Pengertian Iman dan Hadis Tentang Kebersihan dalam Kehidupan

Advertisement
Pengertian Iman dan Hadis Tentang Kebersihan dalam Kehidupan Sehari-hari

Tongkronganislami.net,- Allah adalah pencipta langit dan bumi seisinya, termasuk hal-hal eskatologi (tidak tampak) yang diciptakan, pemberi beberapa nikmat yang tidak mampu direalisasikan dalam hitungan jumlah, serta Dzat yang wajib disembah. Sudahlah kewajiban bagi makhluk Nya untuk mensyukuri nikmatnya, yaitu selain mengucapkan dengan lisan juga mesti harus memanfaatkan nikmat tersebut dengan sebaik-sebaiknya. Seorang Muslim mempunyai kewajiban menjaga beberapa nikmat yang telah diberikan, seperti menjaga kelestarian, kebersihan dan keindahan alam agar tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari secara terus menerus. Allah berfirman dalam Q.S Ar Ruum 41 bahwa sebenarnya kerusakan- kerusakan baik di daratan maupun di lautan tidak lain hanyalah kesalahan atau campur tangan manusia itu sendiri.

Adanya alam ini mengindikasikan adanya pencipta yang perlu diimani exsistensinya, meski pencipta tersebut tidak tampak di mata kita. Justru yang demikian, Allah memberi pahala terhadap yang mengimaninya. Bagaimana tidak, secara realita tidak mungkin seseorang akan tumbuh rasa cinta kepada yang lainnya kalau tidak pernah bertemu, begitu juga iman kepada Allah. Akan tetapi dengan maujud bumi ini sudah cukup sebagai buku besar atau bukti bagi orang-orang yang melihatnya, membaca fenomena-fenomena alam atas dasar buku induk Allah (Al Qur’an). Demikian, Iman kepada Allah memberi contoh relasi yang paling mulia antara manusia dan pencipta.

Hadis Iman dan Kebersihan dalam Kehidupan Sehari-hari

Penciptaan Allah yang paling mulia di bumi adalah manusia karena dalam diri manusia, Allah menciptakan hati, di mana hati adalah wadah keimanan seseorang. Hati itu perlu dijaga dan dirawat melalui kebersihan lahir dan batin, agar mampu terealisasikan dalam bentuk sifat-sifat yang terpuji, sebagai bentuk salah satu sifat seorang muslim. Oleh karena itu, petunjuk iman merupakan salah satu nikmat yang paling agung dan paling utama dari pemberian Allah.

Pengertian iman
Kata iman berasal dari madli "امن- يؤمن- ايمانا", sedangkan iman merupakan kebalikan dari kufr, dan iman bermakna membenarkan kebalikan dari membohongi.[1]di dalam al-Qur’an disebutkan:

Apabila dikatakan kepada mereka: "Berimanlah kamu sebagaimana orang-orang lain telah beriman." mereka menjawab: "Akan berimankah Kami sebagaimana orang-orang yang bodoh itu telah beriman?" Ingatlah, Sesungguhnya merekalah orang-orang yang bodoh; tetapi mereka tidak tahu.(al-Baqarah: 13)Menurut At Tobari yang dimaksud (وإذا قيل لهم آمنوا كما آمن الناس) adalah ketika diucapkan kepada orang-orang yang disifati Allah bahwa mereka mengucapkan (آمنا بالله وباليوم الآخر وما هم بمؤمنين) yaitu mereka membenarkan Nabi Muhammad dan ajaran yang dibawa dari Allah. Sebagaimana dalam keterangan hadits dari Ibn Abbas

حدثنا أبو كُريب، قال: حدثنا عثمان بن سعيد، عن بشر بن عُمارة، عن أبي رَوْق، عن الضحاك، عن ابن عباس في قوله:( وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ )، يقول: وإذا قيل لهم صدِّقوا كما صدَّق أصحاب محمد، قولوا: إنَّه نبيٌّ ورسول، وإنّ ما أنزل عليه حقّ، وصدِّقوا بالآخرة، وأنَّكم مبعوثون من بعد الموت[2]

Iman ialah kepercayaan yang teguh yang disertai dengan ketundukan dan penyerahan jiwa. Tanda-tanda adanya iman ialah mengerjakan apa yang dikehendaki oleh iman itu.[3]

