Makalah Perkembangan Islam pada Masa Abbasiyah Bidang Pendidikan

Advertisement
Makalah Perkembangan Islam pada Masa Abbasiyah Bidang Pendidikan - Istilah peradaban Islam merupakan terjemahan dari kata Arab, yaitu al-Hadharah al-Islamiyyah. Istilah Arab ini sering juga diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan “kebudayaan Islam”. Padahal, istilah kebudayaan dalam bahasa arab adalah al-Tsaqafah. Di Indonesia, sebagaimana juga di Arab dan Barat, masih banyak orang yang mensinonimkan dua kata : “kebudayaan” (Arab/al-tsaqafah dan culture/Inggris) dengan “peradaban” (civilization/Inggris dan al-hadharah/Arab) sebagai istilah baku kebudayaan. Dalam perkembangan ilmu antropologi sekarang, kedua istilah itu dibedakan. Kebudayaan adalah bentuk ungkapan tentang semangat mendalam suatu masyarakat. Sedangkan, manifestasi-manifestasi kemajuan tekhnis dan teknologis lebih berkaitan dengan peradaban. Kalau kebudayaan lebih banyak di reflesikan dalam seni, sastra, dan moral, maka peradaban terefleksi dalam politik, ekonomi dan teknologi.

Baca Juga Makalah Pendidikan Islam:
  1. Makalah Potret Pendidikan Islam Era Rasulullah SAW hingga dinasti Abbasiyah
  2. Makalah Sejarah Perkembangan Lembaga Pendidikan Islam di Indonesia
  3. Kajian Perkembangan Tafsir Al-Qur'an dari Masa Sahabat Hingga Ke Indonesia
 
Peradaban dalam Islam, dapat ditelusuri dari sejarah kehidupan Rasulullah, para sahabat (Khulafaur Rasyidin), dan sejarah kekhalifahan Islam sampai kehidupan umat Islam sekarang. Islam yang di wahyukan kepada Nabi Muhammad saw telah membawa bangsa Arab yang semula terbelakang, bodoh, tidak terkenal, dan di abaikan oleh bangsa-bangsa lain, menjadi bangsa yang maju. Bahkan kemajuan Barat pada mulanya bersumber pada peradaban Islam yang masuk ke eropa melalui spanyol. Islam memang berbeda dari agama-agama lain, sebagaimana pernah diungkapkan oleh H.A.R. Gibb dalam bukunya Whither Islam kemudian dikutip M.Natsir, bahwa, “Islam is andeed much more than a system of theology, it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekedar sebuah agama, ia adalah suatu peradaban yang sempurna). Landasan “peradaban islam” adalah “kebudayaan islam” terutama wujud idealnya, sementara landasan “kebudayaan islam” adalah agama. Jadi, dalam islam, tidak seperti pada masyarakat yang menganut agama “bumi” (nonsamawi), agama bukanlah kebudayaan tetapi dapat melahirkan kebudayaan. Kalau kebudayaan merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia, maka agama Islam adalah wahyu dari Tuhan. Maju mundurnya peradaban islam tergantung dari sejauh mana dinamika umat islam itu sendiri. Dalam sejarah islam tercatat, bahwa salah satu dinamika umat islam itu dicirikan oleh kehadiran kerajaan-kerajaan islam diantaranya Umayah dan Abbasiyah, Umayah dan Abbasiyah memiliki peradaban yang tinggi, diantaranya memunculkan ilmuwan-ilmuwan dan para pemikir muslim.
Perkembangan Islam pada Masa Abbasiyah Bidang Pendidikan

Dari perjalanan dan rentang sejarah, ternyata Bani Abbas dalam sejarah lebih maju di bidang ilmu dan pendidikan ketimbang Bani Umayyah. Pergantian Dinasti Umayyah kepada Dinasti Abbasiyah tidak hanya sebagai pergantian kepemimpinan, lebih dari itu telah mengubah, menoreh wajah dunia Islam dalam reflesi kegiatan ilmiah. Pengembangan ilmu pengetahuan pada Bani Abbas merupakan iklim pengembangan wawasan dan disiplin keilmuan.[1]

Islam mencapai puncak kejayaan dan peradaban

Muslim nonsejarawan barangkali akan mengatakan bahwa puncak peradaban Islam berada pada masa Nabi Muhammad saw dengan indikasi ayat Q.S. al-Māidah/5: 3.

... pada hari ini Telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu ...

Pesan yang terkandung dalam ayat ini bukanlah kesempurnaan peradaban dalam totalitas melainkan keagamaan fungsional.

Para sejarawan sering mengatakan, puncak sejarah peradaban Islam berada pada lima abad pertama sejak munculnya Islam, salah satu yang mengesankan dalam sendi-sendi peradaban Islam adalah pendidikan seumur hidup (life-long education) yang terukir dalam sejarah sekaligus dalam sabda Rasulullah SAW, “Carilah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”. Islam menempatkan ilmu dalam tempat khusus dan memberi nilai lebih terhadap ilmu, saksinya adalah ratusan hadist dan ayat-ayat al-Qur’an yang berhubungan dengan ilmu. Nabi Muhammad dengan ajaran-ajarannya telah diikuti ulama-ulama besar, para ilmuwan muslim dari berbagai bidang ilmu baik naqli maupun akli seperti Tafsir; hadis; Mantiq; Fikih; filsafat; kedokteran; falak; geografi; matematika; fisika; kimia; sastra; sosiologi; sejarah; ilmu politik; dan sebagainya. Karya-karya agung mereka sampai kini dapat ditemukan di perpustakaan-perpustakaan internasional. Sayangnya, justru negara-negara nonmuslim seperti Amerika yang secara rapi dan profesional menyimpannya. Disinilah pentingnya ilmuwan muslim khususnya yang ada di Indonesia datang ke negeri Barat untuk meminta kembali “permata” yang sementara ini berada di Barat.

