Belajar Islam dari Film Kiamat Sudah Dekat

Advertisement
1.  Materi Keimanan.

Menurut ulama salaf (termasuk Imam Ahmad, Malik dan Syafi’i), iman adalah sesuatu yang diyakini hati, diucapkan dengan lisan dan diamalkan dengan anggota tubuh.[1] Iman atau yang biasa juga disebut sebagai aqidah merupakan konsep-konsep yang harus diyakini manusia sehingga seluruh perbuatan dan perilakunya bersumber pada konsepsi tersebut. Dari pengertian di atas, dapat dipahami bahwa iman dan akhlak merupakan dua hal yang saling berkaitan erat. Jika keimanan seseorang telah kuat, maka segala tindakannya akan didasarkan kepada pikiran-pikiran yang telah dibenarkannya dan hatinya pun akan terasa tenteram. Nabi SAW pernah bersabda bahwa orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah orang mukmin yang paling baik akhlaknya. Hadits ini pun sering digunakan sebagai rujukan dalam upaya  pembentukan kepribadian muslim.

Pembentukan kepribadian pada dasarnya merupakan upaya untuk mengubah sikap menuju arah kecenderungan terhadap nilai-nilai keislaman. Seperti halnya orang yang sedang belajar, indikasi bahwa seseorang telah melakukan kegiatan belajar ialah adanya perubahan tingkah laku, sebuah perubahan yang sebelumnya tidak ada atau mungkin masih lemah pada orang tersebut. Perubahan tingkah laku tersebut meliputi salah satu atau beberapa aspek, antara lain pengetahuan, pemahaman, kebiasaan, keterampilan, apresiasi, emosional, hubungan sosial, jasmani, budi pekerti (etika), sikap dan lain sebagainya.

Nilai dalam pendidikan berusaha menguji dan mengintegrasikan nilai-nilai tersebut di dalam kehidupan manusia serta membinanya dalam kepribadian anak. Untuk mengatakan sesuatu itu baik atau buruk bukanlah suatu hal yang mudah, maka oleh sebab itu diperlukan hal-hal yang dapat dijadikan sebagai indikator nilai-nilai tersebut.     

Dalam film Kiamat Sudah Dekat (KSD), terdapat beberapa dialog[2] yang menunjukkan sikap atau bentuk keimanan seseorang, antara lain:

a. Iman Kepada Allah SWT.
- Ucapan Fandi dalam menanggapi pernyataan Haji Romli:
“Bagi saya, cukuplah karunia yang Allah berikan buat saya dan keluarga saya berupa iman kepada Allah”.

Hal itu dicerminkan pula dalam keseharian hidup Fandi yang melakukan salah satu perintah Allah SWT yaitu perintah menjalankan shalat lima waktu (shalat fardhu), yang sebelumnya tidak pernah dilakukannya sama sekali.
- Penyerahan diri kepada Allah SWT, Tuhan yang menguasai segala sesuatu, tempat memohon dan meminta pertolongan. Hal ini dapat dicermati dari do’a Fandi sebagai berikut:
“Ya Allah, aku tidak meragukan kekuasaanMu. Ombak yang tenang di lautan ini bisa seketika Kau buat menjadi gelombang besar dan menenggelamkan segala apa yang mengapung di atasnya. Bahkan bila Kau berkehendak, Kau bisa membuat matahari terbit dari barat dan tenggelam di timur. Itu teramat mudah bagimu, ya Allah. Jadi, apa susahnya melumerkan kekerasan hati Haji Romli dan menjodohkan aku dengan Sarah. Please Allah...Please!”.

b. Iman Kepada Hari Akhir/Kiamat.
Hal ini dapat dilihat dari dialog antara Fandi dengan ayahnya, Pak Yoga, sebagai berikut:
Pak Yoga: “Kamu belajar sembahyang?”
Fandi mengangguk.
Pak Yoga:”Kenapa?”
Fand        :”Kiamat sudah dekat Pa”.
Pak Yoga:”Apa hubungannya dengan kamu sembahyang?”
Fandi    :”Papa dan mama pernah denger tentang neraka? Nah, orang yang tidak menyembah Tuhan tempatnya di.......”.

