Makalah Filsafat Telaah Komparatif-Pragmatis Ilmu dan Agama

Advertisement
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Makalah


Di era kontemporer ini, muncul berbagai paham yang mengklaim bahwa agama dan ilmu pengetahuan itu suatu hal yang terpisah dan tidak berkaitan satu sama lainnya. Ini sungguh suatu pernyataan yang salah. Agama tanpa ilmu itu buta, dan ilmu tanpa agama itu lumpuh. Keduanya itu ibarat simbiosis yang mutualistik, dimana terjadi proses timbal balik yang saling menguntungkan. Ketidakhadiran salah satu akan membuat suatu ketimpangan dalam komunitasnya.

Para penganut fundamentalisme agama, misalnya, cenderung memiliki nuansa spiritualitas yang kuat, tapi dari segi rasionalitas, mereka sangat lemah. Mereka semata-mata hanya berpegang pada doktrin agamanya, tidak menerima masukan dari perkembangan ilmu pengetahuan, senantiasa terkungkung dalam kerangkeng berpikir yang konservatif. Kehidupan akhirat yang selalu menjadi prioritas dan mengabaikan kehidupan dunia, membuat mereka menjadi bangsa yang terkebelakang dari segala ilmu pengetahuan. Tanpa sadar, mereka akhirnya dimanfaatkan dan dijajah oleh bangsa yang maju.

Sementara itu, para ilmuwan yang ateis banyak. Mereka memiliki semangat rasionalitas yang kuat, tapi spiritualitas mereka sungguh kering. Hidup mereka tidak bermakna, selalu berkutat dengan rumusan-rumusan ilmu membuat mereka menjadi orang yang workaholic. Mereka mengalami kehampaan dan alienasi spiritual, sebab ilmu pengetahuan yang mereka nikmati mengutamakan aspek-aspek lahiriah (materialisme) tanpa dipadukan dengan aspek-aspek batiniah (spiritualisme). Dampaknya pun beragam. Kadang mereka menggunakan kemajuan ilmu untuk berbuat kemungkaran, kerusakan terjadi di mana-mana. Inilah akibat dari mereka tidak beragama, tidak ada doktrin yang memfilterisasi perbuatan mereka.

Dari berbagai kondisi di atas dapat disimpulkan bahwa seseorang hidup di dunia ini tak akan pernah terlepas oleh dua hal, yaitu agama dan ilmu. Keduanya saling mengisi dan melengkapi. Seandainya tak ada agama, kehancuran pasti sudah menimpa dunia ini diakibatkan oleh semakin majunya ilmu pengetahuan dengan berbagai kecanggihan teknologinya. Sementara jika ilmu yang hilang, maka selamanya manusia akan berada dalam kebodohan. Masa depan yang cerah pun tidak akan ada. Oleh karena itu,untuk membentuk masa depan manusia yang bahagia dan damai nantinya, harus ada kombinasi reaktif antara ilmu dan agama yang akan saling mengisi dan melengkapi.

Baca Juga Makalah Filsafat Lainnya:
  1. Makalah Filsafat Konsep Eskatologi Al–Ghozali dan Fazlur rahman
  2. Contoh Makalah Filsafat Konstruk Paradigma


Untuk membahas berbagai problem sehubungan dengan hubungan ilmu dan agama pada hakikatnya, maka dalam makalah singkat ini, pemakalah mengajukan beberapa rumusan masalah, yaitu:

a) Apa definisi ilmu dan agama?
b) Problem apa saja yang timbul akibat dikotomi ilmu dan agama?
c) Apa implikasi dari sinkretisasi ilmu dan agama bagi masa depan umat manusia? 
Makalah Filsafat Telaah Komparatif-Pragmatis Ilmu dan Agama 02


BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Ilmu dan Agama

Ilmu dan agama, dua istilah yang sangat sering didengar bahkan digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Secara epistemologis, ilmu dan agama adalah jenis pengetahuan yang dimiliki manusia di antara jenis pengetahuan yang lain: common sense, mitos, ideologi, dan seni.[1] Pada hakikatnya ilmu dan agama lahir karena kebutuhan, sebagai alat untuk menjawab berbagai tantangan yang selalu dihadapi manusia dalam eksistensinya. Dengan ilmu dan agama manusia mampu mengenali misteri kebenaran dan kenyataan di dalam struktur pengetahuan yang lebih luas.

