Hukum Nikah dalam Islam

Advertisement
Pengertian Nikah dalam Islam - Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan kata “nikah” sebagai: “1) perjanjian antara laki-laki dan perempuan untuk bersuami isteri (dengan resmi), 2) Perkawinan”. Sedangkan dalam alQur’an, menggunakan kata ini untuk makna tersebut. Di samping secara majazi diartikannya dengan “hubungan seks”. Kata “nikah” berasal dari bahasa Arab nakaha – yankihu – nikahan yang berarti “bergaul atau bercampur”. Dalam bahasa Indonesia berarti “perkawinan”.
 
Nikah secara etimologi berarti pengumpulan dan penghimpunan atau bisa dikatakan suatu ungkapan tentang perbuatan bersetubuh dan sekaligus akad. Dalam terminologi Syar’i, nikah didefinisikan sebagai akad tazwij yakni suatu ikatan khusus yang memperbolehkan seorang lelaki melakukan istimta’ (bersenang) dengan perempuan dengan cara jima’, menyentuh, mencium, dan lain-lain.
 
Dasar-dasar Nikah Islam
 
Nikah adalah salah satu asas pokok hidup, terutama dalam pergaulan atau masyarakat yang sempurna. Perkawinan salah satu sunnatullah yang umum berlaku pada semua makhluk Tuhan, baik pada manusia, hewan maupun tumbuh-tumbuhan.
 
Dalam al-Qur’an dinyatakan, bahwa hidup berpasang-pasang, hidup berjodoh adalah naluri segala makhluk Allah, termasuk manusia. Hal sebagaimana Firman Allah dalam surat adz-Dzariyah ayat 49 sebagai berikut: “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah” (QS. adz-Dzariyah: 49)
 
Selain itu juga disebutkan dalam Firman Allah SWT yang berbunyi: Artinya: “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui” (QS. Yasin: 36)



Perkawinan adalah suatu cara yang dipilih Allah SWT sebagai jalan bagi manusia untuk beranak, berkembang biak dan kelestarian hidupnya, setelah masing-masing pasangan siap melakukan peranannya yang positif dalam mewujudkan tujuan perkawinan. Hal ini sebagaimana Firman Allah dalam surat al-Hujurat ayat 13 sebagai berikut:  Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan …” (QS. al-Hujurat: 13)
 
Dalam surat al-Nisa’ ayat 1, Allah SWT berfirman sebagai berikut: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari diri yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. (QS. al-Nisa’: 13)
 
Tuhan tidak mau menjadikan manusia itu seperti makhluk lainnya yang hidup bebas mengikuti nalurinya dan berhubungan antara jantan dan betinanya secara anarki, dan tidak ada satu aturan. Tetapi demi menjaga kehormatan dan martabat kemuliaan manusia, Allah adakan hukum sesuai dengan martabatnya. Sehingga hubungan antara laki-laki dan perempuan diatur secara terhormat dan berdasarkan saling meridhai, dengan upacara ijab qabul sebagai lambang dari adanya rasa ridha meridhai, dan dengan dihadiri para saksi yang menyaksikan kalau pasangan laki-laki dan perempuan itu telah saling terikat.
 
Bentuk perkawinan ini telah memberikan jalan yang aman pada naluri (seks), memelihara keturunan dengan baik dan menjaga kaum perempuan agar tidak laksana rumput yang bisa dimakan oleh binatang ternak dengan seenaknya.
 
Pergaulan suami isteri diletakkan di bawah naungan naluri keibuan dan kebapakan, sehingga nantinya akan menumbuhkan buah yang baik. Peratuan perkawinan seperti inilah yang diridhai Allah SWT dan diabadikan Islam untuk selamanya, sedangkan yang lainnya dibatalkannya.
 
