Fenomena Ayat Al-Qur'an di Belakang Pintu Rumah

Advertisement
Oleh: Afif Rizqon Haqqi (07530073)

A. Pendahuluan

Berinteraksi dengan al-Qur’an merupakan salah satu pengalaman beragama yang berharga bagi seorang Muslim. Pengalaman berinteraksi dengan al-Qur’an dapat terungkap atau diungkapkan melalui lisan, tulisan, maupun perbuatan, baik berupa pemikiran, pengalaman emosional maupun spiritual.[1]

Pengalaman emosional ataupun spiritual tersebut yang menjadi pijakan terjadinya satu fenomena. Sebut saja fenomena pemasangan ayat al-Qur’an di atas pintu, dengan maksud menolak balak dan mendatangkan atau melancarkan rezeki orang yang bersangkutan.

Fenomena semacam ini terjadi pada kehidupan masyarakat Indonesia umumnya, dan di masyarakat Jawa khususnya. Makalah ini dibuat untuk menunjukkan existensi fenomena tersebut kepada khalayak, dalam hal ini adalah kepada para mahasiswa selaku akademisi, juga dengan tujuan memberikan gambaran terhadap adanya feneomena ini. Dengan tidak menspesifikasikan tempat dimana fenomena ini terjadi.

B. Deskripsi fenomena Ayat Al-Qur'an di Belakang Pintu Rumah

Salah satu kerajinan Islam pada era kebangkitan Islam dahulu adalah Kaligrafi.[2] Kerajinan tersebut adalah berupa penulian lafadz al-Qur’an ataupun lafadz Arab dengan berbasis kepada keindahan bentuk tulisannya. Kenyataan seperti ini yang kemudian menjadi tren mengagungkan, yang juga banyak dilakukan oleh masyarakat Islam dimanapun saat ini.

Berbeda halnya dengan kaligrafi, yang dibuat berdasarkan dan atau untuk keindahan, semisal dibuat untuk hiasan rumah. Sedangkan fenomena penulisan ayat al-Qur’an di belakang pintu rumah ini biasanya dibuat untuk menolak balak atau hal-hal yang tidak diinginkan, sebut saja santet, jampi-jampi, pelet dan lain-lain yang disebabkan oleh ulah manusia yang hendak melakukan kejahatan.

Fenomena semacam ini terkait dengan beberapa istilah mistik yang hampir identik tetapi berbeda, baik dalam isi maupun sumbernya. Diantaranya adalah jampi dengan rajah, dan jimat dengan wafaq[3]. Sebutlah wafaq yang diteliti oleh penulis saat ini, syarat dengan pengertian yang diberikan oleh Badruddin Hsubky, yaitu ayat-ayat al-Qur’an yang ditulis di atas benda-benda tertentu.


Fenomena Ayat Al-Qur'an di Belakang Pintu Rumah 02
Penulisan wafaq ini tidak terlalu rumit dilakukan, hanya dengan menuliskan ayat al-Qur’an di atas secarik kertas kemudian serta merta ditempelkan di belakang pintu rumah. Bukan berarti dilakukan dengan sembarangan, fenomena ini juga terkadang melalui dua tahap, –sepengatahuan penulis. Pertama, peng-ijazah-an; tahap ini (biasanya) dilakukan sebagai legitimasi atas pelaksanaan fenomena tersebut atau juga sebagai pengukuh. Kedua, tahap pelaksanaan itu sendiri, yaitu pemasangan lafadz tersebut di atas pintu.[4] Adapun waktu yang tepat untuk menuliskan dan memasang wafaq tersebut adalah pada hari Jum’at setelah melakukan shalat Jum’at.[5]

Adapun lafadz-lafadz yang digunakan dalam penulisan wafaq yang akan digantungkan di atas pintu ini bervariasi, menggunakan ayat al-Qur’an itu sendiri ataupun yang berupa perkataan Umar bin Khatthab ketika menentang iblis di Sungai Nil. Ayat-ayat al-Qur’an yang dimaksud sebagai berikut:


- سَلَامٌ قَوْلًا مِنْ رَبٍّ رَحِيمٍ (يس: 58)
- قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)-(الاخلاص: 4-1)
- وَلَقَدْ مَكَّنَّاكُمْ فِي الْأَرْضِ وَجَعَلْنَا لَكُمْ فِيهَا مَعَايِشَ قَلِيلًا مَا تَشْكُرُونَ (الاعراف: 10)
- بجاه سيدنا عمرو الفروق

Dari keempat lafadz di atas, hanya satu yang tidak berupa ayat al-Qur’an (ayat keempat). Namun yang lazim di pakai oleh orang yang mengamalkan adalah ayat keempat, yang disebut-sebut memiliki khasiat untuk mendatangkan dan melancarkan rizki. Adapun lafadz yang terakhir (dari empat ayat di atas) lazim dipakai untuk menolak balak, santet, jampi, pelet dan lain-lain.