Iman tidak hanya terealisasikan lewat mulut saja, akan tetapi juga harus diringi amal atau bukti konkretnya. Dan iman juga tidak hanya berupa kepercayaan terhadap surga, akan tetapi iman adalah akidah yang memenuhi hati dan memunculkan pengaruh. Diantara pengaruh iman, Allah dan Rasul Nya harus lebih dicintai daripada yang lainnya dan harus dibuktikan secara konkret, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun pelaksanaan. Jika kegiatan tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya, maka akan memungkinkan terjadinya dikotomi keimanan dan akidah akan goncang. Allah mengindikasikan dalam Q.S At Taubah 24 dengan pemahaman bahwa siapa saja yang lebih mencintai suatu yang kalian miliki daripada Allah, Rasul Nya, dan perjuangan di jalan Nya. Maka Allah akan mendatangkan perintah (siksaan) Nya.

Iman mendapat apresiasi yang sempurna jika iman didasarkan hanya pada cinta hakiki, yaitu cinta kepada Allah, Rasul Nya, syariat yang telah diwahyukan. Di dalam hadits terdapat keterangan :

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ الْمُثَنَّى قَالَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَهَّابِ الثَّقَفِيُّ قَالَ حَدَّثَنَا أَيُّوبُ عَنْ أَبِي قِلَابَةَ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّار[4]ِ

“ Terdapat tiga orang yang akan memperoleh kenikmatan iman yaitu: Pertama: Allah dan Rasul Nya lebih dicintai oleh seseorang daripada yang lain. Kedua, orang yang tidak mencintai orang lain karena hanya Allah. Ketiga, orang yang tidak ingin kembali kepada kekafiran sebagaiman dia tidak ingin terlempar ke dalam neraka".

Iman merupakan bentuk hubungan yang variabel, ia akan menghubungkan orang-orang mukmin dengan Allah dilandaskan rasa cinta, ia akan tetap mengatur hubungan orang-orang mukmin dengan yang lainnya atas dasar kasih saying, ia juga akan mampu menetapkan orang-orang mukmin dengan para musuh atas dasar kekerasan.[5]

Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Memahami Hadis Alam Barzakh
  2. Memahami Hadis Mayat Akan disiksa Saat diratapi
  3. Hadis Doa Mendapat Syafaat Allah SWT dan Nabi-Nya
  4. Hadis Masuk Surga Bukan karena Amal
  5. Hukum Mengamalkan Hadis Dhoif tertolak


Di samping itu, iman memberi pengaruh besar berupa segala perbuatan yang mahmudah (baca: baik) yang membersihkan jiwa, menyucikan hati, dan meramaikan kehidupan. Iman menjadi unsur terpenting dalam rangka membantu pertumbuhan dan perkembangan kepribadian manusia. Oleh karena itu, amal lahir dalam beberapa ayat Al Quran bersamaan dengan amal baik dengan konsekuensi pahala baik yang bermacam-macam.[6] Begitu juga sebaliknya, jika iman tidak bersamaan dengan amal baik, maka imannya percuma dan tidak berguna yaitu tiadalah arti dan sia-sia saja, bagai pohon yang tidak berbuah, dan jika pohon ini tumbang itu lebih bagus daripada tetap hidup. Jika iman telah tertanam lekat dalam hati seseorang, secara otomatis sikap perbuatan baik akan muncul dengan sendirinya tanpa harus dipaksa karena adanya kesadaran yang tumbuh dalam hati nurani seseorang. Al hasil, iman tersebut juga akan menghasilkan tsamrah (buah atau hasil).

Hubungan iman dengan kebersihan

Setelah menguraikan iman dengan sedikit pemaparan yang dapat ditangkap penulis, penulis berusaha mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik hubungan terhadap sesama manusia maupun manusia dengan lingkungannya.

