Makalah Metode dan Langkah-langkah Menilai Keshahihan Hadis dari segi Matan

Advertisement

Perhatian yang berlebihan pada jalur periwayatan (sanad) hadis berakibat pada minimnya disiplin ilmu yang secara khusus mengkaji hadis dari sisi matannya. Energi keilmuan sejumlah pakar hadis tersedot pada kubangan kajian sanad hadis.

Tidak ada jaminan bahwa jika sanad sebuah hadis sehat, maka demikian juga dengan redaksi matannya. Banyak hal yang harus dikaji lebih mendalam terkait dengan redaksi matan hadis.

Shalahudin Al-Adlabi, pengarang kitab Manhaj Naqd al-Matn Ind Ulama al-Hadis al-Nabawi mencoba menghadapkan matan hadis pada konsep dalili-dalil syara’ yang lain, dan juga dengan cara konfirmasi hadis dengan fakta kehadisan, akal, indera, sejarah, serta perkataan Nabi agar orang tidak dengan mudah membuang hadis ataupun “mengkonsumsi” hadis yang bertebaran dalam kitab-kitab hadis.
Dalam peta pemikiran hadis kontemporer, terutama yang berkaitan dengan kritik matan, posisi Al-Adlabi ternyata masih tetap mengikuti para pendahulunya dan dia tidak membuat sesuatu yang benar-benar baru. Hal ini paling tidak terlihat dari metode kritiknya dan sejumlah hadis yang dijadikan contoh kritik.

Terkait dengan mata kuliah yang mendasari pembuatan makalah ini dan usaha pemakalah untuk membaca pemikiran Al-Adlabi dengan mngetahui setting historis biografisnya serta membaca pemikirannya dari karyanya, kitab Manhaj Naqd al-Matn Ind Ulama al-Hadis al-Nabawi. Akan tetapi, karena keterbatasan, pemakalah tidak dapat mengakses setting histories Al-Adlabi, sehingga pemakalah hanya mencoba membaca pemikirannya dari bagaimana ia melakukan kritik matan dalam kitab Manhaj Naqd al-Matn Ind Ulama al-Hadis al-Nabawi.     

Al-Adlabi dan Istilah al-Marwiyat

Yang berbeda dari Al-Adlabi dengan yang lainnya, ia menggunakan istilah riwayat dalam menyebutkan hadis. Beliau menjelaskan, istilah al-marwiyyat yaitu segala sesuatu yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. atau dari salah seorang sahabat dengan menyertakan sanadnya. Dengan demikian, setiap “matan” yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. baik berupa sabda, perbuatan, ataupun penetapan segala sesuatu yang diriwayatkan dari sahabat, baik berupe perkataan maupun tindakan, serta segala peristiwa yang memberikan deskripsi masa kenabian tercakup didalam terma “marwiyat” , karena terma tersebut mencakup ”segala sesuatu yang diriwayatkan”

Kritik Matan Hadis

Kata dasar matn dalam bahasa Arab berarti “punggung jalan” atau “bagian tanah yang keras dan menonjol ke atas. Apabila dirangkai menjadi matn al-hadis, menurut al-Thibiy, seperti yang dinukil oleh Musfir al-Damini, adalah kata-kata hadis yang dengannya terbentuk makna-makna. Definisi ini sejalan dengan pandangan Ibnu al-Atsir al Jazari bahwa setiap matan hadis pada hakikatnya adalah pencerminan konsep idea yang intinya dirumuskan berbentuk teks.

Menurut Al-Adlabi, Al-matan yaitu teks riwayat atau teks hadis. penisbatan al-marwiiyat kepada orang yang darinya riwayat-riwayat itu diambil, kadang-kadang benar dan kadang-kadang salah. Dalam arti, orang yang meriwaytakannya dusta, salah, lupa, atau keliru dalam meriwayatkan. Menjelaskan kebenaran atau ketidakbenaran penisbatan riwayat seperti itulah yang disebut “ kritki “ (an-naqd).