C. Asal-usul Fenomena Ayat Al-Qur'an di Belakang Pintu Rumah

Pada dasarnya setiap akibat pasti ada sebabnya, begitu pula dengan setiap fenomena yang ada tak luput dari adanya sebab ataupun sejarah terjadinya fenomena tersebut. Kasus wafaq atau wifiq (istilah lain dari kata wafaq) tentunya barangkali juga memiliki asal-usul atau sejarah kemunculan fenomena tersebut.

Fenomena semacam ini dahulu didasari dari perilaku Nabi Muhammad saw saat beliau terkena sihir atau sedang menjenguk orang sakit. Beliau mendioakan si sakit tersebut agar diberi kesembuhan. Dari sinilah kemudian hal-hal semacam itu berkembang. Berasal dari kebiasaan oral Nabi dalam mendoakan orang kemudian berkembang dengan ditulis sehingga jadilah wafaq atau wifiq yang dimaksud.

Selanjutnya, sebagaimana kisah Umar bin Khatthab saat menentang Iblis yang kala itu berdiam di Sungai Nil. Diceritakan bahwa saat itu banyak sekali terjadi bencana di sana, juga -pernah- bahwa sungai tersebut meminta tumbal untuk kemudian di korbankan agar sungai tersebut tidak lagi memakan korban. Saat itu pula diceritakan bahwa Umar menulis sesuatu disecarik kertas, yang kemudian mengutus seseorang untuk melemparkannya ke Sungai Nil tersebut. Mulai saat itu sungai Nil tidak lagi meminta tumbal.

Selanjutnya, pada masa para waliyullah menyebarkan dakwah Islam di Indonesia. Di mana awal mula masuknya Islam ke Indonesia, keadaan masyarakat saat itu (kepercayaannya) terhadap adanya jimat sangatlah melekat. Lantas para waliyullah tidak serta-merta menghapus atau melarang keras kepercayaan tersebut, tetapi mereka menggeser kepercayaan tersebut kepada pengenalan asma-asma Allah dan sifat-sifatNya. Contoh pengenalan nama Allah ar-Rhaman, ar-Rahim dan lain-lain. Kemudian nama-nama Allah tersebut ditulis (menjadi atau berupa wifiq) oleh para wali. Dengan alasan agar masyarakat-masyarakat dahulu lebih mudah menghafal atau mengingat nama Allah –atau lebih tepatnya untuk menghapus nama dewa-dewa—para wali membiarkan mereka untuk menyelipkan atau membawanya kemana saja mereka inginkan.[6]

D. Respon Masyarakat Terhadap Fenomena Ayat Al-Qur'an di Belakang Pintu Rumah

Setidaknya sebuah fenomena –menurut penulis—dapat diterima atau dilestarikan apabila tidak bertentangan dengan spirit ajaran agama Islam. Begitu halnya dengan fenomena pemasangan ayat al-Qur’an di atas pintu. Syarat dengan itu, dalam point ini akan dipaparkan respon masyarakat secara berurutan terhadap fenomena pemasangan al-Qur’an tersebut.

“tidak bertentangan dengan agama, karena hal-hal semacam itu berasal dari ayat-ayat al-Qur’an yang notabene-nya setiap ayat atau bahkan setiap huruf dalam al-Qur’an mengandung barokah. Dengan syarat wafaq itu di buat sebagai jalan untuk mengingat Allah tidak untuk menyekutukannya, apalagi dengan hal yang secara kasat mata seperti tidak ada artinya kecuali hanya tulisannya. Adapun hikmahnya adalah menolak sihir, santet, juga dapat melancarkan dan mendatangkan rizki”.[7]

