Resensi Kitab al-Minah as-Saniyyah karya Sayyid Abd al-Wahab as-Sya’roni

Advertisement
al-Minah as-Saniyyah merupakan sebuah tulisan karya Sayyid Abd al-Wahab as-Sya’roni sebagai komentar atas tulisan Syaikh Abu Ishaq Ibrahim al-Matbuliy dalam buku Qomi’ ath-Thughyaan. Kitab ini membahas tentang hal-hal yang harus dilakukan seorang salik (penempuh jalan spiritual) dalam menjalani tarekat. Gaya bahasa yang digunakan cukup sederhana dan mudah dipaham bagi para pemula dan pelaku spiritual yang baru menjalani tarekat. Kesan komunikatif pun sangat terasa, seakan-akan penulis berbicara langsung dan berhadap-hadapan dengan pembaca. Sehingga bahasa yang ditampilkan banyak menggunakan kalimat perintah atau kalimat larangan langsung.

Sayyid Abd al-Wahab as-Sya’roni dalam kitab ini menyebutkan beberapa pendapat ulama dan ahli sufi dari masa-masa klasik. Dan juga disebutkan didalamnya hadits-hadits dan ayat-ayat yang menjadi argumen untuk mendukung teori-teori yang diangkat oleh buku ini. Hal ini bertujuan untuk mempermudah pemahaman pembaca dan mempermudah bagi pembaca untuk memahami tujuan dari ditulisnya buku ini.

Dalam al-Minah as-Saniyah disebutkan beberapa tahapan yang harus dijalani salik untuk menaiki tangga spiritual. Masing-masing tangga ini memiliki keterkaitan antara anak tangga yang satu dengan anak tangga yang lainnya. Ketika salah satu anak tangga tidak dijalani, maka salik tidak akan sampai pada tujuannya.

a. Taubat Dengan Penuh Istiqomah [1]

Taubat dalam tinjauan bahasa berarti kembali. Sedangkan dalam tinjauan syari’at berarti kembali dari segala sesuatu yang tercela kepada segala sesuatu yang terpuji.

Pada dasarnya taubat adalah mengakui atas segala kesalahan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi. Hal ini telah tercermin dari apa yang telah dilakukan oleh Nabi Adam as. ketika Allah menurunkannya dari surga ke bumi. Nabi Adam as. mengakui dan merasa menyesal atas apa yang telah dilakukannya.

Dalam taubat disyaratkan adanya al-iqla’ (berhenti untuk tidak melakukan perbuatan maksiat) dan al-‘azm (memantapkan diri untuk tidak mengulangi perbuatan maksiat). Dengan taubat, dosa yang berhubungan dengan hak-hak Allah (habl min Allah) akan diampuni, dan dosa yang berhubungan dengan hak-hak makhluk (habl min an-naas) yang terkait dengan aniaya terhadap diri sendiri (berbuat maksiat yang merugikan diri sendiri) akan diampuni juga.

Tanpa taubat yang benar dan lurus, niscaya tidak akan pernah bisa seorang salik untuk menjaga dirinya dari kehendak-kehendak yang buruk. Firman Allah kepada Nabi saw.: “Beristiqomahlah engkau Muhammad sebagaimana engkau diperintahkan, dan orang-orang yang bertaubat bersamamu”.

b. Meninggalkan Perkara Mubah[2]

Allah menjadikan perkara mubah hanya sebagai penghibur bagi para hamba yang mengalami kebosanan dalam melaksanakan perintah Allah. Sedangkan bagi para malaikan tidak disyari’atkan bagi mereka adanya perbuatan mubah, yang ada adalah fardhu. Karena malaikat diciptakan tanpa memiliki rasa bosan, sehingga mereka terus-menerus bertasbih dan memuji Allah.

Dan ketika salik melakukan kemubahan hanya untuk melaksanakan apa yang dirukhsohkan Allah baginya, niscaya salik tidak akan mendapati apa yang dicari dalam perjalanan spiritualnya. Salik seharusnya mengurangi per-buatan mubah dan menggantinya dengan perbuatan sunnah. Atau menjadikan perkara yang mubah sebagai perkara yang sunnah. Yaitu dengan melaksana-kan segala sesuatu yang mubah bertujuan untuk beribadah kepada Allah.

c. Menghindari Riya’[3]

Riya’ adalah racun yang mematikan dan melebur pahala. Karena dengan riya’ niat dari amal perbuatan menjadi rusak, meski perbuatan itu baik.