Macam-macam Nikah yang dilarang dalam Islam
 
Nikah Syighar yaitu seseorang menikahkan anak perempuannya dengan syarat, orang yang menikahi anaknya itu juga menikahkan putri yang ia miliki dengannya. Baik itu dengan memberikan mas kawin bagi keduanya maupun salah satu darinya saja atau tidak memberikan mas kawin sama sekali. Kesemuanya itu tidak dibenarkan menurut syari’at Islam. Dalam pernikahan semacam ini tidak ada kewajiban atas nafkah, waris dan juga maskawin. Tidak berlaku pula segala macam bentuk hukum yang berlaku pada kehidupan suami isteri pada umumnya.
 
Nikah Mut’ah - Ibnu Hazm mengatakan “nikah mut’ah” adalah nikah dengan batasan waktu tertentu dan hal ini dilarang dalam Islam.
 
Menikahi wanita yang sedang menjalani masa iddah - Tidak seorangpun dibolehkan melamar wanita muslimah yang sedang menjalani masa iddah, baik karena perceraian maupun karena kematian suaminya. Jika menikahinya sebelum masa iddahnya selesai, maka nikahnya dianggap batal, baik sudah berhubungan badan maupun belum atau sudah berjalan lama maupun belum. Di samping itu, tidak ada waris di antara keduanya dan tidak ada kewajiban memberi nafkah serta mahar bagi wanita tersebut darinya.
 
Nikah muhallil yaitu wanita muslimah yang sudah dithalak tiga kali oleh suaminya dan sang suami diharamkan untuk kembali lagi kepadanya.
 
Syarat dan Rukun Nikah dalam Islam
 
Nikah adalah sebuah akad perjanjian sebagaimana akad-akad perjanjian yang lainnya. Dia membutuhkan kerelaan dari kedua belah pihak, adanya ucapan ijab qabul, adanya saksi dan kerelaan wali. Akad nikah juga memiliki beberapa ketentuan yang sangat menentukan sah tidaknya akad tersebut. Di antara ketentuan yang dimaksud adalah harus adanya mahar (mas kawin), nafkah dan papan sebagai tempat tinggal, akad nikah juga memiliki beberapa syarat, hukum dan tata cara yang harus diusahakan dipenuhi secara maksimal. Karena dengan demikian akad tersebut menjadi absah. Tentu saja pemenuhan syarat, hukum dan tata caranya harus melalui jalan yang benar karena sesungguhnya akad ini adalah perkara yang sangat besar dan sangat urgen karena menyangkut masalah-masalah yang berhubungan dengan kehormatan dan martabat seseorang, serta kemurnian garis keturunan. Oleh karena itu kita diharuskan untuk mengumpulkan syarat-syarat, hukum-hukum, kesunnahan-kesunnahan dan tata cara akad nikah.
 
Shighat (ijab qabul) - Shighat harus dari lafad-lafad yang jelas penggunaannya dalam nikah seperti: ankahtuka atau zawwajtuka. Apakah boleh dengan lafal selain bahasa Arab? Boleh selain arabiyah asal bisa dipahami oleh kedua belah pihak dan kedua saksi . dan Ijab boleh dilakukan setelah qabul.
 
Calon Suami - Calon syarat suami: tidak dalam keadaan ihram meskipun diwakilkan, kehendak sendiri, tertentu (jelas), mengetahui nama, nasab, orang serta keberadaan wanita yang akan dinikahi, jelas laki-laki.
 
Calon Isteri - Calon syarat isteri: tidak dalam keadaan ihram, tertentu, tidak bersuami, tidak dalam iddah (masa penantian) dari orang lain, jelas wanita.
 
Wali dan Dua saksi yang adil - Syarat-syarat menjadi wali dan dua saksi: Islam, dewasa, berakal, merdeka, laki-laki, adil.
 
Hukum Nikah dalam Islam
 
Hukum menikah itu sangat tergantung pada keadaan orang yang hendak melakukannya. Jadi, hukum nikah itu dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
 
Nikah wajib yaitu apabila orang yang menikah itu telah mampu, sedang jika ia tidak segera menikah amat dikhawatirkan akan berbuat zina.
 
