Makalah Islam: Doa Mendapatkan Syafaat Allah SWT dan Rasulullah SAW

Advertisement

‘Ila hadlaratin nabi musthafa rasulillahi shallallhu alaihi wasssalam…Syaiun lillahi lahumul fatihah’. Bacaan seperti ini sering kita dengar ketika kita dalam upacara doa atas meninggalnya seorang warga atau juga dilakukan dalam upacara syukuran biasa. Hal ini dilakukan hanya semata-mata untuk meminta pertolongan dari Allah dan Rasulnya, supaya dosa-dosa kita dapat diampuni dan dapat merasakan nikmatnya menjadi ummat Muhammad ketika di hari kiamat nanti. Pertolongan semacam ini dinamakan Syafaat .

Syafaat sangat diyakini oleh kaum muslim khususnya ulama ahlus Sunnah wal Jamaah akan Urgensinya di hari kiamat besok. Karena hanya dengan syafaat orang yang mempunyai dosa besar dan seharusnya ditempatkan di neraka bisa berkurang masanya dengan pertolongan nabi Muhammad,dikarenakan saat dia hidup pernah membaca sholawat atas Nabi.  Namun Terlepas dari itu syafaat rasul tidak akan berguna bilamana tidak mendapatkan ridha dari Allah. Sebagaimana firmanya yang berbunyi:                            

مَا كَانَ لِلنَّبِيِّ وَالَّذِينَ آَمَنُوا أَنْ يَسْتَغْفِرُوا لِلْمُشْرِكِينَ وَلَوْ كَانُوا أُولِي قُرْبَى مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُمْ أَصْحَابُ الْجَحِيم 

‘‘ Tiadalah sepatutnya bagi Nabi dan orang-orang yang beriman memintakan ampun (kepada Allah) bagi orang-orang musyrik, walaupun orang-orang musyrik itu adalah kaum kerabat (nya), sesudah jelas bagi mereka, bahwasanya orang-orang musyrik itu adalah penghuni neraka jahanam’’. ( Q.S.9:113)

Sangat banyak yang perlu kita ketahui tentang syafaat,tidak hanyaa sekedar mengetaui apa itu syafaat tetapi juga hal-hal penting lainnya. Disini penulis akan mencoba mengulas syafaat, mulai dari apa itu syafaat, siapakah pemilik dan pemberi syafaat, syafaat Rasul, persyaratan apa saja untuk mendapatkan syafaat, macam-macam syafaat dll. Pembahasan ini tentunya akan dibingkai dengan beberapa hadits karena tujuan dari pembahasan ini adalah menyingkap hadits-hadits yang berkaitan dengan syafaat, tetapi mengingat  pedoman pertama umat islam adalah Al-Quran maka disini juga akan disebutkan beberapa ayat-ayat yang berkaitan dengan syafaat.

Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Memahami Hadis Alam Barzakh
  2. Memahami Hadis Mayat Akan disiksa Saat diratapi
  3. Hadis Masuk Surga Bukan karena Amal
  4. Hukum Mengamalkan Hadis Dhoif tertolak

Pengertian Syafaat

Syafaat secara etimologi berasal dari bahasa Arab شفع  [1] yang mempunyai arti menggabungkan sesuatu dengan sesuatu lain yang sejenisnya agar menjadi sepasang. Sedangkan secara terminologi, Syafaat berarti memohonkan ampunan untuk dosa yang telah diperbuat. Syafaat juga berarti permohonan ampun oleh seseorang yang memiliki hak syafaat untuk orang yang berhak mendapatkannya. Jadi, syafaat Nabi SAW atau manusia suci lainnya untuk sekelompok umat berarti doa, permohonan ampun, atau juga permintaan atas sebuah hajat ke hadirat Allah SWT untuk umat yang menerima syafaat. Kata Syafaat ini sangat populer di tengah-tengah kaum muslimin dan sangat diharapkan untuk mereka saat sekarang dan juga nanti.