Riya’ amat halus sekali muncul dalam hati manusia, sehingga sulit untuk membedakan manakah riya’ dan manakah ikhlas. Dalam hal ini Sayyid ‘Abd al-Qodir ad-Dasythuthiy menyatakan agar salik selalu belajar untuk menjaga ikhlas dalam menuju Allah. Dan tidak menganggap mudah terhadap hal ini, serta tidak menganggap remeh terhadap kebiasaan diri terhadap riya’ ini..

Demikianlah bentuk-bentuk riya’ yang sangat halus menyeruak ke dalam hati salik yang merusak nilai ibadah. Dan sudah seharusnya salik untuk menjaga dan membersihkan niat hatinya dari bentuk-bentuk riya’ ini.

d. Tidak Menyakiti Makhluk[4]

Ada dua macam dalam tahapan ini, pertama, tidak menyakiti makhluk dengan seluruh anggota badan. Kedua, tidak berburuk sangka terhadap siapapun. Jika hal ini bisa dilakukan, maka salik dapat mencapai maqam tertinggi dalam dunia tarekat.

Imam Sahl menyatakan bahwa makhluk tidak akan bisa mencapai Allah dan mampu menyaksikan alam malakut karena dua hal, yaitu makanan yang buruk, dan menyakiti makhluk.

e. Menjaga Diri Dari Makanan Haram[5]

Makanan haram tidak hanya menghalangi salik untuk bisa sampai pada tujuannya, akan tetapi juga menyebabkan amal ibadahnya ditolak. Sebagaimana apa yang dilontarkan Abu Hanifah : “Andaikata seorang hamba beribadah menyembah Allah hingga dirinya bagaikan tiang ini. Akan tetapi, dia tidak tahu makanan yang masuk ke dalam perutnya apakah halal atau haram. Niscaya amal ibadahnya tidak diterima”. Bahkan menjaga makanan halal lebih baik daripada berpuasa di siang hari dan menjalankan sholat sunnah di malam hari, sebagaimana hal ini diungkapkan oleh Abu Ishaq Ibrahim bin Adham.

Jika seorang salik mendapati makanan yang dirasa baginya tidak halal, maka segeralah untuk memuntahkannya. Jika tidak mampu untuk memuntah-kannya maka bersegeralah untuk bertobat dan beristighfar.

Di antara tanda-tanda makanan yang dikonsumsi tidak halal adalah; 1) menghindarkan diri untuk melaksanakan perintah Allah, 2) hati menjadi gelap dan menjadikan diri semakin berat untuk melakukan kebenaran, 3) bangun dari tidur kemudian diam hingga satu jam atau lebih hingga benar-benar sadar. 4) memanjakan dan bermain-main dengan hawa nafsu dan tidak ada keinginan untuk mengobatinya.

Dengan demikian, sudah seharusnya seorang salik untuk selalu berhati-hati dan menjaga setiap suap makanan yang masuk ke dalam perutnya, karena makanan yang haram hanya akan menghancurkan amal ibadahnya, dan perbuatan maksiat bersumber dari makanan yang tidak halal.

f. Menjaga Rasa Malu[6]

Sayyid ‘Umar bin al-Faridh menuturkan dalam sebuah syair:

تَمَسَّكْ بِأَذْيَالِ الْهَوَى وَاخْلَعِ الْحَيَا   وَخَلِّ سَبِـيْلَ النَّاسِكِيْنَ وَإِنْ جَلُّوا

Kuasailah hinanya nafsu, buanglah rasa malu. Lepaskan untuk menuju jalan orang-orang yang menuju pada-Nya, walau tinggi kedudukannya”.

g. Tidak Curang Dalam Pekerjaan[7]

Menipu atau curang dalam pekerjaan akan menyebabkan harta yang didapat tidak membawa berkah. Dan sebaliknya pekerjaan yang dilakukan dengan jujur, meskipun tidak membawa untung yang banyak, niscaya akan membawa berkah. Karena sebaik-baik manusia menyembunyikan kebohongan dan kecurangannya, kelak pasti akan terkuak.

