Contoh Format Susunan Makalah yang baik dan Benar tentang Ilmu Hadis

Advertisement
(Kritik Matan Hadis; Shahih al-Bukhari, Bab Karahiah al-Syarbi Qoiman, Nomor :3775)
Oleh: Salimuddin 07530069 

Sebelum saya membahas tentang contoh sistematika penulisan karya ilmiah yang benar, perlu dipahami bahwa pada dasarnya dalam pembuatan makalah yang baik terdiri dari tiga bab, BAB I Pendahuluan Makalah (latar belakang, rumusan masalah dan tujuan penulisan), BAB II Pembahasan Isi Makalah (berisi teori dan analisis) BAB III Penutup Makalah (kesimpulan dan Saran). Formatnya sepert berikut:

Yang perlu kami tekankan di sini adalah tulisan yang berwarna merah (Kata Pengantar dan Daftar Isi Makalah) adalah elemen yang tidak wajib, namun jika diperlukan maka hal itu tidak mengapa dicantumkan. Hal lain yang menjadi bahan pertimbangan adalah sumber tulisan harus otentik mengutip dari sumber aslinya, jika mengutip dari jurnal maka kutipan tersebut harus mencantumkan sumber jurnal bukan catatan kaki yang terdapat dalam jurnal. 

Sebegian orang juga sembrono dengan Pengutipan sumber makalah padahal hal itu tidak dibenarkan. Semisal ingin mengutip dari buku "seseorang" maka tidak dibenarkan jika mengutip secaca kesluruhan. Kutipan Makalah yang benar diawali dengan pendapat sendiri, lalu kutipan sumber, lalu kesimpulan kutipan (mengikuti pola deduktif) atau bisa sebaliknya.

Beberapa orang juga keliru dalam pembuatan rumusan masalah, Rumusan masalah harus berbentuk pertanyaan. Kata tanya yang biasa digunakan adalah "bagaimanakah", Contoh Bagaimanakah Perkembangan Islam di Indonesia? Rumusan masalah inilah yang nantinya akan di bahas di BAB II.

Selain itu, beberapa orang juga keliru dalam pembuatan kesimpuan. Jika dalam rumusalan masalah ada 3 yang dipertanyakan, maka dalam kesimpulan ada tiga butir yang akan disimpulkan. Sesuai dengan jumlah pertanyaan pada rumusan masalah.

Baca juga Contoh Makalah tentang Pendidikan Islam:
  1. Makalah Ruang Lingkup Ulumul Qur'an
  2. Makalah Kepemimpinan Umar bin Khattab  
  3. Makalah Epistemologi Burhani
  4. Makalah Perkebangan Islam Masa Abbasiyah

BAB I
PENDAHULUAN

A. Rumusan Masalah

Hadis atau sunnah sebagai teks kedua (the second text) setelah al-Qur’an [1] memilki peran dalam kehidupan umat islam sebagai penopang sekaligus pedoman hidup guna mencapai kebahagiaan didunia maupun diakhirat. Namun dalam perannya ini hadis sangatlah tergantung pada matan yang ia kandung, karena bagaimanapun juga umat manusia (umat islam) sebagai umat Nabi Muhammad akan selalu berusaha menyelaraskan diri dengan kandungan teks Hadis Nabi tersebut (matn al-hadis).

Contoh Format Susunan Makalah yang baik dan Benar

Dalam konteks kesejarahan mencatat, penghimpunan hadis yang cukup lama dan adanya kepentingan tertentu, keberadaan hadis sering dijadikan sebagai sebuah penopang akidah dan keyakinan tertentu, hal ini menyebabkan munculnya berbagai versi hadis yang adakalanya memang benar dari Rasulullah (shahih al-isnad wa al-matan) dan ada juga yang semata merupakan buatan orang lain yang dalam istilah Ulum al-Hadis dikenal dengan istilah hadis Maudhu’.[2] Tentunya dengan berbagai variasi yang ada akan memunculkan berbagai pemahaman antara yang satu dengan yang lainnya.

Tak bisa dipungkiri, untuk meneliti lebih jauh terhadap matan sebuah hadis dikenal dengan istilah kritik matan (naqd al-matn),[3] hal ini sangat urgen untuk menetukan sebuah teks hadis yang maqbul dan mardud dan tentunya akan berkelanjutan sebagai hujjah dalam agama islam.

Adalah tulisan ini bertujuan menelisik lebih jauh lewat metode kritik matan dan membaca sekilas teks hadis hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dalam shahih al-bukhari, kitab al-asyribah bab Karahiah al-Syarbi Qoiman, nomor :3775 serta penulis memaparkan bagaimana hadis diatas dipahami dengan konteks sekarang yang tentunya berbeda dengan kondisi ketika Rasulullah masih hidup.

