Aqidah dalam Memahami Zat dan Sifat Allah

Advertisement
Tongkronganislami.net,- Umat Islam adalah umat yang berbeda dari umat agama lain yang ada di bumi ini. Islam sebagai agama mengajarkan berbagai hal kepada pemeluknya, mulai dari hubungan antara manusia dengan sang Khalik, manusia dengan sesama manusia sampai kepada hubungan manusia dengan hewan, tumbuhan dan lingkungan sekitarnya. Islam tidak mengenal kasta/pengelompokkan manusia berdasarkan strata sosial. Di dalam Islam semua makhluk sama, yang membedakan hanya iman dan taqwa.

Seseorang tidak akan memperoleh iman jika menjalankan syari’at agama Islam dengan akidah yang salah. Karena akidah adalah kunci dari keimanan, tidak hanya sekedar tahu tentang iman tapi harus mengerti dengan hakikatnya. Iman yang mampu membersihkan akidah manusia dari kotoran kesesatan, debu-debu syirik dan daki-daki keberhalaan adalah iman yang mengandung keyakinan akan keesaan Allah, Sang Khalik, Pencipta alam semesta. Iman mengandung pula pandangan yang lengkap mengenai kehidupan dunia dan akhirat, serta termuat keuniversalan dakwahnya.[1] 

A.   Aqidah dalam Memahami Zat dan Sifat Allah

Telah disinggung dalam bab sebelumnya bahwa dalam memahami zat dan sifat Allah tidak terlepas dari akidah yang benar. Akidah yang bisa memahami dan menerima hakikat keesaan Allah Swt. Oleh karena itu, penulis mencoba memasukkan pembahasan mengenai akidah ke dalam karya tulis ini. Berikut penjelasan umum mengenai akidah.

Aqidah secara bahasa diambil dari kata aqada. Dikatakan: 

 عقدت الحبل والبيع والعهد فانعقد ، واعتقد الشيء أي اشتد وصلب ، واعتقد كذا بقلبه ، والمعاقدة : المعاهدة .

Dilaksanakan hubungan jual-beli dan perjanjian, maka terlaksanalah perjanjian. واعتقد الشيء artinya: kuat dan keras. واعتقد كذا بقلبه, terlaksana dengan hatinya (yakin). والمعاقدة : المعاهدة, artinya: perjanjian.

Secara istilah, aqidah diartikan dengan suatu hal yang dikerjakan dengan kesungguhan/keyakinan, berhubungan dengan agama.
         
واصطلح على إطلاق " العقيدة " على ما يعمله الشخص ويعتقده بقلبه من أمور الدين .

Aqidah disebut juga dengan ushul al-din dan  tauhid, karena masalah terbesar yang dibahas mengesakan Allah ‘azza wa jalla dalam zat, nama, sifat, af’al dan penyembahan-Nya. Aqidah juga disebut dengan iman karena mencakup 6 rukun iman yaitu iman kepada Allah, malaikat, kutub, rusul-Nya, hari akhir dan Qadar baik maupun buruk.

ويطلق على هذا العلم أيضا " أصوsل الدين " لأن غيره ينبني عليه و" التوحيد " لأن أعظم مسائله مسألة توحيد الله - عز وجل - في ذاته وأسمائه وصفاته وأفعاله وعبادته ، و" الإيمان " حيث أجاب الرسول - صلى الله عليه وسلم - جبريل - عليه السلام - لما سأله عن الإيمان بذكر الأصول الستة ، وهي الإيمان بالله ، وملائكته ، وكتبه ، ورسله ، واليوم الآخر ، والقدر خيره وشره .[2]

Zat Allah Swt

Allah Swt mempunyai zat yang berbeda dari makhluk-Nya. Tidak ada satupun dari zat Allah yang menyamai zat makhluk-Nya. Hal ini dijelaskan dalam QS. Asy-Syura: 11

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.

Sebagai makhluk, manusia diberi Allah kemampuan untuk berpikir dan mempelajari apapun yang yang telah diciptakan Allah swt. Akan tetapi kemampuan manusia tersebut tetap diberi batasan oleh Allah Swt. Seperti yang  disabdakan Rasulullah Saw:

تفكروا في خلق الله و لا تتفكروا في الله فإنكم لن تقدروا قدره

“Pikirkanlah ciptaan Allah, jangan kau memikirkan dzat Allah, karena kamu tidak akan dapat menjangkau-Nya.”

Hadis di atas melarang kita untuk memikirkan zat-Nya. Karena kita sebagai manusia memiliki keterbatasan untuk memikirkan zat Allah tersebut. Oleh karena itu sudah pasti kita tidak akan mampu.