Bekerja adalah suatu kewajiban bagi salik. Bahkan Sayyid Abd al-Wahab as-Sya’roni menggambarkan seorang fakir yang tidak memiliki pekerjaan bagaikan burung hantu yang tinggal di tempat yang rusak. Dia sama sekali tidak memberi manfaat kepada orang lain. Dan sudah seyogyanya salik untuk bekerja untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Inilah yang menjadi suatu penyempurna kehidupan spiritual salik.

Dengan demikian, sudah seyogyanya bagi salik menjalani rutinitas mu’amalahnya dengan jujur, penuh keikhlasan, dan bekerja hanya untuk menahan dirinya dari meminta-minta, serta tidak berlebih-lebihan dalam mencari rizki.[8]

h. Memerangi Nafsu[9]

Imam Sahl at-Tasturiy mengungkapkan bahwa seburuk-buruk maksiat adalah bisikan-bisikan nafsu yang kebanyakan manusia tidak mempedulikan-nya, padahal bisikan-bisikan nafsu adalah sebuah dosa. Seorang salik ketika tidak mempedulikan bisikan-bisikan nafsu dan dia selalu dalam keadaan berdzikir, niscaya hatinya akan menjadi bersinar. Hatinya akan menjadi suatu rahasia yang terjaga, setan pun menjauhkan diri sejauh mungkin darinya, semua bentuk bisikan setan pun menjauh, sehingga di dalam dirinya hanya ada bisikan-bisikan nafsu saja. Jika keadaan sudah demikian, seorang salik harus segera menghilangkan bisikan-bisikan nafsu itu dengan pengetahuannya.

Syaikh Muhyiddin bin al-‘Arabiy menyebutkan dalam bukunya “al-Futuhat al-Makkiyah” bahwa ketika Allah menciptakan nafsu, Allah berfirman kepadanya: “Siapa Aku?”. Nafsu menjawab: “Siapa aku?”. Kemudian Allah menempatkannya dalam Lautan Lapar selama seribu tahun. Kemudian Allah berfirman padanya: “Siapa Aku?”. Nafsu men-jawab: “Engkau Tuhanku”.

Syaikh Abu Sulaiman ad-Daraniy berkata: “Kunci dunia adalah kenyang, dan kunci akhirat adalah lapar”.

Yahya bin Mu’adz ar-Raziy berkata: “Kenyang adalah api, dan syahwat bagaikan kayu bakar yang mampu membakar (diri manusia). Api ini tidak akan menyala selama pemiliknya tidak membakarnya”.

Malik bin Dinar menyatakan bahwa tidak tidur malam hari dengan kontinyu akan memecah dan memisahkan empat unsur manusia, yaitu unsur air, tanah, udara dan api. Dengannya, alam malakut menjadi terlihat, dan kerinduan akan ridho Allah menjadi tumbuh.

Meninggalkan harta benda, meninggalkan banyak makan, dan meninggalkan banyak tidur merupakan tiga hal yang harus dilaksanakan oleh salik, dan apabila tiga hal ini tidak ada dalam diri salik maka dia adalah seorang pembohong. Sebagaimana hal ini diutarakan oleh Ibn al-Hawariy.

i. Menetapi ‘Uzlah[10]

’Uzlah merupakan tahap awal yang harus dilalui salik dalam perjalanan spiritualnya, dan selanjutnya adalah khalwah. Dengan ‘uzlah salik menjadi selamat dari segala hal yang menyebabkan dirinya lupa akan Allah ‘azza wa jalla. Namun, bukan berarti uzlah itu lebih baik daripada pergaulan dengan manusia, akan tetapi setidak-tidaknya salik bisa membagi waktunya untuk beribadah dan untuk bergaul dengan manusia.

j. Tidak Banyak Bicara[11]

Yang dimaksud disini adalah tidak berbicara kecuali ada keperluan. Karena keselamatan salik terletak pada lidahnya, semakin sering dia berbicara tanpa adanya kebutuhan, niscaya semakin banyak dosanya. Dan ketika dosa semakin banyak, maka semakin gelaplah hatinya. Dan sebaliknya, semakin sering salik untuk menahan diri dari ucapan yang tiada guna, niscaya semakin sedikit kesalahannya dan dosanya, dan menjadi teranglah hatinya.[12]

k. Tidak Meninggalkan Sholat Malam[13]

