Kajian Perkembangan Tafsir Al-Qur'an dari Masa Sahabat Hingga Ke Indonesia

Advertisement

Kajian Perkembangan Tafsir Al-Qur'an - Al Qur’an adalah kitab suci kaum Muslimin yang berisi kumpulan wahyu Ilahi yang diturunkan kepada Nabi muhammad SAW selama kurang lebih 23 tahun. Sebagian besar sarjana Muslim memandang nama tersebut secara sederhana merupakan kata benda bentukan (mashdar) dari kata kerja (fi’il) qara’a (قرأ) “membaca”. Dengan demikian Al Qur’an bermakna “bacaan” atau yang “dibaca” (maqru’). 

Dalam manuskrip Al Qur’an beraksara kufi yang awal, kata ini ditulis tanpa menggunakan hamzah yakni “al quran” dan hal ini telah menyebabkan sejumlah sarjana Muslim memandang bahwa terma itu diturunkan dari akar kata qarana (قرن) ,”menggabungkan sesuatu dengan sesuatu yang lain” atau “mengumpulkan”, dan al quran (القران) berarti kumpulan atau gabungan. Tetapi pandangan minoritas ini harus diberi catatan bahwa penghilangan hamzah merupakan suatu karakteristik dialek Makkah atau Hijazi, dan karakteristik tulisan al Quran dalam aksara kufi yang awal. [2] 

Al Qur’an dikhususkan sebagai nama bagi kitab yang diturunkan kepada Muhammad SAW sehingga nama Qur’an menjadi nama khas kitab itu. Sebagian ulama menyebutkan bahwa  penamaan kitab ini dengan nama Qur’an di antara kitab-kitab Allah itu karena ini mencakup inti dari kitab-kitab-Nya, bahkan mencakup inti dari semua ilmu. Hal ini disyaratkan dalam Firman-Nya: “Dan kami turunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu......”[3] 

Para ulama menyebutkan definisi Qur’an yang mendekati maknanya dan membedakannnya dari yang lain dengan menyebutkan bahwa:” Al Qur’an adalah Kalam atau Firman Allah yang diturunkan kepada Muhammad SAW yang membacaannya merupakan suatu ibadah.”[4]  Sedang kaum teolog cenderung mendefinisikan Al Qur’an dari sudut pandang teologis seperti Kullabiyat, Asy’ariyyat, Karramiyat, Maturidiyat, dan penganut shifatiyyat yang lain berkata: “Al Qur’an adalah kalam Allah yang qadim tidak makhluk”, sebaliknya kaum Jahmiyyat, Mu’tazilah, dan lain-lain yang menganut bahwa Tuhan tak mempunyai sifat menyatakan bahwa Al Qur’an  adalah “Makhluk (tidak qadim)”. Sementara kaum filosof dan al-Shabi’at  melihat Al Qur’an dari sudut pandang filosofis. Itulah sebabnya mereka berpendapat bahwa Al Qur’an ialah “makna yang melimpah kedalam jiwa”. 

Kajian Perkembangan Tafsir Al-Qur'an

Disamping itu ahli Bahasa Arab, para fuqaha’, dan ahli Ushul Fiqih lebih menitik beratkan pengertian Al Qur’an pada teks (lafal) yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW mulai dari al-Fatihah sampai surat al-Nas.[5] Al Qur’an memang sukar diberi batasan dengan definisi-definisi logika yang mengelompokkan segala jenis, bagian-bagian serta ketentuan-ketentuannya yang khusus, mempunyai genus, differentia, dan propium, sehingga definisi Qur’an mempunyai batasan-batasan yang benar-benar konkrit. Definisi yang konkrit untuk Al Qur’an adalah mengahdirkannya dalam fikiran atau dalam realita. 