Islam mencapai puncak kejayaannya terjadi pada dinasti Abbasiyah yang bertahan cukup lama yaitu + 6 abad lamanya, pada dinasti ini Islam banyak melakukan perkembangan pengetahuan serta banyak buku-buku asing diterjemahkan ke dalam bahasa arab.

Kemajuan Islam pada periode Klasik (Dinasti Abbasiyah) di bidang pendidikan dan di bidang ilmiah

Periode klasik Islam yaitu sejak kelahiran Nabi Muhammad saw sampai didudukinya Baghdad oleh Hulagu Khan. Pada masa dinasti Abbasiyah Islam mencapai puncak kejayaannya dengan berkembangnya pendidikan dan penelitian dibidang sains dan teknologi. Menurut Nourouzzaman Shiddiqie[2], periodisasi sejarah Islam dapat dibagi 3 periode[3] : periode Klasik (+ 600 – 1258 M), periode pertengahan ( abad ke-13 – abad 17), periode Modern (abad 18 – sekarang).  Namun pemakalah hanya membahas pada periode klasik, khususnya kemajuan pendidikan dan ilmu pada masa dinasti abbasiyah.

Beberapa khalifah dinasti abbasiyah yang terkenal.

Walaupun abu al-Abbas (750-754 M) yang mendirikan Dinasti Abbasiyah, tetapi pembangunan sebenarnya adalah al-Mansur (754-775 M). Dalam membangun pemerintahan yang kuat maka Baghdad (berada di dekat bekas ibu kota Persia, Ctesipton, pada tahun 762 M) dijadikan ibu kota baru sebagai ganti Damaskus.  Dalam bidang pemerintahan al-Mansur mengadakan tradisi baru dengan mengangkat wazir (menteri) yang membawahi kepala-kepala departemen. Untuk memegang jabatan wazir, ia memilih Khalid bin Barmak, seorang yang berasal dari Balkh (Bectral) di Persia. Al-Mahdi (775-785 M) menggantikan al-Mansur sebagai khalifah dan di masa pemerintahannya, perekonomian mulai meningkat. Pertanian di tingkatkan dengan mengadakan irigasi dan penghasilan gandum, beras, kurma dan zaitun bertambah. Hasil pertambangan seperti emas, perak, tembaga, besi dan lain-lain pun berkembang. Demikian pula dagang transit antara timur dan barat juga membawa kekayaan. Basrah menjadi pelabuhan yang penting. Selanjutnya pada zaman Harun ar-Rasyid (198-218H / 785-809 M) hidup sejahtera dan mewah seperti yang digambarkan dalam cerita Seribu Satu Malam (alfu Lailah wa Lailah) telah memasuki kehidupan masyarakat. Ketika al-Rasyid memerintah, negara dalam keadaan makmur, kekayaan melimpah, keamanan terjamin walau ada juga pemberontakan, dan luasnya wilayahnya mulai dari Afrika Utara hingga ke India. Pada masanya hidup pula para filosof, pujangga, ahli baca al-Qur’an dan para ulama di bidang agama.[4] Kekayaan yang banyak pula dipergunakan ar-Rasyid untuk keperluan sosial. Ia mendirikan rumah sakit, pendidikan dokter, dan membangun farmasi. Diceritakan bahwa Baghdad mempunyai 800 dokter. Di samping itu, pemandian-pemandian umum juga didirikan. Harun ar-Rasyid adalah Raja Besar di zaman itu dan hanya raja Charlemagne di Eropa yang dapat menjadi saingannya.

Anaknya al-Makmun (813-833 M) meningkatkan perhatian pada ilmu pengetahuan. Untuk menerjamahkan buku-buku kebudayaan Yunani, ia menggaji penerjemah-penerjemah dari golongan kristen, dan golongan agama lain. Oleh karena itu, al-Makmun mendirikan Bait al-Hikmah. Di samping lembaga ini, ia juga mendirikan sekolah-sekolah. Al-Makmun adalah penganut aliran Mu’tazilah[5] yang banyak dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan filsafat Yunani. Pada masa pemerintahannya Baghdad mulai menjadi pusat kebudayaan dan ilmu pengetahuan. Diantara kesibukannnya dalam mengangkat isu bahwa al-Qur’an adalah makhluk, yang tergolong persoalan yang memunculkan mahkamah pemeriksaan yang pertama dalam sejarah Islam;[6] walaupun sejarah tidak hanya menyebutnya sebagai panglima perang saja, atau politikus, administratur yang luar biasa; kita tetap berhutang kepadanya karena dia adalah khalifah yang banyak perhatiannya kepada perkembangan ilmu pengetahuan. Dialah yang mula-mula mendirikan gerakan pemikiran dalam sejarah, sekaligus sebagai pemrakarsa paling besar dalam penerjemahan buku-buku berbahasa Yunani dan Suryani. Usahanya termasuk langkah pemula bagi gerakan penulisan yang dilakukan oleh pemikir dan cendikiawan Islam untuk disumbangkan kepada kehidupan manusia. Pada gilirannya, kedudukannya dalam sejarah mengungguli ayahnya, Harun al-Rasyid, meskipun Harun lebih terkenal daripada dirinya. Kemasyhuran yang berasal dari kisah-kisah dan cerita, khususnya yang termuat dalam buku alf Laylah wa laylah, dan bukan karena upaya yang hakiki seperti yang dilakukan oleh al-Makmun.

