Dalil al-Sunnah Pemikiran al-Usaimin tentang Jilbab Wanita Muslimah

Advertisement
Dalil al-Sunnah pemikiran al-Usaimin tentang jilbab wanita muslimah

1) Hadis Riwayat Imam Ahmad

قوله صلى الله عليه وسلم: ﺇذا خطب ﺃحدكم امرﺃة فلا جناح عليه ﺃن ينظر منها ﺇذا كان ﺇنما ينظر ﺇليها لخطبة و ﺇن كانت لا تعلم (رواه ﺃحمد)

"Apabila salah seorang di antara kalian mengkhitbah seorang wanita, maka tidak dosa baginya untuk melihat wanita itu jika hendak melihatnya karena khitbah, meskipuan wanita itu tidak mengetahuinya."[10]

Dari hadis diatas, Nabi SAW secara khusus meniadakan dosa dari laki-laki yang mengkhitbah jika ia melihat wanita yang dikhitbahnya yakni dengan syarat betul-betul (karena niat) khitbah. Hal ini menunjukkan bahwa selain laki-laki yang mengkhitbah dianggap berdosa jika memandang wanita asing dalam setiap keadaan. Dalam hadis diatas tidak disebutkan bagian mana saja yang boleh dilihat. Menurut al-'Usaimīn, telah diketahui secara umum bahwa kecantikan yang dimaksud oleh seorang peminang sehingga diperbolehkan untuk dilihat hanyalah wajah orang yang dipinang dan selain itu hanya mengikut saja.

2) Hadis Riwayat al-Bukhāriy, Muslim dan yang lainnya.

ﺃن النبي صلى الله عليه  وسلم لما ﺃمر ﺑﺈخراج النساء ﺇلى مصلى العيد قلن: يا رسول الله ﺇحدانا لا يكون لها جلباب فقال النبي صلى الله عليه وسلم : ‹‹ لَتَلْبَسُها ﺃختها من جلبابها›› رواه البخاري و مسلم وغيرهما

Nabi saw ketika memerintahkan untuk mengeluarkan wanita-wanita ke tempat shalat hari raya, mereka mengadu: "Ya Rasulullah, salah seorang dari kami ada yang tidak mempunyai jilbab". Maka beliau saw bersabda: "Hendaklah saudara perempuannya memberikan jilbab kepadanya.[11] 

Hadis diatas menunjukkan bahwa merupakan kebiasaan istri-istri para sahabat yakni seorang istri tidak keluar rumah kecuali dengan mengenakan jilbab, dan ketika tidak ada jilbab ia tidak mungkin keluar rumah. Dari bunyi teks hadis juga dapat diketahui bahwasanya Nabi saw tidak mengizinkan mereka keluar rumah tanpa mengenakan jilbab meskipun keluar menuju tempat shalat ied, padahal shalat ied adalah sesuatu yang disyari'atkan dan diperintahkan. Bagi al-'Usaimīn, jilbab yang di maksud dari hadis di atas tidaklah lepas dari perintah untuk memakai cadar sebagai bentuk pemaknaan dari ayat-ayat yang berbicara dalam masalah jilbab dan hijab.

        Dengan demikian bagaimana mungkin beliau memberikan keringanan kepada mereka untuk keluar rumah (tanpa hijab) pada perkara yang tidak disyari'atkan dan tidak pula karena kebutuhan.

3) Hadis yang terdapat dalam Şahīh al-Bukhāriy dan Şahīh Muslim dari 'Āisyah ra.

ما ثبت فى الصحيحين عن عا ئشة رضي الله عنها قالت: كان رسول الله صلىاﷲ عليه وسلم يصلى الفجر فيشهد معه ﻧﺴﺂء من المؤ منت متلفعات بمروطهنﱠ ثم يرجعن ﺇلى بيوتهنﱠ ما يعرفهن ﺃحد من الغسل. و قالت: لو رﺃى رسول الله  صلىالله عليه وسلم من النساء ما رﺃينا لمنعهن من المساجد كما منعت بنوا ﺇسرائيل ﻧﺴﺂئها.