Yang dimaksud dengan sholat malam di sini adalah sholat-sholat sunnah yang dilaksanakan pada malam hari. Dalam hadits riwayat Muslim disebut-kan: “Sholat yang utama setelah sholat fardhu adalah sholat pada tengah malam”. Sholat malam yang baik adalah yang dilaksanakan di rumah. Sebagai-mana sabda Nabi saw.: “Sebaik-baik sholat adalah sholat seseorang yang dilakukan di rumahnya, kecuali sholat fardhu”. Karena sholat malam akan menjadikan rumah salik menjadi bercahaya bagaikan cahaya bintang-bintang yang dilihat manusia dari bumi. Dan sholat malam yang dilakukan di rumah menjadikan setan pergi. Sebagaimana hal ini juga disebutkan dalam hadits.

Dengan demikian, apabila salik berusaha semaksimal mungkin untuk tidak meninggalkan sholat malam. Niscaya akan terkuak baginya rahasia alam malakut, dan akan terbuka hijabnya dari Allah.

l. Tidak Meninggalkan Sholat Jama’ah[14]

Begitu banyak hadits yang menjelaskan keutamaan sholat berjama’ah. Diantaranya adalah “Sholat jama’ah lebih baik dibanding sholat yang dilaksanakan secara sendiri-sendiri sebanyak dua puluh tujuh derajat”. Bahkan para ulama menyatakan di antara suatu jama’ah ada seorang wali Allah yang menemaninya. Suatu ketika ‘Abdulloh bin ‘Umar ketinggalan sholat Isya’ berjama’ah. Dia pun akhirnya melaksanakan sholat Isya’ di rumahnya dan selama semalaman dia terus sholat hingga terbitnya fajar. Dia melakukan hal ini sebagai ganti atas jama’ah sholat Isya’ yang ia tinggalkan.

Dari sini dapat dipahami betapa besar keutamaan sholat berjama’ah. Dan sudah seharusnya salik untuk selalu menjaga sholat fardhunya dan melaksana-kannya dengan berjama’ah.

m. Menghindarkan Diri Dari Perbuatan Aniaya Terhadap Manusia[15]

Perbuatan aniaya atau dholim ini ada 2 macam, yaitu terhadap diri sendiri dan orang lain.[16] Ada hukum yang terkait dengan jiwa seperti pembunuhan baik sengaja atau tidak sengaja, qishosh, diyat, kafarot (denda), dan lain sebagainya sebagaimana dijelaskan dalam kitab-kitab fiqh. Hukum yang terkait dengan harta seperti kewajiban untuk mengembali-kan harta benda terhadap orang yang dianiaya, atau kepada ahli warisnya. Dan ketika tidak mampu maka diganti dengan memperbanyak perbuatan baik yang pahalanya ditujukan kepada orang yang dianiaya. Sedangkan hukum yang terkait dengan harga diri adalah bentuk aniaya seperti ghibah (menggunjing), namimah (adu domba). Dari bentuk aniaya yang terkait dengan harga diri ini akan menimbulkan lagi bentuk aniaya lainnya seperti iri dengki, dan terputusnya rasa cinta kasih antara sesama. Dan untuk melunasi atau mengganti dosa dari bentuk aniaya ini adalah dengan memperbanyak istighfar.

Namun, para ulama menyatakan bahwa bentuk aniaya yang paling berat adalah aniaya yang terkait dengan harga diri. Sehingga ketika salik telah ter-jerumus ke dalam bentuk aniaya harga diri seperti menggunjing, maka bersegeralah untuk memohon ampun kepada Allah dengan memperbanyak beristighfar, kemudian membaca al-Fatihah, al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Naas, dan pahalanya dihadiahkan kepada orang yang digunjingkan.

n. Memperbanyak Istighfar[17]

Dalam hadits riwayat Bukhari disebutkan: “Aku beristighfar kepada Allah dan aku bertaubat kepada-Nya dalam satu hari sebanyak 70 kali”. Dan dalam hadits riwayat Muslim disebutkan: “Ketika hatiku gundah, maka aku beristighfar kepada Allah sebanyak 100 kali”.

Abu al-Hasan asy-Syadziliy menyatakan bahwa sudah seharusnya salik untuk selalu beristighfar kepada Allah meski tidak sedang melakukan dosa. Karena sebagaimana disebutkan dalam hadits bahwa Nabi begitu sering ber-istighfar dan bertaubat kepada Allah. Padahal Allah sudah dan mengampuni semua dosa Nabi.