Latar Belakang atau Pengantar makalah berisi tentang fakta yang ditemukan dilapangan berbeda dengan teori yang ada sehingga terdapat sebuah masalah yang harus dipecahkan

BAB II
PEMBAHASAN 

1. Objek Kajian Hadis

Hadis yang menjadi objek penelitian adalah sabda Rasulullah SAW yang membicarakan mengenai tata cara seseorang dalam minum, yakni salah satunya adalah tidak boleh minum dalam keadaan berdiri. Hadis mengenai hal tersebut salah satunya terdapat dalam riwayat muslim dalam kitab Al-Asyribah pada Bab Karahiah al-Syarbi Qoiman, nomor :3775:

حَدَّثَنِي عَبْدُ الْجَبَّارِ بْنُ الْعَلَاءِ حَدَّثَنَا مَرْوَانُ يَعْنِي الْفَزَارِيَّ حَدَّثَنَا عُمَرُ بْنُ حَمْزَةَ أَخْبَرَنِي أَبُو غَطَفَانَ الْمُرِّيُّ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ يَقُولُا قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا فَمَنْ نَسِيَ فَلْيَسْتَقِئْ

Artinya: Abdul jabbar ibn al ‘Ala’ menceritakan kepadaku, Marwan yakni Al-Fazariyy menceritakan kepada kami, Umar ibnu Hamzah, menceritakan kepada kami, Abu Gathfan al-Muriyyu bahwa sanya Ia mendengar Abu Hurairah berkata; Rasulullah SA bersabda janganlah kalian minum dengan cara berdir, maka barang siapa yang lupa maka muntahkanlah[4] (HR.Al-Bukhari)

2. Deskripsi Syarah Hadis; Sebuah pemahaman

Secara literal hadis diatas menyatakan ketidakbolehan atas minum dalam keadaan berdiri, seperti ini dianut oleh Ibnu Hazm sebagaimana yang diterangkan oleh Abu Abdullah Abdussalam Allusyi dalam kitab Ibanah al-Ahkam lisyarhi bulugul Maram,[5] namun Imam Nawawi Dalam memahami hadis diatas, dalam kitabnya Shahih Muslim Bi al-Syarhi al-Nawawi menjelaskan bahwa bahwa minum sambil berdiri itu diperbolehkan meskipun yang lebih baik adalah minum sambil duduk. Lanjut menurut Nawawi bahwa larangan tersebut bermakna Makruh Tanzih (makruh mendekati mubah). Ada pun minumnya Rasulullah SAW secara berdiri merupakan penjelasan atas kebolehannya.[6]

Pendapat Imam Nawawi ini diamini oleh Syaikh Utsaimin dalam Syarah Riyadhus Shalihin, beliau mengatakan, “Yang lebih utama saat makan dan minum adalah sambil duduk karena hal ini merupakan kebiasaan Nabi Saw, beliau tidak makan sambil berdiri demikian juga tidak minum sambil berdiri.[7] Senada dengan Imam Nawawi, al-syafi’i juga berpendapat bahwa pengharaman minum sambil berdiri dalam hadis diatas tidak dihukumi haram muthlak, namun menurutnya minum sambil berdiri termasuk kategori khilaful aula (menyalahi keutamaan).[8]

Berbeda dengan ulama diatas, Ibnu Qutaibah dalam kitab Ta’wil Mukhtalaf al-Hadis dalam menyikapi hadis pelarangan diatas menurutnya bahwa Rasulullah melarang minum dalam keadaan berjalan dalam artian seseorang ketika makan haruslah dalam keadaan tenang dan tidak dibolehkan minum atau makan dalam keadaan tergesa-gesa, karena akan menyebabkan dada tersedak.[9]

Sedangkan kalimat فَلْيَسْتَقِئْ yang dimaknai memerintahkan untuk memuntahkan air (yang diminum) jika sesorang lupa, menurut jumhur ulama dalam menyikapi amr perintah ini, bukanlah lilijabah atau wajib memuntahkan air tersebut melainkan amr disini bermakna li an-nadb atau sunnah. Jadi ketika sesorang minum dalam keadaan berdiri teks hadis ini tidak serta merta harus diaplikasi atau harus memuntahkan air yang sudah ditelan melainkan konteks ketika ia minum perlu ditilik kembali.[10]

4. Hadis Ditinjau dari Susunan Lafadz Berbagai macam Matan yang setema.

Terdapat beberapa hadis yang sama-sama membicarakan mengenai tatacara Rasulullah minum dan sekaligus hadis yang merupakan sabda beliau secara langsung (respon) mengenai minum sambil berdiri, namun dalam proses takhrij didapat secara redaksi bertentangan. Dan kesemuanya terekam dalam data berikutlangsung dengan mukharrijnya:

a. Redaksi Hadis yang Melarang Minum sambil Berdiri

Riwayat Muslim:

حدثنا محمد بن المثنى حدثنا عبدالأعلى حدثنا سعيد عن قتادة عن أنس : عن النبي صلى الله عليه و سلم أنه نهى أن يشرب الرجل قائما قال قتادة فقلنا فالأكل ؟ فقال ذاك أشر أو أخبث[11]

حدثنا هداب بن خالد حدثنا همام حدثنا قتادة عن أنس : أن النبي صلى الله عليه و سلم زجر عن الشرب قائما[12]

Riwayat Abu Daud:


حَدَّثَنَا مُسْلِمُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ حَدَّثَنَا هِشَامٌ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا.[13]

Riwayat Tarmizi:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ بَشَّارٍ حَدَّثَنَا ابْنُ أَبِى عَدِىٍّ عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِى عَرُوبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَنْ يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِمًا. فَقِيلَ الأَكْلُ قَالَ ذَاكَ أَشَدُّ. قَالَ أَبُو عِيسَى هَذَا حَدِيثٌ حَسَنٌ صَحِيحٌ.[14]

Riwayat Ahmad:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنِى أَبِى حَدَّثَنَا وَكِيعٌ حَدَّثَنَا الدَّسْتَوَائِىُّ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى أَن يَشْرَبَ الرَّجُلُ قَائِماً.[15]

