Tradisi Pembacaan Surat Yusuf dan Maryam bagi Orang Hamil

Advertisement

TRADISI TINGKEBAN DI DUSUN LERAN GRESIK
(Analisis Tradisi Pembacaan Surat Yusuf dan Maryam bagi Orang Hamil)

PENDAHULUAN

Sebagian besar masyarakat di Indonesia mempercayai bahwa kehidupan manusia selalu diiringi dengan masa-masa kritis, yaitu suatu masa yang penuh dengan ancaman dan bahaya[1] . Masa-masa itu adalah peralihan dari tingkat kehidupan yang satu ke tingkat kehidupan lainnya (dari manusia masih berupa janin sampai meninggal dunia), mulai dari gerak-gerik isyarat kecil tak teratur yang melingkungi kelahiran, sampai kepada pesta dan hiburan besar yang diatur rapi pada khitanan dan perkawinan dan akhirnya upacara-upcara kematian yang hening dan mencekam perasaan. Dalam keseluruhannya slametan  menyediakan kerangka; apa yang berbeda adalah intensitas, suasana hati, dan kompleksitas simbolisme khusus dari peristiwa itu. Upacara-upacara itu menekankan kesinambungan dan identitas yang mendasari semua segi kehidupan dan transisi serta fase-fase khusus yang dilewatinya.[2]

Di antara upacara-upacara yang melingkari hidup seseorang tersebut, namun pada kesempatan kali ini, tulisan ini hanya terfokus pada salah satu dari serentetan  upacara kelahiran,[3] yakni tingkeban. Namun, pokok pembahasan yang paling utama dalam makalah ini adalah mengenai nilai-nilai Qur’ani yang terkandung di dalamnya, yakni bagaimana pembacaan surat Yusuf dan Maryam bagi orang yang sedang hamil. Dan melihat fenomena yang ada, tradisi pembacaan surat Yusuf dan Maryam ini biasa dilaksanakan pada masa kehamilan. Formalnya, tradisi baca surat Yusuf dan Maryam ini biasanya dilakukan saat upacara kehamilan tujuh bulan, Tingkeban.

Pada kesempatan kali ini penulis akan mencoba memaparkan tradisi tingkeban serta bagiamana seluk beluknya  pembacaan surat Yusuf dan Maryam di masyarakat dalam menyambut kelahiran sang bayi dengan berdasarkan hasil wawancara  penulis dengan para narasumber.  

A. DESKRIPSI TRADISI

1. Asal Usul Upacara Tingkeban dan Pergeserannya menuju nilai-nilai Islami

Upacara tingkeban atau mitoni adalah upacara selametan yang diselenggarakan pada bulan ketujuh masa kehamilan dan hanya dilakukan apabila anak yang dikandung adalah  anak pertama bagi si ibu, si ayah atau keduanya.[4] Upacara ini dimaksudkan untuk memohon keselamtan, baik bagi ibu yang mengandung maupun calon bayi yang akan dilahirkan. Pada umumnya masyarakat Jawa dalam menyelenggarakan Tingkeban dilakukan serangkaian upacara di antaranya Siraman, ganti pakaian, brojolan, dan Slametan.[5]

Awal mula adanya upacara Tingkeban bermula pada jaman Kediri ketika itu ada seorang wanita bernama Niken Satingkeb. Dalam cerita rakyat dikisahkan bahwa Niken Satingkeb bersuamikan Sadyo yang hidup pada masa kerajaan Widarbo Kundari. Pada waktu itu atas perintah Sang Prabu Jayapurusa, Niken Satingkeb diperintahkan untuk mengadakan upacara.[6]