Sebelum pembahasan ini berlanjut, ada baiknya terlebih dahulu disebutkan definisi dari masing-masing term tersebut untuk memudahkan memahami hubungan keduanya.

1. Definisi Ilmu

Ilmu berasal dari bahasa Arab yaitu ‘alima-ya’lamu-‘ilman dengan wazan fa’ila-yaf’alu, yang berarti mengerti, memahami.[2] Adapun dalam bahasa Inggris, ilmu disebut dengan science, berasal dari bahasa latin scientia dari bentuk kata kerja scire yang berarti mempelajari, mengetahui. Pada perkembangan selanjutnya, definisi ilmu mengalami perluasan arti sehingga menunjuk pada segenap pengetahuan yang sistematik. Dalam bahasa Jerman disebut wissenschaft.[3] Sinonim yang paling akurat dalam bahasa Yunani adalah episteme.


Banyak ahli yang menyumbangkan andilnya dalam memberikan definisi ilmu. Menurut Harold H. Titus, ilmu (science) dapat diartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan dengan mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis.[4]

The Liang Gie (1987) memberikan definisi ilmu dengan suatu rangkaian aktivitas penelaahan yang mencari penjelasan suatu metode untuk memperoleh pemahaman secara rasional empiris mengenai dunia ini dari berbagai seginya, dan keseluruhan pengetahuan sistematis yang menjelaskan berbagai gejala yang ingin dimengerti manusia.[5]

Dari pernyataan di atas, dapat disimpulkan bahwa ilmu itu mencakup tiga hal yakni pengetahuan, aktivitas, dan metode. Ciri hakiki ilmu ialah metodologi. Kaitan logis yang dicari ilmu tidak dapat dicapai dengan penggabungan yang tidak teratur dan terarah dari banyak pengamatan dan ide yang terpisah-pisah. Ilmu menuntut pengamatan dan berfikir metodis, tertata rapi. Alat bantu metodologis yang penting adalah terminology ilmiah.[6] Koherensi sistematik pun menjadi hakikat dari ilmu itu.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa ilmu (science) adalah pengetahuan yang sistematis, koheren, rasional, empiris, universal, objektif, dan dapat dibuktikan.

2. Definisi Agama
Agama adalah suatu fenomena universal yang dapat ditemukan dalam setiap masyarakat, kapan dan di mana saja serta tidak terikat oleh ruang dan waktu. Harus diakui bahwa agama selalu menempati posisi dan peranan penting dalam kehidupan manusia, baik individual maupun sosial.

Ada beberapa versi definisi dari agama itu. Kata agama, menurut Haji Zainal Arifin Abbas, berasal dari bahasa Sansekerta yaitu “a” dan “gama” yang artinya tidak kacau.[7] Adapun menurut Harun Nasution, agama berasal dari bahasa Sanskrit, “a” yang artinya tidak dan “gam” yang artinya pergi. Jadi agama artinya tidak pergi, tetap di tempat, diwarisi secara turun temurun. Ini menunjukkan sifat agama yang diwarisi turun temurun dari satu generasi ke generasi yang lainnya.[8]

Agama dikatakan juga dengan din, berasal dari bahasa Semit, berarti undang-undang atau hukum. Adapun dalam bahasa Arab artinya menguasai, menundukkan, patuh, utang, balasan, dan kebiasaan. Ini juga sesuai dengan kandungan-kandungan agama yang didalamnya terdapat peraturan-peraturan yang merupakan hukum yang harus dipatuhi penganutnya. Agama menguasai diri seseorang dan membuatnya tunduk dan patuh pada Tuhan dengan menjalankan ajaran-ajaran agamanya.[9]

Religi, berasal dari bahasa latin yaitu relegere dan relegare. Relegere artinya “berhati-hati”. Jadi religi itu adalah suatu keyakinan, nilai-nilai, dan norma-norma hidup yang harus dipegangi dan dijaga dengan penuh perhatian sehingga tidak menyimpang dan lepas. Dari relegare yang berarti “mengikat”, maksudnya adalah mengikatkan diri pada kekuatan gaib yang suci yang diyakini dapat menentukan jalan hidup dan mempengaruhi kehidupan seorang manusia. Dalam bahasa Belanda disebut religie dan religion dalam bahasa Inggris.[10]

Namun seberapa pun banyak term-term terkait agama, definisi agama itu sendiri tidak terlepas pada satu hal yang paling penting, yaitu sifatnya yang mengikat para penganutnya.

