Hadis Zuhud dan Pemahaman al-Ghazali dalam Kitab Ihya ‘Ulumiddin

Advertisement
A.   Latar Belakang

Tongkronganislami.net,- Trilogi ajaran Islam (akidah, syari’at dan ahlak) secara umum dipandang sebagai pokok ajaran Islam. Akidah mengajarkan keimanan dan keyakinan yang akan dijadikan sebagai landasan pandangan hidup, syari’at (hukum Islam) mengajarkan pola hidup beraturan dalam suatu tatanan hukum komprehensif, dan akhlak menyadarkan muslim atats segala tindakan bermoral yang dilakukannya.[1] Akan tetapi ketiga, ketiga ajaran pokok itu belum menyentuh aspek spritual yang lebih dalam pada diri manusia, karena ketiga ajaran itu senantiasa lebih menitik beratkan pendekatan rasional terhadap al-Qur’an dan al-Hadis, sehingga terkesan hanya hanya dapat memenuhi kepuasan rasio daripada kepusan rohani. Oleh sebab itu muncul upaya melakukan pendekatan rohaniah atas kandungan al-Qur’an al-Hadis yang nantinya melahirkan ajaran spiritual yakni tasawuf, dalam dunia barat biasa disebut sufisme.[2]

Tasawuf merupakan salah satu aspek (esoteris) Islam, sebagai refleksi dari ihsan yang berarti kesadaran adanya komunikasi dan dialog langsung seorang hamba dengan Tuhan-Nya. Esensi Tasawuf sebenarnya telah ada sejak masa kehidupan Rasulullah saw, namun Tasawuf sebagai ilmu keislaman adalah hasil kebudayaan Islam sebagaimana ilmu –ilmu keislaman lainnya seperti fiqih dan ilmu tauhid. Pada masa Rasulullah belum dikenal istilah tasawuf, yang dikenal pada waktu itu hanyalah sebutan sahabat nabi.

Munculnya istilah tasawuf baru dimulai pada pertengahan abad III Hijriyyah oleh abu Hasyimal-Kufi (w. 250 H.) dengan meletakkan al-Sufi dibelakang namanya. Dalam sejarah islam sebelum timbulnya aliran tasawuf, terlebih dahulu muncul aliran zuhud. Aliran zuhud timbul pada akhir abad I dan permulaan abad II Hijriyyah.

Zuhud adalah proses spiritual supaya seseorang tidak cinta buta kepada dunia. Karena, kesenangan atau kecintaan terhadap dunia akan menjadi tirai antara diri manusia dengan Allah SWT. Yang dilarang itu hubb al-dunya (mencintai dunia), bukan memiliki dunia. Karena hubb al-dunya itu awwalu al-fitan (ujian yang pertama). Dan orang yang menjadikan dunia ini di depannya, maka dunia akan menjadi tirai bagi dia dengan Allah SWT. Seharusnya dunia diposisikan di belakang, bukan di depan manusia. Allah SWT, manusia, baru dunia di belakangnya. Dunia, seharusnya dijadikan sebagai kendaraan belaka. Jangan dunia dulu, akhirat, surga, baru Allah SWT. Ini satu kesalahan luar biasa yang menyebabkan kita terhijab terus-menerus dengan Allah SWT. Mengapa dunia tidak boleh menjadi tujuan? “Dunia itu mata’ al-ghurur (menipu, red.). Pesonanya akan menghantar pada syahwat”, dunia itu hina, kotor, gelap dan sebagainya. Lebih-lebih dalam hadis Nabi Saw yang menegaskan bahwa yang bertakwa adalah orang yang zuhud dunia. Hal ini sebagaimana dalam sebuah matan hadis:

اذا اراد الله بعبد خيرا زهده في الد نيا ورغبه في الاخرة وبصره بعيوب نفسه

Jika Allah menghendaki seorang hamba itu baik, niscaya Allah menjadikan orang itu zuhud terhadap dunia, mencintai akhirat dan Allah memperlihatkan kepada hamba itu akan cacat dirinya.