Seiring dengan berkembangnya  sejarah, tradisi  ini terus hidup hingga masa Raden Ja’Far Sodiq—yang lebih dikenal dengan Sunan Kudus—menyebarkan agama Islam di daerah Kudus dan  pada waktu itu masih banyak penduduk yang beragamakan hindu dan Budha. Oleh karena itu, Umat  Islam saat itu, masih kental dengan adat-adat jawa yang kadang kala bertentangan dengan ajaran Islam. Dan salah satu adat istiadat yang ada sudah ada pada saat itu adalah adanya upacara selamatan/syukuran bagi ibu yang sedang hamil. Upacara tersebut dinamakan dengan Tingkeban/mitoni. Tingkeban/mitoni yang ada pada saat itu masih tercampur budaya lama(masih tercampur nilai hindu-budha), calon ibu menyediakan sesajen guna dikirim kepada para Dewa dan   meminta kepada Dewa tersebut bahwa bila anaknya lahir supaya tampan seperti Arjuna dan jika anaknya perempuan supaya cantik seperti Dewi Ratih. Namun adat tersebut tidak ditentang secara keras oleh Sunan Kudus, melainkan diarahkan dalam bentuk Islami. Acara selamatan boleh terus dilakukan tapi niatnya bukan sekedar kirim sesaji kepada para Dewa, melainkan bersedekah kepada penduduk setempat dan boleh dibawa pulang. Sedang permintaannya langsung ditujukkan kepada Allah dengan harapan anaknya lahir laki-laki akan berwajah tampan seperti Nabi Yusuf, dan bila perempuan seperti Siti Maryam Ibunda Nabi Isa as. Oleh karenanya, masyarakat saat itu (calon ibu dan suaminya) ditekankan untuk membaca surat Yusuf dan Maryam ketimbang  melaksanakan adat istiadat yang berbaukan Hindu yang jauh dari nilai-nilai Islam.[7] Dari sinilah tradisi pembacaan surat Yusuf dan Maryam bagi orang hamil muncul, pun  masih eksis sampai saat ini. 

Tradisi Pembacaan Surat Yusuf dan Maryam bagi Orang Hamil

Bahkan realitanya, tradisi tingkeban  ini tidak hanya dimilki   oleh budaya Jawa saja, di daerah-daerah lain seperti daerah Jawa barat , Madura[8],  masih  menerapkan tradisi ini guna memelihara dan menghormati warisan budaya leluhur.

2. Tingkeban di tanah Sunda; sedikit uraian tradisi di daerah Garut

Sebagaimana yang telah sebutkan penulis sebelumnya, tradisi ini tidak hanya dimiliki oleh budaya Jawa saja, beberapa daerah di antaranya seperti Jawa barat pun memiliki tradisi yang sama.[9] Dan seperti di daerah jawa, di dalam upacara ini pun biasa diadakan pengajian biasanya membaca ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam.

Akan tetapi berdasarkan pengalaman penulis selama tinggal di tanah jawa barat, tradisi tingkeban  ini semakin hari semakin berkurang dan  mengalami kemunduran keeksistensiannya, dikarenakan kesadaran masyrakat akan pemeliharaan tradisi lama yang semakin menurun. Beradasarkan hasil wawancara penulis kepada salah seorang warga Garut, tradisi tingkeban di daerah Garut ini  dulu masih sering dilaksankan, karena seiring perkembangan zaman serta meningkatnya Sistem pendidikan yang berbasiskan Islam, tradisi ini menjadi semakin ditinggalkan, dengan alasan tingkeban tidak sesuai dengan Syari’at Islam.[10] Meskipun tradisi ditinggalkan,  akan tetapi nilai-nilai religi dalam tradisi tersebut tetap dipertahankan. Seperti, pembacaan  ayat-ayat Al-Quran surat Yusuf, surat Lukman dan surat Maryam yang menjadi bacaan “wajib” bagi ibu hamil. Tradisi membaca surat ini, Di Garut, umumnya  dilakukan secara individual tanpa ada prosesi-prosesi khusus.  Oleh karena itu, guna memperluas khazanah kelimuan, penulis beranjak ke daerah lain yang melakukan tradisi pembacaan surat Yusuf dan Maryam ini lengkap dengan prosesi-prosesinya. Daerah yang menjadi sumber penelitian penulis  adalah Dusun  Leran, Gresik Jawa Timur.