“fenomena semacam itu, yang lebih spesifiknya adalah wafaq bukan suatu hal yang mudah untuk dilakukan. Ia berasal dari Ilham yang diberikan oleh Allah swt kepada para auliyā’Allah yang juga bisa disebut dengan Ilham Rūhi. Sebut saja Imam al-Ghazali yang diberi anugerah Allah berupa Ilham tersebut yang kemudian beliau tuangkan dalam kitabnya Al-Aufaq lil Imāmil Ghazāli. Syarat dengan itu, dari sinilah kebolehan menggunakan wafaq karena dianggap tidak bertentangan dengan agama lantaran berasal dari Allah yang berupa Ilham tersirat, juga merupakan salah satu bentuk ibadah mengingat Allah lewat wafaq tersebut”.[8]

“pemasangan wafaq yang bermotif untuk menolak balak ataupun mendatangkan rizki, tidak bertentangan dengan ajaran agama. Sepangjang tidak terlalu percaya dengan kekuatan benda tersebut. Artinya seakan-akan merasa tidak ada campur tangan Allah sama sekali selaku Tuhan yang berkehendak atas segala sesuatu. Atau seakan-akan kalau tidak ada wafaq kita akan mudah terkena balak atau rizki kita akan seret.[9]

Dari beberapa respon di atas, dapat disimpulkan bahwa ketiga informan lebih cenderung merespon positif terhadap adanya fenomena tersebut. Meskipun dengan motif awal melakukan hal tersebut untuk menolak balak ataupun mendatangkan rizki. Juga dengan dalih ngalap barokahe ayat al-Qur’an dapat dilakukan. Tetapi tetap dalam koridor tidak bertentangan dengan agama atau tidak menyekutukan Allah.

E. Tinjauan al-Qur’an atas Fenomena Ayat Al-Qur'an di Belakang Pintu Rumah

Pada dasarnya fenomena semacam ini tidak terdapat dalam al-Qur’an. Al-Qur’an kebanyakan meyebutkan perintah untuk selalu mengingat Allah kapanpun. Firman Allah swt:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42)-(الاحزاب: 41-42).

Artinya: “(41)Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (42) dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang”.[10]

Apabila dipahami secara harfiah, ayat tersebut tidak berkaitan dengan fenomena pemasangan ayat al-Qur’an. Dengan hanya menerangkan tentang perintah Allah untuk terus menerus berzikir menyebut nama Allah dengan sebanyak-banyak. Sedangkan apabila dipahami secara kontekstual dengan menyandarkan kepada proses dakwah yang dilakukan oleh para waliyullah (sebagaimana yang disebutkan dalam point sebelumnya) yang merupakan salah satu dari tujuan dibuatnya wafaq, yaitu sebagai salah satu cara --yang dilakukan oleh-- para waliyullah untuk menggeserkan pemahaman keyakinan masyarakat Indonesia dahulu dari atau kepada dewa-dewa menuju keyakinan yang murni disandarkan pada Allah.

Perlu diketahui bahwa wafaq tidak dipergunakan untuk mencari keuntungan. Ia hanya sebatas wasilah permohonan kepada Tuhan. Maka dari itu, Tidak diperbolehkan ketika ayat al-Qur’an digunakan sebagai satu cara mencari keuntungan. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Baqarah: 79.

فَوَيْلٌ لِلَّذِينَ يَكْتُبُونَ الْكِتَابَ بِأَيْدِيهِمْ ثُمَّ يَقُولُونَ هَذَا مِنْ عِنْدِ اللَّهِ لِيَشْتَرُوا بِهِ ثَمَنًا قَلِيلًا فَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا كَتَبَتْ أَيْدِيهِمْ وَوَيْلٌ لَهُمْ مِمَّا يَكْسِبُون. (البقرة: 79)

Artinya: “Maka kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang menulis al-Kitab dengan tangan mereka sendiri, lalu dikatakannya, “Ini dari Allah”, (dengan maksud untuk memperoleh keuntungan yang sedikit dengan perbuatan itu). Maka kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang ditulis oleh tangan mereka sendiri, dan kecelakaan besarlah bagi mereka akibat dari apa yang mereka kerjakan”.[11]

F. Analisis Fenomena Ayat Al-Qur'an di Belakang Pintu Rumah

Fenomena pemasangan ayat al-Qur’an ini, bila ditilik dari awal mula proses dan sejarahnya mempunyai nilai yang positif bagi masyarakat yang melakukan fenomena. Secara implisit memang tidak tampak karena prosesnya pun sangat sederhana tanpa adanya ritual-ritual khusus. Namun nilai positif itu akan tampak apabila ditinjau dari segi religiusitas (keberagamaan) seseorang, maupun dari segi teologis (keimanan)-nya.