Syafa'at yang dibutuhkan saat sekarang adalah untuk menyelamatkan mereka dari bencana, penyakit, kesusahan, dan lain-lain. Syafa'at yang dibutuhkan nanti adalah untuk menyelamatkan dan mengeluarkan mereka dari api neraka.  Nabi Muhammad dapat meringankan siksaan Allah bahkan mencabutnya. Yang penting, dia adalah umatnya dan rajin memuji dengan membaca shalawat untuk beliau. Meskipun amal kebaikan yang dia kerjakan selama hidup sangat sedikit dibandingkan dosa yang dia kerjakan. Hak kasasi itu hanya diberikan kepada Nabi Muhammad, para nabi selain beliau tidak mampu melakukannya dengan alasan bukan umatnya dan dosa yang para nabi lakukan. Syafaat adalah milik Allah semata, dan semua urusannya kembali kepada Allah. Dialah yang akan memberikan izin kepada siapa yang dikehendaki-Nya untuk mendapatkan dan memberikannya. Allah berfirman:

قُلْ للهِ الشَّفَاعَةُ جَمِيْعًا

Katakan bahwa syafaat itu semuanya milik Allah.” (Az-Zumar: 44).

Adapun syafaat Rasul hanya akan diberikan kepada umatnya yang diizinkan Allah. Syafaat Rasul tidaka akan berguna kecuali bagi orang-orang yang meng-esakan Allah. Sekalipun ada orang musyrik yang mencintai dan menyayangi Rasul, syafaat beliau tidak akan bisa menyelamatkanya dari neraka. Yang menyelamatkanya hanyalah tauhid dan iman kepada Allah. Karena itu ketika Abu Thalib dan kawan-kawanya mencintai rasul tetapi tidak mengakui tauhid yang beliu bawa, mereka tak mungkin keluar dari Neraka dengan Syafaat maupun pertolongan lainya.

Ibnul Jauzi dalam tafsirnya mengatakan: “Seseorang tidak akan sanggup memilikinya melainkan dengan kehendak-Nya. Dan seseorang tidak akan bisa memberikan syafaat melainkan dengan izin-Nya.” (Zadul Masir hal. 1232)

Berdasarkan hal ini, maka meminta syafaat kepada selain pemiliknya merupakan kesyirikan yang sangat besar. Orang yang memintanya kepada selain Allah akan terhalangi untuk mendapatkannya kelak di sisi Allah. Karena orang yang akan mendapatkannya adalah orang yang bersih dari kesyirikan dan mereka yang diridhai.

Makalah Islam: Doa Mendapatkan Syafaat Allah SWT dan Rasulullah SAW

Dalam kitab suci Al Quran Al-Karim, kata syafaat dipergunakan untuk menunjukkan beberapa arti yang berlainan. Jumlah seluruh ayat yang secara langsung menyebut masalah syafaat ini adalah 25 ayat yang tersebar di delapan belas surat Al Quran. Semua ayat tadi menunjukkan arti permohonan ampun atas dosa-dosa seperti yang disebutkan dalam arti istilah syafaat yang pertama dan tidak mengacu pada permohonan akan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT.

Tema syafaat dalam Al Quran Al-Karim dapat kita bagi ke dalam dua permasalahan, yaitu sebagai berikut.
  1. Pertama, permasalahan mengenai pemberi syafaat.
  2. Kedua, permasalahan mengenai kelompok yang berhak menerima syafaat dan mereka yang tidak berhak mendapatkannya.
Perlu dicatat, ketika Al Quran menjelaskan sebuah kriteria tertentu, berarti ia menerangkan sebuah sifat tertentu yang dimiliki oleh sekelompok orang pada kehidupan mereka di dunia.

Selain kedua permasalahan di atas, sebagian orang berpendapat bahwa ada permasalahan ketiga dalam Al Quran mengenai syafaat, yaitu bahwa Al Quran menafikan adanya syafaat sama sekali.