حَدَّثَنَا عَفَّانُ ، حَدَّثَنَا هَمَّامٌ ، حَدَّثَنَا قَتَادَةُ ، عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ : أَنَّ نَبِيَّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ زَجَرَ عَنِ الشُّرْبِ قَائِمًا ، قَالَ : فَقُلْتُ : فَالأَكْلُ ، قَالَ : أَشَرُّ وَأَخْبَثُ[16]

b. Redaksi Hadis yang Membolehkan Minum sambil Berdiri:

Riwayat al-Bukhari,

حدثنا محمد هو ابن سلام أخبرنا الفزاري عن عاصم عن الشعبي أن ابن عباس رضي الله عنه حدثه قال : سقيت رسول الله صلى الله عليه و سلم من زمزم فشرب وهو قائم . قال عاصم فحلف عكرمة ما كان يومئذ إلا على بعير[17]

حدثنا أبو نعيم حدثنا مسعر عن عبد الملك بن ميسرة عن النزال قال : أتي علي رضي الله عنه على باب الرحبة بماء فشرب قائما فقال إن ناسا يكره أحدهم أن يشرب وهو قائم وإني رأيت النبي صلى الله عليه و سلم فعل كما رأيتموني فعلت[18]

Riwayat Ahmad:

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ حَدَّثَنَا أَبُو عُبَيْدَةَ بْنُ فُضَيْلِ بْنِ عِيَاضٍ - وَقَالَ لِى هُوَ اسْمِى وَكُنْيَتِى - حَدَّثَنَا مَالِكُ بْنُ سُعَيْرٍ - يَعْنِى ابْنَ الْخِمْسِ - حَدَّثَنَا فُرَاتُ بْنُ أَحْنَفَ حَدَّثَنَا أَبِى عَنْ رِبْعِىِّ بْنِ حِرَاشٍ أَنَّ عَلِىَّ بْنَ أَبِى طَالِبٍ قَامَ خَطِيباً فِى الرَّحَبَةِ فَحَمِدَ اللَّهَ وَأَثْنَى عَلَيْهِ ثُمَّ قَالَ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَقُولَ ثُمَّ دَعَا بِكُوزٍ مِنْ مَاءٍ فَتَمَضْمَضَ مِنْهُ وَتَمَسَّحَ وَشَرِبَ فَضْلَ كُوزِهِ وَهُوَ قَائِمٌ ثُمَّ قَالَ بَلَغَنِى أَنَّ الرَّجُلَ مِنْكُمْ يَكْرَهُ أَنْ يَشْرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ وَهَذَا وُضُوءُ مَنْ لَمْ يُحْدِثْ وَرَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَعَلَ هَكَذَا[19]

Dari kesemua redaksi hadis diatas, yang pertama masing-masing menggunakan varian yang berbeda namun tidak menimbulkan implikasi pemahaman yang berebeda jauh, dari kata Naha, Zajara, dan dengan memakai huruf La Nafiyah ini semua dimaksudkan pelarangan akan minum sambil berdiri. Berbeda dengan varian-varian dari redaksi hadis kedua yang membolehkan minum sambil berdiri, hadis-hadis ini kesemuanya menceritakan perilaku Nabi ketika Beliau juga minum kadang duduk dilain kesempatan juga kadang berdiri.

5. Hadis Ditinjau dari Kandungan Matan

Kebutuhan umat Islam terhadap hadis (sunnah) sebagai sumber ajaran agama terpusat pada substansi doktrinal yang tersusun secara verbal dalam komposisi teks (redaksi) matan hadis. Target akhir dalam pengkajian hadis sesungguhnya terarah pada matan tersebut, sedang yang lain (sanad, lambing perekat rawi, kitab yang menoleksi ) berkedudukan sebagai perangkat dalam proses pengutipan, pemeliharaan taks dan kritiknya.[20] Matan hadis yang selanjutnya akan menjadi ‘kunci’ utama dalam pemahaman suatu hadis haruslah teruji akan validitasnya baik dari segi sanad dan matan, minimal Ia matan tersebut bernilai hasan.

Contoh Format Susunan Makalah yang baik dan Benar tentang Ilmu Hadis


Kemudian, dalam teorinya suatu hadis bisa di ‘justifikasi’ akan keshahihannya haruslah memenuhi syarat dan ketentuan-ketentuan tertentu yang ditilik dari sanadnya dan redaksinya, terkhususkan untuk penelitian matan (redaksi), Ulama’ hadis (muhaddisin) ataupun para kritikus hadis, dalam menguji dan menganalisanya memiliki tolak ukur yang berbeda-beda, diantara tolak ukur tersebut sebagaimana yang diungkapkan Salahuddin al-Adabi bahwa secara umum tolak ukur dalam kajian kritik matan terbagi dalam empat kategori antara lain :

a. Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an,
b. Tidak bertentangan dengan hadis mutawatir atau hadis ahad yang statusnya lebih kuat,
c. Tidak bertentangan dengan akal sehat, indera, serta fakta sejarah atau sirah nabawiyah yang sahih, dan 
d. susunan pernyataan (teks hadis) menujukkan ciri-ciri sabda kenabian.[21]

Dalam pembahasan ini penulis akan menguji segi keshahihan matan dengan metode yang ditawarkan Salahudin al-Adlabi diatas.

