Apa Pengertian Istiqomah dan Iman? Selaraskah?

Advertisement
Tongkronganislami.net,- Umat islam adalah umat yang beriman, berprinsip, dan berideologi. Iman yang menjadikan umat islam berbeda dengan umat lain adalah iman yang senantiasa baru pada manusia. iman yang mampu membersihkan akidah manusia dari kotoran kesesatan dan debu-debu syirik serta kekufuran adalah iman yang mengandung keyakinan akan ke-Esa-an Allah pencipta alam semesta.

Iman adalah kepercayaan hati terhadap apa-apa yang dibawa oleh Rasulullah yang disertai dengan mengamalkan syariatnya. Akan tetapi pengakuan iman tidak cukup hanya di ucapkan di bibir saja, tanpa diwujudkan dalam perwujudan yang nyata. Seorang yang mengaku dirinya beriman tapi enggan melakukan kebaikan dan condong melakukan kejahatan, maka arti iman orang itu tidak sempurna. Karena orang-orang yang benar-benar memiliki iman yang kuat pasti ia selalu menjaga dirinya dari kehinaan dan kerendahan yang menyebabkan ia dimurkai oleh Allah. Jika dilihat dari kenyataan yang ada pada masyarakat sekarang ini, mereka yang menyatakan dirinya sebagai orang islam, banyak terjerumus dalam dosa besar, seperti melakukan perzinahan, pencurian, dan lain sebagainya. Yang tak lain hanya karena menuruti keinginan nafsunya.

Iman kepada Allah SWT

Oleh karena itu seorang mukmin haruslah memiliki keyakinan dalam hati akan keimanannya disertai perwujudan amal perbuatan dan pengokohan jiwa. Hal ini dikarenakan hati dan jiwa merupakan satu pokok/inti untuk mewujudkan keimanan haqiqi, dan merupakan citra diri dari seorang muslim. Oleh karena itu, Agar iman seseorang itu tidak tercampur oleh perkara haram sekalipun, termasuk berbuat dosa besar dan mendhalimi diri sendiri (syirik),hati harus tetap dalam keadaan istiqomah dan berpegang teguh pada nilai-nilai agama.

Maka dari itu disini akan dijelaskan mengenai arti penting dari iman dan cara merealisasikannya serta cara menjadikan hati tetap fokus pada keimanan.

Pengertian Iman 

Kata iman terdiri dari tiga huruf asal: hamzah, mim, dan nun, yang merupakan kata kerja dari al-amn (keamanan), yang mengandung arti ketentraman dan kedamaian kalbu. Yang dimaksud keimanan seseorang terhadap sesuatu, adalah bahwa dalam hati orang tersebut telah tertanam kepercayaan dan keyakinan tentang sesuatu, dan sejak saat itu ia tidak khawatir lagi terhadap menyelusupnya kepercayaan lain yang bertentangan dengan kepercayaannya. Begitu juga keimanan seseorang terhadap agama islam, orang yang kuat imannya (pada agama islam dan syariat-syariatnya) adalah orang yang sesudah menanamkan keyakinannya, mambangun sepak-terjang hidupnya diatas asas yang kokoh dan kuat yang betul-betul bisa dijadikan pegangan serta memberikan jaminan ketentraman bahwa amal-amal yang ia laksanakan pati sesuai dangan keyakinannya itu.

Iman adalah keyakinan dan amal sekaligus, sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُون

Artinya: “Sungguh, orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasuNya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.”

Dalam ayat lain, Allah juga menjelaskan bahwa orang-orang yang betul-betul beriman adalah orang-orang yang beriman kepada Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para nabi, dan al-Qur’an[1]:

آَمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آَمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

Artinya: “Rasul (Muhammad) beriman kepada apa yang diturunkan kepadanya (al-Qur’an) dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (mereka berkata), “kami tidak membeda-bedakan seorang pun dari rasul-rasul-Nya.” dan mereka berkata, ”kami dengar dan kami taat. Ampunilah kami Ya Tuhan kami, dan kepada-Mu tempat (kami) kembali.”

