Biografi dan Pemikiran Hasan al-Banna

Advertisement
Biografi dan Pemikiran Hasan al-Banna - Imam Syahid Hasan Al Banna dipandang sebagai tokoh pembaharu Islam yang layak disejajarkan dengan tokoh-tokoh pembaharu yang muncul pada masa-masa sebelumnya. Dengan karakter yang melekat pada dirinya, kiranya dia layak menjadi representatif dari tokoh kebangkitan Islam abad kedua puluh. Pribadi Hasan Al Banna telah mengejutkan masyarakat Mesir, dunia Arab, dan dunia Islam dengan gegap gempita dakwah, kaderisasi, serta jihad dengan kekuatannya yang ajaib. 

Di dalam pribadinya ada perpaduan antara potensi dan bakat, yang sepintas tampak saling bertentangan di mata para psikolog, sejarawan dan pengamat social. Didalamnya terdapat pemikiran yang briliyan, daya nalar yang terang menyala, perasaan yang bergelora, hati yang penuh limpahan berkah, jiwa yang dinamis nan cemerlang, dan lidah yang tajam lagi berkesan. Disitulah ada kejuhudan dan kesahajaan, kesungguhan dan ketinggian cita dalam menyebarkan pemikiran dan dakwah, jiwa dinamis yang sarat dengan cita-cita, dan semangat yang senantiasa membara. Disitu ada juga pandangan yang jauh kedepan, kecintaan yang sempurna pada dakwah, ketegaran, kerendahatian yang jauh menuruti ambisi pribadi.

Hal ini sesuai dengan apa yang telah dikatakan oleh Abul Hasan Ali An Nadwi di dalam Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin karya Imam Syahid Hasan Al Banna yang di terjemahkan oleh Anis Matta yang menuturkan tentang pribadi Imam Syahid Hasan Al Banna.

Ada dua sisi kejeniusan pribadi beliau, yang tampak lebih kuat dibanding segi-segi lain dari kejeniusannya. Pada sisi lain, hanya sedikit diantara para da'i, pendidik, dan pelopor perubahan yang menyamainya.

Biografi dan Pemikiran Hasan al-Banna
Pertama, kecintaan yang tulus, keimanan dan keyakinan yang kuat terhadap kebenaran dari apa yang beliau dakwahkan. Untuk dakwahnya, beliau telah menyerahkan segenap bakat dan potensi pribadinya, serta meleburkan diri dengan segala yang dimilikinya. Sesungguhnya, itulah syarat mendasar yang seharusnya dimiliki oleh para pemimpin umat, yang kelak ditangan merekalah Allah berkenan mengalirkan sungai kebaikan yang deras.

Kedua, pengaruhnya yang amat dalam pada jiwa dan perilaku para pengikutnya, serta kesuksesannya yang gemilang dalam membina dan mengkader mereka. Sungguh, beliau adalah pembangun generasi, pendidik bangsa, penggagas pemikiran, dan penggalang moral.[1]

Hal tersebut juga tergambar dalam penjelasan sebagai berikut:

Hasan Al Banna adalah Imam dengan segala makna, ia adalah panutan agung dalam segala hal; dalam ilmu, keimanan, keikhlasan, keaktifan, kecerdasan dan ketajaman analisa, pada hatinya yang besar, dan ruhnya yang suci.

Hasan Al Banna adalah hujjah Allah bagi diriku bahwa Islam selalu sanggup menciptakan lelaki besar, yang mampu menjelmakan idealisme menjadi kenyataan, merasukkan cahaya nan cemerlang kedalam darah dan daging, dialah akal yang brilian dan ruh yang terpaut dengan yang Maha Tinggi; rasa lelah sedikitpun tak pernah sanggup menghentikan dzikirnya; dialah puncak ketinggian dan keteguhan yang menyimpan gunung berapi, lelaki agung yang selalu tepat menentukan arah. Dialah lelaki cemerlang yang memenuhi hati kami dengan kecintaan kepada Allah, menyalakan dada kami dengan kecintaan kepada Islam, kemudian memadukan kami dalam lingkaran suci yang hampir-hampir tanpa noda.

Hasan Al Banna telah dibunuh pada suatu hari yang hitam kelam dari hari-hari sejarah. Kepergiannya memiliki arti bahwa kemanusiaan telah kehilangan seseorang, yang "zaman tak selalu bermurah hati melahirkan orang sepertinya!" Hasan Al Banna telah dibunuh setelah melewatkan duapuluh tahun dari umurnya dalam jihad yang pahit, yang begitu melelahkan dan yang tak pernah memisahkan malam dari siangnya.[2]

Hasan Al Banna melewati taman dunia dengan tenang, tak ada keserakahan, tidak juga kekikiran. Ia memetik dari taman itu seperlunya dan tak pernah melampaui batas kebutuhan yang wajar. Makanan yang tersedia, itulah yang ia santap. Pakaian yang ada, itulah yang ia pakai. Rumah yang didiami pun sederhana. Ia hidup seadanya dan bersahaja. Kadang-kadang ia pun harus meninggalkan anak dan istrinya tanpa bekal.