Bahkan ketika rizki menjadi sulit, maka dengan istighfar pintu rizki akan menjadi terbuka. Sebagaimana hal ini disebutkan dalam hadits Ibn Hibban: “Barangsiapa menetapi istighfar, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, menjadikan kemudahan dari setiap kesedihan-nya, dan memberinya rizki tanpa dia sangka-sangka”.

Dan ketika suatu kaum selalu beristighfar, maka Allah tidak akan menimpakan suatu musibah kepada mereka. Sebagaimana firman Allah:

وَمَا كَانَ اللهُ لِيُعَذِّبَهُمْ وَهُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

Dengan demikian, sudah seharusnya salik untuk selalu beristighfar memohon ampun kepada Allah. Agar dosa-dosa yang telah dilakukannya mendapat ampunan-Nya. Bahkan ketika dia mendapati orang-orang menilai dia sebagai orang yang baik, namun dalam dirinya tidak demikian. Maka bersegeralah untuk beristighfar kepada Allah ‘azza wa jala. Sebagaimana hal ini diutarakan oleh para ulama.

o. Menetapi Malu[18]

Dalam sebuah hadits disebutkan: “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu!”. Sahabat pun menjawab: “Kami malu ya Rasulallah, dan segala puji hanya bagi Allah”. Nabi bersabda: “Bukan itu. Akan tetapi, barangsiapa yang malu kepada Allah maka hendaknya dia menjaga kepala dan apa yang terkandung di dalamnya, menjaga perutnya dan apa yang terkandung di dalamnya, dan hendaknya dia mengingat mati dan busuknya jasad. Barangsiapa menghendaki akhirat, maka tinggalkanlah perhiasan kehidupan dunia. Dan barangsiapa yang melakukannya, maka dia telah malu kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu”.

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa malu di sini adalah malu untuk bermaksiat kepada Allah. Karena dengan malu salik akan selalu merasa diawasi oleh Allah. Sehingga dia akan selalu berusaha menjaga semua per-buatannya dari melalaikan dirinya dari Allah.

Banyak pendapat ulama yang menyatakan tentang keutamaan menjaga perilaku. Karena perbaikan perilaku adalah tujuan pokok dari perjalan spiritual ini. Bahkan para ulama menyatakan bahwa perilaku adalah sepertiga bagian dari agama.

Ulama lain juga menyatakan ketika seorang salik dalam melaksakan ibadahnya akan tetapi tidak menjaga perilakunya, maka tidak akan terbuka baginya hijab antara dirinya dan Allah. Tidak hanya itu, para kekasih Allah bisa sampai kepada-Nya bukan karena dengan banyaknya amal, melainkan karena perilaku dan akhlak yang baik.

q. Selalu Berdzikir Kepada Allah[19]

Dzikir merupakan puncak dari tahapan-tahapan yang harus dijalani salik, tahapan yang bisa mengantarkannya pada tujuannya, yaitu Allah ‘azza wa jalla. Begitu banyak keterangan yang menyebutkan tentang keutamaan dzikir. Namun, di sini hanya akan dipaparkan beberapa hal terkait keutamaan dzikir ini.

Dalam sebuah hadits qudsiy riwayat Bukhari Muslim, Allah berfirman: “Aku ada dalam persangkaan hambaku. Aku bersamanya ketika dia menyebut-Ku. Ketika dia menyebut-Ku dalam hatinya, maka Aku akan menyebutnya dalam diri-Ku. Dan ketika dia menyebut-Ku dalam suatu kumpulan, maka Aku akan menyebutnya dalam suatu kumpulan yang lebih baik dari kumpulannya”.

Dalam hadits riwayat Muslim, an-Nasa’iy dan al-Bazzar: “Apakah tidak aku ceritakan kepada kalian suatu amal yang paling baik, yang lebih baik di sisi Tuhan kalian, yang paling tinggi diantara derajat kalian, yang lebih baik bagi kalian daripada menafkahkan emas dan perak, yang lebih baik bagi kalian daripada melemparkan musuh kemudian memotong leher mereka, yang lebih baik daripada mereka memotong leher kalian?”. Para sahabat menjawab: “Ya”. Nabi bersabda: “(Amal itu adalah) berdzikir kepada Allah ‘azza wa jalla”.

at-Thabrani juga meriwayatkan: “Perumpamaan orang yang berdzikir kepada Tuhannya dengan orang yang tidak berdzikir, adalah bagaikan hidup dan mati”. Dalam hadits lain riwayat at-Thabrani juga disebutkan: “Allah berfirman: ‘Wahai anak Adam, ketika engkau menyebut-Ku maka engkau telah bersyukur kepada-Ku. Akan tetapi, ketika engkau melupakan-Ku maka engkau telah kufur kepada-Ku”.

