Pengertian Kategori Zakat Profesi Menurut Yusuf Qardhawi

Advertisement

TongkronganIslami.net,- Dalam kamus Bahasa Inggris, istilah profesi disebut sebagai profession, yang artinya pekerjaan, sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia disebutkan bahwa, profesi adalah bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan keahlian (ketrampilan, kerajinan, dan sebagainya).

Mahjuddin mengartikan profesi sebagai suatu pekerjaan tetap dengan keahlian tertentu, yang  dapat menghasilkan gaji, honor, upah, atau imbalan. Jadi usaha profesi erat kaitannya dengan sikap profesional, yaitu sesuatu hal yang dilakukan dengan dukungan kepandaian khusus untuk menjalankannya.

Menurut Yusuf Qardhawi, profesi dibagi menjadi dua bagian, yaitu Kasb al-Amal dan Mihan al-Hurrah. Kasb al-Amal adalah pekerjaan seseorang yang tunduk pada perseroan atau perseorangan dengan mendapatkan upah. Mihan Al-Hurrah adalah pekerjaan bebas, tidak terikat pada orang lain. Dalam definisi yang lain menurut Fachrudin, sebagaimana dikutip oleh Muhammad mengklasifikasikan usaha profesi ke dalam beberapa kriteria bila dilihat dari bentuknya:

a. Usaha fisik
b. Usaha fikiran
c. Usaha kedudukan
d. Usaha modal

Zakat Profesi ditinjau dari Hasil Usaha

a. Hasil yang teratur dan pasti, baik setiap bulan, minggu atau hari b. Hasil yang tidak tetap dan tidak dapat diperkirakan secara pasti Dari beberapa  pengertian  yang disebutkan  di atas, kami  dapat menyimpulkan bahwa secara umum, profesi adalah segala kegiatan atau aktifitas kerja yang dilakukan oleh manusia dengan dibekali keahlian dan ketrampilan tertentu untuk mendapatkan hasil berupa upah atau gaji dalam kurun waktu tertentu. 


Zakat Profesi Menurut Yusuf Qardhawi


Pengertian profesi secara lebih terinci dapat dibedakan menjadi dua kategori.  Pertama, profesi yang tidak terkena kewajiban zakat, kedua profesi yang wajib zakat. Profesi yang tidak wajib zakat adalah profesi yang dilakukan oleh seseorang dengan keahlian tertentu untuk mendapatkan gaji. Adapun profesi yang wajib zakat adalah profesi yang dilakukan oleh manusia dengan keahlian tertentu yang dilakukan dengan mudah dan mendatangkan  hasil (pendapatan) yang cukup melimpah (di atas rata-rata pendapatan penduduk). Seperti misalnya komisaris perusahaan, bankir, konsultan, analisis, broker,  dokter  spesialis, pemborong  berbagai  konstruksi,  eksportir  dan importir,  akuntan, artis, notaris, dan berbagai penjual jasa, serta macam-macam  profesi kantoran (white collar) lainnya.

Artinya bahwa, mudah dan cukup melimpah tersebut di atas adalah dimungkinkan dengan jangka waktu yang sama dalam melakukan pekerjaan atau profesinya, seseorang akan mendapatkan pendapatan atau penghasilan yang jauh berbeda. Misalkan antara seorang buruh bangunan yang bekerja siang dan malam dalam waktu satu bulan, mungkin hanya mendapatkan  hasil  yang  cukup untuk  makan  dan kebutuhan  sehari-hari keluarganya,  sedangkan  seorang dokter spesialis  juga dalam waktu satu bulan memungkinkan mendapatkan hasil yang lebih dari cukup untuk kebutuhan sehari-hari bersama keluarga. Jadi, profesi  seperti dokter spesialis tersebut yang dimungkinkan wajib zakat atas dasar mudah dan melimpahnya hasil yang didapat. Mahjuddin juga menggambarkan beberapa contoh profesi yang dimungkinkan wajib zakat, antara lain:

a.   Profesi dokter (The medical profession).
b.   Profesi pekerja teknik/Insinyur (The engineering profession).
c.   Profesi guru, dosen, guru besar atau tenaga pendidik  (The teaching profession).
d.   Profesi advokat (pengacara), konsultan, wartawan, dan sebagainya.