Metode dan Langkah-langkah Menilai Keshahihan Hadis dari segi Matan

Dengan demikian, menurut Al-Adlabi, komposisi ungkapan matan hadis pada hakikatnya adalah pencerminan konsep idea yang intinya dirumuskan berbentuk teks. Susunan kalimat dalam matan hadis berfungsi sebagai sarana perumus konsep keagamaan versi hadis. teks matan disebut juga nashsh al-hadis atau nashsh al-riwayah.[1]

Penetapan Hadis Sahih

Hadis yang sahih ialah hadis yang harus memenuhi beberapa syarat berikut:
  1. Harus bersambung sanadnya.
  2. Diriwayatkan oleh orang/perawi yang adil.
  3. Diriwayatkan oleh orang yand dlabit (kuat ingatannya)
  4. Tidak syadz.
  5. Tidak cacat walaupun tersembunyi
  6. Kandungan isinya tidak bertentangan dengan al-qur’an, hadis, akal, indeara, dan sejarah, serta tidak bertentangan dengan perkataan Nabi.[2]
Faktor-faktor Perlunya Kritik Matan

Pada dasarnya, kritik ekstern telah dianggap cukup, akan tetapi setelah dilakukan kajian terhadap periode periwayatan, dimana hadis-hadis beralih dari seorang periwayat ke periwayat yang lain sampai ke tangan penulis kitab hadis (mukharrij), ada dua fenomena yang mencolok, yaitu fenomena merebaknya pemalsuan hadis dan fenomena merebaknya kekeliruan para periwayat.

Pemalsuan Hadis

Pemalsuan hadis sesungguhnya telah terjadi sejak masa Nabi saw. dan ternyata banyak riwayat yang membuktikan pemahaman seperti itu. Sebab-sebab munculnya pemalsuan hadis bisa muncul secara sengaja maupun tanpa sengaja. Ada beberapa sebaba yang disengaja dalam praktik pemalsuan hadis, yaitu
  1. Niat untuk menghancurkan Islam dari dalam.
  2. Pembelaan terhadap aliran.
  3. Terdorong oleh motif-motif duniawi

Adapun sebab-sebab yang tidak disengaja, antara lain:
  1. Terjadinya kekliruan atau kesalahan pada diri periwayat
  2. Penyusupan hadis palsu dalam karya periwayat oleh orang lain tanpa sepengetahuan dirinya.
2)   Merebaknya kekeliruan pada masa periwayatan

Seorang periwayat sebagaimana manusia lainnya, tidak terlepas dari unsure kekeliruan. Sebab manusia (biasa) memang tidak menjamin terhindar dari kekeliruan dan kesalahan (bukan ma’shum). Akan tetapi, disamping itu ada dua factor yang mendukung terjadinya kekeliruan itu, yaitu:

Terbatasnya kodifikasi hadis.
Periwayatan secara makna.[3]

Tujuan Kritik Matan

Jadi, tujuan kritik matan adalah memperoleh data teks yang mempertahankan formula kesahihan makna dan keutuhan kehendak dengan mengeleminir unsur sisipan, tambahan yang mengganggu, serta paling minim kesalahan redaksinya. Sebagai konsekuensi, arah tujuan kritik, maka gejala kerancuan bahasa (rukaakah lafzhiah) ditolelir, berbeda dengan keransuan dalam makna (konsep ajaran)[4]

Tuduhan Keterbatasan Para Ulama Hadis dalam Melakukan Kritik Matan

Ahmad Amin dalam bukunya Dhuhal Islam menyebutkan bahwa para ahli hadis sangat mengutamakan kritik ekstern, dan tidak mengindahkan kritik intern. Mereka telah melakukan usaha yang berlebihan berkenaan dengan jarh dan ta’dil terhadap periwayat hadis. mereka memberikan penilaian, para periwayat itu tsiqah atau tidak, antar periwayat terjadi pertemuan atau tidak. Dengan ukuran-ukuran seperti itu pula mereka mengklasifikasikan hadis menjadi sahih, hasan, dla’if, mursal, munqathi’, syadz, gharib, dll. Mereka tidak membuka usaha untuk melakukan kritik matan. akibatnya mereka tidak pernah mempedulikan matan hadis itu sesuai atau tidak.

Menurut hasil penelitian Al-Adlabi, tuduhan bahwa ulama mendahulukan kritik sanad ada benarnya, dan bahkan memiliki rasionalitas tersendiri. Namun demikian, dalam mempraktikkan kritik sanad, ternyata ulama hadis juga menggunakan kritik matan, yakni ketika mereka memberi penilaian terhadap seorang periwayat melalui kritik terhadap riwayat-riwayatnya. Demikian pula ketika mereka mengkaji istilah-istilah teknis. Walaupun sebagian besar istilah-istilah teknis itu terfokus pada sanad, tetapi ada sejumlah istilah teknis yang memperhatikan kritik matan, seperti pembahasan tentang hadis syadz, hadis munkar, hadis mu’allal, hadis mudltarib, hadis mudraj, dan hadis maqlub.

