Pengenalan Tanda-tanda Hari Kiamat dalam Islam

Advertisement
Tanda-tanda Hari Kiamat dalam Al-Qur'an - Seorang muslim beriman dan percaya bahwa kehidupan di dunia ini akan habis dan mempunyai batas waktu berakhirnya, kemudian akan berganti dengan kehidupan kedua di alam akhirat. "Ilahmu adalah Ilah yang satu. Maka, bagi orang-orang yang tidak beriman kepada Hari Akhirat, adalah mereka yang hatinya ingkar (akan keesaan Allah dan Hari Kiamat) sedangkan mereka itu adalah orang-orang yang sombong" (Q.S. An-Nahl 22).

Pada saat dan hari itu, Allah yang Mahakuasa akan membang­kitkan segenap makhluk ciptaanNya. Semua akan dikumpulkan untuk menghadap mahkamah pengadilan Allah yang Mahatinggi. Setiap orang diperhitungkan amal perbuatannya. Orang yang taat dan shaleh, pasti menerima pahala kebahagiaan dalam kehidupan jannah yang penuh kenikmatan abadi. Sedangkan orang-orang yang maksiat kepada Allah, pasti merasakan siksa yang pedih di dalam jahannam.

Bukti-bukti adanya Hari Kiamat adalah berasal wahyu (ayat-ayat) Allah dan hadits rasul. Dasar pemahamannya adalah berdasar­kan dalil nakli, bukan dalil akli. Sebab, Hari Kiamat adalah sesuatu yang tidak terjangkau panca indera manusia. Oleh karena itu, akal tidak mampu menemukannya dengan pasti berdasarkan usaha penginderaan terhadap sesuatu.

Tanpa adanya berita tentang Hari Kiamat dari Al-Wahyu, maka manusia tidak mengetahui apakah ada atau tidak hari kebangkitan sesudah mati, untuk apa ada hari kebangkitan itu, juga apakah masih ada atau tidak kehidupan sesu­dah mati, serta bagaimana bentuk kehidupan sesudah mati itu? Dalil-dalil nakli yang menjelaskan tentang Hari Kiamat tersebut di antaranya adalah:

"Orang-orang yang kafir mengatakan bahwa mereka sekali-kali tidak dibangkitkan. Katakanlah, 'Tidak demikian. Demi Tuhanku, kalian benar-benar pasti dibangkitkan, kemudian akan diberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan'. Hal demikian adalah mudah bagi Allah" (Q.S. At Taghaabun 7).

Hadits ketika jibril mengajarkan kepada Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dari Umar bin Khattab: "Ketika Jibril menanyakan kepada Rasulullah tentang iman, maka Rasulullah menjawab: 'Hendaklah engkau beriman kepada Allah, para malaikatNya, kitab-kitabNya, para RasulNya, juga kepada Hari Kiamat. Dan hendaklah engkau beriman kepada Qadla-Qadar yang baik dan buruk (dari Allah)".

Iman kepada Hari Kiamat adalah iman kepada hari berbangkit, yaitu waktu berakhirnya seluruh kehidupan makhluk di alam semesta yang fana ini, kemudian Allah pasti menghidupkan kembali semua makhluk yang telah mati, membangkithidupkan tulang belulang yang telah hancur, mengembalikan jasad yang telah menjadi tanah seba­gaimana asalnya, dan mengembalikan ruh pada jasad seperti sedia kala. 

Pengertian Hari Kiamat dalam Al-Qur'an

Keadaan Manusia Ketika Berbangkit

Ada yang mempersoalkan kebangkitan manusia dari kubur, apa­kah ia bersifat materi ataukah immateri (spiritual). Menurut faham Ahlussunnah, yang dihidupkan kembali (bangkit) dari kubur adalah badan (wadag) yang telah menjadi tanah (membu­suk) ditinggalkan oleh nyawanya (roh) dahulu ketika manusia hidup di bumi. Keterangan ini berdasarkan firman Allah:

"Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami, dan dia lupa kepada kejadiannya. Ia katakan: 'Siapa pula yang sanggup menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh itu?' Katakanlah: 'Ia akan dihidupkan oleh Ilah yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Mahatahu tentang segala makhluk" (QS. Yasin 78-79).

