Puasa yang disertai dengan Ketaqwaan

Advertisement
Pada bulan suci Ramadhan kaum muslimin diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh. Surat al-Baqarah ayat 183 menegaskan tentang hal ini:

يأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ , أَيَّاماً مَّعْدُودَاتٍ   

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa. (yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu (maksudnya seluruh hari dalam bulan Ramadhan) (Q, s. al-Baqarah / 2:183)

Anggap saja kita sudah beriman dengan baik. Anggap saja keimanan kepada Allah dalam diri kita sudah sempurna. Lalu, kita diseru untuk mengerjakan puasa dengan tujuan supaya bertaqwa. Maka, taqwa adalah target yang ingin dicapai dari puasa.

Taqwa artinya mencegah diri dari perbuatan maksiat: yaitu perbuatan apa saja yang sifatnya melawan perintah Allah atau melanggar larangan-larangan-Nya. Orang yang mengaku telah beriman kepada Allah, kepada para malaikat, kepada kitab-kitab suci yang diturunkan Allah, kepada para rasul, juga iman kepada Hari Kiamat serta Takdir Allah, maka apabila iman itu masih sebatas di hati, sekedar ucapan, dan belum diwujudkan dalam bentuk tindakan nyata, belum dipraktekkan, maka orang tersebut belum dapat dikatakan sebagai orang yang bertaqwa.

Kepada orang-orang yang beriman bisa diajukan beberapa pertanyaan: kenapa Anda tidak mau korupsi? Kenapa Anda tidak berselingkuh? Kenapa Anda tidak menyontek hasil ulangan teman? Orang yang sungguh-sungguh beriman akan menjawab: “Tidak, karena perbuatan itu dilarang oleh Allah, dan meskipun ketika aku melakukannya tidak ada seorang pun yang tahu, tetapi Allah Maha Tahu, Maha Melihat, dan Maha Mendengar”.

Perilaku tidak mau korupsi, tidak mau selingkuh, tidak mau nyontek, dan lain sebagainya itu, disebut taqwa. Maka, taqwa itu bukti nyata dari keimanan kita kepada Allah S.w.t. Dengan kata lain, belum tentu orang yang beriman sekaligus menjadi orang yang bertaqwa, sepanjang keimanannya belum terwujud dalam bentuk perilaku: dan perilaku itu berupa mencegah (baca: tercegah) diri dari perbuatan-perbuatan maksiat, dan pada saat yang sama melaksanakan dengan sepenuh hati perintah-perintah-Nya. Maka dari itu, taqwa bisa juga disebut dengan al-akhlāk al-karīmah. Dan puasa Ramadhan dimaksudkan untuk membentuk manusia-manusia berbudi luhur.



Andaikata masih ada orang yang berpuasa tetapi akhlaknya tidak bertambah baik, maksiatnya tidak berkurang, maka target puasanya tidak tercapai. Ibarat anak sekolah, ketika ujian ia tidak lulus, karena nilainya tidak mencapai target. Puasa yang benar adalah puasa yang dapat melahirkan orang-orang yang baik: dalam pengertian baik kepada Allah (dalam bentuk taat) dan baik kepada sesama manusia.



0 Response to "Puasa yang disertai dengan Ketaqwaan"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!