Selanjutnya dijelaskan dalam hadis,

بالسند المتصل إلى ثقة الإسلام محمد بن يعقوب الكيني عن علي بن إبراهيم عن محمد بن خالد الطياليس عن صفوان بن يحيى عن إبن مسكان عن أبي بصيرة قال : سمعت أبا عبد الله عليه السلام يقول : لم يزل الله عز و جل ربنا و العلم ذاته و لا معلوم و السمع ذاته و لا مسموع و البصر ذاته ولا مبصر و القدرة ذاته ولا مقدور. فلما أحدث الأشياء و كان المعلوم وقع العلم منه على المعلوم و السمع على المسموع و البصر على المبصر و القدرة على المقدور قل : قلت : فلم يزل الله متحركا ؟ قال : فقال : تعالى الله عن ذالك إن الحركة صفة هحدثة بالفعل قال : فقلت : فلم يزل الله متكلما ؟ قال : فقال : إن الكلام صفة محدثة ليست بأزلية كان الله عز وجل و لا متكلم[3]

“Saya mendengar Imam Abu ‘Abdullah berkata, “Selamanya Allah ‘Azza wa jalla adalah Tuhan kita, Mengetahui adalah Zat-Nya dan bukan objek pengetahuan. Mendengar adalah zat-Nya bukan objek pendengaran, dan melihat adalah zat-Nya dan bukan objek penglihatan, dan berkuasa adalah zat-Nya dan bukan objek kekuasaan. Ketika Dia menciptakan segala sesuatu dan semuanya itu adalah objek pengetahuan, terjadilah pengetahuan atas objek pengetahuan itu, pendengaran atas yang didengar, penglihatan atas yang dilihat, kekuasaan atas yan dikuasai. Saya bertanya kepada beliau, “kalau begitu, apakah Allah selamanya bergerak? Beliau menjawab:MAha Tinggi Allah dari hal itu. Gerak adalah sifat yang baru (yang ditambahkan) pada perbuatan. Saya bertanya pula, “kalau begitu, apakah Allah selamanya berbicara? Beliau menjawab, “Kalam adalah sifat yang baru dan buakan azali Allah ada dan Dia bukan sesuatu yang berbicara.”

Dalam Shahih Muslim, Bab Iman, hadis no 263, dijelaskan juga gambaran zat Allah Subhanahu wa ta’ala sebagai berikut:

 صحيح مسلم , كتاب الإيمان : 263
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ حَدَّثَنَا الْأَعْمَشُ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَنَامُ وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّورُ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ النَّارُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ وَفِي رِوَايَةِ أَبِي بَكْرٍ عَنْ الْأَعْمَشِ وَلَمْ يَقُلْ حَدَّثَنَا حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا جَرِيرٌ عَنْ الْأَعْمَشِ بِهَذَا الْإِسْنَادِ قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِأَرْبَعِ كَلِمَاتٍ ثُمَّ ذَكَرَ بِمِثْلِ حَدِيثِ أَبِي مُعَاوِيَةَ وَلَمْ يَذْكُرْ مِنْ خَلْقِهِ وَقَالَ حِجَابُهُ النُّورُ

Dalam hadis di atas dijelaskan hakikat dari zat Allah Swt dengan menyebutkan lima hal. Pertama, bahwa Allah Swt tidak tidur dan tidak pantaslah bagi Allah untuk tidur karena tidur itu memang mustahil bagi hak-Nya. Kedua, Allah Swt merendahkan dan meninggikan keadilan dengan mizan (timbangan). Allah akan menimbang amalan-amalan hamba-Nya, ada kalanya timbangan seorang hamba tinggi (baca: berat) pahalanya, rendah (baca: sedikit) dosanya, serta sebaliknya. Ketiga, Allah swt mampu mempercepat datangnya malam sebelum siang berakhir dan sebaliknya. Keempat, Hijab Allah swt adalah cahaya, sehingga tidak mampu manusia melihat-Nya kecuali pada waktu yang ditentukan Allah. Kelima, Allah melihat apapun tanpa batas.

Hadis di atas menerangkan bahwa Allah Swt mampu menundukkan sesuatu. Allah bisa mendatangkan malam sebelum siang, dan sebaliknya. Dan Allah menciptakan batasan (hijab) antara siang dan malam itu berupa cahaya. Begitulah gambaran zat Allah dalam hadis ini.