Khalifah al-Mu’tasim (833-842 M) sebagai anak dari ibu yang berasal dari Turki, mendatangkan orang-orang Turki untuk menjadi tentara pengawalnya. Dengan demikian, pengaruh Turki mulai masuk ke pusat pemerintahan Bani Abbasiyah. Tentara pengawal Turki ini kemudian menjadi sangat berkuasa di Istana, sehingga khalifah-khalifah pada akhirnya merupakan boneka-boneka dalam tangan mereka.

Al-Mutawakkil (847-861 M) merupakan khalifah besar terakhir dari Dinasti Abbasiyah. Para khalifah sesudahnya pada umumnya lemah dan tidak dapat melawan kehendak tentara pengawal dan sultan-sultan yang kemudian menguasai ibu kota. Ibu kota dipindahkan kembali ke Baghdad oleh Mu’tadid (870-892 M) yang sebelumnya di pindahkan dari Baghdad ke Samarra oleh al-Watsiq (842-847 M). 

Khalifah yang paling terakhir dari Dinasti Abbasiyah adalah al-Mu’tasim Billah (1242-1258 M). Di masa pemerintahan al-Mu’tasim Billah ini Baghdad dihancurkan oleh Hulagu dari Mongol pada tahun 1258 M.

Peradaban dan kebudayaan Islam tumbuh dan berkembang bahkan mencapai kejayaannya pada masa Abbasiyah. Hal tersebut dikarenakan dinasti Abbasiyah pada periode ini lebih menekankan pembinaan peradaban dan kebudayaan Islam daripada perluasan wilayah. Di sini letak perbedaan pokok dinasti Umayyah dan dinasti Abbasiyah.

Lembaga dan Kegiatan Ilmu Pengetahuan Dinasti Abbasiyah

Pendidikan anak-anak dimulai di rumahnya masing-masing. Ketika si anak mulai bisa bicara, si ayah wajib mengajarinya untuk mengucapkan kalimat tauhid: la> ila>ha illa> Alla>h. Dan ketika ia berumur enam tahun ia mesti diajari untuk melaksanakan sholat wajib. Pada usia itu pulalah dimulainya pendidikan formal.[7]

Sebelum Dinasti Abbasiyah, pusat kegiatan Dunia Islam selalu bermuara pada masjid. Masjid dijadikan centre of education. Pada Dinasti Abbasiyah inilah mulai adanya pengembangan keilmuan dan teknologi diarahkan ke dalam ma’had. Lembaga ini kita kenal ada dua tingkatan yaitu:

Maktab/kuttab (sekolah dasar) biasanya merupakan bagian yang terpadu dengan masjid yaitu lembaga pendidikan terendah, tempat anak-anak mengenal dasar-dasar bacaan, menghitung dan menulis serta anak remaja belajar dasar-dasar ilmu agama;[8]

Tingkat pendalaman, para pelajar yang ingin memperdalam ilmunya, pergi ke luar daerah atau ke masjid-masjid bahkan ke rumah-rumah gurunya.[9]

Pada perkembangan selanjutnya mulailah dibuka pusat studi umum dan teologi (madrasah) yang dipelopori Nizhamul Muluk yang memerintah pada tahun 456-485 H. Nizhamul Muluk merupakan pelopor pertama yang mendirikan sekolah dalam bentuk yang ada seperti sekarang ini dengan nama madrasah. Madrasah ini dapat ditemukan di Baghdad, Balkan, Naishabur, Hara, Isfahan, Basrah, Mausil dan kota-kota lainnya. Madrasah yang didirikan ini mulai dari tingkat rendah, menengah serta meliputi segala bidang ilmu pengetahuan.[10]

Lembaga pendidikan Islam pertama untuk pengajaran yang lebih tinggi tingkatannya adalah Bait al-H{ikmah (rumah kebijakan) yang didirikan oleh al-Ma’mun (830 M) di Baghdad, ibu kota negara, selain sebagai biro penerjemahan, lembaga ini juga dikenal sebagai pusat kajian akademis dan perpustakaan umum serta memiliki observatorium, fungsi lembaga ini persis sama dengan rumah sakit, yang pada awal kemunculannya sekaligus berfungsi sebagai pusat pendidikan kedokteran.

Corak Gerakan keilmuan Dinasti Abbasiyah

Gerakan keilmuan pada Dinasti Abbasiyah lebih bersifat spesifik. Kajian keilmuan yang kemanfaatannya bersifat keduniaan bertumpu pada ilmu kedokteran, di samping kajian yang bersifat pada al-Qur’an dan al-Hadis; sedang astronomi, mantiq dan sastra baru dikembangkan dengan penerjemahan dari Yunani.

