Contoh Makalah Filsafat Ilmu Filsafat Analitik dan Pemikiran para Tokohnya

Advertisement

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Makalah

Belajar Filsafat, sepertinya memasuki suatu medan yang luas tiada bertepi, tiada rambu-rambu petunjuk jelas yang dapat menuntun ke jalan keluar yang paling tepat, sehingga semuanya menjadi serba misteri dan penuh problema. Perkembangan terakhir dari filsafat ilmu tersebut adalah sampainya filosof pada penelitian tentang bahasa, dan akan berkelanjutan tanpa berujung.


Contoh Makalah Filsafat Ilmu Filsafat Analitik 2
Munculnya filsafat menurut B. Russel berawal dari konsep tentang hidup dan dunia.[1] Para filosof dunia kebanyakan beranggapan bahwa yang satu haruslah sebagai substansi material. Bermula dari anggapan tentang asal segala sesuatu, Thales (585 SM) yang diberi julukan sebagai “Bapak Filsafat” beranggapan bahwa segala sesuatu berasal dari air.[2] Pada abad ke 18 dan awal abad ke 20 terdapat dua aliran besar yang mendominasi pemikiran filsafat yaitu filsafat idealisme dan filsafat empirisme. Idealisme berkembang pesat dalam tradisi filsafat Jerman sedangkan empirisme berkembang di Inggris. Aliran filsafat tersebut berkembang terus menerus sampai pada abad ke 20 ditandai dengan kemunculan filsafat bahasa yang dipelopori oleh filosof-filosof kontemporer yang menggunakan analisis bahasa melalui gejala-gejala yang nampak.

Untuk itu bahasa adalah alat yang paling penting dari seorang filosof serta perantara untuk menemukan ekspresi. Kebanyakan orang menganggap bahasa itu satu hal yang wajar, seperti udara yang kita isap, tetapi pada waktu sekarang, banyak ahli termasuk didalamnya filosof-filosof yang memakai “metode logical analitik” melihat bahwa penyelidikan tentang arti serta prinsip-prinsip dan aturan-aturan bahasa merupakan problema yang pokok dalam filsafat.[3]


Hubungan bahasa dengan masalah filsafat telah lama menjadi perhatian para filosof bahkan sejak zaman yunani. Para filosof mengetahui bahwa berbagai macam problema filsafat dapat dijelaskan melalui suatu analisis bahasa. Sebagai contoh: problema filsafat yang menyangkut pertanyaan, keadilan, kebaikan, kebenaran, kewajiban, hakekat ada (Metafisika) dan pertanyaan-pertanyaan fundamental lainnya dapat dijelaskan dengan menggunakan metode analisis bahasa. Tradisi inilah oleh para ahli sejarah filsafat disebut sebagai “Filsafat Analitik” yang berkembang di Eropa terutama di Inggris abad 20.[4]

B. Rumusan Masalah Makalah

Berdasarkan uraian latar belakang tersebut, maka adapun rumusan masalanya sebagai berikut:

1. Pengertian Filsafat Analitik dan Perkembangannya?
2. Siapa Tokoh-tokoh Filsafat Analitik dan Pemikirannya?


A. Pengertian Filsafat Analitika dan Perkembangannya

Perhatian filosof terhadap bahasa semakin besar. Mereka sadar bahwa dalam kenyataannya banyak persoalan-persoalan filsafat, konsep-konsep filosofis akan menjadi jelas dengan menggunakan analisis bahasa. Tokoh-tokoh filsafat analitika bahasa hadir dengan terapi analitika bahasanya untuk mengatasi kelemahan kekaburan, kekacauan yang selama ini ada dalam berbagai macam konsep filosofis.

Secara etimologi kata analitik berarti investigative, logis, mendalam, sistematis, tajam dan tersusun.[5] Beberapa pengertian tentang filsafat analitik secara terminologi yaitu:

Menurut Rudolph Carnap, filsafat analitik adalah pengungkapan secara sistematik tentang syntax logis (struktur gramatikal dan aturan-aturannya) dari konsep-konsep dan bahasa khususnya bahasa ilmu yang semata-mata formal.