Berikutnya hadis dalam Sunan Ibnu Majah, Kitab Muqaddimah, no. 191

سنن إبن ماجه ,كتاب المقدمة : 191
حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ عَمْرِو بْنِ مُرَّةَ عَنْ أَبِي عُبَيْدَةَ عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ قَامَ فِينَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِخَمْسِ كَلِمَاتٍ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ لَا يَنَامُ وَلَا يَنْبَغِي لَهُ أَنْ يَنَامَ يَخْفِضُ الْقِسْطَ وَيَرْفَعُهُ يُرْفَعُ إِلَيْهِ عَمَلُ اللَّيْلِ قَبْلَ عَمَلِ النَّهَارِ وَعَمَلُ النَّهَارِ قَبْلَ عَمَلِ اللَّيْلِ حِجَابُهُ النُّورُ لَوْ كَشَفَهُ لَأَحْرَقَتْ سُبُحَاتُ وَجْهِهِ مَا انْتَهَى إِلَيْهِ بَصَرُهُ مِنْ خَلْقِهِ

Dalam Shahih Muslim, Kitab Iman, hadis no.261

صحيح مسلم , كتاب الإيمان : 261
حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ يَزِيدَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هَلْ رَأَيْتَ رَبَّكَ قَالَ نُورٌ أَنَّى أَرَاهُ

Sifat Allah Swt

Dengan memperhatikan alam semesta beserta seluruh makhluk yang ada padanya maka seorang muslim mendapat petunjuk bahwa alam semesta ini memiliki pencipta yang mewujudkannya, yang bersifat dengan segala sifat kesempurnaan dan maha suci dari sifat kekurangan.

Adapun mengenai sifat Allah Swt. banyak penjelasannya dalam hadis Nabi Saw. seperti:

سنن أبي داود, كتاب السنة : 4088
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ أَبِي بِشْرٍ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ سُئِلَ عَنْ أَوْلَادِ الْمُشْرِكِينَ فَقَالَ اللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا كَانُوا عَامِلِينَ

Hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu ‘Abbas di atas menceritakan keadaan anak-anak orang musyrik. Rasulullah Saw menegaskan bahwa Allah Swt sangat mengetahui apa yang mereka lakukan.       

  Allah mendengar

صحيح البخاري, كتاب التوحيد: 6967 
حَدَّثَنَا الْحُمَيْدِيُّ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا مَنْصُورٌ عَنْ مُجَاهِدٍ عَنْ أَبِي مَعْمَرٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ اجْتَمَعَ عِنْدَ الْبَيْتِ ثَقَفِيَّانِ وَقُرَشِيٌّ أَوْ قُرَشِيَّانِ وَثَقَفِيٌّ كَثِيرَةٌ شَحْمُ بُطُونِهِمْ قَلِيلَةٌ فِقْهُ قُلُوبِهِمْ فَقَالَ أَحَدُهُمْ أَتَرَوْنَ أَنَّ اللَّهَ يَسْمَعُ مَا نَقُولُ قَالَ الْآخَرُ يَسْمَعُ إِنْ جَهَرْنَا وَلَا يَسْمَعُ إِنْ أَخْفَيْنَا وَقَالَ الْآخَرُ إِنْ كَانَ يَسْمَعُ إِذَا جَهَرْنَا فَإِنَّهُ يَسْمَعُ إِذَا أَخْفَيْنَا فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى وَمَا كُنْتُمْ تَسْتَتِرُونَ أَنْ يَشْهَدَ عَلَيْكُمْ سَمْعُكُمْ وَلَا أَبْصَارُكُمْ وَلَا جُلُودُكُمْ الْآيَةَ
Hadis di atas menceritakan bahwa Allah Swt mendengar apapun baik itu perkataan yang jahar (keras) maupun perkataan yang khafi (pelan).

Allah berbicara

صحيح البخاري, كتاب الجنائز : 1275 
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا خَالِدٌ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ ثَابِتِ بْنِ الضَّحَّاكِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ حَلَفَ بِمِلَّةٍ غَيْرِ الْإِسْلَامِ كَاذِبًا مُتَعَمِّدًا فَهُوَ كَمَا قَالَ وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ عُذِّبَ بِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ وَقَالَ حَجَّاجُ بْنُ مِنْهَالٍ حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ حَازِمٍ عَنْ الْحَسَنِ حَدَّثَنَا جُنْدَبٌ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ فِي هَذَا الْمَسْجِدِ فَمَا نَسِينَا وَمَا نَخَافُ أَنْ يَكْذِبَ جُنْدَبٌ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كَانَ بِرَجُلٍ جِرَاحٌ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَقَالَ اللَّهُ بَدَرَنِي عَبْدِي بِنَفْسِهِ حَرَّمْتُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

Di dalam surat albaqarah : 255 setidaknya mencakup sepuluh makna tentang Zat dan Sifat Allah secara terpadu dan berkesinambungan

QS. Al-Baqarah ayat 255:

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar.