Bidang Agama (ilmu naqli)[11]

Fiqh, yang pada masa dinasti Abbasiyah lahir para tokoh bidang fiqh dan pendiri madzhab antara lain sebagai berikut.

Imam Abu Hanifah (700-767 M). Menurut riwayat : Bahwa Imam Hanafy di kala belajar keada Imam Amir bin Syarahil Asy Syu’by (wafat pada tahun 104H), guru ini setelah melihat dan memperhatikan keadaan pribadi beliau dan kecerdasan akalnya, lalu menasehati supaya rajin belajar ilmu pengetahuan, dan supaya mengambil tempat belajar yang tertentu (khusus) di majlis-majlis para ulama, para cendikiawan pada waktu itu. Disamping mempelajari ilmu lain, Imam Hanafy tertarik mempelajari ilmu pengetahuan “Fiqh” atau yang biasa disebut dengan “Ilmu Fiqih” ialah ilmu agama yang di dalamnya hanya melulu membicarakan atau membahas soal-soal yang bertalian dengan hukum-hukum, baik yang berkenaan dengan urusan ibadah maupun yang berkenaan dengan urusan mu’amalah atau yang berhubungan dengan masyarakat.[12]

Imam Malik (713-795 M), terdidik di kota Madinah dalam asrama yang meliputi di antaranya para sahabat, para thabi’in, para anshar, para cerdik-pandai dan para ahli hukum agama. Beliau terdidik di tengah-tengah mereka itu sebagai seorang anak yang cerdas fikiran, cepat menerima pelajaran, kuat dalam berfikir dan menerima pengajaran, setia dan teliti.

Imam Malik dalam memerikan fatwa tentang urusan hukum-hukum keagamaan, adalah berdasarkan kepada kitab Allah dan sunnah Rasulullah saw. Atau hadist-hadist Nabi yang telah beliau ketahui dan beliau anggap sah (terang). Dalam hal ini beliau pernah berkata: Hukum itu ada dua macam : 1. Hukum yang telah didatangkan oleh Allah (Al-Qur’an), dan 2. Hukum yang datang dari Sunnah Rasul-Nya.[13]

Imam Syafi’i (767-820 M). Tentang kecintaan ilmu pengetahuan, kecuali telah terbukti. Seperti yang dikatakan oleh al-Imam: Pengetahuan itu ada dua macam: pertama pengetahuan Fiqih untuk agama, dan kedua pengetahuan Thibb untuk keperluan tubuh.[14]

Imam Ahmad bin Hanbal (780-855 M). Sejak kecil Imam Hambaly telah kelihatan sangat cinta kepada ilmu dan amat rajin menuntutnya. Dari karenanya beliau tidak berhenti dan tidak pula jemu menuntut ilmu pengetahuan, sampai tidak ada kesempatan untuk memikirkan mata pencariannya.[15]

Ilmu Tafsir, al-Qur’an adalah sumber utama agama Islam. Oleh karena itu, segala perilaku ummat Islam harus berdasarkan kepadanya, hanya saja tidak semua bangsa Arab memahami arti yang terkandung didalamnya. Sebab untuk memahami suatu kitab tidak cukup hanya mengerti bahasanya saja tetapi diperlukan keseimbangan taraf pengetahuan antara buku yang dibaca dengan pembacanya. Maka bangunlah para sahabatnya untuk menafsirkannya. Ilmu ini mengalami perkembangan serta kemajuan pesat pada pemerintahan Abbasiyah,  ilmu dan metode tafsir mulai berkembang, terutama dua metode penafsiran, yaitu tafsir bi al-ma’tsur dan tafsir bi al-ra’yi dan di antara para ahli tafsir pada masa Dinasti Abbasiyah adalah a) Ibnu Jarir Ath-Tabari. b) Ibnu Athiyah Al-Andalusi. c) Abu Muslim Muhammad bin Bahar Isfahani. 

Ilmu Hadis, dalam bidang hadis, pada zamannya hanya bersifat penyempurnaan, pembukuan dari catatan dan hafalan para sahabat. Pada zaman ini juga mulai diklasifikasikan secara sistematis dan kronologis. Pengklasifikasian itu secara ketat dikualifikasikan sehingga kita kenal dengan klasifikasi hadis Shahih, Dhaif dan Maudhu. Bahkan kemudian pula kritik sanad dan matan, sehingga terjadi jarah dan ta’dil rawi hadis.

Diantara para ahli hadis pada masa Dinasti Abbasiyah adalah

Imam Bukhari (194-256 H), karyanya Shahih al-Bukhari.Imam Muslim (w. 261 H), karyanya Shahih Muslim.Ibnu Majah, karyanya Sunan Ibnu Majah.

Abu Dawud, karyanya sunan Abu Dawud.Imam an-Nasai, karyanya Sunan an-Nasai.Imam Baihaqi.