Pengertian Zakat Profesi

Menurut  Yusuf  Qardlawi,  kategori  zakat  profesi  (yang  wajib dizakati) adalah segala macam pendapatan yang didapat bukan dari harta yang sudah  dikenakan  zakat. Sebagai bahan perbandingan baca pengertian zakat menurut beberapa ulamaArtinya, zakat profesi didapat dari hasil usaha manusia  yang  mendatangkan pendapatan   dan  sudah  mencapai nishab. Bukan dari jenis harta kekayaan yang memang sudah ditetapkan kewajibannya  melalui al-Qur’an dan hadits Nabi, seperti hasil pertanian, peternakan,  perdagangan,  harta  simpanan  (uang,  emas,  dan  perak),  dan harta rikaz. Jadi kewajiban zakat profesi merupakan kewajiban baru dari hasil ijtihad ulama yang belum ditetapkan sebelumnya,  melalui dalil al- Qur’an ataupun al-Sunnah.

Mahjuddin  berpendapat,  zakat profesi dalam bahasa arab diartikan artinya  zakat  yang  dikeluarkan dari sumber usaha profesi atau pendapatan jasa. Dalam bukunya Masail Fiqhiyah, Masjfuk Zuhdi juga memberikan keterangannya tentang zakat profesi, yaitu zakat yang diperoleh  dari semua  jenis penghasilan  yang halal yang diperoleh setiap  individu  Muslim,  apabila  telah mencapai  batas minimum  terkena zakat (nishab) dan telah jatuh tempo / haul-nya.

Menurut Didin Hafidhuddin, zakat profesi adalah zakat yang dikenakan pada tiap pekerjaan atau keahlian tertentu, baik yang dilakukan sendirian maupun bersama orang lain / dengan lembaga lain, yang mendatangkan penghasilan (uang)yang memenuhi nishab (batas minimum untuk berzakat).

Berdasarkan beberapa pengertian zakat profesi di atas, dapat disimpulkan bahwa zakat profesi adalah zakat yang dikeluarkan dari hasil usaha  yang  halal  yang  dapat  mendatangkan  hasil  (uang) yang relatif banyak dengan cara yang mudah, melalui  suatu  keahlian  tertentu  dan sudah mencapai nishab.

Maraji’
Amir Syarifuddin, Pembaharuan Pemikiran Dalam Hukum Islam, Jakarta:Logos, 1987, Jilid I.
Hamid Laonso dam Muhammad Jamil, Hukum Islam Alternatif, Solusi Terhadap Masalah Fiqh Kontemporer, Jakarta: Restu Ilahi, 2005, Cet. I.
Departemen Agama Republik Indonesia, Al-Qur'an dan Terjemahnya, Semarang: Toha
Putra, 1996.
Abdul Wahhab Khallaf, Ilmu Ushul Fiqh, Terj. Kitab Ilmu Ushul Fiqh, Semarang : Dina Utama Semarang, Cet. I.
al-Amidi, al-Ihkam Fi Ushulil Ahkam, Lebanon: Daar el Fikr, Juz III.
Wahbah az-Zuhaili, Ushul al-Fiqh al-Islami, Beirut: Daar el-Fikr, 1986, hlm.
Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur'an, Bandung: Mizan, 1999, Cet. XIX.
Yusuf Qardawi, Hukum Zakat terj, Jakarta: 2011.

Demikianlah artikel Pengertian Kategori Zakat Profesi Menurut Yusuf Qardhawi mudahan bermanfaat.