3. Pelaku : tradisi pembacaan surat Yusuf dan Maryam di desa Leran-Gresik ini  dilakukan oleh tiga jenis pelaku yang berbeda, yakni:

a. Individu : hal ini pembacaan surat Yasin danMaryam dilakukan oleh ibu hamil tanpa ditentukan waktu dan tidak menggunakan tradisi-tradisi  yang telah membudaya di masyarakat. Dalam tradisi macam ini, pembacaan tidak hanya mutlak dilakukan oleh si calon ibu saja, akan tetapi para suaminya pun boleh ikut membaca surat-surat tersebut.

b. Pesantren : pembacaan surat maryam/yusuf dilakukan dengan cara membagi dua kelompok dalam satu tempat—biasanya dilaksanakan di mesjid—yakni kelompok laki-laki dan perempuan yang dipisah dengan pembatas(baca: hijab). Masing-masing kelompok membacakan suratnya masing-masing, yakni yang laki-laki membaca Surat Yusuf dan yang perempuan membaca surat Maryam.

c. Masyarakat biasa: pembacaan surat Yusuf dan Maryam ini digabung dengan pelaksanaan upacara tingkeban, ia merupakan salah satu bagian dari tradisi yang tidak bisa ditinggalkan  dan tradisi yang ada pada masyarakat inilah yang menjadi  fokus peneliti dalam mengungkap fenomena dalam tradisi pembacacaan surat maryam dan yusuf ini.[11]

4. Teknis Pelaksanaan Tradisi Pembacaan Surat Yusuf dan Maryam bagi Orang Hamil
Sebelum membahas tradisi tingkeban di dusun Laren ini, maka tidak ada salahnya penulis mengulas sedikit  tentang tradisi tingkeban pada umumnya, adapun  serangkaian upacara tingkeban/mitoni secara garis besar adalah sebagai berikut:

1.Siraman atau mandi merupakan simbol upacara sebagi pernyataan tanda pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa.
2. Upacara memasukkan telor ayam kampung ke dalam kain(sarung) si calon ibu oleh sang suami melalui perut dari ats perut lalu telur dilepas sehingga pecah. Ini sebagi simbol harapan bayi lahir dengan mudah tanpa aral melintang.
3. Upacara brojolan atau memasukkan sepasang kelapa gading muda yang telah digambari Kamajaya dan Dewi ratih atau Arjuna dan Seembadra ke dalam sarung dari atas perut calon ibu ke bawah. Makna simbolis dari upacara ini adalah agar kelak bayi lahir dengan mudah tanpa kesulitan
4. Upacara ganti busana dengan enis kain sebnayak tujuh buah dengan motif kain yang bebeda
5. Membuat rujak dengan bumbu yang dibuat oleh ibu jabang bayi.

Namun tradisi tingkeban  ini tidak dapat diselenggarakan sewaktu-waktu, biasanya memilih hari yang dianggap baik untuk menyelenggarakan upacara ini dan biasanya disesuaikan dengan usia kehamilan calon ibu dan atas berdasarkan kesepakatan keluarga yang bersangkutan.

Berikut adalah penjelasan tradisi tingkeban di dusun Leran Gresik yang menjadi fokus penulis dalam mengkaji tradisi ini.  Pada pelaksanaanya , tradisi tingkeban di daerah ini tidak melaksanakan rentetan-rentetan upacara sebagaimana yang telah penulis sebutkan sebelumnya. Akan tetapi di dusun ini, acara tingkeban penekannnya lebih diisi dengan upacara pembacaan Surat Yusuf dan Maryam.  Selama prosesi acara berlangsung, Terdapat pembagian tugas antara pihak laki-laki dan perempuan, yakni hanya yang laki-laki yang bisa mengikuti proses acara tersebut dari awal sampai akhir. sedangakan pihak perempuan tidak bisa mengikuti prosesi acara tersebut dikarenakan tugas perempuan hanya  untuk mempersiapakan segala sesuatu yang berkaitan dengan acara ini—misal, mempersiapkan hidangan— agar bisa berjalan lancar dan tanpa hambatan. Oleh karena itu, Shahib al-Bait hanya mengundang kerabat, tetangga yang laki-laki saja.

