Sifat Fathonah (cerdas) Nabi SAW

Advertisement
Nabi Muhammad yang mendapat karunia dari Allah dengan memiliki kecakapan luar biasa (genius abqariyah) dan kepemimpinan yang agung (genius leadership – qiyadah abqariyah)[1] sebagai pahala berganda sepanjang masa, dituduh oleh kaum musyrikin dan musuh-musuh lainnya dengan tuduhan keji, yaitu beliau dikatakan gila.

Rasul sebagai seorang “genius leader”, seorang “qaaid abqaariy”, dan seorang pemimpin yang luar biasa, tidak terlepas dari tuduhan-tuduhan yang nista, seperti halnya Muhammad yang telah dituduh tukang sihir dan orang gila.

Muhammad selaku pemimpin, menyatukan puak-puak yang terpecah-pecah tanpa prestasi budaya menjadi suatu masyarakat yang beriman dan bertakwa serta berprestasi gemilang, bukan karena mukjizat dan menggunakan jalan-jalan yang luar biasa. Memang benar dalam perang badar kaum muslimin yang jumlahnya lebih sedikit dibanding dengan pasukan Quraisy mampu mengalahkan mereka, ini dikarenakan bukan karena mukjizat semata, namun lebih banyak karena kepemimpinan Nabi yang berhasil menanamkan keimanan, ketakwaan, kesetiaan dan semangat juang untuk membela kebenaran dan mempertahankan hak selain mendapat bantuan Allah.[2]

Kesuksesan Muhammad sebagai seorang pemimpin umat memang telah dibekali kecerdasan oleh Allah SWT. Kecerdasan itu tidak saja diperlukan untuk memahami dan menjelaskan wahyu Allah SWT. kecerdasan dibekalkan juga karena beliau mendapat kepercayaan Allah SWT. untuk memimpin umat, karena agama Islam diturunkan untuk seluruh manusia dan sebagai rahmat bagi seluruh alam. Oleh karena itu diperlukan pemimpin yang cerdas yang akan mampu memberi petunjuk, nasihat, bimbingan, pendapat dan pandangan bagi umatnya, dalam memahami firman-firman Allah SWT.[3]

Sifat Fathonah (cerdas) Nabi SAW

Kecerdasan dan kecakapan luar biasa yang ada dalam diri Nabi Muhammad saw. telah dikaruniakan Allah sebagai bekal yang sangat penting dalam menyampaikan misi kerasulannya dan memimpin ummatnya. Beliau bukan hanya menjadi pemimpin dalam urusan agama saja, tetapi lebih dari menjadi pemimpin dalam segala hal mulai dari ekonomi, sosial, hingga dalam masalah pendidikan. Rasulullah saw. betul- betul memperhatikan masalah pendidikan dengan serius, karena diutusnya beliau sebetulnya yaitu untuk mendidik dan berdakwah. Dalam mendidik dan berdakwah Nabi Muhammad saw. telah dibekali dengan kecerdasan dengan diberikan ilmu pengetahuan oleh Allah sendiri melalui Malaikat Jibril. Turunnya surat Al-Alaq 1-5 memberi bukti bahwa Nabi diperitahkan untuk membaca yang berarti diperintahkan padanya untuk menggali ilmu pengetahuan. Sebagai jalan pendidikan dan dakwah dijadikan sarana untuk mentransfer ilmu pengetahuan itu.

Kecerdasan Muhammad memang telah nampak sejak kecil, dan berkembang setelah dewasa menjadi seorang pemuda yang dikenal masyarakatnya sebagai pemuda yang jujur dan baik. Muhammad muda lebih suka berpikir dan merenung tentang kehidupan yang ada di sekitarnya sebagai masyarakat jahiliah karena banyak menyembah berhala dan patung. Jiwa perenung inilah yang akhirnya terbawa sampai beliau menjadi rasul.