Studi kajian terpenting dalam makalah ini, yaitu Keimanan dan Kebersihan. Dalam hal ini, terdapat keterkaitan yang fundamental mengenai wilayah kebersihan. Kebersihan merupakan salah satu hal baik sebagai cerminan rasa iman. Akan tetapi dalam ranah kebersihan, Suci dan bersih itu berbeda. Orang yang bersih belum tentu disebut suci, dan juga sebaliknya. Misalkan orang yang dalam keadaan hadats, baik hadats besar maupun hadats kecil belum bisa dikatakan suci sehingga seseorang itu mandi besar jika hadats besar dan wudhu jika hadats kecil. Orang yang beriman itu harus suci, baik badannya, pakaiannya, maupun tempatnya, lebih-lebih dalam hal ibadah. Sebagaimana Allah berfirman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, Maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki, dan jika kamu junub Maka mandilah, dan jika kamu sakit atau dalam perjalanan atau kembali dari tempat buang air (kakus) atau menyentuh perempuan, lalu kamu tidak memperoleh air, Maka bertayammumlah dengan tanah yang baik (bersih); sapulah mukamu dan tanganmu dengan tanah itu. Allah tidak hendak menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, supaya kamu bersyukur”.(al-Maidah: 6)

Di dalam hadits Nabi saw. juga disebutkan:

وقوله صلى الله عليه وسلم الطهور شطر الإيمان فسر بعضهم الطهور ها هنا بترك الذنوب كما في قوله تعالى إنهم أناس يتطهرون وقوله وثيابك فطهر المدثر وقوله إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين البقرة وقال الإيمان نوعان فعل وترك فنصفه فعل المأمورات ونصفه ترك المحظورات وهو تطهير النفس بترك المعاصي

Nabi mengatakan kebersihan sebagian dari iman, sebagian ahli tafsir memaknai “at thohur” di sini meninggalkan dosa. Nabi juga berkata iman ada 2 macam yaitu, mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan, dengan kata lain membersihkan jiwa dengan meninggalkan ma’siat.

حَدَّثَنَا حَسَنٌ حَدَّثَنَا ابْنُ لَهِيعَةَ عَنِ الْحَارِثِ بْنِ يَزِيدَ الْحَضْرَمِيِّ عَنِ ابْنِ حُجَيْرَةَ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيكَ فَلَا عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنْ الدُّنْيَا حِفْظُ أَمَانَةٍ وَصِدْقُ حَدِيثٍ وَحُسْنُ خَلِيقَةٍ وَعِفَّةٌ فِي طُهْرٍ

Pemahaman hadits tersebut, bahwa bersih juga meliputi bersihnya hati melalui cara ‘iffah yaitu menjaga dari hal-hal yang kurang jelas.

Arti lain dari “Nadhif” adalah “thahir” (suci), sebagaimana hadits:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا أَبُو عَامِرٍ الْعَقَدِيُّ حَدَّثَنَا خَالِدُ بْنُ إِلْيَاسَ عَنْ صَالِحِ بْنِ أَبِي حَسَّانَ قَال سَمِعْتُ سَعِيدَ بْنَ الْمُسَيَّبِ يَقُولُ إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ كَرِيمٌ يُحِبُّ الْكَرَمَ جَوَادٌ يُحِبُّ الْجُودَ فَنَظِّفُوا أُرَاهُ قَالَ أَفْنِيَتَكُمْ وَلَا تَشَبَّهُوا بِالْيَهُودِ قَالَ فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِمُهَاجِرِ بْنِ مِسْمَارٍ فَقَالَ حَدَّثَنِيهِ عَامِرُ بْنُ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِثْلَهُ إِلَّا أَنَّهُ قَالَ نَظِّفُوا أَفْنِيَتَكُمْ قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ غَرِيبٌ وَخَالِدُ بْنُ إِلْيَاسَ يُضَعَّفُ وَيُقَالُ ابْنُ إِيَاسٍ[7]

قوله : ( إن الله طيب ) أي منزه عن النقائص , مقدس عن العيوب ( يحب الطيب ) بكسر الطاء , أي طيب الحال والقال أو الريح الطيب بمعنى أنه يحب استعماله من عباده ويرضى عنهم بهذا الفعل , وهذا يلائم معنى قول نطيف ( نظيف ) أي طاهر ( يحب النظافة ) أي الطهارة الظاهرة والباطنة ( إن الله طيب يحب الطيب ) إلخ . وقال البخاري : منكر الحديث ليس بشيء , وقال النسائي : متروك الحديث , وقال مرة : ليس بثقة ولا يكتب حديثه . كذا في تهذيب التهذيب