Dalam hadits juga diterangkan bahwa orang yang akan mendapatkan manisnya iman atu ada 3, yaitu: orang yang cinta pada Nabi melebihi lainnya, orang yang mencintai orang lain hanya karena Allah, dan orang yang benci kembali pada kekufuran sebagaimana dia benci jika dimasukkan kedalam neraka[2]:

حدثنا محمد بن المثنى قال حد ثنا عبد الوهاب الثقفى قال حدثنا أيوب عن أبي قلا بة عن أنس عن النبي صلى الله عليه وسلم قال ثلا ث من كن فيه وجد حلاوة الايمان ان يكون الله ورسوله أحب اليه مما سواهما وأن يحب المرء لايحبه الا لله وأن يكره أن يعود فى الكفر كما يكره أن يقذف فى النار.

Sifat-sifat orang-orang yang beriman dalam Al-Qur'an

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2) وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ (3) وَالَّذِينَ هُمْ لِلزَّكَاةِ فَاعِلُونَ (4) وَالَّذِينَ هُمْ لِفُرُوجِهِمْ حَافِظُونَ (5)

Artinya: “Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang yang khushuk dalam shalatnya, dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna, dan orang yang menunaikan zakat, dan orang yang memelihara kemaluannya.”

Ayat lain dalam al-Qur’an juga menjelaskan tentang mendustakan hari akhir, para Nabi, kitab-kitab[3], dan sebagainya yang berhubungan dengan keimanan: 

قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا (103) الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا (104) أُولَئِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآَيَاتِ رَبِّهِمْ وَلِقَائِهِ فَحَبِطَتْ أَعْمَالُهُمْ فَلَا نُقِيمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَزْنًا (105) ذَلِكَ جَزَاؤُهُمْ جَهَنَّمُ بِمَا كَفَرُوا وَاتَّخَذُوا آَيَاتِي وَرُسُلِي هُزُوًا
Artinya: “Katakanlah (Muhammad), “apakah perlu kami beritahukan kepadamu tentang orang yang paling rugi perbuatannya?” (yaitu) orang yang sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia, sedangkan mereka mengira telah berbuat sebaik-baiknya, mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan (tidak percaya) terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan kami tidak memberikan penimbangan terhadap (amal) mereka pada hari kiamat. Demikianlah, balasan mereka itu neraka jahanam, karena kekafiran mereka, dan karena mereka menjadikan ayat-ayat-Ku dan rasul-rasul-Ku sebagai bahan olok-olok.”

Dengan uraian tersebut diatas, dan juga penjelasan tentang iman yang dikutib dari ayat-ayat al-Qur’an dan hadits, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa iman itu adalah batu sendi paling dasar dalam sistem islam. Akan tetapi iman tidak akan bisa tercapai tanpa amal dan keyakinan yang kuat dalam hati, serta didasari dengan komitmen diri terhadap keimanan agar mencapai akidah yang kokoh yang tidak tercampur oleh debu keraguan.

Membangun Sifat Istiqomah dalam Beribadah

Istiqomah atau Komitmen merupakan salah satu unsur dimensi dalam pro-aktivitas, ia lahir dari akal dengan berpikir yang disadari. Kesadaran bukan di otak, tetapi berpusat dihati. Hati adalah alat untuk menghayati, oleh karena itu komitmen merupakan hasil kerja hati dengan penghayatan. Diantara prasyarat terpenting untuk ibadah adalah kehadiran hati yang sebenarnya merupakan esensi ibadah. Tanpa hati, ibadah tidak ada artinya dan tidak diterima di sisi Allah.
Istiqomah dalam Beribadah islam
Hati orang mukmin adalah hati yang cemerlang, yang tidak keluar dari fitrahnya yang suci. Hati orang mukmin bergerak pada jalan yang lurus, yaitu jalan spiritual yang lempang menuju nilai-nilai kemanusiaan, Dan memiliki hati bersih yang dapat mengantarkannya pada derajat yang tinggi di hari akhir, sebagaimana firman Allah:

وَلَا تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ (87) يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ (88) إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ (89)

Artinya: “Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) pada hari (ketika) harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati bersih.”(Qs. As-Syu'ara: 87-89).

