Komunikasi Tuhan

Advertisement

Oleh: Qaem Aulassyahied

Al-Husain bin Mas’ud dalam tafsirnya Tafsir al-Baghawi menjelaskan, bahwa suatu ketika kaum Yahudi bertanya kepada Rasulullah: “wahai Muhammad, bagaimana tuhan akan mendengar do’a kita sementara kau pernah berkata bahwa jarak kita denganNya terhampar selebar lima ratus tahun?”. Untuk menjawab pertanyaan ini, turun lah Firman Allah: “wa idza sa’alaka ‘ibadi anni, fa inni qorib, ujib da’wah ad-da’i idza da’ani... (dan jika hambaku bertanya kepadaku mengenai Aku, maka (jawablah Muhammad) sungguh..! Aku dekat, Aku memenuhi siapa saja yang meminta padaKu)” (al-Baqarah: 186). 

Berdasarkan penafsiran di atas, seakan al-Husain bin Mas’ud ingin mengatakan bahwa rasa dekat meng-erat seiring komunikasi yang sering dan menguat. Jalinan komunikasi yang berjalan intensif melahirkan kedekatan secara personal, menimbulkan nyaman. Karena di kala susah menerpa atau ingin sesuatu, tutur pertama terucap ialah kepada orang yang bisa diajak berkomunikasi secara dekat dan baik. Demikian pun dengan Allah. Berbagai macam sifat agung tersemat pada Zat-Nya. Dia maha bijaksana, maha penyayang, maha adil dan sifat-sifat lainnya. Semua sifat tidak akan tersampaikan sekiranya Allah tidak bisa berkomunikasi secara dekat dengan hamba-hambanya. Lalu, Bagaimana Allah berkomunikasi?

Komunikasi Tuhan

“Ujib da’wah ad-da’i idza da’ani”. Allah membuktikan kedekatanNya dengan pernyataan agung “Aku memenuhi permintaan jika  (hambaKu) meminta”. Memberi adalah cara komunikasi Allah dengan hamba-hambaNya. Rasa sayang terwujud dari Rahmat yang dikaruniai, rasa adil terwujud saat hak diberikan kepada yang berhak dan kewajiban dibebankan pada orang yang memang berwajib. Sadarkah kita, bahwa semua muslim adalah operator Allah ketika berkomunikasi? Muslim adalah agen-agen Allah di dalam memberi?

Muslim yang baik selalu percaya bahwa Allah telah menetapkan kebahagian untuk seluruh hambanya, baik yang beriman maupun yang tidak beriman, yang tinggal di gurun sahara atau di kutub utara. Semua kebahagiaan telah Allah beri secara rata dan tidak ada yang terzhalimi. Untuk itu, seorang muslim harus yakin bahwa setiap apa yang dia miliki juga dimiliki sebagian oleh orang yang berhak menerimanya “wa fi amwalihim haqqun lissa’ili wal mahrum” (dan pada hartanya ada hak orang yang meminta dan orang yang membutuhkan tapi menjaga kehormatan) (al-Ma’arij: 24-25). Maka sudah menjadi kewajiban muslim untuk membagikan setiap kebaikan dan kebahagiaan itu kepada orang lain.

Membagi harta, membagi tenaga, membagi perhatian, membagi nasehat hingga membagi senyum adalah menunaikan kewajiban kita sebagai agen Allah di dalam memberi kebahagiaan. Sehingga sejatinya, Bagi muslim, tidak ada yang namanya memberi, karena itu bukan milik kita. Semuanya adalah milik Allah. Kita hanya sebagai agen yang bertugas membagikannya. Dengan memberi kita menjadi agen Allah yang baik. Dengan memberi kita menjadi tali komunikasi Allah bahwa sejatinya Dia dekat dengan hamba-hambanya. Memberi bukan kebutuhan kita agar dicintai sesama hamba. Memberi adalah kebutuhan kita agar dicintai Allah. Rasulullah bersabda “irham man fi al-Ardh, yarhamka man fi as-Sama’” (sayangi yang ada di dunia, niscaya Allah menyayangimu). Sehingga memberi juga sekaligus menjalin komunikasi yang baik dengan Allah. Jika Allah telah dekat dan cinta kepada kita, siapa yang berani tidak mencintai kita?


0 Response to "Komunikasi Tuhan"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!