Contoh Makalah Pemikiran Agama Islam di bidang Hadis

Advertisement
Contoh Makalah Pemikiran Agama Islam di bidang Hadis - Hadis Nabi saw. Atau As-Sunnah An-Nabawiyah telah disepakati oleh mayoritas ulama dan umat Islam sebagai sumber kedua ajaran Islam setelah kitab suci al-Qur’an. Namun dalam perjalanannya, mendudukan hadis pada posisinya tersebut, tidaklah semulus sebagaimana mestinya. Sejarah telah mencatat keraguan akan otentisitas hadis dan fungsinya seringkali dipertanyakan dalam diskursus pemikiran ulama dipertengahan abad ke-2 dan kembali diperdebatkan diawal abad ke-5. Dari perdebatan panjang tersebut, munculah istilah Nasir As-Sunnah (pembela sunnah) yang disandang oleh Imam Syafi’i (w. 204 H) dan Imam Baghawi (w. 505). Dan tandingannya yakni Khusum As-Sunnah (penyerang sunnah) dan Ingkar As-Sunnah (penolak sunnah). 

Banyak penyebab munculnya gerakan Ingkar As-Sunnah tersebut, di antaranya adalah adanya perbedaaan antara hadis yang sebagian besarnya tidaklah diriwayatkan secara mutawatir dan pengkodifikasiannya pun baru dilakukan pada masa khalifah Umar bin Abdul Azis (w. 101 H), salah seorang khalifah Bani Umayyah, dengan al-Qur’an yang semua ayat-ayatnya disampaikan oleh Nabi saw. secara mutawatir dan telah ditulis serta dikumpulkan sejak zaman Nabi saw. masih hidup, serta dibukukan secara resmi sejak zaman khalifah Abu Bakar al-Shiddiq (w. 13 H).

Setelah mengalami masa kevacumman selama hampir sebelas abad sebagai konsekuensi logis dari argumentasi-argumentasi  Imam As-Syafi’i dan Imam Baghawi, maka pada sekitar peralihan abad ke-19 ke-20 M, kelompok Ingkar As-Sunnah kembali mencuak ke permukaan sekaligus ingin melebarkan sayapnya (menyebarluaskan pendapat mereka) kepada umat Islam. Dengan pendapatnya yang sangat kontroversial, Dr. Muhammad Taufiq Shidqi (1881-1920) dikenal dan divonis menjadi salah satu di antara mereka. Bagaimanakah pendapat Shidqi hingga ia termasuk di antara mereka? Hal apa sebenarnya yang melatarbelakangi dirinya hingga keluar dari mulutnya gagasan panas tersebut? Apa motif dan tujuan Shidqi? Bagaimanakah tanggapan para ulama atas pemikirannya tersebut? Inilah sederet pertanyaan (dan masih banyak lagi pertanyaan lain) yang akan dibahas oleh penulis pada makalah ini. Selamat menyelami.

Selayang Pandang Kehidupan Muhammad Taufiq Shidqi[1] 

Dr. Muhammad Taufiq Shidqi (1881-1920) atau yang lebih akrab dipanggil Dr. shidqi, adalah seorang dokter di penjara Departemen Pemerintahan daerah  Kota Thurra[2]. Di bawah bimbingan Muhammad Rasyid Ridha, ia melakukan studi tantang berbagai masalah pokok teologi. Selain itu, ia juga mempelajari buku-buku yang bersifat apologetik[3]. Pembacaannya akan beberapa literatur mengenai polemik misionaris Kristen dilihat dari perspektif Islam itu, melahirkan keraguan-keraguan yang mempengaruhi paradigma pemikirannya.[4] Ia pun mempelajari buku-buku tentang kedokteran sehingga sedikit banyak dirinya paham mengenai ilmu kedokteran maupun pengobatan.[5] Shidqi, Pembahas Pertama Literatur Hadis dalam Al-Manar (Pemikirannya terhadap Kehujjahan Hadis).

Shidqi adalah orang yang pertama kali mentranformasikan pemikirannya tentang hadis melalui sebuah artikel dalam majalah Al-Manar dengan judul yang sangat kontroversial yaitu الاسلام هو القران وحده" ". Dalam artikelnya, Shidqi menyatakan bahwa manusia dapat meninggalkan sunnah, karena Al-Qur’an telah memberikan berbagai jawaban terhadap segala persoalan dalam kehidupan, baik dalam kehidupan keagamaan maupun kehidupan sekular. Menurutnya:

“Semua orang Islam tidak ada yang meragukan keandalan nash Al-Qur’an, sedangkan terhadap hadis, ada di antara mereka yang meragukannya. Al-Qur’an ditulis pada saat Nabi Muhammad SAW. masih  hidup, sementara hadis baru ditulis beberapa abad kemudian[6]. Al-Qur’an adalah kriteria dan petunjuk abadi bagi seluruh manusia segenap zaman. Bagi masyarakat saat ini, sunnah Nabi SAW. telah kehilangan nilainya dan hanya memiliki arti bagi generasi-genarasi pertama Muslim saja. Di manakah letak kearifan -tanya Shidqi- kalau sebagian dari iman diletakan dalam Al-Qur’an sedangkan sebagian lain terletak dalam sunnah?,Shidqi mengutip  Al-Qur’an surat Al-An’am (6) ayat 38: “......Tiadalah kami alpakan sesuatupun dalam Al-Kitab[7].....” Dan surat An-Nahl (16) ayat 89:.. Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu.... (Q.S. An-Nahl (16): 89).

Contoh Makalah Pemikiran Agama Islam di bidang Hadis Selanjutnya dalam Contoh Makalah Pemikiran Agama Islam di bidang Hadis , ia mengatakan bahwa “kalau Nabi SAW. memaksudkan sunnahnya sebagai satu bagian dari agama yang merupakan sumber keagamaan yang fundamental bagi umat, tentu Nabi SAW. memerintahkan agar sunnahnya ditulis pada masa hidupnya dengan cara yang sama sebagaimana terhadap Al-Qur’an. Menurutnya, ada sebagian orang yang beranggapan bahwa penulisan hadis yang terjadi jauh pada masa kemudian disebabkan rasa khawatir Rasulullah SAW. dan sahabat-sahabatnya bahwa jika Al-Qur’an dan sunnah ditulis pada waktu yang sama maka akan terjadi kekacauan antara Al-Qur’an dan sunnah. Namun hal itu tidak masuk akal, pikir Shidqi; tidak ada makhluk hidup yang dapat membuat sesuatu yang menyamai Al-Qur’an. Tidak mungkin terjadi kekacauan antara satu ayat Al-Qur’an dengan yang lain karena perbedaannya antara keduannya sangatlah jelas.


