Hadits tentang Menegakkan Rukun Islam

Advertisement

A. PENDAHULUAN

Hadis merupakan sumber ajaran islam kedua setelah al-Qur’an. Keberadaannya dalam kerangka ajaran agama islam berfungsi untuk menjelaskan yang mubham, merinci yang mutlak, mengkhususkan yang umum dan menguraikan hukum-hukum yang ada dalam al-Qur’an[1]. Peranan hadis semakin penting jika di dalam ayat-ayat al-Qur’an tidak ditemukan suatu ketetapan, maka hadis dapat dijadikan dasar dalam dalil-dalil keagamaan. Di samping itu, hadis juga harus diamalkan dan diaktualisasikan dalam kehidupan keseharian sebagai bentuk ibadah dan rasa patuh terhadap Allah dan Nabi Muhammad, sehingga dalam keadaan apapun, kehidupan umat islam tentu harus berasaskan al-Qur’an dan Hadis.

Dalam Islam, muslim diwajibkan untuk menjalankan segala apa yang diperintahkan oleh Allah dan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh-Nya. Dalam al-Qur’an ditemukan banyak sekali ayat-ayat yang menjelaskan kepada manusia agar tunduk dan patuh terhadap Allah dan Rasul-Nya. Begitu juga dalam hadis, Rasulullah menyeru umat Islam untuk selalu beribadah kepada Allah kapanpun dan dimanapun. Sehingga tidak ada alasan sedikitpun bagi manusia untuk menentang Allah dan Rasul-Nya karena, Rasulullah telah menyampaikan risalahnya dengan sempurna.

Salah satu yang diwajibkan bagi umat Islam adalah Rukun Islam. Apakah yang dimaksud dengan rukun Islam? Rukun Islam merupakan 5 pondasi utama yang menjadi penuntun bagi umat islam untuk menjadi muslim yang kuat keislamannya, terdiri dari:

1. Syahadat
2. Shalat
3. Zakat
4. Puasa
5. Haji

Seluruh umat islam - tanpa terkecuali - diwajibkan menjalankan ke-5 rukun ini dalam kehidupannya sebagai bentuk penghambaan sepenuhnya kepada Allah dan pembuktian atas dirinya bahwa ia adalah seorang muslim. Jika ada seorang yang mengaku muslim tetapi tidak menjalankan Rukun Islam yang lima, maka islamnya akan dipertanyakan. Jadi, Rukun Islam adalah cermin seorang Muslim.

Sebagaimana sudah dijelaskan di awal, bahwa hadis merupakan sumber ajaran kedua setelah al-Qur’an. Tulisan ini akan mencoba untuk menggali sejauh mana dan seperti apa, hadis-hadis Rasulullah berbicara tentang kewajiban menegakkan rukun islam. Disertai landasan dari ayat-ayat al-Qur’an, hadis-hadis di pembahasan nantinya merupakan usaha penjelajahan mendalam melalui kitab-kitab hadis, terutama Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. Sehingga, dapat dipahami seperti apa kedudukan menegakkan rukun islam jika dipandang dari implementasi atas hadis-hadis tersebut. 


Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Hadis ta'lim Mutaallim
  2. Tabiin dalam Hadis Nabi
  3. Memahami Hadis Alam Barzakh
  4. Memahami Hadis Mayat Akan disiksa Saat diratapi
  5. Hadis Doa Mendapat Syafaat Allah SWT dan Nabi-Nya

1. Pengertian Rukun Islam

Berbicara tentang definisi rukun islam secara etilmologi berasal dari bahasa arab الركون: yang merupakan bentuk plural (jama’) dari الركن . Merupakan kata benda dari kata kerja ركن – يركن- ركونا yang artinya condong terhadap sesuatu. الركن sendiri bermakna ما يقوّى به (ma yuqawwa bihi) yang jika diterjemahkan: sesuatu akan menjadi kuat dengan rukun tersebut.

Berawal dari definisi etimologi diatas, dapat disimpulkan bahwa rukun islam adalah: pondasi-pondasi dasar yang menguatkan keislaman seseorang, terdiri dari 5 rukun yaitu: Mengucapkan syahadat, mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di Bulan Ramadhan, menunaikan haji.