Adapun prosesi pelaksanaanya, dapat diurutkan sebagai berikut:

Pertama,  pembukaan yang diisi dengan pembacaan do’a-do’a,
Kedua, marhabanan,  yaitu bagian acara yang diisi dengan pembacaan do’a-do’a dan shalawat kepada junjungan Nabi Muhammad Saw. oleh   para tamu  yang dibaca bersama-sama.
Ketiga, Tahlil-an, membaca lafadz-lafadz tahlil yang dipimpin oleh seorang kyai di desa tersebut.

keempat, penutup, merupakan akhir acara dalam prosesi ini. biasanya sesi acara ini diakhiri dengan pembacaan doa-doa. Pada ujung acara para tamu  undangan dipersilahkan untuk menyantap hidangan yang telah disajikan oleh Shahib al-Bait. Ada  satu hal yang menjadi ciri khas tradisi ini[12] yakni  Selesai acara tersebut para tamu undangan pulang dengan membawa berkat. Berkat ini merupakan makanan yang khusus disediakan bagi para tamu ketika mereka hendak pulang. Adapun berkat tersebut terdiri dari berbagai jenis makanan. Biasnya isi berkat  tersebut berupa rujak yang diserut dan dicampur dengan bumbu pedas, procot[13]

Baca Juga: Cara Membuat Anak Kembar, Laki-Laki Atau Perempuan

Dan ada satu hal yang menurut penulis menarik dan ini merupakan tradisi khusus yang menjadi suatu ‘kewajiban’ yang mesti dilaksanakan ibu hamil dan dipercaya akan menimbulkan suatu bala, jika salah satunya tidak dilaksanakan. Pihak perempuan mempersiapkan dua kelapa muda yang masih dalam satu tangkai yang diberi tulisan khusus oleh tetua/kyai pimpinan acara tersebut[14], serta minyak klethik yang disediakan khusus untuk diminum calon ibu tersebut.

5. Landasan Tradisi Pembacaan Surat Yusuf dan Maryam bagi Orang Hamil

Dalam pelaksanaan tingkeban/Mitoni selain terbentuk dari pola lama yaitu sebelum ajaran agama Islam masuk ke dalam Indonesia yang  masih erat dengan kebudayaan hindu yang bersal dari kerajan Kediri namun dilihat  dari  proses perkembangannya pelaksanaan tradisi ini semakin menunjukan nilai-nilai  keislamannya. Ajaran Islam yang terkandung di dalam tingkeban/mitoni ini pada dasarnya yaitu slametan ataupun pengungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sebagai pencipta dan pemberi rezeki dan karunia kepada manusia. Anak merupakan salah satu karunia yang diberikan oleh tuhan sebagi penerus rezeki dan karunia kepada manusia. Anak merupakan salah satu karunia yang diberikan oleh tuhan sebagai penerus keluarga ataupun keturunan, dengan demikian wanita yang sedang mengandung seorang anak, pada umur kandungannnya tujuh bulan mengadakan slametan  atau syukuran. Dalam al-Quran surat al-A’raf: 189
هُوَ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَجَعَلَ مِنْهَا زَوْجَهَا لِيَسْكُنَ إِلَيْهَا فَلَمَّا تَغَشَّاهَا حَمَلَتْ حَمْلًا خَفِيفًا فَمَرَّتْ بِهِ فَلَمَّا أَثْقَلَتْ دَعَوَا اللَّهَ رَبَّهُمَا لَئِنْ آَتَيْتَنَا صَالِحًا لَنَكُونَنَّ مِنَ الشَّاكِرِينَ

Artinya : Dia-lah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasngannya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami-istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami  anak yang saleh (sempurna), tentulah kami akan selalu bersyukur.”

Dalam ayat tersebut dikatakan apabila kandungan sudah mulai berbobot ataupun sudah mempunyai beban yang dalam keadaan ini kemudian dikatakan tujuh bulan kehamilan seorang wanita. Waktu tersebut dipilih karena pada waktu tersebut janin yang ada di dalam perut ibu yang hamil sudah mempunyai bentuk yang sempurna dan hanya menunggu kelahirannya, sehingga pada umur tersebut pasangan suami istri perintahkan untuk senantiasa bersyukur dan memohon agar diberikan anak yang sehat, normal dan utuh. Dari ayat tersebut dapat kita ketahui bahwa masyarakat yang melaksanakan tradisi tingkeban/mitoni ini berlandaskan pemahaman mereka terhadap ayat tersebut sebagai bentuk perwujudan dan pengugkapan rasa syukur kepada Allah SWT.

