Mujadalah (dialog) Musa dengan Fir'aun

Advertisement

Mujadalah (dialog) antara Musa dengan Fir'aun dapat dibaca dalam surah "Asy-Syu'ara" ayat 18 hingga ayat 31 juz 19 sebagimana berikut :
 
قَالَ أَلَمْ نُرَبِّكَ فِينَا وَلِيدًا وَلَبِثْتَ فِينَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِينَ  وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِي فَعَلْتَ وَأَنْتَ مِنَ الْكَافِرِينَ  قَالَ فَعَلْتُهَا إِذًا وَأَنَا مِنَ الضَّالِّينَ  فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِي رَبِّي حُكْمًا وَجَعَلَنِي مِنَ الْمُرْسَلِينَ  وَتِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّهَا عَلَيَّ أَنْ عَبَّدْتَ بَنِي إِسْرَائِيل قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعَالَمِينَ  قَالَ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ  قَالَ لِمَنْ حَوْلَهُ أَلَا تَسْتَمِعُونَ  قَالَ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الْأَوَّلِينَ  قَالَ إِنَّ رَسُولَكُمُ الَّذِي أُرْسِلَ إِلَيْكُمْ لَمَجْنُونٌ  قَالَ رَبُّ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ  قَالَ لَئِنِ اتَّخَذْتَ إِلَهًا غَيْرِي لَأَجْعَلَنَّكَ مِنَ الْمَسْجُونِينَ  قَالَ أَوَلَوْ جِئْتُكَ بِشَيْءٍ مُبِينٍ  قَالَ فَأْتِ بِهِ إِنْ كُنْتَ مِنَ الصَّادِقِين)
 
Fir'aun berkata: "Bukankah kami telah mengasuhmu diantara {keluarga} kami diwaktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal diantara {keluarga} kami beberapa tahun dari umurmu. dan kamu telah berbuat sesuatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas jasa." Berkata Musa: "Aku telah melakukannya sedang aku diwaktu itu termasuk orang-orang yang khilaf Lalu aku lari meninggalkan kamu ketika aku takut kepada kamu, kemudian Tuhanku memberikan kepadaku ilmu serta Dia menjadikan aku salah seorang diantara rasul-rasul. Budi yang kamu limpahkan kepada ku ini adalah {disebabkan} perhambaan darimu terhadap Bani Isra'il." Fir'aun bertanya: "Apa Tuhan semesta alam itu?". Musa menjawab: "Tuhan pencipta langit dan bumi dan apa yang diantara keduanya {itulah Tuhanmu} jika kamu sekalian {orang-orang} mempercayainya". Berkata Fir'aun kepada orang-orang sekelilingnya: "Apakah kamu tidak mendengarkan?". Musa berkata: "Tuhan kamu dan Tuhan nenek-nenek moyang kamu yang dahulu" Fir'aun berkata: "Sesungguhnya Rasulmu yang diutuskan kepada kamu sekalian benar-benar orang gila". Musa berkata: "Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya {itulah Tuhanmu} jika kamu mempergunakan akal". berkata: "Sungguh jika kamu menyenbah Tuhan selain aku benar-benar aku akan menjadikan kamu salah seorang yang dipenjarakan". Musa berkata: "Dan apakah kamu {akan melakukan itu} walaupun aku tunjukkan kepadamu sesuatu {keterangan} yang nyata jika kamu adlah termasuk orang-orang yang benar." { Asy-Syura : 18 -31 }
 
Kisah Mujadalah (dialog) Musa dengan Fir'aun
 
Pada suatu kesempatan, Musa dan Harun menemui raja Fir'aun yang menyatakan dirinya sebagai Tuhan itu, setelah menempuh beberapa rintangan yang lazim dilampaui oleh orang yang ingin bertemu dengan Raja pd waktu itu. Pertemuan Musa dan Harun dengan Fir'aun dihadiri pula oleh beberapa anggota pemerintahan dan para penasihatnya.

Mujadalah (dialog) Musa dengan Fir'aun

Bertanya Fir'aun kepada mereka berdua:: "Siapakah kamu berdua ini?"
 
Musa menjawab: "Kami, Musa dan Harun adalah pesuruh Allah kepadamu agar engkau membebaskan Bani Isra'il dari perhambaan dan penindasanmu dan menyerahkan mereka kepada kami agar menyembah kepada Allah dengan leluasa dan menghindari siksaanmu."
 