2. Ayat-Ayat al-Qur’an tentang Rukun Islam

Mengucapkan Syahadat dan Mengesakan Allah dan tidak mempersekutukan-Nya: Allah berfirman dalam Surat Muhammad ayat 19:

Maka ketahuilah, bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.

Shalat dan Zakat. Dalam al-Qur’an, perintah mendirikan shalat sangat sering dijumpai berdampingan dengan perintah menunaikan zakat: Firman Allah dalam Surat An-Nur: 56 dan al-Baqarah: 110

Dan dirikanlah sembahyang, tunaikanlah zakat, dan taatlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.

Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.

Berpuasa di Bulan Ramadhan. Allah berfirman dalam Surat al-Baqarah:183

Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,

Melaksanakan Haji: Allah berfirman Surat Ali Imran : 97

Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim[2]; Barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, Yaitu (bagi) orang yang sanggup Mengadakan perjalanan ke Baitullah[3]. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.

3. Hadis-Hadis Utama tentang Rukun Islam

Rukun islam pada awalnya merupakan hasil interpretasi dari lima pondasi (دعائم)[4] yang tertera dalam hadis Rasulullah. Banyak hadis yang berbicara tentang ini dengan sanad yang berbeda-beda tetapi dengan matan yang hampir sama. Berikut hadis-hadisnya :

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى قَالَ أَخْبَرَنَا حَنْظَلَةُ بْنُ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ عِكْرِمَةَ بْنِ خَالِدٍ عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ):بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَالْحَجِّ وَصَوْمِ رَمَضَانَ ([5]

حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى عُمَرَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ بْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ سُعَيْرِ بْنِ الْخِمْسِ التَّمِيمِىِّ عَنْ حَبِيبِ بْنِ أَبِى ثَابِتٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « بُنِىَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلاَةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ ». وَفِى الْبَابِ عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ وَقَدْ رُوِىَ مِنْ غَيْرِ وَجْهٍ عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- نَحْوُ هَذَا. وَسُعَيْرُ بْنُ الْخِمْسِ ثِقَةٌ عِنْدَ أَهْلِ الْحَدِيثِ.[6]

Terjemahan:

Diriwayatkan dari Ibn Umar r.a, dari Nabi SAW. Beliau bersabda :Islam didirikan atas lima rukun: (1) Mengesakan Allah, (2) Mendirikan Shalat, (3) Membayar zakat, (4) Puasa Ramadhan, (5) Haji. Para sahabat bertanya, “apakah urutannya haji dulu lalu puasa Ramadhan?” Rasulullah menjawab,: “Tidak, puasa Ramadhan kemudian Haji.” Demikian telah saya dengar saya dengar dari Rasulullah SAW[7].

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ نُمَيْرٍ الْهَمْدَانِيُّ حَدَّثَنَا أَبُو خَالِدٍ يَعْنِي سُلَيْمَانَ بْنَ حَيَّانَ الْأَحْمَرَ عَنْ أَبِي مَالِكٍ الْأَشْجَعِيِّ عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَيْدَةَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ):بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسَةٍ عَلَى أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَصِيَامِ رَمَضَانَ وَالْحَجِّ فَقَالَ رَجُلٌ الْحَجُّ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ لَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَالْحَجُّ هَكَذَا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ([8]

حَدَّثَنَا سَهْلُ بْنُ عُثْمَانَ الْعَسْكَرِيُّ حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ زَكَرِيَّاءَ حَدَّثَنَا سَعْدُ بْنُ طَارِقٍ قَالَ حَدَّثَنِي سَعْدُ بْنُ عُبَيْدَةَ السُّلَمِيُّ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ) بُنِيَ الْإِسْلَامُ عَلَى خَمْسٍ عَلَى أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَيُكْفَرَ بِمَا دُونَهُ وَإِقَامِ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءِ الزَّكَاةِ وَحَجِّ الْبَيْتِ وَصَوْمِ رَمَضَانَ([9]