Dalil Tentang Adanya Syafaat

Dalam kitab suci Al Quran tidak ada satu ayat pun yang menunjukkan penafian syafaat secara mutlak. Penafian yang ada hanya menunjuk kepada sekelompok orang yang disebut oleh Allah SWT sebagai kelompok yang memiliki sifat kekafiran. Sifat inilah yang menyebabkan mereka tidak berhak mendapatkan syafaat. Dengan kata lain, syafaat yang dinafikan oleh Al Quran adalah yang berhubungan dengan kaum kafir.

Di saat Al Quran menafikan syafaat bagi sekelompok orang dengan kriteria tertentu, pada saat yang sama, ia menegaskan realitas syafaat bagi kelompok yang menyandang gelar kaum mukminin, seperti ayat:

وذر الّذين اتّخذوا دينهم لعبا ولهوا وغرّتهم الحياة الدّنيا وذكّر به أن تبسل نفس بما كسبت ليس لها من  دون الله وليّ ولا شفيع وإن تعدل كلّ عدل لا يؤخذ منها  (الانعام ٧٦)

Artinya: Dan tinggalkanlah orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan senda gurau sedangkan mereka telah ditipu oleh kehidupan dunia. Ingatkanlah mereka dengan Al Quran agar mereka tidak terjerumus ke dalam api neraka karena perbuatan mereka sendiri. Tidak ada pelindung dan pemberi syafaat baginya selain dari Allah. Dan jika mereka hendak menebus kesalahan dengan harga apa pun  maka tebusan itu tidak akan diterima….(al-an’am 76)

Dari ayat di atas terdapat  ayat  yang mengecualikan syafaat. Pengecualian itu dikhususkan bagi orang-orang yang menjadikan agama mereka sebagai permainan dan sendagurau dan juga bagi mereka yang telah ditipu oleh kehidupan dunia.
يا أيّها الّذين آمنوا أنفقوا ممّا رزقناكم من قبل أن يأتي يوم لا بيع فيه ولا خلّة ولا شفاعة والكافرون هم الظّالمون

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman, belanjakanlah di jalan Allah sebagian dari rezeki yang telah Kami anugerahkan kepada kalian sebelum datangnya hari yang pada hari itu tidak ada lagi jual beli, persahabatan, dan syafaat. Sedangkan kaum kafir, mereka adalah orang-orang yang zalim(  al- Baqarah : 254)

Meskipun ayat ini diawali dengan panggilan kepada kaum mukminin, tetapi  tidak berarti bahwa ayat ini menafikan syafaat sama sekali. Akhir ayat yang menyebutkan bahwa kaum kafir adalah orang-orang yang zalim menunjukkan bahwa ayat ini menafikan syafaat bagi mereka. Jadi, ayat ini menganjurkan kepada kaum mukminin untuk menginfakkan sebagian dari harta mereka di jalan Allah SWT seraya memperingatkan mereka bahwa keengganan berinfak di jalan Allah sama dengan kekufuran. Dengan demikian, orang yang tidak mau berinfak termasuk kelompok kaum kafir dan tidak berhak mendapatkan syafaat di hari kiamat kelak. Demikianlah Allamah Thabathaba’i menafsirkan ayat di atas.

Perlu kami jelaskan di sini,  ayat ini adalah salah satu argumen yang sering digunakan untuk menafikan syafaat. Menurut kami, bergumen dengan ayat ini benar jika saja ayat tersebut tidak diakhiri dengan kalimat,

والكافرون هم الظّالمون

Artinya: Dan kaum kafir adalah orang-orang yang zalim. ( al- Baqarah : 254)

Kalimat terakhir ini berarti bahwa mereka yang tidak menginfakkan sebagian dari harta mereka di jalan Allah tidak akan menerima syafaat karena mereka masuk ke dalam kelompok kaum kafir, sebagaimana yang telah disinggung di atas.

