Makalah Filsafat Konsep Eskatologi Al–Ghozali dan Fazlur rahman

Advertisement
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Makalah

Perkembangan ilmu pengetahuan sangat signifikan, sejalan dengan kebutuhan manusia yang semakin hari tidak ada habisnya. Kebutuhan tersebut tidak hanya berkisar pada ranah kebutuhan yang bersifat materi atau dhahoirnya,akan tetapi juga kebutuhan spiritual. Keberadaan ilmu jadi tidak ada artinya jika ia berjalan sendiri, tanpa di barengi agama dalam memback up konsep-konsep yang ditawarkan oleh ilmu tersebut. Keduanya tidak dapat dipisahkan antar satu sama lain, karena akan terjadi kepincangan yang menghambat perkembangannya, sepakat dengan stetamant bijak “ ilmu tanpa agama akan buta,sedangkan agama tanpa ilmu akan lumpuh.” Jadi, keduanya harus berjalan beriringan dan saling melengkapi satu sama lain. Berbagai konsep yang ditawarkan oleh keduanya guna menjawab, memberikan solusi dari permasalahan - permasalahan yang timbul didalam kehidupan manusia.

Baca Juga Makalah Filsafat Lainnya:
  1. Contoh Makalah Filsafat Konstruk Paradigma 
  2. Makalah Filsafat Telaah Komparatif-Pragmatis Ilmu dan Agama

Kemajuan dan perkembangan ilmu pengetahuan selalu dikaitkan dengan kebenaran ilmiah, yang terkadang manusia terjebak dalam memahami sebuah konsep yang ditawarkan agama. Sebagian mereka ada yamg menyatakan konsep – konsep yang ditawarkan agama tidak apat dibuktikan dengan validitas ilmiah, terutama yang berkaitan dengan ranah eskatologi { hal – hal yang berkaitan dengan kehidupan manusia setelah mati}. Salah satu kekacauan dalam berpikir orang awam adalah mereka tidak benar – benar menegaskan membedakan jenis – jenis pengetahuan. Dengan kata lain, mereka tidak mengetahui dengan jelas kapling pengetahuan,, atau pemetaan ranah – ranah pengetahuan. Mengetahui kapling tersebut amat penting tatkala digunakan dalam menyelesaikan masalah.[1]

Makalah Filsafat Konsep Eskatologi Al–Ghozali

Dalam islam, mempercayai hal – hal gaib merupakan satu keharusan, terlebih pada hal yang terkait dengan ranah eskatologi. Kita ketahui bersama bahwa eskatologi dalam islam meliputi banyak hal, akan tetapi penulis membatasi pembahasan yang tercakup dalam rumusan masalah :

1. pengertian eskatologi
2. Konsep – konsep Eskatologi Al – Ghozali dan Fazlur rahman



A.Pengertian Eskatologi
Dalam kamus bahasa Indonesia disebutkan bahwa, yang dimaksud dengan “eskatologi” adalah ilmu tentang akhir riwayat/ kehidupan manusia; ilmu kematian manusia.[2] Dalam dunia islam kita kenal berbagai macam riwayat (al – qur’an & hadits )yang membicarakan tentang kehidupan setelah mati.

Adapun yang menjadi landasan dalam memotret dan mengklasifikasikan persoalan esskatologi ini adalah berdasarkan konsep eskatologi islam secara umum. Eskatologi islam secara sederhana diklasifikasikan menjadi dua bagian : akhir dunia dan akhirat. Dalam kontek akhir dunia, pembahasan eskatologi islam tertuju pada konsep mengenai kiamat. Namun sebelum kiamat ini, dikenal pula sosok eskatologi (eschatological figures) islam, yaitu : Ya’juj dan Ma’juj, Imam mahdi, Dajjal, dan Isa. Sedangkan dalam kontek akhirat, pembahasannya tertuju pada konsep hari kebangkitan, konsep pengadilan, serta konsep surga dan neraka.