Tahapan Istiqomah dalam diri Muslim

1. istiqomah hati: yaitu senantiasa teguh dalam mempertahankan kesucian iman dengan cara menjaga kesucian hati dari sifat syirik, menjauhi sifat-sifat cela seperti riya' dan menyuburkan hati dengan sifat terpuji terutama ikhlas. Dengan kata lain, istiqomah hati bermaksud mempunyai keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran.

2. Istiqomah lisan: yaitu memelihara lisan atau tutur kata dari omong kosong supaya senantiasa berkata benar dan jujur, selaras dengan hati yang berpegang pada prinsip kebenaran dan tidak berpura-pura. Istiqomah lisan hanya dimiliki oleh orang yang beriman dan berani menyatakan dan mempertahankan kebenaran dan hanya takut kepada Allah. Demikian ini, dalam al-Qur'an disebutkan:

يُثَبِّتُ اللَّهُ الَّذِينَ آَمَنُوا بِالْقَوْلِ الثَّابِتِ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَفِي الْآَخِرَةِ وَيُضِلُّ اللَّهُ الظَّالِمِينَ وَيَفْعَلُ اللَّهُ مَا يَشَاءُ (27)

Artinya: "Allah meneguhkan (iman) orang-orang yang beriman denganucapan yang teguh (dalam kehidupan) di dunia dan di akhirat, dan Allah menyesatkan orang-orang yang zalim dan Allah berbuat apa yang Dia kehendaki."

Dan hadits[4]:

قال محمد بن داود حدثنى محمد بن ابى السرى - 1 - قال نا بكر بن بشر الترمذي قال حدثنى عبد الحميد بن سوار عن اياس بن معاوية ابن قرة المزني عن ابيه عن جده انه سمع النبي صلى الله عليه وسلم يقول ان الحياء والعفاف والعى عى اللسان لا عى القلب والعمل من الايمان، قال اسحاق قرة بن اياس –

3. Istiqomah perbuatan: yaitu tekun bekerja atau melakukan amalan dan segala usaha untuk mencapai kejayaan yang diridhoi Allah, dengan kata lain istiqomah pebuatan merupakan sikap dedikasi dalam melakukan suatu pekerjaan atau perjuangan menegakkan kebenaran tanpa rasa kecewa, lemah semangat, atau putus asa.

Dari uraian di atas, yang paling menonjol dalam dalam mengembangkan dan membangun komitmen/istiqomah adalah hati. Tak ubahnya dengan tanah subur, hati punya sifat tertentu[5]:

serius menunaikan kebenaran: hal ini membuahkan pengetahuan akan kebenaran sertai dengan sikap konsisten. Allah SWT berfirman:

وَالَّذِينَ اجْتَنَبُوا الطَّاغُوتَ أَنْ يَعْبُدُوهَا وَأَنَابُوا إِلَى اللَّهِ لَهُمُ الْبُشْرَى فَبَشِّرْ عِبَادِ (17) الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الْأَلْبَابِ (18)

Artinya: "Orang-orang yang menjauhi thaghut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, mereka pantas mendapat berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku, Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang palimg baik diantaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat." (Qs. Az-Zumar: 17-18).

Orang yang berhati lurus, cinta kepada kebenaran dan melapangkan dadanya untuk mempelajari islam, yang demikian ini dia berhak mendapat petunjuk dari Allah. Sesuai dengan Firman-Nya:

فَمَنْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يَهدِيَهُ يَشْرَحْ صَدْرَهُ لِلْإِسْلَامِ وَمَنْ يُرِدْ أَنْ يُضِلَّهُ يَجْعَلْ صَدْرَهُ ضَيِّقًا حَرَجًا كَأَنَّمَا يَصَّعَّدُ فِي السَّمَاءِ كَذَلِكَ يَجْعَلُ اللَّهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ (125)

Artinya: " barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah (petunjuk), niscaya Dia akan melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang menaiki langit." (Qs. Al-An'am: 125).