Shidqi meneruskan argumennya bahwasanya tidak pantas kalau Allah SWT. memberi umat-Nya satu sumber bimbingan keagamaan yang begitu sulit untuk diketahui mana yang memilki nilai dan mana yang tidak. Pada penghujung artikelnya, ia memberi penjelasan panjang lebar guna menunjukan bahwa jumlah raka’at dalam setiap shalat sekalipun, dapat diketahui dari Al-Qur’an berdasarkan ajaran-ajarannya tentang shalat al-khauf  yaitu yang tertera dalam Al-Qur’an surat An-Nisa’ (4) ayat 101: “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar[8]sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu”. (Q.S. An-Nisa’ (4): 101)[9]

Tanggapan Para Ulama atas Pemikirannya
 

Adalah sebuah keniscayaan bahwa lahirnya pemikiran yang kontroversial, menjadi daya tarik tersendiri bagi para ahli untuk memberikan andil dalam menyikapinya (baik pro maupun kontra)[10], begitupulalah dengan pemikiran Shidqi yang sangat kontroversial itu, memancing perhatian para ulama untuk membantahnya. Bantahan pertama dikemukakan oleh Ahmad Mansur Al-Baz dan Syaikh Thaha Al-Bisyri, keduanya adalah ulama yang memiliki pemahaman Islam Fundamental. Mereka membantah pemikirannya Shidqi dengan menyatakan bahwa sunnah sangat diperlukan dalam Islam karena ia menjelaskan secara terinci apa yang disinggung olehg Al-Qur’an secara umum. Tidak hanya para ulama pada masanya saja yang memberikan tanggapan terhadapnya, seorang ulama Suriah bernama Musthafa As-Siba’ai[11] seorang penulis pada masa setelahnya, menulis sebuah penyangkalan terhadap gagasan-gagasannya dengan mengkhususkan beberapa halaman dari bukunya yang berjudul "السنة و مكانتها في التشريع" untuk merumuskan pendapatnya tentang masalah ini. Penyangkalan terhadap pemikiran Shidqi yang dituangkan dalam kitabnya tersebut, lebih rinci dibandingkan dengan Al-Baz dan Al-Bisyri di atas.

As-Siba’i mengutip pernyataan Asy-Syafi’i yang mengatakan bahwa istilah bayan (atau tibyan, sebagaimana yang digunakan Shidqi dari ayat Al-Qur’an, surah An-Nahl (16) ayat 89 di atas) bermaksud menerangkan prinsip-prinsip dan juga cabang-cabangnya. Al-Qur’an mungkin saja memberikan ajaran-ajaran yang terinci, sehingga tidak diperlukan lagi penjelasan tambahan. Namun Al-Qur’an juga mengandung ajaran-ajaran yang kata-katanya disusun dalam istilah-istilah yang luas sehingga sangat diperlukan keterangan yang terinci. Dalam kasus yang terakhir. Al-Qur’an itu sendiri mengindikasikan agar kita menemukan penjelasan tentang ajaran-ajaran yang luas ini. Penjelasan tersebut dapat ditemukan dalam sunnah Nabi, karena Allah memerintahkan kepada manusia untuk menaati Nabi-nya. Dengan kata lain, Al-Qur’an adalah sebuah Hujjah, dan sunnah juga demikian, karena ketaatan kepada Nabi dalam segala yang diperintahkannya mendapat penekanan dalam Al-Qur’an.[12]


Selain ketiga kritikus di atas, ada ulama dari India, Syaikh Shalih Al-Yafi’i melalui serangkaian artikelnya yang panjang namun menurut G.H.A. Juynboll dalam bukunya The Authenticity of The Tradition Literature discussions in Modern Egypt mengatakan bahwa manuskrip artikel tentangnya hilang dalam pengiriman dan tidak ditemukan lagi[13]. Sehingga tidak dapat diketahui bantahannya tersebut.

Tanggapan terhadap pemikirannya, bukan hanya datang dari ulama yang “jauh” dari Shidqi, akan tetapi “sesepuhnya” sendiri yang banyak membimbing dan membantunya dalam studinya pun memberikan sangkalan kepadanya, meskipun lebih bersifat menengahi antara pendapat Shidqi dengan tanggapan-tanggapan yang dilontarkan kepadanya. Beliau adalah Muhammad Rasyid Ridha. Mengenai pendapat shidqi yang menyatakan bahwa  raka’at setiap kali shalat dan ajaran tentangnya dapat diketahui melalui Al-Qur’an dengan merujuk pada ayat yang menerangkan shalat al-khauf [14], menurut Ridha Shidqi mengalami kegagalan. Tuturnya, shalat al-khauf adalah sebuan pengecualian, dan orang tidak dapat menemukan semua ajaran tentang kewajiban ritual yang luas seperti shalat dari satu pengecualian.

Menanggapi pemikiran Shidqi bahwa umat muslim boleh meninggalkan sunnah karena Al-Qur’an telah menjawab segala problematika kehidupan, Ridha berargumen persis sebagaimana yang dikatakan As-Siba’i bahwa Allah SWT telah memerintahkan umat manusia untuk mentaati Nabi-Nya dalam segala sesuatu dan supaya mengikuti keteladanan Beliau, sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzab (33) ayat 21: “Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (Q.S. Al-Ahzab (33): 21)

Ia juga mengutip Al-Qur’an surat Al-Baqarah (2) ayat 151: Sebagaimana (Kami Telah menyempurnakan nikmat kami kepadamu) kami Telah mengutus kepadamu Rasul diantara kamu yang membacakan ayat-ayat kami kepada kamu dan mensucikan kamu dan mengajarkan kepadamu Al Kitab dan Al-Hikmah, serta mengajarkan kepada kamu apa yang belum kamu ketahui.” (Q.S. Al-Baqarah (2): 151)

Ridha menafsirkan ayat ini dengan menyatakan bahwasanya Nabi Muhammad SAW mensucikan umatnya melalui sunnahnya.[15] Meskipun ia tidak sependapat dalam banyak hal dengan pemikirannya Shidqi, namun demikian, ia mengatakan bahwa setiap orang dapat mengungkapkan pendapatnya sendiri.