Agama, dalam arti luas, merupakan ajaran yang menjadi pedoman perilaku bagi pemeluknya. Agama mengatur bagaimana seharusnya manusia berprilaku: terhadap diri sendiri, sesama manusia, alam dan tuhan. Meski pun agama itu berbeda-beda tetapi ada hal yang universal dan mirip dalam setiap agama; seperti adanya peribadatan, seruan untuk berbuat baik, dan eskatologi (percaya pada hari kemudian).[11]

Nilai religius masih sangat dominan di dalam pembentukan hati nurani manusia. Agama, disamping tradisi, menunjukkan bagaimana seharusnya manusia berbuat baik dan menghindari kejahatan. Tanpa agama dapat dipastikan akan terjadi chaos, karena sepanjang peradaban manusia belum ada ajaran moral yang dihasilkan dari pemikiran manusia murni. Sentuhan agama lebih memuaskan naluri spiritual manusia daripada hasil kajian rasio manusia. Selain itu, agama juga berisi mitos dan pengalaman spiritual manusia di masa lampau yang dapat memberikan ekspalanasi terhadap berbagai macam misteri kehidupan manusia.[12]

B. Problem Akibat Dikotomi antara Ilmu dan Agama

Di masa berkembangnya Positivisme dan Renaissance Sekuler, ilmu-ilmu modern menapakkan kakinya di bumi dan tanah air Islami. suatu ilmu yang terpisah dari metafisika ketuhanan dan mengambil jarak dari agama serta menggandeng pemikiran non-agamis dan bahkan terkadang pemikiran anti agama. Didasarkan pada hal ini kemudian berkembanglah ide tentang adanya pertentangan antara ilmu dan agama. Implikasi dari semua itu, muncullah dikotomi antara ilmu dan agama yang membuahkan faham baru bernama sekularisme.

Aksi terorisme yang bernuansa agama banyak terjadi, termasuk di negeri kita, menantang semua orang untuk merefleksikan dan merumuskan kembali posisi dan makna agama-agama dalam dunia modern yang kian tersekularisasi. Sekularisasi terungkap antara lain dalam fenomena kian terdesaknya agama ke dalam ruang privat. Agama tidak punya peran lagi di ruang publik seperti halnya dalam teokrasi. Urusan publik menjadi tanggung jawab negara, sementara isu-isu keagamaan makin terpinggirkan dan tidak memiliki ruang.

Di Barat, lembaga-lembaga agama seperti gereja tidak lagi menempati posisi sentral dalam masyarakat. Suara-suara lembaga agama menyangkut dampak etis dari persoalan-persoalan publik seperti aborsi, euthanasia, kurang mendapat respons yang wajar dari negara. Tugas untuk mencari solusi atas masalah-masalah ini mulai diambil alih oleh ilmu pengetahuan. Keterpinggiran agama dalam masyarakat modern melahirkan konflik antara agama dan ilmu pengetahuan. Para agamawan dan ilmuwan menjadi dua kubu yang saling bertentangan. Apa yang akan terjadi pada dunia ini? Siapa yang akan menjadi teladan bagi semua manusia?

Ilmu pengetahuan memang berkembang dan terus mengalami kemajuan. Manfaat dari kemajuan ilmu pengetahuan ini pun sangat banyak, namun tak dapat dinafikan bahwa bila ada sisi positif maka akan timbul sisi negatifnya. Begitu juga dalam hal ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi bisa dimanfaatkan sesuai kehendak sang pengguna, baik itu untuk berbuat kebaikan ataupun untuk kejahatan. Yang mampu memfilterisasi kehendak tersebut hanyalah kesadaran akan agama.