Syaikh Abu al-Mawahib asy-Syadziliy menuturkan bahwa dzikir itu lebih agung daripada sholat, karena sholat — meskipun merupakan suatu ibadah yang begitu agung — terkadang tidak diperbolehkan dalam beberapa waktu. Berbeda dengan dzikir, dzikir dapat dilakukan kapan saja dan dimana saja.[20]

Dengan dzikir berbagai bisikan setan menjadi hilang. Dan ketika bisikan setan telah hilang maka tiada kemaksiatan yang dilakukan. Demikian halnya dengan bisikan nafsu, ketika dzikir telah menguasai hati, maka ajakan untuk menuruti keinginan akan hilang. Bahkan dengan dzikir diri salik akan dijaga oleh Allah dari segala sesuatu yang membahayakan, sebagaimana hal ini diutarakan oleh Dzu an-Nuun al-Mishriy.

Mengenai adab dalam berdzikir, salik hendaknya menjernihkan hatinya dari segala hal yang menyebabkan rusaknya dzikir itu sendiri. Dan melaksanakan dzikir dengan seluruh kekuatan hati serta menghadirkan keagungan Allah dalam hatinya, agar dia mampu mencapai maqam yang ditujunya dengan cepat. Dan alangkah baiknya bentuk dzikir jahr dilaksanakan secara berjama’ah. Karena dengan dzikir jahr berjama’ah akan semakin mempercepat terbukanya hijab.

[1] Sayyid Abd  al-Wahab as-Sya’roni, al-Minah as-Saniyyah, (tt.: Maktabah Muhammad bin Syarif, tth.) hlm.2 - 4
[2] Sayyid Abd  al-Wahab as-Sya’roni, al-Minah as-Saniyyah...hal. 4 - 5
[3] Ibid, hal. 5-7
[4] Ibid, hal. 7
[5] Ibid, hal. 7 - 8
[6] Ibid, hal. 8
[7] Ibid, hal. 8 - 9
[8] Imam Syafi’i berkata: “Mencari harta halal yang lebih, merupa-kan suatu siksaan yang diberikan oleh Allah pada ahli tauhid”.
[9] Ibid, hal. 9-10
[10] Ibid, hal. 11
[11] Ibid, hal. 11-13
[12] Abu Bakar bin ‘Abbas menyatakan bahwa banyak berbicara akan melebur kebaikan, sebagaimana bumi menyerap air. al-Fudhail juga memapar-kan bahwa barangsiapa selalu menghitung-hitung (menjaga dan mengawasi) perkataan dari perbuatannya, maka menjadi sedikitlah bicaranya. Para ulama tidak mewariskan hikmah kecuali hanya melalui diam dan bertafakkur. Karena wara’ dalam ucapan lebih berat daripada wara’ dalam makanan dan pakaian.
[13] Ibid, hal. 13
[14] Ibid, hal. 13-14.[
[15] Ibid, hal. 14-15
[16] menurut pandangan Sayyid al-Khowwash perbuatan aniaya ada tiga bagian, yaitu aniaya yang berhubungan dengan jiwa, aniaya yang berhubungan dengan harta, dan aniaya yang berhubungan dengan harga diri. 
[17] Ibid, hal. 15
[18] Ibid, hal. 16
[19] Ibid, hal. 16-20. 
[20] Sayyid Abu Madyan at-Talsaniy mengatakan bahwa barangsiapa yang ajeg dalam berdzikir, maka akan menjadi jernih hatinya. Barangsiapa sudah jernih hatinya, maka tempatnya adalah hadirat ilahi.

Sumber: Perpustakaan Uin Sunan Kalijaga


0 Response to "Resensi Kitab al-Minah as-Saniyyah karya Sayyid Abd al-Wahab as-Sya’roni"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!