Ilmu Kalam, lahirnya ilmu kalam ada dua faktor : Faktor Pertama, untuk membela Islam dengan bersenjatakan filsafat seperti halnya musuh yang memakai senjata itu. Faktor Kedua, karena semua masalah termasuk masalah agama telah bergeser dari pola rasa kepada pola akal dan ilmu. Kaum Mu’tazilah berjasa dalam menciptakan ilmu kalam, karena mereka adalah pembela gigih tehadap Islam dari serangan, Yahudi, Nasrani, Wasani.

Kajian para ahli ilmu kalam (teologi) adalah mengenai dosa pahala, surga neraka, serta perdebatan mengenai ketuhanan atau tauhid, menghasilkan suatu ilmu yaitu ilmu kalam atau teologi. Diantara tokoh ilmu kalam adalah

Al-Juba’i, Wasil bin Atha, Abul Huzail al-Allaf (w.849 M), tokoh Mu’tazilah.
Imam Abul Hasan al-Asy’ari tokoh Asy’ariah. dan Imam Abu Mansur al-Maturidi.

Ilmu Tasawuf, adalah salah satu ilmu yang tumbuh dan matang pada zaman Abbasiyah. Inti ajarannya tekun beribadah dengan menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah, meninggalkan kesenangan dan perhiasan dunia, serta berbunyi diri beribadah. Dalam sejarah sebelum timbul aliran tasawuf terlebih dahulu muncul aliran zuhud. Aliran zuhud ni tumbul pada akhir abad I dan permulaan abad II H sebagai reaksi terhadap hidup mewah dari khalifah dan keluarga serta pembesar negara sebagai akibat dari kekayaan yang diperoleh setelah Islam meluas ke Syria, Mesir, Mesopotamia, dan Persia.[16]

Di Basrah sebagai kota yang tenggelam dalam kemewahan, aliran zuhud mengambil corak lebih ekstrim sehingga akhirnya meningkat kepada ajaran mistik. Zahid-zahid yang terkenal di sini ialah Hasan al-Basri (w.110 H) dan Rabiah Al-Adawiyah (w.185 H).[17]


Ilmu Bahasa, diantara ilmu bahasa yang berkembang pada masa dinasti Abbasiyah adalah ilmu nahwu, ilmu sharaf, ilmu bayan, ilmu badi’, dan arudh. Bahasa arab dijadikan sebagai bahasa ilmu pengetahuan, di samping sebagai alat komunikasi antarbangsa. Di antara para ahli ilmu bahasa adalah a) Imam Sibawaih (w.183 H), karyanya terdiri dari 2 jilid setebal 1.000 halaman. b) Al-Kiasi. c) Abu Zakaria al-Farra (w.208 H). Kitab Nahwunya terdiri dari 6.000 halaman lebih.

Bidang Umum (Ilmu Aqli)[18]

Dalam bidang umum antara lain berkembang berbagai kajian dalam bidang, filsafat, logika, metafisika, matematika, ilmu alam, geometri, aljabar, arimetika, mekanika, astronomi, musik, kedokteran, kimia, sejarah, dan sastra.

Filsafat, Kajian filsafat di kalangan umat Islam mencapai puncaknya pada masa daulah Abbasiyah, di antaranya dengan penerjemahan filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab, yang diterjemah oleh Hunayn yang menguasai bahasa Yunani dan Suryani. Dia mula-mula menerjemahkan naskah-naskah Yunani ke dalam bahasa Suryani, kemudian dua orang pembantunya, anaknya sendiri (ishaq), dan keponakannya (Hubaisy) menerjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Ketika dia (Hunayn) memimpin lembaga tersebut, telah banyak buku yang dia terjemahkan, misalnya buku-buku Hepocrates, Galliens, buku-buku plato dan aristoteles dalam bidang filsafat. Bagaimanapun ada orang yang memberikan komentar bahwa ketika para penguasa dunia Islam dan para ilmuwannya sibuk menggeluti dunia pemikiran, filsafat, dan ilmu-ilmu yunani, pada saat yang sama penguasa negara-negara Eropa dan para tokohnya sibuk belajar menuliskan nama mereka sendiri.[19]

Para filsuf Islam antara lain :Abu Ishaq al-Kindi (809-873 M). Karyanya lebih dari 231 judul.Abu Nasr al-Farabi (961 M). Karyanya lebih dari 12 buah buku. Ia memperoleh gelar al-Mualimuts Tsani (the second teacher), yaitu guru kedua, sedangkan guru pertama dalam bidang filsafat adalah Aristoteles.Ibnu Sina, terkenal dengan Avicenna (980-1037 M). Ia seorang filsuf yang menghidupkan kembali filsafat Yunani aliran Aristoteles dan Plato. Selain filsuf avicenna juga seorang dokter istana kenamaan. Di antara bukunya yang terkenal adalah asy-Syifa, dan al-Qanun fi ath-Thib (canon of medicine).Ibnu Bajah (w.581 H).Ibnu Tufail (w.581 H), penulis buku novel filsafat Hayy bin Yaqzan.Al-Ghazali (1058-1111 M). Al-Ghazali mendapat julukan al-Hujjatul Islam. Karyanya antara lain : Maqasid al-Falasifah, al-Munqid Minadh Dhalal, Tahafut al-Falasifah, dan Ihya Ulumuddin.Ibnu Rusyd di Barat dikenal dengan Averros (1126-1198 M). Ibnu Rusyd, seorang filsuf, dokter dan ulama. Karyanya antara lain : Mabadi al-Falasifah, Tahafut at-Tahafut al-Falasifah, al-Kuliah fi ath-Thibb, Bidayah al-Mujtahid.