Allah itu Zat yang suci menyukai kesucian, dan yang Zat yang bersih menyukai kebersihan. Yang dimaksud dengan kalimat “الله طيب” di sini ialah منزه عن النقائص , مقدس عن العيوب (Allah itu suci dari sifat-sifat yang kurang dan bersih dari cacat-cacat). Sedangkan Allah menyukai kesucian ialah menyukai dan meridhoi amal hamba Nya yang dilakukan dengan suci tingkah lakunya.[8]

Matan hadits ini dirasa sesuai dengan hadits-hadits yang sepadan dengannya, meski telah diindikasikan pada hadits tersebut bahwa terdapat banyak perowi yang menentangnya atau menganggap munkar, matruk, dll. Mungkin perowi-perowi tersebut menganggap demikian karena Nabi tidak pernah meriwayatkan hadits itu, dan hadits tersebut termasuk Menurut tinjauan penulis, hadits tersebut tetap dapat dipakai sebagai pedoman karena tidak bertentangan dengan teks dalam Al Quran, akan tetapi pengamalannya disesuaikan dengan situasi dan kondisi. Nabi bersabda:

الطهور شطر الايما ن

Artinya: “Kebersihan adalah separoh dari iman.”[9]

Bersih dan suci itu mempunyai banyak bentuk, di antaranya:

Membersihkan tujuan,- Seseorang jika ingin mendapat pertolongan Allah, maka harus membersihkan atau memurnikan niat semata-mata karena Allah. Karena itu, ia tidak berani jika melakukan suatu perintah kecuali telah mantab terlebih dahulu keikhlasan niatnya karena Allah SWT.

Artinya: Katakanlah: Sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.

Memurnikan tauhid,- Tauhid mengesakan Allah, tiada lain Dzat yang wajib disembah, membersihkan dari ketergantunganhati selain kepada Allah. Jika terjadi yang sebaliknya berarti menjadi bentuk kemusyrikan, yaitu menyekutukan atau menyamakan Allah dengan yang lainnya.

Memurnikan ittiba’ (mengikuti sunnah Nabi),- Seseorang dituntut memurnikan tujuan (niat), maka juga dituntut membersihkan perbuatan. Jadi, ia tidak akan melaksanakan suatu perbuatan melainkan perbuatan itu sesuai syari’at Islam dan benar-benar ittiba’ kepada petunjuk Rasulullah.[10]

Dari ketiga term tersebut, penulis memberi contoh seperti sholat. Sholat tersebut harus didasarkan pada jiwa yang bersih, baik lahir yang meliputi bersih dari kotoran (najis) dan juga batin yang meliputi bersih dari niat jelek.

Al hasil, bahwa kebersihan itu terbagi menjadi 2 bagian: Kebersihan lahir, yaitu bersih dari hadats dan kotoran serta Kebersihan batin, yaitu bersih dari sifat tercela, sifat yang menodai hati, dll.

Keimanan dan Kebersihan dalam Tinjauan Teologis dan Sosiologis


Iman dan kebersihan dapat memberikan dorongan semangat dalam kegiatan ibadah kepada Allah SWT, yakni:

Iman dan perbuatan seseorang tidak bergantung kepada iman dan perbuatan orang lain, dan kebersihan sangat memberikan dampak positif kepada lainnya,yaitu memberi kenyamanan.

Iman menuntut legitimasi atas exsistensi Allah dengan sifat-sifat Nya bahwa Allah Maha Menghidupkan, dll, dan kebersihan dituntut adanya jiwa kesadaran, peka terhadap lingkungannya.

Iman akan selalu mengingatkan dan mengetuk hati seseorang jika sedikit lalai akan tugasnya, dan menumbuhkan kesemangatan jiwa untuk mencapai hal-hal yang diridhoi Allah dan Rasul Nya. Begitu juga kebersihan, baik lahir maupun batin.

