Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar

Advertisement
Pengertian Shalat Jum’at dan Dasar Hukumnya

Pengertian shalat Jum’at menurut etimologi berarti perkumpulan, perhimpunan, persahabatan, kerukunan dan persatuan disamping juga berarti pekan dan segenggam. Shalat Jum’at secara terminologi adalah shalat fardhu dua rakaat yang wajib ditunaikan oleh setiap muslim, setiap hari Jum’at diwaktu dhuhur yang diawali dengan dua khutbah dan dilakukan dengan berjamaah.
Shalat Jum'at adalah salat fardhu yang diwajibkan bagi seluruh muslim laki-laki. Disebut shalat Jumat karena dilakukan setiap hari Jum'at dan waktu pelaksanaannya pada waktu dhuhur tiba. Karenanya, shalat Jum'at sekaligus menjadi pengganti salat Dzuhur. Dalam arti, orang yang sudah melakukan solat Jum'at bukan hanya tidak perlu lagi melakukan sholat dhuhur, tapi tidak boleh menambah dengan shalat dhuhur..
Walaupun sebagai pengganti salat dzuhur, salat Jum'at memiliki tata cara yang khas. Diawali dengan khutbah dan diakhiri dengan salat dua rakaat yang dilakukan secara berjamaah.

Dasar hukum shalat Jum’at dalam Al-Quran

Menurut Ulama Fiqh landasan hukum diwajibkannya shalat  Jum’at  bagi  setiap  pribadi  muslim  adalah  firman  Allah SWT. dalam surat al- Jum’ah ayat 9-10, yang berbunyi :

hukum Sholat Jumat Yang benar
Artinya “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan   shalat   Jum’at   maka   bersegeralah   kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah karunia dari Allah. Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.

Pada kata "ﷲﺍﺮﻛﺫﺍﻮﻌﺳﺎﻓ “ Allah swt menggunakan lafadz amar (perintah) untuk segera menunaikan shalat Jum’at. Lafadz perintah  dalam  ilmu  ushul  fiqh  menunjukkan  kepada  hukum wajib. Hal ini diperkuat lagi dengan larangan Allah untuk melakukan  aktivitas  apapun  jika  waktu  shalat  Jum’at  sudah masuk. Seperti segera meninggalkan jual beli sebagaimana tercantum dalam surat tersebut.

Dasar hukum shalat Jum’at dalam al-Hadits

Dasar hukum shalat Jum’at dari hadits Rasulullah di antaranya hadits riwayat Imam Abu Daud yang berbunyi :


Hadis Sholat Jumat Yang benar
Artinya: Dari Thorik bin Syihab, Rosullah saw bersabda: Shalat Jum’at wajib dilaksanakan dengan berjamaah bagi setiaporang muslim kecuali empat macam orang, yaitu hamba yang   dimiliki, wanita, anak-anak dan orang sakit”.

Berdasarkan dalil-dalil di atas ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa shalat Jum’at hukumnya fardlu ain (kewajiban bagi setiap pribadi muslim) kecuali bagi hamba yang dimiliki, wanita, anak-anak, orang sakit dan tidak adanya uzur yang menghalangi dilaksanakannya shalat Jum’at seperti adanya hujan yang sangat lebat.

Syarat Wajib Sholat Jum’at Menurut Jumhur Ulama

Orang Islam yang ingin melaksanakan shalat Jum’at harus memenuhi syarat-syarat yang ditentukan. Di dalam shalat Jum’at terdapat beberapa syarat baik ditinjau dari segi kewajiban untuk mengerjakan  maupun  dari  segi  sahnya  perbuatan  shalat  Jum’at tersebut. Adapun  syarat-syarat  wajib  shalat  Jum’at  menurut  jumhur ulama’ adalah sebagai berikut :

1)  Islam, tidak wajib Jum’at atas orang selain Islam
2)  Baligh (dewasa),  tidak wajib Jum’at atas anak-anak
3)  Berakal, tidak wajib Jum’at atas orang-orang bodoh atau orang gila.
4)  Laki-laki,  tidak wajib atas perempuan
5)  Sehat, tidak wajib Jum’at atas orang sakit
6) Bertempat dalam negeri, tidak wajib Jum’at atas orang yang sedang dalam perjalanan.
7) Merdeka

Syarat Sah Sholat Jumat

1)Hendaklah diadakan dalam negeri yang tetap yang telah dijadikan wathan (tempat-tempat), baik di kota-kota maupun di tempat kampung (desa-desa), Maka tidak sah mendirikan shalat Jum’at di ladang-ladang yang penduduknya hanya tinggal di sana untuk sementara waktu saja.