Ilmu Kedokteran pada masa daulah Abbasiyah berkembang pesat. Rumah-rumah sakit besar dan sekolah kedokteran banyak didirikan. Di antara ahli kedokteran ternama adalah


Abu Zakaria Yahya bin Mesuwaih (w.242 H), seorang ahli farmasi di rumah sakit Jundhisapur Iran.Abu Bakar ar-Razi (Rhazes) (864-932 M) dikenal sebagai “Galien Arab”.Ibnu Sina (avicenna), karyanya yang terkenal adalah al-Qanun fi Ath-Thib tentang teori dan praktik ilmu kedokteran serta membahas pengaruh obat-obatan, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Eropa, Canon of Medicine.Ar-Razi, adalah tokoh pertama yang membedakan antara penyakit cacar dengan measles, ar-Razi adalah penulis buku mengenai kedokteran anak.


Matematika, Terjemahan dari buku-buku asing ke dalam bahasa Arab, menghasilkan karya dalam bidang matematika. Di antara ahli matematika Islam yang terkenal adalah al-Khawarizmi. Al-Khawarizmi adalah pengarang kitab al-Jabar wal Muqobalah (ilmu hitung), dan penemu angka nol. Sedangkan angka latin: 1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 0 disebut angka Arab karena diambil dari Arab. Sebelumnya dikenal angka Romawi I, II, III, IV, V dan seterusnya. Tokoh lain adalah abu al-Wafa Muhammad bin Muhammad bin Ismail bin al-Abbas (940-998 M) terkenal sebagai ahli ilmu matematika.


Farmasi, di antara ahli farmasi pada masa Dinasti Abbasiyah adalah Ibnu Baithar, karyanya yang terkenal adalah al-Mughni (berisi tentang obat-obatan), jami al-Mufradat al-Adawiyah (berisi tentang obat-obatan dan makanan bergizi).


Ilmu Astronomi, kaum muslimin mengkaji dan menganalisis berbagai aliran ilmu astronomi dari berbagai bangsa seperti bangsa Yunani, India, Persia, Kaldan, dan ilmu falak Jahiliah. Di antara ahli astronomi Islam adalah

abu Mansur al-Falaki (w.272 H). Karyanya yang terkenal adalah Isbat al-Ulum dan Hayat al-Falak.
Jabir al-Batani (w.319 H). Al-Batani adalah pencipta teropong bintang pertama. Karyanya yang terkenal adalah kitab ma’rifat Mathiil Buruj Baina Arbai al-Falak.Raihan al-Biruni (w.440 H). Karyanya adalah at-Tafhim li Awal as-Sina at-Tanjim.

Geografi, dalam bidang geografi umat Islam sangat maju, karena sejak semula bangsa Arab merupakan bangsa pedagang yang biasa menempuh jarak jauh untuk berniaga. Di antara wilayah pengembaraan umat Islam adalah umat Islam mengembara ke Cina dan Indonesia pada masa-masa awal kemunculan Islam. Di antara tokoh ahli geografi yang terkenal adalah


Abul Hasan al-Mas’udi (w.345 H/956 M), seorang penjajah yang mengadakan perjalanan sampai Persia, India, Srilanka, Cina dan penulis buku Muruj az-Zahab wa Ma’adin al-Jawahir.

Muruj ad-Dzahab diawali paparan mengenai para khalifah. Setelah memaparkan kondisi geografis masing-masing wilayah Islam dibagian Timur, Barat dan Jazirah Arab termasuk agama-agama yang berkembang saat itu, ia membahas para penguasa kuno diwilayah-wilayah tersebut termasuk agama-agama mereka. Al-Mas’udi juga berjasa mengungkap sejarah tulisan Mesir berikut keunikan-keunikannya. Disusul tema-tema umum sejarah Islam yang dimulai dari uraian sirah Nabi, Khulafa Rasyidin, Dinasti Umayyah dan Abbasiyah hingga tahun 336 H. Pada bagian penutup buku ini al-Mas’udi menjelaskan penelusurannya terhadap data-data sejarah setiap periode, berbagai peristiwa masa itu, kondisi alam, para penguasa dan biografi mereka, serta keadaan masyarakatnya. Ia tidak mengenal lelah dalam melacak berbagai informasi itu. Ia tidak mengenal lelah dalam melacak berbagai informasi itu. Ia tidak mengenal pada madzhab, komunitas politik atau informasi pihak tertentu dalam penulisan sejarah.[20]


Ibnu Khurdazabah (820-913 M) berasal dari Persia yang dianggap sebagai ahli geografi Islam tertua. Di antara karyanya adalah Masalik wal al-Mamalik, tentang data-data penting mengenai sistem pemerintahan dan peraturan keuangan.


Ahmad el-Yakubi, penjelajah yang pernah mengadakan perjalanan sampai ke Armenia, Iran, India, Mesir, Maghribi, dan penulis buku al-Buldan.