Kajian-kajian seputar Al Qur’an selanjutnya melahirkan karya ilmiah yang disebut dengan tafsir. Tafsir sebagai sebagai sebuah penjelasan tentang arti atau maksud firman Tuhan sudah ada sejak Al Qur’an diturunkan. Sebab sebegitu Al Qur’an diturunkan kepada manusia bernama Muhammad, sejak itu pula beliau melakukan tafsir dalam pengertian yang sederhana, yakni memahami dan menjelaskannya kepada para sahabat. Beliau adalah the first interpreter yang menguraikan Al Qur’an dan menjelaskan kepada umatnya.[6] 

Dari zaman ke zaman tafsir terus berkembang dan akhirnya melahirkan banyak karya monumental. Masa pembukuan tafsir dimulai pada akhir abad dinasti Bani Umayah dan awal dinasti Abbasiyah. Dalam hal ini hadis mendapatkan perioritas utama dan pembukuannya meliputi berbagai bab, sedang tafsir hanya merupakan salah satu bab dari sekian bab yang dicakupnya. Pada masa ini peulisan tafsir belum dipisahkan secara khusus yang hanya memuat tafsir Al Qur’an, surah demi surah dan ayat demi ayat, dari awal Qur’an sampai akhir. 

Perhatian segolongan ulama terhadap periwayatan tafsir yang dinisbahkan kepada Nabi, sahabat, atau tabi’in sangat besar disamping perhatian terhadap pengumpulan hadis. Tokoh terkemuka diantara mereka dalam bidang ini ialah Yazid bin Harun as-Sulami, Syu’bah bin al-Hajjaj, Waki’ bin Jarrah, dan lain sebagainya. Tafsir golongan ini sedikitpun  tidak ada yang sampai kepada kita, yang kita terima hanyalah nukilan-nukilan yang dinisbahkan kepada mereka sebagaimana termuat dalam kitab-kitab tafsir bil ma’sur.[7] 

Sesudah golongan ini datanglah generasi berikutnya yang menulis tafsir secara khusus dan independen serta menjadikannya sebagai ilmu yang berdiri sendiri dan terpisah dari hadis. Qur’an mereka tafsirkan secara sistematis sesuai dengan tertib Mushaf. Diantara mereka Ibnu Jarir at-Tabari, Ibnu Abi Hatim, Abu Bakar al-Mardawaih, dan lain sebagainya.[8] Kemudian muncul sejumlah Mufassir yang (aktifitasnya) tidak lebih dari batas-batas tafsir bil ma’sur, tetapi dengan meringkas sanad-sanad dan menghimpun berbagai pendapat tanpa menyebutkan pemiliknya. Karena itu persoalannya menjadi kabur dan riwayat-riwayat yang shahih bercampur dengan yang tidak shahih. 

Ilmu semakin berkembang pesat, pembukuannya mencapai kesempurnaan, cabang-cabangnya bermunculan, perbedaan pendapat terus meningkat, masalah-masalah “kalam” semakin berkobar, fanatisme madzab menjadi serius dan ilmu-ilmu filsafat bercorak rasional bercampur baur dengan ilmu-ilmu naqli serta setiap golongan berupaya mendukung madzab masing-masing. Ini semua menyebabakan tafsir ternoda polusi udara tidak sehat tersebut. Sehingga para mufassir dalam menafsirkan Al-Qur’an berpegang pada pemahaman pribadi dan mengarah ke berbagai kecenderungan. Pada diri mereka melekat istilah-istilah ilmiah, akidah madzabi, dan pengetahuan falsafi. Masing-masing mufassir memenuhi tafsirnya hanya dengan ilmu yang paling dikuasainya tanpa memerhatikan ilmu-ilmu yang lain. 

Ahli ilmu rasional hanya memperhatikan dalam tafsirnya kata-kata pujangga dan filosof, seperti Fahruddin ar-Razi. Ahli fikih hanya membahas soal-soal fikih, seperti al-Jassas dan al-Qurtubi. Sejarawan hanya mementingkan kisah dan berita-berita, seperti as-Sa’labi dan al-Khazin. Demikian pula golongan ahli Bid’ah berupaya menta’wilkan kalamullah menurut selera madzabnya yang rusak itu, seperti ar-Rumani, al-Juba’i, al-Qadi Abdul Jabbar dan Zamakhsyari dari kaum Mu’tazilah.[9] 

Hal ini juga dikarenakan Al Qur’an sendiri yang memang sangat terbuka untuk ditafsirkan (Multi interpretable), dan masing-masing Mufassir ketika menafsirkan Al Qur’an biasanya juga dipengaruhi oleh kondisi sosio kultural di mana ia tinggal, bahakan situasi politik yang melingkupinya juga sangat berpengaruh baginya. Disamping itu ada kecenderungan dalam diri seorng mufassir untuk memahami Al Qur’an sesuai dengan disiplin ilmu yang ia tekuni, sehingga meskipun objek kajiannny tunggal (Al Qur’an) namun hasil penafsiran Al Qur’an tidaklah tunggal, melainkan plural. Oleh karena itu munculnya Madzahibut Tafsir tidak dapat dipisahkan dari sejarah pemikiran umat Islam.[10] 