Rasulullah saw shalat fajar bersama wanita yang beriman, mereka berselubung muruth (pakaian tanpa jahitan). Kemudian mereka pulang ke rumah. Tak seorangpun mengenal mereka karena gelap." Selanjutnya 'Aisyah ra berkata: "Andaikata Rasulullah saw melihat keadaan kaum wanita seperti yang kita lihat, niscaya beliau melarang mereka pergi ke masjid seperti halnya Bani Israil melarang wanita-wanitanya. (Hadis semisal juga diriwayatkan oleh Ibnu Mas'ūd ra)

Dalil al-Sunnah Pemikiran al-Usaimin tentang Jilbab Wanita Muslimah
Google.com

Hadis tersebut di atas menunjukkan dua hal: yang pertama, berhijab dan menutup diri merupakan kebiasaan istri-istri sahabat yang hidup pada sebaik-baik masa, yang mulia disisi Allah Ta'ala, yang paling tinggi akhlak dan adabnya, sempurna imannya dan paling baik amalnya. Mereka adalah qudwah (suri tauladan) yang diridhai Allah.[12] Karena hal tersebut menjadi jalan hidup istri-istri para sahabat maka generasi selanjutnyapun tidak boleh menyimpang dari jalan tersebut sebagaimana yang tersebut dalam firman Allah QS. Al-Nisā': 115. Yang kedua, menunjukkan kedalaman ilmu serta pengetahuan agama 'Āisyah ra dan Ibnu Mas'ūd. Keduanya mempunyai prediksi bahwa jika Nabi Muhammad SAW mengetahui kondisi kaum wanita ketika keluar ke masjid dengan keadaan seperti yang mereka lihat niscaya Nabi saw akan melarang para wanita keluar dari rumah mereka. Jika keadaan pada zaman terbaik (zaman Rasulullah SAW dan sahabat) menuntut adanya pelarangan wanita pergi kemasjid tanpa hijab, tentunya zaman ini menurut al-'Usaimīn lebih menuntut adanya pelarangan tersebut.

4) Hadis riwayat Bukhāriy, Muslim, al-Nasā'i dan Ahmad

ﺃنﱠ النبي صلىالله عيله وسلم قال: ‹‹ من جر ثوبه خيلاء لم ينظر اﷲ ﺇليه يوم القيامة ››  فقالت ﺃم سلمة فكيف يصنع النساء بذيولهنﱠ؟ قال: (يرخينه شبرا) قالت: ﺇذن تنكشف ﺃقدامهنﱠ. قال: (يرخين ذراعا ولا يزدن عليه).

Barangsiapa menjuraikan kainnya karena sombong, maka Allah tidak akan memperhatikannya pada hari kiamat." Ummu Salamah berkata: lalu bagaimana wanita-wanita berbuat terhadap ujung kainnya? Nabi saw menjawab: "Mereka menurunkannya sejengkal." Ummu Salamah bertanya lagi: kalau begitu kaki mereka kelihatan. Beliau bersabda: "Mereka turunkan sehasta dan jangan menambah lagi dari itu.[13]

Hadis diatas mengandung dalil tentang kewajiban menutup kaki seorang perempuan. Jika kaki (yang fitnahnya lebih kecil dari pada wajah) wajib untuk ditutupi maka wajah dan telapak tangan menjadi lebih wajib untuk ditutupi.

Al-'Usaimīn berpendapat bahwa mustahil dalam hikmah Allah Ta'āla  dan syari'at-Nya jika Dia mewajibkan menutup kaki yang lebih kecil fitnahnya namun memberi keringanan untuk membuka wajah yang lebih besar fitnahnya. Dengan demikian menutup wajah adalah hal yang wajib.

5) Hadis riwayat lima Imam kecuali al-Nasā'i dan dişahihkan oleh al-Tirmizi.

قوله صلىالله عليه وسلم: ‹‹ ﺇذا كان ﻹحداكنﱠ مكاتب و كان عنده ما يؤدي فلتحتجب منه ››  رواه  الخمسة ﺇلا النسائي وصححه الترمذي

"Apabila salah seorang dari isteri-isteri itu memiliki budak dan ia mempunyai hasrat terhadap wanita, maka hendaklah isteri tersebut berhijab darinya."

Hadis diatas menunjukkan bolehnya seorang majikan (perempuan) membuka wajahnya dihadapan budaknya (laki-laki) selama budak tersebut dalam kekuasaannya. Namun jika kondisinya keluar dari hal ini maka wajib baginya untuk berhijab karena ia telah menjadi lelaki asing baginya.