Disisi lain, dunia dunia ini diciptakan Allah Swt, untuk manusia agar manusia bisa menjadikanya sebagai wasilah (perantara) dalam ‘ajang’ lomba taqarrub kepada Allah Swt, dan tentu saja kehidupan dunia tidak demikian bagi mereka yang percaya adanya hidup sesudah kehidupan dunia ini. Buat mereka kehiudpan dunia adalah perjuangan untuk meraih kesejahteraan lahir dan bathin, dunia dan akhirat, karena hidup bukan hanya berlanjut selama puluhan tahun semasa keberadaan di dunia tetapi Ia bersinambung sampai sampai ke akhirat, sampai masa yang tidak terhingga. Selanjutnya karena apa yang akan diperoleh di akhirat diukur dengan apa yang dilakukan dalam kehidupan dunia, maka dengan alasan ini bagi mereka kahidupan dunia sangatlah berarti bahkan berharga. Dunia adalah arena untuk melakukan amal shaleh yang sangat berperanan dalam kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam hal ini menarik apa yang ditulis Abdullah al-Seggaf: Habib seggaf:

Allah Swt berfirman:

Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ketika engkau mencari ridha allah bukan berarti engkau harus menyendiri inggat firman Allah diatas, ‘La Tansa Nashibaka Minaddunya’ janganlah kamu melupakan bagianmu didunia. Banyak orang yang ‘uzlah yang menghindari diri dari masyarakat, keramaian yang Ia katakan tipu daya dunia, untuk memperbaiki rohani, hal seperti ini Allah kurang suka karena urusan Ibadah bukan hanya urusan dengan Allah semata karena ada hak-hak  mahluk yang lain dalam diri kita (hablun min an-nas) namun, yang sebenarnya yang diinginkan Allah itu adalah ‘uzlah nafsiyah, u’zlah ruhaniyah bukanlah ‘uzlah fisik. Anda ditengah-tengah penghianatan, kekacau balauan moral namun tetap istiqomah, jujur hal seperti inilah yang disebut ‘uzlah nafsiyah, yakhtalitin walakin yatamayyazun (berbaur tapi tidak bercampur)[3]

Dengan melihat perjalanan arus dunia yang semakin hari semakin ‘ganas’ dalam mempertontonkan ke ‘bejatan’ moral manusia, dengan arus globalisasinya yang membutuhkan kekuatan dan keseimbangan jiwa  dalam menghadapi semua tantangan ini, namun yang menjadi pertanyaan adalah, apakah dalam masa ini pemaknaan zuhud sudah mengalami perubahan dari makna awal yakni meniggalkan dunia semata, atau bagaimanakah makna zuhud yang sebenarnya? Bagaimana hadis berbicara masalah dunia dan kepenatannya, serta bagaimana tawaran hadis dalam mengahadapi masalah dunia yang katanya tidak boleh dicintai?

Hadis Zuhud dan Pemahaman al-Ghazali dalam Kitab Ihya ‘Ulumiddin

Dalam penelitian ini, menarik untuk dikaji lebih jauh, bagaiamana pemahaman seorang Ulama al-Hujatul Imam al-Ghazali dalam menanggapi dan memahami hadis-hadis yang berkaitan dengan tema kajian ini, ‘zuhud dan cinta dunia’. Al-Ghazali yang pemikirannya dikatakan bersilang ilmu, filosof, ilmuwan, dan juga tidak kalah Ia juga adalah seorang sufi. Untuk itu dengan berdasarkan riwayat kehidupannya yang sangat berwarna “dunia-akhirat” ini dirasa akan memberikan informasi yang signifikan terhadap hasil penelitian ini.

Selanjutnya, dalam melihat dan mendalami pemikiran dan sekaligus pemahaman al-Ghazali mengenai hadis-hadis tentang zuhud dan cinta dunia ini, peneliti tertarik untuk meng ‘update’ kembali kitab klasik karya beliau yang tak tertandingi dan sangat berharga adalah Ihya’Ulumiddin. Yang ditulisnya setelah kembali dari masa ‘uzlahnya yang berkepanjangan, atau persisnya dikatakan setelah mencari hakikat kebenaran.