Makna-makna tersebut yaitu:[4]

a. “ Allah, tidak ada Tuhan selain Dia...” Di alam ini tidak ada seorangpun yang dapat menyamai, apalagi melampaui kedudukan-Nya. Segala sesuatu selain-Nya adalah hamba-Nya. Dialah sendiri yang mempunyai sifat-sifat ketuhanan.

Jika ada yang menyatakan bahwa dirinya tuhan, pastilah ia berdusta. Jika ada seseorang yang disebut orang-orang sebagai tuhan, tentulah mereka berdusta. Sejarah manusia mencatat bahwa mereka pernah menjadikan benda-benda mati dan hewan-hewan sebagai tuhan. Zaman ketika mereka menjadikan makhluk sebagai tuhan-tuhan adalah zaman kemerosotan nalar dan mental. Namun, hingga sekarang masih saja ada orang-orang yang menjadikan orang-orang saleh sebagai tuhan-tuhan bersama Allah, dengan dalih bahwa orang-orang saleh itu adalah manusia-manusia pilihan-Nya, atau bahwa Allah bersemayam pada diri mereka. Islam memerangi kesesatan semacam ini dengan sangat gencar, seraya menegaskan bahwa manusia mustahil mencapai derajat ketuhanan. Allah Yang Maha Tinggi lagi Maha Agung juga mustahil turun derajatnya ke derajat kemanusiaan.

kemudian mereka mengambil tuhan-tuhan selain daripada-Nya (untuk disembah), yang tuhan-tuhan itu tidak menciptakan apapun, bahkan mereka sendiri diciptakan dan tidak Kuasa untuk (menolak) sesuatu kemudharatan dari dirinya dan tidak (pula untuk mengambil) suatu kemanfaatanpun dan (juga) tidak Kuasa mematikan, menghidupkan dan tidak (pula) membangkitkan. QS. Al-Furqan: 3

b. “Yang hidup Kekal lagi terus-menerus mengurus makhluk-Nya…” Hidup merupakan anugerah yang diberikan kepada makhluk hidup. Hidup adalah pemberian yang suatu waktu pasti berpisah dari mereka. Hidup tidak akan kembali kepada mereka kecuali atas kehendak yang memberikannya, yakni Sang Pemberi, Yang Maha Hidup, yang tidak ada permulaan dan akhir bagi hidup-Nya. Hidup merupakan sifat yang terus selalu bersama-Nya. Itulah beda antara hidup Sang khalik dan hidup para makhluk-Nya. Allah berfirman, “ Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka akan mati (pula)” (QS.al-Zumar: 30). Yang hidup abadi selamanya hanyalah Allah.

Karena hidup ini adalah titipan, yang suatu saat sakan dipungut kembali, maka allah--Yang memberikan kehidupan kepada segenap makhluk-Nya—menyatakan bahwa mereka sangat membutuhkan-Nya. Sedangkan Dia sendiri Mahakaya, tidak membutuhkan apa pun dan siapa pun. Bahkan, Allah selalu memerhatikan setiap jiwa dan seluruh isi langit dan bumi.

Kata al-qayyum pada ayat kursi di atas menunjukkan tingkat pemeliharaan dan perhatian yang sangat tinggi, pemeliharaan dan perhatian yang mustahil teledor dari Sang Khalik. Semua makhluk tidak mungkin berjalan di luar garis yang telah ditentukan-Nya. Keberadaan, keadaan, dan gerak-gerik segala sesuatu bersandar kepada wujud Yang Maha Tinggi itu. “Sesungguhnya Allah menahan langit dan bumi supaya jangan lenyap; dan sungguh jika keduanya akan lenyap tidak ada seorangpun yang dapat menahan keduanya selain Allah.”
QS. Fathir: 41

c. “Tidak mengantuk dan tidak tidur.” Manusia pasti tak luput dari saat-saat lalai dan kehilangan kesadaran akan diri sendiri dan hal-hal di sekitarnya. Bahkan, saat kita baru bangkit dari tidur pun terkadang kesadaran dan konsentrasi kita tentang apa yang terpikirkan dan apa yang ada di sekitar masih kabur. Saat kantuk menyerang, perhatian dan konsentrasi kita pun menjadi lemah. Jauh berbeda halnya dengan tuhan semesta alam. Suatu urusan tak pernah mengganggu konsentrasi-Nya terhadap urusan yang lain. Dia tidak pernah lalai mengurus langit gara-gara mengurus bumi.