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا وَكِيعٌ عَنْ كَهْمَسِ بْنِ الْحَسَنِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ يَحْيَى بْنِ يَعْمَرَ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ عُمَرَ قَالَ كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجَاءَ رَجُلٌ شَدِيدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيدُ سَوَادِ شَعَرِ الرَّأْسِ لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ سَفَرٍ وَلَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ فَجَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَسْنَدَ رُكْبَتَهُ إِلَى رُكْبَتِهِ وَوَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ مَا الْإِسْلَامُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنِّي رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصَوْمُ رَمَضَانَ وَحَجُّ الْبَيْتِ فَقَالَ صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا مِنْهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ مَا الْإِيمَانُ قَالَ أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَرُسُلِهِ وَكُتُبِهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ قَالَ صَدَقْتَ فَعَجِبْنَا مِنْهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ ثُمَّ قَالَ يَا مُحَمَّدُ مَا الْإِحْسَانُ قَالَ أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنَّكَ إِنْ لَا تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ قَالَ فَمَتَى السَّاعَةُ قَالَ مَا الْمَسْئُولُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنْ السَّائِلِ قَالَ فَمَا أَمَارَتُهَا قَالَ أَنْ تَلِدَ الْأَمَةُ رَبَّتَهَا قَالَ وَكِيعٌ يَعْنِي تَلِدُ الْعَجَمُ الْعَرَبَ وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُونَ فِي الْبِنَاءِ قَالَ ثُمَّ قَالَ فَلَقِيَنِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بَعْدَ ثَلَاثٍ فَقَالَ أَتَدْرِي مَنْ الرَّجُلُ قُلْتُ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ ذَاكَ جِبْرِيلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ مَعَالِمَ دِينِكُمْ[0]

Terjemahan:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: pada suatu hari Rasulullah tampak ditengah-tengah orang banyak lalu ada seorang lelaki yang putih pakaiannya dan sangat hitam rambutnya tidak tampak sedikitpun tanda-tanda perjalanannyadan diantara kami tidak ada satupun yang mengetahui siapa dia. Dia datang dan duduk dengan Rasul sambil meletakkan tangannya di atas paha dan kepada beliau kemudian bertanya, Wahai Rasulullah! Apakah Iman itu?” Beliau menjawab, “Iman adalah hendaknya kamu beriman kepada Allah, beriman kepada malaikat-Nya, beriman kepada kitab-Nya, beriman bahwa kamu akan bertemu dengan-Nya, beriman kepada Rasul-Nya, dan kau beriman dengan adanya kebangkitan di akhirat.” Lelaki itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah! Apakah Islam itu?” Beliau menjawab, “Hendaklah kamu menyembah Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan apapun, mendirikan shalat wajib, menunaikan zakat , berpuasa di bulan Ramadhan,” Laki-laki itu bertanya lagi “Wahi Rasulullah!, Apakah Ihsan itu? Beliau menjawab, Hendaknya kamu menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, meskupun kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu.” Laki-laki itu bertanya lagi, “Wahai Rasulullah!, Kapankah hari kiamat itu?”, Beliau menjawab,” Orang yang ditanya tentang itu tidak lebih tahu dari yang bertanya, tetapi akan aku beritahu kepadamu tanda-tandanya.Apabila budak perempuan melahirkan majikannya maka itulah tanda hari kiamat, apabila orang telanjang dan tidak beralas kaki menjadi pemimpin manusia maka itulah tanda-tanda hari kiamat, dan apabila penggembala telah bermewahan dengan gedung-gedung yang megah, maka itulah tanda-tanda hari kiamat. Laki-laki itu berkata:” Cukup..”. kemudian laki-laki itu meghilang dari penglihatan. Kemudian Rasulullah menghampiriku dan bertanya ”Tahukah kamu siapa dia?” aku menjawab “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui” Lantas beliau berkata:” Dialah Jibril, yang mengajarkan agama kepada kalian”[11]

4. Analisis Sanad dan Matan dari Hadis بني الإسلام على خمس:
(rukun Islam)

Sanad dan Matn perlu diteliti lebih lanjut agar kita mengetahui kedudukan suatu hadis (maqbul atau mardud) dan kualitas hadis (Shahih, Hasan Dha’if)[12]. Mengingat hadis yang dibahas sangat populer dan penting, terlebih lagi banyak digunakan untuk berbagai macam dalil, maka perlu diteliti sanadnya dahulu kemudian matnnya[13].