Sebut saja rekayasa genetika sebagi hasil penemuan ilmu pengetahuan, metode ini hanya diterapkan pada tanaman atau sejenisnya selain manusia untuk mendapatkan bibit unggul. Namun apabila orang tersebut tidak mempedulikan ajaran agama untuk pasrah dan tunduk menerima anugrah Tuhan, niscaya dia akan melakukan praktek ini pada manusia demi meraih keturunan yang unggul atau demi tujuan-tujuan lain yang membahayakan.

Demikian sedikit contoh problem yang timbul akibat adanya dikotomi ilmu dan agama. Pada essensinya, dikotomi ilmu dan agama akan membawa dampak buruk bahkan kerusakan di mana-mana.

C. Implikasi Sinkretisasi Ilmu dan Agama bagi Masa Depan Manusia

Agama dan ilmu memang berbeda dalam beberapa hal, namun pada sisi tertentu memiliki kesamaan. Agama lebih memprioritaskan moralitas dan menjaga tradisi yang sudah mapan (ritual), cenderung eksklusif, dan subjektif. Sementara ilmu selalu produktif, selalu mencari dan menghasilkan sesuatu yang baru, tidak terlalu terikat dengan etika, progresif, bersifat inklusif, dan objektif.

Kendati agama dan ilmu berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama yakni mencapai kebenaran dan memberi ketenangan serta kemudahan bagi manusia. Agama memberikan ketenangan dari segi batin karena ada janji kehidupan sesudah mati, sedangkan ilmu memberi ketenangan sekaligus kemudahan di dunia. Agama selalu mendorong umatnya untuk menuntut ilmu, sebagaimana terdapat dalam Kitab Suci agama masing-masing.

Agama dan Ilmu sama-sama memberikan penjelasan ketika terjadi bencana alam, seperti banjir dan gempa bumi. Gempa bumi dalam konteks agama adalah cobaan Tuhan dan sekaligus bagian dari rancangan-Nya tentang alam secara keseluruhan. Oleh karena itu, manusia harus bersabar atas cobaan tersebut dan mencari hikmah dibaliknya. Adapun menurut ilmu, gempa bumi terjadi akibat pergeseran lempengan bumi atau tersumbatnya lava gunung berapi. Oleh karena itu para ilmuan harus mencari ilmu dan teknologi untuk mendeteksi kapan terjadinya gempa atau bahkan harus mencari cari mengatasinya. [13]

Ilmu dan Agama semuanya mengabdi untuk kepentingan umat manusia. Keduanya berkembang sejalan dengan peradaban manusia, dengan kata lain, ilmu dan agama harus berjalan seimbang agar tercipta kehidupan manusia yang maju dan beradab. Ilmu membuat manusia menjadi lebih rasional, agama membuat manusia dapat menghargai nilai spiritualitas.[14]

Karakteristik agama dan ilmu tidak selalu harus dilihat dari konteks yang berseberangan, tetapi juga perlu dipikirkan bagaimana keduanya bersinergi dalam mengantarkan manusia pada kehidupan yang layak.[15] Ilmu sejauh ini merupakan pengetahuan yang paling dapat diandalkan, terlebih lagi implementasi lebih lanjut pengetahuan ilmiah menjadi teknologi telah menghasilkan berbagai peralatan yang dapat mempermudah dan bahkan memperpanjang harapan hidup manusia. Bahkan aktivitas kehidupan beragama pun tidak lepas dari sentuhan teknologi; misalnya, untuk naik haji, orang dari seluruh dunia dapat tiba di Masjidil Haram dalam waktu relative singkat dengan adanya transportasi udara ‘pesawat terbang’. Bukankah pesawat terbang merupakan suatu hasil karya dari ilmu pengetahuan yang melahirkan teknologi? Dari kenyataan ini, hendaklah disyukuri bahwa eksistensi ilmu menjadi sangat penting dalam memberikan sumbangan bagi para pemeluk agama untuk lebih meningkatkan pemahaman dan penghayatan agama secara lebih rasional.[16]

Sebagaimana telah dikatakan sebelumnya, ilmu dan agama itu saling mengisi dan melengkapi. Sinkretisasi keduanya akan menciptakan masa depan manusia yang gemilang, yang tidak hanya maju secara material saja tapi juga berjaya dengan spiritualnya yang kuat. Dari tangan manusia yang mampu mengkolaborasikan keduanya ini dengan tepat, niscaya akan lahir suatu bangsa yang memiliki peradaban yang maju dengan masyarakatnya yang damai dan bahagia.


BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan Makalah

Dari berbagai penjelasan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan, diantaranya yaitu:

a) Agama secara universal dapat dikatakan sebagai ajaran yang menjadi pedoman perilaku bagi pemeluknya.

b) Ilmu itu adalah pengetahuan yang sistematis, koheren, rasional, empiris, universal, objektif, dan dapat dibuktikan secara metodologis.

c) Akibat adanya dikotomi ilmu dan agama, timbullah faham sekularisme yang memisahkan realitas kehidupan dengan persoalan agama. Ajaran agama dan lembaga-lembaganya tidak memiliki pengaruh lagi dalam kehidupan bermasyarakat. Kemajuan ilmu pengetahuan semata-mata digunakan untuk memberikan kepuasan diri secara material, sehingga kadang membawa kerugian dan kerusakan di mana-mana.

d) Sinkretisasi ilmu dan agama secara seimbang akan menciptakan masa depan manusia yang gemilang dengan peradabannya yang maju dan terkemuka.

Akhirnya sampailah makalah ini di penghujungnya. Penulis sadar bahwa makalah ini sangat jauh untuk dikatakan sempurna karena banyak kekurangan nampak darinya. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun, sebagai evaluasi makalah yang akan datang.

Daftar Pustaka
Bagus, Lorens. 2002. Kamus Filsafat. Jakarta: Gramedia.

Bakhtiar, Amsal. 2007. Filsafat Ilmu. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Muhaimin dkk. 2005. Kawasan dan Wawasan Studi Islam. Jakarta: Kencana.

Nata, Abuddin. 2006. Metodologi Studi Islam. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Praja, Juhaya S. 2002. Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam dan Penerapannya di Indonesia. Jakarta: Teraju.

Salam, Burhanuddin. 2005. Pengantar Filsafat. Jakarta: Bumi Aksara.

Surajiyo. 2007. Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara.

Wijaya, Cuk Anata. 2006. Jurnal Filsafat “Wisdum”. Yogyakarta: Fak Filsafat UGM.

Widodo dkk. 2002. Kamus Ilmiah Populer. Yogyakarta: Absolut

Catatan Kaki

[1] Cuk Ananta Wijaya, Jurnal Filsafat “Wisdum”(Yogyakarta: Fak Filsafat UGM, 2006), hlm. 175
[2] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2007), hlm. 12
[3] Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia(Jakarta: Bumi Aksara, 2007), hlm. 56
[4] Burhanuddin Salam, Pengantar Filsafat(Jakarta: Bumi Aksara, 2005), hlm. 9
[5] Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, hlm. 56
[6] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta: Gramedia, 2002), hlm. 308
[7] Juhaya S. Praja, Filsafat dan Metodologi Ilmu dalam Islam dan Penerapannya di Indonesia(Jakarta: Teraju, 2002), hlm. 21
[8] Abuddin Nata, Metodologi Studi Islam(Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006), hlm. 9
[9] Metodologi Studi Islam, hlm. 9-10
[10] Muhaimin dkk, Kawasan dan Wawasan Studi Islam(Jakarta: Kencana, 2005), hlm. 34
[11] Jurnal Filsafat “Wisdum”, hlm. 76
[12] Jurnal Filsafat “Wisdum”, hlm. 76
[13] Filsafat Ilmu, hlm. 231
[14] Jurnal Filsafat “Wisdum”, hlm. 184
[15] Filsafat Ilmu, hlm. 231
[16] Jurnal Filsafat “Wisdum”, hlm. 184


0 Response to "Makalah Filsafat Telaah Komparatif-Pragmatis Ilmu dan Agama"

Post a Comment

Berkomentarlah yang Bijak! Hanya komentar yang sopan yang Kami terbitkan di situs ini. Baca Kebijakan Situs

No Sara, No Spam!