a. Tidak bertentangan dengan petunjuk al-Qur’an

Bila hadis telah memperoleh penliaian maqbul dan diterima kehujjahannya , namun konsep yang dikandung diduga bahkan berlawanan dengan petunjuk al-Qur’an atau sharih al-Qur’an, yakni dalalah yang muhkam, maka rumusan konsep hadis harus berpihak kepada eksplisitas al-Qur’an yang notabenenya sudah qath’i. Berbeda halnya bila antara konsep yang berasumsi kontroversial itu sama-sama berasal dari ugkapan hadis dan ayat-ayat berdalalah zhanni karena unsure-unsur mutasyabih (metaforis), bangunan konsep seyogyanaya diarahkan kepada ta’wil (interpretasi alegoris).[22]

Pada prinsipnya, hadis yang berfungsi sebagai al-bayan (penjelas), menjelaskan yang mubham, merinci yang mujmal membatasi yang muthlaq, menghususkan yang umum, menguraikan hukum-hukum yang dan tujuan-tujuannya, disamping menjelaskan hukum-hukum yang secara eksplisit belum tertera dijelaskan dalam al-Qur’an.[23] Dengan demikian dapat dikatakan hadis merupakan tuntunan praktis untuk menjalankan apa yang dikandungi al-Qur’an dan merupakan suatu bentuk praktik yang mengambil bentuk pengejawantahan yang beragam terkadang merupakan amal yang muncul dari Rasulullah (sunnah fi’liyah), terkadang merupakan perkataan yang Beliau sabdakan pada suatu kesempatan (sunnah Qauliyah) dan terkadang merupakan tanda persetujuan dari Nabi Saw (taqririyah).[24] Al-Qur’an dan hadis secara substansial tidaklah berbeda akan kandungannya, namun jikalau terdapat hadis dari redaksi pelafalan ‘dianggap’ kontradiksi, ini perlu ditinjau ulang akan makna dan ungkapan hadis tersebut.

Mengenai pembahasan hadis diatas, dalam al-Qur’an, secara literal tidak ditemukan ayat-ayat yang menguraikan secara eksplisit tentang diharamkannya umat Islam minum sambil berdiri, namun sebagai pedoman hukum, lebih jauh al-Qur’an telah menggambarkan bagaimana seorang muslim dalam ber ‘tatacara’ dalam lingkaran makan dan minum. dalam al-Qur’an terdapat anjuran sekaligus tekanan kepada umat islam untuk memilki etika ketika makan dan minum. dalam al-Qur’an Allah berfirman:

Artinya: Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.[25]

Ayat diatas paling tidak menekan kepada dua aspek tekanan dan ataupun anjuran yakni pertama; memakai pakaian yang indah setiap mamasuki masjid minimal dalam bentuk menutup aurat karena membukanya adalah satu etika yang buruk (al-akhlaq al-mazmumah), baik itu masjid dalam artian bangunan husus ataupun masjid dalam artian secara luas yakni persada bumi ini.[26] Yang kedua, mengajarkan dalam beretika makan dan minum yakni dengan tidak berlebih-lebihan. Allah Swt membenci dari hambanya yang suka berlebih-lebihan dalam hal apapun, ibadah maupun hususnya makan dan minum karena selain berdampak pada ‘ketidaksukaan Allah’ juga berlebih-lebihan secara tidak wajar juga akan berdampak pada kesehatan badan dan sebagainya.

Selanjutnya, mengenai matan hadis diatas yang menguraikan ‘ketidak bolehannya’ seseorang dalam minum berdiri, memang secara sepintas kedua teks ini tidak berkesinambungan satu sama lain namun paling tidak kedua teks tersebut sama-sama memperhatikan etika manusia baik secara substansial maupun prinsipilnya, akhlak, maupun kadar makan dan minumannya.

Kemudian, lebih lanjut, kata al-Musrif diatas dimaknai dengan sikap manusia yang berlebih-lebihan baik itu dalam ranah rizki ibadah dan yang lainnya. Namun dalam mendefinisikan kata al-musrif berbeda dengan tabdzir, al-Musrif menunjukkan makna kepada aspek kwalitas sementara al-tabdzir menunjukkan makna pada aspek kwantitas, namun pembicaraan mengenai al-musrif dan variannya secara luas adalah merupakan kajian dari ilmu tafsir dan disiplin lainnya.

Singkat menurut penulis, dengan melihat korelasi antar kedua teks diatas, dapat disimpulkan antara al-Qur’an dan hadis ini memiliki semangat yang tersirat untuk memuliakan kepribadian manusia umumnya dan umat Islam husunya.

b. Tidak bertentangan dengan Hadis yang lebih kuat

Hadis yang membicarakan tentang larangan memminum sambil berdiri ini dari segi matan terdapat kejanggalan atau kontradiksi dengan hadis-hadis setema yang lain yang statusnya lebih kuat, sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, Imam Muslim, Imam Ahmad, dari Ibnu Abbas misalnya yang menceritakan bahwa Ia sendiri melihat Rasulullah Saw sendiri minum air zam zam sambil berdiri, dengan redaksi hadis sebagai berikut:

وَحَدَّثَنَا أَبُو كَامِلٍ الْجَحْدَرِىُّ حَدَّثَنَا أَبُو عَوَانَةَ عَنْ عَاصِمٍ عَنِ الشَّعْبِىِّ عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ سَقَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- مِنْ زَمْزَمَ فَشَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ.[27]

Dalam pandangan Salahuddin al-Adlabi, jika terdapat suatu hadis yang kandungannya bertentangan dengan hadis yang lain, yang kesemuanya merupakan hadis marfu’ maka ada dua syarat untuk bisa menolak salah satu dari hadis tersebut yakni: pertama; tidak ada kemungkinan memadukan (al-Jam’u), dan yang kedua; hadis yang dijadikan sebagai dasar untuk menolak hadis lain yang bertentangan haruslah berstatus mutawwattir[28]

Lebih lanjut dalam menyelesaikan hadis-hadis yang secara zahirnya kelihatan kontradiksi, menurut Yusuf al-Qardhawi ada beberapa metode alternatif yang dipakai para ulama’ diantaranya sebagaimana: al-jam’u wa al-Tawfiq, Nasikh Mansukh, tarjih wa al-marjuh, dan Tawaqquf.[29] Namun dalam menyelesakan hadis ini juga tidak lepas dari silang pendapat dari kalangan ulama hadis ataupun ulama fiqih.