Abu Muhammad al-Hasan al-Hamadani (w.334 H/946 M), karyanya berjudul sifatu Jazirah al-Arab.
Sejarah, masa dinasti Abbasiyah banyak muncul tokoh-tokoh sejarah, beberapa tokoh sejarah lainnya antara lain :


Ahmad bin al-Ya’kubi (w.895 M) karyanya adalah al-Buldan (negeri-negeri), at-Tarikh (sejarah).
Ibnu Ishaq.

Abdullah bin Muslim al-Qurtubah (w.889 M), penulis buku al-Imamah wa As-Siyasah, al-Ma’arif, Uyunul Ahbar, dan lain-lain.Ibnu Hisyam.Ath-Thabari (839 - 923 M), penulis buku Kitab al-Umam wa al-Muluk. Nama lengkapnya Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Thabari. Lahir di amul, Thabaristan yang terletak di pantai selatan laut Thabaristan pada 839 M dan meninggal di Baghdad pada tahun 923 M.[21]

Sejak usia mudanya sudah berkecimpung dalam kehidupan intelektual. Usia mudanya dihabiskan untuk mengumpulkan riwayat-riwayat Arab dan Islam, dan setelah itu sebagian besar waktunya digunakan untuk mengajar dan menulis.

Secara garis besar, kandungan kitab ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu bagian sejarah sebelum Islam dan bagian sejarah Islam. Dalam mengumpulkan bahan-bahan sejarah ini, dia bersandar kepada riwayat-riwayat yang sudah dibukukan dan belum di bukukan. Berkenaan dengan peristiwa-peristiwa yagn hampir sezaman dengannya, ia melakukan pengumpulan riwayat-riwayat yang belum dibukukan dengan banyak melakukan perjalanan ke berbagai negeri untuk menuntut ilmu dan belajar kepada ulama-ulama termasyhur. [22]

Al-Maqrizi.Al-Baladzuri (w.892 M), penulis buku-buku sejarah.
Sastra. Dalam bidang sastra, Baghdad merupakan kota pusat seniman dan sastrawan. Para tokoh sastra antara lain :


Abu Nawas, salah seorang penyair terkenal dengan karya cerita humornya.An-Nasyasi, penulis buku Alfu Lailah wa Lailah (The Arabian Night), adalah buku cerita sastra Seribu Satu Malam yang sangat terkenal dan diterjemahkan ke dalam hampir seluruh bahasa dunia.


Selain perhatiannya yang begitu besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, dan upaya Dinasti Abbasiyah (al-Ma’mun) memberikan kebebasan kepada akal, untuk mendiskusikan hal-hal yang ada kaitannya dengan akidah, al-Ma’mun juga meninggalkan sesuatu yang sangat berharga bagi umat Islam dan sejarahnya. Pada masa pemerintahannya digalakkan usaha pembauran antara bangsa Arab dan bangsa-bangsa lain. Sebuah praktik yang kelak menjadi faktor penyebab menjamurnya perkawinan antar ras, poligami dan pernikahan terhadap budak belian. Hasilnya, fanatisme kabilah, yang boleh dikatakan bahaya terbesar bagi keutuhan negara, telah ditanggulangi sepenuhnya. Padahal waktu itu terjadi kesenjangan yang cukup hebat antara kaum muslim senior dan orang yang baru masuk Islam; antara pengikut aristokratisme yang mengandalkan keturunan dan kelompok baru yang terdiri dari atas pedagang, dokter, analisis, sastrawan, guru, ilmuwan, dan industriawan. Karena al-Ma’mun dapat mengatasi hal itu dengan baik, dia dapat dengan leluasa mengatur masyarakat Islam pada masa itu serta meningkatkan ekonomi dan kehidupan sosial mereka.


Sumber ilmu pengetahuan menurut para penganut aliran materialisme adalah terbatas pada materi yang dapat ditangkap oleh panca indera atau hal-hal rasionable dan hanya yang dapat dipahami oleh akal saja, mereka tidak mempercayai sumber ilmu pengetahuan apapun selain dari dua sumber di atas.


Kita, umat Islam juga mempercayai dua sumber tersebut. Kita menganggap pancaindera dan akal sebagai instrumen penting ilmu pengetahuan bahkan sebagai kenikmatan karunia yang besar yang dianugrahkan Allah swt kepada manusia agar dapat memahami dirinya dan alam sekitarnya. Dengan akal dan panca indera itu juga ia dapat mengkaji dan mengerti hukum alam dan rahasia yang tersimpan di dalamnya. Bahkan hukum dan rahasia alam semesta itu sendiri oleh Islam dianggap sebagai saksi terbenar bukti yang paling akurat yang menunjukkan eksistensi dan keagungan.[23]

Dengan demikian, apabila Bani Umayyah dengan Damaskus sebagai ibu kotanya mementingkan kebudayaan Arab, Bani Abbasiyah dengan memindahkan ibu kota ke Baghdad, telah agak jauh dari pengaruh Arab. Baghdad terletak di daerah yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Persia.

Disamping itu dalam perkembangan Islam masa klasik di zaman umayyah lebih kepada ekspansi daerah kekuasaan Islam sedangkan zaman abbasiyah adalah masa pembentukan dan perkembangan kebudayaan dan peradaban Islam dengan munculnya bait al-hikmah yang didirikan oleh al-Makmun, buku-buku ilmu pengetahuan dan filsafat didatangkan dari bizantium dan kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.