Dalam pembahasan akhirat ini, sebagian besar ahli tafsir juga menyebutkan detail mengenai kepercayaan kepada Alam barzakh ( alam antara ) antara kematian, kebangkitan, dan pengadilan akhir. Terkait dengan konsep kematian, terdapat indikasi didalam al – qur’an bahwa pengalaman dan wujud eksistensial manusia terdiri dari dua kematian dan dua kehidupan. Kematian pertama iaah masa sebelum manusia dilahirkan, sedang kematian yang kedua adalah kematian manusia setelah manusia dilahirkan. Adapun kehidupan pertama adalah kehidupan di dunia, sedang kehidupan kedua adalah kehidupan di akhirat. Kematian pertama, karena terkesan mitologis,dan bukan merupaknan rangkaian kehidupan, maka tidak termasuk dalam bidaang garapan eskatologi. Begitulah agaknya gambaran umum tentang eskatologi islam.[3]


Hal ini sebagimana yang ditulis antara lain oleh William J. Hamblin dan Daniel C. Peterson, Toshihiko Izutsu, H.P. Owen, dan Cyril Glasse. Dari semua sumber acuan teoritis ini, penulis mengkasifikasikannya menjadi :

a) Kematian;
b) Alam barzakh;
c) Hari kiamat; dan
d) Surga dan Neraka

B. Konsep – konsep eskatoogi

1) Makna kematian : Memposisikan dunia dan akhirat

Pembahasan mengenai kematian tanpaknya tidak bisa semata – mata didekati oleh sebuah konsep/ ranah rasional – ilmiah. Ada sebuah ungkapan menarik yang menyatakan “ Dan akhirnya ada suatu teka – teki penuh dengan rasa kesakitan,yaitu teka – teki mati. Teka – teki itu tidak ada obatnya pada waktu ini, dan kiranya tidak akan obatnya di kelak kemudian hari.” ( Sigmund Freud)[4] bila hanya mengandalkan rasionalitas atau indrawi, akan “gagal” mengkonsepsikan kematian.

Islam, dalam hal ini Al – Qur’an, memiliki seperangkat argumen untu merespon pandangan bahwa kematian adalah akhir dari segalanya. Namun, respon Al –Qur’an ini tidaklah diperuntukkan bagi keseluruhan masyarakat arab jahiliyah. Sebab, melalui syair – syair yang masih terpelihara sampai kini,ada indikasi kuat yang menunjukkkan bahwa sebagian diantara mereka telah beriman kepada Allah dan menerima doktrin kebangkitan – kembali. Jadi, yang menjadi sasaran Al –Qur’an adalah mereka yang hanya benar –benar tidak mengakui doktrin akhir, atau yang dalam istilah Toshihiko izutsu yang menganut doktrin nihilisme. Dengan demikian, sejak masa – masa awal,Al –Qur’an sebetulnya telah mengajukan berbagai argument untuk membungkam para pengingkar doktrin akhir. Fazlur Rahman mengeksplorasi, paling tidak, tiga argument dimaksud :

Pertama, bahwa Allah telah menciptakan bumi dan segala bentuk kehidupan yang bjumlahnya tidak terhitung atau tidak diketahui, sehingga hal ini direnungkan, berarti Allah dapat pula menciptakan manusia yang baru dan bentuk kehidupan lain yang tidak pula diketahui. Kedua, Sebagaimana menciptakan percikan api dari kayu – kayuan hijau ( yang basah) Allah dapat pula membuat mati dan hidup secara bergantian,yang kelihatannya mustahil karena dihasilkan dari sesuatu yang berlawanan. Hal ini, terbukti bahwa Dia menciptakan siang dan malam,silih berganti,seperti yang diperbuat – Nya terkait dengan kebangkitan dan kejatuhan bangsa – bangsa. Jika kedua fenomena tersebut adalah “alami “ hingga tak perlu dipersoalkan, maka fenomena kebangkitan kembali dan penciptaan bentuk – bentuk kehidupan yang baru,harus pula dipandang sebagai kenyataan yang ‘ Alami’.