Selain itu, dapat pula dilihat dalam dialog Fandi dengan teman-teman bandnya tentang surga dan neraka:
Yongky      :”Fandi nggak mau masuk neraka, makanya dia shalat”.
Barry         :”Kalo shalat emang bisa masuk surga?”
Fandi         :”Yang jelas sih gue nggak bakal betah hidup di neraka”.

2.   Materi Syari’ah.

      Hukum syar’i yang bersumber dari Al-Qur’an merupakan aturan yang ditetapkan untuk mengatur hubungan manusia dengan Allah (vertikal) dan hubungan manusia dengan makhluk lain (horizontal). Syari’ah yang telah tertanam dalam hati dapat menjadi pengontrol perilaku dalam kehidupan sehari-hari untuk selalu menjalankan perintah dan menjauhi segala hal yang dilarang oleh Allah SWT. Setiap sikap dan perbuatan manusia dapat dikatakan sebagai ibadah andaikata dilaksanakan sesuai aturan Allah SWT.

Pelaksanaan ibadah memiliki satu tujuan, yaitu penghambaan kepada Allah semata dan menerima ajaran Allah, baik untuk urusan duniawi maupun ukhrawi. Beberapa materi syari’ah baik ibadah maupun muamalah dalam film Kiamat Sudah Dekat (KSD) antara lain:

a. Ibadah Shalat.

           Ibadah yang wajib dikerjakan lima kali dalam sehari ini telah menjadi rutinitas Haji Romli dan anaknya (Sarah), Bu Endang dan anaknya Saprol serta Fandi yang terebih dahulu mempelajarinya. Hal yang menarik dalam film ini salah satunya ialah bagaimana proses Fandi dalam mempelajari shalat baik dari segi gerakan maupun bacaannya. Selain belajar dari Saprol, Fandi pun mempelajari gerakan-gerakan shalat melalui media gambar yang ditempel di dinding kamarnya agar lebih mudah diikuti ketika mengerjakan shalat, sehingga lama kelamaan tanpa melihatpun Fandi mampu mengerjakan shalat dengan baik dan benar.

         Dalam mempelajari bacaan shalat, Fandi meminta bantuan Saprol untuk membuat rekaman bacaan shalat yang menurutnya sangat asing didengar dan sulit untuk dipahami. Rekaman kaset yang berisi bacaan shalat tersebut dibawanya (Fandi) kemana pun dia pergi, bahkan dia berusaha menghafal bacan shalat ketika mengerjakannya dengan menggunakan walkman di telinganya.

b. Membaca Al-Qur’an.

Hal ini tampak dalam adegan ketika Sarah melakukan shalat seraya membaca surat At-Tin. Begitu pula dalam adegan saat Fandi membaca Al-Qur’an surat Al-‘Alaq dan surat At-Tin setelah Saprol memperkenalkan dan mengajarkannya huruf Arab serta bacaan Al-Qur’an.

c. Thaharah.

Thaharah biasa juga disebut dengan bersuci. Dalam film ini sekilas dalam adegan awal nampak secara tidak sengaja Fandi sudah mulai diperkenalkan dengan etika memasuki mushalla (tempat ibadah), yaitu bersuci. Ini terjadi saat Fandi hendak membersihkan muka dan bajunya, tiba-tiba Fandi membaca papan kecil yang bertuliskan: ”ALAS KAKI HARAP DILEPAS”, yang pada akhirnya dia pun melepaskannya. 

Pada saat yang lain, Fandi diperkenalkan kepada kewajiban berwudhu saat hendak mengerjakan shalat. Hal ini tercermin dalam dialog:
Fandi            :”Fandi mau shalat dulu, Ma”
Bu Yoga       :”Eh, jangan lupa wudhu! Iya kan Pa?”
Fandi            :”Wudhu?”
Pak Yoga      :”Ya, disini (buku) ditulis bersuci mulai dari membasuh tangan, wajah, kepala, kaki.
Fandi            :”Itu harus Pa?”
Pak Yoga      :”Wajib! Kalau tidak, shalat kita tidak sah”.
           