Menjawab panggilan iman dan suka meningkatkannya

Orang yang berhati tulus memenuhi panggilan iman, seperti yang dikisahkan Allah dalam al-Qur'an:

رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِيًا يُنَادِي لِلْإِيمَانِ أَنْ آَمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآَمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الْأَبْرَارِ (193) 

Artinya: " Ya Tuhan kami, sesungguhnya barang siapa yang engkau masukkan kedalam neraka, maka sungguh telah engkau hinakan ia, dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang dhalim. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami mendengar (seruang) yang menyeru kepada iman, (yaitu): "berimanlah kamu kepada TuhanMu", maka kaimi pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah bagi kami dan hapuskanlah dari kami kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti." (Qs. Ali-Imran: 193).

Orang memang bisa lupa, tetapi orang-orang yang berhati lurus akan selalu ingat, sehingga ia tetap melihat, tidak buta. Itulah sebabnya mengapa Allah mensyari'atkan dzikir (ingat) bagi hamba-Nya:

وَذَكِّرْ فَإِنَّ الذِّكْرَى تَنْفَعُ الْمُؤْمِنِينَ (55)

Artinya: " Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang mukmin."

Orang yang berhati lurus yang selalu berfikir, belajar dan ingat, maka ia akan memperhatikan hal tersebut.Dari sini bisa diketahui bahwa hati yang penuh perhatian/istiqamah (komitmen) merupakan jantung dan ruhnya ibadah, dan bahwa kecemerlangan dan derajat kesempurnaannya ditentukan oleh derajat perhatian hati. Bahkan, hal yang lebih penting dari pada meluangkan waktu untuk shalat adalah meluangkan hati. Memiliki hati yang luang artinya bahwa pada waktu shalat atau ibadah lainnya, kita harus melepaskan diri dari urusan duniawi, dengan mengosongkan hati sepenuhnya demi ibadah kepada Allah SWT. Demikianlah suatu keimanan akan tertanam dalam jiwa seorang yang kuat dan memiliki kepribadian utuh yakni istiqomah. 

Asbabul Wurud Hadis iman dan Istiqomah

قل أمنت بالله ثم ا ستقم

Artinya: " Katakanlah: Aku beriman kepada Allah, kemudian luruslah kau!."Diriwayatkan oleh: Imam Ahmad, Muslim, Imam hadits yang empat kecuali Abu Daud dari Sufyan bin Abdullah ats-Tsaqafi.

Dari Sufyan, ia berkata: " Ya Rasulullah katakanlah kepadaku tentang islam yang aku tidak akan bertanya kepada seorangpun selain engkau. Maka Rasulullah bersabda: " katakanlah: Aku beriman kepada Allah….....dst", ini menurut riwayat Muslim. Sedangkan meburur Ibnu Majah dari Sufyan, ia berkata: " Ya Rasulullah terangkan kepadaku satu perintah yang aku akan berpegang teguh kepadanya!". Rasulullah bersabda: " katakanlah, Tuhanku adalah Allah, kemudian luruslah engkau!". Imam Tirmizi telah menambahkan: " apa yang paling ditakuti terjadi atas diriku!". Rasulullah bersabda: "ini". Beliau memegang lidahnya.

Keterangan dan Analisa Asbabul Wurud Hadis iman dan Istiqomah

Yakni: " Perbaharui imanmu kepada Allah, ucapkan dengan hatimu, sebutkan dengan lidahmu, berusahalah menghadirkan pengertian iman secara syar'i diiringi dengan melazimkan berbuat taat dan mengakhiri hal-hal yang bertentangan. Kata al-Manawi, hadits ini merupakan kalimat pendek yang isinya sangat luas. " kami telah mengumpulkan semua pengertian iman, islam, I'tiqad secars qaulli maupun fi'li, ternyata bahwa islam itu adalah peng-Esa-an terhadap Allah, dialah penghasil yang pertama dan utama sedangkan taat dengan seluruh jenisnya adalah urutan yang berikutnya. Dan istiqamah adalah melaksanakan semua yang diperintahkan Allah dan menjauhkan semua yang dilarang."
Kesimpulan

