Ibadah Qurban: Pemasalahan Dan Pemecahannya

Advertisement
Diringkas oleh: Drs. Marsudi Iman, M.Ag, dari berbagai literatur, dan ditulis kembali dengan berbagai penyelarasan oleh: Muhsin Hariyanto untuk kepentingan Dakwah)

Fiqih Qurban ternyata -- hingga saat ini – masih menyisakan beberapa pesoalan. Berikut ini, penulis sampaikan beberapa persoalan Ibadah Qurban yang masih menjadi perbincangan di kalangan umat Islam.

Menyatukan Qurban dengan Aqiqah
Tidak ada nash yang memperbolehkan menyatukan qurban dan aqiqah dalam satu kesempatan dan dengan satu hewan. Karena keduanya mempunyai dasar hukum yang berbeda. Di antara perbedaan antara keduanya adalah: daging qurban dibagi dalam keadaan mentah sedangkan daging aqiqah dalam keadaan matang atau telah dimasak.

Menghadapkan Hewan Kurban ke Arah Kiblat
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ ذَبَحَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الذَّبْحِ كَبْشَيْنِ أَقْرَنَيْنِ أَمْلَحَيْنِ مُوجَأَيْنِ فَلَمَّا وَجَّهَهُمَا قَالَ إِنِّي وَجَّهْتُ وَجْهِيَ لِلَّذِي فَطَرَ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ عَلَى مِلَّةِ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَمَا أَنَا مِنْ الْمُشْرِكِينَ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ لَا شَرِيكَ لَهُ وَبِذَلِكَ أُمِرْتُ وَأَنَا مِنْ الْمُسْلِمِينَ اللَّهُمَّ مِنْكَ وَلَكَ وَعَنْ مُحَمَّدٍ وَأُمَّتِهِ بِاسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ ثُمَّ ذَبَحَ (رواه أبو داود) 

"Dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Pada hari qurban, Nabi s.a.w. menyembelih dua ekor domba bertanduk, putih mulus, dan telah dikebiri. Beliau menghadapkan keduanya (ke kiblat) dan berseru, "Sesungguhnya aku hadapkan wajahku pada dzat yang menciptakan langit dan bumi, di atas millah (agama) Ibrahim yang hanif (lurus), dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya shalat, ibadah, hidup dan matiku, hanya untuk Allah Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikianlah aku diperintah kan dan aku termasuk orang-orang muslim. Ya Allah, ini (qurban) dariku untuk-Mu atas nama Muhammad dan umatnya. Dengan menyebut nama Allah, Allah Maha Besar." Kemudian beliau langsung menyembelih." (HR Abu Dawud).

Diriwayatkan juga dari Nafi', bahwasannya Ibnu Umar menyembelih hewan qurbannya dengan tangannya sendiri. Ia bariskan hewan-hewan itu dengan posisi berdiri dan menghadapkan kepalanya ke arah kiblat. Kemudian dia makan dan memberikan sebagiannya (sebagai sedekah). Menghadapkan hewan sembelihan ke arah kiblat bukan merupakan syarat keabsahan, melainkan hanya sebuah keutamaan, yang oleh para ulama dinilai: “hukumnya sunnah”.



2 Responses to "Ibadah Qurban: Pemasalahan Dan Pemecahannya"

  1. mampir untuk membantu meramaikan blog ini ^_^

    #Salam sukses dari Yousake NKRI

    ReplyDelete
  2. Global Qurban bisa anda coba lihat merupakan lembaga yang menyediakan jual hewan qurban beserta membantu pelaksanaan dan pembagian qurban ke lokasi lokasi masyarakat dhuafa

    ReplyDelete

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!