Dalam beberapa hadis diatas, ditemukan sejumlah hadis memiliki matn yang sama tapi sanad yang berbeda (variasi sanad). Takhrij al-Hadis akan dimulai sebagai kegiatan awal penelitian sanad: Dari Hadis no (1)

Abdullah ibn Umar, Shahabat, Diterima
‘Ikrimah ibn Khalid, Tabiin, Diterima
Hanthalah ibn Abi Sufyan, Tabi’ Tabiin, Diterima
Ubaidillah ibn Musa, As-Sughra min al-Atba’, Diterima
Bukhari, Mushannif, Diterima

Berdasarkan tabel dan informasi tersebut, kelima periwayat hadis ini, dalam kitab-kitab Rijal al-Hadis dan penelusuran melalui CD Maushu’ah Hadis statusnya Shahih dan diterima (maqbul). Status hadis ini sendiri adalah Marfu’ (sanadnya tersambung sampai ke nabi). Oleh karena itu, penelitian tentang matan, tidak perlu dilaksanakan, karena tidak ditemukannya illah atau syadz dalam hadis tersebut.[14]

Dilihat dari redaksi berbagi macam hadis antara no (1), (2), (3), (4) , tidak ditemukan perbedaan yang signifikan. Hadis no (3) menggunakan kata” خَمْسَةٍ” sedangkan hadis no 1,2 dan 4 memakai kata” خَمْس”.

Hadis no (3) redaksinya berbunyi أَنْ يُوَحَّدَ اللَّهُ, berbeda dengan hadis no (4) yang berbunyi أَنْ يُعْبَدَ اللَّهُ وَيُكْفَرَ بِمَا دُونَهُ tetapi kedua redaksi ini memiliki makna yang sama. Begitu juga di hadis no (1) dan (2): شَهَادَةُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ.

Tentang urutan rukun islam, keempat hadis tersebut semuanya mendahulukan Syahadat kepada Allah dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, kemudian yang kedua Mendirikan Shalat, diikuti dengan Menunaikan Zakat. Hanya saja tentang yang keempat dan kelima yaitu antara Puasa dan Haji terdapat perbedaan urutan. Adakalanya Haji berada di depan diikuti dengan puasa atau sebaliknya. Namun, telah disangkal sendiri oleh Rasulullah dalam hadis, bahwa Puasa di Bulan Ramadhan lebih didahulukan dari Haji, dari pemahaman atas redaksi hadis dari no (3): فَقَالَ رَجُلٌ الْحَجُّ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ لَا صِيَامُ رَمَضَانَ وَالْحَجُّ هَكَذَا سَمِعْتُهُ مِنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Jadi, Puasa lebih didahulukan daripada Haji.

5. Pemahaman atas Hadis بني الإسلام على خمس: (rukun Islam)


Syahadat, sebagai rukun no (1), menjadi jembatan awal keislaman seseorang dan bukti bahwa seseorang telah masuk Islam. Dengan bersyahadat bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah Utusan Allah, maka perbuatan baik yang ia lakukan setelahnya baik itu dari segi ibadah seperti shalat, zakat atau mu’amalah akan diterima amal kebaikannya. Sebaliknya, jika perbuatan yang baik dilakukan, tanpa terlebih dahulu masuk islam dengan mengucapkan 2 kalimat syahadat, maka amalannya tersebut akan ditolak.

Diikuti dengan 4 pilar lainnya, rukun Islam harus berjalan bersamaan. Tidak ada yang berjalan terpisah antara satu dengan yang lain. Artinya jika seorang muslim sudah menjalankan kelima rukun tersebut, maka ia telah memenuhi 5 pondasi dasar seorang muslim. Telah kuatlah islamnya dan sempurnalah Islamnya. Terlebih lagi jika ditambah dengan kombinasi yang padu antara Iman dan Ihsan, sebagaimana ditinjau dari Hadis no (5).

