Satu Visi, Seribu Konsepsi Hermeneutika

Advertisement
Oleh: Qaem Aulassyahied

Dalam studi al-Qur’an kontemporer, Hermeneutika yang oleh Adnin Armas dikatakan merupakan perkembangan dari biblical critism, kini diupayakan oleh sebagian cendekiawan Islam untuk digunakan dalam memahami al-Qur’an. Asumsinya, ilmu tafsir sudah tidak bisa lagi membawa fungsi al-Qur’an sebagai petunjuk universal bagi segala ruang dan waktu. Buktinya, dengan Hermeneutika, studi bibel jauh lebih maju dibanding studi al-Qur’an. oleh karenanya menerapkan hermeneutika pada al-Qur’an adalah sebuah keniscayaan demi kemajuan Islam. Namun demikian, yang menjadi persoalan, Konsep Hermeneutika seperti apa yang ingin diterapkan dalam memahami al-Qur’an?

Sebelum membahas lebih jauh pembicaraan tersebut. Terlebih dahulu dijelaskan Hermeneutika dalam tataran umum. Secara etimologi, kata hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneuein, yang berarti menafsirkan. Pada sejarahnya, kata tersebut berasal dari cerita mengenai dewa Hermes yang bertugas untuk menyampaikan wahyu tuhan dari gunung olympuske, untuk kemudian disampaikan pada manusia dengan sebelumnya diterjemahkan ke bahasa yang difahami manusia. Berangkat dari situ, maka hermeneutika bisa diungkapkan sebagai upaya menyampaikan teks dengan interpretasi yang bisa dimengerti oleh si pendengar. Berdasarkan pengertian ini pula, maka hermeneutika secara umum terdiri dari tiga unsur: (1) pesan atau teks yang disampaikan,  (2) orang –baik itu seorang atau sekelompok-yang menerima pesan dan (3) perantara atau yang membawa pesan.

Satu Visi, Seribu Konsepsi Hermeneutika

Pengertian secara umum atas arti hermeneutika ini, ternyata tidak melahirkan satu konsep baku hermeneutika yang disepakati. Setiap orang yang mencoba menafsirkan teks dengan menggunakan hermeneutika, ternyata melahirkan konsepsinya masing-masing. Sebagai contoh F. Scheleiermacher yang dianggap sebagai bapak Hermeneutika. Ia merumuskan konsep Hermeneutikanya dengan dua kritik; kritik gramatikal dan kritik psikologis. Baginya, seseorang tidak akan memahami teks dengan benar jika tidak memahami makna kata itu secara gramatikal, juga tidak memahami psikologi orang yang mengucapkan teks tersebut. sementara Gadamer lebih memfokuskan diri pada status ontologis daripada pemamahaman itu sendri. Hermeneutika, menurut pandangannya, tidak semata-mata berkaitan dengan metode yang selalu menentukan benar salahnya suatu penafsiran. Sehingga, bila hermeneutika Scheleirmacher lebih bersifat epistemologis, hermenetika Gadamer bersifat ontologis. Berlainan dengan itu, Jurgen Habermas lebih berkonsentrasi pada bagaimana membuka selubung-selubung penyebab adanya distorsi yang tersembunyi dalam pemahaman teks. Ia berpendapat bahwa problem pemahaman tidak pada bahasa, namun lebih pada faktor-faktor ekstralinguistik. Sehingga konsep Hermeneutik-nya lebih banyak mencurigai teks karena sudah menyembunyikan arti sebenarnya.

 Penjelasan di atas menjadi titik pemahaman awal bahwa para cendekiawan muslim yang mau menerapkan hermeneutika pada al-Qur’an, juga pasti akan melahirkan konsepsi konsepsi yang berbeda.  Mohammad Arkoun adalah salah satu cendekiawan muslim yang merekomendasikan penggunaan Hermeneutika dalam memahami al-Qur’an. untuk itu, Arkoun menawarkan metode Hermeneutika yang ternyata mengikuti metodologi John Wansbrouguh. Dalam konsepnya, memahami al-Qur’an harus dengan metode antropologis-hostoris. Untuk itu, maka al-Qur’an terlebih dahulu harus dipandang bukan kalam Ilahi, karena Ia menyadari jika pendekatan historisitas digunakan maka akan menantang segala bentuk pensakralan dan penafsiran transenden, yang olehnya dianggap  buatan teolog tradisional. Oleh karenanya, ia membagi dua peringkat wahyu. Pertama al-Qur’an sebagaiumm al-kitab yang merupakan kitab langit, wahyu yang sempurna di mana bibel dan al-Qur’an berasal. Kedua adalah wahyu yang disebut “edisi dunia” yang menurutnya, pada peringkat ini, wahyu telah mengalami modifikasi, revisi dan subsitusi. Ia mencontohkan mushaf utsmani yang tak lain hanyalah hasil sosial budaya masyarakat yang disebabkan oleh kekuatan dan pemaksaan dari penguasa resmi ketika itu.

Berbeda dengan Arkoun, Nasr Hamid Abu Zaid mencoba memahami al-Qur’an dengan konsep hermeneutikanya yang didasarkan pada metode kritik sastra. Untuk menerapkan metode ini, maka al-Qur’an juga perlu ditempatkan sebagai teks biasa. Oleh karenanya dia berpendapat bahwa wahyu tuhan setelah melewati proses tanzil maka tidak lagi menjadi teks tuhan, melainkan teks manusia. Sebab tuhan harus menggunakan bahasa manusia dalam menyampaikan wahyunya agar manusia dapat mengerti. Pada akhirnya Nasr Hamid berkesimpulan bahwa al-Qur’an terbentuk dalam realitas dan budaya selama lebih dari 20 tahun. Ia adalah produk budaya juga sekaligus produsen budaya.

Realita di atas memberikan kesimpulan bahwa, tidak adanya penggunaan metode yang baku dalam menafsirkan sebuah teks adalah konsekuensi atas penggunaan hermeneutika. Akibatnya, Hermeneutika tidak mengenal ayat yang qath’i wurud wa dilalah. Setiap ayat bisa ditafsirkan dengan macam tafsiran sesuai konsep hermeneutika yang digunakan. Hal ini, jika mau dibandingkan dengan ilmu tafsir maka tentu tidak sama. Dalam ilmu tafsir, meski pendekatannya bisa bermacam-macam –sebut saja tafsir bi al-ilmi, bi al-ijtima’i, bi al-adabi- tapi terhadap ayat yang sudah qathi al-wurud wa ad-dilalah akan melahirkan tafsiran yang sama. Contohnya tidak ada seorang mufassir muslim terkemuka sejak 1400 tahun yang lalu hingga sekarang, berpendapat bahwa Nabi Isa as mati di tiang salib dan tuhan Yang Esa itu terdiri dari tiga (trinitas).

Setidaknya, dari berbagai macam konsepsi Hermeneutika yang diterapkan dalam al-Qur’an, mereka mempunyai satu visi yang sama yaitu menjadikan al-Qur’an sebagai teks biasa sehingga penafsirannya relatif dan bisa dibawa kemana saja sesuai kemauan penafsirnya. Akhirnya al-Qur’an bukan lagi petunjuk Ilahi, tapi petunjuk dari si pengguna hermeneutiknya.