Memahami Pesan Rasulullah SAW dalam Khutbah Haji Wada'

Advertisement
Kita sekarang ini sedang menunaikan perintah Allah SWT yaitu melaksanakan Shalat Jumat. Setiap hari Jumat kita berkumpul di masjid  ini dan sesekali hadir di masjid lain untuk memenuhi panggilan Allah sebagaimana tercantum di dalam surat Al-Jumu’ah  ayat 9 :


يا أيها الذين ءامنوا إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون .


Wahai orang-orang yang beriman apabila diseru untuk menunaikan shalat pada hari Jumat, maka bersegeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkan jual beli (demikian juga pekerjaan-pekerjaan lainnya) yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.

Dalam ayat ini kita dipanggil dengan julukan khusus, sangat terhormat dan mulia,  yaitu : "Wahai orang-orang beriman", yakni kita semua. Alhamdulillah, dengan izin-Nya kita dapat memenuhi panggilan itu  dengan segala keikhlasan dan hati senang. Panggilan itu kemudian disusul dengan perintah  Allah kepada kita semua ini, yaitu:

إذا نودي للصلاة من يوم الجمعة فاسعوا إلى ذكر الله وذروا البيع

Apabila telah dikumandangkan panggilan berupa adzan pada hari Jumat maka bersegeralah datang untuk ingat kepada Allah dan tinggalkanlah kegiatan-kegiatan seperti jual beli dan sebagainya.

Kita tidak sayang-sayang  atau ragu-ragu untuk menghentikan segala kegiatan yang sedang dihadapi dan menghentikan sementara  pekerjaan, walaupun kita sedang asyik mengerjakannya. Tentunya kita tidak akan rugi meninggalkan sebentar pekerjaan itu bahkan -insya Allah- kita justru akan meraih banyak keuntungan terutama keuntungan-keuntungan rohaniah.

Dalam hal ini diantaranya akan diraih empat keuntungan :

Kita belajar atau berlatih bercerai dengan kehidupan duniawi sebentar saja sekedar untuk mendengarkan khutbah dan shalat dua rakaat berjamaah. karena kita yakin suatu saat sesuai dengan ketetapan Allah, kita akan dipanggil oleh Allah untuk  bercerai dengan kehidupan dunia fana ini untuk selama-lamanya tanpa kembali.

Kita bercerai sebentar dengan pekerjaan duniawi itu untuk menunaikan kewajiban shalat Jumat, agar meraih keseimbangan hidup rohaniah agar tidak sampai hanyut terus terbawa arus kehidupan dunia ini.

Dengan melaksanakan ibadah Jumat berarti memberikan istirahat kepada akal  dan pikiran untuk tidak terus-menerus ditafsir tanpa henti, kemudian diisi penuh dengan ingat kepada Allah jauh lebih baik dari pada bekerja terus-menerus. Sebagaimana dinyatakan oleh Allah.
ذلكم خير لكم إن كنتم تعلمون

Hal yang demikian itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui

Berhenti sebentar dari pekerjaan, kemudian melaksanakan shalat jumah berarti beralih ke dalam situasi yang sejuk, tentram damai, situasi jiwa hening serta pikiran yang jernih mendekatkan diri kepada Allah seraya berdoa. Ya Allah Tuhan Kami berilah kami kebaikan hidup di dunia dan di Akhirat, jauhkanlah kami dari siksa neraka. Doa ini langsung diajarkan oleh Allah tercantum didalam Al Qur’an Surat Al Baqarah ayat 201.
ربنا آتنا فى الدنيا حسنة وفى الآخرة حسنة وقنا عذاب النار


Mengenang Peristiwa Haji Rasulullah SAW

Teriring doa bagi saudara-saudara kita, para calon jemaah haji dari setiap pelosok tanah air. Kloter demi kloter diterbangkan menuju tanah suci  Makkah Al Mukaramah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima, yaitu  ibadah haji  sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Mengenang situasi sekarang ini di tanah suci, dan pada saat-saat pelaksanaan ibadah haji, terbetik pulalah di dalam hati kita kaum muslimin betapa haru dan indahnya pelaksanaan ibadah haji yang langsung di pimpin oleh Rasulullah sendiri sekitar 14 abad yang lalu, yaitu sekitar tiga bulan sebelum Rasulullah berpulang ke Rahmatullah, meninggalkan alam dunia fana ini. Demikian juga dengan khutbah yang beliau  sampaikan ketika melaksanakan ibadah haji yang terkenal dengan sebutan Hajjatullah Wada atau Haji Perpisahan  pada tahun X Hijrah.