Ketiga, contoh yang khas yang diberika Al –Qur’an tentang fenomena tersebut, bumi yang menjadi subur di musim semi setelah ia ‘ mati’ di musim salju.

Rahman dalam hal ini telah melakukan eksplorasi yang bersifat deskriptif – analistis. Akan tetapi ini sebenarnya belum merangkum semua argument yang diajukan Al –qur’an. Dinilah tampaaknya Al- Ghozali melengkapinya. Al –Ghozali mempunyai tiga argument yang kiranya luput dari pantauan Rahman, yaitu :

Pertama, bahwa sanya Al-qur’an menantang para pengingkar untuk memikirkan sesuatu yang kelihatan sangat mustahil tetapi bagi Allah sangat mudah diwujudkan. Tantangan semacam ini sudah sering disampaikan melalui berbagai konteks, dan selalu terbukti akan kebenarannya. Kedua, kekuasaan Allah tidak dapat terelakkan yaitu dengan mampu membuat Ashhab al-kahf hidup selam ratusan tahun. Hal ini memberi kesan bahwa apapun yang dikehendaki Allah pasti terjadi. Ketiga, mengembalikan sesuatu yang sudah ada sebelumnya pada dasarnya tidaklah berbeda dengan memulai sesuatu untuk yang kedua kalinya.

Dengan demikian, ada proses saling melengkapi antara kedua tokoh dalam upaya – upaya menggali argument – argument Al –qur’an untuk menjelaskan eksistensi kehidupan akhirat. Jadi, penjelasan ini menyiratkan suatu konsep “ sunnatullah “ bahwa kematian dan kehidupan merupakan proses yang terjadi secara alami menurut kehendak- Nya. Jika demikian halnya, maka tentu kematian dan kehidupan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan.

C. Alam Barzakh

Secara ontology, persoalan tentang eksistensi manusia pasca kematian hamper tidak menimbulkan perselisihan yang fundamental di kalangan ulama. Sebab, Ayat- ayat Al-qur’an sendiri telah menjelaskan secara gamblang, bahwa sanya manusia akan menerima balasan atas segala apa yang telah dilakukannya di dunia.

Dokktrin tentang Alam Barzakh adalah doktrin eskatologi yang hanya dianut dalam islam. Dalam agama lain, agaknya konsepsi Zoroasterianisme ( Majusi) –lah yang memiliki kemiripan denga doktrin ini, yang juga mengakui adanya Alam Antara, yang menghubungkan kematian dan kebangkitan – kembali. Namun demikian, sekali pun kedua doktrin tersebut memiliki kemiripan, akan tetapi keduanya tentu memiliki landasan argument yang berbeda, sebab dalam doktrin Zoroasterianisme diakui bahwa manusia akan menjumpai daena –nya setelah tiga hari dari kematian.

Tentang realitas keberadaan alam barzakh ini, memang tidak ada perbedaan persepsi dikalangan para ulama’, akan tetapi konflik yang muncul ketika sejumlah ulama, termasuk Al-Ghozali, mengidentifikasikan Alam Barzakh dengan balasan pahala atau ganjaran dosa di suatu alam tertentu, kejadian yang berlangsung sejak manusia meniggal sampai ia dibangkitkan kembali pada hari kiamat. Lebih jauh menurut Al-Ghozali, manusia, ketika berada dalam kubur (Alam Barzakh) akan mengalami empat kondisi yang di sesuaikan dengan kualitas masing- masing perbuatannya ;

Pertama, diantara mereka ada yang duduk diatas tumitnya sampai matanya hancur berantakan,sementara jasad sang mayit sendiri berada dalam kondisi bengkak dan kembali menjadi tanah. Setelah proses ini dilalui, ia akan berputar di Alam Malakut dibawah langit kedua.