            Adapun gerakan-gerakan wudhu yang disebutkan oleh Pak Yoga di atas merupakan bagian-bagian dari rukun wudhu.

d. Ibadah Haji.

Salah satu rukun Islam yang kelima ini sempat terungkapkan dalam pengajian keluarga Pak Yoga yang dihadiri oleh Ustadz Jamal (Dicky Chandra). Pada kesempatan tersebut, Pak Yoga mengungkapkan keinginannya untuk menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Ustadz Jamal pun menyetujuinya. Hal ini disebabkan ibadah haji merupakan kewajiban bagi orang yang mampu dan terbukti keluarga Pak Yoga merupakan keluarga yang mampu secara finansial serta mempunyai keinginan (niat) untuk menunaikannya.  

Niat merupakan suatu hal yang ringan namun berat timbangannya di sisi Allah. Tidak semua orang kaya mampu melaksanakan haji karena niat yang tidak cukup, sedangkan tidak semua kefakiran menjadi penghalang orang naik haji.

Semua orang yang berhaji tentu berharap hajinya akan mabrur. Haji mabrur menurut K. H. Abdullah Gymnastiar (Aa Gym), yaitu haji yang diterima dan diberkahi.[3] Untuk menjadi haji mabrur dibutuhkan dua hal, yaitu;

1) Niat yang lurus
2) Amalan yang benar
Artinya selain menyempurnakan syarat dan rukun haji diperlukan pula keikhlasan, tuma’ninah dan khusyu’. Indikasi haji mabrur adalah adanya perubahan antara sebelum dan sesudah haji.

e. Perkawinan.[4]

Allah SWT menciptakan segala sesuatu di alam ini secara berpasang-pasangan. Tentang aturan atau tata cara berpasang-pasangan atau perjodohan antara seorang laki-laki dan seorang perempuan, Allah menentukannya melalui dengan cara atau perkawinan.

Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa.[5]

Perkawinan Fandi dan Sarah menjadi ending dari cerita film Kiamat Sudah Dekat (KSD). Ini terjadi setelah Fandi dapat memenuhi segala persyaratan yang diajukan oleh Haji Romli yaitu agama Islam yang ditunjukkan melalui praktek shalat, membaca Al-Qur’an dan keikhlasan yang dimilikinya. Perkawinan tersebut menjadi berkah setelah penolakan Haji Romli atas hubungan pacaran yang dikehendaki Fandi. Bagi Haji Romli, syarat-syarat nikah bukan hanya soal tanggung jawab, nafkah dan penghasilan, seperti yang disanggupi oleh Fandi. Namun keimanan (agama) yang menjadi tolok ukur sebagai persyaratan utamanya.   

f. Khitan.

Khitan ialah syari’at yang diwajibkan kepada Nabi Ibrahim AS ketika beliau menginjak umur 80 tahun.. Khitan pun disyari’atkan pula dalam Islam sehingga termasuk dalam syari’at Islam.
Materi ini terdapat pula dalam film tersebut, tepatnya dalam dialog antara Haji Romli dan Fandi.
 Haji Romli            :”Elu udah dikhitan belon?”
 Fandi        :”Khitan ...?”
 Haji Romli            :”Sunat...Sunat”.
 Fandi        :”Sunat ...?”
 Haji Romli            :”Dipotong”. (Sambil mempraktekkan gerakan gunting).
 Fandi        :”Dipotong ...?”
 Haji Romli            :”Astaghfirullah ... sini !”
 (Haji Romli membisikkan sesuatu ke telinga Fandi).
 Fandi        :”Oh ... itu ?! Udah Pak Haji. Ha ... ha ... ha, Pak Haji ini ada-ada saja.
                   (Fandi berusaha mengingat-ingat sesuatu).
                    Aduh lupa saya Pak Haji, udah apa belon ya ...?”    