Tarjih, yakni hadits-hadits yang membolehkan lebih kuat dari yang melarang. Sebagian ulama’ dari mazhab Malik mengatakan bahwa hadits-hadits yang melarang minum sambil berdiri adalah hadits yang marjuh, yaitu hadits yang dhaif derajatnya. Bahkan sebagian lain mengatakan bahwa hadits-hadits itu sudah dihapus hukumnya.

Jam’u wa al tawfiq (mengkompromikan antara hadis yang melarang dengan yang membolehkan). Metode penyelesaian dengan konsep al-Jam’u ini dimaksudkan untuk menemukan solusi dari permasalahan suatu teks hadis yang secara zohir kelihatan kontradiksi namun sebenarnya kedua teks hadis memilki kandungan yang sama. Dalam artian dengan memakai metode penyelesaian ini kedua hadis yang tampak bertentangan tetap dipakai tanpa menggugurkan hukum yang terdapat dalam salah satu dari kedua hadis, namun dilihat sesuai dengan konteksnya masing-masing.[30]

Kemudian menanggapi kontradiksi redaksi hadis ini, jumhur ulama mengambil jalan penyelesaian dengan metode al-jam’u, yakni dengan maksud hadits-hadits yang melarang menunjukkan makruh tanzih, atau irsyad atau saat tidak ada ‘udzur artinya makan dan minum sambil berdiri boleh dilakukan tapi lebih utama ditinggalkan, dengan pernyataan lain, minum sambil berdiri boleh boleh saja dilakukan jika ada ‘udzur seperti tidak adanya tempat duduk, tempat penuh dan dalam keadaan sesak.[31]

c. Tidak bertentangan dengan Akal Sehat dan Fakta Sejarah

Kepedulian muhaddisin terhadap terhadap potensi akal (penalaran) guna menilai kebenaran hadis dari segi substansi doktrin yang didukungnya, menurut Ibn Hatim al-Razi (w.327 H) terpusat pada target penentuan apakah isi ungkapan matan hadis itu layak untuk disebut sebagai pernyataan pemegang otoritas nubuwah.[32]penalaran akal dalam lingkup tradisi kritik matan muhadditsin bukan penalaran bebas nilai sebagaimana pandangan Mu’tazilah yang mnegakui potensi akal secara mandiri hingga mampu menilai baik buruk perbuatan namun penalaran yang dimaksud adalah selaras dengan al-Qur’an, sunnah mutawatir, ijma’ ulama’, fakta sejarah, dan pengamatan atas sunnatullah, pengamatan substansi doktrin matan hadis mengarah kepada suatu yang munkar, musthil atau tidak logis.[33]

Kemudian, dalam memahami sekaligus memaknai hadis diatas (pokok kajian), terasa ada yang ‘janggal’ dalam redaksi matan nya ketika sesorang harus memuntahkan kembali minuman yang tertelan disebabkan karena minumnya dilakukan sambil berdiri. Namun disini harus dipahami antara illat dan hikmah ketika Rasul memverbalkan hadis tersebut dengan kata lain apa hikmah dan tujuan dari ‘pelarangan’ berdiri tersebut ??.

Dalam Ilmu Biologi dikenal dalam tubuh manusia terdapat semacam saringan sfringer atau suatu struktur maskuler yang berotot disebutkan alat ini akan terbuka jika dalam posisi duduk, jadi, singkatnya kalo kita minum berdiri, tentu air yang diminum langsung masuk ke kantung kemih tanpa ada proses penyaringan atau tanpa melalui pos-pos penyaringan yang berada di ginjal, sedangkan air yang diminum tidak 100 persen bersih (dalam skala molekuler) akibatnya limbahnya mengalami pengendapan di kandung kemih yang bisa menimbulkan penyakit kristal ginjal.[34]

Menanggapi hal ini Menurut Ibnul Qoyyim, salah satu efek buruk jika seseorang minum sambil berdiri, maka tidak dapat memberikan kesegaran pada tubuh secara optimal, karena air yang masuk akan cepat turun ke organ tubuh bagian bawah. Sedangkan air yang dikonsumsi seharusnya ditampung dulu dalam maiddah (lambung) yang nantinya akan dipompa oleh jantung untuk disalurkan keseluruh organ-organ tubuh manusia.

Maka dengan minum sambil berdiri ini akan mengakibatkan air tidak bisa menyebar ke organ-organ tubuh yang lain, sedangkan tulang-tulang dalam tubuh kita mengandung sekaligus membutuhkan air minimal tiga puluh sampai empat puluh persen, sebagian besar darah terdiri dari air dimana terdapat larutan bahan-bahan selain sel-sel darah. Akibatnya bilamana pembuangan air dari dalam tubuh lebih besar daripada pemasukannya, akan terjadi dehidrasi tubuh.