Kedua, Diantara mereka ada yang diberi oleh Allah rasa kantuk yang luar biasa sehingga ia tidak bangun dan tidak mengetahui tentang apa yang terjadi sampai kelak terjadinya peniupan sangkakala ( terompet ) pertama. Diantara orang- orang in I ada yang berada dikuburnya hanya selam dua atau tiga bulan,setelah itu jiwanya akan naik keatas burung yang yang terbang ke Surga.

Ketiga, yang termasuk kedalam kelompok ini, mereka yang apabila jasadnya telah hancur, rohnya akan naik menuju sangkakala dan terus menempel disana hingga terompet tersebut ditiupkan.

Ke empat, khusus bagi para Nabi dan Wali Allah, diantara mereka ada yang terus berkeliling dimuka bumi sampai hari kiamat.

Demikian gambaran umum formulasi Al-ghozali tentang Alam Barzakh, yang dengan sangat jelas mengaitkan doktrin ini dengan nikmat dan siksa.

Meskipun begitu, secara genealogis, gagasan Al- Ghozali ini pada dasarnya berangkat dari konsepsinya tentang kematian yang mengidentikkannyab dengan “ kiamat kecil’ Implikasinya ,karena istilah kiamat itu sudah mengindikasikan suatu kebangkitan _ yang tentu saja disertai dengan pertanggung jawaban beserta konsekuensi siksa atau ni’matnya. Dari sisi lain yang berbeda, akan terjawab pula implikasi dari konsep kematian Rahman. Konsepsi Rahman tentang Barzakh sama sekali tidak bertolak belakang dari Al-ghozali, bila Al-Ghozali sangat meyakini doktrin siksa dan ni’mat di Alam Barzakh, maka sebalikny a, Rahman memberikan sangkalan, dengan mengatakan bahwa doktrin eskatologi tentang adanya pengadilan pra- kiamat yang kemudian di balas dengan kenikmatan atau malah di ganjar dengan siksaan sebenarnya tidak ditemukan di dalam Al qur’an, melainkan dalam hadits- hadits. Disamping itu, doktrin ini pada dasarnya merupakan gagasan yang diadobsi dari ajaran Zoroasterianisme.

Klaim Rahman ini, sesungguhnya sekaligus meruntuhkan keyakinan teologis yang sudah berurat – berakar dikalangan umat muslim. Alam Barzakh yang merupakan alam Antara yang menjembatani kehidupan dunia dan hari kebangkitan, dalam pandangan rahman itu merupakan gambaran awal dari segala sesuatu yang akan dating. Sehingga anggapan bahwa perhitungan amal dilakukan setelah kematian seseorang tampaknya diterima, lantaran hari Perhitungan merupakan masa depan yang tidak bisa diketahui . karena itulah Rahman lebih meyakini bahwa Surga dan Neraaka telah dmulai ketika manusia berada di Alam Kubur. Dengaan kata lain, ia tidak memahami kualitasa barzakg sebagai realitas perantara sebagaimana Al- Ghozali.

Munculnya klaim Rahman yang memfonis bahwa doktri siksa dan ni’mat Baaarzakh tersebut merupakan ajaran yang bersumber dari Zoroasterianisme, agaknya telah disinyalir sebelumnya dalam kontek kritisisme terhadap pendekaatan – pendekatan yang dilakukan oleh para filsuf dan teolog, sekalipun ia tidak secara eksplisit menyebutkan Zoroasterianisme.

C. Hari Kiamat

Istilah “ kiamat” menempati posisi penting dalam Al-qur’an, hal ini terlihat dari pemberian Nama – Nama Surat, diman, di bandingkan dengan konteks –konteks lainnya, hanya kontek kiamat saja yang disebutkan dalam sepuluh Nama Surat, yaitu : Al-Waqi’ah ( kejadian), Al-Qiyamah ( kiamat), An-Naba ( Berita Besar), dan lain- lain. Peristiwa kiamat, berdasarkan Al-Qur’an, dimula dengan peniupan Sangkakala yang pertama. Peniupan ini mengakibatkan matinya semua makhluk, kecuali bagi yang dikehendaki oleh allah.