6) Hadis riwayat Imam Ahmad, Abū Daud dan Ibnu Mājah

عن عائشة رضي الله عنها قالت: ‹‹ كان ا لركبان يمرون بنا ونحن محرمات مع الرسول اﷲ صلىالله عليه وسلم ﻓﺈذا حاذونا سدلت ﺇحدانا جلبابها على وجهها من رﺃسها ﻓﺈذا جاوزونا كشفناه. (رواه ﺃحمد وﺃبو دا ود وابن ماجه)

Dari 'Āisyah ra berkata: "Adalah para penunggang kuda melewati kami dalam keadaan ihram bersama Rasulullah saw. Jika mereka tepat di hadapan kami, setiap kami menutupkan jibabnya ke wajahnya mulai dari kepala. Dan apabila mereka telah lewat, kami membukanya kembali."

Hadis ini menunjukkan kewajiban menutup wajah, karena yang disyari'atkan ketika ihram adalah membukanya bahkan hukumnya wajib menurut sebagian besar ulama. Sekiranya tidak ada penghalang yang kuat dari membukanya ketika itu, niscaya tetap wajib terbuka sampai di depan para penunggang kuda sekalipun.

Sesuatu yang wajib tidak dapat dikalahkan kecuali oleh sesuatu yang wajib pula. Maka seandainya berhijab dan menutup wajah dari laki-laki asing tidak wajib, tidak mungkin diwajibkan membuka wajah ketika ihram. Dalam kitab Şahīh Bukhāri dan Şahīh Muslim dijelaskan bahwa seorang wanita dilarang memakai cadar dan sarung tangan ketika sedang ihram. Menurut Ibnu Taimiyyah sebagaimana dikutip al-'Usaimīn, hal ini menunjukkan bahwa cadar dan sarung tangan sudah lazim dipakai oleh wanita-wanita yang tidak dalam keadaan ihram.[14]
        

[10] Dikeluarkan oleh Imam al-Ţahāwi dan Ahmad (5/424) dari Zuhair bin Mu'āwiyah berkata: 'telah mengabarkan kepada kami Abdullāh bin 'Īsa dari Mūsa bin Abdullāh bin Yazid dari Abī Humaid-bahwa ia telah melihat Nabi saw bersabda-berkata: Nabi saw bersabda: …. Maka aku (al-Albāniy) berkata: sanad hadis ini shahih, seluruh rijalnya siqah dan merupakan rijal imam Muslim. Hadis ini juga diriwayatkan oleh al-Ţabraniy dalam "al-Ausaţ" dan "al-Kabīr" sebagaimana terdapat dalam "al-Majma'" (4/276) dan beliau berkata: 'dan rijalnya adalah rijal Imam Ahmad, dan merupakan rijal şahih'. Lihat Muhammad Nāşiruddin al-Albāniy, Silsilah al-Ahādis al-Şahīhah, Jilid 1 (Beirūt: al-Maktab al-Islāmiy, 1405/1985), hlm.152.

[11] Diriwayatkan oleh al-Bukhāriy (bab pakaian), Muslim (bab pakaian), Abū Dāwud (bab Salat dan bab pakaian), Ahmad (II/49,103,114). Lihat Wensink, al-Mu'jam al-Mufahras li Alfāz al-Hadīs al-Nabawiy, jilid VI (Istambul: Dār al-Da'wah, 1987), hlm. 82.
[12] lihat QS al-Taubah: 100
[13] Muhammad al-Sa'īd bin Bastunī Zagūl, Mausū'ah Atrāf al-Hadīs al-Nabawiy al-Syarīf, jilid VIII (Beirūt: Dār al-Kutub al-Ilmiyyah, t.t.), hlm.220.
[14] Muhammad bin Şālih al-'Usaimīn,, op.cit., hlm.19.

Artikel ini terbagi atas 4 bagian. kesemunya merupakan pendapat al-Usaimin silahkan di klik untuk membacanya:
Dalil al-Qur'an pemikiran al-Usaimin tentang jilbab wanita muslimah

Dalil Qiyas pemikiran al-Usaimin tentang jilbab wanita muslimah
Bantahan terhadap yg membolehkan membuka wajah/jilbab wanita muslimah