2)Berjamaah, karena tidak pernah di masa Rasulullah saw shalat Jum’at dilakukan sendiri-sendiri. Sekurang-kurangnya bilangan jamaah Jum’at menurut sebagian pendapat ulama adalah empat puluh orang dewasa dari penduduk negeri. Ulama yang lain mengatakan lebih dari empat puluh dan setengah lagi ulama berpendapat cukup dua orang saja, karena sudah berjamaah.

3) Hendaklah dikerjakan diwaktu zhuhur.
4) Hendaklah shalat Jum’at itu didahului dua khutbah.

Rukun Shalat Jum’at

Sama halnya dengan syarat-syarat shalat Jum’at di atas, rukun-rukun (fardlu) shalat Jum’at tidak berbeda dengan rukun- rukun shalat maktubah yang lain. Para ulama’pun beragam dalam memformulasikan rukun-rukun shalat   Jum’at tersebut. Rukun ini oleh Syafi’i dibagi kepada dua klasifikasi, fi’liyah dan qauliyah. Rukun fi’liyah merupakan sesuatu rukun yang sifatnya gerakan- gerakan tertentu oleh mushalli. Sedangkan rukun qauliyah adalah ucapan-ucapan tertentu dalam shalat. Adapun rukun shalat Jum’at adalah sebagai berikut:

1)  Khutbah dua kali yang duduk diantara keduanya
2)  Shalat dua raka’at, dengan berjama’ah

Rukun khutbah yang harus dilakukan

Memuji  kepada  Allah  dengan  melafadkan kata-kata pujian
Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad
Berwasiat kepada hadirin untuk taqwa
Mendo’akan kepada semua orang mukmin
Membaca al-Qur’an.

Syarat-syarat  khatib  sebelum  khutbah dilaksanakan

Sudah masuk waktunya
Mendahulukan  dua  khutbah  sebelum  shalat Jum’at
Berdiri dalam khutbah
Duduk diantara kedua khutbah, serta tenang
Suci dari hadats dan najis pada pakaian, badan dan tempat
Diucapkan dalam bahasa Arab (dalam rukun khutbah)

Buka juga : Daftar Khutbah Jumat

Ketentuan bagi yang Meninggalkan Shalat Jumat

Setelah kita memahami dasar shalat Jum’at adalah fardu ain (kewajiban pada setiap pribadi orang Islam) maka ketentuan hukum orang yang meninggalkan shalat jum’at adalah dianggap kafir oleh ulama fiqh. Shalat jum’at ditetapkan berdasarkan dalil qot’i (pasti) dan shalat Jumat merupakan shalat yang bernilai tinggi dari shalat-shalat fardu lainnya, shalat Jum’at bukan merupakan kewajiban tersendiri dalam ajaran Islam ,oleh sebab itu shalat Jum’at tidak bisa di laksanakan dengan niat shalat dzuhur, hal ini diperkuat lagi dengan larangan Allah untuk melaksanakan aktivitas apapun jika waktu shalat Jum’at sudah masuk.hal ini telah di jelaskan di dalam al-Quran dalam surat Jum’at ayat 9-10 yang berbunyi :

Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkan jual beli, yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat maka bertebaranlah kamu sekalian di muka bumi dan carilah karunia dari Allah. Dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”.

Dalam hadis juga di terangkan :

bacaan Sholat Jumat Yang benar

Artinya :“ Barang siapa yang meninggalkan shalat Jum’at 3 kali dengan meremehkan, sungguh Allah telah mencap (menutup) atas hatinya”. (HR. Abu Daud).

Dan sabda Nabi saw :


Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar

Artinya: Hendaklah kaum itu menghabiskan kasih sayangnya dalam berjamaah atau menghendaki Allah menutup   hati-hati mereka, kemudian mereka termasuk orang-orang yang lalai”.