Roger Jones menjelaskan arti filsafat analitik bahwa baginya tindak menganalisis berarti tindak memecah sesuatu ke dalam bagian-bagiannya. Tepat bahwa itulah yang dilakukan oleh para filosof analitik.[6]

Filsafat analitik adalah suatu gerakan filosof Abad ke 20, khususnya di Inggris dan Amerika Serikat yang memusatkan perhatiannya pada bahasa dan mencoba menganalisa pernyataan-pernyataan (konsep-konsep, ungkapan-ungkapan kebahasaan, atau bentuk-bentuk yang logis) supaya menemukan bentuk-bentuk yang paling logis dan singkat yang cocok dengan fakta-fakta atau makna-makna yang disajikan. Yang pokok bagi filsafat analitik adalah pembentukan definisi baik yang linguistik atau nonlinguistik nyata atau yang konstektual.[7]

Filsafat Analitik sendiri, secara umum, hendak mengklarifikasi makna dari penyataan dan konsep dengan menggunakan analisis bahasa.

Selanjutnya perkembangan filsafat setidaknya terdapat empat fase perkembangan pemikiran filsafat, sejak munculnya pemikiran yang pertama sampai dewasa ini, yang menghiasi panggung sejarah umat manusia. Pertama, kosmosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan alam sebagai objek pemikiran dan wacana filsafat, yaitu yang terjadi pada zaman kuno. Ikedua, teosentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan Tuhan sebagai pusat pembahasan filsafat, yang berkembang pada zaman abad pertengahan. Ketiga, antroposentris yaitu fase pemikiran filsafat yang meletakkan manusia sebagai objek wacana filsafat, hal ini terjadi dan berkembang pada zaman modern. Keempat, logosentris yaitu fase perkembangan pemikiran filsafat yang meletakkan bahasa sebagai pusat perhatian pemikiran filsafat dan hal ini berkembang setelah abad modern sampai sekarang. Fase perkembangan terakhir ini ditandai dengan aksentuasi filosof pada bahasa yang disadarinya bahwa bahasa merupakan wahana pengungkapan peradaban manusia yang sangat kompleks itu.[8]

Perhatian filsafat terhadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sejak zaman Pra Sokrates, yaitu ketika Herakleitos membahas tentang hakikat segala sesuatu termasuk alam semesta. Bahkan Aristoteles menyebutnya sebagai “para fisiologis kuno” atau ‘hoi arkhaioi physiologoi’. Seluruh minat herakleitos terpusatkan pada dunia fenomenal. Ia tidak setuju bahwa di atas dunia fenomenal ini, terdapat ‘dunia menjadi’ namun ada dunia yang lebih tinggi, dunia idea, dunia kekal yang berisi ‘ada’ yang murni. Meskipun begitu ia tidak puas hanya dengan fakta perubahan saja, ia mencari prinsip perubahan. Menurut Herakleitos, prinsip perubahan ini tidak dapat ditemukan dalam benda material. Petunjuk ke arah tafsiran yang tepat terhadap tata kosmis bukanlah dunia material melainkan dunia manusiawi, dan dalam dunia manusiawi ini kemampuan bicara menduduki tempat yang sentral. Dalam pengertian inilah maka medium Herakleitos bahwa “kata” (logos) bukan semata-mata gejala antropologi. Kata tidak hanya mengandung kebenaran universal. Bahkan Herakleitos mengatakan “jangan dengar aku”, “dengarlah pada sang kata dan akuilah bahwa semua benda itu satu”. Demikian sehingga pemikiran yunani awal bergeser dari filsafat alam kepada filsafat bahasa yang meletakkan sebagai objek kajian filsafat.[9]

Filsafat bahasa mulai berkembang pada abad ke 20 dengan telaah analitik filosofik Wittgenstein tentang bahasa. Noam Chomskylah yang pertama-tama mengangkat bahasa sebagai disiplin linguistic. Grice dan Quinelah yang mengangkat meaning sebagai intensionalitas sipembicara dan meaning dalam konteks kejadiannya. Davidson lebih lanjut mengetengahkan tentang struktur semantik, untuk memahami bahasa, termasuk unsur-unsurnya dan mengembangkan tentang interpretasi yang dapat berbeda antara si pembicara dan yang dibicarakan. Frege lebih lanjut mengembangkan konsep tentang referensi. Ekspresi bahasa bukan hanya representasi of mine, tetapi juga mengandung referensi, yaitu hal-hal yang relevan dengan pernyataan yang ditampilkan.[10]

Pada dasarnya perkembangan filsafat analitika bahasa itu meliputi tiga aliran yang pokok yaitu ‘atomisme logis’ (logical atomism), ‘Positivisme logis’ (logical empirism), dan ‘filsafat bahasa biasa’ (ordinary language philosophy).[11]


B. Tokoh-Tokoh Filsafat Analitik dan Pemikirannya

Adapun tokoh-tokoh dalam perkembangan filsafat analitik tersebut, sebagai berikut:

1. Gottlob Frege

Para filosof analitik berpendapat bahwa filsuf Jerman, Gottlob Frege (1848-1925), adalah filosof terpenting setelah Immanuel Kant. Frege hendak merumuskan logika yang rigorus sebagai metode berfilsafatnya. Dengan kata lain, filsafat itu sendiri pada intinya adalah logika.

