Tuntunan Doa dan Amalan Arba Mustamir Bulan Safar

Advertisement


Oleh: Wardatun Nadhiroh (07530074)

Al-Qur’an merupakan salah satu keajaiban utama dalam Islam. Keajaiban Ilahiyah ini terus teraktualisasikan lagi dan lagi, tidak hanya dalam bentuk visual dan material melainkan juga dalam bentuk verbal sebagai pengucapan. Kalimat-kalimatnya dikumandangkan berulang-ulang di mesjid-mesjid, dalam berbagai pelajaran, hafalan, serta doa-doa pengikutnya. Bagi orang awam, teks-teksnya bisa dijadikan jimat[2] atau sebagai penolak bala.

Pada beberapa kasus lain, ayat-ayat al-Qur’an digunakan demi kepentingan tertentu dengan mengharap akan berkahnya. Para ibu memasak sambil membaca ayat tertentu dengan harapan makanannya lezat dan enak dinikmati.[3] Bahkan pada suatu masyarakat tertentu di Kalimantan Selatan, jika membaca ayat al-Qur’an tertentu saat maunjun (baca: memancing) maka hasil pancingannya bisa dipastikan dapat banyak. Demikian hanya salah satu dari fungsi al-Qur’an. Terlepas dari semua itu satu yang dapat disimpulkan bahwa bagi umat Islam, al-Qur’an memiliki kekuatan yang sangat besar yang berpengaruh dalam kehidupan sehari-harinya.

Menelisik lebih dalam mengenai resepsi umat Islam terhadap al-Qur’an, pembahasan kali ini akan dikhususkan pada sampel yang lebih sempit yaitu tentang bagaimana masyarakat Islam Banjar terutama yang tinggal di desa Matang Ginalon Pandawan mengaktualisasikan ayat-ayat al-Qur’an, terkait pandangan mereka menyambut Arba Mustamir di bulan Safar.



Mengenal Amalan Arba Mustamir dalam Bulan Safar

Safar adalah nama bulan kedua dalam kalender Islam yang berdasar pada tahun Qamariah (baca: tahun Hijriyah). Menurut bahasa, Safar menunjukkan pada makna kosong, ada pula yang mengartikannya kuning.[4] Dinamakan Safar berdasarkan pada kebiasaan orang-orang Arab zaman dulu yang suka meninggalkan tempat kediaman atau rumah mereka (sehingga kosong) untuk berperang ataupun bepergian jauh. Antara peristiwa-peristiwa penting yang berlaku dalam sejarah Islam pada bulan ini ialah Peperangan Al-Abwa pada tahun kedua Hijrah, Peperangan Zi-Amin tahun ketiga Hijrah dan Peperangan Ar-Raji (Bi’ru Ma’unah) pada tahun keempat Hijrah.[5]

Ada pula yang menyatakan bahwa nama Safar diambil dari nama suatu jenis penyakit sebagaimana yang diyakini oleh orang-orang Arab jahiliyah pada masa dulu, yakni penyakit safar yang bersarang di dalam perut akibat dari adanya sejenis ulat besar yang sangat berbahaya. Itulah sebabnya mereka menganggap bulan Safar sebagai bulan yang penuh dengan kejelekan. Pendapat lain menyatakan bahwa Safar adalah sejenis angin berhawa panas yang menyerang bagian perut dan mengakibatkan orang yang terkena menjadi sakit.[6]

Terlepas dari semua itu, banyak kalangan dari umat Islam menganggap bahwa bulan Safar sebagai bulan kesialan, seperti yang terjadi pada masyarakat Banjar umumnya, dan Matang Ginalon khususnya. Pemahaman akan kepercayaan ini sering mereka aplikasikan dengan untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting di bulan Safar, misalnya perkawinan, batajak (baca: membangun) rumah, madam (baca: bepergian jauh), memulai usaha (dagang, bercocok tanam), mendulang (emas atau intan), dan sebagainya. Sebab, ujung dari semua kegiatan tersebut dalam sebagian pemahaman mereka biasanya adalah kegagalan atau kesusahan, dan khusus bagi mereka yang mendulang sangat rentan terkena racun atau wisa kuning.