Memahami Pesan Rasulullah SAW dalam Khutbah Haji Wada'

Rombongan jamaah calon haji yang langsung di bawah pimpinan Rasulullah itu berjumlah kurang lebih 114.000 orang. Berangkat dari Madinah menuju Makkah pada tanggal 25 Zulqaidah dan sampai di Makkah Al Mukarramah pada tanggal 4 Zulhijjah selama perjalanan kurang lebih 9 hari Sesampai di Makkah Rasulullah terus menuju Ka’bah mecium Hajar Aswad, kemudian  tawaf 7 kali keliling Ka'bah. Setelah itu Beliau shalat sunat di maqam Ibrahim, mencium kembali hajar aswad sebelum meninggalkan Ka’bah kemudian Sa'I, yaitu lari-lari kecil antara Shafa dan Marwah berjumlah 7 kali.

Setelah selesai, Rasulullah memotong beberapa helai rambut kemudian beliau memerintahkan para jamaah lainnya untuk mengganti pakaian ihram dengan pakaian biasa. Selanjutnya Rasulullah beserta rombongan istirahat di Makkah selama tiga hari. Pada tanggal 8 Zulhijjah. Rasulullah beserta rombongan jamaahnya berangkat menuju Mina esok harinya sesudah subuh, berangkat menuju Arafah untuk melaksanakan wuquf.

Sebelum meninggalkan Arafah Rasulullah berkhotbah di hadapan 114.000 jamaah. Khutbah itulah yang terkenal dengan sebutan Khutbatul Wada atau pidato perpisahan. Sebab kemudian ternyata bahwa khutbah itulah yang beliau ucapkan sebagai pesan terakhir di hadapan para Jamaah Haji.


Pesan Rasulullah SAW saat Khutbah

Haru dan syahdu mewarnai situasi pada saat itu, apalagi setelah para jamaah mendengar ucapan Rasulullah ketika di permulaan khutbahnya menyatakan

ياأيها الناس اسمعوا قولى فإنى لا أدرى لعلى لا ألقاكم بعد عامى هذا بهذا الموقف  أبدا

Hai Manusia! Dengarkanlah olehmu perkataan Saya, sebab sesungguhnya Saya tidak mengetahui secara pasti apakah saya masih akan bertemu lagi dengan kalian sesudah tahun ini di tempat Saya berdiri sekarang ini.

Isi khutbah Rasulullah yang disampaikan pada Haji Wada itu berupa wasiat Rasulullah yang terakhir. Secara ringkas dapat dikemukakan sebagai berikut:

  1. Setiap manusia secara pribadi bertanggung jawab atas segala tindakannya
  2. Keselamatan jiwa dan harta benda menjadi syarat penting dalam membangun kemakmuran dan ketentraman dunia
  3. Amanah dan kepercayaan baik moral ataupun material harus dijaga dan dipelihara.
  4. Riba dalam berbagai macam bentuknya yang berakibat pemerasan terhadap kaum yang lemah dilenyapkan.
  5. Penegasan tentang  hak-hak  wanita serta hak dan kewajiban suami istri.
  6. Penegasan bahwa seorang muslim dengan lainnya adalah bersaudara karena itu harus saling bantu membantu.
  7. Penghapusan perbedaan (diskriminasi) yang ditimbulkan oleh perbedaan bangsa, warna kulit dan perbedaan kedudukan sosial dan lain-lain.
Berikut cuplikan terjemahan khutbah Nabi yang dikutip buku Sejarah Hidup Nabi Muhammad olehi Husain Haikal, yang selengkapnya berbunyi:

Wahai manusia! Sesungguhnya darahmu dan hartamu adalah haram (terlarang) bagimu, sampai datang masanya kamu menghadap Tuhan, dan pasti kamu menghadap Tuhan; pada waktu itu kamu dimintai pertanggung jawaban atas perbuatanmu. Saya sudah menyampaikan ini. Maka barangsiapa yang telah diserahi amanat, tunaikanlah amanat itu kepada yang berhak menerimanya.