Tanggapan Balik dari Shidqi

Adalah sudah menjadi tradisi dalam dunia intelektual, adanya silang pendapat, saling mempertahankan argumen, gagasan dan pemikiran antara ulama atau ilmuwan yang satu dengan yang lainnya. Setelah Shidqi menelorkan buah pikirannya tentang hadis. Berbagai sanggahan dan bantahan pun terutarakan kepadanya. Guna mempertahankan argumentasinya tersebut, Shidqi menyerang balik pendapat-pendapat yang “menyalahkan” pemikirannya itu.

Dalam jawabannya menanggapi sanggahan dari Al-Baz dan Al-Bisyri, Shidqi mengakui bahwa contoh keteladanan Nabi tentu saja jauh lebih mencerahkan dibandingkan keterangan apa pun yang disampaikan melalui kata-kata. Kata yang disampaikan melalui qualitate qua[16] harus lebih fasih daripada kata yang dijelaskan. Namun demikian, hal ini tidak berlaku ketika yang tengah dipersoalkan adalah Al-Qur’an. Al-Qur’an senantiasa tidak tertandingi keindahannya, kejelasan dan kefasihannya. Mengikuti keteladanan Nabi adalah wajib bagi umat Islam hanya jika Al-Qur’an memerintahkan secara eksplisit. Sementara apa yang dapat dipetik dari Al-Qur’an secara implisit -apa yang berada diluar ketentuan Al-Qur’an- tidaklah wajib. Ia merumuskannya sebagai berikut:
 

الواجب على البشر لايخرج عما في كتاب الله

“Yang wajib bagi umat manusia tidaklah berada di luar kitab Allah”

Kemudian Shidqi mengikhtisarkan perbedaan-perbedaan antara Al-Qur’an dan sunnah, diantaranya[17]:

Al-Qur’an
Sunnah
      Tidak dapat dipalsukan
      Teksnya sudah ditegaskan keshahihannya secara mutawatir
      Ditulis selama masa hidup Nabi atas perintahnya
      Firman Allah yang meliputi segalanya
*      Dapat dipalsukan
*      Hanya sebagian saja yang ditegaskan secara mutawatir
*      Nabi melarang penulisan sunnah
*      Sabda (akhlak dan prilaku) Nabi, berlaku hanya untuk generasi nabi saat itu.

Sementara itu, Shidqi juga menanggapi bantahan yang datang dari Syeikh Shalih Al-Yafi’i, akan tetapi tidak terdapat informasi tentangnya sebagaimana yang penulis jelaskan di atas.

Tanggapan Kedua dari Sang Guru[18]
 
Sebagai sosok seorang guru penuh perhatian terhadap muridnya, Ridha senantiasa memperhatikan “gerak gerik” muridnya yang satu ini (Shidqi).  Ketika Shidqi menanggapi bantahan yang datang dari Syeikh Shalih Al-Yafi’i, Ridha berkomentar dengan mengedepan sikap moderatnya dengan menegaskan bahwa dia hanya menyetujui masing-masing argumentasi secara parsial, karena dia mempunyai pendapat sendiri dengan menggunakan ijtihad. Dia mengemukakan pandangan umumnya sendiri, dan berjanji akan membahas permasalahan tersebut secara lebih mendalam lagi di masa yang akan datang.

Ia pun mengomentari jawaban Shidqi dalam menanggapi sanggahan dari Al-Baz dan Al-Bisyri, khususnya pada poin terakhir yakni pernyataan Shidqi yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah firman Allah SWT yang meliputi segalanya sedangkan sunnah adalah sabda (prilaku dan akhlak) Nabi yang hanya berlaku bagi generasinya pada saat itu. Menurut Ridha, Nabi Muhammad SAW. bukan hanya Rasul Allah untuk bangsa Arab saja, namun untuk semua masyarakat di seluruh penjuru dunia hingga datangnya hari kiamat. Pernyataan Ridha ini, sejalan dengan gagasan gurunya Muhammad Abduh yaitu universalitas kenabian Muhammad SAW.

Ketika Syeikh Shalih Al-Yafi’i menanggapi pemikiran Shidqi yang kedua kalinya[19], Ridha pun intervensi untuk menengahi keduannya. Ia mengatakan bahwa sebenarnya Shidqi menggunakan konsep yaqin, yaitu kepastian dan zhann, yaitu kemungkinan. Kedua konsep ini, biasanya berhubungan dengan persoalan hadis ahad atau mutawatir shidqi menerapkan kedua konsep tersebut sebagaimana yang dilakukan oleh ulama klasik (metode tradisional). Kemudian Ridha menjelaskan tentang ketiga definisi tersebut:

Zhann adalah keyakinan bahwa sesuatu itu pasti dan kemungkinan kecil sesuatu itu tidak pasti.

Yaqin yaitu keyakinan bahwa sesuatu itu pasti, dan tidak ada kemungkinan sesuatu itu tidak pasti, meskipun tidak dapat dibuktikan bahwa kemungkinan itu tidak pernah terjadi.

Terbukti bahwa sesuatu itu pasti, sementara ada kenyataan yang tidak dapat dibantah bahwa lawannya adalah mustahil.

Menurut Ridha, sebagian hadis ahad yang terdapat dalam himpunan-himpunan hadis mendefinisikan zhann seperti yang disebutkan pada poin pertama, sedangkan sebagian lainnya sebagaimana pada arti yang kedua, dan tidak ada hadis ahad yang mendefinisikan yaqin semisal apa yang dijelaskan pada poin ketiga.[20] Pada akhirnya Shidqi menerima sepenuhnya argumen-argumen dari sang gurunya tersebut dan mengakui segala kesalahan dan kekeliruannya mengenai persoalan-persoalan di atas.

Shidqi, Berbicara tentang سنة عملية و سنة قولية Tidak hanya tentang kehujjahan hadis, Shidqi memproklamirkan gagasannya, ia juga mengutarakan buah pikirannya tentang سنة عملية و سنة قولية, dan tampaknya secara praktis, dia menganut pandangan-pandangan yang sama sebagaimana yang dikemukakan oleh Ridha.[21]
 
Meskipun Shidqi telah mengakui bahwa tidak mungkin sunnah ditinggalkan dan hanya berpedoman dengan Al-Qur’an saja, namun Shidqi berpandangan bahwa adalah tepat untuk menyerang sunnah pada sebagian dari bentuk tertulisnya yakni  احادث قولية. Ia menunjukan bahwa banyak sekali legenda dari agama-agama lain yang berhasil masuk ke dalam himpunan-himpunan hadis. Problem ini terutama menyangkut pengaruh Yahudi, yang sering kita sebut isra’iliyat.

