Makna Tauhid Uluhiyyah dan Contohnya

Advertisement
Makna Tauhid Uluhiyyah dan Contohnya - Tauhid belum sempurna dengan sekedar pengakuan atas tauhid rububiyyah dan asma’ wa shifat. Sebab, kedua tauhid ini dapat dianggap sebagai sekedar teori tauhid. Agar ‘tauhid teoritis’ ini menjadi sempurna, ia harus melibatkan tujuan dan sasaran dari tauhid, yakni penyembahan hanya kepada Allah swt.

Ketika menjelaskan tauhid uluhiyyah, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah menyatakan, “Tidak ada kebahagian, dan keselamatan bagi seorang hamba kecuali selalu mengikuti Rasulullah saw. Barangsiapa taat kepada Allah dan RasulNya, ia akan dimasukkan ke surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai. 

Yang demikian itu adalah kemenangan yang sangat agung. Akan tetapi, siapa saja yang maksiyat kepada Allah dan RasulNya dan melanggar ketetapan-ketetapan Allah, maka ia akan dimasukkan ke neraka. Ia akan mendapatkan siksa yang sangat pedih. Sesungguhnya Allah menciptakan makhluq agar mereka menyembah (beribadah) kepadaNya. Allah swt berfirman, artinya, Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” [al-Dzariyat:56]  

Bentuk ibadah mereka kepada Allah adalah dengan cara mentaati Allah dan RasulNya. Tidak ada ibadah kecuali apa yang telah diwajibkan dan diridloi oleh agama Allah.[1] 

Definisi Tauhid Uluhiyyah dan Contohnya

Banyak bukti menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Mekah pada masa Nabi saw mempercayai ketuhanan Allah sebagai Pencipta sekaligus mempercayai pula berbagai sifat-sifatNya. Namun demikian, mereka tetap disebut sebagai orang musrik. Allah swt berfirman, artinya, “Dan sesungguhnya jika kamu tanyakan kepada mereka, siapakah yang menjadikan langit dan bumi dan menundukkan matahari dan bulan? Tentu mereka akan menjawab,”Allah”. Maka betapakah mereka (dapat) dipalingkan dari jalan yang benar.”[al-‘Ankabuut:61] “Dan sesungguhnya jika kamu menanyakan kepada mereka siapakah yang menurunkan air dari langit lalu menghidupkan dengan air itu bumi sesudah matinya?’ Tentu mereka akan menjawab,”Allah.” Katakanlah, “Segala puji bagi Allah”, tetapi kebanyakan mereka tidak memahaminya.”[al-‘Ankabut:63].

Ibadah dalam Islam bermakna penyerahan diri kepada Allah yang diwujudkan melalui kepatuhan pada hukum-hukum Allah swt[2]. Berpegang teguh atau lebih mengutamakan hukum-hukum buatan manusia lebih dari hukum Allah merupakan kesyirikan dalam tauhid al-‘ibadah. 

 Allah telah berfirman di dalam al-Quran, artinya, “Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia Pemberi keputusan yang paling baik.”[al-An’am:57] “Barangsiapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka adalah orang-orang yang kafir.”[al-Maidah 44]

Ketika Rasulullah saw membacakan ayat al-Quran, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah.”[at-Taubah 31], Adiy bin Hatim menyatakan bahwa (orang-orang Yahudi dan Nashrani) tidak menyembah kepada rahib-rahib dan pendeta-pendeta mereka, akan tetapi mereka juga menyembah kepada Allah. 

Pernyataan ini ditangkis Rasulullah saw dengan pernyataan beliau, “Akan tetapi rahib-rahib dan pendeta itu telah menghalalkan apa yang diharamkan Allah, dan mengharamkan apa yang dihalalkan oleh Allah, kemudian mereka mengikutinya.”[3]

Ini menunjukkan bahwa, sekedar menyakini Allah swt dari sisi rububiyyah dan asma’ wa shifat, tidak akan mampu menyelamatkan seseorang dari kekafiran, sampai ia mengesakan Allah dalam hal penyembahan (tauhid uluhiyyah); dengan jalan menyakini bahwa hukum Allah adalah satu-satunya hukum yang berhak ditaati dan diikuti.

Atas dasar itu, menyakini bahwa hukum Allah swt sebagai satu-satunya hukum yang berhak mengatur kehidupan manusia, merupakan refleksi dari tauhid uluhiyyah. Seorang muslim harus menyakini bahwa hukum-hukum Allah (syari’at Allah), satu-satunya hukum terbaik yang mampu memecahkan seluruh problematika umat manusia. Ia tidak boleh menyakini aturan-aturan lain selain aturan Allah yang mampu menyaingi atau setingkat levelnya dengan aturan Allah swt. [4]

Catatan Kaki


[1] Imam Ibnu Taimiyyah, Majmuu’ al-Fatawa, juz I/42, pada bab Tauhid Uluhiyyah, Daar al-Kutub al-‘Imiyyah.

[2] Abu Ameenah Bilal, Menolak Tafsir Bid’ah, PT. Andalus Press, Surabaya, hal.235

[3] Lihat Imam Ibnu Katsir, Tafsir Ibnu Katsir.

[4] Lihat, Dr. Mohammad Husain ‘Abdullah, Dirasaat fi al-Fikr al-Islaamiy



0 Response to "Makna Tauhid Uluhiyyah dan Contohnya"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!