Anggapan ini akan semakin menguat jika bertemu dengan hari Rabu terakhir bulan Safar yang biasa mereka sebut dengan Arba Mustamir atau dalam bahasa Jawa disebut Rabu Wekasan. Dalam anggapan masyarakat, kesialan bulan Safar akan semakin meningkat jika bertemu dengan Rabu terakhir tersebut sebab berdasarkan sebuah referensi klasik disebutkan bahwa Allah telah menurunkan 3333 jenis penyakit pada hari Rabu terakhir bulan Safar.[7]

Adapun menurut Imam Abdul Hamiid Quds, seorang `ulama besar, mufti dan imam Masjidil Haram Makkah pada awal abad 20 dalam bukunya “Kanzu al-Najah wa al-Suraar fi Fadhail al-Azmina wa al-Syuhaar” mengatakan, “Banyak Wali Allah yang mempunyai pengetahuan spiritual telah menandai bahwa setiap tahun, 320 ribu penderitaan (Baliyyat) jatuh ke bumi pada hari Rabu terakhir di bulan Safar.” Hari itu dianggap sebagai hari yang sangat berat dibandingkan hari-hari lain sepanjang tahun. Beberapa ulama mengatakan bahwa ayat al-Quran, “Yawma Nahsin Mustamir” yakni “Hari berlanjutnya pertanda buruk” merujuk pada hari tersebut.[8]

Hawash Abdullah (1982) dalam bukunya Perkembangan Ilmu Tasawuf dan Tokoh-Tokohnya di Nusantara menulis bahwa dalam kitab-kitab Islam memang banyak yang menyebut adanya ‘bala’ yang diturunkan pada bulan Safar. Misalnya, Syekh Muhammad bin Ismail Daud al-Fathani menyalin perkataan ulama dalam kitabnya Al-Bahjatul Mardhiyah tentang turunnya bala di bulan Safar. Hal yang demikian disebutkan pula dalam kitab Al-Jawahir bahwa diturunkan bala pada tiap-tiap tahun sebanyak 320.000 bala dan sekalian pada hari Rabu yang terakhir pada bulan Safar, maka hari itu terlebih payah daripada setahun”. Tulisan tentang bala yang diturunkan pada bulan Safar ini juga bisa ditemukan dalam kitab Jam’ul Fawaaid, tulisan Syekh Daud bin Abdullah al-Fathani.[9]

Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan menimpa, menjadi semacam kebiasaan bagi orang Banjar untuk melakukan hal-hal tertentu untuk menghindari kesialan pada hari itu, misalnya:

1. Shalat sunnat disertai dengan pembacaan doa tolak bala

2. Selamatan kampung, biasanya disertai dengan menulis wafak di atas piring kemudian dibilas dengan air, seterusnya dicampurkan dengan air di dalam drum supaya bisa dibagi-bagikan kepada orang banyak untuk diminum

3. Mandi Safar untuk membuang sial, penyakit, dan hal-hal yang tidak baik. Menurut informasi, kebiasaan mandi Safar ini dilakukan oleh mereka yang berdiam di daerah pinggiran sungai atau batang banyu.

4. Tidak melakukan atau bepergian jauh

5. Tidak melakukan hal-hal yang menjadi pantangan atau pamali, dan sebagainya.

Bagi orang Jawa, untuk menyambut Rabu Wekasan biasanya dilakukan dengan membuat kue apem dari beras, kue tersebut kemudian dibagi-bagikan dengan tetangga. Ini dimaksudkan sebagai sedekah dan tentu saja untuk menolak bala. Karena ada hadits Nabi SAW yang menyatakan bahwa “sedekah dapat menolak bala”.

Beberapa amalan yang umumnya dibaca oleh masyarakat Banjar pada hari Arba Mustamir itu adalah:

a. Syahadatain ( 3x ).
b. Astaghfirullah ( 300x ).
c. Ayatul Kursi (7x).
d. Surah Al Fil (7x).

Namun pada komunitas kecil, ada amalan-amalan khusus selain yang tersebut di atas, seperti yang terjadi di desa Matang Ginalon Pandawan Kab. HST, masyarakatnya mengamalkan doa/tasbih Nabi Yunus Laa Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu min al-Zhalimin[10] sebanyak 2375x.

Deskripsi Tradisi Doa dan Amalan Bulan Safar

1. Asal-Usul

Pembacaan ini bermula tak lama setelah bermukimnya seorang busu (baca: kiai) di desa Matang Ginalon sekitar akhir tahun 1998.[11] Sebelum kedatangan beliau, awalnya desa ini sangat sepi dari berbagai kegiatan keagamaan, bahkan langgar[12] pun hanya diisi beberapa orang yang dapat dikatakan sudah udzur – untuk tidak mengatakan hanya diisi dua orang yang berfungsi sebagai imam dan makmum. Kebanyakan warga lebih suka beribadah di rumah masing-masing seadanya, paling banter hanya tradisi Yasinan yang masih dipertahankan karena memang sudah menjadi kegiatan turun-temurun. Namun dengan kehadiran Busu tersebut, ruh-ruh keislaman di desa ini mulai bangkit.