Di antara cabang-cabang ilmu pengetahuan yang diutamakan dalam Bait al-Hikmah ialah ilmu agama meliputi ilmu tafsir, hadis, fiqh dan ilmu umum yang meliputi kedokteran, matematika, optika, geografia, fisika, astronomi, dan sejarah di samping filsafat.

Catatan Kaki

[1]Ajid Thohir, Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam, (Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo, 2009),  h.50.[2] Nourouzzaman Shiddiqie, Pengantar Sejarah Muslim, (Yogyakarta: Nur Cahaya, 1983) h.65.[3] Mengenai sejarah Islam sebagai sebuah wacana yang utuh, dibahas juga oleh M.G.S. Hodgson dalam The Venture of Islam. Hodgson secara khusus sangat peduli terhadap berbagai permasalahan kesastraan dan keagamaan dan terhadap pemaknaan diskursus Islam. Lihat M.G.S. Hodgson, The Venture of Islam, 3 jilid, Chicago, 1974.[4]Ali Mufrodi, Islam di Kawasan Kebudayaan Arab, (Cet.I; Jakarta: Logos Wacana Baru, 1997.) h. 102.[5]Perkataan mu’tazilah berasal dari kata i’tazala, artinya menyisihkan diri.[6]Husayn Ahmad Amin, Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam, (Cet. III; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1999.) h. 71.[7]Philip K. Hitti, History of the Arabs, ed. Revisi ke-10 (Cet I; Jakarta: Serambi Ilmu Madinah, 2010), h.512[8]ibid.[9]Hassan Ibrahim Hassan, Tarikh al-Islam II, (Kairo: Maktabah al-Nahdhoh al-Misriyah, 1965), h. 129.[10]A Hasymy, Sejarah Kebudayaan Islam, (Jakarta: Bulan Bintang, 1993), h. 212.[11]Musyrifah Sunanto, Sejarah Islam Klasik, Perkembangan Ilmu pengetahuan Islam, (Cet. III; jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007), h.57.[12]Moenawar Chalil, Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, (Cet. IX; Jakarta: Bulan Bintang, 1994), h. 28.[13]Ibid. h. 123.[14]Ibid. h. 172.[15]Ibid  h. 253.[16]Harun Nasution, Falsafah dan Mistisisme dalam Islam,  (Jakarta: Bulan Bintang, 1978), h.64.[17]Ibid. h. 65.[18] Musyrifah Sunanto, Op. cit, h. 83.[19]Husayn Ahmad Amin, Op. cit, h. 72.[20]Yusri Abdul Ghani Abdullah, Historiografi Islam, (Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004), h. 156.[21]Badri Yatim, Historiografi Islam, (Cet. I; Ciputat, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997), h. 116.[22]Ibid. h. 118.[23]Yusuf al-Qardhawy, As-Sunnah Sebagai Sumber Iptek dan Peradaban,  (Cet. I; Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 1998), h. 97.

 Daftar Pustaka

Abdullah, Yusri Abdul Ghani. Historiografi Islam, Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2004.
Amin, Husayn Ahmad. Seratus Tokoh Dalam Sejarah Islam. Cet. III; Bandung: Remaja Rosdakarya. 1999.
Amin, Samsul Munir. Sejarah Peradaban Islam. Cet.I; Jakarta: Amzah. 2009.
Chalil, Moenawar. Biografi Empat Serangkai Imam Mazhab, Cet. IX; Jakarta: Bulan Bintang, 1994.
Hitti, Philip K. Histori of the Arabs. Ed. Hard Cover. Revisi ke.10. Cet.I; Jakarta: Serambi Ilmu Madinah, 2010.
Mufrodi, Ali. Islam di Kawasan Kebudayaan Arab. Cet.I; Jakarta: Logos Wacana Baru. 1997.
Nasir, Salihun A. Pemikiran Kalam (Teologi Islam) Sejarah, Ajaran dan Perkembangannya. Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo, 2010.
Nasution, Harun. Falsafah dan Mistisisme dalam Islam,  Jakarta: Bulan Bintang, 1978.
Kennedy, Hugh. The Great Arab Conquests. Penaklukan Terbesar dalam Sejarah Islam yang Dunia. Cet. I; Tangerang: Pustaka Alvabet, 2008.
Shiddiqie, Nourouzzaman. Pengantar Sejarah Muslim. Yogyakarta: Nur Cahaya, 1983.
Sunanto, Musyrifah. Sejarah Islam Klasik, Perkembangan Ilmu Pengetahuan Islam. Ed. I. Cet. Ke.III. Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2007.
Thohir, Ajid. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Cet. I; Jakarta: RajaGrafindo, 2009.
At-Tuwaijiri, Syaikh Muhammad bin Ibrahim bin Abdullah. Ensiklopedi Islam al-Kamil. Cet. VII; Jakarta Timur: Darus Sunnah Press, 2010.
Al-Qardhawy, Yusuf. As-Sunnah Sebagai Sumber Iptek dan Peradaban.  Cet. I; Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 1998.
Yatim, Badri. Historiografi Islam. Cet. I; Ciputat, Jakarta: Logos Wacana Ilmu, 1997.

Artikel Perkembangan Islam pada Masa Abbasiyah Bidang Pendidikan ditulis oleh Hasruddin Dute