Orang yang mengamalkan fenomena ini akan merasa bahwa dia terus dilindungi oleh Allah. Dengan adanya wafaq ini, mereka memohon kepada Allah dan atau beranggapan bahwa diri senantiasa akan terasa aman, denga juga disandarkan kepada motif awal orang yang memasang ayat al-Qur’an di atas pintu, yaitu agar terlindung dari balak, santet, pelet dan semacamnya.

Adapun pemilihan waktu yang tepat untuk memasang ayat al-Qur’an tersebut, yang dalam hal ini adalah hari jum’at setelah selesai menunaikan shalat jum’at, tidak terdapat literatur yang secara spesifik membahas tentang hal ini. Namun hemat peneliti, hari Jum’at merupakan hari yang baik, dengan disandarkan kepada hadis Nabi Muhammad saw berbunyi:

حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ أَخْبَرَنَا أَيُّوبُ عَنْ مُحَمَّدٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ أَبُو الْقَاسِمِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ سَاعَةٌ لَا يُوَافِقُهَا مُسْلِمٌ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي يَسْأَلُ اللَّهَ خَيْرًا إِلَّا أَعْطَاهُ وَقَالَ بِيَدِهِ قُلْنَا يُقَلِّلُهَا يُزَهِّدُهَا

...”pada hari Jum’at terdapat satu waktu yang tidak akan ditemui seorang muslimpun ketika ia melakukan shalat, berdo’a meminta pada Allah atas kebaikan, kecuali Allah akan mengabulkannya”...(H.R al-Bukhari: 883).[12]

Hari jum’at dalam hadis ini merupakan hari yang mana apabila kita meminta segala sesuatu kepada Allah, maka Ia akan mengabulkan permintaan kita. Begitu halnya dengan pemasangan wafaq hari Jum’at dengan motif awal untuk minta perlindungan dari balak, santet atau semua keburukan, juga dengan memohon kelancaran rizki kepadaNya, maka Ia akan senantiasa mengabulkan permintaan dan permohonan kita.

G. Kesimpulan dan Penutup

Setelah dilakukan penelitian terhadap adanya fenomena ini, kesimpulan yang dapat diambil dari yang telah diexplorasi di atas adalah bahwa embrio fenomena ini berawal dari zaman Nabi yang ketika itu hanya berupa doa bagi orang yang sakit supaya diberi kesembuhan. Sehingga sampailah di zaman waliyullah yang mengembangkan fenomena ini, menuliskannya di atas kertas yang dimaksudkan agar masyarakat saat itu senantiasa mengingat Allah kapanpun dan dimanapun.

Adanya respon masyarakat akan hal ini cenderung bersifat positif menerima nilai-nilai tersirat yang terkandung dalam fenomena ini, berupa satu bentuk ibadah berzikir mengingat Allah, dan berupa bentuk permohonan perlindungan kepada Allah agar senantiasa dilindungi dari balak, juga dilancarkan rezekinya.

Sekiranya inilah sedikit paparan tentang fenomena pemasangan ayat al-Qur’an di atas pintu rumah. Terima kasih tak lupa peneliti ucapkan kepada Bapak DR. Ahmad Baidlowi, M.Si atas bimbingannya. Dan kepada pihak-pihak yang membantu dalam penyelesaian penelitian ini.

Penelitian ini hanya langkah awal dari penelitian sebagaimana layaknya yang tentu jauh dari kata sempurna. Dari itu, saran dan kritik yang membangun sangat peneliti harapkan demi kesempurnaan penelitian ini. Akhirnya, terimakasih. Wassalam...

Daftar Pustaka
Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jum’ah, bab al-Sa’ah allaty fi Yaumil Jum’ah, no. 883 dalam DVD ROM Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, Global Islamic Software.

Chirzin, Muhammad. 2007. Mengungkap pengalaman Muslim Berinteraksi dengan al-Qur’an dalam Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis. Yogyakarta: Teras.

Departemen Agama RI, 2005. Al-Jumānatul ‘Alī; Al-Qur’an dam Terjemahnya , Bandung: J-ART.

Hsubky Badruddin, 2004. Bid’ah-Bid’ah di Indonesia. Jakarta: Gema Insani.

Thaifuri, Abdullah Afif. 2003. Amalan Para Ulama Salaf . Surabaya: Ampel Mulia.