Di langgar, beliau bertindak sebagai imam. Warga yang kebanyakan tertarik dengan lantunan ayat-ayat al-Qur’an yang beliau bawakan ketika shalat, kebetulan karena beliau juga seorang huffazh 30 juz, sedikit demi sedikit tergugah hatinya untuk ikut shalat berjama’ah di langgar. Tak hanya sampai di situ usaha beliau membangkitkan ghirah keislaman masyarakat Matang Ginalon, setiap hari ba’da shubuh beliau rutin memberikan ceramah yang berisi nasehat dan pengajaran-pengajaran agama.

Karena disampaikan dengan simpatik, pengajaran yang beliau berikan ini membuka arah baru kehidupan beragama masyarakat Matang Ginalon. Lama kelamaan, masyarakat semakin rajin menimba ilmu agama khususnya kepada beliau. Pembelajaran yang beliau berikan itu kadang-kadang juga diselingi dengan pemberian amalan-amalan baik secara lisan saja atau tertulis yang mengandung keutamaan tertentu jika dibaca oleh pengamalnya, semisal bacaan ketika malam nishfu Sya’ban, bacaan ketika puasa Ramadhan, bahkan amalan setelah shalat yang diniatkan untuk kepentingan tertentu.

Terkait bacaan Laa Ilaha Illa Anta Subhanaka Inni Kuntu min al-Zhalimin atau yang sering disebut dengan doa/tasbih nabi Yunus ini dianggap mampu memberikan keselamatan dan rasa aman dari bala’, bencana, dan kesusahan selama setahun.[13] Dengan berpegang pada keutamaan tersebut, Busu Syarkawi mengajarkan amalan tersebut untuk dibaca di bulan Safar, khususnya di hari Arba Mustamir yang waktunya dari terbenamnya matahari hari Selasa hingga terbitnya matahari Kamis pagi.[14] Diduga beliau bahwa diantara waktu tersebutlah, bala-bala akan diturunkan. Diharapkan dengan membaca doa/tasbih tersebut, Allah akan menjauhkan hamba-Nya dari segala bala, bencana, dan kesusahan yang ada sebagaimana Allah menyelamatkan Nabi Yunus dari perut ikan paus yang menelannya.[15]

Jadi, kapan tepatnya tradisi ini muncul dapat dikatakan kurang jelas, hanya saja dapat diketahui secara pasti bahwa amalan ini muncul diprakarsai oleh Busu Syarkawi yang mulai bermukim akhir tahun 1998 di desa Matang Ginalon.

2. Pelaksanaan Kegiatan

Amalan tersebut lebih baiknya diamalkan setiap hari secara rutin jika dimungkinkan, atau jika tidak demikian sejak awal bulan Safar, amalan ini dilakukan. Adapun terkait Arba Mustamir dengan jumlah bacaan 2375x hendaknya dibaca dalam sekali duduk selesai karena lebih utama. Namun tidak ada larangan jika dibaca dalam beberapa kali asalkan dalam waktu yang telah ditentukan yaitu antara terbenamnya matahari hari Selasanya hingga terbitnya matahari Kamis pagi.

Walaupun dilakukan secara perorangan, kebanyakan warga Matang Ginalon mengamalkannya di rumah masing-masing[16] -penulis tidak menafikan ada beberapa orang yang melakukannya bersama-sama di langgar, kebanyakan golongan tua-. Para warga kebanyakan masih berpikiran bahwa lebih baik tidak keluar rumah kalau tidak ada keperluan mendesak atau karena tuntutan pekerjaan di hari itu. Bagi yang saat itu memang harus keluar rumah, pasti dalam hati berdoa agar tidak tertimpa apa-apa saat melakukan aktivitas.

Bahkan saking pentingnya amalan tersebut, para orang tuapun tidak lupa untuk mengajarkannya juga pada anak-anaknya, meski anak-anak tersebut kadang tidak sanggup membaca sebanyak 2375x, hanya semampunya. Berdasarkan pengalaman penulis sendiri, orang tua penulis tidak segan menelpon penulis yang memang studi jauh dari rumah, sekedar hanya untuk mengingatkan agar tidak lupa untuk membacanya.