Dari sinilah kita katakan bahwa Al Quran Al-Karim tidak pernah menafikan syafaat secara mutlak. Penafian yang kita dapatkan adalah berkenaan dengan syafaat bagi sekelompok umat manusia yang memiliki kriteria tertentu, yang jika kriteria itu hilang maka hilanglah penafian tersebut.

Sebaliknya, banyak sekali kita temukan ayat-ayat suci Al Quran yang menunjukkan adanya syafaat, seperti ayat di bawah ini,

هل ينظرون إلاّ تأويله يوم يأتي تأويله يقول الذين نسوه من قبل قد جاءت رسل ربّنا بالحقّ فهل لنا من شفعاء فيشفعوا لنا أو نردّ فنعمل غير الّذي كنّا نعمل قد خسروا أنفسهم وضلّ عنهم ما كانوا يفترون

Artinya: Tiadalah mereka menunggu-nunggu kecuali (terlaksananya kebenaran) Al Quran itu. Pada hari datangnya kebenaran pemberitaan Al Quran, berkatalah orang-orang yang sebelum itu telah melupakannya, “Sesungguhnya telah datang utusan-utusan Tuhan kami dengan membawa kebenaran. Adakah pemberi syafaat bagi kami atau dapatkah kami kembali (ke dunia) sehingga kami dapat melakukan perbuatan yang lain dari apa yang pernah kami perbuat?” Sesungguhnya mereka telah merugikan diri sendiri dan lenyaplah tuhan-tuhan yang mereka ada-adakan.( al-A’raf : 53)

Ayat ini  menceritakan tentang keadaan yang dialami oleh mereka yang telah mendustakan Allah. Pada hari kiamat, mereka tidak mendapatkan syafaat karena mereka adalah orang-orang telah merugikan diri sendiri. Artinya, pada saat yang sama, ayat ini menjelaskan akan adanya syafaat yang tidak bakal mereka terima.

Allah SWT berfirman,

لا يملكون الشّفاعة إلاّ من اتّخذ عند الرحمن عهدا

Artinya: Tidak ada orang yang mendapatkan syafaat kecuali mereka yang telah mengadakan perjanjian di sisi Tuhan Yang Maha Pemurah.( Maryam :109)

Pada ayat lain, Allah berfirman,

يومئذ لا تنفع الشّفاعة إلاّ من أذن له الرّحمن ورضي له قولا

Artinya: Di hari itu, syafaat tidak akan berguna kecuali bagi orang yang telah diberi izin oleh Allah dan diridhai perkataannya. ( Tahaa: 109)

ولا يملك الّذين يدعون من دونه الشّفاعة إلاّ من شهد بالحقّ وهم يعلمون

Artinya: Dan sesembahan yang mereka sembah tidak dapat memberi syafaat. Akan tetapi (yang dapat memberi syafaat adalah) orang yang menyaksikan kebenaran dan mereka yang mengetahuinya.( az- Zuhruf: 86)

Tahrijul Hadist

Dalam Shahih Al Bukhari dari Abu Hurairah berkata:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ، أَلاَّ يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ مِثْلَ مَنْ فَقّهَ فِيْ دِيْنِ اللهِ تعالى.

Diriwayatkan dari Abi Hurairah, beliau berkata: Aku berkata pada Nabi saw,: Siapakah orang yang paling  beruntung dengan (mendapatkan) syafaatmu pada hari Kiamat?. Kemudian nabi saw bersabda: wahai Abu hurairah, aku menyangka bahwa belum ada seorangpun yang bertanya tentang hadis ini yang lebih awal dari kamu. Aku melihat kesungguhanmu tentang (maksud) hadis ini. Orang yang paling beruntung dengan syafaatku adalah orang orang yang mengucapkan kalimat “la ilaha illallah” dengan ikhlas dari lubuk hatinya.