Hadits-hadits  ini  memberi  pengertian  bahwa  apabila  seseorang tidak menghadiri jamaah Jum’at 3 kali berturut-turut sebagaimana yang dipahami dalam hadits niscaya mata hatinya ditutup oleh Allah dan  dicap kafir  sehingga  tidak  dapat  menerima  kebaikan  bahkan  yang  diterima adalah kekafiran belaka sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah ayat 7 :

Artinya: “Allah  telah  mengunci  mati  hati-hati  dan  pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup, dan bagi mereka siksa yang berat”.

Dan firman Allah dalam surat An-Nisa’ ayat 155:
Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar

Artinya: “Bahkan sebenarnya Allah telah mengunci mata hati mereka karena kekafirannya, karena itu mereka tidak beriman kecuali bagian kecil saja”.

Shahabat Ibnu Abbas r.a. telah menceritakan  bahwa  Nabi Muhamad Saw. Telah bersabda :

Tata Cara Niat Sholat Jumat Yang benar






Artinya : “Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jum’at tanpa uzur (halangan), niscaya ia dicatat sebagai orang munafik dalam sebuah kitab yang tidak dapat dihapus dan tidak dapat diganti. (Riwayat Imam Syafi’i). Menurut hadits yang diketengahkan oleh Imam Abu Daud dan Imam Nasa’i, disebutkan  :  “Barang  siapa  yang  meninggalkan  shalat Jum’at tanpa uzur, maka hendaklah ia bersedekah sebanyak satu Dinar, apabila ia tidak menemukan satu Dinar, maka dengan setengah Dinar”.

Hadits ini menekankan untuk menghadiri shalat Jum’at dan mengancam kepada orang yang melalaikannya karena kesibukan mencari harta. Adapun tidak menghadiri jamaah Jum’at 3 kali berturut- turut atau lebih karena udzur tentulah tidak dimasukkan ke dalam golongan ini.

Daftar Rujukan

Tim Penulis IAIN Syarif Hidayatullah, Ensiklopedi Islam Indonesia, Jakarta: Penerbit Djambatan, 1992.

Abdul Azis Dahlan, (et al), Ensiklopedi Hukum Islam, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van
Hoeve, Cet. I, 1997.

Depag RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: PT Tanjung Mas Inti 1922.

Bey Arifin dan A.Syinqity Djamaludin, terj. Sunan Abu Daud, jilid II, Semarang :CV As-Syifa 1992.

A.Chodri Romli, Permasalahan Shalat Jum’at, Surabaya : Pustaka Progessif, 1996.

Sulaiman Rasyid, Fiqih Islam, Jakarta: At-Thahiriyah, 1976.

Dalam Kamus Istilah Fiqh rukun berarti asas, sendi, atau tiang yang dalam hal ini bermakna sesuatu yang menentukan syah (apabila dilakukan) dan tidaknya (apabila ditinggalkan) suatu pekerjaan ibadah dan sesuatu itu termasuk dalam perkataan itu. (M. Abdul Mujieb, Dkk., Kamus Istilah Fiqih, Jakarta: Pustaka Firdaus, Cet. I, 1994.

Bahwasannya rukun dan fardlu adalah ungkapan yang bermakna sama (Abd al-Rahman al-Jaziri) Ungkapan ini juga dipakai oleh Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad Husaeni dalam mengemukakan fardlu-fardlu atau rukun-rukun shalat. (Taqiyuddin Abi Bakar bin Muhammad Husaeni, Kifayah al-Akhyar, Juz I, Syirkah an-Nur Asiya, t.th).

M. Rifa’i, et al. terj. Kifayatul Akhyar, Semarang:  Toha Putra , 1993.
Moh. Rifa’i, et al.,  Kifayatul Akhyar, Semarang: Toha Putra, 1989.
Mu’ammal Hamidi, et al., Nailul Authar, Terj. Surabaya: Bina Ilmu, 1991.

Bahrun  Abu  Bakar,  Mahkota  Pokok-pokok  Hadits  Rasulullah  Saw.,  Jilid  I,  Terj. Bandung : CV. Sinar Baru, 1993.