Begitu juga kadar air dalam jaringan tubuh setiap manusia itu diatur dengan tepat. Jika terdapat selisih sepuluh persen saja maka gejala-gejala serius akan timbul dan menurut ulama pakar Biologi jika selisih ini mencapai dua melebihi sepuluh persen maka ditakutkan orangnya akan mengalami penyakit berbahaya.

d. Redaksi Hadis menunjukkan Ciri-ciri Sabda Kenabian

Nabi Muhammad Saw. adalah sosok manusia yang dilahirkan dalam keadaan sempurna, baik dari sikap, tutur kata, pergaulan sesama baik intern umat beragama maupun antar umat beragama, dengan segala kesempurnaan yang dimiliki inilah Beliau diabadikan dalam al-Qur’an sebagai Suri Tauladan bagi umat islam, Allah berfirman: yang artinya: Sesungguhnya Telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.[35]

Pemahaman dan penelitian dalam ranah bahasa kenabian memang sulit dilakukan, karena hal ini bagaimanapun juga harus tilik lewat kajian linguistik, namun secara umum yang dimaksudkan dengan ciri-ciri sabda kenabian adalah isi ungkapan matan hadis itu layak untuk disebut sebagai pernyataan pemegang otoritas Nubuwah. Dengan redaksi lain bahwa susunan teks hadis dari segi kebahasaan tidak terdapat kejanggalan baik dari sisi pemaknaan ataupun pelafalan, dan dapat dinyatakan bahwa hadis tersebut memang benar-benar berasal dari Nabi sendiri sehingga tidak akan menimbulkan kesan hadis yang dikaji adalah hadis hasil dari pemalsuan semata (maudhu’) ataupun hanya qaul ulama terdahulu.[36]

Berkenaan dengan hadis yang menjadi pokok kajian disini, Nabi mengawali ungkapan hadis larangannya dengan menggunakan huruf La nafiyah لَا يَشْرَبَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ قَائِمًا yang berarti janganlah diantara kamu sekali kali minum sambil berdiri. dalam teks-teks hadis bukan hal yang langka dan aneh ketika Rasul bersabda dengan menggunakan huruf La nafiyah dalam hal pelarangan sebagaimana teks dalam hadis ini.

Dengan demikian dari hadis ini Rasulullah Saw. dalam memberikan teladan bagi umatnya terutama masalah adab ketika sesorang sedang makan ataupun minum, yakni sebaiknya dengan duduk atau dalam keadaan tenang, karena dengan hal ini akan mempermudah jalannya air dalam pencernaan dalam tubuh manusia dan lebih dari itu tentunya akan lebih menjaga kepada efektifitas kesehatan manusia.

Pada pembahasan makalah, format yang seharusnya diperhatikan adalah pertama pengertian, lalu teori kamudian analisis masalah. Jika makalah  yang dibuat adalah analisi tokoh dan pemikirannya maka mencantumkan biografi tokoh diawal pembahasan sangat dianjurkan.

BAB III 
PENUTUP

A. Penutup

Hadis yang menggambarkan pernyataan Nabi mengenai ‘tidak boleh minum dalam keadaan berdiri’ ini mendapatkan ‘apresiasi’ pemaknaan dari berbagai kalangan ulama’ baik muhadditsin maupun fuqaha’. Dalam memaknai hadis ‘pelarangan’ diatas, An-Nawawi dan ulama’ yang lainnya menilainya dengan istilah Makruh Tanzih (makruh yang mendekati kemubahan) dan As-Syafi’i dengan Istilahnya Khilaf al-Aula (menyalahi keutamaan) Meskipun dengan istilah yang berbeda namun pada intinya masih membolehkan minum dalam keadaan berdiri, -dengan catatan- dalam konteks dan keadaan tertentu.

Berdasarkan tolak ukur kritik matan tawaran Salahuddin al-Adabi diatas, menurut penulis matan hadis yang menjadi objek kajian mengenai etika minum ini tidak ditemukan adanya pertentangan kandungan matannya dengan tiga pengujian diatas, al-Qur’an, akal sehat dan fakta senamujarah, serta pengujian dari sisi bahasa atau sabda kenabian namun tidak dapat dipungkiri hadis ini mendapat pertentangan dengan hadis yang tingkat kwalitasnya lebih tinggi namun dalam konteks yang berbeda

Dengan ini matan dalam hadis riwayat Abu Hurairah diatas, penulis berkesimpulan dapat diterima atau maqbul, dan berstatus Shahih al-Matn.

Daftar Pustaka

AL-Qur’an dan Terjemahannya

Mustaqim, Abdul Paradigma Interkoneksi Dalam Memahami Hadits Nabi (Pendekatan Historis, Sosiologis dan Antropologis, Yogyakarta: Bidang Akademik. 2008

Suryadi dkk dalam Metodologi Penelitian Hadis, Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.2006

Suryadi, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi, Yogyakarta:Teras.2008

Mustafa Ya’qub, Ali. dalam Kata Pengantar Kritik Matan Hadis Versi Muhaddisin dan Fuqqaha, Yogyakarta:Teras.2004

Abdussalam , Abi Abdullah, Ibanatul Ahkam Syarhi Bulugul Maram, Beirut: Dar al-Fikr. 2004

al-Kahlani, Muhammad bin Isma’il, Subulussalam, Semarang: Taha Putera

Ibnu Qutaibah, Ta’wil Mukhtalaf al-Hadis Terj Ahmad Muzayyin, Jakarta: al-Ghuraba Anggota IKAPI. 2008

Nawawi Syarhi Nawawi ‘Ala Muslim DVD Maktabah al-Syamilah

Muhammad bin muhammad bin musthafa al-‘imadi, ‘Awn al-Ma’bud dalam DVD Maktabah al-Syamilah

Muslim bin al-Hajjaj, Shahih Muslim CD ROM Mausu’ah hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.

