Tahapan Internalisasi Ajaran Islam di Berbagai Bidang

Advertisement
Internalisasi Ajaran Islam di Berbagai Bidang - Nilai merupakan esensi yang melekat pada sesuatu yang sangat berarti bagi kehidupan manusia. Ajaran Islam adalah ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW yang bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Sebagai seorang muslim, ada lima perkara yang membuat status muslimnya sempurna yaitu dengan menjalankan lima rukun Islam yaitu: membaca dua kalimat syahadat, mengerjakan shalat, menjalankan puasa, mengeluarkan zakat dan pergi haji ke Baitullah Mekah bagi orang yang mampu.

Islam sebagai agama wahyu mengandung ajaran-ajaran yang bersifat universal dan eternal, serta mencakup seluruh aspek kehidupan. Dengan ajaran-ajaran tersebut Islam menuntun manusia untuk meningkatkan harkat dan martabatnya agar memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat. [2] Jadi ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan dengan Allah tetapi ajaran Islam juga mengatur hubungan dengan sesama manusia bahkan mengatur hubungan dengan alam semesta.

Ajaran Islam meliputi bidang-bidang sebagai berikut:[3]

a.Bidang Ibadah (rubu` ibadah), yang menjelaskan soal hubungan manusia dengan Tuhannya dengan jalan mengerjakan ibadah dan pengabdian menurut tata cara tertentu.

b.Bidang Ekonomi (rubu` mu`amalah), yang berhubungan dengan penghidupan dan mencari rejeki.

c.Bidang Pernikahan (rubu` munakahat), yaitu yang berhubungan dengan nikah, talak, rujuk, yang merupakan saluran untuk mendapatkan keturunan yang sah

d.Bidang Hukum Pidana (rubu` jinayah), yang berhubungan dengan pelanggaran dan kejahatan antar individu, individu dengan masyarakat umum atau negara. 

Aspek-aspek ajaran Islam yang harus diketahui
Rahmatan lil `alamin memang benar, jika kita sebagai orang Islam menjalankan ajaran-ajaran Islam dengan benar karena manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi. Oleh karena itu umat Islam wajib mentaati dan melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, dan Allah tidaklah menciptakan manusia kecuali untuk beribadah. Hal ini berdasarkan firman Allah dalam surat adz-Dzariyat ayat 56:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلأِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُوْنِ

Artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”.[4]

Beberapa nilai ajaran Islam yang ditanamkan kepada peserta didik sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari adalah sebagai berikut :

a. Iman
b. Taqwa
c. Ikhlas
d. Tawakkal
e. Disiplin
f. Kebersihan
g. Persaudaraan
h. Persamaan
i. Syukur

Tahap-tahap Perkembangan Nilai Moral

J. Piaget dan L. Kohlberg bahwa tahap- tahap perkembangan nilai moral seseorang terbagi ke dalam 4 tahap beserta ciri-cirinya dan perkembangan moral itu berhubungan dengan perkembangan kognitif seseorang, yaitu sebagai berikut:[5]

a. Tahap pertama: usia 0-3 tahun (pra moral) Pada fase ini anak tidak mempunyai bekal pengertian tentang baik dan buruk, tingkah lakunya dikuasai oleh dorongan-dorongan naluriah saja, tidak ada aturan yang mengendalikan aktivitasnya, aktivitas motoriknya tidak dikendalikan oleh tujuan yang berakal.

b. Tahap kedua: usia 3-6 tahun (tahap egosentris),-Pada fase ini anak hanya mempunyai pikiran yang samar-samar dan umum tentang aturan-aturan, ia mengubah aturan untuk memuaskan kebutuhan pribadi dan gagasannya yang timbul mendadak, ia bereaksi terhadap lingkungannya secara instinktif dengan hanya sedikit kesadaran moral.

c. Tahap ketiga: usia 7-12 tahun (tahap heteronom), Pada fase ini ditandai dengan suatu paksaan. Di bawah tekanan orang dewasa atau orang berkuasa, anak sedikit menggunakan kontrol moral dan logika terhadap perilakunya, masalah moral dilihat dalam arti hitam putih, boleh tidak boleh, dengan otoritas dari luar (orang tua, guru dan anak yang lebih besar) sebagai faktor utama dalam menentukan apa yang baik dan yang jahat. Karena itu, pemahaman tentang moralitas yang sebenarnya masih sangat terbatas.

d. Tahap keempat: usia 12 tahun dan seterusnya (tahap otonom),-Pada tahap ini seseorang mulai mengerti tentang nilai-nilai dan mulai memakainya dengan caranya sendiri. Moralitasnya ditandai dengan kooperatif, bukan paksaan, interaksi dengan taman sebaya, diskusi, kritik diri, rasa persamaan dan menghormati orang lain merupakan faktor utama dalam tahap ini. Aturan dan pikiran dipertanyakan, diuji dan dicek kebenarannya. Aturan yang dianggap dapat diterima secara moral diinternalisasikan dan menjadi bagian khas dari kepribadiannya. Pada masa remaja, seseorang menganggap aturan-aturan sebagai persetujuan teman-teman sebaya yang saling menguntungkan. Ia memberontak terhadap moralitas orang tua, tetapi akhirnya mereka kembali kepada moralitas yang sebelumnya merupakan tolak mati-matian sewaktu masih remaja.