Juga berdasarkan sabda Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Muslim dan Ibnu Madjah dari Jabir ra: "Setiap hamba akan dibangkitkan menurut keadaan ketika ia mati (di dunia)".

Menurut Maulana Muhammad Ali (seorang tokoh Ahmadiyah1)), yang dibangkitkan dari kubur itu bukanlah badan manusia ketika ia ditinggalkan oleh nyawanya, melainkan badan baru dan berbeda sama sekali dengan yang terdahulu. Ia merujuk kepada keadaan langit dan bumi pada hari akhir nanti, bahwa ia bukanlah bumi dan langit dunia yang dahulu. Ayat-ayat Al-Qur'an yang dijadikan sandarannya adalah surat Ibrahim 48, Al-Israa' 99, dan Al-Waqi'ah 58-62.

Ketiga ayat pada surat, menurut takwilnya, menunjukkan bahwa pada hari akhir bumi langit dan manusia diganti dengan yang lain, tetapi serupa dengan bentuk terdahulu dalam kondisi yang berbeda pula dengan kondisi di dunia. Dengan kata lain menurut Maulana Muhammad Ali, nyawa seseorang nanti tidak kembali kepada badannya yang lama (di dunia) tetapi akan masuk kepada badan baru di akhi­rat2).

Pendapat tersebut tidak dapat diterima. Sebab, ia berten­tangan dengan nash-nash Al-Qur'an dan Sunnah Rasul yang menjelas­kan bahwa yang akan dibangkitkan dari alam kubur adalah nyawa manusia dari badan yang dahulunya hidup di dunia, bukan badan lainnya. Al-Qur'an menyatakan hal tersebut, misalnya dalam surat Ibrahim 48-50, Al Kahfi 48, dan An-Nisa 24, serta Sunnah Rasul:

"Sesungguhnya (ahli jahanam) kepadanya akan ditumpahkan air yang sangat mendidih ke atas kepala mereka, sampai-sampai itu menghancurkan tubuh bagian dalam mereka dan mengeluarkan segala organ bagian dalam. Setelah itu (tubuh rusak tersebut) diciptakan kembali (untuk selanjutnya menerima siksaan yang berulang-ulang" (HR. Ahmad, Tirmidzi, Al-Hakim dari Abi Hurairah. Lihat "Kanzul Ummal", oleh Al-Burhan Furi, pada hadits nomor 39515).

Seluruh ayat tersebut menunjukkan bahwa semua manusia ber­kumpul di Padang Mahsyar dengan keadaan dan bentuk yang sama seperti ketika ia hidup di dunia. Sedangkan ayat-ayat yang dija­dikan dasar bagi Maulana Muhammad Ali tidaklah dapat dijadikan dasar yang benar, terutama surat Ibrahim ayat 48:

"(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan demikian pula langit, dan mereka semuanya (di padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke Hadirat Allah Yang Mahaesa lagi Maha Perkasa" (QS. Ibrahim 48).

Ayat ini tidak dapat dijadikan dasar untuk menunjukkan ada­nya perubahan bentuk manusia pada Hari Kiamat. Dalam ayat terse­but hanya bumi dan langit saja yang berubah, sedangkan manusia tidak berubah sama sekali. Begitu pula dasar yang diambilnya dalam surat Al-Isra'ayat 99:

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Allahlah pen­cipta langit dan bumi adalah kuasa (pula) menciptakan yang serupa dengan mereka, dan (Dia) telah (pula) menetapkan waktu tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka, orang-orang yang dzalim itu tidak menghendaki selain kekafiran (belaka)" (QS. Al-Isra' 99).

Bagi Allah, tidaklah sukar menciptakan langit dan bumi yang baru, apalagi manusia dalam bentuk terdahulu ketika ia mati. Sedangkan dasar surat Al-Waqi'ah 58-62; ayat ini bukanlah menje­laskan penggantian bentuk badan manusia di akherat, tetapi ayat tersebut menjelaskan kekuasaan Allah untuk menggantikan manusia di dunia (mengganti suatu bangsa yang melanggar perintah Allah dengan bangsa yang patuh terhadap perintah Allah).