Al-Ghozali, dalam kaitan ini, menganggap adaa tiga makhluk yang dikehendaki oleh Allah yaitu Malaikat Jibril, Mikail, Isrofil dan Malakul Maut. Kemudian pada saatnya nanti yakni setelah terjadi kehancuran total, Allah akan memerintahkan Malaikat maut untuk mencabut nyawa, secara berturut- turut ; Malaikat jibril, Mikail, Isrofil, dan dirinya sendiri Malaikat Maut).

Uraian – uraian Al-Ghozali tentang lukisan terjadinya kiamat sangat panjang lebar. Berbeda dengan Rahman ,kenyataan ini disebabkan oleh perbedaan motif kepentingan yang mendasarinya , yang pada akhirnya berimplikasi pada perbedaan dalam tiytik tekan atau pembahasannya.

Ketika berbicara mengenai hari kiamat, tentunya akan dikaitkan dengan kehidupan setelah hancurnya alam semesta beserta isinya. Pertanyaan yang sering muncul ialah, apakah kebangkitan – kembali terjadi pada jiwa saja ataukah juga melibatkan raga jua? Dengan kata lain apakah manusia akan dibangkitkan hanya dalam “ bentuk” nya yang spiritual (jiwa) ataukah dalam bentuknya yang “utuh” perpaduan antara jiwa dan raga?.

Kendati para teolog sama dengan Al –Ghozali dalam penerimaan konsep kebangkitan raga, mereka berhenti pada titik dimana raga yangdibangkitkan adalah raga baru,karena raga lama telah lenyap. Sementara Al-Ghozali tetap meyakini bahwa rag lama itulah yangakan dibangkitkan dan diperbaharui kembali. Mengenai pertanyaan apakh raga akan dibangkitka bersama – sama dengan jiwa, tampaknya Rahman memiliki pnadangan yang berbeda dan baru bila dibandingkan dengan Al –Ghozali,bahkan berbeda dari para filsuf abad pertengahannya semisal Ibn Arabi, Ibn Sina, dan Ibn Rusyd. Kesimpulan Rahman dalam hal ini adalah bahwa antara jiwa dan raga tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain secara logis.

Apakah manusia bisa mendapatkan syafaat saat terjadi hari kiamat atau pasca kiamat? Pertanyaan itu akan selalu muncul di permukaan dan menimbulkan perbedaan pandangan antara ulama yang satu dengan yang lain, tidak juga antara Rahman dan Al-Ghozali. Keyakinan Rahman yang tampak menunjukkan nilai radikalismenya, di bangun atas dasar bahwa tidak ada seorang atau sesuatu pun yang dapat menolong manusia didalam ketidakberdayaan dan kesendiriannya di dalam hari kiamat. Hal ini jelas berbeda dengan pandangan Al-Ghoali yang menanggap bahwa syafaat para Nabi dan Wali, bahkan semua orang shaleh, bisa diungkapkan sebagai sinar ketuhanan yang memancar dari sisi tuhan menuju subtansi kenabian, yang dari subtansi ini sinarnyaakan tersebar menuju subtansi – subtansi yang mempunyai hubungan erat, Karena ikatan cinta yang demikian kuat, dan lain sebagainya.

D. Surga & Neraka


Bagaimanapun wujud gambaran yang di berikan oleh seseorang terhadap citra surga dan neraka, keberadaan kedua wujud tersebut bersifat pasti, niscaya, dan mutlak. Hal inilah, menurut Rahman salah satu dimensi yang terpenting akibat dari adanya doktrin hari akhir. Jadi, pada dasarnya Rahman menelusuri ide dasar eskatologi Al-qur’an yang logis dan bermoral. Nampaknya ia ingin memasujki pembahasan dengan menghadirkan argument – argument teologis yang pelik dan panjang lebar untuk menunjukkan eksistensi surga dan neraka.

