Perbedaan Pendapat Fuqaha Tentang Nisab, dan Prosentase Zakat Profesi

Advertisement
Pengertian Nisab Zakat Profesi,- Secara etimologis (bahasa), kata zakat berasal dari kata zakaa  yang artinya “tumbuh, berkah, bersih dan baik”. Menurut Lisan al-Arab arti dasar dari  zakat,  ditinjau  dari  sudut  bahasa,  adalah  “suci,  tumbuh,  berkah,  dan teruji”, semuanya  digunakan  di  dalam  al-Quran  dan  Hadits.  Dalam  kitab Kifayatul Akhyar, disebutkan bahwa zakat menurut bahasa artinya tumbuh, berkah dan banyak kebaikan. Sedangkan menurut Hammudah Abdalati, menyatakan  the  literal  and simple meaning of  zakah is purity. Artinya pengertian sederhana dari zakat adalah kesucian. Ada juga yang mengartikan peningkatan atau perkembangan (development).

Adapun pengertian zakat secara termonologi (istilah), Dalam kitab Fathul Wahab terdapat definisi zakat sebagai berikut:“Sesuatu nama dari harta atau badan yang dikeluarkan menurut syarat- syarat yang ditentukan”. Sedangkan Abu Bakar bin Muhammad al-Husainy mendefinisikan  bahwa zakat adalah sama bagi sejumlah harta tertentu yang telah mencapai syarat tertentu, yang diwajibkan oleh Allah untuk dikeluarkan dan diberikan kepada yang berhak menerimanya dengan persyaratan tertentu pula.

Syaikh Muhammad al-Nawawi dalam karyanya al-Majmu’ yang telah mengutip dari pengarang al-Hawi menyebutkan “zakat adalah kata Arab yang sudah dikenal sebelum Islam dan lebih banyak dipakai dalam  syair-syair daripada  diterangkan”. Daud  al-Zhahiri berkata. “kata itu tidak mempunyai asal  usul  kebahasaan,  hanya  dikenal  melalui  agama”.  Pengarang  al-Hawi berkata,  “pendapat  itu  sekalipun  salah,  tidak  sedikit  pengaruh  positifnya ibadah zakat”.

Ketentuan Nisab Zakat Profesi

Pembahasan tentang rukun dan syarat zakat profesi di sini stressingnya adalah pada kajian nisab, haul dan besar atau prosentase zakat yang dikeluarkan.

Harta  penghasilan harus dikeluarkan zakatnya apabila sudah mencapai nisab. Nisab  adalah  ukuran yang telah ditentukan oleh Syari’ sebagai tanda atas wajibnya  zakat (baca: pengertian nisab).  atau dengan kata lain, nisab adalah batas minimal suatu penghasilan atau pendapatan yang harus dizakati. Nisab ini adalah sebagai batas untuk menetapkan siapa yang tergolong  orang  kaya  yang  wajib  zakat, karena zakat hanya dipungut dari orang-orang kaya.

Dalam suatu hadits di mana Rasulullah  saw  mengutusMuadz ke Yaman, beliau berpesan:

besaran zakat profesi

Artinya : ….Sesungguhnya Allah mewajibkan kepada mereka (pendudukYaman) zakat pada harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya dan diberikan kepada orang-orang fakir.

Al-Syaukani menjelaskan perbedaan pendapat di kalangan para imam Mazhab tentang orang kaya. Menurut golongan Hadawiyah dan Hanafiyah, orang yang dianggap kaya adalah orang yang mempunyai harta mencapai nisab (85 gram emas), atau yang senilai dengannya sehingga haram baginya mengambil zakat dengan alasan hadits saw: “Tidak halal menerima atau mengambil zakat bagi orang yang kaya, demikian pula orang yang kuat dan mampu  bekerja”. Ulama lain mengatakan, orang kaya adalah orang yang mampu makan di siang dan malam hari, dengan alasan hadits riwayat Abu Dawud dan Ibn Hibban dari Sahal ibn Handhalah bahwa Rasulullah saw bersabda:

pengertian zakat profesi
Artinya: Barang siapa meminta-minta, padahal ia mempunyai harta yang cukup, maka ia  memperbanyak api  neraka pada dirinya. Para sahabat bertanya: “Berapa harta yng dianggap  cukup ini ?, Rasulullah  menjawab: “kadar yang bisa dimakan di siang dan malam hari.
 