Kapan Terjadinya Hari Kiamat? 


Manusia selalu bertanya kapankah terjadinya Hari Kiamat. Jawabannya: hanya Allah yang tahu dengan pasti dan tepat, kapan terjadinya. Firman Allah SWT: "Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: 'Bilakah terja­dinya?Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu ada pada sisi Rabbku. Tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru-hara­nya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba". Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: 'Sesungguhnya pengetahuan tentang Hari Kiamat itu ada di sisi Allah'. Tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS. Al A'raaf 187).

Peristiwa Hari Kiamat dalam Al-Qur'an


Tanda-tanda Hari Kiamat Berdasarkan Hadis Nabi SAW

Hadist-hadits Rasulullah saw yang bersumber pada wahyu Allah tidak pernah menerangkan dengan pasti kapan terjadinya Hari Kia­mat. Namun tanda-tanda Hari Kiamat tersebut telah dikemukakan secara banyak dan rinci, antara lain:

1. Banyak yang Berpakaian Telanjang

Banyaknya mode pakaian telanjang. Jumlah orang beriman sedi­kit. Zina dan minuman memabukkan serta kejahatan-kejahatan lain merajalela. Perhiasan masjid yang berlebihan dan suara hiruk-pikuk lebih sering terdengar di Masjid. Penyalahgunaan jabatan. Perpecahan umat Islam /negeri-negeri Islam akibat fitnah oleh musuh-musuh Islam.

Kehancuran pemerintah Khilafah Islamiyah dan akan kembali jaya dan berkuasa Khilafah dikemudiann hari sehingga kaum Muslimin menguasai pusat kekuasaan Katholik Nasrani di Roma dan tersebarnya Islam ke seluruh dunia. Peperangan antara umat Islam dengan Yahudi yang berakhir dengan kemenangan di fihak kaum muslimin.

2. Munculnya Dajjal

Munculnya Dajjal di tengah umat Islam untuk menyesatkan manusia. Munculnya Muhammad Al-Mahdi di bumi untuk menegakkan keadilan dan kekuasaan umat Islam. Turunnya Nabi Isa as untuk meluruskan ajaran Nasrani (ajaran Trinitas, yakni menuhankan Nabi Isa), mengislamkan orang Nasrani, menhancurkan salib-salib, mene­gakkan kebenaran dan keadilan berdasarkan syariat Islam, membunuh Dajjal, kemudian beliau kawin lalu meninggal dan dikuburkan dekat makam Rasulullah saw. munculnya Daabbah (binatang ajaib) yang dapat berbicara kepada manusia untuk menunjukkan kepalsuan dan ketidakbenaran ajaran semua agama selain Islam, serta memper­i­ngatkan orang-orang yang tidak percaya dengan ayat-ayat Allah (tanda-tanda kebesaran dan kekuasaan Allah). Matahari akan ter­bit dari arah barat dan itu terjadi setelah Nabi Isa wafat; pada saat itulah pintu taubat tertutup.

3. Munculnya Ya'juj dan Ma'juj

Munculnya Ya'juj dan Ma'juj (dua bangsa dari sebelah Timur) menyerang kaum muslimin bagaikan air bah, tetapi peperangan itu akan berakhir dengan kehancuran tentara Ya'juj dan Ma'juj oleh Allah dengan kemenangan di fihak kaum Muslimin (ini terjadi pada masa Nabi Isa masih hidup). kemudian Allah akan mengirimkan kabut tipis yang menyebabkan kematian seluruh kaum muslimin dan tinggallah orang-orang kafir (jahat).

Terjadi gempa bumi di Timur /Barat dan seluruh Jazirah Arab, disertai munculnya api di daerah Yaman, sehingga orang-orang berlari ke arah Syam dan di sini mereka mati setelah ditiup sang­kakala. Pada saat itulah Kiamat yang sesungguhnya terjadi.