Iman adalah bentuk keyakinan dan kepercayaan seseorang terhadap sesuatu. Imam merupakan promotor yang mendorong manusia untuk melakukan hal-hal yang terpuji dan menjauhkannya dari hal-hal yang keji. Dan orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang percaya pada Allah, para Malaikat, para Rasul, kitab-kitab, dan lain sebagainya tanpa adanya keraguan.

Iman itu bukanlah hanya dengan angan-angan saja, tetapi ia adalah suatu yang tertanam di dalam hati dan dibuktikan oleh perbuatan, seperti: tekun bekerja atau melakukan amalan dan segala usaha untuk mencapai keridhoan Allah. Komitmen keimanan merupakan bagian terpenting dalam hidup seseorang, untuk dapat mencapai komitmen yang kuat adalah dengan memperbaiki hati. Untuk memperbaiki keimanan, seseorang harus memiliki keyakinan dalam hati serta pengokohan dalam jiwa.

Sebagai hamba Allah, kewajiban yang harus dilaksanakan adalah melaksanakan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, inilah bentuk dari keimanan. Akan tetapi keimanan tidak akan bisa terwujud dengan amal perbuatan kecuali dengan hati yang ikhlas dan kuat. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Ahqaaf ayat 13-14:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (13) أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (14)
Artinya: “ Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah”, kemudian dia tetap istiqamah, tidak ada rasa khawatir pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih hati. Mereka itulah para penghuni surga, kekal didalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”(QS. Al-Ahqaaf: 13-14).
Dari ayat diatas menunjukkan bahwa orang-orang yang benar-benar beriman kepada Allah adalah orang-orang yang memiliki komitmen diri/istiqamah dan teguh pendirian dalam tauhid dan yakin akan kebenaran serta memiliki semangat yang tinggi dalam beribadah dan tetap beramal shaleh. Demikianlah hati yang istiqamah merupakan sumber pokok keimanan.

Catatan Kaki

[1] Abul A’la Maududi, Dasar-dasar iman (Bandung: Pustaka, 1986), 16
[2] Abi Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhari, Matn al Bukhari (
[3] Abul A'la Maududi, Dasar-dasar Iman (Bandung: Pustaka, 1986), 17
[4] Al-Maktabah al-Syamilah, al-Imam Abi Abdillah Muhammad bin Ismail bin Ibrahim al-Ju'fiy al-Bukhari, al-Tarikh al-Kabir, (Juz 7), hal. 181
[5] Abdul Majid az-Zandany dkk, Al-Iman (Jakarta: Pustaka al-Kautsar, 1997), 22

Daftar Maraji'

Ad-Damsyiqi, Ibnu Hamzah al-Husaini al-Hanafi. Asbabul Wurud: Latar belakang historis timbulnya hadits-hadits Rasul. Jakarta: Kalam mulia, 2005
Al-bukhari, Abi Abdillah Muhammad bin Ismail. Matn al-Bukhari. Jeddah: al-Haramain, T.th 
Az-Zandany, Abdul Majid dkk. Al-Iman. Jakarta: Pustaka al-kautsar, 1997
Bahreisy, Salim. Tarjamah Riyadhus Shalihin I. Bandung: PT al-Ma'arif, 1986
Khomeini, Imam. 40 Hadits: telaah atas hadits-hadits mistis dan akhlak. Bandung: PT Mizan Pustaka, 2004
Mahmud, Ali Abdul Halim. Karakteristik Umat Terbaik:telaah manhaj, akidah dan harakah. Jakarta: Gema Insani Press, 1996
Maududi, Abu A'la. Dasar-dasar iman. Bandung: Pustaka, 1986 
Artikel Apa Pengertian Istiqomah dan Iman? Selaraskah? ditulis oleh Inayatus Shalihah. Mudahan Bermanfaat