Shidqi menyebutkan bahwa pada umumnya hukum yang diletakan Nabi Muhammad SAW. untuk umatnya melalui sunnahnya adalah sebagai suatu  شريعة وقتية تمهيدية (aturan persiapan dan temporer). Semua hukum yang tertulis pada masa-masa selanjutnya penuh dengan ketidaktepatan, kebohongan, dan penyimpangan. Orang-orang yang menyampaikan Sabda Nabi Muhammad SAW, secara lisan pada abad-abad pertama, mereka berpura-pura shalih, berpura-pura jujur dan bertaqwa kepada Allah SWT, padahal sejatinya mereka telah mengubah teksnya atau bahkan mereka-reka (membuat-buat) sabda-sabda tersebut sesuai dengan tingkah laku mereka sendiri, yang terkadang didorong oleh kebodohan dan atau fanatisme yang berlebihan. Malah mungkin mereka terpaksa mendistorsi teksnya. Bagaimanapun juga, para ulama yang meneliti para rawi dalam isnad mungkin telah terkecoh. Lanjutnya, sering terjadi sabda-sabda yang dibuat oleh orang yang karena terdorong oleh motif-motif keagamaan semata-mata, yakni berkeinginan untuk membantu tegaknya Islam, juga melakukan hal tersebut. Seringkali perawi terbawa oleh kesukaan mereka untuk melebih-lebihkan keinginannya pada hal-hal yang aneh dan menakjubkan. Pada akhirnya, pernyataan-pernyataan seperti itu, ditulis dan dianggap berasal dari Nabi SAW, padahal sebenarnya sangat sedikit yang betul-betul berasal dari Rasulullah SAW.

Menurutnya, bagian dari literatur hadis yang patut mendapatkan kualifikasi mutawatir itu, sangatlah sedikit dan tidak pernah berisikan ajaran-ajaran tentang hukum. Misalkan  hadis:


إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفِ[22]

“.....Al-Qur’an diturunkan dalam tujuh versi (bahasa Arabnya).....”


وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ[23]

“.....Barangsiapa yang dengan sengaja berkata dusta tentang aku, maka berarti dia sedang mengupayakan bagi dirinya sendiri sebuah tempat dineraka.”

Menurutnya, para ahli hadis mungkin tidak menemukan semua hadis buatan tersebut, sementara pada waktu yang sama, beberapa hadis shahih mungkin telah terlepas dari perhatian mereka. Shidqi mengaku bahwasanya ia tidak dapat menerima kenyataan bahwa Bukhori tidak mungkin berbuat salah, dalam melakukan penilaian terhadap isnad. Tidaklah masuk akal kalau beranggapan bahwa Bukhari tidak pernah keliru ketika menyaring 4.000 hadis shahih dalam Shahih-nya dari 600.000 hadis yang berhasil dihimpunnya selama bertahun-tahun[24]. Shidqi tidak menyangkal bahwa احادث قولية dapat bermanfaat untuk memecahkan problem-problem dalam bidang-bidang sejarah, bahasa, literatur, dan tafsir Al-Qur’an. Namun sebagai pembimbing prinsip yang umum, dia tidak menerimanya karena احادث قولية secara kontekstual tidak dapat dipercaya.[25]

Pandangan Muhammad Taufiq Shidqi terhadap Hadis-Hadis tentang Pengobatan (Pemahaman terhadap Hadis-Hadis Musykil)

Pada umumnya, langkah pertama yang dilakukan oleh para ulama hadis untuk menyaring mana hadis yang shahih dan mana yang tidak shahih, adalah melakukan kritik. Mayoritas para ulama salafus shalih, hanya terbatas pada kritik sanad saja, sementara kritik matan, seringkali teralpakan.

Berangkat dari keyakinan bahwa Nabi SAW adalah manusia biasa -akan tetapi bukan seperti manusia biasa- محمد بشر لا كالبشر , selain mempunyai sisi kemanusiaan, Nabi juga memiliki fungsi sebagai مشرع   (pembuat syari’at). dan para ulama salaf lebih memandangnya sebagai ketimbang manusia. Kalaupun misalkan dalam satu teks, kedudukan beliau sebagai manusia, namun mereka menyakini bahwa sifatاسوة حسنة  (panutan yang baik) senantiasa melekat pada diri pribadi beliau. Dengan demikian, ketika mereka telah mengakui keabsahan suatu hadis, langkah mereka selanjutnya adalah سمعنا و اطعنا  (kami mendengar dan kami mentaati). Hal ini tercermin dengan statemen: اذا صح الحديث فهو مذهبي (jika sebuah hadis dinyatakan shahih, maka itulah pendapatku).

Keadaan di atas, sangatlah berbeda dengan ulama khalaf. Di samping mereka melakukan kritik sanad, tidak ketinggalan matan pun perlu dipertanyakan. Hal ini bukan berarti mereka tidak mengakui keabsahan hadis, namun mereka lebih sering menududukan  fungsi nabi dalam teks-teks hadis di samping sebagai مشرع tetapi juga sebagai بشر  (manusia biasa) atau kedudukan lainnya seperti pemimpin negara, suami, pemuka agama, pemimpin pasukan perang dll. Dengan berpedoman dengan keyakinan tersebut, maka seringkali mereka lebih memprioritaskan pemahaman hadis secara kontekstual. Karena secara logika, agama diturunkan untuk manusia dan untuk kepentingan manusia, oleh sebab itu, manusia tahu (melalui logikanya) apa yang dibutuhkan.[26]

Mengenai persoalan tentang kritik hadis (sanad dan matan), Rasyid Ridaha pernah mengatakan bahwa meskipun sebuah sanad sudah dapat dikatakan shahih, akan tetapi hal itu tidaklah cukup memadai, ia perlu ditundukan dengan kritik baru mengenai isinya (kritik matan). Pernyataan yang serupa juga diutarakan oleh Ahmad Amin[27] dan Abu Rayyah[28]. Berbeda halnya dengan As-Siba’i, ia tidak sepakat dengan apa yang mereka katakan. Karena jika hal tersebut dilakukan, maka akan menghancurkan sebagian besar himpunan kitab hadis shahih. Abu Syuhbah mengatakan bahwa kritik matan tidak perlu dilakukan kecuali kalu teks sebuah hadis sangat tidak  jelas sehingga yang dapat memahami sepenuhnya adalah hanya Allah SWT semata, maka bisa dipahami dengan men-ta’wil-kannya. Banyak hadis yang  susunan katanya bersifat kiasan atau menggambarkan dunia ghaib. Dan upaya untuk memecahkan problematika tersebut, baiknya kita sebatas menerima saja (mengimaninya).[29]