Shalat dan Zakat wajib hukumnya bagi setiap muslim yang telah sampai tahap taklif, seperti yang sudah baligh, mampu, dan memiliki akal yang sehat. Berbeda dengan anak bayi, dan orang yang tidak sehat akalnya tidak diwajibkan shalat dan zakat. Begitu juga tidak mampunya orang yang faqir untuk berzakat.

Diantara hikmah diwajibkannya Shalat, kata Syaikh Jabir al-Jazairi dalam Minhajul Muslim, bahwa shalat membersihkan jiwa, mengondisikan seorang hamba untuk bemunajat kepada Allah, dan berdekatan dengannya di dunia dan akhirat. Selain itu Shalat juga menghindarkan pelakunya dari mengerjakan perbuatan keji dan mungkar. Allah berfirman:

Artinya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Seorang muslim yang senantiasa shalat, hubungannya dengan Allah akan semakin dekat. Dalam kitab Fawaid Ash-Shalah karya M. Mahmud Abdullah dikatakan bahwa shalat dilaksanakan dengan tujuan rasa syukur kepada-Nya. Demikian pula shalat dilaksanakan untuk memanjatkan do’a kepada Allah dan memohon kasih sayang serta ampunan-Nya hingga seorang muslim mampu memetik kebajikan yang dilakukannya, baik di dunia maupun di akhirat[15].

Berbeda dengan shalat yang hanya bersifat vertikal (habl min Allah), zakat memilki kedudukan sendiri di sisi sosial kemasyarakatan. Ibadah yang sifatnya horizontal ini merupakan pembentukan hubungan yang harmonis antara manusia dan manusia lainnya (habl min an-Nas) Dengan berzakat., seorang muslim diharapkan mempererat tali silaturrahim dengan saudaranya juga mendekatkan jarak antara si kaya dan si miskin, yang mampu dan tidak mampu dan berbagi dengan rezeki berlebih yang diberikan Allah kepadanya. Tidak ada kamus untuk bakhil atau pelit dalam kehidupan beragama islam. Rasulullah selalu mencontohkan untuk selalu memberi dan berlaku kasih sayang terhadap manusia yang lain. Sehingga terbentuk tatanan masyarakat yang harmonis dan tentram.

Dinjau lagi dari segi ekonomi masyarakat. Zakat terbukti mampu menurunkan tingkat kemiskinan dan meningkatkan intensitas kehidupan berekonomi masyarakat. Hal ini jugalah salah satu bentuk Islam sebagai agama Rahmatan lil ‘Alamin dan satu-satunya agama yang diridhai oleh Allah.

Mengenai Puasa, satu rukun ini memiliki aspek religiuitas tinggi yang membuat pelakunya mampu merasakan apa yang dirasakan oleh saudaranya yang tidak mampu, baik itu menahan lapar menahan dan haus atau kemampuan untuk mensyukuri banyak nikmat yang telah Allah anugrahkan kepadanya. Disamping itu, dengan melakukan puasa, jika ditinjau dari aspek kesehatan. Orang yang berpuasa melatih lambungnya untuk mencerna tepat pada waktu. Coba kita lihat orang yang mempunyai sakit maag, penyakit itu akan sembuh jika ia berpuasa dengan penuh kesabaran dan niat yang ikhlas. Hal ini sekali lagi menunjukkan Islam adalah agama yang sempurna.

Satu lagi, Haji: ke Mekkah. inilah puncak dari rukun islam yang hanya ditujukan pada orang yang mampu saja sebagaimana tertera dalam surat Ali Imran ayat 97. Kata-kata pada ayat tersebut menunjukkan syarat. Yang artinya jika ia tidak mampu menunaikannya baik itu ketidakmampuan dari segi fisik (kesehatan), finansial (keuangan), atau rohani (jiwa) maka haji tidak diwajibkan atasnya.

