Korelasi Antara Iman dan Taat Kepada Allah SWT

Advertisement
Korelasi Antara Iman dan Taat Kepada Allah SWT

Definisi Iman

Iman secara bahasa mempunyai arti tashdiq yakni kepercayaan,[1] pengakuan atau pembenaran. Dikatakan mukmin adalah bahwa dia orang yang percaya terhadap sesuatu, kemudian mengakuinya lalu membenarkannya. Sedangkan secara istilah, pengertian iman bisa diambil dari hadits nabi yang berarti: “membenarkan dalam hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan perbuatan”.

Menurut Yusuf al-Qardlawi iman adalah kepercayaan yang merasuk kedalam hati dengan penuh keyakinan, tidak bercampur dengan syak atau ragu-ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup, tingkah laku dan perbuatan sehari-hari.[2]a

Dalam sebuah literatur tedapat beberapa pengetian iman yang utama secara teologis, yaitu sebagai berikut:

1. Assensus (mengakui) Pengertian ini biasanya dikaitkan dengan pengakuan secara umum dan alamiah tentang Allah dan pemeliharaan-Nya. Biasanya konsisten dengan alasan-alasan yang rasional.

2. Fiducia (mempercayai) Pengertian ini sangat khusus, yaitu percaya Allah. Pengertian ini adalah puncak nasihat Kitab suci. Artinya apa yang dipercayai (seharusnya) berbanding lurus dengan sikap-sikap utama. Kepercayaan menentukan sikap[3].

Korelasi Antara Iman dan Taat Kepada Allah SWT 2

Pengertian iman pada intinya adalah seperti yang dipaparkan di atas, yaitu dengan membenarkan dalam hati, diikrarkan dengan lisan dan diamalkan melalui perbuatan. Dalam Islam, secara garis besar iman berarti kepercayaan, pembenaran, dan pengakuan akan adanya Tuhan semesta alam, yaitu Allah kemudian malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari kiamat serta qadha’ dan qadhar. Hal tersebut sebagaimana yang dinyatakan dalam al-Qur’an Karim:

Artinya: “Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu kearah timur dan barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi………(QS. Al-Baqarah: 177).

Dalam surat al-Hujurat: 15 juga disebutkan orang yang beriman adalah:

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)

Dari ayat di atas dapat diketahui bahwa iman berarti percaya kepada Allah, Nabi dan Rasul-Nya, kitab-kitabNya, malaikat-malaikatNya, dan hari akhir.

Definisi Taat


Secara etimologi kata taat berasal dari bahasa Arab dari kata (طاع) yang bermashdar (طوعا) yang berarti tunduk atau patuh kepada seseorang[4]. Sedangkan secara terminology taat adalah tindakan manusia untuk selalu patuh dan tunduk kepada tuhannya, baik itu secara dhohir ataupun bathin. Yang dimaksud taat secara dhohir adalah kepatuhan seseorang untuk melakukan semua perintah Allah SWT, baik yang wajib maupun yang sunnah dan menjauhi segala larangan-larangan-Nya. Dan adapun taat secara bathin ialah menerima dengan lapang dada apa yang telah disyari’atkan oleh Allah SWT baik itu yang baik (wajib) maupun yang buruk (haram).

Iman adalah asas penting, yang menjadi landasan tempat berdirinya pribadi mukmin. Kalau manusia diibaratkan seperti sebatang pohon, maka iman adalah akar tunjang untuk pohon itu. Kalau manusia diibaratkan seperti sebuah rumah, maka iman adalah tapak berdirinya rumah itu.[5]

Demikianlah pentingnya iman dalam usaha melahirkan seorang manusia yang sempurna dan diridlai Allah SWT. Tanpa iman, seseorang itu akan sama seperti pohon yang tidak berakar tunjang atau rumah yang tidak memiliki pondasi. Maknanya, seseorang yang tidak memiliki iman tidak akan memiliki kekuatan untuk berhadapan dengan hidup. Dia pasti gagal.[6]

