Bantahan Al-Usaimin Atas Mereka Yang Membolehkan Membuka Wajah/jilbab

Advertisement
       Dalil-dalil tentang bolehnya membuka wajah bagi kaum wanita di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya sebenarnya tidaklah bersifat kontradiktif dengan yang mengharuskannya (baca: menutup wajah). Hal ini didasarkan pada dua alasan, yang pertama bahwasanya dalil tentang keharusan berhijab adalah dalil Nāqil (mengubah hukum asal, yakni diperbolehkannya membuka wajah), sedanglan dalil kebolehan membuka wajah adalah dalil yang menjelaskan hukum asal. Sebagaimana dikenal di kalangan ahli ushul, dalil yang mengubah hukum asal (dalil nāqil) lebih didahulukan. Sehingga jika ditemukan dalil yang berubah dari hukum asal, maka dalil tersebut mengindikasikan adanya perubahan hukum atas hukum asal. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa di balik dalil nāqil terdapat pengembangan ilmu, yaitu penetapan perubahan hukum asal. Yang kedua bahwasanya jika kita mencermati dalil-dalil yang dijadikan pegangan atas bolehnya wanita membuka wajah, maka dapat ditemukan bahwa dalil-dalil tersebut tidak bertentangan dengan dalil-dalil yang melarangnya sebagaimana yang akan dijelaskan al-'Usaimīn dalam bantahannya.

        Menurut al-'Usaimīn, setidaknya ada empat dalil yang biasa digunakan oleh mereka yang membolehkan membuka wajah, yakni:

Firman Allah Ta'ala: "Hendaklah mereka (kaum wanita) tidak menampakkan perhiasan mereka kecuali apa yang biasa tampak darinya." Dari ayat ini Ibnu Abbās menafsirkan bahwa bagian yang biasa tampak adalah wajah, kedua telapak tangan dan cincin Sedangkan kita telah mengetahui bahwa penafsiran sahabat adalah hujjah, bahkan sebagian ulama menyatakan bahwa penafsiran sahabat masuk ke dalam hukum marfu' kepada Nabi saw.
    
        Menurut al-'Usaimīn, kemungkinan yang dimaksud Ibnu Abbās ra dalam tafsirannya tersebut adalah sebelum ayat hijab (tutup) diturunkan. Kemungkinan kedua dari tafsiran Ibnu Abbās ra tersebut ialah bahwa yang dimaksud adalah perhiasan yang dilarang diperlihatkan, sebagaimana disebutkan Ibnu Kasīr dalam tafsirnya (QS.Al-Ahzāb (24): 59) yang memperkuat dua kemungkinan tersebut. Jika kedua kemungkinan diatas belum meyakinkan kita, maka tafsir sahabat ini tidak dapat dijadikan hujjah, karena tafsirnya ditentang oleh sahabat yang lain (baca: Ibnu Mas'ūd ra yang menafsirkan kalimat: (ﺇﻻ ما ظهر منها) "yang biasa tampak" dengan al-ridā' (pakaian). Dengan demikaian harus diambil tafsiran atau pendapat yang didukung oleh dalil-dalil lain dan dilakukan tarjih.

Hadis yang diriwayatkan Abū Dāwud dalam kitab Sunan-nya dari 'Āisyah ra bahwasanya Asma' binti Abī Bakar pernah masuk ke rumah Rasulullah saw dan ia mengenakan pakaian tipis, lalu Nabi berpaling darinya seraya bersabda: "Wahai Asma', sesungguhnya wanita jika telah sampai masa balig, maka tidak pantas lagi dipandang kecuali ini dan ini, dan Nabi menunjuk pada  wajah dan kedua telapak tangannya."

            Oleh al-'Usaimīn, hadis ini dinyatakan daīf dari dua sisi;[16] yang pertama, hadis ini termasuk hadis munqaţi,[17] di mana terdapat keterputusan sanad antara 'Āisyah ra dengan khalid bin Duraik yang menjadi jalur periwayatan, sebagaimana telah dianggap cacat oleh Abū Dāwud sendiri dan Abū Hātim al-Rāzi (karena mursal).[18] Yang kedua, dalam sanad hadis tersebut terdapat Sa'īd bin Basyīr al-Nashri penduduk Damaskus yang ditinggalkan periwayatannya oleh Ibnu Mahdi.

            Hadis ini juga dianggap lemah (daīf) oleh Imam Ahmad, Ibnu Mu'in, Ibnu al-Madini, dan al-Nasā'i; dengan demikian hadis ini tidak dapat mengungguli hadis shahih yang menunjukkan tentang wajibnya kaum wanita menutup wajah mereka. Lebih lanjut al-'Usaimīn menyatakan bahwa umur Asma' binti Abī Bakar ketika Nabi saw hijrah adalah 27 tahun, dimana dalam umur sekian (dewasa) tidaklah mungkin Asma' masuk ke rumah Nabi saw dengan pakaian tipis yang dapat menggambarkan bentuk tubuhnya.

Hadis yang diriwayatkan al-Bukhāriy dan periwayat lain dari Ibnu 'Abbās ra bahwa saudaranya, yakni al-Fadl, pernah menjadi pendamping haji wada' Nabi saw, kemudian datang seorang wanita khas'amiyah. Lalu al-Fadl memandangnya dan wanita itupun memandangnya, kemudian Nabi saw memalingkan wajah al-Fadl ke arah lain. Keadaan ini mengindikasikan bahwa wanita tersebut membuka wajahnya, karena jika tidak demikian niscaya al-Fadl tidak akan terpesona olehnya.

jilbab keren kerudung
Google.com
Bagi Al-'Usaimīn, hadis ini tidak memuat dalil yang menunjukkan diperbolehkannya mememandang wanita lain dan justru sebaliknya, sebagaimana disebutkan Imam Nawawi dalam Kitab Syarh Muslim bahwa salah satu faedah dari hadis ini adalah pengharaman memandang wanita. Demikian halnya dengan  Ibnu Hajar al-Asqalāni dalam kitabnya Fathu al-Bāri, beliau juga menyatakan bahwa hadis di atas mengandung larangan memandang wanita lain dan anjuran menundukkan pandangan. Hal tersebut juga dapat dilihat dari bunyi teks hadis yang menunjukkan bahwa Nabi saw tidak membenarkan sikap al-Fadl (memandang wanita) bahkan Nabi saw memalingkan wajah al-Fadl ke arah yang lain.