B. Rumusan dan Batasan Masalah

Bertitik tolak dari deskripsi dan paparan permasalahan di atas, maka konsentrasi penulis yang ingin dibahas dalam penelitian ini adalah :

Bagaimana pemikiran al-Ghazali tentang hadis-hadis Zuhud dan cinta dunia ?
Bagaimana implementasi pemikiran al-Ghazali dalam kononteks kekinian?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

Yang menjadi tujuan dalam penelitian ini adalah :
Pertama: Mendeskripsikan hadis-hadis yang berbicara tentang zuhud dan cinta dunia dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin
Kedua: mengetahui bagaimana pemahaman al-Ghazali terkait hadis-hadis yang berbicara masalah zuhud dan cinta dunia diatas
Adapun kegunaan dari penelitian ini adalah:
Untuk mengetahui bagaimana implementasi dan implikasi dari pemahaman al-Ghazali terhadap konsepsi zuhud dan cinta dunia berdasarkan hadis untuk konteks masa kini.

D. Tinjauan Pustaka

Berkaitan dengan tema penelitianini, penulis telah melakuakn penelitian serangkaian telaah terhadap beberapa literatur atau pustaka. Hal ini dimaksudkan untuk  melihat sejauh mana penelitian dan kajian yang telah dilakukan oleh peneliti yang lain, sehingga nantinya tidak terjadi pengulangan yang sama, untuk diangkat ke dalam sebuah tulisan skripsi. Dari hasil penelitian beberapa literatur yang bisa dipakai dalam penelitian ini diantaranya:

Mukasyafat al-Qulub karangan ulama’ yang sama. Dalam kitab ini terdapat beberapa bab yang juga menyinggung masalah tema penelitian ini yakni dalam bab Fi Bayan al-Zuhd, Tarki al-Dunya Wa Zimmiha, Fi al-Dunya wadzimmuha, dalam kitab ini al-Ghazali memaparkan bagaimana hinanya dunia serta kecelaan yang ada didalamnya.

Tanqilhul Qaul, yang merupakan kitab hadis karangan ulama pribumisasi indonesia yang bercorak tasawuf. Dalam kitab ini terdapat saru bab yang membahasa tentang Zuhud serta yang terkait dengannya.

Dari beberapa tinjauan telaah pustaka ini, juga terdapat bebearap tulisan mengenai zuhud dan cinta dunia yang berbentuk buku, skripsi (kaerya ilmiah,), artikel juga essai serta yang lainnya.

E.  Metode Penelitian

Setiap kegiatan ilmiah selalu memerlukan sebuah metode dengan maksud supaya kegiatan praktis terlaksana secara rasional, terarah dan mencapai hasil optimal.[4] Penelitian ini merupakan kajian pustaka murni (Library Research), karena sumber-sumber datanya semata-mata dari berbagai karya tulis, baik dari bentuk buku atau bentuk lain,[5] dengan cara dokumentasi. Dalam penelitian ini pengumpulan data yang digunakan adalah sumber utama dan sumber pendukung. Sumber utama berupa kitab yaitu Ihya Ulumiddin yang dikarang oleh al-Ghazali dan sumber pendukung adalah berasal dari literatur lain yang dianggap relevan yang berupa buku, majalah, jurnal ataupun yang lainnya.

Sedangkan metode yang akan digunakan penulis untuk menganalisa dalam penelitian ini adalah:

1. Kesinambungan historis, yang digunakan untuk mengetahui latar belakang eksternal yaitu keadaan zaman atau sosial budaya ketika kitab ini dikarang dan latar belakang internal yaitu riwayat hidup pengarang kitab, pendidikan dan kiprahnya di dunia pengetahuan Islam.

2. Deskriptif  yaitu metode dengan menggambarkan  isi kitab secara utuh, sistematis dan akurat.
Analisis yaitu dari data-data yang  diperoleh kemudian diteliti secara mendalam untuk mendapatkan kejelasan pemahaman terhadap permasalahan dengan menggunakan pendekatan ma’ani al-hadis[6]. Adapun langkah-langkah tersebut adalah sebagai berikut:

Kritik Historis, yaitu menentukan validitas dan otentitas hadis dengan menggunakan kaedah ke-shahih-an yang telah ditetapkan oleh para ulama hadis.