Nasib Manusia pada Hari Kiamat

Al-Qur'an menerangkan bahwa Hari Kiamat terjadi setelah ditiupnya sangkakala pertama oleh Malaikat Isrofil. Pada saat ini, semua makhluk binasa kecuali mereka yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiupkan sangkakala untuk kedua kalinya agar semua makhluk berdiri dan menuju Padang Mahsyar untuk perhitungan amalnya. Firman Allah SWT: "Dan ditiuplah sangkakala, maka matilah apa yang ada di langit dan bumi kecuali apa yang dikehendaki oleh Allah. Kemudian ditiup sangkakala itu sekali lagi, maka tiba-tiba mereka berdiri menunggu (putusannya masing-masing)" (QS. Az-Zumar 68).

Orang-orang atheisme telah meragukan Hari Kiamat setelah tergambar dalam otaknya bagaimana kesulitan yang akan dihadapi Allah ketika akan menghitung amal perbuatan manusia yang begitu banyak. Sikap ini tumbuh karena mereka tidak berfikir bagaimana Allah menciptakan langit dan bumi tanpa merasa lelah sedikitpun. Firman Allah SWT:

"Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan" (QS. Qaaf 38).

Allah Mahatahu berapa jumlah tetes hujan yang jatuh ke bumi, serta tidak satu lembar daunpun yang jatuh ke tanah melainkan diketahuiNya (QS. Al-An'aam 59). Sedangkan manusia telah terbukti tidak sanggup menghitung tetes hujan yang turun ke bumi, berapa jumlah butir pasir di sepanjang pantai dunia, serta berapa jumlah bayi yang lahir ke dunia sejak dahulu sampai sekarang.

Semua jumlah bilangan yang banyak itu hanya Allah SWT saja yang sanggup menghitungnya. Sebab, Dia Yang Mahatahu, Mahakuasa dan Mahakaya. Dia tahu jumlah makhluk sebelum diciptakan sesuatu diciptakan. Apakah adanya hisab menjadi sesuatu yang menyusahkan baginya, misalnya untuk menghitung semua amal manusia ketika hidup; kejahatannya dan keburukan yang pernah dikerjakan. Segala gerak yang dilakukan mamusia mulai dari mata, mulut, hidung, telinga, kaki, tangan dan segala sifat jasmani dan rohani (hati), semuanya mendapat penilaian dari Allah dan akan dibalas.

Pada hari hisab, segala sesuatu akan disaksikan oleh Allah SWT, para Rasul dan Nabi, para Malaikat, seluruh manusia, bina­tang dan semua makhluk, sejak nabi Adam hingga makhluk terakhir. Ia juga akan disaksikan oleh ayah-ibunya, neneknya dan kawan-kawannya. Allah SWT berfirman :  "Bacalah kitabmu sendiri yang pada hari itu cukuplah menjadi saksi" (QS. Al-Isra' 14). dan "Pada hari itu semua berita akan bercerita sendiri" (QS. Al-Zalzalah 4).

Orang-orang yang beriman kepada Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, maka ia pasti diampuni dosa-dosa-Nya. Sebab, Allah mengampuni semua dosa manusia kecuali dosa syirik.

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang menganggap diri­nya bersih? Sesungguhnya Allah membersihkan siapa saja yang dike­hendakiNya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun" (QS.An-Nisaa'48).

"Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik (menyekutu­kan Dia). Dan Dia mengampuni dosa selain syirik itu bagi siapa saja yang dikehendakiNya. Siapa saja yang menyekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia tersesat sejauh-jauhnya" (QS. An-Nisaa' 116).

"(Yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan per­buatan keji selain kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabbmu Mahaluas ampunanNya. Dan Dia lebih mengetahui (keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu. Maka, janganlah kamu mengatakan dirimu suci. (Kare­na) Dialah yang Mahatahu siapa yang bertaqwa" (QS. An-Najm 32).

Adapun orang-orang kafir yang menyekutukan-Nya, maka mereka termasuk orang-orang berdosa. Mereka tidak diampuni dosa-dosanya, sesuai dengan firman Allah SWT:  "Dan tidaklah mereka tahu bahwa Allah melapangkan rezeki dan menyempitkannya bagi siapa yang dikehendakiNya? Sesungguhnya pada yang demikian terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang beriman" (QS. Az-Zumar 53).