            Lebih lanjut al-'Usaimīn menyatakan bahwa Nabi saw tidak memerintahkan wanita tersebut untuk menutup wajahnya karena wanita tersebut sedang melakukan ihram (di mana syari'at bagi orang yang sedang berihram adalah tidak mengenakan tutup muka ketika tidak ada laki-laki ajnabi yang memandangnya) atau bisa jadi Nabi saw menyuruh (wanita tersebut) untuk menutup wajahnya setelah itu. Ketiadaan penukilan (kutipan) tentang hal tersebut dalam hadis di atas tidak berarti tidak adanya perintah menutup wajah, karena ketiadaan penukilan bukan berarti penukilan tentang ketiadaan (dalam hal ini perintah menutup wajah). 

4. Hadis yang diriwayatkan al-Bukhāriy dan yang lainnya dari hadis Jabir bin Abdullāh ra, yakni di waktu Nabi saw melakukan shalat 'Ied bersama masyarakat kemudian setelah itu Nabi saw mendatangi kaum wanita, lalu Nabi saw menasehati mereka dan mengingatkan mereka seraya bersabda: "Wahai kaum wanita, bersedekahlah kalian, karena kebanyakan dari kalian menjadi bahan bakar neraka. Kemudian berdirilah seorang wanita dari golongan wanita yang lesung pipinya…". Hadis ini menunjukkan bahwa jika wanita tersebut tidak terbuka wajahnya, maka tidak mungkin diketahui bahwa ia lesung pipinya.

          Al-'Usaimīn berasumsi tentang hadis di atas bahwa, karena keadaan atau kapan terjadinya hal tersebut tidak dijelaskan dalam hadis maka boleh jadi wanita yang disebut dalam hadis di atas adalah wanita tua yang tidak mungkin untuk menikah lagi sehingga membuka wajah diperbolehkan baginya dan tidak menjadi penghalang kewajiban menutup wajah bagi wanita yang lainnya. Atau bisa jadi kejadian tersebut berlangsung sebelum turunnya ayat hijab (QS Al-Ahzāb) yang turun pada tahun kelima atau enem hijriyah, sedangkan shalat Ied mulai disyari'atkan pada tahun kedua hijriyah.

Keempat dalil inilah yang biasa dijadikan pegangan bagi mereka yang membolehkan membuka wajah bagi wanita di hadapan laki-laki yang bukan mahramnya dan telah dijelaskan al-'Usaimīn akan kelemahannya.

[16] Muhammad bin Şālih al-'Usaimīn, hlm 28-29.
[17] Hadis Munqaţi' adalah hadis yang gugur salah seorang rawinya sebelum sahabat di satu tempat atau beberapa tempat, dengan catatan bahwa rawi yang gugur pada setiap tempat tidak lebih dari seorang dan tidak terjadi pada awal sanad. Lihat Nuruddin Itr, 'Ulūm al-Hadīs, terj. Mujiyo (Bandung: Rosdakarya, 1997), hlm.149-150.
[18] Mursal, menurut bahasa berarti 'yang terkirim atau yang terlepas'. Sedangkan menurut istilah bermakna 'hadis yang disandarkan oleh tabi'iy kecil atau tabi'iy besar kepada Rasul saw baik berupa ucapan, perbuatan, atau ketetapan (taqrir). Lihat Moh. Anwar, Ilmu Musţalah Hadis (Surabaya: al-Ikhlas, 1981), hlm.102., dan Muhammad 'Ajjāj al-Khaţīb, Uşul al-Hadīs: 'Ulūmuhu waMuşţalahuhu (Beirūt: Dār al-Fikr, 1409/1989), hlm.337.

Artikel ini terbagi atas 4 bagian. kesemunya merupakan pendapat al-Usaimin silahkan di klik untuk membacanya:
Dalil al-Qur'an pemikiran al-Usaimin tentang jilbab wanita muslimah
Dalil al-Sunnah pemikiran al-Usaimin tentang jilbab wanita muslimah
Dalil Qiyas pemikiran al-Usaimin tentang jilbab wanita muslimah
Bantahan terhadap yg membolehkan membuka wajah/jilbab wanita muslimah


4 Responses to "Bantahan Al-Usaimin Atas Mereka Yang Membolehkan Membuka Wajah/jilbab"

  1. andai semua wanita menutupi wajahnya, bagaimana cara teman2nya, saudara2nya, orang tuanya, bahkan anaknya dapat mengenalnya di tempat keramaian?

    ReplyDelete
  2. andai semua wanita menutupi wajahnya, bagaimana caranya supaya teman2nya, saudara2nya, orang tuanya, bahkan anaknya sendiri, dapat mengenalnya di tempat yang ramai?

    ReplyDelete
  3. Meskipun masih bingung pilih yang mana - saya meyakini bahwa memilih menutup wajah akan menjadi pilihan yang baik - semoga segera bisa

    ReplyDelete
  4. Alhamdulillah istri saya berhijab ful face/cadar tapi anak saya tak pernah bingung dengan ibunya walau ditempat ramai ( perkumpulan wanita berhijab fulface )

    ReplyDelete

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!