6. Hadis-Hadis Tambahan tentang rukun Islam


Hadis-hadis utama diatas juga didukung oleh beberapa hadis tambahan yang berisi perintah untuk menegakkan setiap elemen dalam rukun islam. Berikut ini hadisnya:

حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِي مَالِكُ بْنُ أَنَسٍ عَنْ عَمِّهِ أَبِي سُهَيْلِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّهُ سَمِعَ طَلْحَةَ بْنَ عُبَيْدِ اللَّهِ يَقُولُ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ أَهْلِ نَجْدٍ ثَائِرَ الرَّأْسِ يُسْمَعُ دَوِيُّ صَوْتِهِ وَلَا يُفْقَهُ مَا يَقُولُ حَتَّى دَنَا فَإِذَا هُوَ يَسْأَلُ عَنْ الْإِسْلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَمْسُ صَلَوَاتٍ فِي الْيَوْمِ وَاللَّيْلَةِ فَقَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصِيَامُ رَمَضَانَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهُ قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ وَذَكَرَ لَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الزَّكَاةَ قَالَ هَلْ عَلَيَّ غَيْرُهَا قَالَ لَا إِلَّا أَنْ تَطَوَّعَ قَالَ فَأَدْبَرَ الرَّجُلُ وَهُوَ يَقُولُ وَاللَّهِ لَا أَزِيدُ عَلَى هَذَا وَلَا أَنْقُصُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْلَحَ إِنْ صَدَقَ[16]

Datang seorang lelaki dari Najd yang rambutnya berantakan, terengah-engah suaranya, dan perkataannya tidak dapat dimengerti menghampiri Rasulullah SAW. Kemudian ia duduk dan bertanya kepada Rasulullah tentang Islam. Rasulullah SAW bersabda: Shalat lima waktu siang dan malam. Maka laki-laki itu bertanya: “apakah yang lain selain itu?” Rasulullah menjawab:”tidak ada, kecuali shalat sunnah.” Rasulullah melanjutkan: Puasa Ramadhan, lantas lelaki itu bertanya lagi:” apa ada yang lain selain itu?” Rasulullah menjawab: “tidak ada, kecuali puasa sunnah” beliau melanjutkan: Zakat. Lelaki itu bertanya lagi: apakah yang selain itu? Beliau menjawab:” tidak ada, kecuali zakat yang sunnah. Kemudian lelaki itu beranjak pergi sambil berkata: “aku tidak perlu menambahinya apalagi menguranginya” Rasulullah berkata: akan berbahagia jika ia melaksanakan itu. [17]

و حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ وَأَبُو كُرَيْبٍ قَالَا حَدَّثَنَا أَبُو مُعَاوِيَةَ عَنْ الْأَعْمَشِ عَنْ أَبِي سُفْيَانَ عَنْ جَابِرٍ وَهُوَ ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَثَلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ كَمَثَلِ نَهْرٍ جَارٍ غَمْرٍ عَلَى بَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ مِنْهُ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسَ مَرَّاتٍ[18]

Rasulullah SAW bersabda: perumpamaan orang yang shalat lima waktu seperti sungai yang mengalir di depan rumah seseorang yang membasuh dirinya 5 kali sehari dari air sungai tersebut.

