Maksud Memilah yang Halal dan Haram dalam Islam

Advertisement
Tongkronganislami.net - Allah S.w.t telah menetapkan ketentuan-ketentuan yang mesti diperhatikan –dan dipatuhi—oleh hamba-hamba-Nya. Apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh: yang diperintahkan dan yang dilarang. Sebagai contoh, dalam surat al-Isrā’ ayat 32, Allah berfirman:

وَلاَ تَقْرَبُواْ الزِّنَى إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَآءَ سَبِيلاً

Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji, dan suatu jalan yang buruk
. (Q, s. al-Isrā'/17:32)

Larangan mendekati zina berarti meliputi larangan terhadap apa saja yang menyebabkan atau mendorong orang untuk melakukan perzinahan. Apabila hal-hal yang ngetrend, yang modis, yang bersifat buka-bukaan diyakini dapat mendorong atau merangsang orang untuk berbuat zina, maka jelas hal itu dilarang. 

Artinya, jika penyebabnya dilarang, apalagi perbuatannya. Itulah hikmah mengapa Allah S.w.t tidak langsung mengatakan "janganlah kamu berzina". Seandainya ayatnya berbunyi "janganlah berzina" maka sangat mungkin orang akan berdalih: "yang dilarang adalah perbuatan zina, buka-bukaan bukan perbuatan zina, jadi boleh ".

Defenisi Halal dan Haram dalam Islam
Halal Atau Haram / Kompasiana.com

Orang zaman sekarang serba aneh, banyak hal sekarang ini yang sukar dinalar oleh akal sehat. Hal-hal yang sukar dinalar oleh akal sehat umumnya merupakan hal-hal yang tidak tepat, tidak semestinya, dan menyimpang dari kebiasaan. Dahulu, orang harus sembunyi-sembunyi bila ingin buka-bukaan atau porno-pornoan.

Itulah kebiasaan selama ini, dan karena itu lalu menjadi norma sosial, menjadi hukum, karena salah satu sumber hukum adalah kebiasaan yang berlangsung lama dalam masyarakat (al'ādat muhakkimah).

Namun, sekarang ini orang merasa nyaman-nyaman saja berbuat tidak senonoh di ruang-ruang publik: aurat diumbar, dipertontonkan, bahkan diperjual-belikan. Ini zaman kebebasan, maka boleh melakukan apa saja karena itu merupakan hak asasi setiap orang. Mau tutup rapat yang cuma kelihatan matanya saja atau mau telanjang bulat, itu hak asasi. Mau waras atau mau gila, itu juga hak asasi. Dan yang mengherankan adalah orang menuntut hak asasi untuk menjadi gila.

Kata orang "zaman ini zaman edan". Rasanya ungkapan itu ada benarnya, tetapi harus dicatat bahwa yang edan itu bukan zamannya, tapi orang-orangnya. Di zaman ini menjadi edan adalah hal yang wajar, justru menjadi waras itulah yang perlu dipertanyakan. Kalau ada orang yang berpakaian sopan, bersih, necis, menutup aurat, maka ia akan dicap sebagai kampungan, tidak modis, tidak ngetrend, tidak mengikuti zaman dan berbagai macam cemoohan. Heran, orang berlaku wajar dibilang kampungan!

Yang tidak kampungan adalah yang modis dan yang ngetrend yaitu yang pakaiannya serba terbuka, kalau perlu kainnya dari bahan sutra yang super tipis: semakin tipis, semakin transparan, semakin terbuka, maka itu menunjukkan semakin modis suatu busana dikenakan. Heran, yang seperti ini malah dibilang ngetrend!

Sama halnya kalau ada orang yang mengajak orang lain kepada kebaikan, menjunjung tinggi sopan-santun, menuntun kepada budi pekerti yang luhur, mengajak kepada al-akhlāk al-karimah, ia dibilang kuno, tidak gaul dan segudang cercaan lain. Atau biar agak berbau ilmiah, orang yang mengajak kepada kebaikan lalu dihadang dengan dalil-dalil hukum, mulai dari melanggar hak asasi manusia hingga bertentangan dengan Undang-Undang Dasar, bahkan menuduhnya telah menodai nilai-nilai suci kemanusiaan.

Mestinya kalau ada orang yang mengajak kepada kebaikan, harus disyukuri karena masih ada yang mengingatkan: masih ada yang membetulkan. Justru kalau ada orang yang berusaha menjerumuskan harus diwaspadai. Apakah nalar kita akan menerima apabila ada orang menyuruh kita untuk bertelanjang di hadapan khalayak ramai? Nalar yang sehat pasti akan menolaknya, apalagi hati nurani. Tetapi, anehnya, menggunakan nalar yang sehat adalah tindakan yang menyalahi trend. Luar biasa! Sungguh mengherankan!

Dunia entertainment kita saat ini sarat dalam menyuguhkan hal-hal yang ngetrend, yang ujung-ujungnya menggiring bangsa ini untuk menganggap biasa hal-hal yang tidak lumrah, menganggap biasa perzinahan, perselingkuhan, perkosaan dan kekerasan, bahkan menganggap lumrah pertunjukan telanjang. Inilah yang harus diwaspadai, jangan sekedar ikut-ikutan, jangan keblinger. Kita harus punya prinsip! Rasanya tidak susah untuk membedakan mana warna putih dan hitam. Mudah-mudahan kita semua tidak terkena rabun mata untuk membedakan yang baik dari yang buruk. Rasulullah S.a.w mengatakan:

الحَلالُ بَيِّنٌ، وَالحَرامُ بَيِّنٌ، وَبَيْنَهما مُشَبَّهاتٌ لا يَعْلَمُها كثيرٌ منَ الناسِ 

Yang halal sudah jelas, yang haram juga sudah jelas, diantara keduanya banyak hal-hal yang meragukan, kebanyakan orang tidak mengetahuinya. (HR. Bukhari)


0 Response to "Maksud Memilah yang Halal dan Haram dalam Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!