Hadis ini menerangkan tentang syafaat Nabi yang di peruntukkan bagi orang mukmin, yaitu orang yang beriman kepada Allah swt dengan sepenuh hati. Setelah melakukan pentakhrijan dari hadis ini, ditemukan  beberapa hadis dalam riwayat lain yang semakna dengan hadis ini, yaitu:

حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِى سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِى عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْمَقْبُرِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّهُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِى عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، خَالِصًا مِنْ قَلْبِهِ أَوْ نَفْسِهِ » رواه البخارى

 حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْمَقْبُرِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - أَنَّهُ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَقَالَ « لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَنْ لاَ يَسْأَلَنِى عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلُ مِنْكَ ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ . خَالِصًا مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ » رواه البخارى

 حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، حَدَّثَنِي عَمْرٌو ، عَنْ سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ، أَلاَّ يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ. رواه احمد.

Adapun sanad-sanad dari hadis yang diriwayatkan oleh Ahmad ibn Hambal adalah sebagai berikut:

-    حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ ، حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ ، حَدَّثَنِي عَمْرٌو ، عَنْ سَعِيدٍ ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ[2]

Sedangkan sanad dari Bukhari ada 2 jalur, yaitu:

- حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ حَدَّثَنِى سُلَيْمَانُ عَنْ عَمْرِو بْنِ أَبِى عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْمَقْبُرِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ[3]

- حَدَّثَنَا قُتَيْبَةُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ عَنْ عَمْرٍو عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْمَقْبُرِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ[4] 
Ini adalah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan An-Nasaì dari Abu Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ahmad dan dinyatakan shahih oleh Ibnu Hibban, yang dalam riwayatnya disebutkan “syafaatku (nabi) bagi orang yang mengucapakan La Ilaha Illallah dengan ikhlas yang hatinya membenarkan lisannya, dan lisannya membenarkan hatinya.

Setelah menganalisa dalam kitab lain (selain kutub at-tis`ah), penulis mendapatkan beberapa sanad dan lafad yang berbeda. Namun hadis ini masih semakna dengan hadis sebelumnya. Yaitu sebagai berikut:

حدثنا الحاكم أبو عبد الله محمد بن عبد الله الحافظ إملاء في رجب سنة ثلاث وتسعين وثلاث مائة ، ثنا أبو بكر بن إسحاق الفقيه ، أنبأ أحمد بن إبراهيم بن ملحان ، ثنا يحيى بن بكير ، ثنا الليث ، عن يزيد بن أبي حبيب ، عن سالم بن أبي سالم ، عن معاوية بن معتب ، عن أبي هريرة أنه سمعه ، يقول : سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم ماذا رد إليك ربك في الشفاعة ؟ فقال : « والذي نفسي بيده لقد ظننت أنك أول من يسألني عن ذلك لما رأيت من حرصك على العلم ، والذي نفسي بيده لما يهمني من انقصافهم على باب الجنة أهم عندي من تمام شفاعتي ، وشفاعتي لمن شهد أن لا إله إلا الله مخلصا يصدق قلبه لسانه ، ولسانه قلبه » . « هذا حديث صحيح الإسناد فإن معاوية بن معتب مصري من التابعين ،. « هذا حديث صحيح الإسناد فإن معاوية بن معتب مصري من التابعين ، وقد أخرج البخاري حديث عمرو بن أبي عمرو مولى المطلب ، عن سعيد بن أبي سعيد ، عن أبي هريرة ، قال : قلت : يا رسول الله من أسعد الناس بشفاعتك ، الحديث ، بغير هذا اللفظ ، والمعنى قريب منه » (المستدرك  للحاكم على الصحيحين للحاكم جزء 1,ص 226 ,باب واما حديث اشعث بن جابر)

Syarat  Mendapatkan Syafaat Allah Dan Rasul

Syafaat merupakan sesuatu yang dibutuhkan setiap hamba ketika menghadapi kegentingan hidup di dunia maupun di akhirat nanti. Kebutuhan terhadap syafaat menyebabkan sebagian manusia jatuh dalam kesyirikan, yakni dengan memintanya kepada selain Allah. Mereka tidak mengetahui bahwa perbuatan yang mereka lakukan itu justru akan menghalanginya mendapatkan syafaat.