Fir'aun yang segera mengenal Musa berkata kepadanya: "Bukankah engkau adalah Musa yang telah kami mengasuhmu sejak masa bayimu dan tinggal bersama kami dalam istana sampai mencapai usia remajamu, mendapat pendidikan dan pengajaran yang menjadikan engkau pandai? Dan bukankah engkau yang melakukan pembunuhan terhadap diri seorang (orang qibthi) dari golongan kami? Sudahkah engkau lupa itu semuanya dan tidak ingat akan kebaikan dan jasa kami kepada kamu?"
 
Musa menjawab: "Bahwasanya engkau telah memeliharakan aku sejak masa bayiku, itu bukanlah suatu jasa yang dapat engkau banggakan. Karena jatuhnya aku ke dalam tangan mu adalah akibat kekejaman dan kezalimanmu tatkala engkau memerintah agar orang-orangmu menyembelih setiap bayi-bayi laki yang lahir, sehingga ibu terpaksa membiarkan aku terapung di permukaan sungai Nil di dalam sebuah peti yang kemudian dipungut oleh isterimu dan selamatlah aku dari penyembelihan yang engkau perintahkan. Sedang mengenai pembunuhan yang telah aku lakukan itu adalah akibat godaan syaitan yang menyesatkan, namun peristiwa itu akhirnya merupakan suatu rahmat dan barakah yang terselubung bagiku. Sebab dalam perantauanku setelah aku melarikan diri dari negerimu, Allah mengurniakan aku dengan hikmah dan ilmu serta mengutuskan aku sebagai Rasul dan pesuruh-Nya. Maka dalam rangka tugasku sebagai Rasul datanglah aku kepadamu atas perintah Allah untuk mengajak engkau dan kaummu menyembah Allah dan meninggalkan kezaliman dan penindasanmu terhadap Bani Isra'il."
 
Fir'aun bertanya: "Siapakah Tuhan yang engkau sebut-sebut itu, hai Musa? Adakah Tuhan di atas bumi ini selain aku yang patut di sembah dan dipuja?"
 
Musa menjawab: "Ya, yaitu Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu serta Tuhan seru sekalian alam."
 
Tanya Fir'aun: "Siapakah Tuhan seru sekali alam itu?"
 
Musa menjawab: "Ialah Tuhan langit dan bumi dan segala apa yang ada antara langit dan bumi." Berkata Fir'aun kepada para penasihatnya dan pembesar-pembesar kerajaan yang berada disekitarnya. Sesungguhnya Rasul yang diutuskan kepada kamu ini adalah seorang yang gila kemudia ia balik bertanya kepada Musa dan Harun: "Siapakah Tuhan kamu berdua?"
 
Musa menjawab: "Tuhan kami ialah Tuhan yang telah memberikan kepada tiap-tiap makhluk sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberi petunjuk kepadanya."
 
Fir'aun bertanya: "Maka bagaimanakah keadaan umat-umat yang dahulu yang tidak mempercayai apa yang engkau ajarkan ini dan malahan menyembah berhala dan patung-patung?"
 
Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu ada di sisi Tuhanku. Jika Dia telah menurunkan azab dan seksanya di atas mereka maka itu adalah karena kecongkakan dan kesombongan serta keengganan mereka kembali ke jalan yang benar. Jika Dia menunda azab dan seksa mereka hingga hari kiamat, maka itu adalah kehendak-Nya yang hikmahnya kami belum mengetahuinya. Allah telah mewahyukan kepada kami bahwa azab dan seksanya adalah jalan yang benar."
 
Fir'aun yang sudah tidak berdaya menolak dalil-dalil Nabi Musa yang diucapkan secara tegas dan berani merasa tersinggung kehormatannya sebagai raja yang telah mempertuhankan dirinya lalu menujukan amarahnya dan berkata kepada Musa secara mengancam: "Hai Musa! jika engkau mengakui Tuhan selain aku, maka pasti engkau akan kumasukkan ke dalam penjara."

belajar dari kisah nabi musa dan kesombongan fir'aun

Musa menjawab: "Apakah engkau akan memenjarakan aku walaupun aku dapat memberikan kepadamu tanda-tanda yang membuktikan kebenaran dakwahku?"
 