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ الْجَعْدِ قَالَ أَخْبَرَنَا شُعْبَةُ عَنْ أَبِي جَمْرَةَ قَالَ كُنْتُ أَقْعُدُ مَعَ ابْنِ عَبَّاسٍ يُجْلِسُنِي عَلَى سَرِيرِهِ فَقَالَ أَقِمْ عِنْدِي حَتَّى أَجْعَلَ لَكَ سَهْمًا مِنْ مَالِي فَأَقَمْتُ مَعَهُ شَهْرَيْنِ ثُمَّ قَالَ إِنَّ وَفْدَ عَبْدِ الْقَيْسِ لَمَّا أَتَوْا النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ الْقَوْمُ أَوْ مَنْ الْوَفْدُ قَالُوا رَبِيعَةُ قَالَ مَرْحَبًا بِالْقَوْمِ أَوْ بِالْوَفْدِ غَيْرَ خَزَايَا وَلَا نَدَامَى فَقَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا لَا نَسْتَطِيعُ أَنْ نَأْتِيكَ إِلَّا فِي الشَّهْرِ الْحَرَامِ وَبَيْنَنَا وَبَيْنَكَ هَذَا الْحَيُّ مِنْ كُفَّارِ مُضَرَ فَمُرْنَا بِأَمْرٍ فَصْلٍ نُخْبِرْ بِهِ مَنْ وَرَاءَنَا وَنَدْخُلْ بِهِ الْجَنَّةَ وَسَأَلُوهُ عَنْ الْأَشْرِبَةِ فَأَمَرَهُمْ بِأَرْبَعٍ وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ أَمَرَهُمْ بِالْإِيمَانِ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالَ أَتَدْرُونَ مَا الْإِيمَانُ بِاللَّهِ وَحْدَهُ قَالُوا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ شَهَادَةُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ وَإِقَامُ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءُ الزَّكَاةِ وَصِيَامُ رَمَضَانَ وَأَنْ تُعْطُوا مِنْ الْمَغْنَمِ الْخُمُسَ وَنَهَاهُمْ عَنْ أَرْبَعٍ عَنْ الْحَنْتَمِ وَالدُّبَّاءِ وَالنَّقِيرِ وَالْمُزَفَّتِ وَرُبَّمَا قَالَ الْمُقَيَّرِ وَقَالَ احْفَظُوهُنَّ وَأَخْبِرُوا بِهِنَّ مَنْ وَرَاءَكُمْ[19]

Rasululah SAW bersabda: [20]4 perkara yang aku perintahkan dan 4 perkara pula yang aku larang: aku perintahkan kalian untuk: Beriman kepada Allah yang Maha Esa. Rasulullah bertanya: “tahukah kalian apakah iman kepada Allah ?” mereka berkata: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Beliau menjawab: bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Kemudian mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa di Bulan Ramadhan dan menyedekahkan 1/5 dari harta rampasan ke jalan Allah. Aku melarang kalian dari: duba, naqir, hantam, dan muzaffat.[21]

C. KESIMPULAN

Dalam menyimpulkan makalah ini, penulis akan mengulas kembali secara singkat ide-ide utama setiap bagian.

Islam sebagai agama yang penuh rahmat (rahmatan lil ‘alamin ) selalu mengingatkan hambanya untuk selalu patuh kepada Allah dan Rasul-Nya. Terutama tentang rukun islam, seakan tidak cukup dengan ayat-ayat dalam al-Qur’an, Rasulullah menegaskannya lagi melalui hadisnya. Dengan begitu banyak hadis Shahih (diketahui kebenarannya bahwa hadis tersebut berasal dari nabi) yang menerangkan rukun islam, pasti itu sudah cukup untuk dijadikan dalil akan kewajiban menegakkan rukun islam.

Terlebih lagi, dalam kewajiban melaksanakan dan menegakkan rukun islam, Allah menyisipkan makna-makna tersirat bagi kehidupan manusia. Syahadat contohnya Allah sudah menjamin jika seseorang telah mengucap 2 kalimat syahadat maka haram api neraka menyentuh tubuhnya. Dalam Puasa misalnya, Allah memberikan hikmah kesehatan jasmani berupa ketahanan dan kekebalan tubuh dari penyakit. Zakat, agar dapat terbinanya tatanan masyarakat yang seimbang antara yang berada dan tidak berada. Hal ini tentunya menjadikan seruan wajib untuk menegakkan rukun islam. Penulis sendiri berharap agar apa yang tertera dalam makalah ini membawa manfa’at bagi para pembaca. Wallahu a’alam.