Betapa mudahnya seseorang terlepas dari api jahanam, sesuai dengan hadits Rasulullah saw yang diriwayatkan oleh Ahmad, Bukha­ri dan Muslim dari Adiy: "Jauhkan dirimu dari api jahanam walaupun dengan bersedekah sebiji korma. Dan jika tidak mendapatkannya, maka cukuplah dengan perkataan yang baik".

Kedzaliman antar manusia di dunia merupakan dosa yang tidak terhindarkan. Namun, ia akan diadili dengan seadil-adilnya. Mere­ka yang merampas harta orang lain, mencuri, memperkosa, membunuh, menganiaya. Mereka yang mengetahui di kanan kirinya banyak orang miskin, tersiksa dan memerlukan bantuan tetapi ia membiarkannya. Mereka yang bekerja tidak benar ketika bergaul, berpolitik, mau­pun berdagang. Mereka yang berdosa besar maupun kecil, berjual beli secara bathil, membuka aurat di depan umum dan berteriak-teriak di jalanan, mengomel, berbisik, mengukur dan menimbang secara curang, hubungan antara majikan dengan buruh yang buruk, serta berbagai persoalan keluarga. Semua bentuk perbuatan itu pasti diadili. Ketika itu tidak ada partai dan golongan, kebang­saan, kesukuan. Semua hal diketahui Allah.

Segala caci maki, tuduhan yang semena-mena tanpa bukti, menyakiti orang lain, bergunjing, mengkritik dengan maksud buruk, kata-kata yang keluar tanpa makna, menyia-nyiakan waktu, berhu­tang tetapi tidak mau membayar, berjudi dan berzina, serta 1001 macam persoalan kehidupan manusia, semua pasti diadili dan menda­pat hukuman Allah pada Kahri Kiamat. Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Ahmad dan Tarmidzi dari Abu Hurairah:

"Tahukah engkau siapakah orang-orang miskin itu? Mereka adalah umatku yang datang pada Hari Kiamat dengan shalat, shaum, zakatnya, tetapi mereka telah mencaci maki, menuduh seseorang tanpa bukti, sehingga semua perbuatannya itu menyebabkannya ia telah menghilangkan kebaikannya. Kemudian ia ditenggelamkan ke dalam jahanam".

Orang-orang yang jumlah dosanya lebih banyak daripada amal kebajikannya, maka mereka pasti disiksa dalam api jahanam. Se­dangkan orang-orang yang jumlah amal kebajikannnya lebih banyak daripada amal kejahatannya, maka mereka akan mendapat balasan kenikmatan di Hari Kiamat. Tetapi akan berbeda terhadap orang-orang yang jumlah amal kebajikan seimbang dengan amal bejahatan, maka mereka akan ditangguhkan, tidak dimasukkan ke dalam jannah atau jahanam. Mereka akan ditempatkan di suatu lokasi yang dise­but Al-Araaf, sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Dari tempat ini, mereka dapat menyaksikan bagaimana pedihnnya siksa jahanam dan bagaimana pula kenikmatan yang diperoleh oleh penghu­ni jannah. Namun, penghuni Al-Araaf ini suatu waktu pasti dima­sukkan Allah ke dalam jannah. (QS Al Araaf 46-47).

"Dan di antara keduanya (penghuni jannah dan jahanam), ada batas (Al-A'raaf). Dan di atas Al-A'raaf itu ada orang-orang yang mengenal masing-masing kedua golongan itu dengan ciri-ciri (ke­nikmatan yang) mereka (peroleh). Dan mereka berseru (kepada) warga jannah: 'Salaamun 'alaikum'. Mereka belum boleh memasuki­nya, padahal mereka ingin (sekali) segera (ma­suk ke dalam­nya). Dan apabila pandangan mereka dialihkan ke arah penghu­ni jahanam, maka mereka berkata: 'Ya Rabbi kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang yang dzalim itu'" (QS Al-A'raaf 46-47).