Adapun mengenai alasan mengapa hanya Surat Yusuf dan Maryam saja yang menjadi bacaan ketika hamil, sebagian besar mereka berasumsi bahwa dengan membaca surat-surat tersebut, kelahiran anaknya kelak bisa setampan dan secantik nabi Yusuf dan Siti Maryam. Dan tidak ada landasan normatif yang mendukung pernyataan tersebut.

B. ANALISIS

Upacara tradisi tingkeban  ini sudah menjadi tradsi yang turun temurun dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia ini, selain guna mengungkapan rasa syukur kepada Yang Maha Esa,  masyarakat di daerah ini juga percaya bahwa jika tidak melaksanakan tradisi ini dikhawatirkan keluarga tersebut/ calon ibu akan mendapatkan bala yang berdampak pada kelahiran dan kesehatan anakanya kelak.

Dusun Leran, adalah daerah yang masih melekat dengan tradisi tingkeban ini. Uniknya, tradisi tingkeban di daerah ini tidak ‘melulu’ mengikuti aturan-aturan yang suadah menjadi suatu hal yang primordial dalm melaksanakan tradisi ini. terbukti dengan adanya syarat-syarat/item-item penting—seperti siraman, ganti pakian, dll— yang tidak dilaksanakan sebagaimana upacara tingkeban mestinya. Namun dikrenakan kondisi sosial yang agamis, serta menjunjung tinggi nilai keislaman, serentetan ritual tersebut justru diganti dengan kegiatan-kegiatan religius. Kegiatan yang paling menonjol dalam tradsi tingkeban di daerah ini adalah adanya upacara pembacaan tradisi surat Yusuf dan Maryam. Meskipun di daerah lain pembacaan surat Yusuf dan Maryam ini juga merupakan bagian ritual tingkeban, akan tetapi biasanya pembacaan surat-surat tersebut hanya sebatas pembacaan saja tanpa ada urutan prosesinya. Berbeda dengan yang terdapat di dusun Leran Gresik. Pembacaan surat Yusuf dan Maryam ini, dijadikan sebuah upacara khusus dan mempunyai ritual-ritual tersendiri dan merupakan bagian acara yang tidak boleh ditinggalkan.

Mengenai alasan mengapa surat yang dibaca adalah Yusuf dan Maryam, dari narasumber  sendiri, penulis tidak mendapatkan alasan normatif untuk menguatkan pernyaaatan tersebut. Sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya mereka hanya mengikuti tradisi dan sebagai bentuk  pengungkapan rasa syukur kepada Allah swt., juga  sebagai harapan dan doa orang tua apabila yang lahir laki-laki maka kelak akan sholeh dan setampan nabi Yusuf, dan apabila yang lahir adalah bayi perempuan maka harapan orangtua berharap akan akansecantik Siti Maryam baik darisegi akhlak maupun fisik.

Menanggapi hal ini, penulis cantumkan  hadis riwayat Muslim
....ثُمَّ عَرَجَ بِي إِلَى السَّمَاءِ الثَّالِثَةِ فَاسْتَفْتَحَ جِبْرِيلُ فَقِيلَ مَنْ أَنْتَ قَالَ جِبْرِيلُ قِيلَ وَمَنْ مَعَكَ قَالَ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قِيلَ وَقَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ قَالَ قَدْ بُعِثَ إِلَيْهِ فَفُتِحَ لَنَا فَإِذَا أَنَا بِيُوسُفَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا هُوَ قَدْ أُعْطِيَ شَطْرَ الْحُسْنِ [15]........

Hadis di atas merupakan riwayat Hamad bin Salamah meriwayatkan dari Tsabit dari Anas dari Rasulullah Saw, ketika itu Rasulullah saw melewati Yusuf di langit ketiga. Beliau bersabda, “ternyata dia (Yusuf) diberi separuh ketampanan.........”

Menurut hemat  penulis hadis ini bisa dijadikan landasan mengapa bacaan bagi orang hamil terfokus pada surat Yusuf. Ketampanan seorang Yusuf yang diakui oleh nabi Muhammad.  Adapun mengenai khasiat surat yusuf itu sendiri adalah sebagai berikut:

1. Dalam Tafsir Ats-Tsqalayn dijelaskan bahawa  Barang siapa yang membaca surat Yusuf setiap hari dan setiap malam, dia akan dibangkitkan pada hari kiamat keindahan wajahnya Yusuf. Tidak ditimpa azab besar pada hari kiamat dan ia termasuk hamba Alalh swt yang sholeh dan menjadi pilihan.