DAFTAR PUSTAKA

Mundziri, Imam. Ringkasan Shahih Muslim terj. Achmad Zaidun. Jakarta: Pustaka Amani, 2003
Al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam, Cet. Ke 28. Beirut: Dar El-Masyriq
Syuhudi, Ismail. Metodologi Penelitian Hadis. Jakarta: Bulan Bintang, 1992
Abbas, Hasyim. Kritik Hadis Versi Fuqaha dan Muhaddisin, Yogyakarta: Teras, 2004
Al-Khatib, Muhammad Ajjaj. Ushul al-Hadits: Ulumuh wa Musthalahuh. Beirut: Dar El-Mayriq, 1975
Shihab, M.Quraish. “Membumikan al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan, 1992
Al-Jifari, Muhammad bin Qusri. Agar Shalat Tidak Sia-Sia. Solo: Pustaka Iltizam, 2007
Bukhari al-, Abu Abdillah Muhammad Ibn Isma’il Ibrahim Ibn Al-Mughirah. Al-Ja’fi, Shahih Bukhari, Dar al-Fikr ,t.th
Baqi, Muhammad Fuad Abdul. al-Mu’jam al-Mufahras li alfadz al-Qur’an al-Karim. Kairo: Dar al-Kutub, t.th
Al-Ghazali, Imam. Mukasyafah al-Qulub Indonesia, Singapura, Jeddah: Al-Haramain, t.th
Nawawi, Imam. Riyadh ash-Shalihin, Semarang: Karya Toha Putra, t.th
CD ROM. Al-Maktabah al-Syamilah, Kutub al-Matun, Vol. 1 Global Islamic Software,1997
CD ROM Maushu’ah al-Hadis asy-Syarif
Alfatih Suryadilaga, Muhammad.(ed), Studi Kitab Hadis, Yogyakarta: Teras, 2003

Catatan Kaki

[1] Lihat Muhammad Ajjaj al-Khatib, Uṣūl al-Hadiṡ Ulūmuh wa Mustalahuh (Beirut: Dār al-Fikr, 1989), 34-50

[2] Tempat Nabi Ibrahim a.s. berdiri membangun Ka'bah.

[3] Yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan rohani

[4] الدعامة: الدعائم: عماد البيت . Lihat Kamus al-Munjid fi al-Lughah wa al-A’lam (Dar al-Masyriq: Beirut Lebanon) h. 216

[5] Sahih Bukhari Juz I Bab Iman: no hadis: 7

[6] Sunan Tirmidzi Juz 10 Hal: 83

[7] Imam al-Mundziri Mukhtashar Shahih Muslim terj: Achmad Zaidun ( ringkasan Shahih Muslim) ( Jakarta Pustaka Amani : 2003) h. 36

[8] Shahih Muslim Bab: Bayan Arkan al-Islam Hal: 45, no Hadis: 18

[9] Shahih Muslim Bab: Bayan arkan al-Islam no Hadis: 20

[10] Shahih Muslim no. 10

[11] Imam al-Mundziri, Mukhtashar Shahih Muslim terj: Achmad Zaidun ( Ringkasan Shahih Muslim) ( Jakarta Pustaka Amani : 2003) h. 2

[12] Prof. Dr. Suryadi M.A dan Dr. Muhammad Alfatih Suryadilaga, Metodologi Penelitian Hadis, M. Ag. (Teras-TH Press: Yogyakarta: 2009) h. 148

[13] Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadis Versi Muhaddisin dan Fuqaha( Yogyakarta: Teras, 2004) h. 85

[14] CD Maushuah Hadis asy-Syarif

[15] Muhammad bin Qusri al-Jifari, Agar Shalat tidak Sia-Sia (Solo: Pustaka iltizam 2007) h. 17

[16] Shahih Bukhari no. 44

[17] Terjemahan bebas dari penulis (red)

[18] Shahih Muslim no. 1072

[19] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim dan Ibn Abbas.

[20] Sababul Wurud: kata Ibn Abbas, utusan Abdul Qais telah mengahadap Rasulullah:”Ya Rasulullah, kami adalah penghuni Rabi’ah. Diantara kami dan Engkau ada orang-orang kafir yang kejam. Kami tidak dapat berhubungan dengan Enkau kecuali pada bulan-bulan Haram. Maka perintahkan kepda kami, perintah yang dapat kami lakukandan dapat kami sampaikan kepada orang-orang dibelakang kami” kemudian Rasulullah memerintahkan empat perkara dan melarang empat perkara.

[21] Duba, Naqir hantam, muzaffat adalah semua jenis alat atau bahan yang dapat mempercepat proses perasan atau nira menjadi khamar atau tuak (minuman keras)

Demikianlah penjalasan tentang Hadits tentang Menegakkan Rukun Islam. Mudah-mudahan bermanfaat.


0 Response to "Hadits tentang Menegakkan Rukun Islam"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!