3. Dasar/Landasan Pelaksanaan

Para ulama yang mengajarkan doa nabi Yunus ini berpegang pada sabda Nabi SAW: 

أخبرنا أبو عبد الله محمد بن عبد الله الزاهد الأصبهاني ، ثنا أبو بكر عبد الله بن محمد بن عبيد القرشي ، ثنا الحسن بن حماد الضبي ، ثنا محمد بن الحسن بن الزبير الهمداني ، ثنا جعفر بن محمد بن علي بن الحسين ، عن أبيه ، عن جده ، عن علي رضي الله عنهم ، قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « الدعاء سلاح المؤمن ، وعماد الدين ، ونور السماوات والأرض » « هذا حديث صحيح ، فإن محمد بن الحسن هذا هو التل أو هو صدوق في الكوفيين »[17]


Terlebih lagi doa ini adalah doa seorang nabi,[18] yaitu nabi Yunus yang ketika itu dicoba Allah dengan berada di perut Paus.

Berada di dalam perut paus tentunya bukanlah suatu hal yang menyenangkan tetapi dapat dikatakan musibah bencana, hanya Allah-lah yang mampu menolongnya. Oleh karena itu, berserah diri dan memohon pertolongan Allah adalah jalan keluar satu-satunya ketika itu. Terkait bulan Safar yang diduga merupakan bulan dimana banyak penderitaan diturunkan, jika itu memang benar, maka doa Nabi Yunus tersebut sangat cocok dengan keadaan di bulan itu. Doa nabi Yunus tersebut walaupun pendek tetapi mengandung tiga hal yang bermakna sangat besar yaitu:

Pertama: menunjukkan atas tauhid --tauhid uluhiyah--, yang dengannya Allah SWT mengutus para Rasul, menurunkan kitab-kitab, dan dengannya pula berdiri surga dan neraka: "La Ilaha Illa Anta" "Tidak ada tuhan (yang berhak di sembah) selain Engkau".

Kedua: menunjukkan pembersihan Allah SWT dari seluruh kekurangan. Ini adalah makna tasbih yang dilakukan langit dan bumi dan seluruh makhluk. Karena segala sesuatu bertasbih dengan memuji-Nya. "Subhaanaka" "Maha Suci Engkau".

Ketiga: Menunjukkan pengakuan atas dosa yang dilakukan. Tidak menjalankan hak Rabbnya dengan sempurna serta menzhalimi diri sendiri karena sikapnya itu. "Inni kuntu mina al- zhaalimiin" "Sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim" Ungkapan ini adalah sebuah pengakuan tanda taubat.[19]

Memenuhi diri dengan tauhid disertai tasbih dan taubat, niscaya Allah akan selalu memberikan perlindungan pada hamba-Nya tersebut dari segala marabahaya, kesulitan, dan berbagai penderitaan yang ada. Buktinya Allah menjawab doa nabi Yunus ini dengan ungkapan sebagai berikut:

فَاسْتَجَبْنَا لَهُ وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْغَمِّ وَكَذَلِكَ نُنْجِي الْمُؤْمِنِينَ (88)

"Maka Kami telah memperkenankan do'anya dan menyelamatkannya daripada kedukaan. Dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman." (QS. al Anbiya: 88)

Ini merupakan salah satu contoh pengajaran pada umat Islam agar ketika mendapat kesulitan untuk selalu berdoa dengan kata-kata yang mengandung tiga hal ini: peng-esaan, pembersihan dan pengakuan taubat. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Tirmidzi, Rasul bersabda:

حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يَحْيَى حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا يُونُسُ بْنُ أَبِي إِسْحَقَ عَنْ إِبْرَاهِيمَ بْنِ مُحَمَّدِ بْنِ سَعْدٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَعْوَةُ ذِي النُّونِ إِذْ دَعَا وَهُوَ فِي بَطْنِ الْحُوتِ لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنْ الظَّالِمِينَ فَإِنَّهُ لَمْ يَدْعُ بِهَا رَجُلٌ مُسْلِمٌ فِي شَيْءٍ قَطُّ إِلَّا اسْتَجَابَ اللَّهُ لَهُ[20]

