperbolehkan baginya berbuka sepertihalnya seorang yang sedang sakit yang dibolehkan baginya berbuka dan diwajibkan atasnya qadha. Namun jika dirinya berbuka maka janganlah dia mengajak pasangannya di siang hari untuk melakukan jima’ atau masturbasi. 

Hendaklah dirinya berkonsultasi dengan dokter ahli agar keadaan yang dialaminya itu tidak mengganggu puasanya dan yang terpenting adalah berdoa kepada Allah swt memohon bantuan dan pertolongannya dalam permasalahan ini. 

Bagaimana jika hubungan intim tersebut dilakukan berkali-kali bahkan beberapa hari di bulan Ramadhan? Seperti Apakah Kafaratnya 

Kita sudah mengetahui bahwa berhubungan intim di siang hari bulan Ramadhan dilarang keras. Di samping puasanya batal dan mesti mengqadha’ (mengganti puasanya di hari lain), si penanggung nafkah pun mesti menunaikan kafarah yang berat. 

Asy Syairozi berkata, “Jika hubungan intim dilakukan dalam dua atau beberapa hari di bulan Ramadhan, maka setiap harinya wajib dikenakan kafarah. Karena setiap hari puasa adalah ibadah tersendiri. … Sedangkan jika hubungan intim tersebut diulangi dalam sehari dua kali, maka untuk hubungan intim yang kedua tidak dikenai kafarah sebab hubungan intim yang kedua tidak dianggap sedang berpuasa.” (Al Majmu’, 6: 239). 

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan, “Menurut madzhab Syafi’i, orang yang mengulangi hubungan intim dalam satu hari, maka kafarahnya cuma sekali yaitu untuk membayar kafarah jima’ (hubungan intim) yang pertama.” (Idem, 6: 240). 

Beliau juga berkata, “Sedangkan jika jima’ dilakukan di hari yang berbeda, maka kafarah yang berlaku adalah untuk masing-masing hari.” (Idem).

Hukum Bersetubuh Suami Istri di Bulan Ramadhan

Bebeparap Pertanyaan yang Sering Muncul
 terkait Hubungan Intim di siang Hari Bulan Ramadhan 

Kafarat bagi istri yang berjima’ 

Dan apa pula hukumnya atas seseorang perempuan apabila ia jima’ tersebut dengan keridhaan darinya dan dia tidak mencegah akan hal itu? 

Apabila hal ini timbul dari keridhaannya maka si wanita tersebut berdosa. Adapun keharusan untuk membayar kafarah maka sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam tidak menyuruhnya akan hal itu. Kecuali Rasul mengatakan kepada seorang laki-laki, “Perintahlah istrimu jika dia ridha untuk mengerjakan hal itu (yaitu membayar kafarah).” 

Akan tetapi apabila si perempuan itu yang menyebabkan suaminya mencumbuinya sehingga terjadilah apa yang terjadi maka si perempuan itu berdosa, jika ternyata dia terpaksa maka dosa dikembalikan kepada suaminya.

Baca Juga: Bedakan Pembatal dan Bukan Pembatal Puasa Ramadhan

Kafarat atas suami yang berjima’ 

Apa yang diwajibkan dari kafarat atas seorang laki-laki yang dia menjima’i istrinya di siang hari bulan Ramadhan ? 

Telah datang dua hadits yaitu dari Aisyah dan Abu Hurairah dan keduanya dalam Shahih. Bahwasanya salah seorang laki-laki dating menemui Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Rasulullah aku telah binasa.” Kemudian kata Rasul, “Apa yang membuatmu binasa?” Kemudian ia menjawab, “Aku telah menjima’i istriku siang hari di bulan Ramadhan.” Dan dalam hadits Abu Hurairah, berkata seorang laki-laki, “Ya, Rasulullah aku telah binasa.” Beliau berkata, “Apa yang telah membuat engkau binasa?” Kemudian dia menjawab, “Aku telah menjima’i istriku di siang hari bulan Ramadhan.” 

Beliau berkata, “Apakah engkau punya budak untuk kemudian engkau merdekakan?” Dia menjawab, “Tidak.” Kata Rasul , “Apakah engkau mampu untuk shaum dua bulan terus menerus?” Kemudian dia menjawab, “Tidak.” Kemudian kata Rasul , “Apakah engkau mampu untuk memberi makan 60 orang miskin?” Dia menjawab, “Tidak.” Kemudian dia duduk. Kemudian Rasul mendatanginya dengan membawa satu karung tamr (kurma) kemudian berkata, “Ambillah ini dan engkau bershodaqoh dengan ini!”. Kemudian laki-laki menjawab, “Ya Rasulullah, tidak ada yang lebih faqir dari aku “demi Allah di antara dua kota Madinah ini.” Kemudian Rasulullah tersenyum dan berkata, “Ambillah ini, dan beri makanlah keluargamu!” 