Dalam hal ini, Frege dipengaruhi filsafat analitik, filsafat-logika, dan filsafat bahasa. Frege berpendapat bahwa dasar yang kokoh bagi matematika dapat ‘diamankan’ melalui logika dan analisis yang ketat terhadap logika dasar kalimat-kalimat. Cara itu juga bisa menentukan tingkat kebenaran suatu pernyataan.

Frege menganggap bahwa logika sebetulnya bisa direduksi ke dalam matematika, dan yakin bahwa bukti-bukti harus selalu dikemukakan dalam bentuk langkah-langkah deduktif yang diungkapkan dengan gamblang. Salah satu idenya yang paling berpengaruh adalah membuat perbedaan antara “arti” (sense) proposisi dan “acuan” (reference)-nya, dengan mengetengahkan bahwa proposisi memiliki makna hanya apabila mempunyai arti dan acuan.[12]

2. Bertrand Russell

Bertrand Russel (1872-1970) lahir dari keluarga bangsawan. Di Cambrige, ia belajar ilmu pasti dan filsafat, antara lain pada A. Whitehead. Namanya menjadi masyhur di seluruh dunia terutama karena pendapat-pendapatnya yang non konformistis tentang moral dan politik. Dari sudut ilmiah jasanya yang terbesar terdapat di bidang logika Matematis.[13]

Pemikiran filosofis Bertrand Russell yaitu ia mencoba menggabungkan logika Frege tersebut dengan empirisme yang sebelumnya telah dirumuskan oleh David Hume. Bagi Russell, dunia terdiri dari fakta-fakta atomis (atomic facts). Dalam konteks ini, kalimat-kalimat barulah bisa disebut sebagai kalimat bermakna, jika kalimat tersebut berkorespondensi langsung dengan fakta-fakta atomik.

Ludwig Wittgenstein (1889-1951) juga nantinya banyak dipengaruhi oleh Russell. Dia sendiri mempengaruhi Lingkaran Wina dan membantu membentuk aliran positivisme logis pada dekade 1920-30 an.

Jalan pemikiran Russell ini menawarkan jalan keluar untuk aliran atomisme logik. Atomisme logik berpendapat bahwa bahasa keseharian itu banyak menampilkan kekaburan arti. Russell menawarkan dasar-dasar logico-epistemologik untuk bahasa. Russell mengetengahkan tentang fakta, bentuk logika, dan bahasa ideal. Dia mengetengahkan prinsip dasarnya, yaitu: ada isomorphisme (kesepadanan) antara fakta dengan bahasa, dan dunia ini merupakan totalitas fakta-fakta, bukan benda. Fakta dalam pemikiran Russell merupakan ciri-ciri atau relasi-relasi yang dimiliki oleh benda-benda.[14]

Berdasarkan prinsip-prinsip pemikiran itulah maka Russell menekankan bahwa konsep atomismenya tidak didasarkan pada mefisikanya melainkan lebih didasarkan pada logikanya karena menurutnya logika adalah yang paling dasar dalam filsafat, oleh karena itu pemikiran Russell dinamakan ‘atomisme logis’[15]

3. Ludwig Wittgenstein

Ludwig Wittgenstein dilahirkan di wina (Austria) pada tanggal 26 April 1889 sebagai anak bungsu dari delapan anak. Ayahnya berasal dari famili yahudi yang telah memeluk agama Kristen Protestan dan ibunya beragama katolik. Ayahnya seorang insinyur yang dalam jangka waktu sepuluh tahun berhasil menjadi pemimpin suatu industri baja yang besar.