Metode Pembiasaan sebagai Upaya Internalisasi Nilai Ajaran Islam
Kebiasaan terbentuk karena sesuatu yang dibiasakan, sehingga kebiasaan dapat diartikan sebagai perbuatan atau ketrampilan secara terus-menerus, secara konsisten untuk waktu yang lama, sehingga perbuatan dan ketrampilan itu benar-benar bisa diketahui dan akhirnya menjadi suatu kebiasaan yang sulit ditinggalkan, atau bisa juga kebiasaan diartikan sebagai gerak perbuatan yang berjalan dengan lancar dan seolah-olah berjalan dengan sendirinya. Perbuatan ini terjadi awalnya dikarenakan pikiran yang melakukan pertimbangan dan perencanaan, sehingga nantinya menimbulkan perbuatan dan apabila perbuatan ini diulang-ulang maka akan menjadi kebiasaan.

Menenamkan Nilai-nilai Islami Sejak Kecil

Kebiasaan-kebiasaan yang dimaksud dalam penelitian ini adalah kebiasaan-kebiasaan dalam menjalankan ajaran Islam, sehingga nilai-nilai yang ada pada pembiasaan yang dilakukan dapat dimiliki dan tertanam dengan baik atau nilai-nilai tersebut dapat terinternalisasi dan dapat menjadi suatu karakter. Jadi kebiasaan di sini merupakan hal-hal yang sering dilakukan secara berulang-ulang dan merupakan puncak perwujudan dari tingkah laku yang sesungguhnya, di mana ketika seseorang telah memiliki kemampuan untuk mewujudkan lewat tindakan dan apabila tindakan ini dilakukan secara terus-menerus, maka ia akan menjadi kebiasaan, dan kebiasaan tersebut akan mewujudkan karakter.

Karakter itu terbentuk dari luar. Karakter terbentuk dari asimilasi dan sosialisasi. Asimilasi menyangkut hubungan manusia dengan lingkungan bendawi, sedangkan sosialisasi menyangkut hubungan antar manusia. Kedua unsur inilah yang membentuk karakter.[6]

Pendidikan agama Islam sebagai pendidikan nilai maka perlu adanya pembiasaan-pembiasaan dalam menjalankan ajaran Islam, sehingga nilai-nilai ajaran Islam dapat terinternalisasi dalam diri peserta didik, yang akhirnya akan dapat membentuk karakter yang Islami. Nilai-nilai ajaran Islam yang menjadi karakter merupakan perpaduan yang bagus (sinergis) dalam membentuk peserta didik (remaja) yang berkualitas, di mana individu bukan hanya mengetahui kebajikan, tetapi juga merasakan kebajikan dan mengerjakannya dengan didukung oleh rasa cinta untuk melakukannya.

Pembentukan karakter seseorang (terutama peserta didik) bersifat tidak alamiyah, sehingga dapat berubah dan dibentuk sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Kaidah umum dalam pembentukan karakter adalah sebagai berikut :[7]

1.Kaidah kebertahapan, proses perubahan, perbaikan, dan pengembangan harus dilakukan secara bertahap.

2.Kaidah kesinambungan, anda harus tetap berlatih seberapapun kecilnya porsi latihan tersebut, nilainya bukan pada besar kecilnya, tetapi pada kesinambungannya.

3.Kaidah momentum, pergunakan berbagai momentum peristiwa untuk fungsi pendidikan dan latihan. Misalnya menggunakan bulan Ramadhan untuk mengembangkan sifat sabar, kemauan yang kuat, kedermawanan dan seterusnya.

4.Kaidah motivasi intrinsik, jangan pernah berfikir untuk memiliki karakter yang kuat dan sempurna, jika dorongan itu benar-benar lahir dalam diri anda sendiri, atau dari kesadaran anda akan hal itu.

5.Kaidah pembimbing, anda mungkin bisa melakukannya seorang diri, tetapi itu tidak akan sempurna. Jadi, anda membutuhkan kawan yang berfungsi sebagai guru.

Dari kaidah di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa selain kebiasaan diberikan juga pengertian secara kontinyu, sedikit demi sedikit dengan tidak melupakan perkembangan jiwanya, dengan melihat faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pembentukan karakter dengan melihat nilai-nilai apa yang diajarkan serta bersikap tegas dengan memberikan kejelasan sikap, mana yang harus dikerjakan dan mana yang tidak. Memperkuatnya dengan memberikan sangsi dengan kesalahannya dan juga tidak kalah pentingnya dengan adanya teladan atau contoh yang diberikan.

Baca Juga: Cara Mendidik ANak Rajin Sholat tanpa Paksaan

Metode pembiasaan sebagai upaya internalisasi nilai ajaran Islam sehingga dapat membentuk karakter peserta didik yang Islami, hal ini juga dikaitkan dengan hukum panen sebagai berikut :[8]

Tanamlah pemikiran
Kamu akan menuai tindakan
Tanamlah tindakan
Kamu akan menuai kebiasaan

Tanamlah kebiasaan
Kamu akan menuai karakter

Tanamlah karakter
Kamu akan menuai nasibmu

Catatan Kaki


[2] Abdurrahman Mas`udi, dkk, Paradigma Pendidikan Islam (Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset, 2001,), hal. 19.
[3] Ibid., hal. 39.
[4] Al-Qur’an dan Terjemahnya, op. cit., hal. 862.

[5] Muhaimin, dkk, op.cit., hal. 169-170.

[6] Jalaluddin, Psikologi Agama (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2000) edisi revisi, hal. 181

[7] Muhammad Anis Matta, Membentuk Karakter Cara Islam (Jakarta: Al-I’tishom Cahaya Umat, 2003), hal.69-70

[8] Soemarno Soedarsono, Character Buidling: Membentuk Watak (Jakarta: Elek Media Komputindo, 2002), hal. 217



0 Response to "Tahapan Internalisasi Ajaran Islam di Berbagai Bidang"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!