Banyak lagi hadis yang menyatakan tentang keutamaan doa ini, diantaranya adalah

حدثنا الزبير بن عبد الواحد الحافظ ، ثنا محمد بن الحسن بن قتيبة العسقلاني ، ثنا أحمد بن عمرو بن بكر السكسكي ، حدثني أبي ، عن محمد بن زيد ، عن سعيد بن المسيب ، عن سعد بن مالك رضي الله عنه ، قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : « هل أدلكم على اسم الله الأعظم الذي إذا دعي به أجاب ، وإذا سئل به أعطى ؟ الدعوة التي دعا بها يونس حيث ناداه في الظلمات الثلاث ، لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين » . فقال رجل : يا رسول الله ، هل كانت ليونس خاصة أم للمؤمنين عامة ؟ فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « ألا تسمع قول الله عز وجل : ( ونجيناه من الغم ، وكذلك ننجي المؤمنين ) » وقال رسول الله صلى الله عليه وسلم : « أيما مسلم دعا بها في مرضه أربعين مرة فمات في مرضه ذلك أعطي أجر شهيد ، وإن برأ برأ ، وقد غفر له جميع ذنوبه »[21]

Hadis lainnya juga diriwayatkan oleh al-Hakim, yaitu:

فأخبرنا أبو عبد الله الصفار ، ثنا ابن أبي الدنيا ، حدثني عبيد بن محمد ، ثنا محمد بن مهاجر القرشي ، حدثني إبراهيم بن محمد بن سعد ، عن أبيه ، عن جده ، قال : كنا جلوسا عند النبي صلى الله عليه وسلم ، فقال : « ألا أخبركم بشيء إذا نزل برجل منكم كرب ، أو بلاء من بلايا الدنيا دعا به يفرج عنه ؟ » فقيل له : بلى ، فقال : « دعاء ذي النون : لا إله إلا أنت سبحانك إني كنت من الظالمين »[22]

Dari beberapa hal di atas, sebenarnya poin yang terpenting yang ingin diajarkan dalam pembacaan doa nabi Yunus tersebut adalah dzikir pada Allah, selalu mengingat-Nya di setiap waktu, selalu memohon perlindungan dan ampun pada-Nya niscaya Allah pun akan menjaga-Nya, sebagaimana Ibnu Abbas RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya aku mengajarkan beberapa kalimat kepadamu. Peliharalah Allah niscaya engkau mendapatkan-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah di waktu senang, niscaya Dia mengenalmu di waktu kesempitan.''

Analisis doa dan Amalan Arba Mustamir Bulan Safar

Bulan Safar khususnya hari Arba Mustamirnya telah menjadi momok yang menakutkan bagi beberapa kalangan umat Islam, terutama masyarakat Banjar umumnya dan Matang Ginalon khususnya. Masih berkembang anggapan bahwa bulan tersebut penuh kesialan apalagi jika bertemu dengan hari Rabu terakhirnya maka kesialan akan bertambah. Untuk menangkal kesialan tersebut, mereka percaya ada amalan-amalan tertentu yang bisa dibaca dan yang lebih penting mereka tidak keluar rumah pada hari itu.

Sejauh penilaian penulis, mengamalkan secara rutin bacaan tertentu dari ayat-ayat al-Qur’an itu merupakan perbuatan yang baik dan sah-sah saja dilakukan. Namun mengenai kepercayaan bahwa bulan Safar adalah bulan kesialan apalagi hari Rabu terakhirnya sehingga harus dilakukan amalan-amalan tertentu untuk menangkalnya, maka penulis tidak sependapat sama sekali.

Anggapan bahwa bulan Safar adalah bulan yang tidak baik, memang dipahami secara umum oleh orang-orang Melayu sebagaimana paham yang dipercayai orang-orang Arab jahiliyah pada masa dulu. Khusus bagi masyarakat Banjar, mereka beranggapan bulan Safar sebagai bulan “panas dan sial”, ini bisa menjelaskan dengan beberapa hal berikut:

Pertama, menjadi semacam kebiasaan dalam masyarakat Banjar khususnya orang-orang tertentu yang menguasai ilmu sihir (semacam guna-guna, teluh, santet, atau parang maya) melakukan ritual khusus untuk mengirimkan ilmunya kepada orang lain dengan tujuan tertentu pada bulan Safar. Pada bulan Safar, ilmu yang mereka lepas tersebut lebih ampuh dibanding pada bulan yang lain, dan orang yang terkena ilmu itupun akan susah untuk disembuhkan. Jika tujuan pelepasan ilmu untuk membuat orang yang terkena sakit maka akan sakit, jika untuk membuat orang terpikat maka akan terpikat, bahkan keampuhan pikatan tersebut bisa membuat orang yang terkena tergila-gila, dan seterusnya.

Kedua, orang Banjar adalah orang yang memiliki keterikatan kuat dengan dunia gaib, karena itu pada orang Banjar (hingga sekarang) masih ditemui mereka-mereka yang memiliki hubungan khusus dengan orang gaib atau orang halus (yang terdiri dari bangsa jin atau orang-orang terkenal zaman dulu yang berpindah tempat dan menjadi orang gaib, misalnya raja-raja Banjar, orang sakti, datu-datu, dan sebagainya), melalui pengakuan sebagai keturunan (tutus) ataupun bagampiran. 