3.   Materi Akhlak.
Seperti telah diungkapkan di awal, iman dan akhlak merupakan dua sisi yang saling berkaitan. Iman sebagai konsep dan akhlak adalah aplikasi dari konsep tersebut dalam hubungannya dengan sikap dan perilaku sehari-hari. Menurut Abdullah Al-Darraz, pendidikan akhlak dalam pembentukan kepribadian muslim berfungsi sebagai pemberi nilai-nilai keislaman.[6]

Materi akhlak merupakan bagian dari hal-hal yang harus dipelajari dan dilaksanakan dalam dunia pendidikan agar tercermin nilai-nilai ajaran Islam dalam sikap hidup sehari-hari. Jadi, pembentukan kepribadian pada dasarnya adalah upaya untuk mengubah sikap ke arah kecenderungan terhadap nilai-nilai keislaman.

Sesuai dengan pembagian akhlak yang terdapat dalam Bab II, maka klasifikasi film Kiamat Sudah Dekat (KSD) yang termasuk dalam materi akhlak adalah:
a.       Akhlak Kepada Allah SWT.

Ikhlas.
Tawakkal.
Syukur.
Istiqamah.
Iffah.
Mengucap Salam.
Saling Tolong Menolong.
Fandy membantu membayar rumah kontrakan Bu Endang selama dua tahun berturut-turut.
Teman-teman bandnya dan Saprol membantu Fandi mencari buku-buku keagamaan yang bertemakan ikhlas.
Sarah memberikan sandal bakiaknya kepada Fandi yang bertelanjang kaki.
Berlaku Adil.

Sikap ini ditunjukkan secara tidak sengaja oleh Fandi ketika dirinya harus merelakan Sarah bersanding dengan Farid, seorang pemuda yang masih kuliah di Mesir dan merupakan anak dari sahabat Haji Romli. Hal ini menjadi bertolak belakang dengan impiannya, padahal sejak awal tujuan Fandi adalah mendapatkan Sarah setelah memenuhi syarat-syarat yang diajukan ayahnya (Haji Romli).[7]

Menurut para psikolog, motivasi utama dalam setiap pekerjaan ialah dorongan untuk mendapatkan pengakuan dari masyarakat yaitu “gaining approval and avoiding disapproval”, atau mengharapkan pujian dan menolak cacian.[8] Bagi orang yang sungguh-sungguh mentauhidkan Allah SWT, maka harapan approval hanya merupakan pemberian dariNya. Sedangkan sifat yang lahir dari hawa nafsu dapat menggerogoti keikhlasan seseorang.

Menurut Ibnu Athaillah, penulis kitab Hikam, amal perbuatan hanyalah bentuk, sedangkan substansinya ialah ikhlas.[9] Aktivitas keagamaan tanpa adanya sikap ikhlas merupakan kesia-siaan, tak ubahnya seonggok tubuh tanpa jiwa atau roh.

Tawakkal ialah membebaskan diri dari segala ketergantungan kepada selain Allah dan menyerahkan keputusan segala sesuatu kepadaNya.[10]

Dalam film ini sikap tersebut muncul dari keputus asaan di saat harapannya menipis sehingga menyerahkan semuanya kepada Allah SWT agar diberikan pilihan yang terbaik. Ini dapat dilihat dari nasihat Haji Romli kepada Fandi:

“Nak Fandi, nggak semua yang kita pingin bisa tercapai. Kalau Allah nggak ngasih, mungkin ditunda atau diganti dengan yang lebih baik. Atau karena Allah sayang ama kita. Allah senang, mendingan kita yang terus memohon apalagi memohon ampun”.

Sikap tawakkal pun ditunjukkan Fandi dalam do’anya:
“Please Allah...tunjukkan bagaimana agar aku mengerti ilmu ikhlas itu, please!”.

Yang perlu digaris bawahi dalam hal ini adalah sikap tawakkal tidak cukup berserah diri pada Allah SWT semata, namun harus diiringi pula dengan ikhtiar (usaha) semaksimal mungkin dengan keyakinan bahwa kehendakNya pasti berlaku.