Ada sejumlah hadis yang terdapat pada himpunan kitab hadis shahih yang telah menimbulkan keraguan mengenai otentisitas tekstualnya. Hadi-hadis ini terasa sangat janggal, ganjil atau bahkan aneh bila dilihat dari perspektif ilmu pengetahuan modern. Padahal hadis tersebut tidak sedikit dijumpai dalam kitab Shahihain (Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim) dan pada beberapa kitab lainnya, yang notobene telah diakui kesahihannya oleh ulama hadis dan dijadiakn pedoman bagi umat Islam.[30]

Beberapa hal di atas, mendorong para ulama untuk melakukan berbagai penelitian dan tinjauan lebih lanjut. Salah satunya adalah Dr. Shidqi. Ia berkesimpulan bahwa hadis-hadis tersebut sangat bertentangan dengan ilmu pengeobatan. Berikut ini, uraian ringkas tentang diskusi menarik yang berkisar seputar hadis ganjil tentang pengobatan itu:

Dua hadis Nabi SAW, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah menyangkut infeksi (‘adwa), tampaknya bertentangan satu sama lain.

Hadis yang pertama berbunyi: عَن أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا عَدْوَى وَلَا هَامَةَ وَلَا نَوْءَ وَلَا صَفَرَ[31]  “tidak ada infeksi, tidak ada nujum, tidak ada burung hantu, dan tidak ada ular.”

Hadis yang kedua berbunyi: وَلاَ يُورِدُ مُمْرِضٌ عَلَى مُصِحٍّ[32] “Barangsiapa yang untanya sakit, maka untanya itu harus dijauhkan dari unta-unta yang sehat.”
 
Abu Rayyah berkomentar bahwa daya ingat Abu Hurairah tidak dapat diandalkan. Menurut G.H.A. Juynboll, dikalangan kaum muslimin zaman dahulu, ada kepercayaan bahwa manusia atau binatang, ketika terkena penyakit adalah semata-mata karena kehendak Allah, dan bukan karena penyakit yang menular. Kemudian Shidqi melihat suatu kontradiksi dan mengajukan harmonisasi sebagai berikut:

Orang Arab Jahiliyah beranggapan bahwa sakit hanya dapat terjadi karena adanya orang yang sakit. Namun menurut Shidqi, penyakit merupakan aksiden (‘aradh), di mana penyakit itu sendiri tidak ada dan tidak pula dibawa oleh satu orang ke orang lain. Akan tetapi penyakit itu dibawa oleh mikroba penyakit itu. Nabi, dalam kearifannya, memberikan nasehat, seperti yang ditunjukkan riwayat yang kedua, agar menghindari orang sakit, tetapi jangan sampai orang sakit itu tidak mendapat perawatan yang baik; dengan mengucapkan kedua sabda itu Nabi berupaya menghilangkan ketakutan yang berlebihan terhadap penularan yang ada pada zaman pra-islam dengan arif, didasarkan pada pertimbangan rasional.

*  Riwayat yang terkenal karena membuat gempar di kalangan teolog dan para pakar ahli pengobatan, adalah “hadis lalat”: “Dari Abu Hurairah diduga Nabi bersabda:


إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ ، فَإِنَّ فِى أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِى الآخَرِ شِفَاءً وَإِنَّهُ يَتَّقِى بِالْجَنَاحِ الَّذِى فِيهِ الدَّاءُ ، فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ[33]

“Bila lalat jatuh kedalam kendimu, tenggelamkan sepenuhnya terlebih dulu baru dibuang, karena satu sayap membawa obat dan satunya lagi penyakit.”
 
Shidqi mengaku merasa sulit memahami hadis lalat tersebut. Dia tidak dapat menggunakan ta’wil, lagi pula hadis tersebut bertentangan dengan hadis lain yang berbunyi: “Pada suatu ketika Nabi ditanya apa yang harus dilakukan bila seekor tikus jatuh ke dalam mentega, Nabi bersabda: “bila menteganya padat, buanglah tikus itu, dan sisanya dapat kamu makan. Akan tetapi jika menteganya juga mencair, buanglah menteganya dan jangan disentuh.”

Lanjutnya, mengingat tikus dan lalat sangat berbahaya bagi manusia, maka sangat sulit sekali untuk mempercayainya bahwa perkataan seperti ini disabdakan oleh Nabi SAW. bagaimanapun juga, umat Islam tidak perlu hidup dengan berpedoman pada hadis-hadis ahad, khususnya yang berkenaan dengan persoalan duniawi. Itulah kesimpulan yang disampaikan Shidqi. Kemudian ia mengutip hadis Nabi yang berbunyi: “Aku hanyalah manusia, apa yang aku katakan padamu mengenai Allah, adalah benar. Dan apa yang aku katakan padamu atas upaya diriku sendiri, maka ingatlah bahwa diriku hanyalah manusia, aku bisa saja benar dan bisa saja keliru.”[34]

Shiqqi melanjutkan bahwa hadis ini dapat dikesampingkan,mengingat yang meriwayatkannya adalah Abu Hurairah. Beliau menyeleksi hadis negatif dari sumber-sumber negatif. Ia menderita epilepsi yang mempengaruhi otaknya.[35]

Rasyid Ridha Menjawab 
Contoh Makalah Pemikiran Agama Islam di bidang Hadis
 
Ridha membela Abu Hurairah terhadap dugaan-dugaan Shidqi. Dia melihat bahwa Shidqi jelas-jelas berpandangan buruk terhadapnya. Dan karena alasan ini, dia mengumpilkan sedemikian banyak hadis yang dapat memberatkan (membukutikan kesalahan)-nya. Ridha menyatakan bahwa memang Abu Hurairah terkadang mengamuk, tetapi hal itu jarena lapar, bukan karena epilapsi.
 
Tentang hadis lalat, Ridha mengatakan bahwa dirinya menjumpai keganjilan pada hadis tersebut karena dua alasan yaitu:

Melihat hadis itu dari sudut pandang pembuat ubdang-undang (musyari’), hadis itu menginjak-injak dua prinsip utama yakni tidak menasihati agar menghindari sesuatu yang buruk dan tidak menasiahti agar menjauhi hal yang kotor.