2. Seangkan dalam Tafsir al-Bayan Imam Ja’far mengatakan bahwa anaknya pernah berkata “Demi Allah aku tidak melakukan pada sebagian anakku, mendudukkan pada pangkuanku dan tidak pernah pilih kasih, walaupun kebenaran berada pada seorang anakku dan sebagian yang lain menolaknya. Hal ini agar tidak terjadi seperti perlakuan saudara yusuf pada Yusuf. Surat Yusuf tidak diturunkan kecuali seperti itu agar sebagian kita tidak menghasut sebagian yang lain seperti Yusuf dihasut dan dizalimi oleh saudaranya.

3. Sebagian masyarakat muslim Indonesia percaya bahwa dengan membacakan surat Yusuf bagi janin (laki-laki) dalam kandungan, akan menularkan ketampanan Nabi Yusuf kepada sang janin.[16]

        Sedangkan mengenai pilihan mengapa surat Maryam yang dibaca, sejauh ini penulis belum bisa menemukan data baik dari al-Quran maupun hadis yang meyatakan secara pastinya bahwa dengan membaca surat Maryam diharapkan anaknya serupawan ibunda nabi Isa tersebut. Namun, mengingat isi dan kandungan surat Maryam, menurut penulis ini bisa dijadikan alasan lain mengapa surat Maryam dijadikan salah satu bacaan yang “wajib” dibaca oleh ibu hamil. Adapun fadhilah membaca surat Maryam ini adalh sebagai berikut:

1. Dengan membaca surat ini, orangtua kan termotivasi untuk senatiasa berdoa kepada Allh agar mendapatkan keturunan yang saleh, suci dan bertaqwa, serta menjaganya dari gangguan syaitan.

2. Dalam surat Maryam ini terdapat kisah tentang kesabaran maryam ketika mengahdapi ujian dari Allah. Kisah ini bisa dijadiksn pelajaran bagi umat muslim utuk menghadapi ujian dan tantangan dengan sabar, cerdas dan tanpa berputus asa.

     Dengan membiasakan membaca surat-surat in pada sang janin, maka ia akan mendapatkan informasi yang pertama kali didengar olehnya adalah informasi yang baik, yaitu inormasi yang bersumber pada sumber yang jelas dan benar, yaitu Allah swt, janin akanmerekam kuat pada otaknya mengenai pelajaran-pelajran yang terkandung di dalam surat Yusuf dan Maryam tersebut.

C. KESIMPULAN

Tadisi pembacaan surat Yusuf  dan Maryam ini ternyata tidak hanya dilakukan di satu daerah saja. Entah dilakukan secara individu atau digabungkan dengan berbagai rentetan  tradisi dan upacara dengan berbagai ritual-ritual yang menjadi ciri khasnya,  umumnya, Surat Yusuf dan Maryam kerap menjadi bacaan utama bagi orang hamil. Dengan dalih doa agar anak yang dikandungnya kelak akan lahir dengan kesempurnaan akhlak maupun fisik layaknya Nabi Yusuf dan Siti Maryam.

Meskipun untuk memperkuat pernyataan tersebut diperlukan dasar-dasar yang kuat, tapi menurut hemat penulis, mengingat efek positif yang diperolah dari surat Yusuf dan Maryam, maka tidak perlu memperdebatkan hal ini. kita bisa menjadikannya sebagai fadhail amal dalam rangka mengisi hari-hari kelahiran sang jabang bayi.

Demikianlah, penulis menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna. Banyak kekurangn yang harus dilengkapi dalam makalah ini. Oleh karena itu, penulis berharap kritikan dan masukan guna perbaikan makalah selanjutnya. 