Pada Tahun 1906 Wittgenstein mulai belajar di suatu Sekolah Tinggi Teknik di Berlin. Setelah itu Ia pindah ke Inggris dan melakukan penyelidikan tentang aeronautical selama tiga tahun. Karena tertarik kepada buku Principles of Mathematics tulisan Bertrand Russell, ia pergi ke Cambridge untuk belajar kepada Russell, ia mendapat kemajuan pesat dalam studi tentang logika. Setelah perang dunia I meletus, ia bergabung dengan tentara Austria sebagai sukarelawan dan ditawan oleh tentara Italia pada tahun 1918. setelah dibebaskan ia mengajar di sekolah, tetapi pada tahun 1929, ia kembali ke Cambridge untuk berkecimpung dalam filsafat. Karyanya merupakan factor penting dalam timbulnya aliran-aliran Logical Positivism, Linguistic Analysis dan semantics

Adapun pemikiran filosofis Ludwig Wittgenstein yaitu:

a. Periode pertama: Tractatus logico-philosophicus

Konsep pemikiran Wittgenstein dalam buku Tractatus terdiri atas pernyataan-pernyataan yang secara logis memiliki hubungan. Pernyataan tersebut diungkapkan sebagai berikut:

Pertama, Dunia itu tidak terbagi atas benda-benda melainkan terdiri atas fakta-fakta, dan akhirnya terbagi menjadi suatu kumpulan fakta-fakta atomis yang tertentu secara unik (khas). Kedua, Setiap proposisi itu pada akhirnya melarut diri, melalui analisis, menjadi suatu fungsi kebenaran yang tertentu secara unik (khas) dari sebuah proposisi elementer, yaitu setiap proposisi hanya mempunyai satu analisis akhir.

Teori Gambar (Picture Theory)

Wittgenstein dalam mengungkapkan realitas dunia terumuskan dalam suatu proposisi-proposisi sehingga dengan demikian terdapat suatu kesesuaian logis antara struktur bahasa dengan struktur realitas dunia. Oleh karena itu proposisi-proposisi itu terungkapkan melalui bahasa, maka bahasa pada hakikatnya merupakan suatu gambaran dunia.

Dalam pengertian ini Wittgeinsten berupaya untuk benar-benar menempatkan struktur logika dalam mengungkapkan suatu realitas dunia dan hal ini juga pernah diungkapkan melalui konsep Aristoteles. Kerangka logis bahasa dalam mengungkapkan suatu benda itu menjadi semacam gambar timbul atau relief.

“Proposisi saya” misalnya dalam bentuk perrnyataan Wittgeinsten, seperti dikutip oleh Jones, “ berfungsi sebagai penjelasan dengan beberapa cara berikut: setiap orang yang mengerti saya pada akhirnya akan mengenali semua ini (etika, moral, agama, seni) sebagai ‘yang bukan-bukan, ketika ia menggunakan semua itu sebagai langkah untuk memanjat melampaui mereka. Dengan begitu, ia harus membuang tangga setelah selesai memanjatnya.”[16]

b. Periode Kedua: Philosophical Investigations

Dalam Philosophical Investigations ia menolak pendapatnya yang pertama. Menurutnya bahasa itu digunakan tidak hanya untuk mengungkapkan proposisi-proposisi logis melainkan digunakan dalam banyak cara (form of lifes) yang berbeda untuk mengungkapkan pembenaran, pertanyaan-pertanyaan, perintah, pengumuman dan banyak lagi gejala-gejala yang dapat diungkapkan dengan kata-kata. Terdapat banyak sekali jenis-jenis yang berbeda dalam penggunaan bahasa.

Kemudian untuk menjelaskan bahwa bahasa dipakai dengan rupa-rupa cara, dalam Philosophical Investigations Wittgenstein mengintrodusir istilah language games (permainan-permainan bahasa), suatu permainan dapat dilukiskan sebagai aktivitas yang dilakukan menurut aturan.[17]

BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan Makalah

Berdasarkan pembahasan diatas, maka adapun kesimpulan sebagai berikut :

1. Filsafat analitik adalah suatu gerakan filosof Abad ke 20, khususnya di Inggris dan Amerika Serikat yang memusatkan perhatiannya pada bahasa dan mencoba menganalisa pernyataan-pernyataan (konsep-konsep, ungkapan-ungkapan kebahasaan atau bentuk-bentuk yang logis) supaya menemukan bentuk-bentuk yang paling logis dan singkat yang cocok dengan fakta-fakta atau makna-makna yang disajikan.