Menurut al-Tsaury, Ibn al-Mubarak, Ahmad, Ishaq dan sekelompok pakar ilmu, orang kaya adalah orang yang mempunyai lima puluh dirham atau yang senilai dengannya. Orang tersebut tidak boleh mengambil atau menerima zakat. Hal ini berbeda  dengan pendapat al-Syafi’i dan sekelompok ulama lain, di mana mereka mengatakan: “apabila seseorang mempunyai uang lima puluh dirham atau senilainya, akan tetapi ia masih belum cukup, maka ia boleh mengambil zakat”.  Diriwayatkan dari Syafi’i, bahwa seseorang terkadang sudah dianggap kaya (merasa  cukup) dengan  uang  satu dirham dan punya mata pencaharian. Tetapi  sebaliknya orang yang mempunyai  uang seribu dirham dengan keluarga yang banyak serta tidak mempunyai pencaharian maka ia bukan termasuk orang yang kaya atau tercukupi kebutuhannya.
kadar besaran zakat profesi
Hadits-hadits tentang kreteria orang kaya sebagaimana di atas adalah berkaitan dengan seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Oleh karenanya, ukuran kaya tidaknya seseorang adalahrelatif, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Syafi’i. Oleh  sebab itu nisab harus ada ukuran yang pasti, yakni 85 gram emas sebagaimana hadits-hadits yang menjelaskan zakat nuqud. Dari berbagai pendapat para fuqaha di atas penulis sangat condong dengan pendapat golongan fuqaha yang  mengatakan  orang  yang  berkewajiban  mengeluarkan zakat adalah orang yang kaya yang mempunyai harta mencapai nisab, yaitu 85 gram emas.

Dalam masalah nisab zakat profesi, maka ada dua pendapat. Pertama, penghasilan satu tahun senilai 85 gram emas, lalu dikeluarkan zakatnya setahun sekali sebanyak 2,5 %. Kedua, dianalogikan pada zakat tanaman sebanyak 653 kg (misalnya  padi), dikeluarkan setiap menerima penghasilan atau gaji sebanyak 5 % atau10 %. Pendapat ini dikemukakan oleh Muhammad al-Ghazali dalam bukunya  Islam  wa  al-audza’  al-Iqtishadiya, seperti  dikutip  oleh Yusuf al-Qardhawy.

Pendapat di atas adalah pendapat yang sesuai dengan penulis. Tetapi  barang  kali  pembuat syari’at  mempunyai  maksud tertentu dalam menentukan   nisab tanaman kecil, karena tanaman merupakan penentu  kehidupan  manusia.  Yang  paling  penting  dari besar  nisab  tersebut  adalah bahwa  nisab uang  diukur  dari  nisab tersebut yang telah ditetapkan sebesar nilai 85 gram emas. Besar itu sama dengan 20 misqad hasil pertanian yang disebutkan oleh banyak hadits. Banyak orang yang memperoleh gaji dan pendapatan dalam bentuk uang, maka yang paling baik adalah menetapkan nisab gaji itu berdasarkan uang.

Bila  menetapkan  nisab  zakat  profesi  berdasarkan  nisab uang, maka kita menetapkan pula bahwa zakat tersebut hanya diambil dari pendapatan bersih setelah dipotong kebutuhan pokok yang dimaksud dengan kebutuhan pokok adalah kebutuhan yang harus dipenuhi  seperti  sandang, pangan, papan,  kendaraan  dan  alat  kerja, oleh karenanya  kesemuanya  itu tidak wajib dizakati (baca: Zakat profesi Menurut Qardhawi). Atau dengankata lain, “pendapatan bersih” yang wajib dizakati adalah total penerimaan dari semua jenis penghasilan (gaji tetap, tunjangan, bonus tahunan, honorarium dan sebagainya) dalam jangka waktu satu tahun (atau  12  bulan)  setelah  dikurangi  dengan  hutang-hutang  (termasuk cicilan rumah yang jatuh tempo sepanjang tahun tersebut) serta biaya hidup seseorang bersama keluarganya secara layak (yakni kehidupan orang-orang kebanyakan di setiap negeri, bukan yang amat kaya dan bukan pula yang amat miskin. Berdasarkan hal itu maka sisa gaji dan pendapatan setahun wajib zakat bila mencapai nisab uang, sedangkan gaji dan upah setahun yang tidak mencapai nisab uang, setelah biaya- biaya di atas dikeluarkan, misalnya gaji pekerja-pekerja dan pegawai- pegawai kecil, tidak wajib zakat.