______, 2002. Kitab Awfaq; Rahasia ilmu Ghaib al-Ghazali, Surabaya: Ampel Mulia.



[1] Muhammad Chirzin, Mengungkap pengalaman Muslim Berinteraksi dengan al-Qur’an dalam Metodologi Penelitian Living Qur’an dan Hadis (Yogyakarta: Teras, 2007), hlm. 11.

* maksudnya, penulis tidak membatasi di propinsi Jawa mana fenomena ini terjadi. Karena nantinya dalam makalah peneliti mewawancarai beberapa orang dengan propinsi Jawa yang berbeda. sebut saja propinsi Jawa Timur dan Jawa Tengah.

[2] Meskipun asal-usul kaligrafi tidak tepat terdapat pada zaman tersebut, setidaknya kerajinan tulis menulis memang ada. Sebutlah penulisan ayat-ayat al-Qur’an oleh Zaid bin Tsabit dan kelompoknya, ia diutus untuk menulis alQur’an karena keindahan sentuhan tangannya dalam hal tulis menulis.

[3] Yang membedakan antara keempat istilah tersebut adalah, jimat dengan rajah misalnya. Keduanya sangat berbeda asa-muasalnya, jimat berasal dari ajaran politeisme (Hindu-Buddha). Ia berupa ucapan-ucapan yang dipergunakan untuk memanggil dewa atau ruh-ruh halus sebagai wakil Tuhan. Sedangkan Rajah adalah do’a, ayat al-Qur’an, al-Asma’ al-Husna yang dibacakan untuk orang sakit atau ketika menghadapi musuh. Cara nini sering dilakukan oleh Rasulullah saw ketika beliau sakit atau menjenguk orang sakit. Dan Jimat dengan Wafaq. Jimat ialah benda yang dianggap (masyarakat dinamisme) mempunyai kekuatan magis. Dalam hal ini sebutlah orang awam menganggap bahwa benda-benda berupa jimat tersebut memiliki karomah tersendiri, sakti, kharismatik, dan lain-lain. Sedangkan wafaq ialah ayat-ayat al-Qur’an yang ditulis oleh dukun atau kiyai di atas benda tertentu, misalnya kain putih, kulit binatang, ataupun kertas. Biasanya ia dapat dibawa pergi, digantung di atas pintu rumah, warung, sawah dan lain-lain. Ini dilakukan untuk mendapatkan barokah ataupun kelancaran rizki. Badruddin Hsubky, Bid’ah-Bid’ah di indonesia (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 108.

[4] Tahap kedua ini juga terkadang bervariasi, terkadang ada yang ditulis secara langsung oleh yang meng-ijazahi yang kemudian oleh orang yang di-ijazahi serta-merta ditempelkan dibelakang pintu. Terkadang juga ada yang hanya di-ijazahi tanpa dituliskan, yang itu artinya ia disuruh menulisnya sendiri lafadz al-Qur’an yang di­-ijazah-kan guna dipasang sebagaimana mestinya.

[5] Abdullah Afif Thaifuri, Amalan Para Ulama Salaf (Surabaya: Ampel Mulia, 2003), hlm. 83.

[6] Lihat: Badruddin Hsubky, Bid’ah-Bid’ah di Indonesia (Jakarta: Gema Insani, 2004), hlm. 110.

[7] Wawancara dengan Bpk. JS salah satu tokoh masyarakat, dilakukan pada tanggal 13 Desember 2009.

[8] Wawancara denga, Bpk. S salah satu pengikut tarekat Naqshabandiyah, dilakukan pada tanggal 13 Desember 2009.

[9] Wawancara dengan Bunda U, dilakukan tanggal 12 Desember 2009.

[10] Departemen Agama RI, Al-Jumānatul ‘Alī; Al-Qur’an dam Terjemahnya (Bandung: J-ART, 2005), hlm.423.

[11] Departemen Agama RI, Al-Jumānatul ‘Alī; Al-Qur’an dam Terjemahnya (Bandung: J-ART, 2005).

[12] Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, Kitab al-Jum’ah, bab al-Sa’ah allaty fi Yaumil Jum’ah, no. 883 dalam DVD ROM Mausu’ah al-Hadits al-Syarif, Global Islamic Software.

Demikianlah Tulisan Fenomena Ayat Al-Qur'an di Belakang Pintu Rumah. Mudahan Membantu

0 Response to "Fenomena Ayat Al-Qur'an di Belakang Pintu Rumah"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!