2. Perhatian filsafat terhadap bahasa sebenarnya telah berlangsung lama, bahkan sejak zaman Pra Sokrates, akan tetapi filsafat bahasa tersebut menjadi populer pada abad ke 20 dengan telaah analitik filosofik Wittgenstein tentang bahasa

3. Adapun tokoh-tokoh yang melahirkan filsafat analitik dan pemikirannya sebagai berikut: Pertama, Gottlob Frege dengan pemikiran filosofis metode logika yang rigorus sebagai metode filsafatnya. Kedua, Bertrand Russell dengan pemikiran Atomisme Logic. Dan Ketiga, Ludwig Wittgeinsten dengan dua pemikiran dalam karyanya yaitu, pada periode pertama, Tractatus logico-philosophicus dan pada periode kedua, Philosophical Investigations.


DAFTAR PUSTAKA

Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa Cet. I; Jakarta: PT. Rosdakarya, 2006

Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran Dalam Filsafat dan Teologi Cet I; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996

Bertrand Russell, History of Western philosophy Oxford: Alden Press, 1974

Bertens. K, Sejarah Filsafat Yunani Jakarta: Kanisius, 1975

………….. Filsafat Barat Kontempoter Inggris-Jerman Cet. IV; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002

Eko Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia Cet. I; Jakarta: PT Gramedia, 2006

Harold H. Titus, Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan, Living Issues In Philosophy, dialih bahasakan oleh H. M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat Cet. I; Jakarta: P. T. Bulan Bintang, 1984

Kaelan M.S, Perkembangan filsafat Analitika bahasa dan pengaruhnya Terhadap ilmu Pengetahuan Cet. I; Yogyakarta: Paradigma, 2006

Noeng Muhadj, Filsafat Ilmu Positivisme, PostPositivisme, dan PostModernisme Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001

Salliyanti, Peranan Filsafat Bahasa dalam Perkembangan Ilmu Bahasa Medan: USU, 2006

Stephen Palmquis, The Tree of Phylosophy, diterjemahkan oleh Muhammad Shadiq dengan judul, Pohon Filsafat Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002

Zainal Abidin, Semantika; Pengantar Studi Tentang Makna Cet. V; Jakarta: Raja Grafindo persada, 2004

Catatan Kaki

[1] Bertrand Russell, History of Western philosophy (Oxford: Alden Press, 1974), h. 13

[2] K. Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Jakarta: Kanisius, 1975), h. 26

[3] Harold H. Titus, Marilyn S. Smith, dan Richard T. Nolan, Living Issues In Philosophy, dialih bahasakan oleh H. M. Rasjidi dengan judul Persoalan-Persoalan Filsafat (Cet. I; Jakarta: P. T. Bulan Bintang, 1984), h. 358

[4] Salliyanti, Peranan Filsafat Bahasa dalam Perkembangan Ilmu Bahasa (Medan: USU, 2006), h. 1

[5] Eko Endarmoko, Tesaurus Bahasa Indonesia (Cet. I; Jakarta: PT Gramedia, 2006), h. 24

[6] Zainal Abidin, Semantika; Pengantar Studi Tentang Makna (Cet. V; Jakarta: Raja Grafindo persada, 2004), h. 76

[7] Ali Mudhofir, Kamus Teori dan Aliran Dalam Filsafat dan Teologi (Cet I; Yogyakarta: Gadjah Mada University Press, 1996), h. 8

[8] Kaelan M.S, Perkembangan filsafat Analitika bahasa dan pengaruhnya Terhadap ilmu Pengetahuan (Cet. I; Yogyakarta: Paradigma, 2006) h. 7

[9] Ibid

[10] Noeng Muhadj, Filsafat Ilmu Positivisme, PostPositivisme, dan PostModernisme (Cet. I; Yogyakarta: Rakesarasin, 2001), h. 98

[11] Ibid, h. 15

[12] Stephen Palmquis, The Tree of Phylosophy, diterjemahkan oleh Muhammad Shadiq dengan judul, Pohon Filsafat (Cet. I; Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), h. 200

[13] K. Bertens, Filsafat Barat Kontempoter Inggris-Jerman (Cet. IV; Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. 26

[14] Noeng Muhadj, Op. Cit., h. 99

[15] Kaelan M.S, Op. Cit., h. 25

[16] Asep Ahmad Hidayat, Filsafat Bahasa (Cet. I; Jakarta: PT. Rosdakarya, 2006), h. 46

[17] K. Bertens, Filsafat Barat Kontempoter…… Op. Cit., h. 52

Makalah Filsafat Ilmu: Filsafat Analitik dan Tokohnya ditulis oleh Mirwan, Mahasiswan UIN Alauddin Makassar



0 Response to "Contoh Makalah Filsafat Ilmu Filsafat Analitik dan Pemikiran para Tokohnya"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!