Kritik Eiditis, yaitu menjelaskan makna hadis setelah menentukan derajat otentisitas hadis. Tahapan ini memuat tiga langkah sebagai berikut : Pertama, analisis isi, yakni pemahaman terhadap muatan makna hadis melalui beberapa kajian, yaitu kajian linguistik, kajian tematis-komprehensif[7], dan kajian konfirmatif, yakni dengan melakukan konfirmasi makna yang diperoleh dari petunjuk-petunjuk al-Qur’an. Kedua, analisis realitas historis, yaitu memahami makna atau arti suatu pernyataan dengan melihat realitas, situasi atau problem historis di mana pernyataan sebuah hadis itu muncul, baik situasi makro maupun mikro. Ketiga, generalisasi, yaitu menangkap makna keseluruhan hadis yang terdapat dalam hadis tersebut.

Kritik Praksis, yaitu perubahan makna hadis yang diperoleh dari proses generalisasi kedalam realitas kehidupan sekarang, sehingga memiliki makna praktis bagi problematika masyarakat saat ini.

Idealisasi, dimaksudkan untuk mencari apa yang sebenarnya ingin di sampaikan oleh pengarang dengan semurni-murninya.[8]

F. Sistematika Pembahasan

Untuk memberi gambaran yang terarah dan jelas, maka penulis menyusun sistematika pembahasan sebagai berikut :

Bab Pertama pendahuluan. Bab ini adalah bab yang menjadi acuan dan pijakan untuk bab-bab berikutnya. Oleh karena itu dalam bab ini akan diuraikan hal-hal yang berkaitan dengan penulisan skripsi ini yang  meliputi : latar belakang masalah yang mengantarkan penulis pada alasan mengapa mengangkat masalah yang dimaksud, rumusan masalah untuk membatasi dan menegaskan masalah yang diangkat, tujuan dan kegunaan penelitian, tinjauan pustaka, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan.

Bab kedua adalah gambaran umum Kitab Ihya ‘Ulumiddin yang terdiri dari satu judul dan sub judul. Pertama berisi tentang tinjauan terhadap pengarang kitab dari segi biografi, dan tinjauan terhadap kondisi sosial budaya pada masa kitab ini ditulis.

Bab ketiga merupakan pemahaman tentang pemikiran al-Ghazali terhadap hadis-hadis dalam kitab Ihya’ ‘Ulumiddin dengan mengambil hadis-hadis yang membicarakan masalah zuhud baik dari keunutngan zuhud dan yang lainnya dan hadis-hadis yang menggambarkan dan berkaitan dengan hub al-Duniya (cinta dunia). Yang meliputi redaksional hadis beserta syarahnya dan atau pemahaman dari pengarang se4ndiri, al-Ghazali.

Selanjutnya, dalam penelitian ini adanya penerapan aktualisasi dari pemahaman hadis-hadis al-Ghazali diatas, yang berbentuk aplikasi dan implementasi dari pemahaman tersebut dalam konteks kekinian.

Bab keempat adalah penutup yang berisi kesimpulan dari hasil penelitian, saran-saran dan penutup.

[1] Ahmad Sukardja dalam mukaddimahnya, Dimensi Tasawuf dalam Ajaran Islam, hlm 6
[2] Ahmad Sukardja dalam mukaddimahnya, Dimensi Tasawuf dalam Ajaran Islam, hlm 6

[3] Disarikan dari ceramah KH Habib Abdullah al-Seggaf, tanggal ........
[4] Anton Bakker, Metode-metode Filsafat (Jakarta : Ghalia-Indonesia 1984), hlm. 10.
[5] Winarno Surakhmad (ed), Pengantar Penelitian Ilmiah (Dasar Metode Teknik), (Bandung : Tarsito, 1990), hlm. 133-136.
[6] Musahadi HAM, Evolusi Konsep Sunnah ;Implikasinya pada Perkembangan Hukum Islam , hlm. 155-159
[7] Yakni mempertimbangkan teks-teks hadis lain yang memiliki tema yang relevan dengan tema hadis yang bersangkutan, dalam rangka mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif.
[8] Anton Bakker dan Achmad Charis Zubair, Metodologi Penelitian Filsafat  (Yogyakarta : Kanisius, 1990), hlm. 70.

Sumber: Perpus UIN Sunan Kaliajaga ditulis oleh Salimudin


0 Response to "Hadis Zuhud dan Pemahaman al-Ghazali dalam Kitab Ihya ‘Ulumiddin"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!