Kenikmatan Jannah Setelah hari Kiamat

Kehidupan di dalam jannah adalah abadi, penuh kesenangan dan kenikmatan. Allah SWT berfirman: "Masukilah jannah itu dengan aman. Itulah hari kekekalan" (QS Qaaf 34).

Penghuni jannah akan bertemu dengan ayah, suami, istri, para famili, dan para cucunya yang beramal shalih dengan penuh kegem­biraan dan kebahagiaan. Para malaikat akan masuk dari segala penjuru dengan menyampaikan salam.

"(yaitu) jannah 'Adn, tempat mukim mereka, bersama orang-orang shalih dari para bapak, istri dan anak cucu mere­ka. Semen­tara itu, para malaikat masuk ke tempat mereka dari semua pintu, (sambil mengucapkan): 'Sejahtera atas kalian selu­ruhnya karena kesabaran kalian' (Salaamun 'alaikum bimaa shabar­tum). Maka, alangkah baiknya tempat terakhir itu" (QS Ar Raad 23-24).

Tentang sifat-sifat jannah, Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Hurairah: "Siapa saja yang masuk jannah, maka ia pasti merasakan se­nang dan tidak pernah putusasa. Ia berpakaian yang tidak lepas, masa remaja yang tidak pernah pudar, matanya melihat sesuatu yang tidak pernah dilihat sebelumnya, telinganya mendengar sesuatu yang tidak pernah didengar sebelumnya, dan hati manusia tidak pernah menghayalkan sesuatu hal yang ada sebelumnya".

Pada waktu itu manusia akan melihat Rabbinya, yang dinyata­kan Rasulullah saw sebagai bentuk yang Mahaindah. Juga di dalam jannah berlimpah buah-buahan yang tidak putus-putusnya dan tidak pernah terhalang. "Dan buah-buahan yang banyak, yang tidak berhenti (berbuah) dan tidak dilarang mengambilnya" (QS Al-Waaqi'ah 32-33).

Siksaan Jahanam Setelah Hari Kiamat

Tentang siksaan terhadap orang kafir dan dzalim di dalam jahanam, Allah SWT berfirman: "Hai orang-orang beriman, peliharalah diri dan keluargamu dari api jahanam yang bahan bakarnya adalah (tubuh) manusia dan bebatuan; penjaganya para malaikat yang kasar, keras, (dan) tidak (pernah) membantah kepada Allah terhadap apa yang diperintahkan­Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan" (QS At-Tahriim 6).

Sedang kedudukan orang-orang munafik, mereka berada di kerak jahanam yang paling bawah. "Sesungguhnya orang-orang munafik itu (tempat mereka) berada pada tingkatan yang paling bawah dari jahanam, dan kamu sekali-kali tidak akan mendapat seorang penolongpun bagi mereka" (QS. An-Nisaa' 145).

Allah SWT juga mengingatkan kepada manusia bahwa siksa jaha­nam amatlah pedih. "Sesungguhnya orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, maka kelak akan Kami masukkan mereka ke dalam jahanam. Setiap kali kulit mereka hangus, Kami ganti kulit mereka dengan kulit yang lain (baru) supaya mereka merasakan adzab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana" (QS An-Nisaa' 56).

Kenikmatan Jannah adalah Kesenangan Sempurna

Siksaan jahanam adalah abadi dan kekal. Siksaan di jahanam maupun kenikmatan di jannah merupakam akibat perbuatan manusia di dunia. Semua itu dirasakan secara fisik, bukan secara roh.

Tentang pendapat bahwa kenikmatan maupun siksaan pada kedua tempat tersebut dirasa­kan manusia dalam bentuk roh, maka pernya­taan tersebut terbantah dengan memperhatikan firman Allah SWT: "Ketika (itu) belenggu dan rantai dipasang di leher mereka, seraya mereka diseret. (Kemudian mereka dimasukkan) ke dalam air yang sangat panas, lalu mereka dibakar di dalam api (yang menya­la-nyala)" (QS. Al-Mukmin 71-72).

"Pada hari itu dipanaskan emas perak di dalam jahanam, lalu lelehan (emas dan perak) itu (dipakai) untuk membakar dahi, lam­bung dan punggung mereka. Kepada mereka (dikatakan): 'Inilah harta benda yang engkau simpan untuk dirimu sendiri. Maka, rasa­kanlah sekarang (siksaan akibat dari) tabunganmu itu" (QS At-Taubah 35).