Sesuai dengan kesaksian sejarah, bukti-bukti al-Quran dan berbagai petunjuk yang diambil dari sejarah Islam beliau ialah seorang ummi tidak dapat baca dan tulis, maka dapat dikatakan bahwa pikiran Rasulullah saw. sama sekali tidak pernah tersentuh oleh ajaran manusia. Beliau hanya diajar pada sekolah illahi dan menerima pengetahuan dari Allah sendiri. Beliau merupakan bunga yang dipupuk tukang kebun pra kenabian sendiri.[4] Oleh karenannya kecerdasan beliau di luar batas manusia biasa bahkan melebihi nabi-nabi yang lain. Kecerdasan beliau merupakan suatu hikmah yang dianugerahkan Allah kepada beliau dengan sifat kearifan yang selalu ditampakkan. Hal ini sesuai firman Allah surat al-Baqarah ayat 269:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ [٢:٢٦٩]

“Allah menganugerahkan al-hikmah (kepemahaman yang dalam tentang Al-Qur'an dan as-Sunnah) kepada siapa yang dikehendakinya. Barang siapa yang dianugerahi al-hikmah itu ia benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Hanya orang-orang yang berakallah (ulul albab) yang dapat mengambil pelajaran dari firman Allah.” (Q.S. Al-Baqarah :269)[5]

Dalam upaya memberi pendidikan dan pengajaran tentunya diperlukan seorang pemimpin yang cerdas yang dapat memberi kepahaman kepada muridnya ketika menyampaikan hal-hal yang akan disampaikan. Oleh karena itu Allah telah menjadikan Nabi Muhammad saw. seorang yang ummi dengan bahasa yang fasih dan dapat diterima oleh audiens menjadi bukti bahwa kecerdasan yang diwujudkan dalam gaya memimpin Nabi yang tidak akan pernah dimilik oleh manusia biasa seperti kita. Satu hal menimbulkan kemuliaan, kebesaran, serta kesucian al- Quran sebagai fakta bahwa kitab suci yang agung, dengan banyak petunjuk yang berkenaan dengan penciptaan, kebangkitan kembali, kemanusiaan, moralitas, hukum, kisah-kisah dan ungkapan-ungkapan peringatan –dengan kelembutan, kecantikan dan keindahan– diturunkan melalui lidah seseorang yang buta huruf, yang tidak pernah menghadiri sekolah ataupun kursus, maupun manerima pendidikan universitas manapun, sekaligus seseorang yang tidak pernah bertemu dengan sarjana manapun, maupun membaca buku yang sederhana pada masanya.[6]

Dalam kepemimpinan beliau yang diringi dengan kecerdasan serta gaya memimpin yang luar biasa nampak ketika beliau mengatur, merencanakan dan mengontrol para pasukannya saat menghadapi perang, sebagai contoh ketika Perang Badar beliau melakukan persiapan-persiapan dan strategi perang yang bagus ketika akan menghadapi musuh sehingga musuh mengalami kekalahan. Tidak berlebihan jika pasukan Islam di bawah kepemimpinan beliau banyak memperoleh kemenangan karena memang Nabi Muhammad saw. melakukan manajemen yang baik.

Di samping itu dengan kecerdasan yang dikaruniakan Allah kepada beliau semua yang dihadapi, misalnya dari sahabat yang mempunyai permasalahan dapat dihadapi dengan wahyu (petunjuk) Allah sebagai pemecahannya. Dalam keadaan tidak turun wahyu, beliau mencari pemecahannya dengan jalan bijaksana yang pasti tidak akan menyimpang atau bertentangan dengan ajaran Islam sebagai ajaran yang haq.

[1] A. Hasjmy, Nabi Muhammad Sebagai Panglima Perang, (Jakarta: Mutiara, 1978), hlm. 81
[2] Nourouzzaman Shiddiqi, Op.Cit, hlm. 102
[3] Ibid., hlm. 275
[4] Murtadha Muthahhari, Akhlak Suci Nabi yang Ummi, (Bandung: Mizan, cet. I, 1995), hlm. 67
[5] Soenaryo, Op.Cit., hlm. 67
[6] Ibid., hlm. 69