Nikah sunnah yaitu manakala orang yang hendak menikah menginginkan sekali punya anak, tetapi ia mampu mengendalikan diri dari berbuat zina. Baik sebenarnya ia sudah berminat menikah atau belum, walaupun jika menikah nanti ibadah sunnah yang sudah biasa ia lakukan akan terlantar.
 
Nikah makruh yaitu apabila orang yang hendak menikah belum berminat punya anak, juga belum berminat menikah sedangkan ia mampu menahan diri dari berbuat zina. Padahal apabila ia menikah ibadah sunnahnya akan terlantar.
 
Nikah mubah yaitu apabila orang yang hendak menikah mampu menahan gejolak nafsunya dari berbuat zina. Sementara ia belum berminat memiliki anak dan seandainya ia menikah ibadah sunnahnya tidak sampai terlantar.
 
Nikah haram yaitu bagi orang apabila ia kawin, justru akan merugikan isterinya karena ia tidak mampu member nafkah batin dan nafkah lahir. Atau jika menikah, ia akan mencari mata pencaharian yang diharamkan Allah. Walaupun orang tersebut sebenarnya sudah berminat dan ia mampu menahan gejolak nafsunya dari berbuat zina.
 
 
Mendambakan pasangan merupakan fitrah sebelum dewasa, dan dorongan yang sulit dibanding setelah dewasa. Oleh karena itu, agama mensyari’atkan dijalinnya pertemuan antara pria dan wanita, dan kemudian mengarahkan pertemuan itu sehingga terlaksananya “perkawinan” dan beralihlah kerisauan pria dan wanita menjadi ketentraman atau sakinah dalam istilah al-Qur’an surat ar-Rum ayat 21. Sakinah yang berarti diam atau tenangnya sesuatu etelah bergejolak. Itulah sebabnya mengapa pisau dinamakan sikkin karena ia adalah alat yang menjadikan binatang yang disembelih tenang, tidak bergerak, setelah tadinya ia merontak.
 
Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa hidup berpasang-pasangan, hidup berjodoh-jodohan adalah naluri segala makhluk akal, termasuk manusia. Islam mengatur manusia dalam hidup berjodohan-jodohan itu dengan melalui jenjang perkawinan yang ketentuannya dirumuskan dengan ujud aturan-aturan yang disebut hukum perkawinan dalam Islam.
 
Hukum Islam juga ditetapkan untuk kesejahteraan umat, baik secara perorangan maupun secara bermasyarakat, baik untuk hidup di dunia maupun di akhirat. Kesejahteraan masyarakat akan tercapai dengan terciptanya keluarga yang sejahtera, karena keluarga merupakan lembaga terkecil dalam masyarakat, sehingga kesejahteraan masyarakat sangat tergantung pada kesejahteraan keluarga.
 
Demikian pula kesejahteraan perorangan sangat dipengaruhi oleh kesejahteraan hidup keluarganya. Islam mengatur keluarga bukan secara garis besar, tetapi sampai terperinci, yang demikian ini menunjukka perhatian yang sangat besar terhadap kesejahteraan keluarga. Keluarga terbentuk melalui perkawinan, karena itu perkawinan sangat dianjurkan oleh Islam bagi yang telah mempuyai kemampuan. Tujuan itu dinyatakan baik dalam al-Qur’an maupun as-sunnah.



Dalam al-Qur’an dinyatakan bahwa berkeluarga itu termasuk sunnah. Rasul-rasul sejak dahulu sampai Rasul terakhir Nabi Muhammad saw. seperti yang dapat kita baca pada surat ar-Ra’du ayat 38 “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mu`jizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu)”.
 