Langkah-langkah Kritik Matan

Dalam melakukan kritik matan hadis, Al-Adlabi menggunakan tolak ukur, yaitu membandingkan hadis dengan al-Qur’an, hadis dengan hadis, hadis dengan akal,indera, dan sejarah, serta menolak hadis yang bernuansa politis dan teologis, serta menolak hadis yang tidak menyerupai perkataan Nabi. Berikut akan dipaparkan contoh-contoh bagaimana Al-Adlabi melakukan kritik matan dalam kitabnya Manhaj Naqd al-Matn Ind Ulama al-Hadis al-Nabawi.

Kritik terhadap riwayat-riwayat yang bertentangan dengan al-Qur’an

Menurut Al-Adlabi, jika kita menemukan sebuah hadis yang bertentangan dengan al-Qur’an, maka ada dua sudut pandang yang bisa kita berikan: pertama, dari sudut wurud. Al-Qur’an seluruhnya adalah qath’i wurud, sedangkan hadis-hadis Nabawi dhanni wurud, kecuali hadis mutawatir yang jumlahnya kecil. Bahkan, hadis mutawatir sekalipun yang mencapai tingkat yang kuat dalam wurudnya tidak sampai pada tingkat  qath’ al-wurud sebagaimana al-qur’an. Dengan dalil akal dapat dikemukakan bahwa yang dhanni harus ditolak jika bertentangan dengan yang qath’i. Kedua, dari sudut dhanni al-dalalah, al-Qur’an dan al-hadis adakalanya qath’i  al-dalalah dan adakalanya dhanni al-dalalah. Untuk memastikan adanya pertentangan diantara nash al-Qur’an dan nash al-Hadis, keduanya haruslah sama-sama tidak mengandung kemungkinan takwil, dan selanjutnya memungkinkan untuk dipadukan (al-jam’), maka diantara keduanya jelas tidak terjadi pertentangan dan tidak ada alasan untuk menolak hadis yang bersangkutan semata karena dugaan bertentangan dengan nash al-Qur’an.[5] Seperti redaksi hadis:

“ Diatas langit ketujuh ada laut, yang antara bagian bawah dan atasnya seperti jarak antara satu langit dengan langit lainnya. Diatas punggung-punggung itu ada Arasy, yang jarak antara bagian bawah dan bagian atasnya adalah sejauh antara langit dan bumi, dan Allah ada diatasnya. ”

Hadis ini mengandung makna yang munkar, karena bertentangan dengan al-Qur’an, yang menjelaskan bahwa penyangga Arasy adalah malaikat yang memiliki sayap. Sedang riwayat ini menjelaskan bahwa penyangganya adalah binatang-binatang yang memiliki kuku.

Dari sisi lain, hadis ini juga memberikan sifat “diatas” kepada Allah swt. Dalam konteks yang menunjukkan “ di atas ” yang bersifat indrawi. Perkataan Nabi saw. didalam riwayat itu: “Dan Allah diatasnya”, maksudnya diatas Arasy. Seakan-akan maksudnya Allah dibawah oleh Arasy dan para penyangganya. Dan makna semacam ini jelas munkar, tidak sejalan dengan pola pengungkapan al-Qur’an yang menyebutkan: “al-Rahman bersemayam (diatas) Arasy.” Jadi tidak ada ungkapan secara tegas bahwa Allah ada diatas Arasy. Perbedaan seperti ini yang tidak memungkinkan takwil dan pemaduan, dan tidak lain merupakan indikator riwayat-riwayat palsu dan lemah.[6]

Kritik terhadap riwayat-riwayat yang bertentangan dengan hadis Nabi dan sirah Nabawiyah

Menurut Al-Adlabi, jika kita hendak menolak sebuah riwayat yang marfu’ kepada Nabi saw. karena bertentangan dengan hadis lain, maka harus terpenuhi dua syarat, yaitu pertama, tidak ada kemungkinan memadukan (al-jam’u). jika dimungkinkan pemaduan antara keduanya dengan tanpa memaksakan diri, maka tidak perlu menolak salah satunya. Jika diantara keduanya terjadi pertentangan yang tidak mungkin dipadukan, maka harus ditarjih. Kedua, hadis yang dijadikan sebagai dasar untuk menolak hadis lain yang berttentangan haruslah berstatus mutawatir. Seperti riwayat:

“ Siapa yang berangkat di pagi buta untuk shalat subuh, maka ia telah memegang panji iman, dan siapa yang berangkat di pagi buta ke pasar, maka ia telah memegang panji iblis.”

