Artikel Islami Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis

Advertisement

Artikel Islami Menguji Kembali Keakuratan Metode Kritik Hadis

Diskursus permasalahan yang diangkat penulis dalam buku karangannya ini merupakan kegelisahan akademik mengenai pengujian kembali keakuratan periwayatan hadis Nabi saw, dari berbagai metode dan pendekatan yang digunakan dalam menentukan penelitian ilmiah tersebut tentunya tidak terlepas dari kritik keilmuan yang digunakan. Tersadari ketika mayoritas kesarjanaan Muslim mengenai masalah ini dianggap sangat kontroversial menurut mereka, penulis buku tersebut tidak memvonis miring metode-metode yang digunakan oleh para sarjana muslim tradisional(terdahulu), namun melindunginya dari serangan kritik para sarjana Barat yang kemudian mengeliminasi metode-metode dan kesimpulan mereka.

Baca juga Artikel Hadis Lainnya:
  1. Langkah dan Metode al-Adabi dalam Kritik Hadis
  2. Sejarah Munculnya Kritik Hadis
  3. Kritik Kaedah Kesahihan Sanad

Kamaruddin Amin dalam upayanya menulis buku ini berusaha mengambil celah berbeda dengan melakukan pendekatan terhadap isu sentral pengujian keakuratan dunia kritik hadis tentunya upaya ini dilakukan dengan penuh hati-hati kepada para orientalis, dan secara seksama terhadap para sarjana muslim. Kenyataan ini terlihat berbalik ketika para orientalis Barat menolak mentah-mentah metode kritik hadis para sarjana muslim dengan sikap tidak memepercayainya tanpa penelaahan dan pengujian secara komprehensif dan mendalam. Penulis Dalam bukunya tersebut, menelaah metode dan konsep yang diterapkan oleh para sarjana baik muslim maupun barat mengenai isu-isu kontroversial yang kemudian ia analisis dan evaluasi guna memetakan bahwa kajian dan penelaahan ulang tentang persoalaan ini memiliki posisi tersendiri sebagai persoalan yang urgen. Adapun bab-bab pembahasan yang dianggap penting dikedepankan menurut penulis sebagai berikut :

Bab I- Dalam bab ini Kamaruddin Amin mengetengahkan berbagai alasan akan pentingnya pengkajian yang terdapat di dalam bukunya tersebut yakni persoalan tentang keterpercayaan dan historisitas hadis Nabi saw yang masih menyisakan bermacam pertanyaan-pertanyaan yang belum terjawab, sehingga ia berkesimpulan bahwa isu tentang persoalan ini masih jauh dari titik akhir penelitian meskipun telah diperdebatkan oleh para sarjana baik dari kalangan antar sarjana muslim maupun sarjana muslim dengan sarjana Barat,

Penulis mengungkap sejarah pergolakan pemikiran dari sarjana barat dan muslim yang telah muncul sejak abad ke-19 yaitu pertanyaan tentang autentisitas, orginalitas, authorship, asal-muasal, kekuatan serta kebenaran hadis yang menjadi isu pokok dalam studi keislaman, khususnya yang menyangkut hukum Islam. Dari kalangan sarjana muslim, Ia menceritakan tentang bagaimana Abu Rayyah yang berpendapat bahwa hadis Nabi saw., telah rusak dan kata-kata persisnya telah hilang disebabkan riwayah bil makna. Lebih jauh, iamengatakan bahwa para muahadis hanya memperhatikan aspek kesinambungan jalur periwayatan dan karakter para perawi dan sepenuhnya mengabaikan esensi kandungan hadis dan bahkan mereka gagal menangkap bukti-bukti sejarah. Begitupula Ibnu Khaldun, menurutnya ketika para Ahli Hadis meneliti berita atau riwayat-riwayat mereka menadasarkan penilaiannya hanya pada pemabawa berita, dan ketika ia dapat dipercaya maka secara otomatis informasi yang disampaikan pun dianggap autentik dan diterima. Sehingga menurutnya, peneilitian hadis yang dilakuakan pleh para ahli hadis, baru terbatas pada penelitian sanad. Hal serupa juga dinyatakan oleh Ahmad Amin. Namun demikian, pendapat mereka kemudian dibantah oleh Musthafa A-Siba’I, M. Abu Syu’bah dan Nuruddin Itr. Menurut mereka, para ulama hadis sama sekali tidak mengabaikan matan, hal ini dapat dibuktikan dengan kriteria dan persyaratan yang mereka buat untuk menyatakan keshahihan sebuah hadis yang salah satu kriterianya adalah bahwa sebuah hadis dinyatakan shahih ketika sanad dan matanya tidak syad dan bebas dari cacat atau illah.