Fir'aun menentang dengan berkata: "Datanglah tanda-tanda dan bukti-bukti yang nyata yang dapat membuktikan kebenaran kata-katamu jika engkau benar-benar tidak berdusta." [3]
 
Unsur-Unsur Dalam Kisah Mujadalah (dialog) antara Musa dengan Fir'aun
 
Targhib : pahala dan pertolongan akan meliputi para penyeru kebenaran. Kisah tersebut memberikan motivasi bagi kita agar senantiasa mantap dan berani menghadapi ancaman apapun karena pertolongan allah senantiasa meliputi orang-orang yang yakin akan kekuasaan-Nya.
 
Tarhib : ancaman dan siksaan telah menunggu bagi mereka yang congkak dan sombong yang menganggap dirinya adalah segala-galanya. Karena kesombongan Firaun pada kisah tersebut pada akhirnya ia dibinasakan allah dengan ditenggelamkan ke dalam laut.
 
Tuntunan : amar makruf nahi munkar tidaklah memandang siapa yang kita dakwahi. Siapapun itu kita tetap berkewajiban jika melihat kemungkaran merajalela. Dalam kisah tersebut, meskipun Musa di waktu kecilnya di bawah pengasuhan fir’aun akan tetapi itu tidak menghalanginya untuk mendakwahkan kebenaran.
 
Dialog : kisah di atas padat dengan dialog antara Musa beserta Harun dan Fir’aun
 
Mauidhah : sabar dan tawakal dalam berdakwah
 
Amtsal : Tidak ada amtsal pada ayat di atas
 
Pelajaran yang Dapat Diambil dari Mujadalah (dialog) antara Musa dengan Fir'aun
 
Kasih sayang allah terhadap ibu Nabi Musa as. Di antara tanda-tanda kasih sayang tersebut :
  1. Allah memberikan ilham kepada ibunda Nabi Musa, sehingga dengan cara itu allah menyelamatkan anak kesayangannya yang dibawa arus sungai nil.
  2. Allah menyampaikan berita gembira bahwa dia akan mengembalikan sang anak ke pangkuan ibundanya lagi
  3. Allah telah mengharamkan air susu wanita-wanita penyusu lainnya masuk ke mulut anaknya yakni sang bayi, padahal dia membutuhkan air susu tersebut Bahwa tanda-tanda yang diberikan oleh allah dan pelajaran yang dapat diambil dari umat-umat terdahulu hanya bisa diraih oleh orang-orang yang beriman Bahwa bila allah menghendaki sesuatu, allah akan menyediakan sebab-sebabnya dan akan mendatangkannya secara bertahap, bukan sekaligus.
  4. Kecongkakan atau kesombongan adalah salah satu sumber kebinasaan seseorang
 
Doa Nabi Musa Dimudahkan Segala Urusan, Fasih Tutur Kata dan Tercapai segala Hajat
 
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي  وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي  وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي
 
Wahai Tuhanku, lapangkanlah bagiku, dadaku; dan mudahkanlah bagiku, tugasku; dan lepaskanlah simpulan dari lidahku, Supaya mereka faham perkataanku"
 
Daftar Rujukan
 
Ibn Katsir, Qishas al-Anbiya’, (Kairo : Dar al-Ta’lif, 1388 H/1968 M)
 
Al-Thabari, Jami’ al-Bayan Fi Ta’wil al-Quran, (Beirut : Muassasah al-Risalah, 1420 H/2000 M)
 
Kata ‘dhalal’ di atas bermakna ‘al-jahl’. Orang arab biasa menggunakan kedua kata ini satu sama lain bergantian makna. Misalnya, ketika dikatakan قد جهل فلان الطريق maknanya adalah ضل الطريق (Al-Thabari, Jami’ al-Bayan Fi Ta’wil al-Quran, (Beirut : Muassasah al-Risalah, 1420 H/2000 M), juz 19 hal.341)
 
Ibn Katsir, Qishas al-Anbiya’, (Kairo : Dar al-Ta’lif, 1388 H/1968 M), juz 2 hal. 32
 
(Surah TaHa : Ayat 25-28)
 
Makalah Mujadalah (dialog) Musa dengan Fir'aun ditulis oleh Fatkhur Rokhim (PUTM angkatan IX)