Ada dua syarat bagi seseorang untuk mendapatkan syafaat dan memberikan syafaat di sisi Allah.

Pertama: Orang yang akan memberikan syafaat mendapatkan izin dari Allah. Tanpa izin-Nya, tidak ada seorangpun yang sanggup memberikan syafaat di sisi Allah. Allah berfirman:            

                                      مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلاَّ بِإِذْنِهِ

Tidak ada seorangpun yang memberi syafaat di sisi-Nya melainkan dengan seizin-Nya.” (Al-Baqarah: 255)

Syafaat di sisi Allah tidaklah seperti syafaat makhluk kepada yang lain yang bisa diberikan meskipun tidak diizinkan.

Kedua:  Orang yang akan mendapatkan syafaat adalah orang-orang yang diridhai Allah, dan Allah tidak meridhai kekufuran dan kesyirikan namun meridhai keimanan dan ketauhidan. Allah berfirman:

وَلاَ يَشْفَعُوْنَ إِلاَّ لِمَنِ ارْتَضَى

“Dan mereka tidak akan memberikan syafaat melainkan kepada orang yang telah Allah ridhai.” (Al-Anbiya`: 28)

وَلاَ يَرْضَى لِعِبَادِهِ الْكُفْرَ

“Dan Allah tidak meridhai kekufuran bagi hamba-hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7)

Dan Allah telah menghimpun kedua syarat ini di dalam firman-Nya:

وَكَمْ مِنْ مَلَكٍ فِي السَّمَوَاتِ لاَ تُغْنِي شَفَاعَتُهُمْ شَيْئًا إِلاَّ مِنْ بَعْدِ أَنْ يَأْذَنَ اللهُ لِمَنْ يَشَاءُ وَيَرْضَى

“Dan berapa banyak malaikat yang ada di langit, syafaat mereka tidak berguna sedikitpun kecuali setelah Allah mengizinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai.” (An-Najm: 36) [lihat Syarah Aqidah Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21, Al-Qaulul Mufid Syarah Kitab At-Tauhid Asy-Syaikh Ibnu ‘Utsaimin 1/437, Kasyfus Syubhat Asy-Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab, Qurratu ‘Uyunil Muwahhidin Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahhab hal. 154, Syarah Lum’atul I’tiqad hal. 130]

Macam-Macam Syafaat

Dalam kitab Fathul Bari dijelaskan tentang macam-macam syafaat yang akan diberikan Rasulullah saw kepada umatnya. Dalam kitab tersebut disebutkan enam macam syafaat, yaitu:

Memberi keamanan dari mara bahaya kehancuran di hari kiamat
Meringankan siksaan orang kafir, seperti syafaat nabi kepada pamannya Abdul Muthalib.
Memalingkan orang mukmin dari siksaan api neraka (sebelum masuk)
Menyelamatkan orang mukmin dari neraka.(sesudah masuk)
Memasukkan orang mukmin ke dalam surga dengan tanpa hisab.
Mengangkat derajat orang-orang mukmin.
Dengan sekian banyak syafaat yang diberikan Rasul, maka orang yang paling beruntung mendapatkan syafaat Rasul adalah orang yang tidak menyekutukan Allah swt dan beribadah dengan ikhlas.[5] Sebagaimana sabda beliau:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، قَالَ : قُلْتُ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : مَنْ أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِكَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ ؟ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لَقَدْ ظَنَنْتُ يَا أَبَا هُرَيْرَةَ ، أَلاَّ يَسْأَلَنِي عَنْ هَذَا الْحَدِيثِ أَحَدٌ أَوَّلَ مِنْكَ ، لِمَا رَأَيْتُ مِنْ حِرْصِكَ عَلَى الْحَدِيثِ ، أَسْعَدُ النَّاسِ بِشَفَاعَتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ قَالَ : لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ خَالِصَةً مِنْ قِبَلِ نَفْسِهِ.
Menurut Ibnu Qayyim syafaat itu ada 6 macam[6], yaitu:

Syafaat Kubra, yaitu para rasul ulul azmi menyatakan tidak memilikinya, hingga ketika sampai pada nabi saw beliau berkata: “ Akulah yang dikhususkan untuknya.” Yaitu ketika para makhluk datang kepada para nabi untuk memohon syafaat bagi mereka kepada rabb mereka. Sehingga Allah swt meredakan apa yang mereka alami saat itu. Syafaat ini dikhududkan bagi beliau, tidak ada seorangpun yang menyertai beliau.

Syafat untuk ahli surga agar memasuki surga. Berkenaan dengan ini telah diterangkan oleh Abu Hurairah dalam hadis panjangnya, yaitu hadis yang muttafaq `alaih.

Syafaat bagi umatnya yang melakukan dosa dan terancam masuk neraka. Beliau memintakan syafaat bagi mereka agar tidak masuk neraka.

Syafaat untuk orang yang bebuat maksiat dari golongan ahli tauhid yang masuk neraka karena dosa-dosanya. Hadis-hadis tentang ini cukup banyak, dan telah disepakati oleh para sahabat  dan ahli sunnah. Mereka menganggap bid`ah pada orang yang mengingkari adanya syafaat ini.

Syafaat bagi suatu kaum dari ahli surga untuk menambah pahala mereka dan meninggikan derajat mereka. Mengenai ini tidak ada seorang  pun yang membantahnya. Semuanya dikhususkan bagi yang ikhlas, yaitu orangorang yang tidak pernah menjadikan selain Allah swt  sebagai penolong ataupun pemberi syafaat. Sebagaimana firman Allah swt:

Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang Telah kami binasakan sebelum mereka, padahal (generasi itu) Telah kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah kami berikan kepadamu, dan kami curahkan hujan yang lebat atas mereka dan kami jadikan sungai-sungai mengalir di bawah mereka, Kemudian kami binasakan mereka Karena dosa mereka sendiri, dan kami ciptakan sesudah mereka generasi yang lain. (QS. Al-An`am:6)

Syafaat untuk sebagian keluarganya yang kafir yang termasuk ahli neraka sehingga diringankan adzabnya, dan ini khusus untuk Abi Thalib.

Syafaat yang ditetapkan ini adalah untuk ahli ikhlas dan tauhid (orang-orang yang mentauhidkan Allah swt dengan memurnikan ibadah kepadaNya) dengan seizin Allah swt, bukan untuk mereka yang berbuat syirik kepadaNya.

Syafaat di Sisi Allah Tidak Sama dengan Syafaat di Antara Makhluk

Dari keterangan di atas, jelaslah bahwa syafaat di sisi Allah memiliki tujuan dan syarat, yang bila tidak dipenuhi maka seseorang tidak akan mendapatkan syafaat dan tidak bisa memberikannya kepada orang lain.

Kedua syarat tersebut adalah:

1. Pertama, orang tersebut harus diridhai Allah untuk mendapatkannya. Dan yang akan mendapatkan keridhaan adalah orang-orang yang beriman dan bertauhid.

2. Kedua, mendapatkan izin Allah dan yang mendapat izin Allah untuk memberikan syafaat hanyalah orang yang beriman dan bertauhid.

Adapun syafaat di sisi manusia bisa dilakukan oleh siapapun juga baik ada izin atau tidak, diridhai atau tidak. Berdasarkan hal ini, tidak diperbolehkan mengkiaskan syafaat di sisi Allah dengan syafaat di sisi makhluk. Dan syafaat yang ada di sisi Allah tidak boleh diminta kepada siapapun dari makhluk, bagaimanapun kedudukan dan tingkatannya, baik dia seorang malaikat, nabi ataukah kepada selain mereka seperti kepada wali, kuburan-kuburan, dan sebagainya.