Abu Daud, Sunan ABi Daud CD ROM Mausu’ah hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.

Tarmizi , Sunan Tarmizi CD ROM Mausu’ah hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.

al-Bukhari, Muhammad bi Ismail, Shahih al-Bukhari, CD ROM Mausu’ah hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.

Ahmad bin Hanbal, Musnad Ahmad, CD ROM Mausu’ah hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.

Ismail, M.Syuhudi, Metodologi Penelitian Hadis Nabi, Jakarta: Bulan Bintang. 1992

al-Adlabi, Salahuddin Metode Kritik Matan Hadis Terj Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq, Jakarta: Media Pratama. 2004)

Fachrurrahman, Ikhtisar Musthalahul Hadits, Bandung: PT Alma’arif. 1974

al-Qarni, Aidh. Memahami Semangat Zaman terj Abad Badruzzaman Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.2006

al-Khatib, Muhammad Ajjaj. ushul al-Hadis Ushul Al-hadis Terj; Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq. (Jakarta: gaya media Pratama, 2007) cetakan ke 4

http://pikiran_rakyat.or.id/indeks.php?option.com_content@tasks=itemid=2 diakses pada tanggal 17 november 2009

Catatan Kaki

[1] Secara epistemologis, hadits dipandang oleh mayoritas umat Islam sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah al-Qur’an. Sebab ia merupakan bayân (penjelasan) terhadap ayat-ayat al-Qur’an yang masih mujmal (global), ‘âmm (umum) dan mutlaq (tanpa batasan). Bahkan secara mandiri, hadits dapat berfungsi sebagai penetap (muqarrir) suatu hukum yang belum ditetapkan oleh al-Qur’an. Baca Abdul Mustaqiem, Paradigma Interkoneksi Dalam Memahami Hadits Nabi (Pendekatan Historis, Sosiologis dan Antropologis (Yogyakarta: Bidang Akademik 2008) hlm 2

[2] Lebih jelasnya,lihat berbagai kitab hadis diantaranya, Suryadi dkk dalam Metodologi Penelitian Hadis (Yogyakarta: Pokja Akademik UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.2006) hlm 141

[3] Dalam sejarahnya kritik matan hadis lahir lebih awal daripada kritik sanad (naqd sanad), kritik matan ini sudah ada sejak masa Nabi, sementara kritik sanad baru muncul sesudah terjadi fitnah dikalangan umat islam, yaitu perpecahan dikalangan mereka menyusul terbunuhnya khalifah Utsman bin Affan pada tahun 35 H. sejak itulah setiap orang yang menyampaikan hadis akan ditanya darimana sumber hadis yang mereka bawa, apabila hadis berasal dari ahl-sunnah maka hadis tersebut diterima sebagai hujjah dalam agama islam, namun bila berasal dari ahl-bid’ah maka dengan otomatis hadis tersebut ditolak sebagai hujjah dalam islam. Lihat Ali Mustafa Ya’qub dalam Kata Pengantar Kritik Matan Hadis Versi Muhaddisin dan Fuqqaha (Yogyakarta:Teras.2004)hlm…x

[4] Hadis Riwayat Imam Muslim, kitab Al-Asyribah pada Bab Karahiah al-Syarbi Qoiman, nomor :3775 dalam CD ROM Mausu’ah hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997. Lihat; Shahih Muslim Bab Karahiah al-Syarbi Qoiman, nomor 5398 dalam al-Maktabah al-Syamilah, jilid 6 halaman 110 dan jilid 13 halaman 317, setelah ditakhrij, hadis ini juga dapat dilihat dalam Hadis Riwayat Imam Ahmad bin Hanbal “Kitab Baqi Musnad Al-Mukatstsirin, bab Baqi Musnad Al-Sabiq, nomor 7985. dalam CD ROM Mausu’ah hadis al-Syarif, Global Islamic Software, 1991-1997.

[5] Abi Abdullah Abdussalam, Ibanatul Ahkam Syarhi Bulugul Maram (Beirut: Dar al-Fikr 2004) hlm 334, lihat juga Muhammad bin Isma’il al-Kahlani, Subulussalam (Semarang: Taha Putera) hlm 156-157

[6] Nawawi Syarhi Nawawi ‘Ala Muslim bab Karahiah al-Syarbi Qoiman dalam DVD Maktabah al-Syamilah juz 7 hlaman 62

[7] Muhammad bin muhammad bin musthafa al-‘imadi, ‘Awn al-Ma’bud dalam DVD Maktabah al-Syamilah juz 8 hlm 219, lihat juga Nawawi Shahih Muslim Bi al-Syarhi al-Nawawi dalam CD Mausu’ah Hadis al-Syarif , Global Islamic Software, 1991-1997 juz

[8] Buka, Raudhatuttalibin jilid 7 halaman 340 dan kitab lainnya seperti Mughni Al-Muhtaj jilid halaman 250

[9] Ibnu Qutaibah, Ta’wil Mukhtalaf al-Hadis Terj Ahmad Muzayyin, (Jakarta: Anggota IKAPI), cetakan I hlm 259.

[10] Muhammad bin Isma’il al-Kahlani, Subulussalam (Semarang: Taha Putera) hlm 156-157

[11] Hadis Riwayat Muslim, Shahih Muslim, Bab karahiyah al-syarbi qaiman djuz 3 hlm 1600, dalam DVD ROM Maktabah al-Syamilah juz 6 hlm 110.