Hubungan dengan dunia gaib tersebut juga terjalin melalui benda-benda tertentu yang terkadang mereka warisi secara turun-temurun, misalnya keris, besi tuha, minyak, dan sebagainya. Bahkan perwujudan dari hubungan tersebut juga ada berupa “peliharaan gaib” yang menjadi sahabat mereka, misalnya berupa buaya atau ular gaib. Baik benda ataupun peliharaan gaib yang menjadi media penghubungan dan keterikatan orang Banjar dengan dunia gaib tersebut tidak semuanya membawa aroma positif, sebagian di antaranya ada pula yang membawa aroma magis negatif. 

Benda-benda atau peliharaan gaib tersebut biasanya minta dijaga, dipelihara, dan diberi makan melalui ritual-ritual tertentu. Apabila yang bersepakat menjaga dan memelihara dia lupa memberi makan atau menyediakan sesuatu yang sudah dipesankannya, biasanya ada salah seorang anggota keluarganya yang jatuh sakit, kesurupan, bahkan semacam terkena “kutukan”, misalnya mati tenggelam, hilang di tengah hutan, tersesat di alam gaib, di sambar buaya, dan sebagainya, sesudah sebelumnya diberi tanda. Ritual untuk “memberi makanan gaduhan” ini dilakukan satu tahun sekali, dan biasanya pada bulan Safar.

Ketiga, ada pula yang meyakini, bahwa sebagian dari benda-benda gaib tersebut tidak memiliki tuan yang menjaga, memelihara, dan memberi mereka makan sebagai gaduhan, benda-benda gaib ini bersifat liar. Akibatnya, karena tidak ada yang menggaduh dan melaksanakan ritual memberi makan kepada mereka, mereka akhirnya mencari sendiri. Bulan pelepasan dan kebebasan mereka diyakini oleh orang Banjar pada bulan Safar, itulah sebabnya pituah (baca: nasihat) orang bahari kepada sanak keluarga mereka untuk selalu hati-hati dan waspada jika menghadapi atau memasuki bulan Safar.


Keempat, orang Banjar juga meyakini bahwa mereka yang memiliki gaduhan berupa racun melepaskan gaduhan (racunnya) tersebut pada bulan Safar. Karena itu dianggap pamali untuk makan atau jajan disembarang tempat, ditakutkan jika terkena racun gaduhan tersebut. [23]

Menurut penulis, boleh jadi lahirnya pemahaman di atas karena memang banyak kasus atau kejadian yang menimpa orang Banjar dan kebetulan pas di bulan Safar. Sehingga karena seringnya terjadi apa yang ditakuti oleh orang Banjar di atas pada bulan Safar, lalu mereka menjustifikasi bulan Safar sebagai bulan yang penuh kesialan, marabahaya, dan seterusnya. Akibatnya, dalam perspektif orang Banjar, bulan Safar adalah bulan yang harus diwaspadai dan ditakuti, sehingga dianggap pamali (pantang) bagi orang Banjar untuk melakukan kegiatan-kegiatan penting di bulan Safar sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya di atas.

Menurut hemat penulis, kepercayaan tersebut tidak seharusnya dipelihara dan dilestarikan karena pada teknisnya sering mengandung khurafat dan bid’ah-bid’ah sayyi’ah. Namun mengingat bahwa kepercayaan itu telah mengakar kuat dalam masyarakat Banjar, maka tentunya sangat sulit untuk dihilangkan. Oleh karena itu, para pemuka Banjar berinisiatif meminimalisir kesyirikan tersebut dengan mengajarkan amalan-amalan tertentu sebagai ganti ritual-ritual yang biasanya dilakukan guna menolak bala’ Safar seperti bacaan yang telah disebutkan di atas. 

Ini sebagai salah satu ijtihad mereka mencegah umat Islam terjatuh dalam lubang kesyirikan yang lebih dalam karena memang tiada amalan istimewa atau tertentu yang dikhususkan untuk dirayakan pada bulan Safar baik berdasarkan ayat-ayat al-Quran, sunah Rasulullah saw, sahabat maupun para salafussoleh “Amalan sunat di bulan Safar adalah sama seperti amalan-amalan sunat harian yang diamalkan sepanjang waktu di bulan-bulan yang lain.”

Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada suatu hari, bulan dan tempat itu merupakan kepercayaan orang Jahiliyah sebelum kedatangan Islam. Malah upacara mandi sungai atau pantai di bulan Safar berpuncak dari kepercayaan nenek moyang terdahulu dan ada kaitan dengan upacara keagamaan Hindu. Rasulullah saw bersabda yang artinya : Tiada wabah dan tiada keburukan binatang terbang dan tiada kesialan bulan Safar dan larilah (jauhkan diri) daripada penyakit kusta sebagaimana kamu melarikan diri dari seekor singa. (riwayat Bukhari).

Dalam al-Qur’an Allah berfirman:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ (51)[24

Inilah sepatutnya yang menjadi pegangan bagi umat Islam umumnya dan masyarakat Banjar khususnya dalam memaknai bulan Safar dan apa-apa yang terjadi di dalamnya; hendaklah mereka selalu memperbanyak amal ibadah, zikir, doa, sedekah, guna lebih mendekatkan diri kepada-Nya agar terlindung dari berbagai kesusahan yang tentunya tidak khusus dilakukan di bulan Safar saja.

Jadi, hendaklah tidak mengkultuskan bulan Safar dengan ritual-ritual tertentu yang menyerempet pada kemusyrikan. Penulis sependapat dengan ijtihad ulama Banjar yang mengganti ritual tersebut dengan amalan-amalan tertentu, namun akan lebih baik jika dilakukan secara rutin setiap hari, tidak apa-apa sedikit tetapi konsisten daripada banyak seperti yang terjadi pada pembacaan doa/tasbih Yunus Arba’ Mustamir sebanyak 2375x dan dilakukan hanya dalam sehari.

Baca Juga: 
  1. Amalan-amalan yang Dianggap Bid'ah di Bulan Safar
  2. Jawaban atas Orang yang menganggap Sial Bulan Safar
  3. Tradisi Baayun Mulud, Maulid Nabi ala Masayarakat Banjar

Kesimpulan

Dari pembahasan di atas, ada beberapa poin yang dapat digarisbawahi dalam penelitian ini, yaitu:

o Kepercayaan mengenai perkara sial atau bala pada sesuatu hari, bulan dan tempat itu merupakan kepercayaan orang Jahiliyah sebelum kedatangan Islam, Islam sendiri tidak mengajarkan demikian.

o Namun karena Islam merupakan agama yang toleran dengan konteks sosial-budaya masyarakat penganutnya, maka selama hal-hal tersebut tidak bertentangan dengan prinsip ajaran Islam, keadaan yang demikian boleh saja dilakukan. Hal yang sama berlaku pada pembacaan amalan tertentu yang tentunya berasal dari al-Qur’an demi kepentingan tertentu pula, asal tetap dijaga agar tidak menjadi hal yang berbau syirik.

o Amalan atau suatu bacaan itu lebih baik jika dilakukan rutin setiap hari, sedikit tetapi konsisten daripada banyak tetapi jarang. Ini sesuai dengan ajaran yang diajarkan oleh Islam. Namun daripada tidak sama sekali, lebih baik sesekali dikerjakannya.

o Para cendekiawan Islam hendaklah selalu cerdik dalam menyelesaikan persoalan umat tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam dan juga nilai-nilai tradisi masyarakat karena penyelesaian yang fleksibel itulah yang membuat Islam diterima oleh berbagai kalangan.

o Selama amalan tersebut ada dasarnya dari al-Qur’an atau Hadis, baik yang tersirat maupun tersurat, maka boleh-boleh saja seperti amalan doa/tasbih nabi Yunus yang telah disebutkan di atas.

Catatan Kaki doa dan Amalan Arba Mustamir Bulan Safar

[1] Matang Ginalon adalah sebuah desa di kecamatan Pandawan. Termasuk wilayah kabupaten Hulu Sungai Tengah yang beribukota di Barabai yaitu salah satu dari kawasan Banua Enam yang terdapat di Kalimantan Selatan.

[2] Farid Esack, Samudera al-Qur’an terj. Nuril Hidayah(Yogyakarta: Diva Press, Cet II, 2007), hlm. 41.

[3] Lihat: Farid Esack, Samudera al-Qur’an ... , hlm. 37.

[4] Lihat: Ahmad Warson Munawwir, Kamus al-Munawwir Arab-Indonesia(Surabaya: Pustaka Progressif, Cet. II, 1997), hlm. 781.

[5] Diakses dari http://penyejukhatiku.wordpress.com/2009/02/14/bulan-safar/ tanggal 11 November 2009.