Sikap syukur kepada Allah Swt merupakan bagian dari pengakuan terhadap kebaikan dan pemberian yang kita terima dari sisiNya sebagai Tuhan Pencipta segala makhluk dan alam semesta.[11]

Adapun bentuk dari rasa syukur dalam film Kiamat Sudah Dekat (KSD) tergambar dalam ucapan Fandi di depan Haji Romli dan Sarah:

“Saya bersyukur bisa mengenal Sarah dan Pak Haji. Waktu pertama mengenal Sarah, kami sekeluarga adalah orang yang tak mengerti agama sama sekali. Apa yang saya dan keluarga saya alami merupakan karunia yang besar dari Allah. Sungguh membahagiakan. Terima kasih Pak Haji, sekali lagi terima kasih”.

b.      Akhlak Pribadi.
Dalam terminologi akhlak, istiqamah merupakan sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan.[12]    

Dalam dialog di bawah ini tercermin peringatan untuk bersikap istiqamah, yaitu setelah Haji Romli melihat hasil belajar Fandi tentang shalat.

Haji Romli:”Bagus, kalo udah bisa shalat, ya musti dijalanin”.
Fandi         :”Saya selalu shalat Pak Haji. Tiap hari”.

Iffah merupakan sikap untuk menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak baik dan juga berarti kesucian tubuh. Salah satu bentuk dari iffah ialah menjaga kehormatan diri, seperti menjaga penglihatan, pergaulan dan pakaiannya. Hal seperti ini tercermin dari sikap dan perilaku Sarah dan Bu Endang yang berpakaian menutup auratnya. Bahkan Sarah selalu menjaga diri dari pergaulan bebas dengan lain jenis yang bukan muhrimnya di manapun berada.

c.       Akhlak Dalam Keluarga.

Birrul walidain atau berbuat kebajikan kepada kedua orang tua nampak dalam suasana keluarga, baik dari keluarga Fandi, Saprol, Sarah dan Farid. Meski terdapat masalah atau ketidak cocokan pendapat, sikap birrul walidain ini tak pernah luntur. Sikap ini pun dianjurkan dalam Al-Qur’an:

Bagaimanapun keadaannya, orang tua merupakan keluarga yang harus dijaga. Hal ini disebabkan betapa mulianya berbuat baik kepada orang tua di sisi Allah SWT. Sebaliknya, durhaka kepada keduanya merupakan perbuatan yang sangat hina dan dilarang Allah SWT.

d.      Akhlak Bermasyarakat.

Diantara perkara yang menjadi hak antar orang Islam salah satunya ialah mengucap salam ketika bertemu di jalan maupun saat bertamu ke rumah orang lain. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يآَأَيُّهَاالَّذِيْنَ آمَنُوْالاَتَدْخُلُُوْا بُيُوْتًا غَيْرَبُيُوْتِكُمْ حَتىَّ تَسْتَأْنِسُوْاوَتُسَلِّمُوْا عَلَى أَهْلِهَا... (النور : 27)

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu masuk rumah selain rumahmu sebelum kamu minta izin dan memberi salam kepada penghuninya ...”. (Q.S. An-Nur: 27).[13]

Sikap demikian terdapat dalam beberapa dialog dalam film tersebut. Salah    satunya adalah sikap Fandi dan Saprol saat bertamu ke rumah Haji Romli.

Fandi + Saprol                   :”Assalamu’alaikum”.
Haji Romli + Sarah                        :”Wa’alaikum salam”.
Saprol                                :”Bolehkah kami bertamu Pak Haji?”

Bacaan salam merupakan do’a. Maka orang yang mengucap salam dan yang menjawabnya berarti saling mendo’akan. Adapun tata tertib bersalam adalah salam yang minimal, hendaknya dijawab yang minimal pula atau lebih baik dari salam tersebut.

Sikap ini ditunjukkan dalam beberapa kesempatan, antara lain:

Islam memerintahkan kepada umat manusia untuk bersikap adil dalam segala aspek kehidupan, baik terhadap diri sendiri, keluarga, orang lain bahkan kepada musuh sekalipun.

Sikap adil ini dituntut Sarah kepada ayahnya, Haji Romli saat memberikan sebuah syarat (ilmu ikhlas) kepada Fandi. Sarah ingin agar ayahnya pun adil kepada calon yang disukai ayahnya tersebut (Farid) dengan memberikan sebuah syarat yang sama (ilmu ikhlas) seperti Fandi sebelum dirinya berhak memutuskan siapa yang akan menjadi suaminya. Hal ini ditunjukkan dalam dialog berikut ini:

Sarah                     :”Sarah minta babe berlaku adil kepada sesama muslim!”
Haji Romli             :”Maksud lu?”
Sarah                     :”Farid juga harus mempunyai ilmu ikhlas!”