لَعَنَ اللهُ مَنْ آوَى مُحْدِثًا

“Allah melaknat orang-orang yang melindungi pelaku kejahatan.”7

Termasuk juga dalam syafaat yang jelek adalah syafaat dalam mengambil hak orang lain kemudian diberikan kepada orang yang tidak berhak. Allah berfirman:

وَمَنْ يَشْفَعْ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَكُنْ لَهُ كِفْلٌ مِنْهَا

“Dan barangsiapa memberikan syafaat (pembelaan) yang jelek maka dia akan mendapatkan bagian (dosa) atasnya.” (An-Nisa`: 85) [Syarah Al-’Aqidah Ath-Thahawiyyah Asy-Syaikh Shalih Fauzan hal. 21
Penutup
Syafaat adalah milik Allah semata. Dan semua urusanya akan kembali kepada Allah. Dialah yang akan memberikan izin kepada siapa saja yang dikehendakinya.Rasulullah SAW juga mempunyai syafaat untuk umatnya tetapi syafaat itu tidak akan berguna bagi umatnya yang tidak meng-esakan Allah. Sekalipun orang itu sangat menhormati dan menyayangi Rasul tapi tidak mengimani apa yan dibawa oleh Rasul tidaklah mungkin syafaat Rasul bisa menolongnya dari siksa neraka. Karena syarat memberikan syafaat adalah mendapatkan izin Allah sedangkan syarat mendapatkan syafaatnya adalah mendapat Ridha Allah, dan Allah tidak meridhai kekufuran dan kemusyrikan namun Allah meridhai keimanan dan ketauhidan.

Di zaman globalisasi ini banyak orang yang mengaku sebagai umat Muhammad dan meningainkan syafaatnya, padahal tak sedikitpun dalam kehidupan seharinya tercemin akhlak umat Muhammad.Maka dari itu, Himbauan bagi umat Muhammad yang mukmin adalah dengan mempertebal iman dan taqwa, mengaplikasikan Sunnah Rasulullah serta memperbanyak membaca Sholawat Rasul. Dan Semoga kita semua termasuk umat Muhammad yang mendapatkan syafaat beliau.

Demikianlah makalah ini dibuat, semoga bisa menambah wawasan dan pengetahuan. Saya juga meminta maaf yang sebesar-besarnya apabila dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan, oleh karena itu kritik dan saran saya harapkan agar makalah ini menjadi lebih baik.


 Catatan Kaki:

[1] Ibnu Mandzur  Faryaqi Misri, Lisanul ‘Arab15,(Beirut: Darul Sadri,1992)hlm,183.f
[2] Musnad Ahmad, bab al-Mujalid ats-Tsani, no. 8045, juz 2, hlm 373.
[3] Shahih Bukhari, bab al-Hirtsu àla Hadis, no. 97, juz 1, hlm 185.
[4] Shahih Bukhari, bab sifat al-Jannah wa an-Nar, no. 6570, juz 21, hlm 474.
[5] Ibnu Hajar, fathul bari, bab al-Hirs àla al-Hadis, juz 1, hlm 162.
[6] Lihat Terj. Fathul Majid penjelasan dari kitab tauhid, (Jakarta: Pustaka Azam, 2002), hlm 396.

Daftar Pustaka

Syaikh, Abdurrahman Hasan Alu. 2002. Terj. Fathul Majid (penjelasan dari kitab tauhid). Jakarta: Pustaka Azam.
Fatcurrahman. 1995. Ikhtisar Mushtalah Hadis. Bandung: PT Al-Ma`arif.
Taimiyah, Ibnu. 2006. Terj.Tawassul Dan Wasilah. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
CD Mausu’ah fi al-kutub al-tis’ah.

Makalah Islam: Doa Mendapatkan Syafaat Allah SWT dan Rasulullah SAW ditulis Oleh Khairun Nisa (Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)


0 Response to "Makalah Islam: Doa Mendapatkan Syafaat Allah SWT dan Rasulullah SAW"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!