Apa itu Zakat Fitrah ( Zakat Nafs) ?

Advertisement
Pengertian Zakat Nafs Zakat ini biasa disebut dengan zakat fitrah atau zakat fitri, karena zakat ini dihubungkan dengan bulan suci Ramadan dan hari raya Idul fitri. Zakat fitri adalah pengeluaran yang wajib dilakukan oleh setiap muslim yang mempunyai kelebihan dari nafkah keluarga yang wajar pada malam hari raya Idul fitri, sebagai tanda syukur kepada Allah karena telah selesai menunaikan ibadah puasa.

Zakat ini disyari’atkan pada bulan Sya’ban tahun kedua Hijriyah, adalah untuk mensucikan orang yang puasa dari perbuatan dan perkataan kotor dan keji serta untuk memberi makan orang-orang miskin. Zakat ini merupakan zakat pribadi, sedangkan zakat mal merupakan pajak pada harta. Oleh karena itu tidak disyaratkan pada zakat fitrah apa yang disyaratkan pada zakat mal, seperti nisab dan syarat-syarat zakat lainnya tertentu.

Zakat Nafs (zakat Fitrah)

Adapun diwajibkannya zakat fitrah ini karena tiga hal, yaitu: Islam, terbenam matahari dan akhir bulan Ramadan. Mengenai hukum melaksanakannya adalah wajib berdasarkan nas al-Qur’an sebagai berikut:

قد أفلح من تزكّي وذ كر اسم ربّه فصلّى[1]

Ayat ini menurut Ibn Huzaimah, diturunkan berkenaan dengan zakat fitrah, takbir hari raya dan sembahyang. 

Demikianpun menurut Sa’id ibnu Musayyad dan Umar Ibn Abdul Aziz, bahwa zakat yang dimaksudkan dalam ayat tersebut adalah zakat fitrah. Adapun nas hadis yang menerangkan tentang zakat fitrah adalah hadis riwayat muslim dari Ibn Umar. Rasulullah bersabda:

فرض زكاة الفطرمن رمضان على النّاس صاعامن تمر أوصاعامن شعيرعلى كلّ حر أوعبد ذ كر أو أنثي من المسلمين[2]

Hadis tersebut di atas menunjukkan bahwa zakat fitrah itu wajib. Adapun yang menjadi perbedaan pendapat ulama adalah mengenai batas waktu wajib.

Menurut Sauri, Ahmad, Ishak dan asy-Syafi’ī serta menurut suatu berita dari Malik, waktu wajibnya adalah ketika terbenam matahari, pada malam lebaran, sebab saat itulah waktu berbuka puasa Ramadan. Sedangkan menurut Imam Abu Hanifah, Lais, asy-Syafi’i, menurut berita yang lain dari Malik waktu wajibnya adalah tatkala fajar dari hari lebaran.

Jumhur fuqaha berpendapat bahwa mengakhirkan zakat fitrah setelah shalat Idul fitri adalah makruh, karena maksud utama dari zakat fitrah adalah mencukupkan orang-orang fakir dan peminta-minta dihari itu. Sehingga apabila mengakhirkannya, maka hilanglah sebagian waktu dari hari itu tanpa terbukti mencukupkannya.

Adapun jenis harta benda yang dikeluarkan untuk zakat fitrah ialah tanaman seperti: sya’ir, zabīb dan aqīt. Hal ini sebagaimana hadis Nabi yang diriwayatkan Muslim dari abi Sa’id al-Khudri, sebagai berikut:

كنّا نخرج اذاكان فيهارسول الله ص.م زكاة الفطرعن كلّ صغيروكبيرحر أومملوك صاعامن طعام أو صاعاأقط أوصاعامن شعير أو صاعامن تمر أو صاعامن زبيب فلم نزل نخرجه حتّى قدم علينامعاويه بن أبىسفيان حاجاأومعتمرفكلّم النّاس على المنبرفكان فيما كلّم به النّاس أن قال: انّي أري أن مدين من سمر الشام تعدل صاعامن تمر فأخذ النّاس بذالك قال:أبوسعيدفأمّاأنافلا أزال اخرجه كماكنت اخرجه أبداماعشت[3]

Jenis tersebut merupakan awal dari makanan yang dijadikan zakat fitrah. Kemudian dihubungkan dengan segala rupa, makanan yang menjadi pengenyang di masing-masing tempat. Seperti beras bagi kita orang Indonesia. 

[1] Al-‘Ala (81): 14-15.
[2] Imām Muslim, Sahīh Muslim, Bab Zakat al-Fitri ‘alā al-Muslim min at-Tamri wa Syair, (Mesir: Musthafa al-Babi al-Halabi,t.t), hlm. 392.
[3] Imām Muslim, Sahīh Muslim, Bab Zakah al-Fitr, ‘alā muslimīn, I: 392.