Menurut Amin, kontroversi ini juga muncul dikalangan kesarjanaan barat. Gustav Weil menyarankan kepada para sarjana barat untuk menolak paling tidak separuh hadis dari kitab shahih al-Bukhari. Begitu pula Alois Sprenger yang menyatakan keragu-raguannya akan ketsiqahan hadis sebagai sumber sejarah. Hal serupa dinyatakan oleh Ignaz Goldziher bahwa hadis bukanlah sumber terpercaya pada masa awal Islam, melainkan hanya sumber yang sangat berniali dogma, konflik dan perhatian muslim belakangan yang mengedarkan hadis tersebut. lalu skeptisisme Goldziher ini, diadopsi oleh Leone Caetani dan Henri Lammens yang berpendapat bahwa hamper semua riwayat tentag kehidupan Nabi saw adalah meragukan.
 
2. Bab Kedua- Bab kedua dari buku ini, penulis mengakaji metodologi klasik para muhaddis. Amin mengkaji secar kritis criteria hadis shahih menurut kesarjanaan muslim diikuti diskusi tentang hadis ahad, mutawatir, serta keadilan (dalalah) para sahabat dan kritik matan.

3. Bab ketiga - Pada bab ketiga, Kamaruddin Amin mengelaborasi metode yang digunakan sarjana muslim modern dalam menentukan autentisitas hadis, yang yang diaplikasikan oleh Nashiruddin al-Bani dan Hasan bin Ali al-Saqqaf. Amin mengkaji sejauh mana metode sarjana tersebut telah melenceng dari metode yang diterapkan oleh kesarjanaan muslim klasik. Ia pun membahas secara kritis konsistensi baik dalam metodologi maupun hala yang akan muncul sebagai implikasi dari penerapannya dalam literatur hadis.
 
4. Bab empat - Pada bab empat, penulis mendiskusikan tentang persoalan historisitas penyandaran hadis kepada Nabi saw., dan sejauh mana penyndaran isanad kepada beliau saw. Amin mengetengahkan Fuat Sezgin dan M.M Azami sebagai sarjana muslim yang akrab “berinteraksi” dengan sarjan barat. Disertakan pula para sarjana barat yang mendukung pendapat mereka berdua.

5. Bab kelima - Bab kelima, Kamaruddin Amin mengkaji pendekatan para sarjana barat non-muslim terhadap literatur hadis. Di dalamnya, ia mendiskusikan penerapan argumentum e silentio oleh sarjan barat,termasuk common link dan single strand.

6. Bab keenam
- Penulis melakukan studi kasus dengan meneliti historisitas hadis “ shaum” (amal ibn adam kulluhu lahu) menurut metode ulama klasik. Di sini dibahsa empat jalur periwyatan yang terdapat dalam shahih al-Bukhari untuk meliht sejauh mana kitab tersebut meiliki tingkat akurasi yang tinggi dibanding kitab-kitab hadi lainnya.

7. Bab ketujuh - Penulis meneliti hadis shaum dari sudut pandang metodologi sarjaa barat nono muslim. Bahasan tersebut, secara spesifik membahas metode analisis sanad modern yang dikembangkan oleh G.H.A. Juynboll. Kajian ini, menurutnya, merupakan upaya untuk menidentifikasi siapa yang patut dianggap sebagi the real common link menurut metodologiterbaru Juynboll.

Inti dari penelitan ini sebagaimana diakhir menurut Kamaruddin Amin. Bahwasanya Ia mengkaji mengenai penerapan metode isnad cum matan dalam hadis “shaum” tentunya tidak lupa dengan merekontsruksi sejarah periwayatan hadis dengan metodologi isnad cum matn.

Menguji Kembali Keakuratan; METODE KRITIK HADIS
Judul Buku : Menguji Kembali Keakuratan; METODE KRITIK HADIS
Penulis : Kamaruddin Amin
Penyunting : Sunarwoto, Dema dan Dede Iswadi
Volume : 513 hlm.
Penerbit : Hikmah, Jakarta
Cetakan : Cetakan I, April 2009