Disamping sanadnya lemah, hadis ini juga bertentangan dengan hadis-hadis sahih berkenaan dengan keutamaan seorang pedagang dan membuat mereka lari dari pasar. Hal ini jelas tidak sejalan dengan tujuan syariat yang memotivasi amal dan usaha yang halal.

Kritik terhadap riwayat-riwayat yang bertentangan dengan akal, indera, dan sejarah

Contoh riwayat yang bertentangan dengan akal
“ Enam perkara yang menyebabkan lupa yaitu sisa maknan tikus, membuang kutu dalam keadaan hidup, kencing di air yang berhenti, mengunyah permen karet, memakan apel………….”

Rasio atau penalaran akal dalam tradisi mu’aradhah (konfirmasi hadis) adalah pandangan akal sehat yang disinari oleh al-Qur’an dan sunnah Nabi saw, bukan pendapat akal yang bebas nilai.[7]

Dan tidak benar perkara-perkara ini ada hubungannya dengan penyebab lupa. Amat jauh lupa dan membuang kutu, atau mengunyah permen karet, atau memakan apel. Ini semua cukup untuk menghukumi batil riwayat ini.
           
Kritik terhadap riwayat-riwayat yang tidak menyerupai perkataan Nabi

Sulit memang bagi ulama hadis untuk menentukan perkataan mana yang tidak seperti perkataan kenabian, tetapi yang terpenting adalah perkataan yang mengandung keserampangan, atau makna-makna yang rendah, atau ungkapan tentang istilah-istilah yang datang kemudian. Seperti riwayat

“ Saya bertanya kepada mereka tentang debu surga, ia berupa debu putih.” Kemudian beliau bertanya kepada mereka tentang debu surga, mereka terdiam sejenak. Kemudian mereka berkata: “roti wahai Abu al-Qasim.” Kemudian Rasul bersabda: “ Roti dari debu putih “

Al-Adlabi berkata: saya kira hadis ini tidak sahih berasal dari Rasul, perkataan yang mengatakan bhwa debu surga itu debu putih, atau roti, dan  roti itu berasal dari debu putih, itu semua tidak menyamai perkataan Rasul, dan tidak pula seperti makna-makna yang dilontarkan Rasul saw.

Memperhatikan fakta keragaman kaidah kritik matan hadis terutama pada tataran aplikasi metodologisnya, maka muncul kecenderungan mengekang diri dari upaya mengkaji ulang atas status matan yang data dokumentasi hadisnya telah terkoleksi dalam kitab hadis standar (ushul al-hadis al-mu’tabar). Trauma psikologisnya terkait:
  1. Dituduh sebagai inkar al-sunnah
  2. Menguji kembali hasil verifikasi ulama mutaqaddimin yang telah beroleh pengakuan.
  3. Melawan arus terhadap pengakuan atas pembakuan teks matan hadis yang telah terbukukan dalam kitab hadis standar.

Pembacaan terhadap Pemikiran Al-Adlabi

Metode kritik matan al-Adlabi berangkat dari skeptisismenya terhadap hadis, seperti pada dasarnya hadis dibuat-buat seolah-olah berasal dari Nabi dan metode kritik ulama hadis lebih difokuskan kepada kritik sanad. Skeptisisme ini mengantarkan Al-Adlabi untuk membuat metode kritik matan. Ada aspek penting yang menurut Al-Adlabi perlu diperhatikan sebelum melakukan kritik hadis, yakni mukhtalif al-hadis. dalam praktik kritik matannya, terhadap hadis-hadis yang tampak bertentangan beliau menggunakan metode al-jam’u untuk memadukan, jika sudah tidak dapat dipadukan lagi, maka dipilih hadis yang lebih kuat (tarjih).

Metode kritik matan Al-Adlabi kemudian dimanifestasikan dalam bentuk tolak ukur, yaitu membandingkan hadis dengan al-Qur’an, hadis dengan hadis, hadis dengan akal, hadis dengan sejarah, menolak hadis yang tidak menyerupai perkataan Nabi. Tampaknya memang sederahana, tetapi diperlukan kecermatan dan kehati-hatian dalam mempraktikkannya, agar orang tidak dengan mudah membuang suatu hadis hanya karena bertentangan dengan tolak ukur yang telah disebutkan diatas. Karena itu, dalam membahas masing-masing criteria beserta turunannya, al-Adlabi juga menyertakan contoh praktiknya.