Iman sebagai pengendali sikap, ucapan, dan perbuatan. Jika seseorang menghadapi masalah yang rumit atau kegagalan, maka ia akan menghadapi semua itu dengan tenang dan sabar, bahkan ia akan mensyukurinya. Inilah bentuk manifestasi dari iman.[11]

Kesimpulan

Iman menjadi bagian yang utama dan paling utama dalam pembentukan jiwa yang kuat, dan merupakan cara awal menuju pendekatan kepada Allah SWT. Seseorang yang iman yaitu percaya kepada Allah dan Rasul Nya, akan selalu menjalankan segala perintah Nya dan menjauhi segala larangan Nya, dengan harapan semata-mata mencari ridho Allah SWT.

Kebersihan lahir dan batin menjadi karakter seorang muslim yang beriman. Sesuai dengan hadits Nabi yang berbunyi bahwa “Kebersihan adalah sebagian dari iman”. Bentuk kebersihan diantaranya, yaitu: Membersihkan tujuan, Memurnikan tauhid (Allah), Memurnikan ittiba’ kepada Rasulullah (sunnah Nabi)

Iman dan kebersihan dapat memotivasi seseorang untuk melaksanakan ibadah, yakni: Iman seseorang tidak bergantung kepada yang lainnya, sedangkan kebersihan member dampak positif terhadap lingkungan sekitar, Iman mempercayai adanya Allah dan kebersihan sebagian dari iman, Iman dan kebersihan (hati) sebagai pengendali sikap dan ucapan, karena seorang muslim yang memiliki keduanya akan berpikir sebelum melakukannya.

Catatan Kaki

[1] Ibn Mandzur, lisanul 'Arab (CD ROM Al Maktabah Al Syamilah), juz 13, hal 21
[2] Al Tobari, Jami'ul Bayan fi Ta'wilil Qur'an (CD ROM Al Maktabah Al Syamilah), QS Al Baqarah 13
[3] QS Al Baqarah 3
[4] Al Bukhori, Shohih Bukhori (CD ROM Mausu'ah Al Syarifah), no 15
[5] Sayid sabiq, Akidah Islam: suatu kajian yang memposisikan akal sebagai mitra wahyu (Surabaya: Al Ikhlas, 1996), hal 91-95
[6] Buka QS Al Kahfi 107, QS Al Baqarah 62, QS Al Hajj 14, QS At Talaq 11, QS Al Hajj 50, QS At Taghabun 9, dst…….
[7] ِAt Turmudzi, Sunan Turmudzi (CD ROM Al Mausu'ah Al Syarifah), hal 2723
[8] Fatchurrahman, al Haditsun Nabawy (Yogyakarta: Menara Kudus, 1982), hal 213
[9] Syekh Zainuddin bin Ali Ahmad, Syu’abul Iman cabang-cabang iman, terj Musthofa (Surabaya: Al Ikhlas, 1984), hal 37-38
[10] Abdul Majid Al Hilali, Rahasia datangnya pertolongan Allah (Yogyakarta: Pustaka Suara Muhammadiyah, 1997)
[11] Zakiah Daradjat, Islam dan Kesehatan Mental, pokok-pokok keimanan (Jakarta: PT Gunung Agung, 1982), hal 11

Daftar Pustaka

Al Hilali, abdul Majid. Rahasia datangnya pertolongan Allah (Yogyakarta: Pustaka Suara Muhammadiyah, 1997)
Al Tobari. Jami'ul Bayan fi Ta'wilil Qur'an (CD ROM Al Maktabah Al Syamilah)
Bin Ali Ahmad, Zainuddin. Syu’abul Iman cabang-cabang iman, terj Musthofa (Surabaya: Al Ikhlas, 1984)
CD ROM Mausu’ah Al Syarifah
Daradjat. Zakiah. Islam dan Kesehatan Mental, pokok-pokok keimanan (Jakarta: PT Gunung Agung, 1982)
Fatchurrahman. al Haditsun Nabawy (Yogyakarta: Menara Kudus, 1982)
Mandzur, Ibn. lisanul 'Arab (CD ROM Al Maktabah Al Syamilah)
Sabiq, Sayid. Akidah Islam: suatu kajian yang memposisikan akal sebagai mitra wahyu (Surabaya: Al Ikhlas, 1996)

Demikianlah artikel Pengaplikasian Hadis Iman dan Kebersihan dalam Kehidupan Sehari-hari yang ditulis oleh Azmil Mufidah. Mudahan bermanfaat.