Kalaupun ada tanda-tanda Islam melalui ibadah lahir, tetapi ibadah itu tidak akan berfungsi apa-apa sewaktu manusia yang tidak memiliki iman berhadapan dengan persoalan-persoalan hidup. Semakin banyak ibadah, semakin cepat gagalnya, seperti halnya semakin besar pohon yang tidak berakar tunjang, maka semakin cepat tumbangnya atau makin besar rumah yang didirikan di atas lumpur, makin cepat robohnya.[7]

Iman juga merupakan salah satu dari TRILOGI agama Islam, iman dalam agama Islam, yaitu iman kepada Allah Zat Yang Maha Tetap dan Maha Kekal, yang pasti dan hakiki, yang kudus dan yang yang suci. Juga beriman pada malaikat-malaikatNya, rasul-rasulNya dan lain-lain seperti yang tertera pada rukun iman yang enam. Iman yang teguh dapat menghubungkan seseorang kepada penciptanya, sehingga lewat hal tersebut, juga akan menimbulkan rasa kecintaan dan ketaatan kepada Tuhannya untuk menjalankan semua perintahnya.[8]

Taat adalah salah satu dari sekian banyak perbuatan manusia yang memiliki korelasi dengan iman. Karena adanya iman, maka akan lahirlah yang dinamakan taat. Dan dengan adanya taat, maka tingkat keimanan iman seseorang akan bertambah. Hal ini dijelaskan dalam al-Qur’an surat An-Nisa: 59 yang berbunyi:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah dan taatlah kepada rasul-Nya, dan ulil amri di antara kamu, kemudian jika kamu berlainan pendapat tentng sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (al-Qur’an) dan rasul-Nya (sunnah), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utam (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Dari ayat tersebut dapat diambil ibroh bahwa jika seseorang itu ingin diklasifikasikan sebagai orang yang beriman, maka haruslah orang tersebut taat kepada Allah dan rasulNya, serta taat kepada ulil amri (penguasa).

Rasulullah SAW bersabda:


وَعَن اَبِي هُرَيرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنهُ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلىَّ الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ : مَن اَطَاعَنِي فَقَد اَطَاعَ اللهَ وَمَنَ عَصَانِي فَقَد عَصَى اللهَ, وَمَن يُطِيعُ الاَمِيرَ فَقََد اَطَاعَنِي, وَمَن يَعصِ الاَمِيرَ فَقَد عَصَانِي. (متفق عليه)

Artinya : “Diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra., ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang taat kepadaku, maka ia telah taat kepada Allah, dan barangsiapa yang durhaka kepadaku, maka ia telah mendurhakai Allah. Barangsiapa yang taat kepada pemimpinnya, maka ia telah taat kepadaku dan barangsiapa yang durhaka kepada pemimpinnya, maka ia telah durhaka kepadaku”.[9]

Hadits di atas merupakan hadits yang berkaitan dengan firman Allah dalam surah An-Nisa:59. Hadits ini menerangkan akan larangan mendurhakai rasul, sehingga mengakibatkan seseorang dapat mendurhakai Allah dan juga ditegaskan larangan mendurhakai pemerintah yang apabila kalau hal tersebut dilakukan dapat mengakibatkan durhaka kepada rasul.



[1] Lihat kamus al-‘Ashri (Yogyakarta: Multi Karya Grafika, 2003)
[2] Muhammad Chirzin, Konsep dan Hikamah Akidah Islam, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1997), hlm. 13
[3] www.pesta org/iman dan realita sebuah renungan filosofis
[4] Achmad Warson Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka Progresif, 1997), hlm. 871.
[5] www.ikhwan-global-locus.info/?module=minda&act=detailil&id=69 – 29k
[6] www.ikhwan-global-locus.info/?module=minda&act=detailil&id=69 – 29k
[7] www.ikhwan-global-locus.info/?module=minda&act=detailil&id=69 – 29k
[8] Mois.gov.my/documents/lingkaran%20syarak.pdf
[9] Imam Nawawi, Riyadlus Sholihin, “terj” (Jakarta: Pustaka Amani, 1999), hlm. 616
[10] Jejen Musfah, Indeks Al-Qur’an Praktis, (Jakarta: Hikmah, 2007), hlm. 516
[11] Jejen Musfah, Indeks Al-Qur’an Praktis, (Jakarta: Hikmah, 2007), hlm. 516


0 Response to "Korelasi Antara Iman dan Taat Kepada Allah SWT"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!