Dari metode tersebut, lahirlah sumbangan pemikiran yang perlu dikembangkan lebih lanjut. Pertama, bahwa status matan yang data dokumentasi hadisnya telah terkoleksi dalam kitab hadis standar (ushul al-hadis al-mu’tabar) bukanlah kitab hukum, melainkan sebagai sumber landasan hukum. Kedua, Al-Adlabi menyarankan agar memadukan hadis-hadis yang tampak bertentangan, jika tidak bisa dipadukan, maka ditarjih. Ketiga, paling tidak tolak ukur kritik matan yang dilakukan Al-Adlabi bisa dijadikan contoh dalam mengkritik hadis. keempat, sebagaimana para pendahulunya, kerangka berpikir yang digunakan Al-Adlabi dalam kritik hadis menggunakan kritik sejarah. Penggunaan kritik sejarah dalam kritik matan oleh beberapa ulama merupakan penegasan bahwa kritik sejarah memang sangat perlu, mengingat hadismerupakan produk sejarah.

Sedangkan dalam peta pemikiran hadis kontemporer, terutama yang berkaitan dengan kritik matan, posisi Al-Adlabi ternyata masih tetap mengikuti para pendahulunya dan dia tidak membuat sesuatu yang benar-benar baru. Hal ini paling tidak terlihat dari metode kritiknya dan sejumlah hadis yang dijadikan contoh kritik.

Kesimpulan
            Dari uraian diatas, dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu :

1.   Al-Adlabi menggunakan terma riwayat dalam menyebutkan hadis.
2.  Menurut Al-Adlabi, meskipun ulama terdahulu lebih banyak fokus pada kritik sanad, tapi sejatinya mereka tidak mengabaikan kritik matan sama sekali.
3.  Al Adlabi lebih memokuskan pada kritik matan, agar orang tidak dengan mudah membuang (meminjam istilah Al-Adlabi)  suatu hadis hanya karena bertentangan dengan al-Qur’an, hadis, sirah nabawiyah, akal, indera, atau sejarah, yang mana penilaian bertentangan itu belum melalui penilaian yang cermat.
4.  Tolak ukur kritik matan Al-Adlabi, yaitu membandingkan hadis dengan al-Qur’an, hadis dengan hadis, hadis dengan akal, hadis dengan sejarah, menolak hadis yang tidak menyerupai perkataan Nabi.
4. Al-Adlabi tidak membuat metode kritik matan yang benar-benar baru, dan ternyata masih tetap mengikuti para pendahulunya

Catatan Kaki
[1] Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadis: Muhaddisin dan Fuqaha, (Yogyakarta: Teras, 2004), hlm. 14.
[2] Salahudin al-Adlabi, Metodologi Kritik Matan Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, (Pamulang: Gaya Media Pratama, 2004), hlm 17-18.
[3] Salahudin al-Adlabi, Metodologi Kritik Matan Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, (Pamulang: Gaya Media Pratama, 2004), hlm53-54.
[4] Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadis: Muhaddisin dan Fuqaha, (Yogyakarta: Teras, 2004), hlm.
[5] Salahudin al-Adlabi, Metodologi Kritik Matan Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, (Pamulang: Gaya Media Pratama, 2004), hlm. 210.
[6] Salahudin al-Adlabi, Metodologi Kritik Matan Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, (Pamulang: Gaya Media Pratama, 2004), hlm. 220-221.
[7] Hasjim Abbas, Kritik Matan Hadis: Muhaddisin dan Fuqaha, (Yogyakarta: Teras, 2004), hlm. 160.

Daftar Pustaka
           
al-Adlabi, Salahudin. Metodologi Kritik Matan Hadis, terj. Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq. Pamulang: Gaya Media Pratama, 2004
Abbas, Hasim. Kritik Matan Hadis: Muhaddisin dan Fuqaha. Yogyakarta: Teras, 2004.

Disadur dan dipublikasikan kembali: Metode dan Langkah-langkah Menilai Keshahihan Hadis dari segi Matan Ditulis Oleh Istie


0 Response to "Makalah Metode dan Langkah-langkah Menilai Keshahihan Hadis dari segi Matan "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!