Atau dengan makna yang seperti ini. Maka apabila didapatkan seorang budak maka hendaklah dia memerdekakannya, jika tidak memiliki budak maka berpindah pada shaum dan tidak boleh berpindah kepada memberikan makanan jika dia mampu untuk melakukan shaum. Karena sesungguhnya memberikan makanan ini sangat mudah bagi orang-orang kaya sedangkan shaum dua bulan berturut-turut terdapat di dalamnya masyaqqah (kesulitan/ keberatan).

Berjima’ karena bodoh (tidak tahu-red) tentang hukum 

Dan apa yang harus dilakukan oleh orang yang terjadi padanya hal ini (jima’) sedangkan dia bodoh tentang hukum ? 

Dia tetap harus membayar kafarah yang telah aku sebutkan sebelumnya karena sesungguhnya hadits tentang ini adalah mutlak. 

Mencumbui istri saat Puasa Bulan Puasa

Apa hukumnya orang yang memeluk istrinya dan menciumnya tanpa berjima’? 

Aisyah berkata, “Bahwasanya Nabi memeluknya di bulan Ramadhan.” Kemudian Aisyah mengatakan, “Siapa di antara kalian yang paling dapat menahan kebutuhannya?” 

Dan Ummu Salamah mengatakan bahwasanya Nabi menciumnya, demikian pula Aisyah mengatakan bahwasanya Nabi menciumnya. Dan Aisyah mengatakan bahwasanya Nabi adalah orang yang paling dapat menahan kebutuhannya. Apakah Ummul Mu’minin ini termasuk seseorang yang paling dapat menahan kebutuhannya ataukah tidak. Maka yang jelas bahwasanya hal itu tidak mengapa. Akan tetapi apabila ditakutkan menyebabkan jima’ maka wajib baginya untuk meninggalkan hal itu.

Berjima’ dalam keadaan lupa Siang Hari Ramadhan

Apa hukumnya orang yang terjadi padanya hal itu (jima’) sedang dia dalam keadaan lupa bahwa saat itu siang hari dalam bulan Ramadhan? 

Wallahu a’lam. Apakah ada yang melakukan jima’ dalam keadaan dia lupa bahwasanya dia berada di bulan Ramadhan atau tidak ada. Apabila memang didapatkan orang yang lupa maka hukumnya sama seperti hukum orang yang lupa yaitu tidak menqadha. Akan tetapi aku tidak mengira bahwa di sana ada yang melakukan jima’ karena lupa bahwa ia berada di siang hari di bulan Ramadhan kecuali terjadi di awal bulan Ramadhan, dan apabila dia lupa maka apakah istrinya juga lupa. Adapun mem-bayar kafarah maka diharuskan padanya. 

Keluar mani setelah bercumbu di Bulan Ramadhan 

Seorang laki-laki mencumbui istrinya di siang hari di bulan Ramadhan kemudian ia keluar maninya sedangkan ia tidak mengetahui apakah hal itu haram ataukah tidak haram. Maka apakah diwajibkan atasnya sesuatu ? 

Apabila ia mencumbui istrinya dengan tujuan untukmemenuhi syahwatnya dengan mengeluarkan maninya di luar daripada farji (kemaluan) istrinya maka ia dianggap ber-dosa. Karena sesungguhnya Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda dari apa-apa yang meriwayatkan-nya dari Rabb-nya,“meninggalkan makanannya, minumannya dan syahwatnya karena Aku.” 

Dan apabila ia mencumbui istrinya dalam keadaan tidak mengetahui atau bodoh akan hukumnya maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah dan apabila ia mengetahui maka hendaknya ia bertaubat kepada Allah jika ia mengetahui hal itu. Dan apabila ia mencumbui istrinya sedangkan ia dalam keadaan mengetahui bahwa mencumbui ini adalah hal yang diperbolehkan baginya kemudian ia memeluknya dan ia beranggapan bahwa hal ini tidak haram atasnya kecuali jima’ kemudian setelah itu ia mengeluarkan mani dan ia tidak bermaksud untuk mengeluarkan mani, maka tidak apa-apa baginya. Dan walau bagaimanapun maka tidak diwajibkan atasnya untuk memberikan kafarah jima’ pada setiap keadaan, dan ini adalah ucapan (pendapat) Abu Muhammad bin Hazm dan ini adalah shahih. 

Sumber Tulisan:
  1. Abuabdurrohmanmanado.org: Hukum Bercumbu Keluar Mani dan Jima saat Puasa
  2. Muslim.or.id: Akibat Hubungan Jima' siang Hari Bulan Ramadhan
  3. Eramuslim.com: Bergaul dengan Istri tanpa Melakukan Jima'
  4. Rumysho.com: Berhubungan Suami Istri Berulang kali Siang Hari saat Puasa Ramadhan


1 Response to "Perihal Hukum Bersetubuh saat Puasa Ramadhan, Beberapa Pertanyaan yang Wajib diketahui Pasangan Suami Istri"

  1. Subahnanalloh , terima kasih ustad. saya sering batal saat saay puasa sunnah dan suami saya meminta. saya tidak bisa bilang apa apa.

    ReplyDelete

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!