Kesetaraan Hak antara Laki-laki dan Perempuan dalam Agama, bukan Keseragaman.

Advertisement
Islam mengakui persamaan antara laki-laki dan wanita dari segi kemanusiaannya, begitu pula dalam hak-hak berkenaan ketentuan hukum pidana dan perdata. Masing-masing wajib mendapatkan perlindungan jiwa, kehormatan, harta, dan kebebasan, kecuali apabila kemudian terjadi penyimpangan di luar syariat, maka hak-hak di atas mungkin saja tidak berlaku. Dan ini berlaku bagi kedua belah pihak. Allah sendiri telah menegaskan dalam firman-Nya bahwa masing-masing memiliki tanggungjawab sendiri atas perbuatannya:

كل امرئ بما كسب رهين

Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya” (Q. S. Ath-Thur: 21)

Tidak ada alasan karena kodrat yang diembannya, wanita tidak bisa sejajar dengan pria. Keduanya mempunyai hak, kewajiban, dan kesempatan yang seimbang. Yang membedakannya hanya karya dan amalannya, sebagaimana firman Allah:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Q. S. Al-Hujurat: 13)

Kesetaraan Hak antara Laki-laki dan Perempuan dalam Agama 2

Dalam kehidupan berkeluarga misalnya, Al-Qur’an dengan gamblang mengungkapkan akan kesejajaran hak-hak wanita dengan pria.

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma'ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya.” (Q. S. Al-Baqarah: 228)

Ayat ini dipahami senada oleh Mahmud Yunus dan Hamka tentang adanya kelebihan satu tingkat pria disbanding wanita karena prialah yang berkewajiban menafkahi keluarga. Dia berfungsi sebagai pelindung dan kepala keluarga. Namun Tafsir DEPAG memahaminya dengan kesamaan atau kemitraan antara suami istri dalam hak dan kewajiban memang ada, namun tetap harus disesuaikan dengan fitrahnya, baik fisik ataupun psikisnya.[1] Menurut Fazlur Rahman, laki-laki bertanggung jawab atas perempuan karena Allah telah melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain karena mereka (laki-laki) memberi nafkah dari sebagian hartanya, bukanlah hakiki melainkan fungsional, artinya jika seorang isteri di bidang ekonomi dapat berdiri sendiri dan memberikan sumbangan bagi kepentingan rumah tangganya, maka keunggulan suaminya akan berkurang. (Fazlur Rahman, Mayor Themes of the Quran, terj. Anas Mahyuddin: 72). Jadi kesamaan hak dan kewajiban antara pria dan wanita memang ada dalam Islam, bukan keseragaman dan itupun lebih pada fungsi social masing-masing bukan pada fisik dan struktur biologisnya.


0 Response to "Kesetaraan Hak antara Laki-laki dan Perempuan dalam Agama, bukan Keseragaman."

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!