Sabda Nabi diriwayatkan oleh Imam Jama’ah dan Imam Muslim: Artinya: “… Dan aku mengawini wanita, barangsiapa yang benci pada sunnahku, bukanlah termasuk umatku”. (HR.Imam Muslim)
 
Berkeluarga yang baik menurut agama Islam sangat menunjang untuk menuju kepada kesejahteraan, termasuk dalam mencari rizki Tuhan. Firman Allah dalam surat an-Nur ayat 32 perlu mendapatkan perhatian bagi orang yang akan berkeluarga:
 
Artinya: “Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui” (QS. al-Nur: 32)
 
Islam menganjurkan orang berkeluarga karena dari segi batin orang dapat mencapainya melalui berkeluarga yang baik, seperti dinyatakan dalam salah satu sabda Nabi saw. riwayat Imam al-Bukhari dan Imam Muslim dari Abdillah: “Abu Bakrin bin Abi Syaibah dan Abu Kuraib bercerita pada kami, ia berkata: Abu Muawiyah menceritakan pada kami dari al-A’mas, dari Umarah bin Umair, dari Abdirrahman bin Yazid dari Abdillah, Rasulullah saw. bersabda: Hai para pemuda, barangsiapa telah sanggup di antaramu untuk kawin, maka kawinlah, karena sesungguhnya kawin itu dapat mengurangi pandangan (yang liar) dan dapat lebih menjaga kehormatan”. (HR. al-Bukhari dan Muslim dari Ibn Abbas)
 
Demikian pula dari segi ketentuan bertambah dan berkesinambungannya amal kebaikan sekarang, dengan berkeluarga akan dapat dipenuhi. Dengan berkeluarga orang dapat mempunyai anak dan dari anak yang shaleh diharapkan mendapatkan amal tambahan di samping amal-amal jariyah yang lain. 
 
Sesuai dengan sabda Nabi saw. riwayat Imam Muslim dari shahabat Abu Hurairah: Artinya: “Telah bercerita kepada kami, Yahya ibn Ayyub dan Qutaibah, Yaknis ibn Sa’id dan Ibnu Khujr. Mereka berkata: telah menceritakan kepada kami Isamail, yaitu Ibnu Ja’far dari al-Ala’ dari ayahnya dari Abu Hurairah, bahwasannya Rasulullah saw. bersabda: “ketika manusia telah meninggal dunia, putuslah amalnya, kecuali tiga perkara, shadaqah jariyah atau ilmu yang dimanfaatkan atau anak yang shalih yang mendo’akannya”. (HR. Muslim dari Abi Hurairah)

Daftar Rujukan

Muhammad Quraish Shihab, Wawasan al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i Atas Berbagai Persoalan Umat, (Bandung: Mizan, 1996), hlm. 191.
A. Zainuddin, Muhammad Jambari, Al-Islam 2 (Muamalah dan Akhlak), (Semarang: Pustaka, t.th.), hlm. 29.
Purna Siswa III Aliyah Pondok Pesantren Lirboyo Kediri, Esensi Pemikiran Mujtahid, (Kediri: Perdana, 2003), hlm. 25.
Muhammad Uwaidah, Syaikh Kamil Muhammad, Fiqih Wanita, (Jakarta: al-Kautsar, 1998), hlm. 381-385.
Syaikh Muhammad Ali ash-Shabuni, Hadis untuk Pengantin, (Jakarta: Mustaqim, 2001), hlm. 147.
Em. Yusmar, Emy Bilkafe Wanita dan Nikah menurut Urgensinya, (Kediri: Pustaka Azm, 2002), hlm. 15-17.
Abu Muhammad Sayyidi Qasim bin Ahmad bin Musa bin Yawan, Qurrat al-Uyun, terj. Misbah Mustofa, (Kediri: al-Balaghah, t.th.), hlm. 1-2.
Proyek Pembinaan Prasarana dan Sarana Perguruan Tinggi Agama/IAIN, Ilmu Fiqih Jilid II, (Jakarta: t.kp., 1984), hlm. 5
Imam Muslim bin al-Hajjaj al-Qusairi an-Naisaburi, Shahih Muslim, Juz 5, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, t.th.), hlm. 10.