Meskipun Ilmu pengetahuan modern telah mengalami kemajuan, namun tidak dapat diketahui apakah ada bedanya antara sayap lalat yang satu dengan yang lainnya. Katanya, jika perawinya tidak salah dalam merangkai kata-katanya, maka hal itu adalah ilham dari Allah dan dapat disimpulkan bahwa sekalipun hadis itu isnadnya shahih, akan tetapi matannya tidak shahih.[36]

Sepatah Kata dari Penulis dan Penutup Contoh Makalah Pemikiran Agama Islam di bidang Hadis

 
Menurut penulis, berkenaan dengan pemikiran Dr. Shidqi yang termuat dalam majalah Al-Manar dengan judul الاسلام هو القران وحده" ". Menunjukan bahwa dia meragukan otentisitas hadis. Dan hal ini sangat membahayakan kedudukan sunnah karena jika hadis tidak otentik, maka secara otomatis, hadis tersebut kehilangan ke-hujjah-annya. Di samping itu, mengenai pendapatnya tentang sunnah qauliyah, ia pun menyangkal hujjiyah ahadits qauliyah yang secara historis tidak benar dan bertentangan dengan persepsi inderawi.

Sebenarnya motif dibelakang gagasan yang Shidqi telorkan (melucuti nilai penting sunnah) itu, tidaklah jauh berbeda dengan kedua seniornya (Abduh dan Ridha), yakni memberikan hantaman mematikan terhadap tradisi taqlid. Shidqi adalah seorang yang sangat progresif. Dia mengakui adanay pengaruh yang sifatnya mengekang yang ditimbulkan oleh berbagai madzhab (yang menurut pandangannya sebagian besar di dasarkan pada sunnah) terhadap perkembangan spiritual kaum Muslim yang berkeinginan untuk menyesuaikan kehidupannya dengan zaman modern.

Secara keseluruhan, sudut pandang Ridha tidak berbeda dengan sudut pandang yang dirumuskan oleh seorang sahabat dekatnya, Muhammad Tawfiq Shidqi ini. Namun Shidqi melangkah terlalu jauh sampai-sampai mengatakan bahwa kaum muslim modern tidak lagi memerlukan seluruh sunnah Nabi . Dia terpaksa harus menarik kembali pandangan ini karena mendapat tekanan dari Ridha, namun demikian, dia mempertahankan hipotesisnya yang menyebutkan bahwa kebanyakan hadis yang tertulis dalam kitab-kitab himpunan hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, haruslah dikaji ulang.

Mungkin hanya ini yang dapat penulis sajikan, penulis sadari bahwa makalah ini masih banyak terdapat kesalahan dan kekeliruan dari berbagai aspeknya dikarenakan keterbatasan penulis. Oleh sebab itu, saran dan kritik konstruktif dari pembaca yang budiman sangatlah penulis harapkan guna penulisan selanjutnya yang lebih baik.

Daftar Pustaka
Adams, C.C. Islam and Modernism in Egypt. London: Library binding, 1933. dalam www.amazon.com diakses pada tanggal 24 Februari 2009.

Ali, Nizar. Hadis vs Sains; Memahami Hadis-Hadis Musykil. Yogyakarta: Teras, 2008.

Al-Qathan, Mana’. Mabahis fi Al-‘Ulum Al-Qur’an. Riyadh: Al-Mansurat Al-‘ashri Al-Hadits, 1973

Al-Qur’an in Word. CD Al-Qur’an Al-Karim, Global Islamic Software, 1991-1997.

CD. ROM Al-Maktabah Al-Syamilah. Al-Lu’lu’ wa Al-Marjan, Bab Bayan Al-Qur’an ‘ala Sab’ah Ahruf. Global Islamic Software, 1991-1997.

________________________. Musnad As-Shohabah fi Al-Kutub At-Tis’ah bab Al-Musnad li Sa’id Al-Khudry. Global Islamic Software, 1991-1997.

________________________. Shahih Muslim,  Bab La ‘Adwa wa La Hammah wa La Naua wa La Shafara, (Global Islamic Software, 1991-1997) Juz XII

Dahlan, M. Y. Al-Barry dan Sofyan Yacub, L. Lya. Kamus Induk Istilah Ilmiah; seri Intelektual. Surabaya: Target Press, 2003.

Damami, M. Iqbal. “Pemikiran Hadis Kontemporer” dalam www.penulis pinggiran.com diakses tanggal 20 Februari 2009

Juynboll, G.H.A. Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), terj. Ilyas Hasan. Bandung: Al-Mizan,1999.

Lutfi Fathullah, Ahmad. “Salafus Shalih versus Khalaf Liberal” , Tabligh, vol. 02/No. 09, April 2004.

Muhammad Ismail, Sa’ban.  Al-Madkhal ila ‘Ilmi Al-Qiraat . Mekah: Maktabah Salim, 2001.

Thahan, Mahmud. Taisir Musthalah Al-Hadis. Jeddah: Al-Haramain, 1985.


[1] Penulis tidak menemukan data maupun informasi (baik buku maupun media internet) yang memuat secara lengkap tentang kehidupannya baik biografi maupun sejarah pendidikannya.

[2] Turrah adalah kota yang terletak dekat Kairo (Mesir), lihat C.C. Adams, Islam and Modernism in Egypt (London: Library binding, 1933), hlm. 40. dalam www.amazon.com diakses pada tanggal 24 Februari 2009. Lihat pula G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), terj. Ilyas Hasan (Bandung: Al-Mizan,1999), hlm. 33. Pada buku ini disebutkan bahwa dia adalah seorang dokter di penjara Turrah. Menurut penulis, dia adalah doktor dalam bidang fisika.

[3] Apolegetik adalah cabang ilmu teologi yang mempelajari tentang pembuktian dan mempertahankan ajaran agama Kristen. Lihat M. Dahlan. Y. Al-Barry dan L. Lya Sofyan Yacub, Kamus Induk Istilah Ilmiah; seri Intelektual (Surabaya: Target Press, 2003), hlm. 55.

[4] Tidak ditemukan keterangan lebih lanjut berkenaan dengan masalah hingga pembacaannya mengenai hal tersebut mempengaruhi pemikirannya. Lihat C.C. Adams, Islam and Modernism in Egypt,  hlm. 40.