DAFTAR PUSTAKA

Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa terj. Aswab Mahasin, Jakarta: Pustaka Jaya, 1983

Imam  Muslim, Sahīh Muslim, CD ROM  Mausu’ah al-Hadis al-Syarīf, Global Islamic Software, 1991-1997

Muchibbah Sektioningsih, Adopsi Ajaran Islam dalam Ritual Mitoni di Desa Ngagel  Kecamatan Dukuh Seti Kabupaten Pati,  Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2009

Tsary Rafidah dan Naafiah, Surat Yusuf dan Surat Maryam: Rahasia Anak Lahir Rupawan, Yogyakarta: Mutiara Media, 2009

http://islamic.xtgem.com/update_juni2008/kisah_9wali/wali08.htm   

[1] Koentjaraningrat, Beberapa Pokok Antropologi Sosial. (Jakarta: Dian Rakyat, 1985)hlm.
[2] Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa terj. Aswab Mahasin (Jakarta: Pustaka Jaya, 1983), hlm. 48
[3] Di sekitar kelahiran terkumpul empat slametan utama dan berbagai  slametan kecil. Acara-acaraa tersebut diantaranya, yakni ada tingkeban(diselenggarakan hanya apabila anak yang dikandung adalah anak pertama),babaran atau barokahan (diselenggarakan pada waktu kelahiran bayi itu sendiri), pasaran (lima hari sesudah kelahiran) dan  pitonan(tujuh bulan setelah kelahiran). Slametan-slametan lainnya  bisa diadakan bisa juga tidak, yakni telonan (pada bulan ketiga masa kehamilan), selapanan (bulan pertama sesudah kelahiran),taunan (diadakan setaun sesudahnya). Beberapa orang mengadakan slametan setiap bulan sesudah kelahiran selama satu atau dua tahun secara tak teratur hingga anak itu dewasa , tetapi praktek ini sangat beraneka ragam dan slametan demikain bisaya kecil dan tidak penting. (lihat Clifford Geertz, Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat, Jawa hlm 48)
[4] Clifford Geertz, hlm. 48
[5] Muchibbah Sektioningsih, “Adopsi Ajaran Islam dalam Ritual Mitoni di Desa Ngagel  Kecamatan Dukuh Seti Kabupaten Pati”, Skripsi Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, 2009, hlm. 29.
[6] Sebagaimana dikutip oleh Muchibbah Sektioningsih dalam Tradisi Simbolik Tingkeban, Journal Jantra Vol 2 No 3, 2007. Hlm. 142
[7] http://islamic.xtgem.com/update_juni2008/kisah_9wali/wali08.htm diakses pada tanggal 1 Desember 2009
[8] di Madura upacara masa kehamilan disebut dengan upacara pelet kandhung.
[9] Berbeda dengan daerah Jawa, Tingkeban di daerah Sunda berasal dari kata tingkeb artinya tutup, maksudnya si ibu yang sedang mengandung tujuh bulan tidak boleh bercampur dengan suaminya sampai empat puluh hari sesudah persalinan, dan jangan bekerja terlalu berat karena bayi yang dikandung sudah besar, hal ini untuk menghindari dari sesuatu yang tidak diinginkan.
[10] Wawancara dengan al-Ustadz Suryana, salah seorang  warga Daerah Kabupaten Garut, dan Staff pengajar Pondok Pesantren Persis, Garut, via telpon tanggal 3 Desember 2009.
[11] Wawancara dengan Ibu Maria Ulfah, salah seorang warga desa kuti dusun  Leran Gresik yang pernah menjadi shāhib al-bait pelaksanaan acara tingkeban ini, via telpon tanggal 3 Desember 2009.
[12] Berdasarkan pernyataan narasumber, bahwa pemberian berkat adalah ciri khas dalam tradisi tingkeban di daerah ini.
[13] Makanan yang terbuat ketan yang dibugkus dengan daun pisang.
[14] Menurut narasumber, tulisan tersebut  tidak dapat dibaca dengan jelas. setiap orang yang membacanya akan  mendapatkan tulisan yang mencantumkan nama  yang berbeda.
[15] Hadis Riwayat Muslim, Sahīh Muslim Imam Muslim, kitāb Al-Īmān  No. 234.  dalam CD ROM  Mausu’ah al-Hadis al-Syarīf, Global Islamic Software, 1991-1997.
[16] TsaryRafidah dan Naafiah, Surat Yusuf dan Surat Maryam: Rahasia Anak Lahir Rupawan( Yogyakarta: Mutiara Media, 2009) hlm. 112-113

0 Response to "Tradisi Pembacaan Surat Yusuf dan Maryam bagi Orang Hamil"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!