Hasan Al Banna berjuang dengan melalui sebuah jamaah yang didirikannya sekaligus dipimpimnya pada masa-masa awal. Jamaah itu adalah Ikhwanul Muslimin. Ia merupakan gerakan dakwah abad ke empat belas Hijriyah, yang mempunyai pengaruh yang sangat luas diseluruh penjuru dunia.[3] Ia adalah revolusioner dan da'i reformis yang mempunyai catatan yang cemerlang dan terhormat, yang semakin memperindah sejarah Islam dan dakwah. Dunia sejak berabad-abad sebelumnya-belum pernah mengenal adanya kepemimpinan yang lebih kuat, berpengaruh dan lebih besar pruduknya melebihi kepemimpinan ini.[4]

Ia juga saling menopang dalam membentuk harakah Islam, yang didunia Arab khususnya jarang ditemukan satu harakah yang lebih luas jangkauannya, lebih besar peranannya, lebih dalam pengaruhnya, lebih dalam responnya kedalam masyarakat, dan lebih dalam merasuknya pada jiwa, melebihi harakah ini. Hasan Al Banna adalah orang yang kuat optimismenya akan kemenangan dan penuh harap akan masa depan walaupun ia sendiri mengetahui dan merasakan rintangan-rintangan yang menghalangi jalannya.[5]

Hasan Al Banna mempunyai kelebihan berupa akhlak Islami yang sangat tinggi dan madzhar (penampilan) Islami yang menakjubkan. Diantaranya yang mulia adalah:

- Jujur dan benar adalah akhlak Hasan al Banna yng menonjol. Beliau tidak pernah mengutarakan pendapat, melainkan ia konsekwen terhadap diri, orang lain dan Rabb-Nya.

- Sopan dan Tawadhu'. Ia menganggap semua ulama adalah gurunya, padahal justru beliaulah guru mereka. Ia berbicara dengan orang tua dan muda dengan sopan santun yang tinggi, lemah lembut dan tawadhu'. Sehingga pendengarnya merasa memperoleh ilmu darinya. Tidak pernah memojokkan orang alim atau menyalahkannya.

- Semangat Dakwah Yang Tinggi. Dakwah adalah jalan hidupnya, bahkan itulah hidupnya. Tidak pernah sibuk dengan selain masalah dakwah walau hanya sehari, dakwah telah memenuhi pikiran dan hatinya, sehingga tidak ada tempat untuk memikirkan yang lain.

- Zuhud dan Sederhana. Zuhud dan sederhana adalah sifat lain yang menonjol dalam kehidupan Hasan Al Banna. Zuhud tidak membuatnya tersiksa dalam menjalani kehidupan.

Imam Syahid Hasan Al Banna merupakan kesinambungan sejarah dari gaung kebangkitan Islam yang telah menggema bersama para pembaharu dan pembangkit sebelumnya; Muhammad Abdul Wahab, Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridho, Muhammad Iqbal dan lain-lain.[6] Kejeniusan sang da'i ini tampak jelas pada dua aspek spesifik, yang keduanya jarang dimiliki oleh manusia lain kecuali hanya beberapa orang saja, diantara para da'i, murobbi, pemimpin dan pembaharu yang ada.

Pertama, antusiasme untuk berdakwah yang luar biasa, yakin dan puas dengan berdakwah, dan memberikan dedikasi yang tinggi dalam berdakwah dengan segala kemampuan dan instrument yang dimilikinya.

Kedua, pengaruhnya yang sangat dalam terhadap para sahabat dan muridnya, serta kesuksesannya yang spektakuler dalam tarbiyah dan kaderisasi. Beliau adalah pembangun generasi, pengurus tarbiyah (murobbi) bangsa, serta pemangku madrasah yang sarat dengan nuansa ilmiyah, fikriyah, dan khuluqiyah.


Catatan Kaki

[1] Penuturan Abul Hasan Ali An Nadwi dalam Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin,Hasan Al Banna, hlm. 22

[2] Penuturan Syaikh Ramadhan dalam Risalah Pergerakan Ikhwanul Muslimin, Hasan Al Banna, hlm. 24.

[3] Fathi Yakan. Revolusi Hasan Al Banna, hlm.5.

[4] Hasan Al Banna, Memoar Hasan Al Banna. Untuk Para Da'i dan Para Da'inya, hlm.11-13.

[5] Yusuf Qordhowi. Berita Kemenangan Islam, (Jakarta: Gema Insani Press, 1997), hlm.108.

[6] Abdul Hamid Al Ghazali. Meretas Jalan Kebangkitan Islam. (Solo: Era Intermedia, 2001), hlm. 7.

Demikianlah artike tentang pendiri Ikhwanul muslimin, Biografi dan Pemikiran Hasan al-Banna. Mudahan Bermanfaat


0 Response to "Biografi dan Pemikiran Hasan al-Banna"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!