Pada akhirnya, Haji Romli pun menyetujui permintaan Sarah dan diterapkan pula syarat yang sama bagi Farid.

Selain akhlak yang termasuk di atas, terdapat pula beberapa akhlak tercela (madzmumah) dalam film tersebut, seperti:

Mencuri.

Adegan ini dapat disaksikan ketika Saprol dua kali mengambil (mencuri) dua pasang sepatu Fandi tanpa meminta izin kepadanya dan tidak mengembalikannya.

Berbohong.

Adegan ini terjadi ketika Saprol menjawab pertanyaan ibunya yang bertanya tentang sesuatu yang dibawanya, yaitu ketika pada suatu hari Saprol pulang ke rumah dengan membawa sepatu Fandi yang baru diambil (dicuri) nya. Ketika itu Saprol menjawab bahwa sepatu tersebut dikasih oleh temannya, seorang pemain band rock.

Berlaku Kasar/Kejam.

Adegan ini terjadi ketika pemilik kontrakan (Abdul Jabbar) berusaha mengusir Bu Endang dan anaknya (Saprol) dari rumahnya yang telah habis masa kontraknya dengan kasar.

Pergaulan Bebas.

Adegan ini terlihat dari tingkah laku Merry (teman Sarah) yang bergaul bebas dengan lawan jenisnya. Ataupun dari adegan yang dapat disaksikan bagaimana Kania (adiknya Fandi) bergaul dengan temannya.

Sombong.

Sikap ini ditunjukkan oleh Fandi kepada Haji Romli bahwa dia (Fandi) mampu membiayai Sarah dengan kekayaannya apabila saat itu pula dia dinikahkan oleh Haji Romli dengan putrinya (Sarah).


[1]   Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, cet Ke-6 (Yogyakarta: LPPI, 2001), hal. 4.
[2]  Penulisan dialog-dialog ini tidak mengalami penambahan ataupun pengurangan kalimat sama sekali, kecuali adanya penambahan tanda baca dengan maksud memperjelas ucapan dalam dialog tersebut. Penulisannya sendiri disesuaikan seperti apa yang diucapkan oleh aktor/aktris yang bermain dalam film Kiamat Sudah Dekat (KSD).
[3] Abdullah Gymnastiar, Meraih Bening Hati dengan Manajemen Qalbu, ( Jakarta: Gema Insani, 2002), hal. 137. 
[4]  Penggunaan kata perkawinan merujuk kepada istilah perundang-undangan di Indonesia. Perkawinan di sini diartikan sama (sinonim) dengan kata pernikahan, terlepas dari makna (per)kawin(an) yang berkonotasi negatif. 
[5]   M. Thalib, Fiqih Nabawi, (Surabaya: Al-Ikhlas, t.t), hal. 208.
[6] Dikutip dalam Jalaluddin dan Usman Said, Filsafat Pendidikan Islam: Konsep dan Perkembangan Pemikirannya, cet Ke-2 (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1996), hal. 95.
 [7]  Peristiwa “ikhlas” ini terjadi setelah Fandi memperoleh “pencerahan spiritual” dari persyaratan yang diajukan Haji Romli untuk.mendapatkan putrinya.
 [8]   K. Permadi, Iman dan Takwa Menurut Al-Qur’an, (Jakarta: Rineka Cipta, 1995), hal. 49. 
 [9]    Dikutip dalam K. Permadi, Iman dan Takwa Menurut Al-Qur’an, hal. 50.
 [10]   Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, hal. 44.
[11]   Ahmad Mudjab Mahalli, Membangun Pribadi Muslim, (Yogyakarta: Menara Kudus, 2002), hal. 116.
 [12]   Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam, hal. 97.
[13]  Departemen Agama Republik Indonesia (Depag RI), Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Toha Putra, 1989) hal. 547.


1 Response to "Belajar Islam dari Film Kiamat Sudah Dekat "

  1. artikel yang menarik. untuk lebih memahami lebih dalam makna iman bisa di lihat di blog ku

    ReplyDelete

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!