d. “Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan bumi.” Seluruh ala mini milik Allah semata. Semua yang dianggap sekutu-Nya oleh orang-orang bodoh tidaklah memiliki saham secuilpun dari langit dan bumi. Berhala-berhala dan manusia-manusia yang dianggap sebagai sekutu Allah sepenuhnya dalam genggaman kekuasaan Allah.

e. “ Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya.”  Tidak ada syafa’at bagi orang musyrik dan orang yang tak meyakini keberadaan Tuhan. Allah berfirman, “Sesungguhnya Telah kafirlah orang-orang yang berkata: "Sesungguhnya Allah ialah Al masih putera Maryam", padahal Al masih (sendiri) berkata: "Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu". Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” QS. Al-Maidah : 72

f. “Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka.” Tidak ada sesuatu pun yang samar bagi-Nya, di langit ataupun di bumi. Kemarin, sekarang, atau esok, bagi-Nya sama saja.

g. “Dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya.” Semua ilmu pengetahuan bersumber dari kehendak Sang Khalik. Ilmu yang kita peroleh dari pendengaran dan penglihatan pun sebenarnya berasal dari Allah. Sebab, kalau saja Dia tidak melengkapi kita dengan akal sebagai alat berpikir, tentu kita tak akan mampu memahami apa di sekitar kita, yang terlihat ataupun terdengar.

h. “Kursi Allah meliputi langit dan bumi.” Yang segera muncul di benak kita adalah bahwa langit dan bumi merupakan batas ‘kerajaan” Tuhan. Persepsi seperti ini jelas keliru. Langit dan bumi hanyalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya. Pada ayat lain, Allah berfirman,

Di antara (ayat-ayat) tanda-tanda-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan makhluk-makhluk yang melata yang dia sebarkan pada keduanya. dan dia Maha Kuasa mengumpulkan semuanya apabila dikehendaki-Nya.

i. “Allah tidak merasa berat menjaga keduanya.” Allah tidak pernah merasa keberatan atau  kerepotan dalam menjaga langit dan bumi serta dalam mengatur urusan yang berkaitan dengan keduanya. Seperti halnya Dia tidak merasa kesulitan ketika mengadakan penciptaan awal. Inilah isi bunyi ayat,

Dan langit itu kami bangun dengan kekuasaan (kami) dan Sesungguhnya kami benar-benar berkuasa.

j.“Dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Agung.” Di sini, rangkaian kata sebelumnya ditutup dengan penyebutan dua nama dari nama-nama indah-Nya. Penutupan ayat dengan penyebutan sifat al-‘ali (Yang Maha Tinggi) dan al-‘azhim (Yang Maha Agung) sangat terkait dengan keseluruhan konteks ayat ini yang mengutarakan ketinggian dan keagungan Allah. 

PENUTUP

Dalam memahami Zat dan sifat Allah Swt perlu adanya keyakinan tentang hakikat keesaan Allah Swt. Keyakinan tersebut bisa didapat melalui akidah yang benar. Karena dalam akidah yang benar terdapat pemahaman yang benar juga. Dalil-dalil dari hadis Nabi yang penulis kemukakan dalam makalah ini mencakup gambaran Zat dan sifat Allah secara umumnya. Hadis tersebut juga berhubungan dengan kehidupan manusia kesehariannya dan menerangkan hubungan manusia dengan Sang Khalik. 

DAFTAR PUSTAKA
- Abdul Halim Mahmud, Ali. 1996. Karakteristik Umat Terbaik : Telaah Manhaj,Akidah dan - -Harakah Jakarta: Gema Insani Press.
- Al-Ghazali, Muhammad. 2003. Selalu Melibatkan Allah. Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta.
- CD Maktabah Syamilah. Islamic Global Software.
- CD Mausu’ah al-Hadits al-Syarif
- Khomeini, Imam. 2004.  40 Hadis : Telaah atas Hadis-hadis Mistis dan Akhlak. Bandung: Penerbit Mizan.


[1] Ali Abdul Halim Mahmud, Karakteristik Umat Terbaik, (Jakarta: Gema Insani Press, 1996), hlm.21
[2] Muhammad bin’Audah as-Sa’awi, Risalah fi asas al-aqidah dalam Maktabah Syamilah. Islamic             Global Software
[3] Imam Khomeini, 40 Hadis : Telaah atas Hadi-hadis Mistis dan Akhlak (Bandung: Penerbit Mizan, 2004), hlm.738
[4] Muhammad Al-Ghazali, Selalu Melibatkan Allah (Jakarta: PT Serambi Ilmu Semesta, 2003), hlm.24




0 Response to "Aqidah dalam Memahami Zat dan Sifat Allah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!