Pada masa selanjutnya, penulisan tafsir mengikuti pola di atas melalui upaya ulama Muta’akhirrin yang mengambil begitu saja penafsiran golongan Mutaqaddimin, tetapi dengan cara meringkasnya di satu saat dan memberinya komentar di saat lain. Keadaan demikian terus berlanjut sampai lahirnya pola baru dalam tafsir mu’asir (modern), dimana sebagian mufassir memperhatikan kebutuhan-kebutuhan  kontemporer di samping upaya penyingkapan asas-asas kehidupan sosial, prinsip-prinsip tasyri’ dan teori-teori ilmu pengetahuan dari kandungan Al Qur’an sebagaimana terlihat dalam tafsir al-Mannar. 

Kajian tafsir semakin berkembang di Nusantara, yang salah satunya di Indonesia pada awal abad ke-20 M bermunculan literatur tafsir yang mulai ditulis oleh ulama-ulama  Muslim Indonesia dengan menggunakan bahasa daerah yang bukan bahasa resmi Negara, seperti Tafsir surat al-Kahfi dengan Bahasa Melajoe, karya Abdul Wahid Kari Moeda bin Muhammad Siddiq yang menggunakan Bahasa Melayu Jawi sebagai media pengungkapan tafsir Al Qur’an, Tafsir al Ibriz karya KH. Bisri Mustafa yang menggunakan huruf Arab pegon berbahasa Jawa gundul, dan Tafsir al Iklil fi Ma’an al-Tanzil karya KH. Misbah bin Zainul Mustafa.[11]Hal ini membuktikan bahwa tradisi penulisan tafsir di Indonesia sebenarnya telah bergerak cukup lama, dengan berbagai macam corak dan gaya bahasa yang dipakai. 

Semakin banyak tafsir yang bermunculan dengan berbagai bahasa, ini menggerakkan naluri pemerhati tafsir untuk ikut serta mengarungi dunia Tafsir dengan mencoba megkaji dan memahami salah satu kajian tafsir yang berhubungan dengan kemaha Agungan Allah serta Nama-nama Allah dalam Al Qur’an (Asma al-Husna) yang terbaik dan Agung yang banyak diamalkan manusia dalam kehidupan sehari-hari serta mempunyai faedah dan khasiyat yang bermacam-macam.

Daftar Rujukan'

[2] Taufik Adnan Amal, Rekonstruksi Sejarah Al Qur’an, ( Yogyakarta: Forum Kajian Budaya dan Agama, 2001), hlm. 45.

[3] Al Qur’an, Surat an-Nahl: 89.

[4] Manna Khalil al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, (Bogor: Litera Antar Nusa, 2004), hlm. 17.

[5] Nashruddin Baidan, Metode Penafsiran Al Qur’an, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2002), hlm 29-30.

[6] Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir, (Yogyakarta: Kreasi Wacana, 2005), hlm. 29.

[7] Manna Khalil al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, hlm. 477.

[8] Tafsir generasi ini memuat riwayat-riwayat yang disandarkan kepada Rasulullah, sahabat, tabi’in, dan tabi’it tabi’in, dan terkadang disertai pentajrihan terhadap pendapat-pendapat yang diriwayatkan  dan penyimpulan (istinbath) sejumlah hukum serta penjelasan kedudukan kata (i’rab) jika diperlukan, sebagaimana dilakukan Ibn Jarir at Tabari.

[9] Manna Khalil al Qattan, Studi Ilmu-Ilmu Qur’an, hlm. 477-478. Dan untuk lebih jelas memehami Madzab-Madzab Tafsir, bisa dibaca buku karya Abdul Mustaqim “Aliran-Airan Tafsir”.

[10] Abdul Mustaqim, Aliran-Aliran Tafsir, hlm. 4.

[11] Islah Gusnian, Khazanah Tafsir Indonesia; dari Hermeneutika hingga Ideologi,(Bandung: Teraju, 2003), hlm. 62-63.