Prosentase Zakat Profesi yang harus dikeluarkan

Pembahasan zakat profesi sebagaimana diuraika di atas, pada hakekatnya tidak dijumpai dalam literatur-literatur lama, mungkin  karena jarangnya upah atau gaji karyawan yang mencapai nisab seperti nisab emas, hewan ternak, pertanian dan sebagainya. Namun di masa kini, penghasilan bulanan para karyawan di perusahaan-perusahaan besar, atau para profesional di bidang teknik, administrasi, kedokteran dan sebagainya, seringkali mencapai jumlahamat besar, jauh melampui nisab harta-harta lain yang wajib dizakati.

Artinya : Dari Malik dari Ibnu Syihab ia berkata, Orang pertama yang mengambil  zakat dari pemberian  (upah gaji) adalah Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Ibn Abd al-Barr menjelaskan bahwa pemotongan upah atau gaji itu adalah secara langsung, bukan sebagai zakat dari harta yang sudah memasuki satu tahun. Ia berkata bahwa hadits pemotongan gaji secara langsung ini adala  syadz (menyimpang  dari  kaidah  atau aturan) yang tidak dipercaya oleh  para ulama  bahkan tidak  ada seorang pun dari orang-orang ahli fatwa mengatakannya.

Oleh karena itu masalah  besaran kadar zakat profesi tetap bersifat ijtihadi yang menjadi garapan para atau fuqah atau ulama kontemporer dapat digolongkan  paling sedikit tiga pendapat mengenai hal ini.

1). Syaikh Muhammad al-Ghazali menganalogikan zakat  profesi dengan zakat hasil pertanian, baik dalam nisab maupun besarnya zakat yang wajib dikeluarkannya.  Besar   zakatnya adalah 10 % atau 5 % dari hasil yang diterima tanpa terlebih dahulu dipotong kebutuhan pokok, sama dengan petani ketika mengeluarkan zakat hasil panennya. Perbedaan  mengeluarkan  zakat 10 % atau 5 % karena perbedaan biaya  menggunakan  alat-alat  mekanik  atau tidak menggunakannya.

2). Mazhab Imamiyah (atau Mazhab Ahlil Bait) berpendapat bahwa zakat profesi itu 20 % dari hasil pendapatan bersih, sama seperti dalam laba perdagangan serta setiap hasil pendapatan lainnya, berdasarkan pemahaman mereka terhadap firman Allah SWT., dalam surat al-Anfal : 41, tentang ghanimah.

3). Yusuf al-Qardhawy dalam mempertimbangkan untuk menguatkan pendapatnya,  bahwa  besarnya zakat profesi disamakan dengan uang atau perdagangan, yaitu 2,5 % dari hasil perdapatan; beliau berkata:  “benar, bahwa nikmat Allah dalam hasil tanaman dan buah-buahan lebih jelas dan mensyukurinya lebih wajib, namun demikian  tidak  berarti  bahwa salah  satu  pendapatan  tersebut tegas wajib zakat sedangkan yang satu lagi tidak. Perbedaannya cukup dengan bahwa pembuat syari’at mewajibkan zakat hasil tanah sebesar sepersepuluh atau seperdua puluh sedangkan pada harta penghasilan berupa uang atau yang senilai dengan uang, sebanyak seperempat puluh.

Demikian perbedaan para fuqaha dalam menentukan besarnya zakat profesi yang harus dikeluarkan, sebagai kewajiban umat manusia dalam  mengabdi  kepada Allah  dan  sekaligus  untuk mensucikan harta benda yang  mereka memiliki. Namun menurut ketentuan Undang-Undang Nomor 38 Tahun 1999, zakat profesi ditetapkan 2,5 %.

Meskipun terdapat perbedaan pendapat dikalangan ulama fiqih, kita tidak boleh melupakan makna filosofi zakat profesi yang harus di pegang teguh. hal itu juga dipertegas dalam al-Quran tentang keumuman perintah zakat. 