[12] Hadis Riwayat Muslim, Shahih Muslim, Bab karahiyah al-syarbi qaiman djuz 3 hlm 1600, dalam DVD ROM Maktabah al-Syamilah juz 3 hlm 1600

[13] Hadis riwayat Abu Daud Sunan ABi Daud Bab fi syarbi qaiman, dalam DVD ROM Maktabah al Syamilah juz 11, hlm 136. Juz 2 hlm 362

[14] Hadis Riwayat Tarmizi, Sunan Tarmizi, Bab Nahyu ‘An Syarbi Qaiman,dalam DVD ROM Maktabah al Syamilah Juz 7 Hlm 306,

[15] Hadis Riwayat Ahmad Musnad Ahmad, Bab musnad Ahmad bin Malik, dalam DVD ROM Maktabah al Syamilah juz 26 hlm 47.

[16] Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad Bab Mujallad al-Tsalits dalam DVD ROM Maktabah al Syamilah juz 3 hlm 250.

[17] Hadis Riwayat al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Bab ma jaa fi zam zama, dalam DVD ROM Maktabah al Syamilah juz 2 hlm 590, hadis semakna juga terdapat dalam Bab Ma ja’a fi zam zama juz 6 hlm 247. Shahih Muslim, Bab fi Syarbi Min Zam zami Qaiman juz 3 hlm 1601, Riwayat Ahmad, Bab Musnad Abdullah bin Abbas juz 9 hlm 185, Hadis al-Abbas juz 1 hlm 287, Hadis al-Abbas juz 1 hlm 369. dalam DVD ROM Maktabah al Syamilah Solo: Pustaka Ridwana. 2007.

[18] Hadis Riwayat al-Bukhari Shahih al-Bukhari, Bab al-syarbu Qaiman dalam DVD ROM Maktabah al Syamilah juz 5 hlm 2130

[19] Hadis Riwayat Ahmad, Musnad Ahmad, Bab Musnad Ali bin Abi Thalib juz 2 hlm 314 dalam DVD ROM Maktabah al Syamilah

[20] Hasyim Abbas, Kritik Matan Hadis Versi Muhaddisin dan Fuqqaha, Yogyakarta:Teras.2004 hlm 1

[21] M.Syuhudi Ismail, Metodologi Penelitian Hadis Nabi (Jakarta: Bulan Bintang, 1992), hlm. 122-123, lihat juga Nur Kholis, Pengantar Studi Al-Qur’an dan al-Hadis (Yogyakarta: Teras. 2008) cetakan I hlm 265.

[22] Hasyim Abbas, Kritik Matan Hadis Versi Muhaddisin dan Fuqqaha, (Yogyakarta:Teras.2004) hlm 113

[23] Muhammad Ajjaj al-Khatib, ushul al-Hadis Ushul Al-hadis Terj; Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq. (Jakarta: gaya media Pratama, 2007) cetakan ke 4 hlm 34

[24] Ibid, …..hlm 35

[25] Departemen Agama, Al-Qur’an dan Terjemahannya Surat al-A’raf ayat 31, …..hlm

[26] M.Quraish Shihab, Tafsir Al-Misbah Pesan Kesan dan Keserasian al-Qur’an Vol 5 (Jakarta:Penerbit Lentera Hati) cetakan X, halaman 75.

[27] Shahih muslim fi syarbi min zam zamin qaiman dalam DVD DVD Maktabah al-Syamilah juz 13 hlm 369,

[28] Salahuddin al-Adlabi Metode Kritik Matan Hadis Terj Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Media Prratama, 2004) cet I hlm 234-235

[29] Suryadi, Metode Kontemporer Memahami Hadis Nabi (Yogyakarta:Teras.2008) hlm 153-159

[30] Fatchurrahman, Ikhtisar Hadis wa musthalahuhu (Bandung: PT Al-Ma’rif ) cetakan 20 hlm

[31] Aidh al-Qarni, Memahami Semangat Zaman terj Abad Badruzzaman (Jakarta: Serambi Ilmu Semesta.2006) hlm 137-138. Liha juga [31] Abi Abdullah Abdussalam, Ibanatul Ahkam Syarhi Bulugul Maram (Beirut: Dar al-Fikr 2004) hlm 334

[32] M.M.Azami Manhaj al-Naqd ‘Indal muhadditsin hlm 85

[33] Hasyim Abbas, Kritik matan…..hlm 119

[34] http://pikiran_rakyat.or.id/indeks.php?option.com_content@tasks=itemid=2 diakses pada tanggal 17 nopember 2009

[35] Q.S al-Ahzab ayat 21, Departemen Agama RI Al-Qur’an dan Terjemahannya (Panitia penterjemah al-Qur’an.1982) hlm ….

[36] Mengenai ciri-ciri sabda kenabian, ulama’ telah merinci lebih jauh kriteria sabda kenabian secara umum, diantaranya, redaksi matan tidak ngawur, sembrono ataupun joorok, sabda kenabian tidak menggambarkan bahasa ulama’ khalaf yang memperlihatkan aliran dan mazhabnya masing-masing., lihat Salahuddin al-Adlabi Metode Kritik Matan Hadis Terj Qodirun Nur dan Ahmad Musyafiq (Jakarta: Media Prratama, 2004)

Demikianlah Contoh Susunan Makalah yang baik dan Benar tentang Pendidikan Islam. Mudahan bermanfaat