Semua riba sudah tidak berlaku. Tetapi kamu berhak menerima kembali modalmu. Jangan kamu berbuat aniaya terhadap orang lain, dan jangan pula kamu teraniaya. Allah telah menentukan bahwa tidak ada lagi riba dan bahwa riba Abbas bin Abdul Muttalib semua sudah tidak berlaku.Semua tutuntan darah selama masa jahiliah tidak berlaku lagi, dan bahwa tuntutan darah pertama yang kuhapuskan ialah darah Ibn Rabi'a bin Harith bin Abdul Muttalib.

Wahai manusia! Hari ini syaitan sudah berputus asa untuk disembah di tanah ini selama-lamanya. Tetapi bila kamu perturutkan dia maka senanglah dia. Karena itu peliharalah agamamu ini sebaik-baiknya.  Zaman itu berputar sejak Allah menciptakan langit dan bumi ini. Jumlah bilangan bulan menurut Tuhan ada duabelas bulan, empat bulan di atnaranya ialah bulan suci,

Wahai manusia! Sebagaimana kamu mempunyai hak atas istri kamu, istrimu juga mempunyai hak atas kamu. Hak kamu atas mereka ialah untuk tidak mengizinkan  orang yang tidak kamu sukai mengingjakkan kaki ke atas lantaimu, dan jangan sampai  mereka secara jelas melakukan perbuatan keji. Kalau sampai mereka melakukan semua itu, Tuhan mengizinkan kamu berpisah tempat tidur dengan mereka dan boleh memukul mereka dengan suatu pukulan yang tidak membuat cacat. Bila mereka tidak lagi melakukannya, maka kewajiban kamulah memberi nafkah dan pakaian kepda mereka dengan cara yang baik. Berlaku baiklah terhadap istrimu, mereka itu kawan-kawan yang membantumu, mereka tidak memiliki sesuatu untuk diri mereka. Kamu mengambil mereka sebagai amanat Tuhan, dan kehormatan merka dihalalkan bua kamu dengan nama Tuhan.

Perhatikanlah kata-kataku ini, wahai manusia! Aku sudah menyampaikan ini. Aku meninggalkan untuk mu sesuatu  yang bila kamu berpegang teguh padanya kamu tidak sesat selama-lamanya, Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Dengarlah kata-kataku ini, Kamu akan mengerti! Setiap muslim adalah saudara muslim yang lain dan kaum muslimin semuanya bersaudara. Tetapi seseorang tidak dibenarkan (mengambil sesuatu) dari saudaranya, kecuali jika dengan senang hati diberikan kepadanya. Janganlah kamu menganiaya diri sendiri. Ya Allah sudahkah kusampaikan? Ya Allah! Saksikanlah ini! …


PENUTUP

Ketujuh pokok isi khutbah Rasulullah, lima belas abad yang lalu dapat kita intisarikan berupa deklarasi penegakkan hak-hak azasi manusia yang selalu diperjuangkan dihormati dan dipertahankan oleh negara-negara dan bangsa-bangsa yang beradab di abad kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi sekarang ini. Dengan demikian dapat kita pahami pula bahwa Agama Islam yang dibawa  oleh Muhammad Rasulullah  dan yang kita anut sepenuh hati ini adalah Agama yang mampu sebagai pelopor aktualisasi dari harapan manusia “bahagia di dunia dan bahagia di akherat kelak”. Sudah barang tentu semuanya itu sangat tergantung kepada umatnya sendiri.