Siapakah yang disebut berilmu? Part 2

Advertisement



Oleh: Qaem Aulassyahied

Secara sederhana, dalam pandangan pendidikan sekuler, seseorang akan tetap dihormati sebagai profesor atau pakar dalam bidang tertentu jika memiliki kedalaman dan keluasan pengetahuan serta banyak menghasilkan kegiatan keilmiahan, terlepas orang tersebut memiliki akhlak baik atau buruk, tabiat baik atau buruk, tidak peduli kegiatan keilmiahan itu diarahkan pada pembentukan pribadi manusia baik atau tidak. Michel foucault tetap dihormati sebagai seorang filosof meski konsep filsafatnya melegalkan suka sesama jenis dan dia sendiri seorang homo. Begitu jugaFriedrich Nietzche, tetap dihormati sebagai bapak aliran filsafat nihilisme, meski dia mengembangkan kenihilan untuk semua dogma kehidupan yang dianggapnya mengekang termasuk ajaran agama- Nietzche dalam akhir hidupnya juga mengalami gangguan kejiwaan. Potret buram pribadi, karakter dan tingkah laku pelajar Indonesia sekarang barangkali juga termasuk akibat dari pendidikan Indonesia yang tersekulerkan secara sengaja ataupun tidak.

Berbeda dengan pendidikan sekuler, pendidikan Islam sangat menekankan pada pembentukan kepribadian yang baik, sehingga dari kepribadian tersebut, muncul karakter dan akhlak yang mulia. Islam percaya bahwa semua manusia pada fitrahnya adalah baik. Dalam sanubarinya sudah diberikan potensi kebaikan dari sifat-sifat tuhan yang menjadi bibit jiwanya yang hanif. Tugas pendidikan adalah mendidik manusia untuk senantiasa menyemaikan fitrah tersebut sehingga menjadi pribadi yang ber-akhlakul karimah. Ilmu sebagai sarana dalam proses penyemaian akhlak-akhlak tersebut. Ilmu bukanlah sebagai tujuan, melainkan wasilah, sarana atau alat untuk membentuk manusia menjadi hamba yang patuh dan memiliki akhlak yang baik.Jika ilmu tidak menjadikan akhlak seseorang mulia, maka pendidikan dianggap gagal.



Dalam penggalan ayat ke 28 surat Fatir, Allah berfirman: “.. innama yakhsyallah min ‘ibadihi al-ulama..” (sesungguhnya, hanya “ulama” lah yang takut-patuh kepada Allah). Ulama merupakan jamak dari kata alim atau orang yang berilmu. Dalam kitab at-Tafsir al-Muyassar, ‘Aidh al-Qarni menjelaskan bahwa yang dimaksud ulama dalam ayat ini tidak sekedar orang yang memiliki pengetahuan,melainkan orang yang senantiasa mencari ilmu dari tanda-tanda kekuasaan Allah di segala ciptaannya, sehingga lahirlah kekaguman atas kebesaran-Nya dan kesadaran diri sebagai zat kecil dan lemah sehingga mutlak bergantung pada Allah, tuhan yang menjamin kemashlahatan seluruh alam (al-Qarni, 2007: 507).

Penerapan konsep pendidikan Islam ini dapat dibuktikan salah satunya pada kaidah keilmuan hadis (musthalah al-hadis). Dalam kajian hadis, seorang pe-rawi (pembawa berita dari Rasulullah saw) baru bisa diterima hadisnya ketika telah memenuhi kriteria tsiqah. Kriteria tsiqah mencakup dua aspek. Pertama, memenuhi keluasan pengetahuan atas hadis-hadis dari Rasulullah saw dan kedalaman pemahaman atas hadis-hadis tersebut (dhabit). Kedua memenuhi aspek akhlak yang baik, pribadi yang mulia dan tidak memiliki cacat sifat atau tingkah laku dalam prikehidupannya. Jika salah satu dari aspek ini tidak terpenuhi maka pe-rawi dianggap lemah dan segala berita darinya diragukan. Pijakan kelimuan hadis ini, menjadi bukti gamblang bahwa Islam hanya menyebut seseorang itu berilmu jika integritas keilmuannya sama atau setara dengan integritas kepribadiannya. Seseorang yang telah menempuh proses pendidikan yang tinggi namun tidak sesuai dengan kepribadiannya, maka belum layak dianggap orang berilmu, sebaliknya seseorang yang hanya memiliki sedikit pengetahuan namun dengan sedikit itu sudah membentuk pribadi yang mulia, dia layak disebut orang berilmu. Konsep inilah yang melahirkan para ilmuan Islam yang selain ahli fikir juga ahli zikir, seperti ibnu Sina, ibnu Rusyd, al-Khawrizm dan ilmuan muslim lainnya yang karyanya masih fenomenal dan bermanfaat luas hingga sekarang.

Pertanyaan mendasar dari semua pernyataan di atas, manakah yang akan kita pilih, ilmuan yang bejat, pejabat yang korup, pemimpin yang rakus atau ilmuan yang ahli ibadah, pejabat yang amanah dan pemimpin yang bertanggung jawab?. Jika memilih statmen yang kedua maka segeralah beralih pada pendidikan berbasis Islam.


1 Response to "Siapakah yang disebut berilmu? Part 2"

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!