"Sekali-kali tidak. Sesungguhnya jahanam itu api yang berge­jolak, yang mengelupaskan kulit kepala" (QS Al-Ma"aarij 15-16).

"(Bagi mereka adalah) jannah 'adn. Mereka masuk ke dalamnya. Di dalamnya, mereka diberi perhiasan dengan gelang-gelang yang terbuat dari emas, dan mutiara, serta pakaian mereka di sana adalah sutra" (QS Faathir 33).

Bagaimana mungkin siksaan yang disebutkan pada ayat-ayat Al-Qur'an tersebut bentuknya adalah siksaan yang bersifat ruh. Bah­kan, patut pula diketahui bahwa kehidupan akhir tesebut mempunyai persamaan dengan kehidupan dunia, yaitu adanya perasaan, penger­tian, kepuasaan dan adanya makhluk (hewan dan tumbuhan) yang akan menemani kehidupan manusia di jannah. Allah SWT berfirman: "Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini" (QS Ath-Thuur 22).

Rasulullah saw bersabda: "Ahli jannah makan dan minum di dalam jannah tetapi mereka tidak buang air besar, tidak buang ingus dan tidak kencing" (HR. Muslim dari Jabir ra).

Dari Nu'man bin Basyir ra, ia berkata: "Aku telah mendengar Rasulallah SAW berkata: "Seringan-ringannya siksa pada Hari Kiamat ialah orang yang padanya diletakkan dua bara api di bawah tumitnya yang mampu mendidihkan otaknya. Pada saat itu ia merasa bahwa tidak seorang­pun yang lebih berat siksaan yang diterimanya dibandingkan dengan orang lain. Padahal sesungguhnya itulah siksa seringan-ringannya" (HR. Bukhari Muslim).

Dampak Iman Kepada Hari Kiamat

Iman pada Hari Kiamat akan mampu mendorong setiap mukmin untuk berfikir sebelum melakukan sebuah tindakan. Sebab ia yakin bahwa semua amal perbuatannya akan dimintai pertangungjawabannya dan ia akan menerima balasannya, baik atau buruk sesuai dengan perbuatannya itu. Allah SWT berfirman: "Siapa saja yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, maka pasti ia melihat (balasan)nya, dan siapapun yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrah, juga pasti ia melihat (balasan)nya" (QS Al-Zalzalah 7-8).

Karena itu iman kepada hari akhir mempunyai dampak positif bagi kehidupan seseorang, yakni3):
a. Senantiasa menjaga diri untuk selalu taat kepada Allah SWT dan senantiasa mengharapkan pahala pada Hari Kiamat. Ia akan berusaha menjauhi segala laranganNya karena takut siksaan kelak di kemudian hari.

b.Menghibur dan mendorong agar bershabar bagi mukmin bahwa kebahagian (kesenangan, kesejahteraan) yang belum diperoleh­nya di dunia akan diterimanya di kemudian hari.

Catatan Amal Perbuatan Manusia pada Hari Kiamat

Iman kepada Hari Kiamat membawa konsekuensi yang logis untuk iman juga kepada adanya catatan amal perbuatan manusia. Setiap manusia akan menerimanya pada Hari Pembalasan itu. Allah SWT berfirman: "Dan setiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatan­nya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. Dan kami berikan kepadanya pada Hari Kiamat sebuah kitab (catatan amal perbuatan) yang dijumpainya terbuka: 'Bacalah kitabmu. Maka, Cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab'" (QS Al-Israa' 13-14).

Al-Qur'an menjelaskan bahwa orang-orang mukmin akan diberikan catatan amal perbuatan mereka melalui tangan kanannya dari depan, sedangkan orang-orang mukmin yang melakukan dosa besar akan menerimanya melalui tangan kanannya tetapi dari belakang.

