Pengenalan dan Klasifikasi Hadis dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim li Tharīq al-Ta’allum

Advertisement

Pengenalan dan Klasifikasi Hadis dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim li Tharīq al-Ta’allum

Ta’līm al-Muta’allim li Tharīq al-Ta’allum (untuk kemudian disingkat Ta’līm al-Muta’allim) karangan Burhān al-Islām al-Zarnūjī[1], adalah karya terkenal yang merupakan salah satu tiang penyangga utama pendidikan pesantren. Keberadaan kitab ini menurut penelitian Van Bruinessen menempati urutan teratas kitab – kitab akhlak yang diajarkan di mayoritas pesantren di Indonesia, mengungguli kitab – kitab lain semisal washāyā, akhlāq li al-banīn, akhlāq li al-banāt, serta irsyād al-‘ibād[2]. Meskipun figur pengarangnya tidak setenar tokoh – tokoh besar lain yang kitabnya banyak dikaji semisal al-Imām ‘Abd al-Hamīd al-Ghazalī, Syaikh Nawawī al-Bantanī, maupun dua Imam besar hadis, al-Bukhārī dan Muslim bin Hajjāj, kitab Ta’līm al-Muta’allim yang ditulisnya, mendapat apresiasi besar dari kalangan umat Islam di seluruh dunia.*

Merujuk pada data Direktorat Pondok Pesantren Departemen Agama RI tahun 2002, jumlah Pondok Pesantren di Indonesia mencapai 14.067, dengan rincian : 8.905 buah Pondok pesantren salafī (tradisional), 878 Pondok modern dan 4.284 pondok pesantren campuran (kombinasi pen.), dengan jumlah santri seluruhnya mencapai 3.200.000 orang[3]. Jika demikian, teranglah posisi sentral kitab Ta’līm al-Muta’allim ini dalam mewarnai cara berpikir ratusan ribu praktisi pesantren. Kitab ini tak hanya menjadi bagian dari kurikulum yang diajarkan dalam pesantren tertentu, akan tetapi ia juga turut membentuk kepribadian dan kebudayaan di pesantren ia diajarkan. Jika ia diajarkan dengan metode yang kolot, maka individu – individu konservatif yang akan terbentuk, sebaliknya jika terlalu liberal, maka skeptisme akan tumbuh subur di kalangan para pengkajinya.

Berdasarkan asumsi – asumsi tersebut di atas, penulis telah melakukan serangkaian research mengenai corak kitab ini sebagaimana yang dimaksud oleh pengarangnya dan bagaimana sebaiknya ia dipahami dan diajarkan. Penelitian tersebut memberikan kesimpulan bahwa kitab Ta’līm al-muta’allim adalah kitab tashowwuf dan bukan kitab akhlak sebagaimana yang maklum dipahami oleh mayoritas penghuni pesantren[4]. Dengan argumentasi sebagai berikut:

1. Dalam mendefinisikan ilmu, al-Zarnūjī menggambarkannya tidak hanya sebagai hasil kerja akal dan indera manusia saja, tetapi ia mengilustrasikan ilmu sebagai cahaya Tuhan (nūr Allah) ia juga membedakan antara ilmu [5]

 
 
2. Corak sufisme juga tergambarkan dari bagaimana al-Zarnūjī menyusun bab – bab dalam kitabnya. Dari tiga belas tema pokok yang disampaikannya, Pembahasan yang memiliki porsi paling banyak justru bukan dari etika dan tata cara formal dalam proses mencari ilmu, tetapi perkara – perkara bathiny yang menjadi landasan ideologi bagi pencari ilmu tersebut.[6]

3. Kitab ini ditulis oleh pengarangnya dengan tujuan untuk menyadarkan umat Islam yang pada waktu itu terbuai dengan modernisasi dan liberasi ilmu pengetahuan, serta pola berpikir yang materialistis, empiris, rasional murni dan kuantitatif,[7] agar tidak melupakan ajaran – ajaran bathinī yang meski irasional, kan tetapi tetap dibutuhkan. [8]

4. Jika diusut lebih lanjut, Laris – manisnya kitab ini di kalangan pesantren jenis ini, tak lepas dari kondisi pesantren yang merupakan basis kegiatan relegius. Dalam kehidupan kebanyakan pesantren, kehidupan sufistiklah yang diterapkan. Corak ini kurang memperhatikan epistemologi yang bersifat empirik dan rasional.[9] Corak ini dapat terlihat dari sendi – sendi pesantren yang mengajarkan keikhalasan dan kesederhanaan penghuninya. Pesantren juga salah satu model lembaga pendidikan yang menyeimbangkan antara ilmu pengetahuan rasional dengan nilai – nilai keagamaan. Hal ini terlihat dari jargon yang selalu diunggulkan oleh komunitas pesantren: al-‘ilmu bilā ‘amalin ka al-Syajari bilā tsamarin. Bahwa ilmu yang tidak disertai dengan pengamalan, adalah bagai pohon yang tak berbuah. Jargon ini yang menjadi dasar ideologi para santri ketika mereka memulai proses menimba ilmu di sebuah pesantren. Dalam pandangan para praktisi pendidikan di pesantren, mendapatkan ilmu yang sedikit tetapi dapat diamalkan dan diambli manfaatnya, lebih baik dari belajar banyak hal, tetapi tidak bisa diamalkan. Singkat kata, Kitab ini dengan mudah dapat diterima oleh kalangan santri dan pesantren karena ia mampu membendung pengaruh rasionalisme. Karena jika mengikuti pandangan Barat, ilmu adalah kekuasaan (Power), sedang dalam pandangan pendidikan Islam, mencari ilmu adalah ibadah. Begitulah secara historis, kitab Ta’līm al-Muta’allim pun pada awalnya diakui sebagai salah satu kitab sufi.

Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Hadis Menegakkan Rukun Islam
  2. Hadis ta'lim Mutaallim
  3. Tabiin dalam Hadis Nabi

Catatan Kaki

[1] Nama lengkapnya adalah Burhān al-dīn al-Zarnūjī dan Tāj al-dīn al-Zarnūjī. Sebutan al-Zarnūjī diambil dari daerah tempat dia berasal, yaitu Zarnūj, sebuah kota di daerah Warā’a al-nahr (Turkisan Timur) Ahmad Athyullah, al-Qāmūs al-Islāmī, (Kairo : Maktabah al-Nahdhah al-Mishriyyah, 1970) vol. 3 hal.58

[2] Martin Van Bruienessen, Kitab Kuning (Pesantren dan Tarekat, Tradisi – Tradisi Islam di Indonesia), (Bandung: Penerbit Mizan, 1995) hal. 163 - 165

* Adapun Kitab Ta’līm al-Muta’allim itu sendiri pernah dicetak di kota Mursyid Abad (India) pada 1265 H/1851 M, Libjaz pada 1838 M dan di Mesir pada 1301 H.

[3] Munawiroh, Pergeseran Literatur Pesantren Salafiyyah, (Jakarta : Puslitbang Lektur Keagamaan badan Litbang dan Diklat Depag RI, 2007)hal. 4

[4] Imbas dari pemahaman yang berbeda mengenai kitab ini sangat mempengaruhi output pengajian. Menganggap kitab ini sebagai kitab akhlak yang final akan menuntut pengkajinya mengamalkan petuah –petuah al-Zarnūjī taken for granted. Sebaliknya jika menganggap kitab ini hanya sebagai cerita mengenai orang – orang salih di masa lalu, akan menumbuhkan sikap apatis terhadap guru – guru masa sekarang. Adapun dengan memahami kitab ini sebagai kitab tashowwuf, maka seorang pengkaji akan bersikap hati – hati dengan berusaha memilah – milah mana uraian pengarang yang menunjukkan tujuan utama akhlak yang konstan dan mana aturan – aturan al-Zarnūjī yang bersifat elastis sesuai dengan tuntunan dan etika zaman kontemporer. Pembacaan dengan cara inilah yang juga dianjurkan oleh Masdar F. Mas’udi. Ujarnya: “Kitab (kuning), selain sebagai objek pengajian, harus dijadikan objek pengkajian, studi kritis. Karya ulama’ zaman dulu mestilah dipahami secara konstektual, dengan memperhatikan latar belakang sejarah, sosial dan politik. Kitab kuning dengan segala muatannya bukanlah kebenaran mutlak, melainkan juga mencerminkan budaya, kebutuhan dan pendapa umum pada tempat dan zaman dikarangnya.”lihat : Martin Van Bruienessen, Kitab Kuning...hal. 173

[5] Ia mengutip sebuah sya’ir dari Imām al-Syāfi’i : “Aku (al-Syāfī’ī) mengadu kepada wakī’ tentang sulitnya aku menghafal, lalu ia menuntunku agar aku meninggalkan perkara – perkara ma’shiyyāt, ia juga berpesan (kepadaku) bahwa ilmu adalah cahaya Allah, dan ia tidak akan diberikan kepada para pelaku ma’shiyyāt itu. Baca : Lihat : al-Zarnūjī, Ta’līm al-muta’allim... 41

[6] Dengan kata lain, al-Zarnūjī lebih berorientasi pada tujuan ideal daripada tujuan praktis, karena tujuan – tujuan ideal (dasar filosofis pesan – pesan al-Zarnūjī) lebih penting dan lebih universal. See: Maragustam, Pemikiran al-Zarnūjī dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim tentang pemikiran Pendidikan islam (Telaah dalam perspektif Filsafat Pendidikan) dalam ed.AlFatih Suryadilaga, Pendidikan Islam di Indonesia, (Yogyakarta: Suka Press, 2007) p.69

[7] Baca : Imam bawani, Tradisionalisme dalam Pendidikan...hal. 78, baca juga: al-Zarnūjī, Ta’līm al-muta’allim... hal. 5

[8] Pada periode di saat al-Zarnūjī hidup (akhir abad ke-5 hingga awal abad ke-6), banyak buku – buku tentang bahasa, sejarah, sastra, serta filsafat yang ditulis dan dibukukan. Bahkan disinyalir bahwa masa ini adalah masa di saat islam mencapai puncak keemasan dan kejayaannya dalam bidang keilmuan tersebut.Lihat : A. Hasymi, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta : Bulan Bintang, 1979) hal. 212

[9] Abdul Hadi, Sikap dan Tradisi Keilmuan Pesantren, dalam ed. Abdul Munir Mulkhan, Religiusitas Iptek (Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 1998) hal.145

Pengenalan dan Klasifikasi Hadis dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim li Tharīq al-Ta’allum bersumber: Perpustakaan UIN Sunan Kalijaga.



0 Response to "Pengenalan dan Klasifikasi Hadis dalam kitab Ta’līm al-Muta’allim li Tharīq al-Ta’allum"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!