[6] Diakses dari http://zuljamalie.blogdetik.com/category/banjar-research/ tanggal 15 November 2009.

[7] Diakses dari http://zuljamalie.blogdetik.com/category/banjar-research/ tanggal 15 November 2009.

[8] Diakses dari http://banuagambut.blogspot.com/2009/02/safar-arba-mustamir.html tanggal 1 Desember 2009.

[9] Diakses dari http://zuljamalie.blogdetik.com/category/banjar-research/ tanggal 15 November 2009.

[10] Q. S. Al-Anbiyaa: 87

[11] Hasil wawancara langsung via telpon dengan Busu Syarkawi melalui perantara orang tua penulis tanggal 29 November 2009.

[12] Berasal dari Bahasa Banjar yang artinya Mesjid namun muatannya lebih kecil.

[13] Zainu Ridlo Buyan, Terjemah Senjata Mukmin(Banjarmasin: Bursa Ilmu), hlm. 92.

[14] Penulis tidak mendapatkan informasi mengapa harus di antara waktu demikian, karena hasil wawancara mengatakan memang begitulah kepercayaannya.

[15] Hasil wawancara via telpon dengan Busu Syarkawi lewat perantara orang tua penulis tanggal 29 November 2009.

[16] Hasil bincang-bincang dengan beberapa warga melalui perantara orang tua penulis.

[17] “Doa adalah senjata bagi orang mukmin ... ” (Al-Hakim, Mustadrak ‘ala al-Shahihain, juz 4(http://www.alsunnah.com), hlm. 359 dalam DVD-Rom al-Maktabah al-Syamilah).

[18] Sebaik-baik contoh doa ialah doa para nabi dan rasul karena mereka maksum. Namun dalam pada itu, para nabi dan rasul juga adalah seorang manusia seperti kita yang takluk kepada alam sekitar, tertakluk kepada panahan cahaya matahari dan bulan yang sama, mengalami lapar dan dahaga yang sama dan akhirnya mengalami kesusahan, sakit dan wafat juga seperti orang lain.

[19] Yusuf Qaradhawi, Tuntunan Bertaubat kepada Allah SWT terj. Abdul Hayyie al-Kattani(Kairo: Maktabah Wahbah, cet I, 1998) dari http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Taubat/Nabi.html yang diakses tanggal 7 Desember 2009.

[20] "Do'a saudaraku Dzun Nun (Nabi Yunus) yang jika dibaca oleh orang yang sedang tertimpa bencana nicsaya Allah SWT akan menghilangkan bencana dan kesulitannya itu: "Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang yang melakukan kezhaliman". (al-Tirmidzi, Sunan al-Tirmidzi(http://www.al-islam.com), juz 11, hlm. 410 dalam DVD-Rom al-Maktabah al-Syamilah)

[21] “Setiap orang Muslim sakit yang membaca doa ini, bila dalam sakitnya (tidak memperoleh kesembuhan dan) meninggal dunia maka akan diberikan pahala orang yang syahid, dan bila mendapatkan kesembuhan dan membaik maka seluruh dosanya diampuni.” (al-Hakim, Mustadrak ‘ala al-Shahihain, juz 4, hlm. 412 dalam DVD-Rom al-Maktabah al-Syamilah)

[22] Rasulullah saw bersabda: Apakah kalian ingin aku beritahukan tentang sebuah doa yang setiap kali kalian baca dalam setiap kondisi sedih dan bencana maka kelapangan akan diperoleh? Para sahabat menjawab: Ya, Wahai Rasulallah. Beliau saw bersabda: “(Yaitu) doa nabi Yunus as yang menjadi santapan ikan: “لَا اِلهَ اِلَّا اَنْتَ سُبْحَانَکَ اِنِّی کنْت مِنَ الظّالِمِیْنَ”. (al-Hakim, Mustadrak ‘ala al-Shahihain, juz 4, hlm. 411 dalam DVD-Rom al-Maktabah al-Syamilah)

[23] Diakses dari http://zuljamalie.blogdetik.com/category/banjar-research/ tanggal 15 November 2009.

[24] “Katakanlah (wahai Muhammad), tidak sekali-kali akan menimpa kami sesuatu pun melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung yang menyelamatkan kami dan kepada Allah jualah hendaknya orang-orang yang beriman bertawakkal” (QS. al-Taubah 51).

Demikianlah artikel mengenai Doa dan Amalan Arba Mustamir Bulan Safar yang dapat anda baca. Mudahan bermanfaat


0 Response to "Tuntunan Doa dan Amalan Arba Mustamir Bulan Safar"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!