Hal itu akan berbeda terhadap orang-orang kafir. Mereka pasti menerima catatan amal perbuatannya melalui tangan kirinya. Allah SWT berfirman: 

"Adapun orang-orang yang diberikan kepadanya kitab (amal perbuatan)nya dari sebelah kanannya, maka dia berkata: 'Ambilah. Bacalah kitabku (ini). Sesungguhnya aku yakin bahwa aku pasti menemui hisab terhadap diriku'. Maka, orang itu berada dalam kehidupan yang diridhoi dalam jannah yang tinggi, buah-buahannya dekat. (Kepada mereka dikatakan): 'Makan dan minumlah dengan sesukamu sebagai balasan terhadap amal perbuatan yang telah eng­kau kerjakan pada hari-hari yang lalu. Adapun orang yang diberi­kan kitabnya dari sebelah kirinya, maka dia berkata: 'Wahai, alangkah baiknya tidak diberikan kepadaku kitabku (ini), dan aku tidak tahu apa hisab terhadap diriku. Wahai, kiranya kematian itulah yang menyelesaikan segala-galanya. Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat bagiku. Telah hilang kekuasaanku'. (Allah berfirman): 'Peganglah dia, lalu belenggulah tangannya ke leher­nya. Masukan dia ke dalam api jahanam yang menyala-nyala itu. Juga, belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. (Sebab), sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah yang Mahabesar, dan juga tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin. Maka, tiada seorang temanpun baginya pada hari itu di sana, dan tidak ada makanan sedikitpun (baginya) selain darah dan nanah. Tidak ada yang memakannya selain orang-orang yang berdosa" (QS. Al-Haaqqah 19-37).

"Adapun orang yang diberikan kitabnya dari belakang, maka ia akan berteriak: 'Celaka aku!'. Dan ia pasti masuk ke dalam api yang menyala-nyala (jahanam). Sesungguhnya dia dahulu (di dunia) bergembira di kalangan kaumnya (yang sama-sama kafir). Sesungguh­nya dia menyangka bahwa sekali-kali ia tidak kembali (kepada Tuhannya). (Bukan demikian. Sebeliknya) yang benar adalah Rabbi­nya selalu melihatnya" (QS. Al-Insyiqaaq 10-15).

Baca Juga: Gambaran Peristiwa Hari Kiamat dalam Hadis

Penutup

Demikianlah pokok pembahasan iman kepada Hari Kiamat. Orang-orang yang beriman kepada adanya Hari Pembalasan akan selalu ingat kepada setiap perbuatan yang akan dilakukannya. Pada setiap langkahnya, ia akan berfikir apakah perbuatannya telah sesuai dengan perintah Allah SWT, ataukah perbuatannya justru telah melangggar laranganNya.

Bagi kaum Muslimin, iman kepada Hari Kiamat sesungguhnya akan berdampak kuat bagi setiap amal perbuatannya. Bagi mereka yang iman, maka mereka pasti akan berlomba-lomba menjalankan semua perintah Allah berupa syariat yang telah diturunkan kepada RasulNya, Muhammad saw, yaitu Syariat Islam.

Hari Kiamat adalah suatu hari yang pasti datang. Sesungguh­nya siksaan maupun kenikmatan yang diterima setiap manusia adalah akibat logis dari seluruh amal perbuatannya selama ia hidup di dunia.

Catatan Kaki 

1) Istilah "Ahmadiyah" tidak cocok untuk aliran agama ini. Ia 
lebih cocok dengan nama "Qadiyani" atau "Ghulamiyah". Lihat Dr. Fuad Mohd. Fachruddin, "Sejarah Perkembangan Pemikiran Islam: Khawarij - Syi'ah - Mu'tazilah - Murji'ah - Ahlussunnah Waljama'ah - Baha'i - Ahmadiyah", Jakarta (CV. Yasaguna), 1989. Halaman 129.

2) Lihat Maulana Muhammad Ali dalam "The Religion of Islam", Pakistan 1950 (p.281-283)

3) Lihat buku "Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama'ah" oleh Muhammad Shahih Al-Uthaimin, ter­jemahan Moeslim Abdul Ma'ani, Bina Ilmu, 1985 hal 89). 


0 Response to "Pengenalan Tanda-tanda Hari Kiamat dalam Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!