Makna Filosofis Dibalik Kewajiban Membayar Zakat Profesi

Advertisement
Zakat Profesi - Kewajiban Membayar Zakat adalah ibadah yang berkaitan dengan harta benda. Seseorang yang telah memenuhi syarat-syaratnya dituntut untuk menunaikannya, bukan semata-mata atas dasar kemurahan hatinya, tetapi kalau perlu dengan tekanan penguasa. Pensyari'atan zakat di dalam Islam menunjukkan bahwa Islam sangat memperhatikan masalah-masalah kemasyarakatan, terutama nasib orang-orang yang lemah secara ekonominya. Sehingga mendekatkan hubungan kasih sayang antara sesama manusia dalam mewujudkan kata-kata bahwa Islam itu bersaudara, saling  membantu, dan tolong-menolong; yang kuat menolong yang lemah, yang kaya membantu yang miskin (baca: pengertian zakat). 

Salah  satu  tujuan  zakat  terpenting  adalah  mempersempit ketimpangan ekonomi dalam masyarakat sampai batas yang seminimal mungkin.Tujuannya adalah menjadikan perbedaan ekonomi di antara masyarakat secara adil dan seksama, sehingga yang kaya tidak semakin kaya (dengan mengeksploitasi  anggota masyarakat yang miskin) dan yang miskin tidak semakin miskin.

Makna  filosofi  yang  bisa  digali  dari  adanya  kewajiban  zakat  profesi kiranya mengacu dari garis besar tujuan disyariatkannya zakat. Namun dalam kesempatan lain, kewajiban zakat pada semua hasil kerja profesi menunjukkan tingkat apresiasi yang lebih pada sumber-sumber harta yang wajib dizakati yang muncul di masa setelah Nabi (baca: Hukum Zakat Profesi).


Pengertian filosofis adalah sesuatu yang berhubungan dengan filsafat, sedangkan filsafat yang  dimaksud adalah ajaran hukum dan perilaku. Memahami adanya kewajiban membayar zakat profesi, kiranya dari sudut keadilan, yang merupakan ciri utama ajaran (hukum) Islam dan anjuran dalam berperilaku, adalah sangat tepat.

Penetapan zakat pada setiap harta yang dimiliki akan terasa sangat jelas, dibandingkan dengan hanya menetapkan kewajiban zakat pada komoditas-komoditas tertentu  saja yang konvensional.  Petani yang kondisinya secara umum kurang beruntung, tetap harus berzakat, apabila hasil pertaniannya telah mencapai  nishab.  Karena  itu sangat adil pula apabila zakat profesi bersifat wajib pada penghasilan yang didapatkan   para dokter, ahli hukum, konsultan dalam  berbagai  bidang,  dosen,  pegawai,  dan  karyawan  yang  memiliki  gaji tinggi, dan profesi lainnya.

Di samping itu, kewajiban zakat atas usaha profesi merupakan investasi produktif yang menghasilkan sumber produktif. Yang berarti bahwa al maal harus diupayakan untuk tidak mandeg, agar fungsinya untuk menciptakan kesejahteraan masyarakat  terpenuhi. Menurut syari’at, investasi mengutamakan  hal-hal yang menyentuh kebutuhan pokok masyarakat, yakni berkenaan dengan sandang, pangan, dan papan yang dinilai vital dalam peningkatan kesejahteraan orang banyak.

Menurut Prof. Dr. Quraisy Shihab, ada tiga alasan yang bisa dijadikan landasan filosofis mengapa Allah SWT. mensyari'atkan kewajiban zakat. Dan juga  merupakan  pemaknaan  yang  tepat  ketika  zakat  profesi  menjadi  wajib untuk ditunaikan. Menurutnya tiga alasan tersebut antara lain:

1. Istikhlaf (Penugasan sebagai Khalifah di Bumi) Allah SWT.

Istikhlaf adalah pemilik seluruh alam raya  dan segala isinya, termasuk  pemilik  harta  benda. Seseorang yang beruntung memperolehnya pada hakikatnya hanya menerima titipan sebagai amanat untuk disalurkan dan dibelanjakan sesuai dengan kehendak pemiliknya (Allah SWT). Manusia yang dititipi itu berkewajiban memenuhi ketetapan-ketetapan  yang digariskan oleh sang pemilik, baik dalam pengembangan harta maupun dalam penggunaannya. 