[5] Menurut penulis, berangkat dari pengetahuannya tentang ilmu kedokteran tersebut, ia mengkritisi beberapa hadis tentang pengobatan yang dianggapnya ganjil jika dilihat dari sudut pandang ilmu kedokteran modern. Lihat penjelasan selanjutnya.

[6] Yaitu dua abad setelah wafatnya Rasulullah SAW, tepatnya pada masa kekhalifahan Umar bin Abdul Aziz.

[7] Sebagian Mufassirin menafsirkan Al-Kitab itu dengan Lauhul mahfudz dengan arti bahwa nasib semua makhluk itu sudah dituliskan (ditetapkan) dalam Lauhul mahfudz. dan ada pula yang menafsirkannya dengan Al-Quran dengan arti: dalam Al-Quran itu Telah ada pokok-pokok agama, norma-norma, hukum-hukum, hikmah-hikmah dan pimpinan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat, dan kebahagiaan makhluk pada umumnya.  Lihat Al-Qur’an in Word, CD Al-Qur’an Al-Karim, Global Islamic Software, 1991-1997.

[8] Menurut pendapat Jumhur arti qashar di sini ialah: sembahyang yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Mengqashar di sini ada kalanya dengan mengurangi jumlah rakaat dari 4 menjadi 2, yaitu di waktu bepergian dalam keadaan aman dan ada kalanya dengan meringankan rukun-rukun dari yang 2 rakaat itu, yaitu di waktu dalam perjalanan dalam keadaan khauf. dan ada kalanya lagi meringankan rukun-rukun yang 4 rakaat dalam keadaan khauf di waktu hadhar. Lihat Al-Qur’an in Word, CD Al-Qur’an Al-Karim, Global Islamic Software, 1991-1997.

[9] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), terj. Ilyas Hasan (Bandung: Al-Mizan,1999), hlm. 33-34.

[10] Menurut penulis, jangankan pemikiran yang nyleneh, pemikiran yang “lurus-lurus” saja, melahirkan pro dan kontra dari berbagi pihak.

[11] Lahir di Suriah, ia pergi ke Kairo untuk belajar di Universitas al-Azhar. Pada 1939 dia mengikuti kuliah-kuliah ‘Ali Hasan ‘Abdul Qadir tentang sejarah perundang-undangan islam. Sarjana ini pernah belajar di Jerman, dan kembali ke Mesir dengan menyandang gelar doctor dari Jerman untuk mengajar di Al-Azhar. Dia menggunakan studi Goldziher mengenai hadis dalam Muhammadanische Studien. Lihat M. Iqbal Damami, “Pemikiran Hadis Kontemporer” dalam www.penulis pinggiran.com diakses tanggal 20 Februari 2009.

[12]G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 35-36.

[13] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 39.

[14]Q.S. An-Nisa’ (4) ayat 101

[15] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 38.

[16]  Yang dimaksud dengan qualitate qua di sini adalah Nabi Muhammad SAW, dalam jabatannya sebagai Nabi Allah dan Rasulullah (utusan-Nya,  pemimpin agama sekaligus pemimpin Negara dan bukan sebagai diri pribadi). Lihat M. Dahlan. Y. Al-Barry dan L. Lya Sofyan Yacub, Kamus Induk Istilah Ilmiah; seri Intelektual, hlm. 651.

[17] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 37.

[18] Penulis berasumsi bahwa Rasyid Ridha adalah termasuk guru Shidqi karena terdapat informasi bahwa Ridha membimbing Shidqi dalam studinya.

[19] Tidak ada keterangan seperti apakah sanggahan kedua dari Al-Yafi’i

[20] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 41-42.

[21] Pemikiran Rasyid Ridha mengenai سنة عملية و سنة قولية, telah dibahas pada pertemuan sebelumnya.

[22] Secara lengakap redaksi hadis tersebut sbb:

حديث عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عنه، قَالَ: سَمِعْتُ هِشَامَ بْنَ حَكِيمِ بْنِ حِزَامٍ يَقْرَأُ سُورَة الْفُرْقَانِ عَلَى غَيْرِ مَا أَقْرَؤهَا، وَكَانَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم أَقْرَأَنِيهَا، وَكِدْتُ أَنْ أَعْجَلَ عَلَيْهِ، ثُمَّ أَمْهَلْتُهُ حَتَّى انْصَرَفَ، ثُمَّ لَبَّبْتُهُ بِرِدَائِهِ فَجِئْتُ بِهِ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَقُلْتُ إِنِّي سَمِعْتُ هذَا يَقْرَأُ عَلَى غَيْرِ مَا أَقْرَأْتَنِيهَا؛ فَقَالَ لِي: أَرْسِلْهُ ثُمَّ قَالَ لَهُ: اقْرَأْ فَقَرَأَ، قَالَ: هكَذَا أُنْزِلَتْ ثُمَّ قَالَ لِي: اقْرَأْ فَقَرَأْتُ، فَقَالَ: هكَذَا أُنْزِلَتْ، إِنَّ الْقُرْآنَ أُنْزِلَ عَلَى سَبْعَةِ أَحْرُفِ فَاقْرَءُوا مَا تَيَسَّرَ مِنْهُ

(Hadis ini Shahih diriwayatkan oleh Bukhori, Muslim,Imam  Malik, At-Tirmidzi no. 2943, dan Abu Dawud no. 1475). Lihat CD. ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Al-Lu’lu’ wa Al-Marjan Bab Bayan Al-Qur’an ‘ala Sab’ah Ahruf, (Global Islamic Software, 1991-1997) dan Sa’ban Muhammad Ismail, Al-Madkhal ila ‘Ilmi Al-Qiraat (Mekah: Maktabah Salim, 2001), hlm. 9.

[23] Redaksi Lengkapnya sbb:

حَدَّثَنَا هَدَّابُ بْنُ خَالِدٍ الْأَزْدِيُّ حَدَّثَنَا هَمَّامٌ عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ عَنْ عَطَاءِ بْنِ يَسَارٍ عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا تَكْتُبُوا عَنِّي وَمَنْ كَتَبَ عَنِّي غَيْرَ الْقُرْآنِ فَلْيَمْحُهُ وَحَدِّثُوا عَنِّي وَلَا حَرَجَ وَمَنْ كَذَبَ عَلَيَّ قَالَ هَمَّامٌ أَحْسِبُهُ قَالَ مُتَعَمِّدًا فَلْيَتَبَوَّأْ مَقْعَدَهُ مِنْ النَّارِ

Lihat CD. ROM Al-Maktabah Al-Syamilah,Musnad As-Shohabah fi Al-Kutub At-Tis’ah bab Al-Musnad li Sa’id Al-Khudry. Hlm. 449. Lihat pula Mana’ Al-Qathan, Mabahis fi Al-‘Ulum Al-Qur’an ,(Riyadh: Al-Mansurat Al-‘ashri Al-Hadits, 1973), hlm. 10.