Sebaliknya Al-Gozali, demi menunjukkan kepada masyarakat luas bahwa surga dan neraka itu benar- benar ada, memaparkan berbagai argument teologis secara panjang lebar. Konsepsi Al-Ghozali dimaksud dapat ketika ia coba menjelaskan secara argumentative tentang eksistensi kenikmatan di surga,yang dijelaskan melalui argument indrawi, fantasi, dan rasional. Yang dimaksud Al-ghozali secara indrawi adalah bahwa masing- masing orang di surga mempunyai selera yang berbeda akibat perbedaan karakteristik mereka sewaktu di dunia. Secara fantasi adalah bahwa kenikmatan itu merupakan perkara yang sudah jelas ( aksiomati). Adapun secara rasional,dapat dijelaskan dengan mencermati segala sesuatu yang bersifat indrawi.

Dengan demikian, jelas bahwa perbedaan fundamental yang tanpak diantara kedua tokoh diatas dalam kontek ini adalah bahwa Al-Ghozali berusaha memberikan bukti- bukti teologis yang panjang – lebar demi menjustifikasi idenya tentang keberadaan Surga maiupun Neraka. Sedangkan Rahman tidak secara praktis bmemerlukannya, formulasi yang di tawarkannya tampaknya tidak ingin terperangkap dalam uraian – uraian yang bersifat normative – teologis. Ia berusaha menjadikan setiap formulasi intelektualnya senantiasa berada dalam jalur- jalur keilmuan metodologik – akademik,yang konon kata sementara orang adalah ringkas, padat, analitis, dan kritis.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari pemaparan diatas dapat diketahui bahwa secara umum Eskatologi islam secara sederhana diklasifikasikan menjadi dua bagian : akhir dunia dan akhirat. Dalam kontek akhir dunia, pembahasan eskatologi islam tertuju pada konsep mengenai kiamat. Namun sebelum kiamat ini, dikenal pula sosok eskatologi (eschatological figures) islam, yaitu : Ya’juj dan Ma’juj, Imam mahdi, Dajjal, dan Isa. Sedangkan dalam kontek akhirat, pembahasannya tertuju pada konsep hari kebangkitan, konsep pengadilan, serta konsep surga dan neraka.

Penutup
Tiada gading yang tak retak, begitulah kiranya yang bisa disampaikan oleh penulis, karena dalam makalah yang mungil ini masih banyak dijumpai berbagai kesalahan dan kekurangan. Oleh sebab itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun guna perbaikan dalam penyusunan makalah yang akan datang.

Daftar pustaka
Trueblood,D.E. Prof. Dr. Filsafat Islam, disadur oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi,( Jakarta : Bulan Bintang, 2002 )

M.A, Budiono.Kamus Populer Internasional ( Surabaya: Alumni, 2005)

Sibawai , Eskatologi Al Ghozalidan Fazlur Rahman, (Yogyakarta : Islamika, 2004 )

Tafsir, ahmad. Prof. Dr. Filsafat ilmu ,{Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2004}

Kattsoff, Louis O. Pengantar filsafat, alih bahasa, Soerjono Soemargono, ( Yogyakarta, Tiara Wacana, 2004 )

[1] Prof.Dr. Ahmad tafsir,Filsafat ilmu ,{Bandung : PT.Remaja Rosdakarya, 2004} pengantar
[2] Budiono M.A,Kamus Populer Internasional ( Surabaya: Alumni, 2005) hal.162
[3] Sibawai , Eskatologi Al Ghozalidan Fazlur Rahman, (Yogyakarta : Islamika, 2004 ) hal 21
[4] Prof. Dr. D.E. Trueblood,Filsafat Islam, disadur oleh Prof. Dr. H. M. Rasjidi,( Jakarta : Bulan Bintang, 2002 ) hal.211


0 Response to "Makalah Filsafat Konsep Eskatologi Al–Ghozali dan Fazlur rahman"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!