Zakat merupakan salah satu ketetapan Tuhan menyangkut harta, bahkan shadaqah dan infaq pun demikian. Karena Allah SWT. menjadikan harta benda sebagai sarana kehidupan untuk umat manusia seluruhnya, maka harta tersebut harus diarahkan guna kepentingan bersama. Allah melarang manusia memberikan  harta benda kepada siapapun  yang diduga keras akan menyia- nyiakannya, walaupun harta itu "milik" (atas nama) orang yang menyia- nyiakannya., karena tindakan penyia-nyiaan akan merugikan semua pihak.

Sejak semula Tuhan telah menetapkan bahwa harta hendaknya digunakan guna kepentingan bersama, bahkan agaknya tidak berlebihan jika dikatakan bahwa "pada mulanya” masyarakatlah  yang berwenang menggunakan harta tersebut secara keseluruhan, kemudian Allah menganugerahkan sebagian dari harta tersebut kepada pribadi-pribadi yang mengusahakan perolehannya sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

2 .  Solidaritas Sosial

Manusia adalah makhluk sosial.Kebersamaan antara individu dalam suatu  wilayah membentuk   masyarakat yan walaupun berbeda sifatnya dengan individu-individu tersebut, namun manusia tidak dapat dipisahkan darinya.

Manusia tidak dapat hidup tanpa adanya masyarakat,karena sekian banyak pengetahuan diperoleh manusia melalui masyarakatnya, seperti bahasa, adat istiadat, sopan santun, dan lain-lain. Demikian juga dalam bidang material, betapapun seseorang memiliki kepandaian,   namun  hasil-hasil material  yang  diperolehnya adalah berkat bantuan pihak-pihak lain, baik secara langsung dan disadari, maupun tidak langsung.

Seorang petani  dapat berhasil karena adanya irigasi, alat-alat, makanan, pakaian, stabilitas keamanan yang kesemuanya tidak mungkin dapat diwujudkan secara mandiri. Demikian pula bagi seorang pedagang, siapakah yang menjual atau membeli dari dan kepadanya? Dari segi lain, harus disadari bahwa produksi apapun bentuknya, pada hakikatnya merupakan pemanfaatan materi-materi yang diciptakan dan dimiliki Tuhan. Dalam berproduksi, manusia hanya mengadakan perubahan, penyesuaian, perakitan satu bahan dengan bahan lain yang telah diciptakan Allah SWT.

Manusia mengelola, tetapi Tuhan yang menciptakan dan memilikinya. Dengan  demikian wajar jika Allah memerintahkan  untuk  mengeluarkan sebagian kecil dari harta yang diamanatkannya kepada seseorang itu demi kepentingan orang lain.

3.  Persaudaraan
 
Manusia  berasal dari satu keturunan,  antara seorang  dengan  lainnya terdapat pertalian darah, dekat atau jauh. Pertalian darah tersebut akan menjadi lebih kokoh dengan adanya persamaan-persamaan  lain, yaitu agama, kebangsaan, lokasi, domisili, dan sebagainya.

Disadari oleh manusia semua bahwa hubungan persaudaraan menuntut bukan  sekedar  hubungan  take  and  give  (memberi  dan  menerima),  atau pertukaran manfaat. Tetapi melebihi itu semua, yakni memberi tanpa menanti imbalan, atau membantu tanpa dimintai bantuan.

Kebersamaan dan persaudaraan inilah yang mengantarkan kepada kesadaran  menyisihkan  sebagian  harta kekayaan khususnya kepada  mereka yang membutuhkan, baik dalam bentuk dalam  kewajiban  membayar  zakat, maupun shadaqah dan infaq.

Kewajiban membayar zakat profesi adalah sesuai  dengan tuntunan Islam yang menanamkan nilai-nilai  kebaikan, kemauan berkorban, belas kasihan, dan suka memberi dalam jiwa seorang Muslim. Sesuai pula dengan prinsip kemanusiaan  yang  memang harus ada dalam masyarakat; ikut merasakan beban orang lain dan menanamkannya dalam keyakinan beragama juga, sebagai pokok sifat kepribadiaannya.

Daftar Rujukan

Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur'an, Bandung: Mizan, 1999, Cet. XIX.

Pius A. Partanto dam M. Dahlan al-Bary, Kamus Ilmiah Populer, Surabaya : Arkola.

Demikianlah Artikel Makna Filosofis Kewajiban Membayar Zakat Profesi, Mudahan bermanfaat