[24] Menurut G.H.A. Juynboll, salah satu yang disebutkan Shidqi tidak benar. Bukhari telah memasukan hadis-hadis ke dalam kitah Shahih-nya sekitar 7.397 hadis, dan ketika ia melaukan pengulngan, sebagian dihilangkan sehingga totalnya menjadi 2.762 hadis. Mengenai jumlah 600.000 yang di duga telah dihimpunnya, terdapat perselisihan pendapat di antara ulama’. Lihat  G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 40. Sedangkan menurut Mahmud Thahan, jumlah hadis yang terdapat dalam kitab Shahih Bukhari adalah 7275 dan yang terbuang setelah diadakan penyaringan darinya adalah 4.000 hadis. Jadi, totalnya adalah 3275 hadis. Lihat Mahmud Thahan, Taisir Musthalah Al-Hadis (Jeddah: Al-Haramain, 1985), hlm. 39.

[25] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 38-41.

[26] Ahmad Lutfi Fathullah. “Salafus Shalih versus Khalaf Liberal” , Tabligh, vol. 02/No. 09, April 2004, hlm. 45-46

[27]Ahmad Amin Lahir di Kairo, pada 1878 dan meninggal pada 30 Mei 1954. Pernah menjadi Guru Besar di Universitas Kairo pada 1934-1941. Dia dikenal sebagai sejawaran Islam. Mengenai dirinya dan pemikirannya, akan dibahas pada pertemuan selanjutnya. Lihat M. Iqbal Damami, “Pemikiran Hadis Kontemporer” dalam www.penulis pinggiran.com diakses tanggal 20 Februari 2009.

[28] Muhammad Abu Rayyah adalah murid di Madrasah Ad-Da’wah wa Al-Irsyad  yaitu lembaga dakwah muslim yang didirikan oleh Ridha

[29] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 203.

[30] Nizar Ali, Hadis vs Sains; Memahami Hadis-Hadis Musykil (Yogyakarta: Teras, 2008), hlm. 6

[31] Secara lengakap redaksi hadis tersebut sbb:

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ أَيُّوبَ وَقُتَيْبَةُ وَابْنُ حُجْرٍ قَالُوا حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ - يَعْنُونَ ابْنَ جَعْفَرٍ - عَنِ الْعَلاَءِ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « لاَ عَدْوَى وَلاَ هَامَةَ وَلاَ نَوْءَ وَلاَ صَفَرَ »

CD. ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Shahih Muslim,  Bab La ‘Adwa wa La Hammah wa La Naua wa La Shafara, (Global Islamic Software, 1991-1997) Juz XII, hlm. 32.

[32] Lengkapnya sbb:

لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر ولا نوء ولا غول ولا يورد ممرض على مصح حديث أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، قَالَ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم، قَالَ: لاَ عَدْوَى وَلاَ صَفَرَ وَلاَ هَامَةَ فَقَالَ أَعْرَابِيٌّ: يَا رَسُول اللهِ فَمَا بَالُ إِبِلِي تَكُونُ فِي الرَّمْلِ كَأنَّهَا الظِّبَاءُ، فَيَأْتِي الْبَعِيرُ الأَجْرَبُ فَيَدْخُلُ بَيْنَهَا فَيُجْرِبُهَا فَقَالَ: فَمَنْ أَعْدَى الأَوَّلَ

CD. ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, Al-Lu’lu’ wa Al-Marjan, Bab La ‘Adwa wa La Hammah wa La Naua wa La Shafara,  Juz I, hlm. 695.

[33] Redaksi yang lengkap sbb:

أَخْبَرَنَا أَبُو عَبْدِ اللَّهِ : الْحُسَيْنُ بْنُ عُمَرَ بْنِ بُرْهَانَ وَأَبُو الْحُسَيْنِ بْنُ الْفَضْلِ الْقَطَّانُ بِبَغْدَادَ قَالاَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ مُحَمَّدٍ الصَّفَّارُ حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَرَفَةَ حَدَّثَنَا بِشْرُ بْنُ الْمُفَضَّلِ عَنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَجْلاَنَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى سَعِيدٍ الْمَقْبُرِىِّ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- :« إِذَا وَقَعَ الذُّبَابُ فِى إِنَاءِ أَحَدِكُمْ ، فَإِنَّ فِى أَحَدِ جَنَاحَيْهِ دَاءً وَفِى الآخَرِ شِفَاءً وَإِنَّهُ يَتَّقِى بِالْجَنَاحِ الَّذِى فِيهِ الدَّاءُ ، فَلْيَغْمِسْهُ كُلَّهُ ثُمَّ لِيَنْزِعْهُ ». {ت} وَرَوَاهُ عُمَرُ بْنُ عَلِىٍّ عَنِ ابْنِ عَجْلاَنَ عَنِ الْقَعْقَاعِ عَنْ أَبِى صَالِحٍ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ بِنَحْوِهِ.

CD. ROM Al-Maktabah Al-Syamilah, As-Sunan Al-Kubra lil Baihaqi, bab Ma la Nafs Lahu Sailah, Juz I, hlm. 252.

[34] Setelah penulis cari hadis tentang jatuhnya tikus ke dalam mentega dan tentang prnyataan Nabi sebagai manusia dalam CD. ROM Al-Maktabah Al-Syamilah dan Al-Mausu’ah, penulis tidak mendapatkan keduanya.

[35] Sebenarnya ada tiga poin berkenaan dengan diskusi tentang hadis pengobatan  tersebut, akan tetapi pada poin yang ketiga, Shidqi tidak memberikan komentar tentangnya.G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 204-207. Sebenarnya ada tiga poin berkenaan dengan diskusi tentang hadis pengobatan  tersebut, akan tetapi pada poin yang ketiga, Shidqi tidak memberikan komentar tentangnya.

[36] G.H.A. Juynboll, Kontroversi Hadis di Mesir (1890-1960), hlm. 207.


Demikianlah tulisan Contoh Makalah Pemikiran Agama Islam di bidang Hadis. Mudahan membantu.
 

0 Response to "Contoh Makalah Pemikiran Agama Islam di bidang Hadis "

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!