Daftar Rujukan

Ibrahim Anis dkk., Mu’jam al-Wasith I, Mesir: Dar al-Ma’arif, 1972.
Abi al-Fadhil Jamal al-Diin Muhammad ibn Mukrim Ibn Mundzir, Lisan  al-Arab, JilidI, Beirut: Dar Shaadar, tt.,.
Imam Taqiyyuddin Abu Bakar al-Husaini, Kifayatul Akhyar, Juz I, Semarang: UsahaKeluarga, tt..
Hammudah Abdalati, Islam in Focus, Indiana: American Trust Publication, 1980.
Fahruddin.HS., Ensiklopedi al-Quran, Jakarta: Renika Cipta, 1992.
Muhammad Zakaria al-Anshori, Fathul Wahab, Beirut: Dar al-Fikr, tt.
Syaikh Muhammad al-Nawawi, al-Majmu’. Jilid 5, Beirut: Daral-Fikr, tt.,
Wahbah al-Zuhaily, al-Fiqh al-Islami wa ‘Adilatuh  III, Beirut: Dar al-Fikr, tt,.
Abdul  Karim  As-Salawy,  Zakat  Profesi  Dalam  Perspektif  Hukum  Dan  Etik,Semarang: Tesis Program Pascasarjana IAIN Walisongo Semarang, 2001.
Departemen Agama RI,   Al-Quran dan Terjamahnya, Semarang: Toha Putra, 1989, hlm. 297-298.
Didin Hafidhuddin, Panduan Praktis tentang Zakat, Infak, Sedekah,   Jakarta: Gema Insani Press, 1998.
Ibnu Jarir al-Thabary, Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil al-Quran III, Beirut: Dar al-Fikr,1998.
Abi al-Hasan al-Wahidy,  Asbab al-Nuzul,  Mesir: Mustafa al-Baby al-Halaby, 1968,
M. Quraish Shihab, Membumikan al-Quran, Bandung: Mizan, 1994.
Muhammmad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab (Ja’fari, Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali), Jakarta: Lentera, 2001.
Satu sho’ itu sama dengan 2,167 kg atau 2167gram, lihat Yusuf al-Qardhawy,  HukumZakat, Terj. Salman Harun dkk., Jakarta: PT. Pustaka Litera Antar Nusa, 1999.
Abd. Rahman al-Juzairy,  Kitab al-Fiqh ala Madzahib al-Arba’ah  I,  Beirut:  Dar al- Fikr, 1996, hlm. 563-564.
Abi Bakar,  Ianah al-Thalibin II,   Indonesia : Dar Ihya al-Kutub al-Arabiyah, tt..
Depag RI,  UU No. 38 Tahun 1999 Tentang Pengelolaan Zakat,  Jakarta: Dirjen BimasIslam &Urusan Haji, 2000.
Lihat dalam Sjehul Hadi Permono dalam “Pemberdayaan & Pengelolaan Zakat Dalam Kitannya Dengan UU. No. 38 Tahun 1999”, Semarang : Temu Ilmiah Program Pascasarjana IAINse-Indonesia, 10-12 Nopember 2001).
Sjehul Hadi Permono,  Pendayagunaan Zakat dalam Rangka Pembangunan Nasional, Jakarta: Firdaus, 1992.
Jalaluddin al-Suyuthi, al-Jami al-Shaghir I, Asia : Syirkah al-Nur, tt.
Ahmad al-Jurjawy, Hikmat al-Tasyri wa Fasafatuhu I, tk: Dar al-Fikri, tt.
Alwi Shihab, Islam Inklusif: Menuju Sikap Terbuka Dalam Beragama,   Bandung: Mizan, 1999.
John M. Echols dan Hassan Shadily, Kamus Inggris-Indonesia (An-English-IndonesianDictionary), Jakarta: Gramedia.
Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,  Kamus Besar Bahasa Indonesia,  Jakarta: Balai Pustaka, 1997.
Komaruddin, Ensiklopedia Menejemen, Ed. II., Jakarta: Bumi Aksara, 1994.
Masfuk Zuhdi, Masail Fiqhiyah, Jakarta; Haji Masagung, 1991.
Ibnu Hazm, al-Muhalla, Jilid 4, Beirut: Dar al-Kutub al-Umiyah, tt.,
Muhammad Idris Al-Syafi’i, Al-Umm, Juz II, TK: Dar al-Fikr, tt.
Al-Zarqany,  Syarh al-Zarqany ala Muwatta’al-Imam Maliki, juz II, Tk: Dar al-Fikr,tt.,
Al-Zarqany,  Syarh al-Zarqany ala Muwatta’al-Imam Maliki, juz II, Tk: Dar al-Fikr,tt.,
Abdurrahman al-Juzairi, Kitab al-Fiqh ala al-Mazhabib al-Arbaah, jilid I,  Beirut: Dar al-Fikr.
Al-Bukhary , Shahih Bukhary, juz II, Semarang: Toha Putra, tt.,.
Al-Syaukany, Nail al-AutharIV, Beirut: Dar al-Fikr,1994.
Al-Zarqany, Syarah al-Zarqany II, Tk: Dar al-Fikr, tt.

Demikianlah artikel Perbedaan Pendapat Fuqaha Tentang Nisab, dan Prosentase Zakat Profesi, mudahan bermanfaat